Sofifi – Weda – Gebe

(telah diterbitkan di http://www.indobackpacker.com Des 2007)

Oleh : R. Heru Hendarto

Setelah puas mengelilingi Ternate, pada hari ketiga, kami berenam berangkat meninggalkan hotel pukul 6.30 WIT dan bergegas menuju Pelabuhan Kotabaru untuk menyewa speedboat membawa kami ke Sofifi dalam rangka perjalanan Ternate – Pulau Gebe. Kami sudah menunggu tiket selama seminggu namun penerbangan ke Gebe hanya seminggu dua kali dan itupun selalu full booked hingga 19 Agustus sehingga kami mengambil keputusan untuk menempuh jalan laut.

Di Kotabaru, harga 300.000 rupiah disepakati untuk speed ukuran kecil kapasitas 12-14 orang. Harga resmi perorang biasanya adalah 25.000 rupiah, namun keputusan menyewa kami ambil mengingat kami berenam dan barang bawaan cukup banyak. Setengah jam kami dibanting ombak melintasi selat antara Ternate dan Halmahera dan tibalah kami di Pelabuhan Kota Sofifi, Ibukota Provinsi Maluku Utara (definitif) yang rencananya dipindah dari Ternate setelah Pilkada selesai di bulan Oktober ini. Infrastruktur seperti jalan raya, kantor pemerintah dan penunjang lain tampak telah tersedia menunggu untuk ditempati.

Kami meneruskan perjalanan menuju Weda, yang sedang dipersiapkan untuk menjadi ibukota Kabupaten Halmahera Tengah yang saat ini masih bertempat di Tidore. Kembali kami menyewa Kijang Innova baru dengan harga 700.000 rupiah (bila penuh isi 7 penumpang @ 100.000 rupiah). Kendaraan di pelabuhan ini dapat disewa dengan tujuan Subaim (Halmahera Timur), Tobelo (Halmahera Utara), Buli (Halmahera Timur) dan beberapa kota sekitar. Selain Innova, untuk medan yang lebih parah tersedia pula L200 yang dimodifikasi baknya sehingga mampu menampung dua penumpang dengan nyaman. Yang lebih mencengangkan, pagi itu juga terpajang Fortuner terbaru lengkap dengan plat putihnya dan siap melayani rute ke Buli! Sayang sekali dipikir-pikir mobil-mobil yang di Jakarta masuk kategori mewah, di sini hanya ‘dihancur-hancurkan’ saja.

Di dalam Innova sewaan, terguncang-guncang kami melewati jalanan provinsi yang rusak parah menyisiri pantai barat kaki Halmahera selama empat jam. Namun bila dibandingkan dengan jalan darat menuju Kota Buli di Halmahera Timur, menuju Buli dua kali lebih parah karena harus menyeberangi sungai yang di saat pasang mustahil untuk dilakukan. Pemandangan pantai dan pulau – pulau yang tersaji di sebelah kanan sepanjang jalan menjadi obat lelahnya kami akibat terbanting-banting di mobil. Beberapa kali terdengar bunyi keras pertanda bawah mobil sudah menghantam tanah dan batu jalanan. Dua jam perjalanan, kami singgah sebentar di depan Pelabuhan Desa Gita Kecamatan Payahe, untuk istirahat meluruskan kaki yang pegal dan mengisi bensin untuk meneruskan perjalanan memotong ke timur dan seterusnya menuju ke Weda.

Tiba di Weda pukul 13.00, kami segera menuju pelabuhan untuk mengejar kapal namun berhubung minyak tanah saat itu sudah sebulan langka maka kami kesulitan meneruskan perjalanan. Ada yang menawarkan sewa loang boat menuju Patani yang berada di antara Weda – Gebe namun dengan harga yang fantastis. Empat juta rupiah dan itu baru separuh perjalanan ke Pulau Gebe! Sungguh oportunis sekali karena beaya fuel hanya maksimal satu setengah juta rupiah.

Dipikir-pikir enak banget yak kerja empat jam dapat dua setengah juta rupiah dan itupun untuk meneruskan perjalanan ke Gebe kami harus kembali menyewa speed boat karena ombak sekarang sangat besar hingga 3 meter diakibatkan mulainya musim angin selatan. Di beberapa tempat di nusantara saat itu juga mengalami ombak besar di pantai selatan Jawa, di Sumatera, Papua bahkan banjir-tanah longsor di Sulawesi dan sekitarnya. Hitung-hitung budget dan resiko safety, serta info sana-sini akhirnya kami memutuskan bermalam di Weda menunggu kapal perintis Kieraha I yang diperkirakan esok sore masuk ke Weda dan lusa berangkat sehingga malamnya kami langsung bisa mendarat di Pulau Gebe setelah sebelumnya singgah sebentar di Patani.

Alhamdulillah, kami sungguh sangat beruntung karena Kapal Kieraha I yang melayani rute Ternate – Sorong (melewati Kabare dan Saonek – Raja Ampat) ini belum tentu singgah rutin sebulan sekali. Sedangkan Kieraha II memiliki jalur pelayaran melewati utara, dimulai dari Bitung – Ternate – Tobelo – Buli dan seterusnya hingga Sorong pp. Setelah makan siang, kami pun semua tergeletak kelelahan di penginapan Renfani di dekat pelabuhan dengan sewa 65.000 rupiah per malam.

Malamnya, beberapa rekan termasuk saya harus kembali ke Ternate dikarenakan info terakhir di Pulau Gebe ternyata sudah tidak tersedia bank ataupun ATM lagi seperti dahulu. Mau tidak mau, kami menyewa Kijang dan berangkat pukul 00.00 ke Ternate (sungguh pelajaran berharga buat kami!) dan Alhamdulillah walaupun perjalanan melelahkan dan terbuang waktu antri bank di Ternate, kami bisa kembali tepat waktu di Weda pukul 15.30 hampir bersamaan dengan datangnya Kapal Kieraha I sehingga kami cepat-cepat ke pelabuhan untuk mem-booking kamar.

Sebenarnya, kamar penumpang tidak tersedia di kapal perintis ini, namun dengan bantuan crew kapal kami berenam memperoleh satu kabin dengan empat tempat tidur seharga 550.000 rupiah sudah termasuk tiket yang kira-kira harganya 40.000 rupiah perorang. Harga yang murah dan layak mengingat kami membutuhkan kamar untuk menyimpan perlengkapan dan peralatan. Kami sendiri berencana tidak tidur lama-lama di kabin karena perjalanan hanya memakan waktu sehari semalam hingga tiba di Pulau Gebe.

Pukul 00.00 kami berangkat dari penginapan membawa barang perlengkapan. Tiba di pelabuhan saat larut malam suasana sangat berbeda dengan siang hari. Malam hari pelabuhan sangat ramai, kendaraan hilir-mudik dan suara berisik klakson mobil memekakkan telinga. Banyak pemuda mabuk berkeliaran dan berteriak-teriak tidak jelas sana-sini. Benar-benar suasana yang tidak nyaman, namun karena kami berenam dan kebetulan juga saat itu ada rombongan Brimob yang sedang berangkat tugas maka kami aman-aman saja hingga masuk ke kabin. Kami pun segera terlelap dan tanpa terasa pukul 06.15 kapal berangkat meninggalkan pelabuhan. Mendung bergelayut di sepanjang perjalanan dan kira-kira pukul 11.45 kapal tiba di Desa Messa. Desa ini tidak memiliki pelabuhan sehingga proses loading-unloading barang dan manusia dilakukan dengan bantuan loang boat atau boti istilahnya di daerah Maluku. Tiga puluh menit proses tersebut berjalan dan sirine kapal berbunyi dan perlahan kapal bergerak meninggalkan Messa menuju Desa Banemo.

Selanjutnya ombak besar mulai terasa, membuat kepala pusing. Seorang rekan mulai mabuk laut dan hanya berdiam diri di kabin. Sore hari kapal melempar sauh di Banemo dan kembali proses muat berlangsung lancar. Selanjutnya pukul 16.55 perahu tiba di Kecamatan Patani dan saat itu ombak makin besar sehingga saat proses pemuatan orang, dua boti gagal mendekat. Beberapa penumpang terutama kaum wanita berteriak keras saat boti mereka dihantam ombak besar.

Sungguh peristiwa yang mendebarkan, karena apabila mereka yang sehari-harinya berteman dengan ombak saja sudah berteriak takut berarti memang keadaannya sangat-sangat mengkhawatirkan. Mereka kemudian memutar ke sisi kanan perahu sehingga terlindung hantaman ombak dari selatan. Meninggalkan Patani, kepala semakin pusing sehingga kami semua tergeletak di dalam kabin. Maklum saja, kapal sudah berlayar lepas dari Pulau Halmahera dan memotong melewati batas Laut Halmahera dan Laut Banda yang dua-duanya terkenal sebagai laut dalam dengan ombak yang ganas. Seorang rekan yang dari awal sudah mabuk laut, di sini kondisinya semakin parah dan sempat muntah. Bersyukur penderitaan segera berakhir dan pukul 00.10 kapal merapat di Pelabuhan Kapaleo Pulau Gebe.

Setengah jam berikutnya kami turun dari kapal dan menyewa kendaraan roda empat pribadi menuju rumah yang sudah di-booking untuk kami. Pulau Gebe sendiri terletak di ujung tenggara kaki Pulau Halmahera. Secara administratif masuk ke Kecamatan Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara dan terbagi dalam empat desa yaitu Sanafi, Kacepi, Umera, dan Omnial di Pulau Yoi. Secara geografis, Pulau Gebe ini relatif berada di ujung dan berbatasan langsung dengan Kepulauan Raja Ampat, Irian Jaya Barat.

Pulau ini tidak begitu luas dan dihuni oleh kurang-lebih 4.000 jiwa. Sebagian besar bermata pencaharian nelayan dan pengolah kopra, sisanya berdagang dan pegawai. Dulu, pulau ini sangat ramai oleh para pendatang mengingat salah satu perusahaan tambang nasional memiliki site di sini. Namun, seiring penurunan cadangan dan produksi, pulau ini mulai ditinggalkan. Perumahan-perumahan untuk karyawan yang dibangun, diberikan ke penduduk melalui pemerintah daerah.

Sekarang, hampir seluruh perumahan eks karyawan ini dihuni oleh penduduk lokal. Sarana transportasi ke luar berupa kapal laut Kieraha, kapal kayu untuk barang dan pesawat udara yang dilayani maskapai Merpati yang melayani rute Gebe – Ternate setiap hari Kamis dan Minggu. Malamnya, baru pukul 02.15 dini hari kami bisa memejamkan mata untuk beristirahat mempersiapkan tubuh dan fikiran dalam rangka menunaikan tugas di pulau ini esok harinya.

One Response to “Sofifi – Weda – Gebe”

  1. Sepertinya pemerintah daerah perlu menjembatani hal ini. kami juga berpengalaman yang sama dalam rangka kegiatan yang kami lakukan di Gebe. Untuk meminimalkan biaya pemerintah perlu membuat jalan tembus Weda-Patani kalo bisa hingga ke ujung tanjung yang jaraknya lk. 120 Km. Apabila ini terlaksana, maka perjalanan ke Gebe dari Patani dapat ditempuh hanya lk 3 jam dengan speed boat dan otomatis biaya perjalanan dapat ditekan.
    Bagaimana Pemda Halteng/Maluku Utara… . Kalo tidak wilayah terpencil sulit berkembang. Kami tunggu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: