Menyambangi Nirwana Bawah Laut, “The Diver’s Heaven”

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , , , on January 1, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Juni 2015)

 

“Brak…braak…braaak..!!!,” suara hantaman ombak mengangkat haluan speedboat menciutkan nyali. Mesin tunggal 60 PK meraung tak kalah kerasnya. Lifevest memang melekat di badan, namun mata saya masih melirik pada sebuah jerigen plastik kosong di depan kaki. Untuk survive di laut, mengapung adalah kemampuan mutlak ketimbang keahlian berenang.

 

 

Sepuluh menit berlalu, speedboat sudah mendekati bayang sebuah pulau kecil di depan. Ombak terpecah pulau, angin timur tak berdaya lagi. Hati kami pun tenang. Dengan raungan mesin yang lebih kalem,  kami pun meluncur cepat di atas permukaan air laut yang sangat-sangat tenang.  Serasa melayang di atas danau, nyaris tak berguncang sedikit pun. Setengah jam kemudian, boat dari bahan fiber ini pun menikung tajam, perlahan memasuki area jetty yang dipenuhi dengan rumah-rumah kayu di sekitarnya. Air saat itu sedang surut, saya terpaksa memanjat jembatan naik ke atas. Gemeretak kayu pun mengiringi langkah kaki. “Welcome to Derawan”, bisik saya dalam hati.

 

Gerbang keindahan bawah laut

Pagi itu langit tergantung kelabu, bukan mood yang pas tentunya. Setelah me-recharge badan dengan sepiring nasi kuning hangat plus lauk nan menggoda, saya melangkahkan kaki melintasi kampung. Katanya, di pulau Derawan ini ditinggali berbagai suku bangsa. Sebut saja Bajo, Buton, Bugis, Jawa, dan bahkan konon penduduk dari kepulauan Filipina pun banyak yang datang dan menetap. Perbedaaan itu samar saja kelihatannya karena kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Indonesia dan rumah yang berjejer di kampung berarsitektur serupa. Pasir putih membelah rumah-rumah panggung dari kayu. Sebagian wisatawan memilih berkeliling di atas sadel sepeda.

Gradasi warna biru muda, biru tosca hingga biru tua membayang di sisi pantai. Mendung yang menggila tak menyurutkan pesona terumbu yang membayang di bawah air. Beberapa pengunjung sudah ada yang menjeburkan diri duluan, sementara yang lainnya bersiap-siap. Saya pun tak mau kalah. Hangatnya air laut membuat saya betah, apalagi di bawah saya bertaburan karang yang meliuk-liuk. Ikan beraneka macam dengan gemulai mengitari terumbu hidup. Sebagian bahkan tak peduli dengan kehadiran saya, terus mendekat dan merapat. Lokasi snorkeling di Derawan ini adalah lokasi terdekat yang saya tahu, hanya sekitar 3 menit berenang santai dari pantai. Bahkan, kita bisa memilih untuk terjun langsung melalui jembatan kayu yang sudah tersedia di kiri-kanan. Sisi luar lokasi snorkeling dibatasi dengan pelampung. Lewat dari itu, dasar laut biru kehitaman menunjam langsung ke bawah. Saya bergidik melihat laut tak berdasar terhampar di ujung kaki.

 

Penangkaran tukik dan pari manta

Derawan hanya sekedar pemanasan. Indah memang, namun tentu tak menyurutkan langkah untuk terus mengeksplorasi pulau lainnya. Tak pelak lagi, saya kembali terjebak di dalam speedboat yang bergoyang kuat. Kali ini langit cerah membiru, secerah hati saya tentu. Sepanjang perjalanan, gradasi laut warna biru, hijau dan kombinasinya terus-menerus menemani. Laut mendangkal, terumbu kembali berhamparan di bawah. Saya mendarat di pasir putih Sangalaki.

Walau memiliki keindahan dasar laut yang tak kalah mempesona, pulau kecil yang berjarak dua jam perjalanan dari Derawan ini lebih terkenal dengan habitat penyu hijau yang langka. Di sini, tersedia cottage bagi wisatawan yang ingin menginap. Berkeliling pulau dan menunggu mentari tenggelam memang menarik, namun tentu saja atraksi utama adalah melihat penyu bertelur. Jika beruntung, kita bisa menyaksikan makhluk langka itu kawin. Omong-omong, seumur-umur saya pernah berkesempatan melihat ritual perkawinan sepasang penyu di alam saat berada di Raja Ampat. Mereka berpelukan bergulingan di air, cukup lama seolah-olah sedang menuntaskan serangkaian untaian tarian laut. Selanjutnya, setelah bertelur di tempat rahasia, tukik pun menetas. Ratusan anak penyu yang dilindungi ini pun dapat kita saksikan bergerak secara alamiah menuju laut, dan tentu saja jadi obyek belajar yang menarik. Bosan dengan keindahan pulaunya, kita dapat memilih untuk terjun menyelam. Tersedia selusin lokasi penyelaman tersohor dan jika beruntung kita bisa menyaksikan ikan pari manta, salah satu hewan yang menjadi kekhasan bawah laut Sangalaki.

 

Ubur-ubur tak bersengat

Tak lengkap rasanya bila tak merasakan atraksi menarik di kepulauan Derawan : berenang bersama ubur-ubur! Jangan khawatir, ubur-ubur di pulau Kakaban ini telah berevolusi sehingga tidak beracun. Informasi menarik ini jelas membuat kami jadi tak sabaran tentunya, apalagi Kakaban berada hanya di sebelah Sangalaki. Begitu cepat speedboat tiba di jetty, secepat kami yang bergegas menaiki dan berjalan langsung menuju jantung danau air payau Kakaban. “Stop Mas!”, fin-nya ditinggal di sini saja. Kesian nanti ubur-uburnya mati terhantam, demikian pinta sang penjaga pulau. Memang, untuk menjaga kelestarian populasi ubur-ubur ini, para pengunjung dilarang berenang dengan fin. Bahkan, kita tidak diperbolehkan melompat tiba-tiba ke tengah danau, apalagi mengangkat ubur-ubur dari atas air. Hantaman keras dan dehidrasi air pastinya akan membuat makhluk ringkih itu mati. Peduli dengan kelestarian makhluk langka ini, saya pun sangat berhati-hati di dalam air. Selain menghindari gerakan tiba-tiba, saya pun tidak menyentuh langsung. Berenang sembari serasa terlempar ke alam mimpi. Sensasi di danau berair hijau, dikelilingi ribuan ubur-ubur melayang pelan memang unik. Benar kata orang, saya serasa berenang di lautan cendol!

Jantung surga bawah laut

Terletak paling jauh, Pulau Maratua adalah pulau yang paling menarik. Berjarak tiga jam perjalanan speedboat dari Derawan, Paradise Island berbentuk U terbalik ini memiliki hampir sebagian besar pesona pulau-pulau lainnya. Titik penyelaman-nya luar biasa banyak, 21 tempat! Pari Manta-nya Sangalaki pun ada di sini.  Bahkan, jalur pantai Maratua adalah lokasi bertelur penyu hijau yang paling besar di nusantara. Ingin merasakan sensasi kehidupan pedesaan pinggir laut, saya memilih tinggal di homestay Desa Payung-Payung. Pengunjung sudah tampak lengang, tak seperti Derawan yang hiruk-pikuk. Biarlah, bagi saya, makin sepi makin eksotis.

Minim sarana transportasi, kami menuju sisi timur dengan menyewa sepeda motor. Mesin 4 tak meraung-raung menahan bobot total 160 kg. Jalanan pun bervariasi, bukan aspal mulus tentu. Dari lintasan pasir hingga jalan berbatu kapur pun kami libas. Tiga puluh lima menit, waktu yang terasa lama walau sekedar menahan sakit di pantat, terbanting oleh kerasnya shockbreaker motor yang sudah mati. Parkir di bawah pohon kelapa, kami menuju lokasi snorkeling di pinggir pantai. Sepi pengunjung, kami serasa memiliki pantai pribadi. Betapa tidak, jalur pantai sepanjang 1 km membentang, dan hanya ada kami di situ. Air jernih dan koral membayang. Air laut sedang hangat-hangatnya. Sinar mentari kekuningan di ufuk barat membayang. Puas berenang di tengah, saya merapat ke sebuah cottage.

Walau berdasar pasir, bawah laut cottage ini sangat menarik. Tak berkoral, tak berwarna, dan cenderung keruh. Tetapi, entah mengapa, ikan di sini luar-biasa banyaknya. Bukan saja ikan mungil nan imut yang suka menyelinap di koral, ikan-ikan besar yang pantasnya terhidang di atas piring pun ribuan jumlahnya. Beberapa yang saya familiar seperti jackfish atau ikan bubara, dan ikan tongkol berseliweran kesana kemari. Dengan berbekal sobekan roti, puluhan ikan mengitari tangan saya. Tiga puluh detik, seluruh remah roti pun habis dilahap. Pengen rasanya saya tangkap satu atau dua, sepertinya cocok sekali untuk lauk makan malam nanti. Sayang tangan saya tak segesit gerakan ikan-ikan di laut.

 

Ratusan ekor penyu hijau

Kembali ke desa Payung-Payung saat langit sepenuhnya gelap. Malamnya angin menggila, dermaga tempat speedboat kami merapat pun bergoyang-goyang dihantam ombak. Kami pun memilih beristirahat di homestay, mengisi semua batere hape dan kamera. Maklum, listrik hanya menyala di malam hari. Lewat sedikit dari pukul sepuluh malam, saya sudah terlelap.

Subuh hari, mendung menggantung. Saya yang sudah mengambil kamera dan tripod kecewa, batal lah acara hunting sunrise pagi itu. Satu-satunya yang membuat saya senang, pakaian basah di jemuran samping kering semuanya. Apalagi kalau bukan berkat angin kencang malamnya. Duduk di tepi jetty kayu, mata saya tertumbuk pada ratusan titik hitam membulat di bawah air. Sinar matahari belum mampu menembus awan kelabu, saya meneruskan duduk menikmati semilir angin pagi. Tiba-tiba, saya tersadar jika titik-titik hitam itu bukanlah batu. Walau lambat dan tertutup oleh riak air, ‘batu’ itu bergerak perlahan. Saya pun terkaget-kaget, itu adalah kawanan ratusan penyu hijau!

Memang saya pernah diberi tahu jika di subuh hari, biasanya ratusan penyu hijau akan datang merapat ke pantai. Tapi saya tak pernah menyangka jika kejadian itu terjadi tepat di jetty depan homestay kami. Sulit dipercaya rasanya melihat kawanan penyu dalam jumlah banyak, tersebar di kanan-kiri kami. Saya pun berlari kembali ke dalam kamar, mengambil masker dan underwater housing kamera. Dua penyu paling pinggir saya incar dan saya ikuti. Begitu tinggal berjarak 6 meter, saya pun terjun ke air. Saya berenang mendekat,  menghampiri hati-hati. Tinggal sedikit lagi sejangkauan tangan, senter saya hidupkan, sekonyong-konyong mereka berhamburan kabur. Sekali kibas melesat 3 meter, tak mampu saya kejar. Dan terjun kali pertama itu lah saya berada pada posisi terdekat. Pada puluhan kesempatan lain, jangankan mendekat atau menghidupkan senter, baru terjun ke air pun mereka sudah parno. Mungkin karena sinar mentari sudah membias ke dalam air sehingga kehadiran saya begitu jelas tampak. Mungkin pula mereka pernah mempunyai pengalaman buruk dengan manusia, ah entahlah. Yang jelas, menyaksikan konvoi ratusan penyu di dasar air dangkal adalah pengalaman mengunjungi kepulauan Derawan yang paling berkesan bagi saya.

 

Boks–

Tips

  • Kepulauan Derawan dapat ditempuh dengan mengambil perjalanan udara ke kota Tanjung Redeb atau kota Tarakan. Jika melewati Tanjung Redeb, perjalanan dilanjutkan dengan berkendara mobil selama dua jam menuju Tanjung Batu. Pulau Derawan hanya seperempat jam perjalanan speedboat dari situ. Jika memilih jalur Tarakan, perjalanan langsung disambung dengan speedboat selama 4 – 5 jam.
  • Tidak memerlukan peralatan khusus untuk dibawa, snorkel set dapat disewa di tempat. Namun lokasi penyewaan yang ada hanya tersedia di Derawan, menjadikan pulau dengan fasilitas terlengkap ini adalah pulau wajib pertama yang harus dikunjungi sebelum melakukan island hopping.
  • Jangan lupa bawa makanan ringan kamera tidak banyak penjual makanan yang ada. Lotion sunblock wajib digunakan untuk menahan panasnya matahari Kalimantan. Tentu saja kamera underwater juga disarankan dibawa untuk mengabadikan keindahan bawah lautnya.

Menembus Batu Lubang Boki Moruru

Posted in Jalanjalan with tags , , , , on January 1, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Maret 2015)

Bumi Halmahera memang menawan. Lidah saya sudah menikmati lezatnya kepiting rawa berukuran jumbo, bermain-main dengan kakatua merah yang eksotis nan cerewet, hingga merasakan buah pala olahan lokal yang kecut, pahit dan pedas tumplek blek jadi satu. Mata saya dimanjakan oleh pemandangan alam nan asli dan masih perawan.

Tak banyak daerah saya jelajahi selama seminggu itu. Bukannya saya malas bepergian, namun infrastruktur di sana waktu itu belum baik. Selain ada jalanan beraspal, jalanan pasir dan tanah berbatu juga masih sering ditemui. Bahkan tak jarang jalanan itu sering putus di banyak tempat akibat luapan sungai berlumpur. Amat mustahil bisa ditembus walau dengan sepeda motor sekalipun.

 

 

Di tengah kondisi mati gaya, tiba-tiba seseorang memecah keheningan.“Pak, kitorang main Batu Lubang saja ka? Bagus dia punya ee…, ornamen itu!” Ajakan Taufik langsung mengiang di telinga dan membuat semangat saya bangkit lagi. “Apa pula kira-kira ini ya, Batu Lubang?”pikir saya. Saya pun sedikit frustasi mencari info tentang Batu Lubang itu lewat internet. sinyal GSM pun sangat terbatas. Tak banyak informasi yang saya dapatkan lewat smartphone saya yang minim signal. Jadi, sumber informasi yang terbaik  adalah secara verbal. Taufik pun memperlihatkan sebuah gambar kalenderyang sudah expired dua tahun lalu. “Ini Batu Lubang,” katanya. Melihat gambar ornamen Batu Lubang itu pun, saya putuskan untuk pergi ke sana.

Sewa ketinting

Matahari sudah mulai naik ketika kami mulai beranjak menuju Batu Lubang dari desa Sagea di Halmahera Timur. Saya duduk anteng di atas ketinting kayu Pak Musa, bermesin Robin 5 PK.  Suara mesin tua penuh karat itu cempreng. Bersama kami, turut ikut beberapa orang lain. Ada enam batang obor kami bawa sebagai sumber cahaya jika kelak dibutuhkan. Selama perjalanan, Berbagai cerita seram mengenai Batu Lubang pun berseliweran di kuping saya. Sebodo amat lah, kapan lagi saya bisa mengunjungi sebuah tempat wisata tak terkenal di hulu sebuah sungai deras di jantung Halmahera?

Sepuluh menit menuju hulu, arus sungai Sagea makin bergolak. Dasar sungai yang berbatu pun mulai tampak. Air sungainya jernih sehingga saya bisa melihat bebatuan yang ada di sekitar satu atau dua meter di bawah lunas ketinting. Beberapa batu seukuran permukaan meja tiba-tiba muncul di tengah sungai dan membuat arus berputar di sekelilingnya.

“Waduh, bahaya ini, bisa-bisa prahu kandas,” pikir saya. Kami berharap melewati sungai dengan tenang, bukannya mau semi arung jeram. Melawan arus yang semakin deras, mesin ketinting pun semakin meraung, dan tak kalah tangguh melawan tendangan arus dari depan. Tapi tiba-tiba, “Dhuaak!”. Ketinting kami kandas, mesin pun mati seketika. Lebih heboh lagi, perjuangan menghidupkan mesin tua itu lima kali lebih berat daripada melepaskan perahu dari jepitan batu besar di dasar sungai.

Dua kali tersangkut ke dasar sungai, sehingga kami pun harus berjalan kaki basah kuyup menembus arus sejauh 200 meter, ketinting pun akhirnya memasuki  aliran sungai di antara dua celah tebing menjulang. Suasananya mirip dengan Cukang Taneuh atau Green Canyon di kawasan Pangandaran. Namun suasana di sini membuat saya keder karena tebingnya lebih rapat dan gelap. Sungainya pun tampak sangat dalam dengan arus berputar di bawah.

Hilang ditelan bumi

Ketinting terus melaju hingga masuk ke celah tebing hingga masuk ke dalam sebuah batu berlubang. Air dari atas terus menetes membasahi kami. Sekonyong-konyong, sungai lebar berair dengan ajaibnya lenyap ke bawah tebing. Kami pun seakan hilang ditelan bumi. Lampu senter tak bisa menembus lorongnya yang teramat dalam. Obor pun kami hidupkan. Cahaya oranye tua pun menerangi dinding dan dasar gua. Bau minyak tanah menyeruak bercampur dengan bau kotoran kelelawar yang menyesakaan nafas. Kehadiran nokturnal bersayap ini memang  di luar dugaan. Kami tak siap dengan masker untuk sedikit menangkal bau kotoran kelelawar.

Mendarat di sisi lantai gua, kami berjalan perlahan. Sendal dan sepatu sudah kami lepas sedari tadi. Lumpur menggenang di lantai gua. Tebalnya bisa sejengkal tangan orang atau sekitar 20cm-an. Tak begitu jelas asal usul lumpur itu. Apakah dari tanah atau tumpukan kotoran dari ribuan kelelawar yang menggantung di atas. Beberapa kali kaki saya terperosok ke lubang-lubang batu kapur. Rasanya nyeri sekali. Dua orang berjalan di depan, membuka jalan dan mengecek posisi lubang yang terlihat mata. Semakin masuk ke dalam, dinding gua semakin membuat saya terkesima. Pendaran cahaya seakan menyiba relief-relief alami pada dinding gua.

 

Tak hanya sekadar kehadiran stalaktit dan stalagmit klasik layaknya pilar-pilar raksasa dalam sebuah gua, Batu Lubang terkenal pula akan beberapa stalagmit yang berbentuk unik. Saya pun jongkok dan mengamati sebuah batu yang membuat mulut berdecak kagum. Bentuknya persis seperti kepala orang yang akan melakukan ruku’. Batu itu dikenal sebagai Batu Sembahyang oleh warga Sagea.  Namun, bagi mereka bukan batu itu obyek utama di gua itu. Obyek paling menarik adalah batu-batu kristal putih yang berhamburan di dalam.

Biasanya kristal yang ada di dalam gua kapur adalah bentukan dari mineral-mineral kalsit atau dolomit. Walau bukan barang baru, tetapi pancaran mineral itu jika terkena cahaya sungguh menawan. Apalagi jika pendaran cahaya itu kita amati dalam lingkungan gua yang gelap. Namun sayang sekali, obyek utama di dalam gua itu tak sempat kami capai. Walaupun sebenarnya saya sungguh sangat penasaran dengan keberadaan batu-batu kristal itu, saya terpaksa menyurutkan langkah menjelajah gua lebih jauh lagi. Alam sadar kami mengatakan, tak mungkin menembus gua dengan peralatan yang tidak memadai. Nyawa bisa menjadi taruhannya. Kondisi gua sangat tidak layak dijelajahi dengan kondisi seadanya. Selain kesulitan penerangan, hawa amoniak semakin kuat dan membuat pusing. Asap obor pun terlihat berputar-putar di situ-situ saja pertanda sirkulasi udara yang amat buruk. Belum lagi kehadiran kalajengking dan laba-laba beracun di celah-celah dinding, dan kondisi psikologis penunjuk jalan yang mulai tampak ‘menyerah’. Cerita-cerita gaib tentang ‘sosok penunggu gua’ pun mau tak mau ikut terngiang di kepala. Saya pun mengambil keputusan dan membatalkan perjalanan menyusuri gua lebih jauh lagi.

Walau tak sempat menyusuri gua dan melihat langsung batu-batu kristal, perjalanan itu sangat terkenang. Setelah meninggalkan Halmahera dan kembali ke Ternate, saya browsing di internet untuk mencari tahu tentang gua itu. Saya pun baru tahu, ternyata nama asli Gua Batu Lubang adalah Boki Moruru. Memiliki arti‘putri yang menghanyutkan diri. Konon nama gua ini diambil dari leganda sang putri.

 

Boks–

Tips

  • Desa Sagea dapat ditempuh dengan mengambil penerbangan ke Ternate terlebih dahulu. Dari Ternate, perjalanan dilanjutkan dengan menyebrang setengah jam ke Sofifi, terus ke Weda yang ditempuh selama dua-tiga jam perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat. Desa Sagea dapat ditempuh dengan kendaraan sewa atau ojek dalam waktu dua jam perjalanan dari Weda. Boki Moruru dapat ditempuh selama dua jam perjalanan ketinting ke hulu sungai Sagea.
  • Demi perjalanan yang lebih aman dan nyaman, bawalah peralatan khusus untuk menjelajah gua. Paling tidak siapkan senter, masker, topi, pakaian ganti, dan peralatan panjat tebing jika punya. Bawalah juga obat-obatan P3K.
  • Jangan lupa bawa makanan ringan dan kamera untuk mengabadikan suasana.

Selimbau, Menyambangi Sisa-Sisa Kerajaan Melayu di Hulu Sungai Kapuas

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , on January 1, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag April 2015)

Derik suara kayu terinjak beradu dengan paku berkarat mengiringi langkah kemana pun kami beranjak. Setiap waktu kami pun harus terbiasa berjalan dengan mengangkat kaki lebih tinggi dari biasanya. Cuatan beda tinggi dari papan yang terpaku bisa membuat kami tersungkur jika tidak awas. Ya, kami sedang berada di atas jalan kayu yang panjang menghampar. Tiang-tiang tinggi menjulang menahan landasan yang kami injak. Jika musim hujan tiba, air menutupi tiang tersebut dan praktis kami seperti berjalan ‘di atas sungai’. Di sini, di Selimbau, segala macam hiruk-pikuk aktivitas masyarakat Melayu-nya memang notabene berada di atas air dari tubuh Sungai Terus yang merupakan anak sungai terpanjang di nusantara, Kapuas.

Perjalanan jauh ke pemukiman Melayu

Bukan lah suatu tempat yang gampang dijangkau, saya menghabiskan waktu semalaman berkendara dari kota Pontianak untuk menjangkau Sintang. Terus ke timur, kota Kecamatan Selimbau pun kami masuki saat matahari sudah sepenggalah. Bukan lah kota yang umum terlihat tentunya, karena hampir seluruh bangunan yang ada berbahankan kayu dengan pondasi julangan tiang-tiang sebesar paha dewasa yang tertancap di atas lumpur sungai. Saya pun menyeberangi ‘kampung atas air’, berjalan menyusuri jembatan kayu menuju pinggiran sungai yang sangat lebar. Di sana, di atas air Kapuas telah tersedia penginapan kami, sebuah ‘kapal bandung’. Kapal kayu pengangkut barang yang berkapasitas 5 ton ini memiliki kabin tengah yang cukup luas, leluasa untuk dijadikan tempat tidur. Lelahnya perjalanan jauh dari Jakarta memaksa saya harus merebahkan diri walau matahari sedang terang-terangnya bersinar. Biarlah, eksplorasi Selimbau dapat menunggu sejenak. Jika dipaksakan, saya hanya menumpang tempat untuk sakit saja nanti. Sore hari, dengan sisa tenaga yang mulai pulih, saya menikmati sunset merona di atas air Kapuas. Sungguh terasa tenang dan damai rasanya menyaksikan mentari tenggelam, seiring dengan alunan lembut gemericik arus sungai.

“Nak kemenaa Baang..?”, sapaan ramah penduduk setempat malah membuat saya canggung. Bukan apa-apa, saya yang fasih berbahasa Melayu Pontianak tak berdaya meladeni pembukaan pembicaraan itu. Sebagai sesama bahasa Melayu, memang ada kemiripan pengucapan dan arti. Namun justru kemiripan itu yang membuat saya kesulitan. Sedikitnya persamaan atau kemiripan bahasa yang ada tidak bisa saya polakan dengan baik sehingga saya tak berani menjawab sapaan dalam bahasa Melayu juga. Mungkin malah lebih gampang bagi saya jika bahasa yang digunakan di sini sama sekali berbeda dengan Pontianak. Akhirnya, Bahasa Indonesia adalah pilihan paling tepat saat itu untuk berkomunikasi.

Musim Kering

Berada di anak sungai Kapuas yang berada dalam pengaruh pasang-surut Danau Sentarum, Selimbau mengalami pasang-surut air yang cukup unik. Jika musim hujan tiba, maka air Kapuas akan menggenangi Danau Sentarum dan sekitarnya sehingga Selimbau terendam air setinggi belasan meter. Di saat musim kering, danau akan memasok air ke Kapuas walau tetap saja tak mencukupi sehingga meninggalkan julangan tiang-tiang kayu pondasi rumah dan bantaran sungai yang kering kerontang. Aktivitas penduduk pun berubah drastis. Lebar sungai tinggal beberapa meter saja, muka air pun mendangkal. Jika saat air melimpah anak-anak dengan leluasa bisa mandi menjeburkan diri, di musim kering perahu pun susah-payah untuk lewat. Semua bangunan pinggir air seperti kamar mandi, WC dan keramba ikan tertarik ke tengah. Banyak pula yang kandas dan rusak tak bisa digunakan. Air pun harus diirit sehemat mungkin. Masa-masa paceklik selama tiga bulan harus dilalui masyarakat setiap tahunnya. Musim kering walau cukup mengganggu, di lain sisi memberi berkah yanng luar biasa. Ikan-ikan yang berlimpah di wilayah Kapuas dan Sentarum terjebak di cekungan-cekungan air. Sangat memudahkan untuk diambil tentu saja. Seiring dengan hukum alam, populasi ikan yang menurun dikarenakan eksploitasi, akan kembali normal di saat musim hujan. Benih-benih ikan akan tersemai dan tumbuh menjadi besar dan menyebar ke seluruh penjuru tubuh air.

 

Sisa kerajaan besar

Sebuah mesjid besar berdiri di tengah kampung, di pinggir sungai. Bangunan tua peninggalan kerajaan Selimbau berwarna kuning terang tampak mencolok mata. Khayalan saya pun melambung ke ratusan tahun silam, di saat wilayah ini menjadi kerajaan yang cukup disegani. Memang tidak semegah kerajaan Pontianak yang berada ratusan kilometer di hilir, atau sebesar kerajaan Sintang di baratnya. Namun kerajaan Selimbau di puncak kejayaannya pernah menaungi seperlima dari wilayah Kalimantan Barat saat ini. Berperang dan bertahan dari gempuran kerajaan lain di sekitarnya, dan bahkan bertahan dari serbuan suku pengayau pemburu kepala dari Serawak, Selimbau tetap berdiri. Berawal dari kerajaan Hindu, Selimbau berubah menjadi kerajaan Islam dan memasuki masa kejayaan di akhir abad ke-19. Hubungan baik  terus terjaga dengan Kesultanan Pontianak hingga dan porak-poranda oleh kehadiran Jepang di nusantara.

 

Selain Mesjid Jami Selimbau, masih ada sebuah tiang bendera yang tegak berdiri. Tiang tua yang berada di utara mesjid ini lah adalah tempat bangunan kerajaan Selimbau berdiri, dengan nama Istana Noor Mahkota. Di sekelilingnya, masih terdapat beberapa rumah kediaman para keturunan raja, lengkap dengan ornamen-ornamen peninggalan kerajaan di dalamnya. Sebuah foto yang sudah tua hitam-putih dengan jelas menunjukkan kehadiran perahu kesultanan Pontianak yang mengunjungi Selimbau di awal abad 20. Pernak-pernik keemasan ornamen kerajaan pun masih banyak menempel di dinding. Tak lepas pula, masih ada sekitar 20 orang penduduk yang bergelar Raden, menandakan bahwa gelar yang diperuntukkan untuk menteri kerajaan tersebut masih digunakan. Walau garis keturunan raja terakhir masih ada, gelar raja tak pernah sampai ditasbihkan. Konon, keturunan terakhir tidak bersedia dilantik menjadi raja karena kekhawatiran diburu oleh tentara Jepang. Peristiwa eksekusi massal pemancungan kepala ribuan tokoh masyakarat di Kalimantan Barat di daerah Mandor, masih menyisakan bekas kepedihan hingga era kemerdekaan ini. Memang benar, luka di hati lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik di badan.

Beta, Ale, Dorang, Kitorang Samua Cinta Ambon

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , , , , on January 1, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Agustus 2014)

Peluit kapal berbunyi dengan nyaringnya sebanyak tiga kali dan KM Nggapulu yang saya tumpangi sedari Baubau pun merapat di pelabuhan Yos Sudarso. Mentari masih malu-malu sembunyi di ufuk timur, ketika saya sudah melangkahkan kaki menembus perkotaan Ambon yang mulai menggeliat, melewati Mesjid al Fatah yang berbentuk unik itu. Lima belas menit saya berjalan, dan hanya berpapasan dengan tiga buah angkot, lengkap dengan dentuman house music yang menggelegar tentunya.

 

“Museum Siwalima, berapakah?”, tanya saya pada seorang tukang ojek sambil meletakkan mangkuk kosong bekas mi rebus sarapan saya pagi itu. Dua menit kemudian, saya sudah meluncur melewati hiruk-pikuk macetnya kota Ambon di pagi hari. Angkot, becak, sepeda motor, dan anak sekolahan bercampur-baur menjadikan suatu nuansa baru yang berbeda. Saya pun menyusuri sisi selatan Teluk Ambon di atas sepeda motor, dibuai oleh hembusan angin pagi beraroma garam dari laut yang menyegarkan di wajah. Semua karyawan museum masih apel pagi sehingga saya memutuskan untuk beristirahat, duduk dan menyandarkan backpack saya ke kursi taman. Museum ini sungguh apik, terbagi dalam dua bangunan utama, di antara keduanya adalah jalanan menanjak yang dikelilingi taman yang apik. Saking betahnya menunggu, tercampur penat di badan setelah dua hari melakukan perjalanan laut, saya pun terlamun hingga tersadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WITA.

Dengan interior yang cukup gelap, museum Siwalima ini sekilas cukup menyeramkan. Tampak sekali bangunannya sudah berumur, demikian pula deretan display yang digunakan di dalam. Namun namanya museum, bukankah semakin tua malahan semakin menarik? Siwalima sendiri jika diartikan secara harfiah berarti ‘sembilan lima’. Pasca konflik di Ambon, semangat kebersamaan dibangun sehingga penulisan Siwalima digabung sehingga memiliki arti konotasi baru yaitu ‘semua punya’. Jargon ini lah yang selalu didengungkan, merekat kembali semangat kebersamaan dan kerukunan warga kota Ambon.

Peta Maluku lengkap terpampang di muka, jelas sekali bahwa museum ini jauh dibangun sebelum masa provinsi Maluku Utara memisahkan diri. Baru di sinilah saya bisa menyaksikan sajian sejarah dan adat-istiadat Maluku secara lengkap. Dimulai dari pulau Tual, Ambon, Saparua, Buru, Obi bahkan hingga merambah ke Maluku Utara seperti Ternate-Tidore, Halmahera, Morotai dan Jailolo. Legenda mengenai orang pedalaman hutan suku Togutil di Halmahera direkam dengan baik, bahkan sebuah foto lelaki Togutil dipajang di sana. Hingga sekarang, suku yang mengasingkan diri ini hanya dapat ditemui oleh para pekerja dalam hutan seperti surveyor, geologist ataupun forester.   Beruntung sekali saya bisa menyaksikannya di antara puluhan foto suku terasing lainnya. Setelah menjelajah paparan kehidupan tradisional masyarakat, di bangunan bawah saya disuguhi kebudayaan maritim Maluku. Beberapa rangka ikan paus bergigi mengisi tengah ruang, saking besarnya saya pun dapat berjalan-jalan di antaranya. Masih mengantuk dan menyisakan mabuk laut, saya pun segera menyudahi kunjungan dan mencari penginapan di daerah kota.

Matahari mendekati ufuk timur ketika saya meluncur ke utara kota Ambon. Soya Atas, dikenal sebagai kampung adat tertua di Ambon yang terletak di ketinggian, cocok sekali untuk melarikan diri dari panasnya hawa laut di kota. Jalanan yang mendaki membuat motor mengeden, dan sesekali mesti mengoper ke gigi terendah karena berpapasan dengan kendaraan dari atas. Sesampai di desa, saya kecele, tidak ada tempat wisata resmi di sini. Walaupun bertajuk desa wisata, Soya Atas tidak memiliki tempat khusus wisatawan. Sesuatu yang sebenarnya saya suka karena bisa membaur dengan masyarakat tanpa ada dikotomi turis dan penduduk lokal. Mencoba mencari tempat tinggi, saya pun bertanya ke seorang ibu lalu mendaki sebuah bukit kecil. Dari sini, saya dapat meyaksikan sebagian pemandangan kota Ambon. Jauh lebih cantik jika malam hari sepertinya, karena pasti kerlap-kerlip kota akan tampak menghiasi pinggiran teluk dengan indahnya. Jika fisik kuat, sebenarnya saya dapat mencoba naik lebih tinggi menuju puncak Sirimau (950 m dpl), gunung yang diabadikan namanya menjadi Kapal Pelni yang dahulu menjadi langganan saya. Konon, melalui 500 buah anak tangga, kita akan sampai di atas dan pemandangan Ambon akan lebih apik tersaji. Cukup puas menyaksikan kota dari Soya, saya pun turun ke bawah bersamaan dengan beberapa penduduk yang pulang dari ladang mereka.

Mentari sudah condong ke barat ketika saya menyusuri jalan menanjak kembali, menuju ‘Karpan’, alias kependekan dari Karang Panjang. Di sinilah, menurut saran pemuda Ambon, tempat paling cocok untuk menyaksikan indahnya Ambon di sore hari. Selain karena aksesnya gampang, tak ada tempat lain yang bisa menandingi indahnya panorama patung Marta Christina Tiahahu, pahlawan wanita kebanggaan Maluku, berdiri menghadap ke teluk Ambon seolah-olah siap siaga selalu untuk menjaga kota ini. Kerlip lampu kota dan hilir-mudik kapal laut membuat saya pun terpana, sehingga lupa waktu dan tersadar bahwa angkot sudah susah didapat. Akhirnya saya pun terpaksa berjalan kaki turun sejauh 2 km untuk mencapai pinggir kota dan melanjutkan perjalanan ke losmen dengan ojek.

Pagi hari, saya yang penasaran dengan kehidupan masyarakat pinggiran kota segera meluncur ke tempat yang susah bagi lidah saya untuk menyebutnya : Galalapoga. Di sinilah salah satu nadi transportasi masyarakat Ambon. Ratusan kolekole atau sampan kayu berukuran kecil, berseliweran menyeberangkan penduduk yang dari satu sisi utara teluk ke sisi lainnya. Seperti halnya di daerah timur lainnya, kolekole di Ambon dicat dengan warna-warni meriah, membuat mata menjadi segar. Kolekole memang menjadi alternatif penyeberangan dengan cepat dan murah, ketimbang harus menuju ke arah hulu teluk dan menunggu ferry yang berangkat setiap satu hingga dua jam sekali. Selain itu, jalan darat memutar sejauh dua jam sepertinya hanya dilakukan masyarakat yang membawa kendaraan bermotor. Beberapa kali ditawari untuk menyeberang, saya pun akhirnya memilih duduk di pojok gang sambil ngobrol bersama pemuda-pemuda Ambon yang tegap-tegap dan bercakap kocak. Dari mereka lah saya tahu bahwa ratusan kolekole ini di akhir minggu yang tentu saja sepi penumpang, akan berpindah ke Pantai Natsepa mencari rezeki dari para pengunjung membludak. Wah, saya pun terkejut mendengarnya. Bukan apa-apa, jarak Natsepa dari sini masih jauh sekali, apalagi ditempuh dengan cara mengayuh. Tentu para pengemudi kolekole ini tangguh-tangguh ya, sanggup merengkuh jarak sebegitu jauh hanya dengan sepasang lengan dan dayung.

Jernihnya pantai Liang merontokkan penat di pantat setelah duduk diam di jok belakang motor selama dua jam.  Air yang berwarna hijau turqoise terasa hangat di wajah. Taufik dan teman-temannya, tampak berlarian sana-sini sambil bermain air. Sekolah mereka pulang awal sepertinya, dan anak-anak asli Ambon ini pun menghabiskan waktu di Liang. pun Di depan Liang, terhampar pulau Seram yang eksotis. Beberapa kali kapal ferry melintas menuju pelabuhan Waipiri di Seram yang berjarak 40 km jauhnya. Kebetulan memang, pelabuhan ferry ini letaknya bersebelahan persis dengan pantai Liang. Tak mau kalah dengan angkot-angkot di kota, ferry ini pun mendendangkan lagu dangdut dengan kerasnya. Mentari mulai menaik, saya pun kepanasan. Berteduh di jejeran pepohonan yang memagari pantai, saya bercakap-cakap dengan Pak Yusuf. Beliau ini adalah penjaga pantai, sudah cukup uzur dengan wajah yang unik. Salutnya, salah satu putera beliau, putra Maluku, sedang kerja sambil kuliah mengambil doktor di Amerika. Saya, Pak Yusuf dan Taufik cs adalah pengunjung pantai Liang yang hanya ramai di waktu libur.

Masih bertemakan pantai, perjalanan pulang dari Liang saya menyempatkan singgah ke Natsepa. Tak lain tak bukan tentu saja sengaja untuk mencicipi rujak Natsepa yang terkenal itu. Panas matahari tak menggoda saya untuk turun ke laut, melainkan memesan juga sebutir besar kelapa muda. Satu piring rujak menghampiri saya, cukup mengundang liur. Tumpukan buah menggunung, disiram gula merah dan butiran kacang. Seiris mangga pun secepat kilat mampir ke mulut, membuat mata merem-melek saking enaknya. Sebenarnya, kunci lezatnya rujak Natsepa bukanlah di ramuan buahnya, melainkan taburan kacang tanahnya. Buahnya sama saja dengan rujak lain, namun perpaduan rasa antara segarnya buah-buahan, manis kental gula merah dan gurihnya kacang dan pedasnya sambal membuat rujak Natsepa bercita rasa khas.

Sore hari, saya sudah meluncur menyusuri teluk Ambon menuju desa Airlow. Pintu Kota, demikian namanya, adalah sebentuk bukit karang yang bolong di bagian tengahnya karena hantaman ombak. Lubang yang menganga itu seolah-olah menjadi pintu masuk yang menyambut pendatang saat mendekati perairan Ambon. Tidak begitu ramai di sini sepertinya, sehingga saya leluasa jalan berputar mendaki ke atas tebing Pintu Kota. Dari sini, saya bisa puas menyaksikan panorama laut Banda. Katanya sih, perairan sekitar Pintu Kota banyak yang memiliki spot snorkeling yang bagus. Karena mendung, saya tidak bisa melihat jauh, malahan bergidik karena ternyata di sekitar pantai tampak air lautnya berputar menandakan laut yang dangkal dan arus yang kuat. Matahari tertutup awan, dan saya pun tidak mungkin hunting sunset. Apa boleh buat, saya harus mencari sasaran menarik lain di malam harinya.

Pasar Batumerah Mardhika adalah sasaran terakhir saya, gara-gara terpancing oleh saran tukang ojek sih sebenarnya. Pasar yang katanya tak pernah tidur 24 jam, dan lengkap akan segala macam kebutuhan, termasuk kuliner tentunya. Memang betul, pasar ini masih penuh sesak walaupun jam sudah menunjuk pukul 8 malam. Saya pun tidak tertarik masuk ke dalam lorong, namun memilih untuk berjalan menyusuri pinggirannya. Itu pun, masih harus bersaing dengan ratusan sepeda motor yang lalu lalang memenuhi jalan. Kerlip lampu menarik mata saya, otomatis kaki pun berbelok. Pucuk dicinta ulam pun tiba, saya yang memang ingin menyantap sajian ikan malahan jadi bingung. Di sini, berbagai olahan ikan disajikan. Saya pun memilih yang paling enak, ikan fufu (bakar) Cakalang. Tentu saja, sekalian saya beli juga teman lauk berupa tiga buah suami. Jangan salah kira, suami ini adalah makanan olahan dari singkong yang diparut dan direbus. Sama saja dengan kasuami di Buton, namun di pedagang menolak istilah tersebut dan tetap kekeuh dengan nama suami. Malam sudah larut, dan saya harus beristirahat setelah tiga suami sukses masuk ke perut. Sayang, fufu cakalang itu terlalu besar sehingga hanya bisa saya habiskan sisi sebelahnya saja. Malam terakhir di Ambon kiranya, masih banyak yang belum terjelajahi. Saya pun menikmati heningnya kota di bundaran Gong Perdamaian melewatkan malam. Masih terngiang-ngiang kata Donny, tukang ojek saya, “Amatoo Bang”, selamat tinggal.

The Spicy Banda

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , , , , , , , , on June 30, 2015 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Juli 2014)

Merapat di pelabuhan NeiraBanda, dahulu terkenal dengan sebutan Pulau Rempah. Gaungnya pun mampu menggoyahkan bangsa Eropa hingga rela berlayar beribu-ribu mil mengarungi samudera luas. Semuanya itu hanya untuk sekedar mendapatkan ‘bumbu penyedap rasa’ terhidang di meja makan. Konon, karena rempah Banda ini lah Columbus tersasar dan menemukan Benua Amerika. Kepulauan Banda dari jendela pesawatBanda semasa 700 tahun lalu masih menganut animisme dan dinamisme sebelum Islam datang. Jalur perdagangan saat itu sudah berjalan baik dengan suku Jawa, Bugis, Cina dan Melayu. Portugis pun datang memberi ‘nuansa baru’ dalam berdagang. Terlebih lagi, Belanda dan Inggris pun ikut berebutan menuntut hak monopoli dagang. Penjual makanan khas Banda di pelabuhan PELNIPara Orang Kaya (pemuka) Banda menganggap angin lalu tawaran itu. Kemudian, kedatangan Belanda beberapa tahun selanjutnya membawa konflik dan Inggris pun hengkang dari Pulau Run dan Ay. Banda dalam kekacauan hebat. Efeknya, harga pala di Eropa menjulang ke langit setara dengan harga bulir emas.

 

Banda memang menarik dan indah, dimana lagi di nusantara kita bisa menyaksikan bangunan tua bersejarah eks Belanda, panorama kepulauan yang demikian indahnya, julangan gunung api yang Pelabuhan rakyatmembara, jejeran perkebunan pala yang menghijau, pengalaman bawah laut yang sangat mempesona serta sejarah pergerakan nasional untuk kemerdekaan Indonesia. Semuanya itu berawal dan hanya terdapat di Banda, the Spices Islands. Lonely Planet pun menggambarkan Banda dengan : “Were they more accessible, the Banda’s might be the one of the world’ s top tourist spot. Yet for now you’ll have these wonderful islands almost entirely for yourself. Hurry – this can’t last!

 

Gereja Tua NeiraMatahari baru sejengkal di atas ufuk ketika kapal PELNI membawa saya merapat muara Banda. Pagi hari itu, pelabuhan sudah ramai hiruk-pikuk. Pasar yang hanya ada saat kapal datang dan berlangsung beberapa jam saja. Saya pun membeli manisan pala dan sebungkus kecil halua kenari/kenari manis. Semua snack khas dari Banda sepertinya ada di sini karena mata saya menyapu juga kehadiran kacang botol (kacang tanah yang di simpan dalam bekas botol kecap atau sambal), selai kenari, pala, dan berbagai makanan ringan lainnya.

 

“Teeeeeett…!!”, suara keras klakson motor mengagetkan saya. Interior Delfika yang apikAh, seandainya tidak ada sepeda motor dan mobil di Neira, pasti kita serasa dilemparkan ke masa 400 tahun silam. Tepat di depan penginapan saya terdapat rumah Sjahrir, dan selanjutnya rumah Captain Cole dari Inggris yang pernah menaklukkan Neira di awal 1800-an, semuanya bergaya kuno. Di pertigaan, terdapat tugu rakyat Banda dalam Istana mini bekas kantor VOCmenyambut kemerdekaan Republik Indonesia Syarikat (RIS). Di seberangnya terdapat Kantor Camat Banda dan Gereja Tua yang mungkin adalah satu-satunya gereja saat ini di Banda. Tampak seekor ayam-ayaman bertengger di puncak, ditambah dengan panah penunjuk mata angin menjadikan lonceng gereja ini sangat unik. Di sekitar pasar terdapat pula Pintu dalam benteng Nassauberbagai bangunan tua bersejarah seperti Kelenteng Tua dan rumah Kapten Tan Koa yang sedang direnovasi. Sekilas saya melewati kantor pos Neira dan monumen Parigi Rante (sumur dengan dikelilingi rantai) tempat pembantaian masyarakat Banda dahulu. Rumah pengasingan Hatta (1939 – 1942) pun menarik langkah kaki saya. Terbuka namun tak berpenjaga, saya pun mengisi buku tamu dan memberi donasi selayaknya di kotak yang tersedia. Rasa nasionalisme saya pun terbakar ketika melihat banyak sekali koleksi milik Bung Hatta yang masih tersimpan dengan baik. Mendorong Kora-KoraMulai dari jas, kaca mata, kopiah, alat makan, surat dari sang istri Rahmi Hatta dan yang paling menggugah adalah sebuah mesin ketik tua yang terletak di atas meja. Dari rumah inilah, Hatta bersama-sama Sjahrir, Cipto, Iwa dan beberapa pemuka bangsa yang diasingkan menggodok dan merancang format kebangsaan sebagai Indonesia yang satu. Lahirlah kemerdekaan yang kita nikmati hingga saat ini.

 

Esoknya, saya telah berada di dalam pok-pok Pak Dalam pokpok menuju LonthoirAyub menuju Desa Lonthoir di Pulau Banda Besar. Perahu melalui perairan jernih kehijauan dengan hard coral membayang-bayang di dasar. Ombak cukup tenang. Tiba di desa, saya tersengal-sengal mendaki ratusan anak tangga menuju Parigi Pusaka. Konon, sumur ini dalam waktu tertentu, misal setiap 8 atau 10 tahun sekali harus dibersihkan oleh para tetua. Mesjid besar LonthoirSerangkaian upacara melibatkan sepotong ‘kain sakti’ yang memiliki panjang 99 meter. Kain sepanjang tersebut, hanya dan cukup dimuat di dalam sebuah toples kaca saja. Saat ritual mencapai puncak, kain tersebut diturunkan ke sumur dan seketika air sumur pun mengering! Saat itu di sekitar sumur sangat sepi, saya hanya mengambil gambar secukupnya dan balik kanan terus melalui jalanan yang sama untuk menuju Benteng Hollandia.

 

Benteng ini terletak di ketinggian tebing dan langsung menghadap Gunung Api. Dahulu posisi kapal berlabuh adalah di perairan antara Neira dan Banda Besar, bukan antara Neira dan Gunung Api seperti sekarang. OlehPemandangan Gunung Api dari Hollandia karena itu, sebagian besar benteng dibangun menghadap pelabuhan lama seperti Nassau, Belgica dan Hollandia. Tak begitu banyak yang tersisa di Hollandia, selain pemandangan apiknya. Dari ketinggian, kita bisa menyaksikan hamparan laut Banda Besar dengan latar belakang Gunung Api dan dibingkai oleh dedaunan pohon rindang. Seperti halnya Gunung Gamalama di Ternate, Gunung Api Banda menjadi ikon di sini. Serasa tak lengkap rasanya berfoto tanpa menempatkan gunung aktif ini sebagai latar belakangnya.

 

Anak-anak BandaManyun karena terjebak ombak besar di Neira, esoknya saya hanya berjalan ke Benteng Belgica yang dibangun awal 1600. Belgica dibangun untuk mem-back up posisi Benteng Nassau yang lebih rendah dan lemah. Ditemani juru kunci sekaligus fotografer dadakan saya, Pak Hamim menunjukkan beberapa ruangan dan menara pengamatan di atas. Atas Benteng BelgicaBenteng ini berbentuk unik, segi lima dengan menara di tiap sisinya. Dari bawah, selalu yang terlihat hanya dua buah menara dan benteng yang hanya bersisi empat. Material pembangunan benteng ini didatangkan dari luar Banda. Secara fisik, basaltic lava scoria dari Gunung Api tidak cukup kuat untuk dijadikan material benteng. Di dalamnya terdapat beberapa ruang meeting, penjara laki-laki dan wanita serta beberapa ruang kosong yang saya tidak tahu fungsinya. Di tengah-tengah, terdapat dua buah lubang persegi sebagai gua bawah tanah, satu menuju Nassau dan satu menuju laut. Namun lubang tersebut sudah tidak pernah dipergunakan dan tidak ada satu pun yang berani mengecek keberadaannya. Waktu 400 tahun telah berlalu, cukup membuat bergidik siapa pun jika harus memasuki lorong sempit itu.

 

Pesawat saya tertunda satu hari karena cuaca buruk. Namun Tuhan memang Maha Adil. Saya jadi berkesempatan menyaksikan acara Buka Kampong pengukuhan Tetua Adat. Tifa pun ditabuh sebagai penanda panggilan buat warga. Tetua wanita dalam balutan baju putih dan kain merah keluar dan berbaris sejauh 50 meter. Tiba-tiba, lima orang Para penari Cakalele siap beraksiprajurit dalam balutan baju perang warna-warni keluar menyembah, menyambut dan mengawal tetua tadi. Hulubalang Tengah, Hulubalang Kiri dan Kanan serta Kapitan Kiri dan Kanan, lima orang terkuat dari desa yang dipilih sebagai panglima perang. Merah, kuning, hijau, adalah warna dominan pakaian dan aksesori mereka. Dua orang Kapitan tampil lebih Hulubalang Tengah, dengan jari terikat cincin Lensounik dengan helm logam layaknya prajurit VOC dan tombak di tangan. Cara membawa tombaknya pun berbeda, yaitu bagian yang tajam dilekatkan di perut sementara gagangnya menjulur ke depan. Semua senjata tajam yang digunakan, adalah asli dan sudah berumur ratusan tahun sebagai pusaka desa. Mereka pun menari-menari, dan tampak sekali Hulubalang Tengah yang difavoritkan karena walau tubuhnya paling kecil, namun gerakannya paling lincah. Semakin cepat gerakannya, semakin semangat masyarakat berteriak melengking : “Ay ya ya ya ya ya yoo…!!”. Seperti halnya tarian Indonesia timur lainnya, Cakalele dibawakan dalam gerakan yang sangat dinamis. Jangan sekali-kali menganggap remeh karena tarian dibawakan dengan satu kaki dan pastinya sangat menguras stamina pemainnya.

 

Malamnya, acara dilanjutkan dengan Tutop Kampong, dengan rangkaian acara yang mirip dengan sore harinya. Yang membedakan, tarian mereka dilakukan satu-persatu dan Tarian penutupan prajurit Cakalelemengelilingi lima batang bambu yang ditancapkan di halaman. Bambu ini melambangkan saat pembantaian Orang Kaya di Nassau, kepala mereka digantung di ujung bambu dengan isi perut melingkari batangnya Sunset di depan Istana Minipenuh dengan lumuran darah. Cakalele di Banda, diklaim sebagai Cakalele paling asli di Maluku karena penuh syarat ritual dan sendi Islam yang diserap, misalnya doa bersama, lima batang bambu dan lima pendekar Cakalele sebagai perwujudan 5 rukun Islam, penggunaan mesjid sebagai tempat pengukuhan. Di Lonthoir, filosofinya serupa namun penari Cakalele-nya sejumlah 7 orang.

 

Irama tifa yang dari tadi terdengar kencang, Terong saus kenari berubah melambat dan bunyi gong pun menggema. Saatnya balenso, mereka pun menari dengan gerakan gemulai dalam lingkaran besar bersama-samsa tetua wanita. Lenso usai, semua prajurit kembali menari satu-persatu. Di antara beberapa gerakan, mereka berjongkok dan menggoreskan senjata pada batang bambu. Nafas masih tersengal-sengal namun mereka kembali bergabung untuk acara pamungkas. Semua lima batang bambu tersebut lalu dicabut dan disilangkan di hadapan mereka. Semua janur di pagar luar digoyang dan dicabut oleh masyarakat. Acara pun selesai, dan masyarakat pun puas karena seorang tetua adat telah ditetapkan untuk lima tahun ke depan. Kenangan akan keindahan Banda terus membayang sepanjang perjalanan saya di pesawat udara. Suatu saat, saya niatkan kembali ke sini, tentu saja untuk mencicipi keindahan bawah lautnya yang belum sempat saya rasakan.Banda dari puncak Gunung Api

Portofolio, Gunung Kerinci-Danau Gunung Tujuh

Posted in Portophotolio with tags , , on June 27, 2015 by heruhendarto

Shelter 3 Kerinci

Happy shooting dalam perjalanan menuju puncak

Beristirahat sejenak dalam perjalanan ke puncak

Tugu peringatan pendaki yang wafat di kaki puncak Kerinci

Di pinggir kawah Kerinci

Kerinci dilihat dari sisi Pelompek

Kerinci dari Pelompek

Jalur pendakian Gunung Tujuh

Bersampan dan berenang di Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh

Tupai di hutan Gunung Tujuh

Menuju pintu rimba Kerinci

Jalur yang mulai terjal menuju Shelter 1

Mengupas buah untuk kulitnya dibuat gelang

Menu makan malam Shelter II

Puncak Kerinci 3806 m dpl

Medan sisi puncak Kerinci

Bersiap menembus hujan di Shelter III

Medan Shelter III ke Shelter II

Para pekerja teh siap berangkat

Penginapan Paiman

Di dalam angkot menuju Pelompek

Sarapan di Pelompek

Menuju puncak Gunung Tujuh

Sahril, pesampan Danau Gunung Tujuh semenjak 1974

Soto Padang di Kayu Aro

Kopi dan lemang Sungai Penuh

Bumi Anggrek Terlekangkan Waktu

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , on October 24, 2014 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Mei 2014)

 

Baling-baling pesawat tipe ATR semakin meraung keras dan perut saya sedikit terkocok ketika roda-rodanya menyentuh landasan. Tak begitu buruk rasanya Teluk Pomalaa dan penambangan nikelsebenarnya, bahkan sebenarnya saya lebih menyukai sensasi naik pesawat baling-baling daripada pesawat bermesin jet. “Selamat datang di Sangia Nibandera”, sebuah bandara kecil di Kabupatan Kolaka dimana semuanya dilakukan serba manual. Tak ada ban berjalan di sini, alat x-ray nya pun belum berfungsi sementara ruang tunggu yang tersedia sangat sederhana namun dalam setiap penerbangan, bandara ini penuh sesak dengan hiruk-pikuk orang. Tak pelak lagi, bandara kecil ini adalah salah satu pembuluh nadi terpenting transportasi masyarakat Kolaka.

Kabupaten seluas hampir 7 ribu meter persegi dengan penduduk hanya 315.000 jiwa ini terletak di pesisir barat daya Sulawesi Tenggara. Kabupaten Kolaka hanya memiliki dua kota yang menjadi ikon terkenal, masing-masing adalah kota Kolaka sebagai pusat pemerintahan dan kota Pomalaa sebagai pusat perekonomian. Sangia Nibandera terletak kurang-lebih empat puluh menit perjalanan darat dari kota Pomalaa, dan menjadikan kota kecil ini sebagai persinggahan pertama saya. Konon, nama Sangia Nibandera sendiri adalah nama bendera berwarna merah dan putih, yang telah digunakan prajurit Kolaka sebagai simbol perang jauh sebelum proklamasi kemerdekaan negara kita, mengagumkan!

Jalanan aspal rusak bercampur tanah yang melontarkan debu tebal di saat musim kering, topografi perbukitan gersang di timur pesisir, lalu-lintas yang cukup kampung-pesisir-watubangga.jpgramai serta penduduknya yang datang dari berbagai daerah membuat kota ini dijuluki sebagai kota koboi. Magnet satu-satunya yang membuat masyarakat terhipnotis mendatangi kota ini adalah pertambangan nikel laterit. Dipelopori oleh berdirinya tambang dan pabrik pengolahan nikel milik salah satu perusahaan BUMN di tahun 80-an, Pomalaa selanjutnya berkembang seiring hadirnya ratusan perusahaan semenjak terjadinya mineral booming di dunia awal tahun 2000-an. Tak heran saat saya lewat, Teluk Kolaka sedang dipenuhi oleh tak kurang dari 6 buah Mother Vessel berukuran draft 50.000 ton yang sedang memuat bijih nikel mentah untuk diekspor ke luar negri, Cina umumnya.

Pantai Harapan, adalah tempat wisata yang membuat saya penasaran. Terletak di pesisir teluk, pantai menjadi sangat unik karena material pembangunnya. Disusun dari timbunan slag, pantai ini memanjang hingga 150 meter ke barat dan menjadi salah satu tempat hiburan utama di kota Pomalaa. Di bagian ujungnya, terdapat berbagai fasilitas umum serta laut yang dibendung dan dapat digunakan sebagai kolam renang yang aman. Kanan-kiri jalur pantai ini dibentengi dengan jutaan pohon bakau yang ditanam sebagai komitmen perusahaan terhadap lingkungan. Slag sendiri adalah material logam sisa pemurnian nikel, dengan kandungan utamanya berupa besi, slag aslinya berwarna abu-abu berukuran kerikil butir-butir-slag-sisa-proses-pemurnian-nikel.jpghingga bongkah dan menjadi umum digunakan sebagai  material penimbun. Bahkan, banyak daerah pesisir Pomalaa yang dahulunya adalah laut, ditimbun dengan slag dan dibangun perumahan menyulap wajah dari daerah muka air menjadi perkampungan yang ramai penduduknya. Modernisasi, sepertinya tak menjanjikan harapan bagi semau orang. Suku Bajo salah satunya, menyingkir lebih ke selatan untuk menghindari hiruk-pikuknya perkampungan yang semakin tumbuh ini. Mereka pun menyebar menghuni pesisir yang masih alami di berbagai daerah semisal desa Hakatutobu dan desa Tangketada di mana mereka masih dapat mencari ikan dengan leluasa dan mengembangkan budi daya rumput laut pada hamparan laut jernih di hadapan pesisir.

Jika Pomalaa adalah pusat kegiatan perekonomian utama, maka Kolaka adalah pusat pemerintahannya. Berjarak bakau-yang-ditanam-sepanjang-pesisir-pomalaa.jpgkurang-lebih satu jam perjalanan ke utara, Kolaka adalah kota pusat penghasil coklat dan hasil bumi yang cukup tertata dengan rapi dan bersih, tak heran jika kota ini pun dianugerahi Adipura beberapa kali. Selain jalan poros utama, menuju Kolaka dapat ditempuh melalui jalan bypass. Jalur ini menjadi favorit saya walau pun kondisinya masih berupa jalan tanah berlubang. Selain karena memanjang menyisiri pantai, jalan bypass ini menyajikan pemandangan yang luar biasa. Di sisi barat, terhampar laut biru Teluk Kolaka dengan Pulau Padamarang sementara di sisi seberangnya lautan tambak air asin membujur dengan latar belakang hijaunya perbukitan yang elok. Rumah-rumah kayu mencuat di sana-sini seolah-olah menyembul di atas kilaunya permukaan air tambak-tambak yang melampar sejauh mata memandang.

jus-tulang-di-pesisir-kolaka.jpgDi pesisir pantai kota Kolaka, alias Pantai (Tugu) Coklat, banyak jejeran lapak makanan digelar sedari sore hari. Favorit saya di kota ini adalah jus tulang. Ya, wujud makanan ini betul-betul seunik namanya. Jus tulang adalah potongan paha dari sapi yang berukuran raksasa, disajikan dengan kuahnya yang gurih menghangatkan. Seni memakannya cuman ada dua tapi sangat-sangat mengasyikkan. Pisau kecil disediakan agar kita dapat memotong sisa daging yang menempel di tulang, mencelupkannya di kuah dan menikmatinya ala konro.  Yang terakhir adalah, mengaduk-aduk daging sumsum yang ada di rongga tulang dan menyeruputnya dengan sedotan selagi panas, nikmat sekali! Suasana di sini pun sepertinya cocok buat muda-mudi, angin laut yang segar dan kerlip lampu kota, membuat malam seolah cepat berlalu. Tampak pula kendaraan hilir-mudik memasuki pelabuhan Kolaka, menaiki ferry yang sedianya akan membawa menyeberang Teluk Bone menuju Bajoe, kota pelabuhan kecil di Sulawesi Selatan.

Sebagai bekas pusat kerajaan di zaman dahulu, Mekongga, demikian namanya, tak menyisakan lagi banyak putri-putri-cantik-dalam-balutan-pakaian-khas-suku-tolaki.jpgpeninggalan. Masih ada memang sebentuk bangunan kompleks pemakaman dan beberapa benda pusaka kerajaan yang disimpan di sebuah rumah seorang keturunan raja, namun wujud fisik sesungguhnya dari kerajaan Mekongga seperti keraton, pelabuhan, mesjid dan lain-lainnya telah tiada. Kolaka memiliki motto ‘Wonua Sorume’ yang berarti bumi anggrek, sepertinya semenjak jaman kerajaan dahulu anggrek sudah menjadi bagian dari budaya di sini. Namun, sepertinya pesona anggrek di Kolaka sudah memudar. Senasib dengan anggreknya, Keramik Mekongga yang dahulu terkenal sebagai kerajinan masyarakat, saat ini sudah jarang ditemukan. Pembuatan guci dari tanah liat ini sepertinya hanya dilakukan untuk meneruskan tradisi nenek-moyang dahulu. Masyakarat asli Kolaka adalah Suku Tolaki, yang dikenal karena kulitnya yang putih dan parasnya yang cantik. Mirip sekali dengan ciri-ciri fisik suku asli Moronene di pesisir selatan dan Pulau Kabaena ,yang konon nenek moyangnya berasal dari Asia Timur. Di sini, suku Tolaki Sulawesi Tenggara dibedakan dengan panggilan sesuai wilayah geografisnya. Tolaki Mekongga di pesisir barat, dilantunkan mulut untuk membedakan mereka dengan suku Tolaki Kendari yang menghuni pesisir timur. Memiliki rupa fisik yang sama, budaya yang mirip, mereka sepertinya enggan disamakan walau pun memiliki pengikat adat ‘Kalo’ yang sama. Baju adat Tolaki, adalah salah satu dari sekian baju adat di nusantara yang saya kagumi karena memiliki warna dan aksesori yang memukau mata.

sungai-terpendek-di-dunia-tamburasi.jpgJargon ‘sungai terpendek di dunia’ tak pelak lagi membuat saya penasaran juga sehingga rela menempuh perjalanan dua jam setengah ke arah utara. Tamboraasi atau Tamburasi dalam pelafalan biasa, adalah salah satu tempat wisata di Kolaka yang sangat terkenal. Saya pun tiba di sore hari, di kala pengunjung mulai sepi dan mentari sudah condong ke barat. Memang cukup mengagetkan juga melihat sebuah sungai yang hanya memiliki panjang sekitar 20 m saja dan langsung bermuara ke laut. Terpendek? Saya kira tidak karena sebenarnya sumber air berasal dari sungai bawah tanah yang keluar dari tebing batukapur. Dengan suhu sekitar 150 Celcius, dinginnya air sungai ini sangat kontras dengan hangatnya air laut dari pantai Tamboraasi di sebelahnya. Bagi yang tidak tahan dingin, dapat menceburkan diri ke pesisir sebelah baratnya dan menikmati hangatnya air laut. Beberapa orang bercerita bahwa di saat-saat tertentu sungai ini menjadi lebih pendek. Saya pun dapat menerima informasi itu karena memang sand barrier yang membelokkan arah sungai hingga menyamping ini sebenarnya tidaklah permanen. Di saat angin tidak kencang bertiup dari arah barat, maka arus sungai akan lebih leluasa menembus langsung lurus ke arah laut tanpa dibelokkan oleh ombak laut, dan saat itulah jarak terpendek didapat.

Sudah hampir waktunya saya meninggalkan Kolaka, namun di saat injury time, saya masih menyempatkan diri mengendarai sepeda motor kembali ke arah kelelawar-watubangga.jpgselatan. Pomalaa saya lewati, bandara pun saya lalui, hanya untuk mengejar keunikan lain dari kabupaten ini. Watubangga, adalah nama desa nelayan yang memiliki warisan unik berupa kelelawar raksasa. Ya, ratusan kelelawar setiap siang harinya selalu beristirahat di pucuk pepohonan pantai di sini. Tampak tenang dan sesekali bergerak, kelelawar ini saya perkirakan memiliki bentang sayap sekitar 70 cm. Pantai Watubangga ini sebenarnya apik, hanya tidak begitu banyak pengunjungnya. Mungkin karena bau prengus alias bau apek seperti kambing yang semerbak dimana-mana akibat hadirnya kelelawar ini. Kehadiran kelelawar raksasa ini juga terdapat di kota Watang Soppeng, Sulawesi Selatan. Bahkan mereka hadir di tengah kota dan membaur dengan kehidupan masyarakat. Bahkan mereka menganggap kelelawar ini sebagai penjaga kota, tak pelak lagi kota ini pun lebih dikenal sebagai kota Kalong.

Puas menghabiskan waktu-waktu terakhir saya, sepeda motor bebek pun saya pacu perlahan kembali ke arah Pomalaa. Di saat melintasi gerbang  pelabuhan salah satu perusahaan tambang di sana, jalanan pun berubah sementara menjadi tanah licin. Melintas perlahan, tiba-tiba seorang bapak di seberang jalan berteriak memanggil : “Ojeeeek…!” Tak pelak saya pun jadi senyum-seyum sendiri, mungkin tampilan saya yang kebetulan menggunakan helm tipe open face dan pakaian lapangan menjadikan mirip dengan tukang ojek lokal. Tak apalah, kejadian menggelikan ini pun membuat saya masih saja tersenyum-senyum sendiri saat duduk di kabin pesawat dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta esok harinya. Masih tersisa beberapa tempat menarik di Kolaka yang belum saya kunjungi, Gunung Mekongga dan beberapa air terjun serta mata air panas di kakinya cukup menantang kiranya. Jika saya punya kesempatan kembali ke Kolaka, tempat tersebut adalah tujuan saya berikutnya. Mungkin saja saya akan bertemu dengan tumbuhan anggrek yang dahulu melegenda itu.

 

 

When to Go :

Waktu terbaik mengunjungi Kolaka adalah di musim kering bulan April hingga September saat laut tenang dan cuaca kering. Saat-saat ini, perjalanan menyeberangi Teluk Kolaka akan menyenangkan, demikian pula jalanan tanah tidak akan licin di saat harus menyusuri pesisir kaki perbukitan di Kolaka.

Seringkali di waktu-waktu tersebut, hajatan diadakan penduduk dan dapat dipastikan akan ada pesta tarian Lulo. Tarian ini dilakukan secara massal mengikuti alunan musik dan menggambarkan pergaulan muda-mudi setempat yang dinamis. Siapa pun bisa bergabung untuk ikut menari, asal kan mempelajari dahulu gerakan kaki dan tangan peserta, jika tidak mau terinjak.

How to get There :

Satu-satunya maskapai yang melayani jalur ke Kolaka adalah Wings Air dari Makassar. Penerbangan cukup padat, dua kali setiap hari dan tiga kali sehari selama dua hari dalam seminggunya. Rata-rata harga tiket 500 ribu rupiah one way dengan pesawat baling-baling turboprop selama 45 menit perjalanan.

Alternatif lain adalah menggunakan penerbangan dari berbagai maskapai menuju Kendari, lalu mengambil jalan darat selama empat jam berkelok-kelok menembus perbukitan Sulawesi Tenggara.

Where to Stay :

Hotel Wisata Mekongga, adalah hotel unik di Kolaka. Terletak di Pantai Mandra, hotel ini berbentuk miniatur rumah adat di Kolaka. Terdapat sepuluh bangunan yang dapat digunakan untuk umum dengan harga mulai dari 300 ribu rupiah.

 

Tak seperti Kolaka, hotel di Pomalaa tidak begitu banyak. Namun salah satu yang terbaik adalah Hotel Triputra (0405-2310860), Dawi-Dawi, mulai dari 250 ribu rupiah. Di sini kita dapat merasakan suasana keramahan rumah tangga yang tidak seperti suasana hotel kebanyakan, dan nilai tambah ini lah yang ditonjolkan si pemilik sehingga hotel ini nyaris selalu penuh setiap harinya.