The Spicy Banda

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , , , , , , , , on June 30, 2015 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Juli 2014)

Merapat di pelabuhan NeiraBanda, dahulu terkenal dengan sebutan Pulau Rempah. Gaungnya pun mampu menggoyahkan bangsa Eropa hingga rela berlayar beribu-ribu mil mengarungi samudera luas. Semuanya itu hanya untuk sekedar mendapatkan ‘bumbu penyedap rasa’ terhidang di meja makan. Konon, karena rempah Banda ini lah Columbus tersasar dan menemukan Benua Amerika. Kepulauan Banda dari jendela pesawatBanda semasa 700 tahun lalu masih menganut animisme dan dinamisme sebelum Islam datang. Jalur perdagangan saat itu sudah berjalan baik dengan suku Jawa, Bugis, Cina dan Melayu. Portugis pun datang memberi ‘nuansa baru’ dalam berdagang. Terlebih lagi, Belanda dan Inggris pun ikut berebutan menuntut hak monopoli dagang. Penjual makanan khas Banda di pelabuhan PELNIPara Orang Kaya (pemuka) Banda menganggap angin lalu tawaran itu. Kemudian, kedatangan Belanda beberapa tahun selanjutnya membawa konflik dan Inggris pun hengkang dari Pulau Run dan Ay. Banda dalam kekacauan hebat. Efeknya, harga pala di Eropa menjulang ke langit setara dengan harga bulir emas.

 

Banda memang menarik dan indah, dimana lagi di nusantara kita bisa menyaksikan bangunan tua bersejarah eks Belanda, panorama kepulauan yang demikian indahnya, julangan gunung api yang Pelabuhan rakyatmembara, jejeran perkebunan pala yang menghijau, pengalaman bawah laut yang sangat mempesona serta sejarah pergerakan nasional untuk kemerdekaan Indonesia. Semuanya itu berawal dan hanya terdapat di Banda, the Spices Islands. Lonely Planet pun menggambarkan Banda dengan : “Were they more accessible, the Banda’s might be the one of the world’ s top tourist spot. Yet for now you’ll have these wonderful islands almost entirely for yourself. Hurry – this can’t last!

 

Gereja Tua NeiraMatahari baru sejengkal di atas ufuk ketika kapal PELNI membawa saya merapat muara Banda. Pagi hari itu, pelabuhan sudah ramai hiruk-pikuk. Pasar yang hanya ada saat kapal datang dan berlangsung beberapa jam saja. Saya pun membeli manisan pala dan sebungkus kecil halua kenari/kenari manis. Semua snack khas dari Banda sepertinya ada di sini karena mata saya menyapu juga kehadiran kacang botol (kacang tanah yang di simpan dalam bekas botol kecap atau sambal), selai kenari, pala, dan berbagai makanan ringan lainnya.

 

“Teeeeeett…!!”, suara keras klakson motor mengagetkan saya. Interior Delfika yang apikAh, seandainya tidak ada sepeda motor dan mobil di Neira, pasti kita serasa dilemparkan ke masa 400 tahun silam. Tepat di depan penginapan saya terdapat rumah Sjahrir, dan selanjutnya rumah Captain Cole dari Inggris yang pernah menaklukkan Neira di awal 1800-an, semuanya bergaya kuno. Di pertigaan, terdapat tugu rakyat Banda dalam Istana mini bekas kantor VOCmenyambut kemerdekaan Republik Indonesia Syarikat (RIS). Di seberangnya terdapat Kantor Camat Banda dan Gereja Tua yang mungkin adalah satu-satunya gereja saat ini di Banda. Tampak seekor ayam-ayaman bertengger di puncak, ditambah dengan panah penunjuk mata angin menjadikan lonceng gereja ini sangat unik. Di sekitar pasar terdapat pula Pintu dalam benteng Nassauberbagai bangunan tua bersejarah seperti Kelenteng Tua dan rumah Kapten Tan Koa yang sedang direnovasi. Sekilas saya melewati kantor pos Neira dan monumen Parigi Rante (sumur dengan dikelilingi rantai) tempat pembantaian masyarakat Banda dahulu. Rumah pengasingan Hatta (1939 – 1942) pun menarik langkah kaki saya. Terbuka namun tak berpenjaga, saya pun mengisi buku tamu dan memberi donasi selayaknya di kotak yang tersedia. Rasa nasionalisme saya pun terbakar ketika melihat banyak sekali koleksi milik Bung Hatta yang masih tersimpan dengan baik. Mendorong Kora-KoraMulai dari jas, kaca mata, kopiah, alat makan, surat dari sang istri Rahmi Hatta dan yang paling menggugah adalah sebuah mesin ketik tua yang terletak di atas meja. Dari rumah inilah, Hatta bersama-sama Sjahrir, Cipto, Iwa dan beberapa pemuka bangsa yang diasingkan menggodok dan merancang format kebangsaan sebagai Indonesia yang satu. Lahirlah kemerdekaan yang kita nikmati hingga saat ini.

 

Esoknya, saya telah berada di dalam pok-pok Pak Dalam pokpok menuju LonthoirAyub menuju Desa Lonthoir di Pulau Banda Besar. Perahu melalui perairan jernih kehijauan dengan hard coral membayang-bayang di dasar. Ombak cukup tenang. Tiba di desa, saya tersengal-sengal mendaki ratusan anak tangga menuju Parigi Pusaka. Konon, sumur ini dalam waktu tertentu, misal setiap 8 atau 10 tahun sekali harus dibersihkan oleh para tetua. Mesjid besar LonthoirSerangkaian upacara melibatkan sepotong ‘kain sakti’ yang memiliki panjang 99 meter. Kain sepanjang tersebut, hanya dan cukup dimuat di dalam sebuah toples kaca saja. Saat ritual mencapai puncak, kain tersebut diturunkan ke sumur dan seketika air sumur pun mengering! Saat itu di sekitar sumur sangat sepi, saya hanya mengambil gambar secukupnya dan balik kanan terus melalui jalanan yang sama untuk menuju Benteng Hollandia.

 

Benteng ini terletak di ketinggian tebing dan langsung menghadap Gunung Api. Dahulu posisi kapal berlabuh adalah di perairan antara Neira dan Banda Besar, bukan antara Neira dan Gunung Api seperti sekarang. OlehPemandangan Gunung Api dari Hollandia karena itu, sebagian besar benteng dibangun menghadap pelabuhan lama seperti Nassau, Belgica dan Hollandia. Tak begitu banyak yang tersisa di Hollandia, selain pemandangan apiknya. Dari ketinggian, kita bisa menyaksikan hamparan laut Banda Besar dengan latar belakang Gunung Api dan dibingkai oleh dedaunan pohon rindang. Seperti halnya Gunung Gamalama di Ternate, Gunung Api Banda menjadi ikon di sini. Serasa tak lengkap rasanya berfoto tanpa menempatkan gunung aktif ini sebagai latar belakangnya.

 

Anak-anak BandaManyun karena terjebak ombak besar di Neira, esoknya saya hanya berjalan ke Benteng Belgica yang dibangun awal 1600. Belgica dibangun untuk mem-back up posisi Benteng Nassau yang lebih rendah dan lemah. Ditemani juru kunci sekaligus fotografer dadakan saya, Pak Hamim menunjukkan beberapa ruangan dan menara pengamatan di atas. Atas Benteng BelgicaBenteng ini berbentuk unik, segi lima dengan menara di tiap sisinya. Dari bawah, selalu yang terlihat hanya dua buah menara dan benteng yang hanya bersisi empat. Material pembangunan benteng ini didatangkan dari luar Banda. Secara fisik, basaltic lava scoria dari Gunung Api tidak cukup kuat untuk dijadikan material benteng. Di dalamnya terdapat beberapa ruang meeting, penjara laki-laki dan wanita serta beberapa ruang kosong yang saya tidak tahu fungsinya. Di tengah-tengah, terdapat dua buah lubang persegi sebagai gua bawah tanah, satu menuju Nassau dan satu menuju laut. Namun lubang tersebut sudah tidak pernah dipergunakan dan tidak ada satu pun yang berani mengecek keberadaannya. Waktu 400 tahun telah berlalu, cukup membuat bergidik siapa pun jika harus memasuki lorong sempit itu.

 

Pesawat saya tertunda satu hari karena cuaca buruk. Namun Tuhan memang Maha Adil. Saya jadi berkesempatan menyaksikan acara Buka Kampong pengukuhan Tetua Adat. Tifa pun ditabuh sebagai penanda panggilan buat warga. Tetua wanita dalam balutan baju putih dan kain merah keluar dan berbaris sejauh 50 meter. Tiba-tiba, lima orang Para penari Cakalele siap beraksiprajurit dalam balutan baju perang warna-warni keluar menyembah, menyambut dan mengawal tetua tadi. Hulubalang Tengah, Hulubalang Kiri dan Kanan serta Kapitan Kiri dan Kanan, lima orang terkuat dari desa yang dipilih sebagai panglima perang. Merah, kuning, hijau, adalah warna dominan pakaian dan aksesori mereka. Dua orang Kapitan tampil lebih Hulubalang Tengah, dengan jari terikat cincin Lensounik dengan helm logam layaknya prajurit VOC dan tombak di tangan. Cara membawa tombaknya pun berbeda, yaitu bagian yang tajam dilekatkan di perut sementara gagangnya menjulur ke depan. Semua senjata tajam yang digunakan, adalah asli dan sudah berumur ratusan tahun sebagai pusaka desa. Mereka pun menari-menari, dan tampak sekali Hulubalang Tengah yang difavoritkan karena walau tubuhnya paling kecil, namun gerakannya paling lincah. Semakin cepat gerakannya, semakin semangat masyarakat berteriak melengking : “Ay ya ya ya ya ya yoo…!!”. Seperti halnya tarian Indonesia timur lainnya, Cakalele dibawakan dalam gerakan yang sangat dinamis. Jangan sekali-kali menganggap remeh karena tarian dibawakan dengan satu kaki dan pastinya sangat menguras stamina pemainnya.

 

Malamnya, acara dilanjutkan dengan Tutop Kampong, dengan rangkaian acara yang mirip dengan sore harinya. Yang membedakan, tarian mereka dilakukan satu-persatu dan Tarian penutupan prajurit Cakalelemengelilingi lima batang bambu yang ditancapkan di halaman. Bambu ini melambangkan saat pembantaian Orang Kaya di Nassau, kepala mereka digantung di ujung bambu dengan isi perut melingkari batangnya Sunset di depan Istana Minipenuh dengan lumuran darah. Cakalele di Banda, diklaim sebagai Cakalele paling asli di Maluku karena penuh syarat ritual dan sendi Islam yang diserap, misalnya doa bersama, lima batang bambu dan lima pendekar Cakalele sebagai perwujudan 5 rukun Islam, penggunaan mesjid sebagai tempat pengukuhan. Di Lonthoir, filosofinya serupa namun penari Cakalele-nya sejumlah 7 orang.

 

Irama tifa yang dari tadi terdengar kencang, Terong saus kenari berubah melambat dan bunyi gong pun menggema. Saatnya balenso, mereka pun menari dengan gerakan gemulai dalam lingkaran besar bersama-samsa tetua wanita. Lenso usai, semua prajurit kembali menari satu-persatu. Di antara beberapa gerakan, mereka berjongkok dan menggoreskan senjata pada batang bambu. Nafas masih tersengal-sengal namun mereka kembali bergabung untuk acara pamungkas. Semua lima batang bambu tersebut lalu dicabut dan disilangkan di hadapan mereka. Semua janur di pagar luar digoyang dan dicabut oleh masyarakat. Acara pun selesai, dan masyarakat pun puas karena seorang tetua adat telah ditetapkan untuk lima tahun ke depan. Kenangan akan keindahan Banda terus membayang sepanjang perjalanan saya di pesawat udara. Suatu saat, saya niatkan kembali ke sini, tentu saja untuk mencicipi keindahan bawah lautnya yang belum sempat saya rasakan.Banda dari puncak Gunung Api

Portofolio, Gunung Kerinci-Danau Gunung Tujuh

Posted in Portophotolio with tags , , on June 27, 2015 by heruhendarto

Shelter 3 Kerinci

Happy shooting dalam perjalanan menuju puncak

Beristirahat sejenak dalam perjalanan ke puncak

Tugu peringatan pendaki yang wafat di kaki puncak Kerinci

Di pinggir kawah Kerinci

Kerinci dilihat dari sisi Pelompek

Kerinci dari Pelompek

Jalur pendakian Gunung Tujuh

Bersampan dan berenang di Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh

Tupai di hutan Gunung Tujuh

Menuju pintu rimba Kerinci

Jalur yang mulai terjal menuju Shelter 1

Mengupas buah untuk kulitnya dibuat gelang

Menu makan malam Shelter II

Puncak Kerinci 3806 m dpl

Medan sisi puncak Kerinci

Bersiap menembus hujan di Shelter III

Medan Shelter III ke Shelter II

Para pekerja teh siap berangkat

Penginapan Paiman

Di dalam angkot menuju Pelompek

Sarapan di Pelompek

Menuju puncak Gunung Tujuh

Sahril, pesampan Danau Gunung Tujuh semenjak 1974

Soto Padang di Kayu Aro

Kopi dan lemang Sungai Penuh

Bumi Anggrek Terlekangkan Waktu

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , on October 24, 2014 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Mei 2014)

 

Baling-baling pesawat tipe ATR semakin meraung keras dan perut saya sedikit terkocok ketika roda-rodanya menyentuh landasan. Tak begitu buruk rasanya Teluk Pomalaa dan penambangan nikelsebenarnya, bahkan sebenarnya saya lebih menyukai sensasi naik pesawat baling-baling daripada pesawat bermesin jet. “Selamat datang di Sangia Nibandera”, sebuah bandara kecil di Kabupatan Kolaka dimana semuanya dilakukan serba manual. Tak ada ban berjalan di sini, alat x-ray nya pun belum berfungsi sementara ruang tunggu yang tersedia sangat sederhana namun dalam setiap penerbangan, bandara ini penuh sesak dengan hiruk-pikuk orang. Tak pelak lagi, bandara kecil ini adalah salah satu pembuluh nadi terpenting transportasi masyarakat Kolaka.

Kabupaten seluas hampir 7 ribu meter persegi dengan penduduk hanya 315.000 jiwa ini terletak di pesisir barat daya Sulawesi Tenggara. Kabupaten Kolaka hanya memiliki dua kota yang menjadi ikon terkenal, masing-masing adalah kota Kolaka sebagai pusat pemerintahan dan kota Pomalaa sebagai pusat perekonomian. Sangia Nibandera terletak kurang-lebih empat puluh menit perjalanan darat dari kota Pomalaa, dan menjadikan kota kecil ini sebagai persinggahan pertama saya. Konon, nama Sangia Nibandera sendiri adalah nama bendera berwarna merah dan putih, yang telah digunakan prajurit Kolaka sebagai simbol perang jauh sebelum proklamasi kemerdekaan negara kita, mengagumkan!

Jalanan aspal rusak bercampur tanah yang melontarkan debu tebal di saat musim kering, topografi perbukitan gersang di timur pesisir, lalu-lintas yang cukup kampung-pesisir-watubangga.jpgramai serta penduduknya yang datang dari berbagai daerah membuat kota ini dijuluki sebagai kota koboi. Magnet satu-satunya yang membuat masyarakat terhipnotis mendatangi kota ini adalah pertambangan nikel laterit. Dipelopori oleh berdirinya tambang dan pabrik pengolahan nikel milik salah satu perusahaan BUMN di tahun 80-an, Pomalaa selanjutnya berkembang seiring hadirnya ratusan perusahaan semenjak terjadinya mineral booming di dunia awal tahun 2000-an. Tak heran saat saya lewat, Teluk Kolaka sedang dipenuhi oleh tak kurang dari 6 buah Mother Vessel berukuran draft 50.000 ton yang sedang memuat bijih nikel mentah untuk diekspor ke luar negri, Cina umumnya.

Pantai Harapan, adalah tempat wisata yang membuat saya penasaran. Terletak di pesisir teluk, pantai menjadi sangat unik karena material pembangunnya. Disusun dari timbunan slag, pantai ini memanjang hingga 150 meter ke barat dan menjadi salah satu tempat hiburan utama di kota Pomalaa. Di bagian ujungnya, terdapat berbagai fasilitas umum serta laut yang dibendung dan dapat digunakan sebagai kolam renang yang aman. Kanan-kiri jalur pantai ini dibentengi dengan jutaan pohon bakau yang ditanam sebagai komitmen perusahaan terhadap lingkungan. Slag sendiri adalah material logam sisa pemurnian nikel, dengan kandungan utamanya berupa besi, slag aslinya berwarna abu-abu berukuran kerikil butir-butir-slag-sisa-proses-pemurnian-nikel.jpghingga bongkah dan menjadi umum digunakan sebagai  material penimbun. Bahkan, banyak daerah pesisir Pomalaa yang dahulunya adalah laut, ditimbun dengan slag dan dibangun perumahan menyulap wajah dari daerah muka air menjadi perkampungan yang ramai penduduknya. Modernisasi, sepertinya tak menjanjikan harapan bagi semau orang. Suku Bajo salah satunya, menyingkir lebih ke selatan untuk menghindari hiruk-pikuknya perkampungan yang semakin tumbuh ini. Mereka pun menyebar menghuni pesisir yang masih alami di berbagai daerah semisal desa Hakatutobu dan desa Tangketada di mana mereka masih dapat mencari ikan dengan leluasa dan mengembangkan budi daya rumput laut pada hamparan laut jernih di hadapan pesisir.

Jika Pomalaa adalah pusat kegiatan perekonomian utama, maka Kolaka adalah pusat pemerintahannya. Berjarak bakau-yang-ditanam-sepanjang-pesisir-pomalaa.jpgkurang-lebih satu jam perjalanan ke utara, Kolaka adalah kota pusat penghasil coklat dan hasil bumi yang cukup tertata dengan rapi dan bersih, tak heran jika kota ini pun dianugerahi Adipura beberapa kali. Selain jalan poros utama, menuju Kolaka dapat ditempuh melalui jalan bypass. Jalur ini menjadi favorit saya walau pun kondisinya masih berupa jalan tanah berlubang. Selain karena memanjang menyisiri pantai, jalan bypass ini menyajikan pemandangan yang luar biasa. Di sisi barat, terhampar laut biru Teluk Kolaka dengan Pulau Padamarang sementara di sisi seberangnya lautan tambak air asin membujur dengan latar belakang hijaunya perbukitan yang elok. Rumah-rumah kayu mencuat di sana-sini seolah-olah menyembul di atas kilaunya permukaan air tambak-tambak yang melampar sejauh mata memandang.

jus-tulang-di-pesisir-kolaka.jpgDi pesisir pantai kota Kolaka, alias Pantai (Tugu) Coklat, banyak jejeran lapak makanan digelar sedari sore hari. Favorit saya di kota ini adalah jus tulang. Ya, wujud makanan ini betul-betul seunik namanya. Jus tulang adalah potongan paha dari sapi yang berukuran raksasa, disajikan dengan kuahnya yang gurih menghangatkan. Seni memakannya cuman ada dua tapi sangat-sangat mengasyikkan. Pisau kecil disediakan agar kita dapat memotong sisa daging yang menempel di tulang, mencelupkannya di kuah dan menikmatinya ala konro.  Yang terakhir adalah, mengaduk-aduk daging sumsum yang ada di rongga tulang dan menyeruputnya dengan sedotan selagi panas, nikmat sekali! Suasana di sini pun sepertinya cocok buat muda-mudi, angin laut yang segar dan kerlip lampu kota, membuat malam seolah cepat berlalu. Tampak pula kendaraan hilir-mudik memasuki pelabuhan Kolaka, menaiki ferry yang sedianya akan membawa menyeberang Teluk Bone menuju Bajoe, kota pelabuhan kecil di Sulawesi Selatan.

Sebagai bekas pusat kerajaan di zaman dahulu, Mekongga, demikian namanya, tak menyisakan lagi banyak putri-putri-cantik-dalam-balutan-pakaian-khas-suku-tolaki.jpgpeninggalan. Masih ada memang sebentuk bangunan kompleks pemakaman dan beberapa benda pusaka kerajaan yang disimpan di sebuah rumah seorang keturunan raja, namun wujud fisik sesungguhnya dari kerajaan Mekongga seperti keraton, pelabuhan, mesjid dan lain-lainnya telah tiada. Kolaka memiliki motto ‘Wonua Sorume’ yang berarti bumi anggrek, sepertinya semenjak jaman kerajaan dahulu anggrek sudah menjadi bagian dari budaya di sini. Namun, sepertinya pesona anggrek di Kolaka sudah memudar. Senasib dengan anggreknya, Keramik Mekongga yang dahulu terkenal sebagai kerajinan masyarakat, saat ini sudah jarang ditemukan. Pembuatan guci dari tanah liat ini sepertinya hanya dilakukan untuk meneruskan tradisi nenek-moyang dahulu. Masyakarat asli Kolaka adalah Suku Tolaki, yang dikenal karena kulitnya yang putih dan parasnya yang cantik. Mirip sekali dengan ciri-ciri fisik suku asli Moronene di pesisir selatan dan Pulau Kabaena ,yang konon nenek moyangnya berasal dari Asia Timur. Di sini, suku Tolaki Sulawesi Tenggara dibedakan dengan panggilan sesuai wilayah geografisnya. Tolaki Mekongga di pesisir barat, dilantunkan mulut untuk membedakan mereka dengan suku Tolaki Kendari yang menghuni pesisir timur. Memiliki rupa fisik yang sama, budaya yang mirip, mereka sepertinya enggan disamakan walau pun memiliki pengikat adat ‘Kalo’ yang sama. Baju adat Tolaki, adalah salah satu dari sekian baju adat di nusantara yang saya kagumi karena memiliki warna dan aksesori yang memukau mata.

sungai-terpendek-di-dunia-tamburasi.jpgJargon ‘sungai terpendek di dunia’ tak pelak lagi membuat saya penasaran juga sehingga rela menempuh perjalanan dua jam setengah ke arah utara. Tamboraasi atau Tamburasi dalam pelafalan biasa, adalah salah satu tempat wisata di Kolaka yang sangat terkenal. Saya pun tiba di sore hari, di kala pengunjung mulai sepi dan mentari sudah condong ke barat. Memang cukup mengagetkan juga melihat sebuah sungai yang hanya memiliki panjang sekitar 20 m saja dan langsung bermuara ke laut. Terpendek? Saya kira tidak karena sebenarnya sumber air berasal dari sungai bawah tanah yang keluar dari tebing batukapur. Dengan suhu sekitar 150 Celcius, dinginnya air sungai ini sangat kontras dengan hangatnya air laut dari pantai Tamboraasi di sebelahnya. Bagi yang tidak tahan dingin, dapat menceburkan diri ke pesisir sebelah baratnya dan menikmati hangatnya air laut. Beberapa orang bercerita bahwa di saat-saat tertentu sungai ini menjadi lebih pendek. Saya pun dapat menerima informasi itu karena memang sand barrier yang membelokkan arah sungai hingga menyamping ini sebenarnya tidaklah permanen. Di saat angin tidak kencang bertiup dari arah barat, maka arus sungai akan lebih leluasa menembus langsung lurus ke arah laut tanpa dibelokkan oleh ombak laut, dan saat itulah jarak terpendek didapat.

Sudah hampir waktunya saya meninggalkan Kolaka, namun di saat injury time, saya masih menyempatkan diri mengendarai sepeda motor kembali ke arah kelelawar-watubangga.jpgselatan. Pomalaa saya lewati, bandara pun saya lalui, hanya untuk mengejar keunikan lain dari kabupaten ini. Watubangga, adalah nama desa nelayan yang memiliki warisan unik berupa kelelawar raksasa. Ya, ratusan kelelawar setiap siang harinya selalu beristirahat di pucuk pepohonan pantai di sini. Tampak tenang dan sesekali bergerak, kelelawar ini saya perkirakan memiliki bentang sayap sekitar 70 cm. Pantai Watubangga ini sebenarnya apik, hanya tidak begitu banyak pengunjungnya. Mungkin karena bau prengus alias bau apek seperti kambing yang semerbak dimana-mana akibat hadirnya kelelawar ini. Kehadiran kelelawar raksasa ini juga terdapat di kota Watang Soppeng, Sulawesi Selatan. Bahkan mereka hadir di tengah kota dan membaur dengan kehidupan masyarakat. Bahkan mereka menganggap kelelawar ini sebagai penjaga kota, tak pelak lagi kota ini pun lebih dikenal sebagai kota Kalong.

Puas menghabiskan waktu-waktu terakhir saya, sepeda motor bebek pun saya pacu perlahan kembali ke arah Pomalaa. Di saat melintasi gerbang  pelabuhan salah satu perusahaan tambang di sana, jalanan pun berubah sementara menjadi tanah licin. Melintas perlahan, tiba-tiba seorang bapak di seberang jalan berteriak memanggil : “Ojeeeek…!” Tak pelak saya pun jadi senyum-seyum sendiri, mungkin tampilan saya yang kebetulan menggunakan helm tipe open face dan pakaian lapangan menjadikan mirip dengan tukang ojek lokal. Tak apalah, kejadian menggelikan ini pun membuat saya masih saja tersenyum-senyum sendiri saat duduk di kabin pesawat dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta esok harinya. Masih tersisa beberapa tempat menarik di Kolaka yang belum saya kunjungi, Gunung Mekongga dan beberapa air terjun serta mata air panas di kakinya cukup menantang kiranya. Jika saya punya kesempatan kembali ke Kolaka, tempat tersebut adalah tujuan saya berikutnya. Mungkin saja saya akan bertemu dengan tumbuhan anggrek yang dahulu melegenda itu.

 

 

When to Go :

Waktu terbaik mengunjungi Kolaka adalah di musim kering bulan April hingga September saat laut tenang dan cuaca kering. Saat-saat ini, perjalanan menyeberangi Teluk Kolaka akan menyenangkan, demikian pula jalanan tanah tidak akan licin di saat harus menyusuri pesisir kaki perbukitan di Kolaka.

Seringkali di waktu-waktu tersebut, hajatan diadakan penduduk dan dapat dipastikan akan ada pesta tarian Lulo. Tarian ini dilakukan secara massal mengikuti alunan musik dan menggambarkan pergaulan muda-mudi setempat yang dinamis. Siapa pun bisa bergabung untuk ikut menari, asal kan mempelajari dahulu gerakan kaki dan tangan peserta, jika tidak mau terinjak.

How to get There :

Satu-satunya maskapai yang melayani jalur ke Kolaka adalah Wings Air dari Makassar. Penerbangan cukup padat, dua kali setiap hari dan tiga kali sehari selama dua hari dalam seminggunya. Rata-rata harga tiket 500 ribu rupiah one way dengan pesawat baling-baling turboprop selama 45 menit perjalanan.

Alternatif lain adalah menggunakan penerbangan dari berbagai maskapai menuju Kendari, lalu mengambil jalan darat selama empat jam berkelok-kelok menembus perbukitan Sulawesi Tenggara.

Where to Stay :

Hotel Wisata Mekongga, adalah hotel unik di Kolaka. Terletak di Pantai Mandra, hotel ini berbentuk miniatur rumah adat di Kolaka. Terdapat sepuluh bangunan yang dapat digunakan untuk umum dengan harga mulai dari 300 ribu rupiah.

 

Tak seperti Kolaka, hotel di Pomalaa tidak begitu banyak. Namun salah satu yang terbaik adalah Hotel Triputra (0405-2310860), Dawi-Dawi, mulai dari 250 ribu rupiah. Di sini kita dapat merasakan suasana keramahan rumah tangga yang tidak seperti suasana hotel kebanyakan, dan nilai tambah ini lah yang ditonjolkan si pemilik sehingga hotel ini nyaris selalu penuh setiap harinya.

 

 

 

 

 

 

 

Pelarian ke Pulau Sagori

Posted in Jalanjalan with tags , on September 9, 2014 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Januari 2014)

Muhamaa…., jangan kau kasih kanan haluan, bisa kandas kita!”, teriak kru di haluan kepada motorist di buritan. Saya yang asyik-asyik duduk di atap pun seketika ikut tegang. Di depan, tampak jelas sekali dasar pasir bertaburan karang dan rumput laut membaOLYMPUS DIGITAL CAMERAyang menempel permukaan air. Ini adalah kawasan perairan pulau Sagori. Sejak jaman kumpeni dahulu, jalur ini membuat jerih siapa pun yang berlayar di dekatnya. Bahkan, sebuah kapal dagang VOC pun sempat tenggelam di sini. Sagori memang telah menjadi jalur utama lalu-lintas pelayaran dari Gowa ke Ternate dan Banda semenjakOLYMPUS DIGITAL CAMERA zaman keemasan rempah-rempah dahulu. Tiga mesin 20 PK dimatikan, satu mesin tersisa digas perlahan. Speedboat berjalan lambat tapi lebih lincah meliuk. Untunglah kami merapat dari arah matahari terbit, sisi Pulau Kabaena. Jika menghampiri dari sisi barat Sagori, bisa-bisa kami menyusul kapal VOC itu ke dasar laut.

Sauh dilempar, speedboat tak bisa merapat penuh ke pantai saking dangkalnya. Jetty kayu ringkih yang ada pun dipastikan tak kuat menopang beban, baik boat ataupun orangnya. Akhirnya, kami harus turun berbasah-basah ria sambil menarik boat ke darat. Saya pun berjingkrak-jingkrak melompat kaget melihat seekor ular laut berenang sejauh lima langkah di samping kanan. Mendarat di sisi timur pulau, tak pelak, kami OLYMPUS DIGITAL CAMERAdisambut dengan hamparan pasir putih halus memanjang. Memang, dilihat dari aplikasi Google Earth, pulau ini bergaris luar putih dan berbentuk nyaris seperti bulan sabit tipis memanjang. Tak ada tanaman besar, sisi timur hanya ada beberapa cemara kecil dan rerumputan. Pastinya, gempuran ombak laut yang dahsyat membuat apapun tak bisa bertahan. Bahkan, bangunan kayu serupa cottage pun sudah hancur di sana-sini, sulit untuk digunakan karena pondasinya pun amblas. Katanya, cottage kayu ini adalah tempat istirahat favorit para pejabat di sana. Memang sih, tinggal di tempat ini pasti serasa memiliki pulau pribadi. Tak ada orang lain, pasir putih langsung terhampar di serambi dan pekarangannya adalah lautan hijau membiru.

Masih pagi, langit cerah membiru. Awan malu-malu mengawang, dan matahari serasa OLYMPUS DIGITAL CAMERAterik membakar. Setelah cukup puas menikmati pantai timur, saya pun bergerak ke sisi pulau sebelahnya. Kami harus berjalan melewati perkampungan penduduk. Walau namanya kampung, saya tebak paling jumlah rumah di sini tak lebih dari empat puluh. Cukup lah jadi satu RT saja. Yang membuat menarik, rumah-rumah kayu dibangun dengan gaya arsitektur asli. Saya pun masih bisa mengenali rumah mana yang ditempati suku-suku tertentu hanya dengan melihat model atap depan dan jendelanya saja. Berada di tengah laut yang memberikan sepenuhnya adalah sumber rezeki mereka, penduduk Pulau Sagori adalah penduduk yang terbuka dan solider. Suku Bajo, Bugis dan Buton hidup berdampingan dengan akur.

OLYMPUS DIGITAL CAMERALis, coba kau kasi tanya berapa mereka punya ikan. Kalau murah, bisa buat kita bakar-bakar sebentar sore tho”, pinta saya ke salah satu teman. Siapa yang tidak ngiler disambut hamparan ikan dimana-mana. Di kanan-kiri jalan, depan dan bawah rumah hingga di pantai belakang, semua penuh ikan. Melimpah dengan hasil laut, mereka pun mengolahnya OLYMPUS DIGITAL CAMERAmenjadi ikan asin dan ikan asap. Nah, yang terakhir ini yang saya paling suka sebenarnya, apalagi bau harumnya selalu bikin perut keroncongan. Tak lupa, beberapa ekor ikan segar kami gotong ke barat. Arang sudah siap, panggangan sudah dibawa. Siang ini, definitely fish barbeque time for all !

OLYMPUS DIGITAL CAMERAPantai barat cocok buat yang ingin berteduh. Pepohonan cemara yang tinggi teduh menaungi lokasi ini., beberapa pondok terbuka dibangun untuk wisatawan. Penduduk Sagori pun tak mau kalah, sebuah lapangan sepakbola sederhana menghiasi perbatasan kampung dan ‘kebun cemara’. Nyaman sekali untuk sekedar duduk-duduk di sini, angin berhembus dengan semilir. Sayangnya, pantai barat bagian utara dihiasi batu karang di bagian dasar sementara di bagian selatannya menghadap laut terbuka. Tempat berlabuh paling cocok memang di tempat speedboat tadi, atau di sebelah kampung sekalian. Arang pun digelar, ikan sudah dibersihkan. Sambil menunggu api hidup dan ikan dibakar, saya terus melangkahkan kaki mengikuti setapak ke ujung barat.

Sehari sebelumnya perairan ini memang dihajar badai. Bekas-bekasnya masih jelas OLYMPUS DIGITAL CAMERAtersisa. Di pantai, beberapa gadis kecil sibuk memunguti agar-agar alias rumput laut yang terdampar. Bagi nelayan, rumput laut adalah komoditi yang tak kalah menarik dibanding ikan. Di ujung pulau, sebuah pohon cemara masih kokoh tegak berdiri walau tanaman sekelilingnya sudah hancur diterjang ombak. Sayang air laut masih cukup tinggi. Jika surut, saya bisa berjalan menuju tembok karang sejauh 2 km di depan. Mungkin di situ lah kapal VOC naas itu bersemayam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERATeriakan menggema di kejauhan nyaris terbawa angin. Ikan sudah siap. Saya pun buru-buru kembali ke lokasi bakaran. Satu ekor ikan bakar, side A dan side B pun segera masuk ke perut. Lezat sekali, apalagi bumbu colo-colonya dicampur mangga muda, membuat liur menetes. “Pak, berani coba tidak?”, kata salah seorang kru sambil menyodorkan sebentuk hewan seperti landak. Astaga, bulu babi ternyata. Saya paling anti sama binatang beracun satu ini. Mencoba berani, saya pun diajari bagaimana cara OLYMPUS DIGITAL CAMERAmemegang dan mengatasi racun durinya. Tak cukup puas dikerjai kru, saya ditantang untuk memakannya. “Siapa takut?”, gumam saya dalam hati. Ternyata bulu babi bisa dimakan, yaitu daging tipis di bagian tengahnya. Konon kandungan proteinnya selangit. Mengolahnya pun tak sulit, bulu babi cukup digoncang keras di dalam ember untuk mematahkan duri-durinya. Selanjutnya bulu babi dibakar dalam api. Lima menit, cangkang yang keras pun dibuka. Setelah dibersihkan isinya, dagingnya bisa langsung dicolek dan dilahap. Lebih lezat tanpa dicuci karena guyuran air akan membuang rasa gurih dagingnya!

Cukup berkesan memang kunjungan ke pulau ini. Mungkin di waktu lain, menyempatkan menginap dan menyaksikan sunset dan sunrise dari Sagori pasti menyenangkan. Benar memang, Sagori indah, sebagaimana yang diabadikan dalam lirik lagu daerah berjudul Kampung Tangkeno :

Polihee pokia aruane i tahi,

i nonto ea pulau sagori

Moico ea ontohawano,

sababuna mo uso asapampa

 

Lihatlah sejenak di laut sana,

tampak sekali Pulau Sagori

Indah sekali pemandangannya,

sebabnya hijau separuh

 

 

Menyusuri Pesona Pasir Putih Tanjung Bira

Posted in Jalanjalan with tags , , on September 9, 2014 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Januari 2014)

Kaki telanjang saya OLYMPUS DIGITAL CAMERAmelangkah perlahan, menapak di basahnya pasir putih nan memanjang. Sesekali, hempasan lembut ombak menampar mata kaki. Matahari mulai bangun dari peraduannya, sinar kuningnya menerangi langit di ufuk timur. Deretan rumah kayu bergaya tradisional di sisi kiri dibentengi jejeran nyiur melambai, saya seolah terlempar ke masa ratusan tahun silam. Nyaris tak tampak manusia lain, pantai ini serasa milik saya pribadi. Tak puas bertandang satu kali, kesempatan ini adalah kali kedua saya merasakan hangatnya pasir pantainya.

Bira adalah tanjung yang membagi dua pantai, barat dan timur, dan maOLYMPUS DIGITAL CAMERAsing-masing menawarkan pesona yang berbeda namun melengkapi. Konsentrasi pengunjung tertumpuk di sebelah barat, saya memilih untuk menikmati ‘perawannya’ sisi timur. Tak banyak yang tahu, bahwa pantai Bira timur sangat menarik. Selain lebih sepi, seperti halnya khas daerah Bulukumba OLYMPUS DIGITAL CAMERAdan Tana Beru, kita bisa menemukan beberapa perahu phinisi yang sedang dibangun. Tak hanya satu atau dua, kita juga bisa melihat belasan perahu serupa yang sedang diperbaiki. Persis di sebelah dermaga penyeberangan ferry Bira-Pamatata di Selayar, sebuah teluk tenang memang dikhususkan untuk menjadi ‘bengkel’ perahu kayu besar nan tangguh ini.

Walau terbuat dari kayu ulin ataupun jati terbaik, perahu phinisi sudah OLYMPUS DIGITAL CAMERAkondang mengarungi se-antero dunia. Pak Barru, seorang nelayan yang baru tiba dari melaut pagi itu berkata : “Kami membuat perahu ini turun-temurun, dan syarat utama dalam pembuatannya adalah tidak boleh bertengkar sesama pekerja”. Memang, pembuatan satu buah phinisi yang memakan waktu hingga satu tahun ini syarat dengan nilai-nilai ritual. Panrita Lopi, sebutan untuk pawang perahu, mengawal ritual pembuatan perahu dengan taat. Tidak ada buku panduan, gambar teknis ataupun hitungan eksak dalam pembuatan phinisi. Semua langkah kerja dan desain sudah ada di luar kepala, terasah oleh pengalaman turun-temurun ratusan tahun. Pertengkaran para pekerjanya dalam proses pembuatan sangat pantang terjadi karena dapat menghasilkan perahu yang cacat melaut. Dikerjakan dengan material terbaik dan para pekerja yang trampil, satu perahu phinisi ukuran sedang dapat mencapai harga 2 hingga 3 milyar rupiah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAMatahari mulai jauh dari ufuk, saya pun meninggalkan pantai timur dan melangkah ke barat. Pasir putih menghampar hingga 3 kilometer ke utara dan di sisinya dibentengi oleh tebing-tebing karang yang indah. Penasaran dengan kelembutan pasirnya, segenggam tangan saya raup. Dan benar, karena ukuran butirnya yang halus, pasir pun serta-merta jatuh berhamburan meluncur dari sela-sela jemari. Konon, tekstur pasir seperti ini lah yang menjadi kegemaran penyu untuk bertelur. Pantai barat ini landai dan berair jernih serta menghadap ke pulau Lihukan. Karena panjangnya pantai ini, kita dapat berjalan jauh ke utara menyusuri sisinya dan menikmati pemandangan yang apik di sepanjangnya.

Bira barat adalah pusat keramaian, orang banyak beraktivitas. Mulai dari para nelayan yang melaut, penduduk yang berbelanja, juga para wisatawan yang asyik menikmati pesona pantainya. Penginapan banyak tersebar di sini, tinggal sesuaikan selera saja. Beberapa kali tampak perahu bermotor berlayar hilir-mudik ke Lihukan. Sebagian membawa wisatawan, sebagian memang kapal reguler yang membawa penOLYMPUS DIGITAL CAMERAduduk datang dan pergi. Penasaran, saya pun mendekat dan mengorek informasi. Nego punya nego, saya ambil paket snorkeling dengan speedboat fiber terbuka, lengkap berikut life vest tentu.

Lihukan adalah sejatinya pulau yang berkontur karang. Pasirnya tak kalah putih dari Bira, dan keindahan panorama bawah lautnya menjadi bonus yang luar biasa. Setelah mengarungi ombak kurang dari sayu jam, tanpa basa-basi saya pun langsung terjun ke air. Badan saya langsung disapa ombak lembut bersuhu hangat. Di bawah muka airnya, ribuan hard dan soft coral terhampar di dasar. Samar-samar di selanya terdapat banyak ikan kecil berwarna-warni berenang-renang meliuk-meliuk menerobos arus bawah air. Hamburan gelembung udara berukuran mini tersebar dimana-mana, lepas dari karang dan naik perlahan OLYMPUS DIGITAL CAMERAke atas. Berkas matahari masuk ke dalam air, menembus memancarkan sinarnya yang indah. Kalap dengan keindahannya, dua tempat utama lokasi snorkeling terbaik pun saya sambangi.

Puas, dan lelah tentu saja. Atas rekomendasi motorist perahu, kami tidak langsung kembali ke Bira tetapi melipir ke sebuah restoran terapung. Tentu saja, namanya daerah pesisir, hidangan ikan bakar adalah menu utama yang wajib dicoba. Sambil menunggu, kami menikmati hiburan yang membuat restoran terapung ini unik. Tepat di sebelah tampat makan, di bawah, terdapat kolam berukuran sedang. Berisi air laut, di dalamnya sengaja dipelihara sejumlah penyu dan beragam ikan laut berwarna-warni. Tak ketinggalan pula berpuluh udang galah, namun siang terik itu mereka lebih suka mengademkan diri di sela-sela tembok bebatuan karang. Tinggal cuatan sungutnya saja yang tampak dari luar, meliuk-liuk ke sana-kemari. Beberapa penyu yang memang ditangkarkan berenang lambat di alam kolam. Ukurannya cukup besar, setara seorang anakOLYMPUS DIGITAL CAMERA SD. Tentu saja, kita bisa ikut berenang mendampingi sang penyu. Memberi makan sayuran yang disediakan pun dapat dilakukan. Penyu-penyu tersebut sangat penurut. Asyik berenang, saya nyaris tak mendengar panggilan pelayan. Makanan sudah siap terhidang, saya pun naik ke atas. Ikan kuwe bakar dengan lalap tomat, siraman kecap irisan cabe dan nasi hangat sepertinya kombinasi yang pas untuk disantap di siang bolong. Wah, Bira memang istimewa!

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Axis of Fagogoru, Halmahera Tengah

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , on July 14, 2014 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah DestinAsian Indonesia Januari/Februari 2014)

Pak, kitorang main Batu Lubang saja ka? Bagus dia punya ee…, ornamen itu! Sebentar sore datang ka sa pu tatangga, Musa. Kasi pesan untuk pakai katinting dia tho?”, ajakan Taufik pun terus mengiang-ngiang menggoda saya. Menarik ketinting melewati beberapa titik dangkal sungai SageaPucuk di cita ulam pun tiba, besok hari libur dan saya belum ada hal lain yang akan dilakukan untuk membunuh waktu. Akhirnya sore itu, dengan berboncengan sepeda motor, saya meluncur ke desa Sagea. Perjalanan 30 menit terguncang-guncang melewati jalan tanah lumpur berbatu terbayar sudah. Sebuah ketinting bermesin tunggal, dua orang kru keluarga Pak Musa dan 6 batang obor sedianya akan siap menemani petualangan esok.

Saya tak leluasa browsing mencari tahu apa sebenarnya Batu Lubang ini. Walhasil, saya hanya bisa melihat fotonya dari kalender yang sudah expired dua tahun lalu, Kebetulan kalender itu masih disimpan oleh salah seorang penduduk. Tebing rapat dan tinggi menjulangBerbagai macam bentuk ornamen batukapur tampak terdokumentasikan, sementara fisik goa nya sendiri masih buram dari bayangan saya. Sedikit clue lain yang saya dapat, perjalanan di atas sungai akan menembus tebing, sebelum memasuki mulut goa yang konon katanya tak berujung. Memang, berada di pinggiran timur kecamatan Weda, saya notabene berdiri di bawah pulau Halmahera, tepat di kaki tengahnya si huruf ‘K’ ini. Di sini, komunikasi verbal mulut ke mulut lebih efektif ketimbang mengandalkan media elektronik. Desa Sagea pun memiliki danau yang cukup apik, walau sebenarnya adalah sebuah laguna yang sangat besar. Dengan jalanan tanah kondisi becek dan longsor, cakupan sinyal GSM yang sangat terbatas serta transportasi publik yang hanya lewat sekali dalam sehari (jika tidak hujan), siapa juga yang bisa mengira kalau di kabupaten baru ini juga punya tempat wisata?

 

 

Penduduk menyebrangi sungai Sagea dengan sampan

 

Pukul 08.15, sudah satu jam saya menunggu di muara sungai namun ketintingnya belum juga muncul. Langit mulai mengabu-abu, kami semakin cemas. Jika hujan turun dengan lebat, bukan tak mungkin acara ini berubah gagal total. Dengan kondisi sungai yang dangkal berbatu, saya sudah bisa menebak kalau fluktuasi debit airnya pasti sangat tinggi dan sangat tergantung pasokan air dari hulu. Kebetulan, sinyal GSM kencang di sini karena berada pada garis lurus menara BTS sebuah perusahaan nikel di Weda. Baru lah saya tahu kalau Batu Lubang ini sebenarnya memiliki nama cukup keren, Boki Moruru alias putri yang menghanyutkan diri. Konon dahulu, di sungai Sagea ini seorang putri dari Kesultanan Tidore mandi sambil menghanyutkan diri mengikuti arus sungai hingga ke hilir. Memang, legenda di Maluku tak pernah bisa lepas dari kejayaan kerajaan-kerajaan besar Islam nusantara seperti Ternate dan Tidore yang tesohor.

Tak lama, suara cempreng mesin tunggal berkarat terdengar mendekat. Pantas saja lama, karena motorist dan helper-nya ini mesti memasang mesin dahulu ke perahu. Sepuluh menit menyusuri sungai Sagea, saya mulai cemas. Tak hanya arus Ornamen Batu Sembahyangyang makin deras, dasar sungai berbatu pun mulai tampak jernih membayang satu atau dua meter di bawah lunas. Beberapa batu seukuran meja muncul di tengah sungai dan membuat arus terputar di sekelilingnya. “Waduh, bahaya ini,” pikir saya dalam hati. Kan kami niatnya melewati sungai dengan santai, bukan mau semi arung jeram. Mesin Robin 5 PK pun semakin meraung, kalah tangguh melawan tendangan arus dari depan. “Dhuaak!”, suara keras terdengar dari bawah. Sukses, ketinting kami kandas. Saya sih tenang-tenang saja. Bukan apa-apa, dasar sungai mulai tampak dimana-mana dan pinggiran sungai gampang dijangkau. Seketika air meluap, kami masih mudah menyelamatkan diri. Ternyata, perjuangan menghidupkan mesin tua itu lima kali lebih berat daripada melepaskan perahu.

Dua kali tersangkut ke dasar sungai dan sempat berjalan kaki 100 meter karena ketinting harus ditarik dalam kondisi kosong, kami pun mulai memasuki  celah tebing yang menjulang. Mirip dengan Cukang Taneuh aka Anak-anak Fritu asyik bermainGreen Canyon, namun di sini saya lebih keder karena tebingnya lebih rapat. Cahaya mentari sukar menembus, air terus menetes membasahi kami. Tak ada yang tahu pula berapa dalamnya sungai dan dahsyatnya kondisi arus di bawah. Ketinting pun tertahan di dinding batu. Sungai berair dengan ajaibnya sudah lenyap ke bawah tebing. Hilang ditelan bumi begitu saja. Kami pun mulai menyalakan obor, senter nyaris tak banyak membantu karena cahayanya tak sanggup menggapai ujung goa. Lumayan, sudah ada tangga besi walau sederhana dan tak cukup kokoh sepertinya. Bau menyengat dari kotoran kelelawar menyesakkan napas. Makhluk nokturnal bersayap ini memang di luar agenda, saya tak tahu sehingga tak siap membawa masker.

Bekas perayaan Paskah di Gereja Fritu

Lumpur menggenang di lantai goa, tebalnya bisa sekilan tangan orang dewasa. Entah lumpur yang berasal dari tanah bebatuan atau jangan-jangan tumpukan kotoran dari ribuan kelelawar yang menggantung di atas. Beberapa kali kaki saya terperosok ke lubang-lubang batugamping, nyeri sekali rasanya. Kami pun meneruskan eksplorasi goa. Boki Moruru memang cantik. Tak hanya stalaktit dan stalagmit klasik layaknya pilar-pilar raksasa, bentukan-bentukannya pun sungguh unik. Saya mengabadikan satu buah stalagmit yang bentuknya persis seperti kepala orang. “Batu Sembahyang”, demikian julukan orang-orang Sagea. Sayang, kami tak bisa menemukan bentukan-Kondisi jalanan utama cocok untuk offroaderbentukan lain. Dan, kami pun memang sudah tak sanggup lagi menembus lebih ke dalam, ke tempat batu-batu kristal putih. Peralatan kami jauh dari memadai untuk itu. Selain kondisi medan, kami juga harus memperhitungkan kehadiran banyak kalajengking dan laba-laba di sekitar dinding dan celah nan lembab. Tambah lagi, sederetan cerita makhluk-makhluk gaib penunggu goa mau tidak mau menjadi referensi saya. Sedikit banyak, hal-hal mistis seperti itu tetap mempengaruhi psikologis penduduk setempat.

 

 

 

Sungai Jiguna yang elok berair deras

Hutan perawan masih terhampar luas di sini. Pepohonan setinggi gedung kantor berlantai 10 masih banyak terdapat. Saking tinggi dan rapatnya, siang hari pun tetap serasa teduh. Saya memang sengaja meluangkan waktu menembus daratan Halmahera. Duapuluh lima kilometer jauhnya dari bibir pantai, posisi saya berdiri nyaris berada di tengah-tengah pulau. Di kejauhan tampak kota Maba dan Tanjung Buli di

Pengolahan manisan daging pala Halmahera Timur. Jangan tanya berapa jaraknya karena dibutuhkan satu hari penuh menjangkaunya dengan jalan kaki cepat. Banyak tahun berlalu, jalan kabupaten pun putus tergerus air. Bahkan sepeda motor pun tak berani lewat. Gemuruh air sungai kembali samar memanggil dari kejauhan. Lebih eksotis dari Sungai Sagea, sungai Jiguna ini memiliki arus yang lebih deras dan rombongan bebatuan sebesar kerbau. Konon, di saat hujan turun di hulu, muka sungai akan naik setinggi 4 meter dan menjadi mustahil disebrangi.

Sarang semut, saat berada di Papua saya penasaran sekali dengan nama benda ini. Kebetulan Riko, membawa pulang beberapa yang masih asli. Aah, baru saya tahu. Sarang semut itu bukan benar-benar berasal dari semut. Aslinya adalah sebuah tanaman. Myrmecodia pendans, adalah tumbuhan epifit menempel di inang lainnya. Berbentuk seperti umbi, dan kebetulan memiliki lorong-lorong di dalam sehingga menjadi favorit didiami koloni semut. Umbi inilah yang dipotong, dikeringkan dan digiling halus untuk dikonsumsi. Khasiatnya sudah cukup terkenal secara empiris. Saya sendiri pernah merasakan air rebusannya, hambar, sepat. Riuh-rendah para penduduk terdengar dari belakang rumah di desa Sepo. Tak hanya sarang semut, buah pala pun menjadi komoditi menarik di sini. Mengupas daging pala untuk dijadikan manisan, saya ikut mencicipi daging mentahnya. Kecut, pahit dan pedas tumplek blek jadi satu. Dagingnya dikonsumsi, bijinya ditanam, namun kulitnya berhamburan dibuang, mubazir. Teringat selai pala nan lezat yang berasal dari olahan rebusan kulit pala sewaktu berkunjung di Bandaneira, saya berjanji akan mencarikan resep pembuatannya.

Soft Coral melambai-lambai di sisi Pulau Tete

Goa, hutan dan sungai Halmahera sudah saya rengkuh. Saatnya melaut. Tak ada yang banyak tahu sebelumnya jika Teluk Weda, pesisir Sagea hingga Sepo memiliki bawah laut yang luas. Bahkan spot penyelamandi Teluk Weda diiklankan dengan tagline : “There are no other divers 300 Km around”. Hanya kita, tak ada yang lain. Tak bersertifikat menyelam, saya lebih memilih lari ke desa Sepo karena mudah dijangkau. Tak ada yang tahu jika Pulau Tete di seberang desa kecil ini memiliki hamparan terumbu yang indah. Kecuali para nelayan tentunya, dan merekalah informan saya. Menjelajahi lokasi snorkling yang masih perawan, siapa yang tak mau?

Kembali sebuah ketinting kecil bermesin Honda berkarat menemani saya. Kali ini, cukup tiga orang saja penumpangnya. Medan laut jauh berbeda dengan air sungai. Cadik di kiri dan kanan cukup menenangkan hati, cukup tangguh kiranya menerjang ombak kecil. Dua puluh menit, kami berhasil mendekati sisi barat pulau. Dan, “Waaauw…!!”,  seketika saya membelalak. Pekatnya laut sedalam lebih dari gedung lantai 20 mendadak berubah mendangkal. Di depan ketinting terhampar ribuan soft coral warna-warni yang diselingi hard coral merah berbentuk bulat. Ikan-ikan biru kecil tampak berlarian di sela-selanya. Bintang laut pun berhamburan dimana-mana. Satu yang pasti, saya tidak menemukan satu pun Kakatua Merah Halmaherakoral yang mati, rusak ataupun sekedar patah. Benar-benar perawan! Hebat sekali masyarakat di sini dalam mempertahankan potensi lautnya. Saya banding-bandingkan, bahkan lokasi snorkling terbaik di Pulau Seribu pun kalah jauh. Pesisir Gili Trawangan dan Amed pun rasa-rasanya lewat. Mungkin yang bisa menandingi keelokan dan keperawanannya hanya Pink Beach di Komodo. Satu-satunya kelemahan lokasi ini, karena dangkal, menikmatinya hanya bisa dari atas perahu. Jika nekad turun berenang, waktu terbaiknya adalah saat air laut telah melewati puncak pasang. Laut telah tenang dan kedalaman airnya cukup ideal.

Waktu kami datang memang tidak tepat. Air laut mulai pasang naik sehingga ombaknya mengganas. Terlebih kami sudah berada di selatan pulau yang Bintang laut di sela-sela coralberhadapan langsung dengan Laut Seram. Tanpa ampun, ketinting kami terancam terbalik. Lokasi snorkling kedua di pesisir selatan Pulau Tete, yang katanya lebih bagus dari yang pertama, tak bisa kami dekati. Dimulai dari Teluk Weda, terus ke timur hingga Pulau Pasi di dekat Sagea, Pulau Tete di Sepo hingga pulau-pulau kecil lainnya di sekitar Waleh memang penuh dengan hamparan koral. Tak cukup puas rasanya menjelajahi secuil keindahan bumi Fagogoru ini. Next visit, saya akan bawa snorkel set lengkap!

 

 

DETAIL Halmahera Tengah

Rute :

Menuju desa Sagea dapat ditempuh dengan mengambil penerbangan dari Jakarta ke Ternate, direct atau transit di Makassar dan atau Manado (1,7 juta one way). Dari Ternate, perjalanan dilanjutkan dengan menyebrang setengah jam ke Sofifi (speedboat, 30 ribu perorang). Kota Weda ditempuh selama dua jam perjalanan darat menggunakan Kijang atau Panther sebagai kendaraan umum (300 ribu). Desa Sagea dapat ditempuh dengan kendaraan sewa atau ojek (mulai dari 200 ribu, nego) dalam waktu dua jam perjalanan. Desa Sepo lebih ke timur lagi sejauh satu jam perjalanan. Boki Moruru terletak dua jam dengan ketinting (sewa 500 ribu pp, kapasitas 6 orang). Pulau Pasi, Pulau Tete hingga Waleh dapat dijangkau dengan ketinting satu hingga dua jam perjalanan laut (harga nego).

Penginapan :

Penginapan yang layak hanya ada di kota Weda, seperti Hotel Tiara Halmahera (Jalan Kompleks Perumahan) dan beberapa penginapan tipe melati di sekitar pelabuhan. Jika ingin serius berwisata diving, dapat mencoba Weda Resort (wedaresort.com).

Di Sagea, terlebih Sepo dan sekitarnya tidak ada penginapan. Namun, para penduduk dan kepala desa pasti bersedia menampung para tamu dengan imbalan sekedarnya.

Tempat Makan :

Tidak ada tempat makan khusus di daaerah ini selain warung-warung biasa. Namun tentu saja, kita dapat memesan kelapa muda dan sajian ikan bakar yang lezat dari penduduk sekitar. Jika beruntung, kita bisa mendapatkan kepiting kenari atau kepiting rawa berukuran besar.

Tempat Belanja :

Tidak ada toko cendera mata khusus, namun jika mau, kita dapat membawa oleh-oleh masakan kepiting. Ternate adalah kota yang paling tepat untuk berburu oleh-oleh mulai dari roti kering, batu permata giok Bacan hingga perhiasan besi putih dari Tobelo.

Aktivitas :

Susur gua Boki Moruru adalah aktivitas recommended. Snorkeling dan jungle trekking adalah bonus tambahan yang tak kalah asyiknya. Jika bersertifikat diving, Teluk Weda dalah tempat yang sempurna. Tempat ini sejatinya benar-benar cocok bagi yang ingin menyendiri dan lepas dari hiruk-pikuk kota.

 

Portofolio, Semeru

Posted in Portophotolio, Travel Photos with tags , , , on July 14, 2014 by heruhendarto


Semeru (7) OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERASemeru (4)


OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA