Menembus Jantung Cabo da Flora, Flores

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , , , , , on June 26, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Jan 2017)

 

Keindahan alam dan keramahan penduduknya membuat Bumi Flores meninggalkan kesan mendalam bagi siapapun. Keunikan hewan komodo, keelokan panorama bawah laut, hamparan lanskap perbukitan yang indah serta budaya masyarakat yang beragam membuat pulau di timur nusantara ini semakin cantik. Penjelajahan overland adalah pilihan terbaik untuk menikmatinya.

 

DAY 1 – Labuan Bajo, revisited

Time 15:38 – sunny afternoon w/ gentle wind

Pesawat menukik, mata saya langsung tertumbuk pemandangan teluk yang indah. Saya pun terhenyak, delay tiga jam menyiksa badan pun sirna. Hijaunya pulau-pulau mungil nan mencuat serta birunya laut membuat tubuh kembali semangat. Same place with the same memory, namun modernisasi mengubah segalanya. Bandara baru dan hiruk-pikuk kota membuat saya pangling, lepas orientasi.  Ingatan saya pun melambung ke tujuh tahun silam saat kapal Pelni menghantarkan saya ke pelabuhan Labuan Bajo. Dua hari dua malam perjalanan laut dari Buton, saat itu rasanya layak saja untuk dijalani. Tapi kali ini rasanya jauh berbeda, menyaksikan segala keindahan lanskap yang dicapai dalam hitungan jam saja.

 

Time 18:30 – twilight cloudy dusk

Matahari mulai condong ke barat, saya pun meluncur ke spot foto favorit. Pemandangan sunset terindah Labuan Bajo jadi incaran siapapun yang menginjakkan kaki ke gerbang Pulau Komodo ini. Teluk yang menawan selalu membuai mata, puluhan perahu bertiang memenuhi perairan berkilau emas. Cuatan ujung pulau-pulau misterius pun terekam kamera. Dari kota pesisir ini, misteri the Komodo Dragon pun diungkap ke para ‘pemburunya’. Pulau Rinca, Pulau Komodo, lanskap kepulauan dan hamparan bawah lautnya selalu memukau bagi siapapun. Hari pun gelap, tersadar, saya bergegas menuju pelabuhan. Sebentar lagi rekan-rekan perjalanan Flores Overland akan tiba dari laut. Tak seperti mereka, saya memang absen ikut perjalanan sailing Komodo.  Tapi, tujuh tahun lalu kerinduan saya telah terobati. Empat hari tiga malam saya habiskan di laut, berlayar dari Bajo hingga berlabuh ke Gili Haji nun jauh di Lombok. Once in a lifetime trip yang mengesankan.

 

Di dermaga, puluhan kapal kayu berpenumpang bule telah bertambat. Semuanya penuh dengan turis kulit putih. Labuan Bajo kebagian pelancong mancanegara, salah satu yang terbanyak di nusantara. Kakak-beradik Adel dan Jovita pun melompat lincah naik ke daratan. Mbak Hening, Mbak Ellis dan rekan lainnya menyusul. Formasi kami belum lengkap. Mas Singgih tertunda flight-nya dan akan bergabung kemudian. Meeting point pun belum ditetapkan, entah lah. Malam perdana saya lalui dengan berburu ikan bakar segar dan lezat. Perut harus kenyang karena esok, perjalanan jauh akan dimulai.

 

DAY 2 – Labuan Bajo-Denge, Let the Adventure Begins

Time 09.30 – bright hot blue sky

Sepagi itu matahari telah bersinar dengan teriknya. Panasnya membakar kulit. Dua mobil telah siap di muka hotel. Good bye laut, petualangan darat pun dimulai pagi itu. Dinginnya hembusan AC dalam mobil menendang semangat kami. Sebelum meninggalkan kota, kami mlipir dahulu ke pinggiran Bajo. Gua Batu Cermin, obyek menarik di pinggiran kota tak kami lewatkan. Ditemani guide, kami leluasa mengeksplorasi dalam gua. Pahatan alam nan indah tersebar dimana-mana. Tak kurang, puluhan fosil menarik bertaburan di dalamnya. Mulai fosil kerang, hingga fosil ikan dan kura-kura pun bisa kita saksikan. Nama Batu Cermin konon berasal dari adanya batu besar mengkilap bak kaca di tengah gua.

 

Time 14.45 – light shower

Cuaca sekonyong-konyong tak bersahabat. Mendung menggantung, gerimis pun datang. Saya tak pernah cemas dengan perubahan cuaca. Namun, kali ini mobil melalui jalanan super sempit dan berkelok patah. Lebar satu depa lebih sedikit, jalur kami sudah jauh menyimpang dari jalan utama. Tebing di kanan, jurang di kiri. Sekali salah perhitungan, lewat lah sudah. Setiap tikungan, klakson wajib dibunyikan. Jantung pun tambah berdebar. Satu-satunya yang menghibur adalah pemandangan sawah yang terhampar di kaki perbukitan. Sungai mengalir menembus kaki tebing, berkelok laksana ular. Sungguh indah tanah Flores ini.

 

Time 17.40 – breezing fog

Seolah menyambut kami, kabut dingin menembus pori kulit. Suasana mistis pun merebak. Satu-satunya yang menghibur adalah masih bertaburannya rumah penduduk di sekitar lokasi. Kami tidak sendirian. Melangkah ke tengah perkampungan, tampak dua menara rumah tradisional mencuat tersibak kabut. Kampung Todo memang tidak setenar Waerebo, namun banyak sejarah yang telah terukir.  Legenda berkisah, seorang pemuda dari daratan Minang terdampar dan disambut hangat di sini. Lama bermukim, sang kakak memperoleh adik angkat. Suatu waktu, mereka bertengkar dan sang kakak pun minggat. Berjalan menembus rimba, sang kakak terdampar di Waerebo. Jauh setelah itu, Todo pun berkembang menjadi pusat kebudayaan Manggarai.

 

Todo tengah berbenah, demikian ujar Pak Titus. Rumah-rumah lama diupayakan untuk kembali tegak berdiri. Kejayaan sembilan rumah Mbaru Niang sepertinya akan bersinar kembali. Peninggalannya dijaga baik-baik. Bahkan di rumah utama, masih terdapat warisan berharga berupa gendang kecil yang terbuat dari kulit perut manusia. Kerajinan tenun dan budaya adat-istiadat pun kembali dihidupkan. Nama besar kerajaan yang pernah berkuasa di daratan Flores ini tak bisa terhapuskan begitu saja. Kabut semakin tebal, kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di desa Denge larut malam. Pondok Pak Blasius menjadi tempat pilihan untuk transit.

 

DAY 3 – Waerebo, Village on Clouds

Time 04.30 – clear dawn sky

Langit dini hari itu sangat bersahabat, bintang berkilau menghias atas kepala. Walau mata terkantuk, kaki terus melangkah. Perjalanan empat jam mendaki bukit pun harus kami lakoni. Sesekali kami tertawa lepas, mendengar cerita lucu dari Pak Frans. Legenda Gunung Pocoroko yang tegak berdiri di tengah jalur perjalanan menjadi penghibur lelah. Beberapa penduduk setempat menyalip langkah kami, tak tampak letih di wajah mereka. Hari ini adalah puncak perayaan tahun baru Penti di Waerebo. Melambangkan suka-cita dibalut nuansa magis yang kental, acara ini memanggil banyak perantau untuk pulang.  Kami pun mempercepat langkah, tak hendak ketinggalan acara. Bayang rerimbunan pohon sepanjang jalur setapak menuju Waerebo menyejukkan hawa pagi itu.

 

Time 09.15 – hot morning

Keringat telah membanjiri kaos, namun saya memilih untuk berlari. Dari kejauhan sudah terdengar gendang ditabuh. Desa Waerebo tinggal selangkah lagi dan acara Penti sepertinya akan dimulai. Saya terengah-engah dan terbelalak menyaksikan panorama desa dari ketinggian. Luar biasa, tujuh menara rumah beratap tinggi berlapis ijuk mencuat di tengah-tengah lembah hijau. Sekelilingnya perbukitan tinggi menjadi benteng pelindung. Saya seolah berada di negri antah-berantah. Bergabung dengan rombongan lain, kami pun disambut para tetua dengan ramah. Saling mengenalkan asal diri masing-masing, tiba-tiba hati rasanya tertambat di sini. Semua sudah dianggap layaknya saudara.

 

Ritual sesaji telah usai, penduduk pun bersiap untuk bersuka-ria. Tari caci akan dimulai. Tak seperti namanya, ‘tarian’ khas Flores ini lebih condong pada adu kecepatan mencambuk dan menangkis. Tak tanggung-tanggung, luka sobek berdarah adalah hal yang biasa. Sorak-sorai paling gemuruh terdengar jika pemain bisa mengenai wajah lawannya. Rasa sakit dan perih luka lecutan cambuk itu yang akan menguatkan mental para lelaki Flores. Matahari sudah di atas kepala, semakin panas semakin seru rupanya. Sportivitas sangat dijunjung tinggi. Boleh saling mengejek, namun yang kalah harus mengakui kekalahannya. Dan yang menang wajib menghormati yang kalah. Berjam-jam caci dilakukan dengan pemain-pemain yang bergantian. Tua, muda, semua berpartisipasi. Saya pun keasyikan hingga lupa makan siang.

Time 16.10 – foggy afternoon

Acara berlanjut ke daerah pekuburan. Dengan prosesi ritual, ayam disembelih. Jeroan-nya di-terawang oleh tetua, pertanda baik pun tampak. Masyarakat bersuka-cita. Acara lalu berpindah ke depan mbaru gendang, upacara boa dimulai. Ayam disembelih dan dibakar, leluhur pun diundang. Tarian sanda digelar di depan compang pemujaan. Para tetua terus menari berputar hingga hari menjelang gelap. Rafael, rekan perjalanan saya, ikut masuk ke dalam lingkaran. Lamat-lamat dia meniru gerakan dan melafalkan syair. Besar di Ruteng dan berkarir di Jakarta, Rafael sedang berjuang meneruskan adat kampung nenek-moyangnya.

 

Time 19.15 – cold night

Setelah ritual libur kilo di masing-masing rumah dilaksanakan, acara berlanjut. Sesajen babi pun digelar di Mbaru Gendang, semua penduduk dewasa berkumpul. Bersama-sama dengan roh nenek-moyang yang diundang dari lodok, boa, wae teku dan compang, mereka menari dan berpantun semalaman. Saya yang sudah tak kuat menahan kantuk naik dan menarik selimut di dalam Rumah Baca. Saya pun terlelap diiringi dendangan go’et yang sayup-sayup indah.

 

DAY 4 – Ruteng, A Long Winding Road

Time 08.00 – morning w/clear sky

Waktunya meninggalkan desa yang amazing ini. Satu malam yang tak terlupakan.  Saya menyempatkan berfoto dengan para tetua sambil berpamitan pulang. Lambaian tangan mereka sungguh tulus. Terasa haru menyesak di dada. Saya meninggalkan desa dengan langkah berat. Panas menyengat, saya tiba di Denge saat matahari mulai tergelincir di atas kepala. Walau jalan menurun, sudah dua botol air mentah dari mata air yang saya tenggak. Mandi dan makan, tenaga yang muncul tak sanggup mengimbangi rasa terik dan panas di betis. Kami terduduk di jok mobil sambil kesakitan, terguncang-guncang dalam perjalanan menuju Ruteng.

 

Time 17.10 – cloudy afternoon

Kami singgah di pinggir jalur menuju Ruteng. Desa Cancar memiliki warisan yang unik, lodok alias sawah jaring laba-laba. Pembagian tanah adat untuk setiap keluarga dilakukan dengan mematok bagian tengahnya. Dari situ, ditarik garis memanjang dan ditentukan bagian per bagian. Luas dan besarnya tergantung kedudukan keluarga tersebut. Semakin terpandang, semakin luas lah tanah yang diperoleh. Tanpa didasari, sistem pembagian turun-temurun tersebut membuat bentuk sawah menjadi jaring laba-laba. Setengah jam kami mendaki, beradu cepat dengan mentari yang mulai tenggelam.  Tiba di atas, rasa lelah pun terobati. Apalagi saya bertemu dengan Mas Singgih yang kedatangannya sudah dinanti-nanti semenjak dari Labuan Bajo waktu itu. Berdua, kami menggelar kamera duluan. Keunikan lodok Cancar sungguh jarang bisa ditemui di daerah lain. Matahari tenggelam, selanjutnya kami merapat ke Ruteng, ibu kota kabupaten Manggarai. Suhu semakin terasa menusuk tulang, dingin. Saya memilih ngendon di penginapan, recovery tubuh menjadi prioritas.

 

DAY 4 – Aimere-Bajawa, The Home of Moke, Traditional Liquor

Time 09.10 – bright sunny morning

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bajawa, saya menyempatkan diri singgah ke pasar tradisional Ruteng. Kopi Flores yang lezat bisa didapatkan di sini, murah tentunya. Blusukan ke dalam pasar, berada dalam satu deretan lapak penjual ayam dan pengrajin kain tenun, beberapa bungkus kopi bubuk pun pindah ke dalam tas.

 

Time 12.50 – clear hot noon

Mobil merapat di Aimere, ke tempat pembuatan arak tradisional alias moke. Kami disambut oleh Pak Dolof yang ramah. Berbagai hidangan arak pun digelar. Mulai kualitas rendah hingga level premium, semuanya gratis. Adel dan Jo tak melewatkan kesempatan cicip-mencicip ini. Saya sih hanya berani menyaksikan saja. Apalagi serem juga melihat demo arak yang tersambar api. Tak heran jika arak tipe itu berjuluk moke ‘BM’, alias ‘Bakar Menyala’. Namun, walau kadar alkoholnya tinggi, pembuatannya sangat bersih dan higienis. Tak ada material oplosan selain akar-akaran atau ginseng. Sumbernya hanya dari bunga atau buah lontar yang dipotong. Disadap niranya, proses penyulingan turun-temurun ini pun berlanjut.  Tetesan arak dikumpulkan dan difermentasi. Konon, rasanya pahit-pahit manis. “Mirip-mirip soju lah Om rasanya”, demikian kata Jo yang memerah hidungnya terkena efek arak Aimere. Puas mencicipi dan membeli beberapa botol untuk para supir, kami merapat di Bajawa sore harinya. Tak kalah dingin dari Ruteng, kami pun tak banyak polah. Ngobrol ramai di teras kamar menjadi pengisi kegiatan pengusir dingin malam itu.

 

DAY 5 – Bena-Ende-Moni, In the Hunt of Traditional Hand-Woven Cloths

Time 07.05 – clear cold morning

Pagi buta, saya sudah meluncur ke pinggiran Bajawa. Jalur sepi menuju desa Bena saya tempuh. Tak banyak penduduk yang beraktivitas sepagi itu. Saya pun leluasa berkeliling. Puluhan rumah tradisional yang dihuni oleh sembilan suku ini sungguh menawan mata. Julangan batu raksasa laksana menhir berserakan di sana-sini. Di tengah kampung terdapat bhaga dan ngadhu, pondok kecil tak berpenghuni dan bangunan tiang beratap ijuk. Pastinya, desa ini tak pernah tersentuh arsitektur modern. Puas berkeliling, saya bertandang ke rumah ibu Maria. Beberapa kain yang ditenun tangan dengan benang berpewarna alami pun berpindah tangan. Transaksi selesai, dan hidangan panasnya kopi Flores membuat pagi itu terasa nikmat sekali. Duduk di serambi rumah, Gunung Inerie yang menjulang ke langit biru tersaji di depan mata. Terbersit pula untuk nekad mendaki ke puncak, apalagi suami Ibu Maria bersedia menemani. Sayang, waktu saya sangat terbatas.

 

Time 08.50 – sunny morning

Perjalanan berlanjut, seharian ini akan banyak kami habiskan di dalam kendaraan. Ende adalah kota terakhir yang menjadi persinggahan kami. Rumah Pengasingan Sukarno di Jalan Perwira sempat kami datangi. Menjelang sore, Mbak Ellis dan Mbak Hening masih penasaran dengan koleksi kain tenun Flores. Perburuan terakhir dilakukan. Pasar kain tradisional di dekat pelabuhan pun menjadi sasaran. Tawar-menawar dengan uang yang masih tersisa, beberapa lembar kain menawan pun diperoleh. Saya akhirnya pun terikut-ikutan. Dua lembar ikat pinggang kain warna merah marun saya kantongi. Bahkan, setiba di Moni malam harinya, para ibu pun masih semangat mencari kain tenun.

DAY 6 – Last Day, Kelimutu, The Coloured Vulcanic Lakes

Time 04.25 – breezing dawn

Perjalanan menuju Kelimutu terasa lama, mungkin karena jalan yang berkelak-kelok dan sepi. Terancam terlambat menyaksikan sunrise, saya dan Mas Singgih melangkah lebih cepat. Kawan lainnya pun tertinggal jauh. Tapak demi tapak semakin terjal, dan kami melambat tepat pada anak-anak tangga terakhir. Tiba di atas dengan bercucuran keringat, sepertinya kami beruntung. Matahari belum menembus horizon

timur, dan kabut masih bersemayam di atas kawah. Kelimutu sendiri memilki tiga buah danau berwarna. Satu di sebelah kiri disebut Tiwu Ata Mbupu, dan dua danau lain yang bersebelahan dinamai Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai dan Tiwu Ata Polo. Masing-masing danau adalah tempat persemayaman para arwah berbeda. Masih banyak waktu, saya menunggu sambil meneguk segelas kopi. Para pemburu foto mulai berdatangan, tripod dan kamera bertebaran. Bersyukur kami sudah memperoleh spot yang tepat.

 

Kabut tersibak angin, tapi awan di penghujung menutupi mentari. Lambat laun kabut menghilang, dan pemandangan Kelimutu jelas terhampar. Kami berdua menjelajahi setiap sudut kawah, menikmati waktu-waktu terakhir di sini. Daratan Flores luas adanya, baru dua pertiga yang saya jelajahi. Masih ada  Maumere hingga Larantuka di ujung. Dua kota itu menjadi waiting list saya, sehingga akan genaplah petualangan di seantero Cabo da Flora.

 

Tips

  • Perjalanan overland dapat ditempuh dari dua arah. Rute timur dimulai dari Ende dan berakhir di Labuan Bajo. Sementara rute barat mengambil jalur sebaliknya. Di Labuan Bajo para pelancong mengambil perjalanan Sailing Flores. Tersedia jalur pendek selama dua hari satu malam dan kembali ke Labuan Bajo, atau paket empat hari tiga malam menembus ke barat hingga Lombok. Labuan Bajo dan Ende sendiri dapat ditempuh dengan penerbangan dari Denpasar, dengan frekuensi serta maskapai yang cukup banyak setiap harinya.

 

  • Kegiatan utama di Flores yang dapat dijalani adalah wisata alam dan wisata budaya yang unik. Persiapkan fisik yang cukup karena beberapa lokasi harus ditempuh dengan trekking ringan. Tidak banyak makanan yang tersedia sepanjang perjalanan kecuali di kota-kota besar, sehingga perbekalan yang cukup adalah mutlak. Demikian pula obat-obatan, pakaian outdoor dan tabir surya.

 

 

 

 

 

Seribu Gunung

Posted in Jalanjalan on June 10, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah DestinAsian Indonesia Nov-Des 2016)

Berkonotasi dengan kekeringan dan kegersangan, dataran tinggi berbatu kapur Geopark Gunung Sewu ternyata memiliki potensi yang luar biasa.

Sebuah kereta kayu rakitan tergantung di samping saya. Beberapa utas tali menjulur hingga ke pulau seberang. Terpisah jarak seratus meter lebih, saya terdiam.  “Piye Mas? Kalau mau, kami bisa bantu tarik nyebrang…”, demikian ujar Mas Heri, penduduk Desa Timang.  Jauh di bawah kaki, deburan ombak semakin menggila. Karang-karang tajam mencuat sekelebat. Nyali saya pun menciut. Berat tubuh yang mendekati 100 kg, tak pede rasanya. Sulit sekali untuk ‘menitipkan’ nyawa hanya pada beberapa utas tali. Ikhlas, saya mempersilakan Hafiz yang berpostur kecil. Solo traveler asal Kuching, Malaysia ini pun naik tanpa ragu. Tampaknya dia menikmati sekali tergantung-gantung seperti itu. Hampir satu jam di pulau seberang, Hafiz baru kembali. “It’s so quiet there, so peaceful, takde suare ombak,” ujarnya. Selesai, kami pun menaiki sepeda motor masing-masing. Hafiz terus membuntuti saya hingga Wonosari. Satu jam kemudian kami pun berpisah di simpang jalan. Hafiz kembali ke kota Yogyakarta, saya berbelok kiri sambil menaikkan betot-an gas.

Jalanan aspal pun terbentang. Bukit-bukit kapur membentengi di kiri-kanan, tertutup oleh semak dan pepohonan jati. Saya mengendarai matic kubikasi 150 cc di antara ratusan perbukitan rendah. Terhampar dengan luas 800 km2, wilayahnya memanjang meliputi segmen Gunung Kidul, Wonogiri dan Pacitan. Mungkin sudah belasan kali saya menyambanginya. Mengeksplorasi tempat seluas ini, tak lain, sepeda motor adalah pilihan paling tepat. Tak semua lokasi di kawasan Gunung Sewu dihampiri trayek rutin kendaraan umum. Sementara, mengendarai roda empat pun rugi rasanya. Banyak kenikmatan tak terduga yang hanya bisa dirasakan di atas putaran dua roda.

Dahulu, hampir seluruh penjuru daerah ini identik dengan kekeringan dan kemiskinan. Penduduknya terpaksa pergi merantau mengadu nasib. Tanah yang tidak subur dan kesulitan air memang menjadi momok bagi siapapun. Secara geologi, Gunung Sewu berada di dataran tinggi yang utamanya tersusun dari formasi batugamping. Batu kapur keras berpori, tak mampu menyimpan air permukaan dalam jumlah cukup. Setiap hujan datang, air langsung menerobos jauh ke dalam tanah. Tak menyisakan waktu cukup untuk menggenang, atau membuat tanah melapuk tebal. Akibatnya, tanah subur pun tak berkembang dan air susah dijangkau. Tubuh sungai tak mengalir sepanjang tahun dan sumur pun harus digali puluhan meter. Itu pun jika dapat. Beberapa lembah ada yang dasarnya tertutup terrarosa, soil purba, sehingga menyekat pori batuan. Air pun dapat tertampung menjadi embung alami. Saat musim kemarau, kondisi kembali terpuruk. Tak ada hujan dan air di embung pun menguap.

Namun itu kisah usang. Telah berlalu puluhan tahun. Walau kering di permukaan, air tersimpan nun jauh tersembunyi di rongga sungai bawah tanah. Gunung Sewu, secara fakta, adalah gudangnya air bersih. Pompa raksasa dengan kekuatan head yang tinggi pun menarik air bening sesegar es ke permukaan. Distribusi air diatur, pertanian menggeliat. Jalanan pun dibuat mulus hingga pelosok dusun. Masyarakat makin sejahtera. Kondisi geologi yang unik dari Gunung Sewu juga menjadi incaran wisatawan. Deretan pantai pasir putih dengan julangan tebing kapur membentang. Tak kalah eloknya dari yang ada di Pulau Dewata. Sisi selatannya berbatasan palung laut hasil tunjaman lempeng samudra. Laut mendalam sekonyong-konyong, ombak pun tak kalah gilanya. Kalau bernyali, surfing pun bisa dilakukan. Di bagian daratan, rongga-rongga gua raksasa dan sungai bawah tanah menantang para pemburu adrenalin.

Siap Mas?”, sapaan Mas Jarod mengagetkan saya. Di depan saya menganga sinkhole dalam seluas lapangan sepakbola. Uji nyali yang kedua rupanya. Kali ini saya tak mau kalah. Setengah gemetaran, tali pun teraih. Descender stop saya lepas perlahan, tangan terasa terbakar. Turun dengan setengah berayun, 15 meter ke bawah. Lima menit menggantung ‘ajrut-ajrutan’ dengan Single Rope Technic, lamanya seperti satu jam. Buat yang bernyali lebih, turun ke gua dapat mengambil jalur rappelling utama. Tersedia lintasan kermantle sepanjang 80 m. Peralatan keamanan di sediakan pengelola dan guide berpengalaman siap memandu. Bahkan tersedia pula guest house yang nyaman di muara Gua Jomblang. Kaki lemas saya pun menyentuh dasar rerumputan. Gua yang unik, dasarnya ditutupi pepohonan berbatang keras. Menyulapnya bak hutan tropis mini. Saya berjalan pelan di atas lumut basah. Menuju utara, jalur menyeruak ke dalam rongga raksasa Grubug. Ruangan alami ini berukuran tinggi 80 m dan lebar 50 m. Sorotan headlamp menjadi panduan langkah kaki. Ada perasaan deg-degan karena gua ini menyimpan sejarah kelam. Dahulu, ratusan korban pembersihan anggota PKI dieksekusi mati, dan dilempar ke dasar gua begitu saja.

Lepas dari chamber raksasa, saya berhenti dan ternganga. Di depan mata tersaji salah satu dari pemandangan bawah tanah terindah yang pernah saya saksikan. Puluhan rol menyilaukan jatuh menghunjam. Walau sudah diberi tahu sebelumnya, tapi tetap saja kali ini sungguh istimewa. Bonus kilatan rol berhamburan dimana-mana. Tak lama memang, lima belas menit saja. Lalu semua rol bergabung menjadi cahaya besar yang diffuse. There goes the main course, kami habiskan sisa waktu turun ke dasar paling bawah. Segar dan jernihnya air kali Suci mendinginkan jempol tangan saya yang kram. Konon, aliran sungai bawah tanah ini tembus puluhan kilometer hingga ke Laut Selatan. Belum ada yang berani mencoba membuktikannya tentu.

Nanggung, saya sudah terlanjur terdampar di tengah-tengah Gunung Sewu. Petualangan saya teruskan ke ujung timur. Dua jam lamanya, dan Pacitan adalah kota yang tak pernah mengecewakan saya. Terlepas dari posisinya yang agak terpencil, daerah ini luar biasa. Jalanan mulus, sepi dan penduduk nan ramah menjadi daya tarik tersendiri.  Menjadi bagian dari Geopark Gunung Sewu, sebenarnya kabupaten ini sudah duluan ‘mendeklarasikan diri’. Dengan tagline Negri Seribu Satu Gua, konsep pariwisata dibangun. Infrastruktur diperbaiki, walau terkesan perlahan, tetapi perubahannya tersaksikan. Apalagi, Pacitan dianugrahi dengan 12 buah geosites. Terbanyak, bahkan dibandingkan dengan Gunung Kidul sekalipun. Geosites gua-gua kapur tersebut menurut ahli arkeologi, ditengarai menjadi rumah nyaman bagi manusia purba. Bahkan konon, populasi Pithecanthropus Erectus di Pacitan sedemikian banyaknya sehingga habitatnya layak dikategorikan kelas ‘kota metropolitan’.

Dua buah gua berdekatan terkenal pun menarik langkah saya. Gua Gong, sudah ditemukan semenjak 7 dekade lalu namun baru popular pada awal millenium kedua. Stalagtit dan stalakmitnya luar biasa indah dan macamnya. Sempat diklaim sebagai salah satu yang terindah di Asia Tenggara. Hingga kini, gua yang konon mengeluarkan suara dendang musik gamelan misterius di malam tertentu itu masih menjadi daya tarik wisata utama Pacitan. Sementara 15 menit di utaranya, Gua Tabuhan menjadi obyek pelengkap. Tak begitu indah memang, dan cendrung sepi. Namun, di sini saya menyaksikan atraksi permainan lagu dengan stalagmit sebagai media nadanya. Tak heran jika nama tabuhan pun disematkan. Alunan lagu campur sari Manthous (alm) hingga musik dangdut ala Evie Tamala pun menggaung.

Terus ke selatan, kali ini destinasi tersohordunia saya sambangi. Jalanan sempit nan jelek, aspal berlubang, tak menyurutkan laju kendaraan. Tak apa lah, semakin susah dijangkau semakin eksotis. Salah satu geosites pantai ini memang tak tersohor di ranah domestik. Tapi, Bruce Irons, peselancar nomer wahid dunia, telah mencicipi kedahsyatannya. Gayanya menaiki ombak terpajang di cover majalah Surf dan Waves. Menjadi barometer baru, bahkan di masa sepi turis, mata saya masih bisa melirik kehadiran belasan bule di Watu Karung. Khas peselancar tentu, mereka prefer untuk stay lama di suatu pantai ketimbang kerap berpindah. Pantai sepi ini tersusun atas pasir putih, karang keras dan julangan batu kapur. Sebuah pulau karang besar bertebing curam di timur sepertinya menjadi tahanan air laut yang dominan. Akibatnya, ombak membesar di sampingnya.  Terciptalah spot tunggu favorit para peselancar di atas surfboard dan bodyboard. Ombak hanya mereda di kala air surut. Saat pasang, hempasan ombak setinggi 4 meter datang menggila. Menerpa kencang dan konstan, laksana surga peselancar.

Sesungguhnya, isi Gunung Sewu tak hanya melulu batu kapur. Di bagian barat segmen Gunung Kidul, kita bisa menemukan sebuah lanskap menawan. Tersusun atas batu breksi vulkanik, Bukit Nglanggran yang dulunya berasal dari aktivitas magmatik gunung api purba menghasilkan pemandangan yang tak biasa. Julangan boulder raksasa bercorak abu-abu terlihat kontras dengan lingkungan sekelilingnya. Sementara itu di Pacitan, tak kalah menariknya, terdapat juga sebuah formasi litologi sedimen unik. Bebatuan sedimen klastik ini diendapkan pada lingkungan laut kala ratusan juta tahun yang lalu. Di tengahnya, kadang tersisipkan lapisan lain yang menarik. Keunikan ini tak ditemukan di daerah lainnya. Dari litologi sisipan ini lah asal-muasal batu permata yang terkenal khas Pacitan. Tipe-tipe batu akik jenis chalcedony seperti Red Baron, Golden Supreme ataupun Supreme Sunrise menjadi buruan kolektor. Bahkan, harga jual sebuah kalsedon merah Red Baron bisa mencapai senilai sebuah Avanza bekas, fantastis. Pamor batu akik di daerah ini tak lekang oleh waktu. Walau demam batu akik nusantara telah berlalu, eksistensinya tetap tak tergoyahkan. Kadung tercatat sebagai salah satu pusat produsen batu akik nasional, Pacitan terus berbenah. Berbagai akik daerah lain seperti obsidian, chrysoprase, chrysocolla dan amethyst didatangkan. Semuanya untuk melengkapi koleksi akik lokal. Selain tersebar pada desa sentra pengrajin tradisional, batu akik indah ini bisa kita temui dijajakan di berbagai lokasi wisata yang ada.

Terjepit di tengah, nama besar segmen Wonogiri seolah tenggelam. Memang, secara fakta, segmen bagian tengah Geopark Gunung Sewu ini tak setenar kawan-kawannya. Namun walau hanya memiliki 7 buah geosites, Wonogiri tetap mencoba menggebrak. Bermodalkan lanskap dan variasi litologi karst yang paling lengkap, strategi jitu dieksekusi. Saya pun menginjakkan kaki di sebuah museum karts dunia. Dengan senilai 21 milyar, museum tematis ini adalah yang terbesar dan terlengkap se Asia Tenggara. Sudah sewindu lamanya, museum yang berada di sekitar kumpulan utama geosites ini melengkapi eksistensi sebuah makna geopark secara utuh. Di barat dan timur, wisatawan dimanjakan oleh keindahan gua bawah tanah, pantai berpasir putih, air terjun dan lanskap yang menawan. Namun, di sini lah pemahaman mendalammengenai Geopark Gunung Sewu dibangun. Bagian dalamnya dilengkapi dengan display tiga dimensi menarik dan layar interaktif. Hampir seluruh tipe karts dunia dan nusantara disajikan dalam dengan komprehensif. Dengan konten yang menarik, semua usia, tua-muda pun teredukasi. “Lumayanlah Mas, setiap tahun ada lah sekitar 80 ribu pengunjung berdatangan, dan ilmuwan peneliti pun selalu bertambah’, ujar Pak Anton, sang kepala museum. Yang mengagumkan, sinergi dengan penduduk sekitar, tambang tradisional batu kapur pun banyak ditutup. Beralih ke usaha diversifikasi, pengolahan batu alam lebih difokuskan kepada pembuatan batu ukir. Less material but higher value, paling tidak kerusakan alam dapat diperlambat.

Puas sudah rasanya menyambangi sudut geopark dari pojok ke pojok. Di penghujung waktu, tepat sebelum meninggalkan segmen Gunung Kidul, roda kendaraan saya belokkan ke Bobung. Tak jauh dari Bukit Nglanggran, Desa Wisata ini menarik karena memiliki sentra kerajinan topeng kayu. Setengah abad yang lalu, topeng Bobung dibuat untuk konsumsi seniman tari semata. Topeng dibuat sesuai pesanan, untuk kalangan terbatas tentu. Namun, seiring dengan tuntutan zaman dan kualitas pembuatan yang unggul, topeng gaya kontemporer pun mulai bermunculan. Guratan tangan pengrajin layaknya seniman ulung. Kayu kering diubah menjadi karya seni kelas tinggi. Seni batik yang indah pun diaplikasikan ke media yang tak lazim. Dari wajah polos, bertransformasi warna dan motif, semakin memikat hati.  Tak heran jika kerajinan Bobung mendunia. Negara-negara di Asia, Amerika dan Eropa menjadi langganan ekspor tetap. Pak Sujiman, adalah salah seorang perintis seni topeng Bobung. Dari tangannya pula, ratusan pengrajin lain tumbuh berkembang. Para pemuda Bobung yang dahulu berbondong-bondong merantau, sekarang lebih memilih untuk kembali. Desanya memberikan harapan besar. Kesejahteraan tak perlu jauh-jauh di raih ke rantau orang.

DETAIL Geopark Gunung Sewu

Rute :

Geopark Gunung Sewu terhampar luas ke dalam tiga kabupaten. Lokasi terdekat dan paling mudah dijangkau adalah segmen Gunung Kidul. Wonosari, ibukota kabupaten, dapat dijangkau dengan berkendara satu jam ke arah timur Jogjakarta. Sedangkan dua segmen lainnya, lebih gampang dicapai dari kota Solo, Jawa Tengah. Segmen Wonogiri berjarak sekitar satu setengah jam ke selatan sedangkan segmen Pacitan dapat ditempuh dengan menambah waktu perjalanan satu setengah jam lagi.

Kendaraan umum sangat terbatas dan tidak meng-cover seluruh area. Karena lokasi wisata tersebar ke segala penjuru, membawa kendaraan sendiri adalah opsi terbaik. Beberapa sudut daerah sulit dijangkau dengan roda empat, sehingga roda dua dapat  menjadi pilihan. Sensasi jalanan berkelok dengan segarnya hawa pegunungan di daerah pesisir cukup menggoda.

 

Penginapan :

Jika ingin mengeksplorasi mendalam tentang Geopark Gunung Sewu, menginap di sekitaran kota Wonosari adalah pilihan yang tepat. Hotel Orchid yang terletak di jalan Baron dapat dicoba karena lokasinya yang dekat dengan pusat kota. Namun, pengalaman menginap paling seru tentu di Jomblang Resort (+62 811 117 010) yang tepat berada di tengah alam nan asri. Untuk menjangkau sisi timur geopark, hotel Prasasti (+62 357 881178 ) yang terletak tepat di jantung kota Pacitan adalah pilihan yang sempurna.

Tempat Makan :

Terrace Petruk menyajikan menu masakan khas Gunung Kidul, seperti beras merah dan lombok ijo. Demikian juga beberapa rumah makan tradisional yang tersebar di Wonosari. Panganan lokal dari parutan singkong seperti thiwul dan gathot patut dicoba. Ikan segar bakar dan kepiting dapat ditemui di pantai Baron dan Ngrenean. Kuliner luar biasa yaitu lobster, dapat dipesan di rumah penduduk sekitar pantai Timang. Jika tak memiliki pantangan, kuliner nyentrik berupa belalang (walang) goreng nan gurih dapat dijumpai dijajakan di pinggir jalan. Namun, sajian teh tubruk kental hangat dengan gula batu paling asyik dinikmati malam hari di Bukit Bintang, daerah Pathuk. Nuansa kerlip lampu kota Jogja di kejauhan membuat suasana menjadi romantis.

Olahan serupa variasi thiwul pun dapat dinikmati di Pacitan. Yang membedakannya, tambahan urap dan terong pedas menggoda bersandingkan ikan tuna bakar. Di masa tertentu, thiwul Pacitan dapat dinikmati dengan lauk ikan kelong, alias anak ikan hiu kecil. Lokasi makan yang memiliki pemandangan indah adalah Rumah Makan Bu Gandhos, pantai Tamperan, lima menit dari pusat kota. Pemandangan apik dari dermaga dan Pantai Teleng Ria yang dibingkai oleh Teluk Pacitan dapat disaksikan dari tempat tersebut.

Tempat Belanja :

Di kota Wonosari terdapat warung Gathot dan Thiwul Yu Tum (http://gathotthiwulyutum.com) yang cukup terkenal. Tak hanya makanan basah dari singkong, di sini juga menyediakan makanan unik walang goreng dan rengginang. Sedangkan di pantai Baron dan Kukup kita bisa membeli cemilan laut seperti udang dan cumi goreng, keripik rumput laut dan hiasan berbasis kerang laut. Sedangkan kerajinan tangan seperti topeng batik dapat dibeli di desa Bobung.

Di Pacitan, banyak terdapat olahan ikan tuna yang layak dijadikan oleh-oleh. Mulai dari tahu, bakso, hingga kerupuk dapat dibawa dengan harga murah. Lokasi oleh-oleh tuna ini tersebar di daerah dermaga Teleng Ria.

 

Aktivitas :

Geopark Gunung Sewu menawarkan kegiatan wisata yang lengkap. Mulai dari kegiatan ringan seperti bersantai di pantai atau yang sedikit menantang seperti mendaki bukit, menyusuri sungai bawah tanah atau surfing dapat dilakukan. Bahkan, kegiatan sport tourism yang ekstrem seperti caving atau rock climbing pun sangat dimungkinkan. Pastikan peralatan keamanan tersedia dengan baik untuk aktivitas-aktivitas yang memacu adrenalin. Edukasi mengenai karst dan geopark dapat ditemui di Museum Karts di daerah Pracimantoro.

 

Menikmati Sensasi Teh Eksklusif Kualitas Premium Kayu Aro

Posted in Jalanjalan with tags , , , , on June 6, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Desember 2015)

Sluuurp !”, bunyi keras sruputan secangkir teh terdengar. Mata Sang Penikmat Teh, Stefan, sampai merem-melek. ABG bule blasteran Jerman-Tiongkok yang menghabiskan masa remajanya di Singapura ini tampak nikmat sekali mencicipi bergelas-gelas teh premium dari Kayu Aro. Teh kualitas nomer satu ini diekspor secara ekslusif ke luar negri, dimana para konsumen loyalnya begitu menghargai cita rasa dan aroma khas yang terbangkitkan. Lidah saya sendiri, tak sanggup merasakan nikmatnya teh mahal tersebut. Pasti karena sudah berpuluh tahun termanjakan oleh aroma dan rasa kuat teh tubruk nasgitel khas Jawa yang bagi saya tak ada duanya.

 

Kebun Teh Terluas di Dunia

Membentang seluas 3.000 kali lapangan bola ukuran paling besar, tak pelak lagi, Kebun Teh Kayu Aro ternobatkan menjadi salah satu kebun teh terluas di dunia dan juga salah satu yang tertua di Indonesia. Kita bisa saksikan saat berdiri di tengah kebun teh, sepanjang mata menyapu hanya terpandang hamparan hijaunya daun nan segar itu. Hanya di sisi utara sajalah kita bisa seolah-olah melihat batas perkebunan Kayu Aro, yaitu julangan Gunung Kerinci yang merupakan gunung api tertinggi di Indonesia (3.805 mdpl). Denyut nadi masyarakatnya pun sangat tergantung pada ritme perkebunan ini. Setiap pagi, ratusan pekerja teh melewati jalanan utama desa Kersik Tuo dengan kendaraan roda dua hingga roda empat. Konon dahulu, beberapa dekade silam, kita masih bisa menyaksikan rombongan pedati kayu beriringan mengangkut pekerja menuju perkebunan. Sungguh suatu pemandangan klasik pastinya namun sayang sudah tergerus oleh kemajuan zaman.

Saat Belanda membuka perkebunan ini, para pekerja didatangkan dari Jawa sebagai kuli kontrak. Seiring dengan bertambahnya populasi, para pendatang ini telah melalui tiga generasi dan proses asimilasi berlangsung dengan baik. Walau dimana-mana kita masih mendengar bahasa Jawa marak digunakan, para keturunan pendatang ini juga fasih berbahasa Kerinci. Demikianlah, kondisi yang harmonis ini berjalan hingga puluhan tahun. Dan ternyata, beberapa orang yang saya temui banyak yang berasal dari seputaran Yogyakarta dan Jawa Tengah. Berbicara dengan mereka seolah melemparkan saya kembali ke suasana nostalgia kampung halaman, yang notabene terpisah jarak ribuan kilometer jauhnya.

 

Menuju Pabrik Teh Hitam

Tanaman teh yang hidup di sini konon berasal dari daratan India, Assam. Saat ini, diyakini bahwa kualitasnya masih terjaga seperti saat aslinya dahulu. Teh hitam atau teh ortodox begitu namanya, terkenal dengan rasa dan aroma yang khas sehingga selain diminum langsung, digunakan pula sebagai bahan campuran utama. Terletak di pinggir jalan raya, bangunan di Bedeng Delapan bernuansa kuno tersebut pasti menjadi magnet di mata para pelintas jalan. Kompleks bangunan kayu kuno nan menjulang itu tersebar dalam area yang luas. Di pabrik milik PT Perkebunan Nusantara VI ini lah proses produksi teh hitam itu dimulai hingga bermuara ke Eropa, Rusia, Arab, Amerika Serikat dan tak ketinggalan pula negara-negara Asia Tengah. Saking ekslusifnya, produk Kayu Aro ini akan sulit kita temukan di pasar domestik, bahkan di kawasan Kerinci sekalipun. Namun, di beberapa lokasi seperti beberapa warung atau bahkan toko perlengkapan outdoor, kita masih bisa menemukan produk teh dengan label ‘Kayu Aro’.  Cukup menarik tampilannya, berupa teh celup dan bubuk yang dikemas dengan ukuran kecil hingga besar. Entahlah, apakah memang teh yang sama atau bukan saya tidak paham, apalagi sampai berbicara tentang kualitas khas-nya itu.

 

Proses Pembuatan

Parkir melalui pintu taman samping pabrik, kami pun melangkah masuk ke halaman. Tampak pasangan muda yang sedang melakukan foto prewedding di sana. Lokasi pabrik ini memang sangat cocok, kita bisa memilih tema fun dengan latar belakang bunga-bunga warna-warni di taman, atau tema vintage dengan mengandalkan bagian pabrik yang kuno. Dan, sepertinya kami cukup beruntung, karena diizinkan oleh mandor di sana untuk menyaksikan proses pembuatan teh legendaris ini. Tidak semua orang boleh masuk dan melihat-lihat, tentu saja untuk menjaga kualitas dari produk teh tersebut.

Daun teh yang terpilih dihampar di atas bak serupa para-para. Yang unik, proses ini diiringi dengan pengurangan kandungan air melalui aliran udara panas  yang dihembuskan dari bawah. Beberapa pekerja bertugas membolak-balik teh agar layunya merata. Daun teh lalu diangkat dengan lori gantung memasuki mesin penggilingan. Cukup menarik sebenarnya bahwa seluruh proses hanya melibatkan sedikit pekerja, dan banyak mengandalkan mesin-mesin mekanis. Produk teh orthodox ini berbeda dengan produk teh hijau, sehingga proses selanjutnya diangin-anginkan dan difermentasi. Setelah dikeringkan atau ‘digoreng’, warna hitam khas teh tersebut pun diperoleh. Hebatnya, mesin yang ada sanggup memisahkan bubuk teh hitam sesuai dengan mutu tertentunya.

Teh lalu dikemas dalam kantung kertas berukuran 55 kg. Cukup besar jadinya, jauh lebih besar dari ukuran kantung semen. Yang menarik, proses pemadatan teh dalam kantung dilakukan manual. Seorang pekerja akan menaiki kantung tersebut dan menginjak-injak dengan kakinya. Persis seperti orang yang sedang menari sajojo. Produk bubuk teh yang mencapai 5.500 ton setahun ini lalu dikirim melalui jalur laut dengan diangkut terlebih dahulu menggunakan truk berukuran 30 ton. Tentu saja segala proses tersebut harus melalui proses quality control yang terakhir, yaitu pengujian rasa dan aroma.

 

Rasa dan Aroma Berkualitas

Beruntung dua kali, sepertinya itulah ungkapan yang cocok buat kami. Tak dinyana, kami pun ditawarkan kembali untuk mencicipi teh Kayu Aro. Tawaran langka yang tidak akan pernah kami tolak, dan kami pun sudah duduk manis mengitari sebuah meja di serambi pabrik.

Klasik, itu lah kesan penyajian teh yang kami peroleh. Teh hijau dan teh hitam disajikan dalam wadah porselen putih. Rasa terbaik didapat dengan menyeduh teh dengan air mendidih, namun tidak boleh terlalu lama. Gula dipisah dan teh tambahan disediakan dalam teko yang bermotifkan sepasang meneer Belanda. Kebulan uap teh panas menyeruakkan aroma yang semakin hot di siang itu. Mungkin, akan lebih lengkap rasanya jadi Londo beneran jika ada campuran krim susu dan snack kering tersedia. Tapi yang ada pun sepertinya sudah cukup nikmat. Barometer saya apalagi kalau bukan si Stefan yang tampak berkali-kali menyeruput teh dan kembali menuang ulang dari teko porselen itu. Lidahnya masih original bule, sementara kami sudah lama terkontaminasi.

Berpamitan, kami pun mengucapkan terima kasih kepada sang mandor. Dari awal pria paruh baya ini telaten menemani kami, menjawab pertanyaan-pertanyaan kami baik yang serius ataupun yang kocak. Gurat di wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar orang lapangan. Selain keramahannya, kami pun salut akan semangatnya yang tak kalah dengan anak muda. Tampak sekali pancaran kebanggaan di wajahnya sebagai karyawan PTPN. Mudah-mudahan rasa ini lah yang terus menggerakkan denyut nadi masyarakat di sekitar Kebun Teh Kayu Aro yang mengesankan ini.

Boks–

Tips

  • Kayu Aro dapat ditempuh dari kota Padang dengan 8 jam perjalanan darat. Sepanjang perjalanan kita akan dihibur dengan pemandangan yang indah dan juga hamparan rumah-rumah adat Minangkabau yang masih terpelihara. Demikian pula memasuki daerah Kerinci, masih banyak rumah adat Kerinci yang tampak dari pinggir jalan. Akses jalan cukup baik dan banyak terdapat warung sekelas mini market sederhana di sepanjang jalan. Jalur lain dapat juga ditempuh melalui kota Jambi, dengan lama waktu perjalanan serupa.
  • Kegiatan utama di daerah ini adalah wisata kebun teh, baik sekedar sightseeing ataupun mengikuti tur pabrik. Selain itu beberapa makanan setempat pun layak dicoba seperti dendeng batoko, ataupun lemang asli Kerinci. Selain itu, kita juga dapat menemukan dodol kentang sebagai produk olahan Kerinci. Jika fisik memungkinkan, kita dapat mendaki Gunung Kerinci, 3.805 m dpl dengan lama perjalanan pergi pulang dua hari. Opsi lain yang lebih ringan adalah trekking ke Danau Gunung Tujuh, atau hunting burung langka. Bahkan, beberapa kelompok penggemar satwa langka harimau Sumatra pun menjadikan Kayu Aro sebagai base

Menggapai Puncak Tertinggi Sumatera

Posted in Jalanjalan with tags , , , on June 4, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Desember 2015)

“Sudah lah, yang penting pelan-pelan saja, Insya Allah sampai kok di puncak”, demikian ujar Lena di dalam sebuah chat grup saat sedang menyusun itinerary pendakian. Saling menghibur dan menyemangati, usia kami yang tak terlalu muda lagi memang menjadi salah satu ganjalan besar. Dengan gelar the highest volcano in Indonesia, Gunung Kerinci cukup menciutkan nyali kami, bahkan mungkin bagi pendaki umum lainnya. Kami berempat, Abi, Rahmat, saya sendiri dan Lena sebagai satu-satunya cewek dalam rombongan sebenarnya baru saling mengenal. Berawal dari posting ajakan jalan saya ke Kerinci di milis indobackpacker,  kami pun menguatkan tekad menyatukan rasa untuk bertualang ke Puncak Indrapura, 3.805 m dpl.

 

Setelah melalui latihan fisik mandiri selama dua bulan, tak terasa kami pun sudah terbang menuju Padang. Perjalanan selanjutnya tentu saja didominasi dengan kelak-kelok pemandangan apik dan hamparan rumah adat Minangkabau nan memukau. Tak ketinggalan gempuran house music dengan nada ajeb-ajeb khas mobil travel luar kota. Memekakkan telinga. Sepanjang jalan menuju perbatasan luar Sumatera Barat, kami memastikan dan menjadi yakin bahwa memang tidak ada yang namanya ‘Rumah Makan Padang’ di sana.

Tak terasa mentari pun sudah condong ke barat. Sinar emasnya menyorot hamparan perkebunan teh, sepanjang jalan dan sepanjang mata memandang, menjadi lanskap yang tak biasa. Puncak Kerinci berdiri dengan angkuhnya, menjulang tertutup awan. “Selamat datang di Kersik Tuo,” ucap saya dalam hati. Tiba-tiba, lirih terdengar sapaan penduduk setempat. “Monggo Mas, pinarak!” Suara lirih dari depan warung kelontong mengagetkan saya, yang tak asing dengan kata-kata itu. Rupanya itu suara Pak Suroto, warga setempat yang berasal dari Godean, Yogyakarta.

Pak Suroto telah menjalankan usahanya di Kersik Tuo selama puluhan tahun. Selain Pak Suroto, ada Mas Wandi dari Beran, Sleman, dan beberapa penduduk Kersik Tuo lain yang cerita punya cerita berasal dari Purworejo, Gunung Kidul dan Muntilan. Keberadaan mereka di sana sudah cukup lama dan turun temurun. Kisahnya berawal dari zaman pemerintahan Belanda. Ketika membuka perkebunan teh, Belanda mendatangkan tenaga kerja dari Jawa. Sebagian datang lewat program kerja paksa, tak terkecuali di Kersik Tuo. Selain itu, hal serupa bisa kita temui di perkebunan teh Pagar Alam di kaki Gunung Dempo, perkebunan teh hitam di Sidamanik, dan beberapa lokasi perkebunan teh lain di Sumatera. Telah melewati tiga generasi, para keturunan pekerja teh Kersik Tuo ini sebagian besar masih mempertahankan bahasa ibu dengan baik. Tak heran, jika kebetulan kita naik angkot, suasana riuh-rendah dengan canda tawa khas Jawa sering membuat kita tak sadar bahwa sedang berada di salah satu pelosok pulau Andalas. Dan, gara-gara bertemu ‘tetangga rumah’ ini, saya mendapat diskon saat membeli jaket gunung di salah satu toko outdoor di sana. Lumayan!

Sejujurnya, Kersik Tuo tak seperti gambaran benak saya sebelum ini. Bukan apa-apa, yang namanya daerah basecamp pendakian gunung pastilah sepi dan sulit akses. Namun, kota kecamatan ini sangatlah ramai. Kendaraan tak henti hilir-mudik dan toko kelontong sekelas mini market gampang kita temukan. Dahulu kala, menurut cerita Pak Darmin, para pekerja kebun teh berangkat dengan gerobak kayu. Jumlahnya puluhan dan memenuhi jalan di tengah kebun. Namun zaman telah berganti, saat ini gerobak kayu para pekerja digantikan oleh mobil pick up terbuka, truck, ataupun sepeda motor.

Lahan kebuh teh tertua di nusantara dan terluas di dunia ini memang menjadi nadi penggerak. Denyut kehidupan masyarakatnya bermuara pada Pabrik Teh Kayu Aro. Di sini, teh nomer satu kualitas Eropa diracik dan diekspor. Bahkan, saya sendiri kesulitan menemukan produk premium yang dijual di warung sekitar. Maka, begitu ada kesempatan berkunjungan ke pabrik Teh Kayu Aro, saya pun tak melewatkan kesempatan menyeruput the premium itu. Tiga gelas seduhan saya tenggak, salah satunya adalah teh hitam itu. Namun entah kenapa, lidah saya tak bisa merasakan nikmatnya minuman premium itu. Sementara Stefan, ABG bule blasteran Jerman-Tiongkok yang besar di Singapura, merem-melek di depan saya saat nyruput teh hitam.  Momen ini mirip dengan saat saya berkesempatan mencicipi hidangan kopi luwak. Tak terasa bedanya. Pasti karena lidah ndeso saya.

Pendakian pun dimulai

Angin segar berhembus di pagi itu, cuaca cerah. This is it, to be or not to be! Segala macam persiapan yang kami lakukan akan segera diuji. Segala perlengkapan dan logistik kami gendong dalam empat carrier. Kami juga membawa dua tenda stormbreaker. Melangkah pasti, kami mulai menaiki Elf menuju pintu pendakian Kerinci.

Memasuki Tugu Macan, jalanan aspal membelah perkebunan teh mengantarkan kami ke kaki gunung di mana awal pendakian yang sesungguhnya dimulai. Setelah briefing dan pemanjatan doa, dibantu Mas Mono dan Mas Azis sebagai porter, kami pun mulai melangkah. Tenda, peralatan masak dan sebagian logistik berpindah ke punggung kedua porter kami. Hap hap, langkah tegap kami dengan mantap menyantap tanjakan ringan dari Pintu Rimba hingga Pos 3. Jalur sudah menyempit sedari tadi, pepohonan yang lebat di kiri-kanan membuat lelah tak begitu terasa. Saking lebatnya, sinar matahari tak banyak menembus dedaunan, dan batang-batang pohon ditumbuhi lumut tebal.

Lain cerita, pada jalur selepas Pos 3. Jalur ini mulai menanjak dan terasa panjang. Satu-satunya yang masih menghibur kami adalah rerimbunan hutan yang menaungi kepala. Terengah-engah, kami menjejakkan kaki di Shelter 1 pada ketinggian 2.504 mdpl, tepat saat matahari mulai sedikit tergelincir. Tiba sesuai estimasi jadwal, tenaga tua saya masih mampu mengimbangi kecepatan anak muda yang ikut mendaki.

Di Shelter 1 ini suasananya cukup ramai, selain beberapa pendaki yang memang beristirahat siang di sini, dari atas juga turun rombongan lainnya. Tampak beberapa pendaki yang usianya sudah cukup sepuh, namun dengan gagahnya turun dari puncak dengan kecepatan yang masih mengagumkan. Beberapa pendaki luar negri pun tampak duduk bersenda-gurau di bawah pohon rindang.

Lepas dari Shelter 1, jalur kembali semakin menanjak. Keteguhan hati dan kekuatan fisik benar-benar diuji. Terlebih, kami diberi tahu bahwa pada saat bersamaan, ada sekitar 80 pendaki lain yang sedang bergerak menuju puncak. Kami pun memacu ritme, apalagi kalau bukan bertujuan agar bisa sampai duluan di lokasi dan mendapatkan tempat mendirikan tenda sebelum summit attack. Namun medan yang mulai semakin berat memaksa kami beristirahat lebih sering. Segala macam pose istirahat sudah kami coba, mulai dari berdiri menunduk, duduk bersandar hingga berbaring pun telah dijalani, namun recovery nafas terasa lebih lama. Apalagi alasannya kalau bukan ‘faktor U’.

Terus mendaki ke Shelter 2, sinar matahari mulai menguning dan redup. Sadar diri, saya meminta Mas Mono dan Mas Azis untuk berjalan lebih cepat ke Shelter 2. Paling tidak mereka bisa tiba lebih awal dan mendirikan tenda. Keinginan untuk camping di Shelter 3 pun sudah kami buang jauh-jauh. Pukul 5 sore tenda kami mulai berdiri, Alhamdulillah masih kebagian tempat. Saya dan Rahmad, Lena dan Abi dalam tenda masing-masing sementara Mas Mono dan Azis dalam tenda mereka. Malam itu, mi rebus, nasi putih dan sayur sup berserta keripik kentang menghangatkan lambung, mengantarkan tidur tak nyenyak saya. Dengan ketinggian 2.958 m dpl, tenda kami tidak begitu dingin sebenarnya karena suhu masih 13,80C. Namun entah mengapa saya kesulitan tidur walau sudah mengenakan sleeping bag dan aluminum pad. Bulan purnama yang cantik malam itu pun tak kuasa meninabobokan saya yang kelelahan.

Mengejar ketinggalan

Bangun awal, kami harus mengejar ketinggalan target kemarin. Mentari belum menampakkan sinarnya. Setelah sarapan singkat, jalur berupa gua perdu terjal pun kami lalui di dalam kegelapan. Mas Mono menemani kami, sementara Mas Azis menunggui tenda. Kami bersyukur bahwa istirahat di Shelter 2 adalah keputusan tepat.  Jalur antara Shelter 2 dan Shelter 3 rupanya sangat berat. Medan seperti itu tak mungkin bisa kami jalani kemarin dengan fisik yang sudah lelah dan menenteng carrier berat di punggung. Ibarat kata, di jalur itu kaki bisa ketemu dagu. Dan beberapa kali, kami memang harus berpose merangkak agar dapat beringsut naik.

Matahari mulai muncul ketika kami menjejakkan kami di Shelter 3, kami pun terpana dan berhenti sejenak. Hamparan perkebunan teh di sisi selatan dan kilau permukaan Danau Gunung Tujuh yang tersiram matahari menjadi pemandangan mengagumkan. Sudah ada 30-an tenda di sana, dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana dinginnya berada di ketinggian 3.300 mdpl terlebih  menahan gempuran angin malam di area terbuka seperti itu.

Dari Shelter 3, kepulan asap kawah sudah tampak di mata. Jaraknya tinggal 500 meter vertikal. Medan yang harus dilalui semakin seru.  Jalanan menanjak, berbatu, dan gersang. Cukup membuat kaki gemetar. Kepalang tanggung, matahari sudah cukup tinggi dan sinarnya menerangi jalur kami. Kami pun beringsut naik secara perlahan dikala pendaki lain mulai kembali dari puncak. Setiap sapaan mereka yang turun pasti bernada penyemangat. Saya sudah tak bisa membalas dengan kata-kata selain tersenyum lebar. Nafas sudah semakin tak beraturan.

Kira-kira pukul 9 pagi lewat saya baru menjejakkan kaki di puncak, bersama-sama dengan rombongan terakhir pendaki lain. Kawah sedalam 300 meter, menganga dan menyemburkan asap belerang dengan kencangnya. Kami harus berhati-hati karena asap pekat ini sangat berbahaya. Biasanya di atas pukul 10, pendakian ke puncak sudah harus dihentikan. Tebing tegak nan rawan longsor pun menjadi pijakan kami, cukup membuat jantung menciut.

Dari atas ketinggian puncak Kerinci, saya pun terkagum-kagum menyaksikan hamparan hijau hutan perawan Taman Nasional Kerinci Seblat di sisi barat dan utara. Sejauh mata memandang nyaris tak menampakkan tanda-tanda pemukiman. Tak mengherankan jika di sini adalah habitatnya harimau Sumatera. Di kawasan ini pun juga ada legenda hidup mengenai manusia kerdil Kerinci.

Setengah jam di atas, saya mulai turun. Berbeda saat turun dari puncak waktu pendakian Gunung Rinjani dan Semeru tahun sebelumnya, dimana saat itu saya masih mampu berlari-lari kecil ataupun melompat ringan, kali ini saya hanya mampu melangkah perlahan dan sesekali duduk merosot di atas pasir berbatu saat menghadapi turunan terjal. Kedahsyatan Kerinci rupanya bukan untuk main-main. Kapok? Tentu saja tidak, masih banyak puncak-puncak gunung menawan di nusantara ini yang rugi rasanya jika tidak didaki. Saya akan mendaki mereka satu per satu.

 

Menyambangi Nirwana Bawah Laut, “The Diver’s Heaven”

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , , , on January 1, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Juni 2015)

 

“Brak…braak…braaak..!!!,” suara hantaman ombak mengangkat haluan speedboat menciutkan nyali. Mesin tunggal 60 PK meraung tak kalah kerasnya. Lifevest memang melekat di badan, namun mata saya masih melirik pada sebuah jerigen plastik kosong di depan kaki. Untuk survive di laut, mengapung adalah kemampuan mutlak ketimbang keahlian berenang.

 

 

Sepuluh menit berlalu, speedboat sudah mendekati bayang sebuah pulau kecil di depan. Ombak terpecah pulau, angin timur tak berdaya lagi. Hati kami pun tenang. Dengan raungan mesin yang lebih kalem,  kami pun meluncur cepat di atas permukaan air laut yang sangat-sangat tenang.  Serasa melayang di atas danau, nyaris tak berguncang sedikit pun. Setengah jam kemudian, boat dari bahan fiber ini pun menikung tajam, perlahan memasuki area jetty yang dipenuhi dengan rumah-rumah kayu di sekitarnya. Air saat itu sedang surut, saya terpaksa memanjat jembatan naik ke atas. Gemeretak kayu pun mengiringi langkah kaki. “Welcome to Derawan”, bisik saya dalam hati.

 

Gerbang keindahan bawah laut

Pagi itu langit tergantung kelabu, bukan mood yang pas tentunya. Setelah me-recharge badan dengan sepiring nasi kuning hangat plus lauk nan menggoda, saya melangkahkan kaki melintasi kampung. Katanya, di pulau Derawan ini ditinggali berbagai suku bangsa. Sebut saja Bajo, Buton, Bugis, Jawa, dan bahkan konon penduduk dari kepulauan Filipina pun banyak yang datang dan menetap. Perbedaaan itu samar saja kelihatannya karena kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Indonesia dan rumah yang berjejer di kampung berarsitektur serupa. Pasir putih membelah rumah-rumah panggung dari kayu. Sebagian wisatawan memilih berkeliling di atas sadel sepeda.

Gradasi warna biru muda, biru tosca hingga biru tua membayang di sisi pantai. Mendung yang menggila tak menyurutkan pesona terumbu yang membayang di bawah air. Beberapa pengunjung sudah ada yang menjeburkan diri duluan, sementara yang lainnya bersiap-siap. Saya pun tak mau kalah. Hangatnya air laut membuat saya betah, apalagi di bawah saya bertaburan karang yang meliuk-liuk. Ikan beraneka macam dengan gemulai mengitari terumbu hidup. Sebagian bahkan tak peduli dengan kehadiran saya, terus mendekat dan merapat. Lokasi snorkeling di Derawan ini adalah lokasi terdekat yang saya tahu, hanya sekitar 3 menit berenang santai dari pantai. Bahkan, kita bisa memilih untuk terjun langsung melalui jembatan kayu yang sudah tersedia di kiri-kanan. Sisi luar lokasi snorkeling dibatasi dengan pelampung. Lewat dari itu, dasar laut biru kehitaman menunjam langsung ke bawah. Saya bergidik melihat laut tak berdasar terhampar di ujung kaki.

 

Penangkaran tukik dan pari manta

Derawan hanya sekedar pemanasan. Indah memang, namun tentu tak menyurutkan langkah untuk terus mengeksplorasi pulau lainnya. Tak pelak lagi, saya kembali terjebak di dalam speedboat yang bergoyang kuat. Kali ini langit cerah membiru, secerah hati saya tentu. Sepanjang perjalanan, gradasi laut warna biru, hijau dan kombinasinya terus-menerus menemani. Laut mendangkal, terumbu kembali berhamparan di bawah. Saya mendarat di pasir putih Sangalaki.

Walau memiliki keindahan dasar laut yang tak kalah mempesona, pulau kecil yang berjarak dua jam perjalanan dari Derawan ini lebih terkenal dengan habitat penyu hijau yang langka. Di sini, tersedia cottage bagi wisatawan yang ingin menginap. Berkeliling pulau dan menunggu mentari tenggelam memang menarik, namun tentu saja atraksi utama adalah melihat penyu bertelur. Jika beruntung, kita bisa menyaksikan makhluk langka itu kawin. Omong-omong, seumur-umur saya pernah berkesempatan melihat ritual perkawinan sepasang penyu di alam saat berada di Raja Ampat. Mereka berpelukan bergulingan di air, cukup lama seolah-olah sedang menuntaskan serangkaian untaian tarian laut. Selanjutnya, setelah bertelur di tempat rahasia, tukik pun menetas. Ratusan anak penyu yang dilindungi ini pun dapat kita saksikan bergerak secara alamiah menuju laut, dan tentu saja jadi obyek belajar yang menarik. Bosan dengan keindahan pulaunya, kita dapat memilih untuk terjun menyelam. Tersedia selusin lokasi penyelaman tersohor dan jika beruntung kita bisa menyaksikan ikan pari manta, salah satu hewan yang menjadi kekhasan bawah laut Sangalaki.

 

Ubur-ubur tak bersengat

Tak lengkap rasanya bila tak merasakan atraksi menarik di kepulauan Derawan : berenang bersama ubur-ubur! Jangan khawatir, ubur-ubur di pulau Kakaban ini telah berevolusi sehingga tidak beracun. Informasi menarik ini jelas membuat kami jadi tak sabaran tentunya, apalagi Kakaban berada hanya di sebelah Sangalaki. Begitu cepat speedboat tiba di jetty, secepat kami yang bergegas menaiki dan berjalan langsung menuju jantung danau air payau Kakaban. “Stop Mas!”, fin-nya ditinggal di sini saja. Kesian nanti ubur-uburnya mati terhantam, demikian pinta sang penjaga pulau. Memang, untuk menjaga kelestarian populasi ubur-ubur ini, para pengunjung dilarang berenang dengan fin. Bahkan, kita tidak diperbolehkan melompat tiba-tiba ke tengah danau, apalagi mengangkat ubur-ubur dari atas air. Hantaman keras dan dehidrasi air pastinya akan membuat makhluk ringkih itu mati. Peduli dengan kelestarian makhluk langka ini, saya pun sangat berhati-hati di dalam air. Selain menghindari gerakan tiba-tiba, saya pun tidak menyentuh langsung. Berenang sembari serasa terlempar ke alam mimpi. Sensasi di danau berair hijau, dikelilingi ribuan ubur-ubur melayang pelan memang unik. Benar kata orang, saya serasa berenang di lautan cendol!

Jantung surga bawah laut

Terletak paling jauh, Pulau Maratua adalah pulau yang paling menarik. Berjarak tiga jam perjalanan speedboat dari Derawan, Paradise Island berbentuk U terbalik ini memiliki hampir sebagian besar pesona pulau-pulau lainnya. Titik penyelaman-nya luar biasa banyak, 21 tempat! Pari Manta-nya Sangalaki pun ada di sini.  Bahkan, jalur pantai Maratua adalah lokasi bertelur penyu hijau yang paling besar di nusantara. Ingin merasakan sensasi kehidupan pedesaan pinggir laut, saya memilih tinggal di homestay Desa Payung-Payung. Pengunjung sudah tampak lengang, tak seperti Derawan yang hiruk-pikuk. Biarlah, bagi saya, makin sepi makin eksotis.

Minim sarana transportasi, kami menuju sisi timur dengan menyewa sepeda motor. Mesin 4 tak meraung-raung menahan bobot total 160 kg. Jalanan pun bervariasi, bukan aspal mulus tentu. Dari lintasan pasir hingga jalan berbatu kapur pun kami libas. Tiga puluh lima menit, waktu yang terasa lama walau sekedar menahan sakit di pantat, terbanting oleh kerasnya shockbreaker motor yang sudah mati. Parkir di bawah pohon kelapa, kami menuju lokasi snorkeling di pinggir pantai. Sepi pengunjung, kami serasa memiliki pantai pribadi. Betapa tidak, jalur pantai sepanjang 1 km membentang, dan hanya ada kami di situ. Air jernih dan koral membayang. Air laut sedang hangat-hangatnya. Sinar mentari kekuningan di ufuk barat membayang. Puas berenang di tengah, saya merapat ke sebuah cottage.

Walau berdasar pasir, bawah laut cottage ini sangat menarik. Tak berkoral, tak berwarna, dan cenderung keruh. Tetapi, entah mengapa, ikan di sini luar-biasa banyaknya. Bukan saja ikan mungil nan imut yang suka menyelinap di koral, ikan-ikan besar yang pantasnya terhidang di atas piring pun ribuan jumlahnya. Beberapa yang saya familiar seperti jackfish atau ikan bubara, dan ikan tongkol berseliweran kesana kemari. Dengan berbekal sobekan roti, puluhan ikan mengitari tangan saya. Tiga puluh detik, seluruh remah roti pun habis dilahap. Pengen rasanya saya tangkap satu atau dua, sepertinya cocok sekali untuk lauk makan malam nanti. Sayang tangan saya tak segesit gerakan ikan-ikan di laut.

 

Ratusan ekor penyu hijau

Kembali ke desa Payung-Payung saat langit sepenuhnya gelap. Malamnya angin menggila, dermaga tempat speedboat kami merapat pun bergoyang-goyang dihantam ombak. Kami pun memilih beristirahat di homestay, mengisi semua batere hape dan kamera. Maklum, listrik hanya menyala di malam hari. Lewat sedikit dari pukul sepuluh malam, saya sudah terlelap.

Subuh hari, mendung menggantung. Saya yang sudah mengambil kamera dan tripod kecewa, batal lah acara hunting sunrise pagi itu. Satu-satunya yang membuat saya senang, pakaian basah di jemuran samping kering semuanya. Apalagi kalau bukan berkat angin kencang malamnya. Duduk di tepi jetty kayu, mata saya tertumbuk pada ratusan titik hitam membulat di bawah air. Sinar matahari belum mampu menembus awan kelabu, saya meneruskan duduk menikmati semilir angin pagi. Tiba-tiba, saya tersadar jika titik-titik hitam itu bukanlah batu. Walau lambat dan tertutup oleh riak air, ‘batu’ itu bergerak perlahan. Saya pun terkaget-kaget, itu adalah kawanan ratusan penyu hijau!

Memang saya pernah diberi tahu jika di subuh hari, biasanya ratusan penyu hijau akan datang merapat ke pantai. Tapi saya tak pernah menyangka jika kejadian itu terjadi tepat di jetty depan homestay kami. Sulit dipercaya rasanya melihat kawanan penyu dalam jumlah banyak, tersebar di kanan-kiri kami. Saya pun berlari kembali ke dalam kamar, mengambil masker dan underwater housing kamera. Dua penyu paling pinggir saya incar dan saya ikuti. Begitu tinggal berjarak 6 meter, saya pun terjun ke air. Saya berenang mendekat,  menghampiri hati-hati. Tinggal sedikit lagi sejangkauan tangan, senter saya hidupkan, sekonyong-konyong mereka berhamburan kabur. Sekali kibas melesat 3 meter, tak mampu saya kejar. Dan terjun kali pertama itu lah saya berada pada posisi terdekat. Pada puluhan kesempatan lain, jangankan mendekat atau menghidupkan senter, baru terjun ke air pun mereka sudah parno. Mungkin karena sinar mentari sudah membias ke dalam air sehingga kehadiran saya begitu jelas tampak. Mungkin pula mereka pernah mempunyai pengalaman buruk dengan manusia, ah entahlah. Yang jelas, menyaksikan konvoi ratusan penyu di dasar air dangkal adalah pengalaman mengunjungi kepulauan Derawan yang paling berkesan bagi saya.

 

Boks–

Tips

  • Kepulauan Derawan dapat ditempuh dengan mengambil perjalanan udara ke kota Tanjung Redeb atau kota Tarakan. Jika melewati Tanjung Redeb, perjalanan dilanjutkan dengan berkendara mobil selama dua jam menuju Tanjung Batu. Pulau Derawan hanya seperempat jam perjalanan speedboat dari situ. Jika memilih jalur Tarakan, perjalanan langsung disambung dengan speedboat selama 4 – 5 jam.
  • Tidak memerlukan peralatan khusus untuk dibawa, snorkel set dapat disewa di tempat. Namun lokasi penyewaan yang ada hanya tersedia di Derawan, menjadikan pulau dengan fasilitas terlengkap ini adalah pulau wajib pertama yang harus dikunjungi sebelum melakukan island hopping.
  • Jangan lupa bawa makanan ringan kamera tidak banyak penjual makanan yang ada. Lotion sunblock wajib digunakan untuk menahan panasnya matahari Kalimantan. Tentu saja kamera underwater juga disarankan dibawa untuk mengabadikan keindahan bawah lautnya.

Menembus Batu Lubang Boki Moruru

Posted in Jalanjalan with tags , , , , on January 1, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Maret 2015)

Bumi Halmahera memang menawan. Lidah saya sudah menikmati lezatnya kepiting rawa berukuran jumbo, bermain-main dengan kakatua merah yang eksotis nan cerewet, hingga merasakan buah pala olahan lokal yang kecut, pahit dan pedas tumplek blek jadi satu. Mata saya dimanjakan oleh pemandangan alam nan asli dan masih perawan.

Tak banyak daerah saya jelajahi selama seminggu itu. Bukannya saya malas bepergian, namun infrastruktur di sana waktu itu belum baik. Selain ada jalanan beraspal, jalanan pasir dan tanah berbatu juga masih sering ditemui. Bahkan tak jarang jalanan itu sering putus di banyak tempat akibat luapan sungai berlumpur. Amat mustahil bisa ditembus walau dengan sepeda motor sekalipun.

 

 

Di tengah kondisi mati gaya, tiba-tiba seseorang memecah keheningan.“Pak, kitorang main Batu Lubang saja ka? Bagus dia punya ee…, ornamen itu!” Ajakan Taufik langsung mengiang di telinga dan membuat semangat saya bangkit lagi. “Apa pula kira-kira ini ya, Batu Lubang?”pikir saya. Saya pun sedikit frustasi mencari info tentang Batu Lubang itu lewat internet. sinyal GSM pun sangat terbatas. Tak banyak informasi yang saya dapatkan lewat smartphone saya yang minim signal. Jadi, sumber informasi yang terbaik  adalah secara verbal. Taufik pun memperlihatkan sebuah gambar kalenderyang sudah expired dua tahun lalu. “Ini Batu Lubang,” katanya. Melihat gambar ornamen Batu Lubang itu pun, saya putuskan untuk pergi ke sana.

Sewa ketinting

Matahari sudah mulai naik ketika kami mulai beranjak menuju Batu Lubang dari desa Sagea di Halmahera Timur. Saya duduk anteng di atas ketinting kayu Pak Musa, bermesin Robin 5 PK.  Suara mesin tua penuh karat itu cempreng. Bersama kami, turut ikut beberapa orang lain. Ada enam batang obor kami bawa sebagai sumber cahaya jika kelak dibutuhkan. Selama perjalanan, Berbagai cerita seram mengenai Batu Lubang pun berseliweran di kuping saya. Sebodo amat lah, kapan lagi saya bisa mengunjungi sebuah tempat wisata tak terkenal di hulu sebuah sungai deras di jantung Halmahera?

Sepuluh menit menuju hulu, arus sungai Sagea makin bergolak. Dasar sungai yang berbatu pun mulai tampak. Air sungainya jernih sehingga saya bisa melihat bebatuan yang ada di sekitar satu atau dua meter di bawah lunas ketinting. Beberapa batu seukuran permukaan meja tiba-tiba muncul di tengah sungai dan membuat arus berputar di sekelilingnya.

“Waduh, bahaya ini, bisa-bisa prahu kandas,” pikir saya. Kami berharap melewati sungai dengan tenang, bukannya mau semi arung jeram. Melawan arus yang semakin deras, mesin ketinting pun semakin meraung, dan tak kalah tangguh melawan tendangan arus dari depan. Tapi tiba-tiba, “Dhuaak!”. Ketinting kami kandas, mesin pun mati seketika. Lebih heboh lagi, perjuangan menghidupkan mesin tua itu lima kali lebih berat daripada melepaskan perahu dari jepitan batu besar di dasar sungai.

Dua kali tersangkut ke dasar sungai, sehingga kami pun harus berjalan kaki basah kuyup menembus arus sejauh 200 meter, ketinting pun akhirnya memasuki  aliran sungai di antara dua celah tebing menjulang. Suasananya mirip dengan Cukang Taneuh atau Green Canyon di kawasan Pangandaran. Namun suasana di sini membuat saya keder karena tebingnya lebih rapat dan gelap. Sungainya pun tampak sangat dalam dengan arus berputar di bawah.

Hilang ditelan bumi

Ketinting terus melaju hingga masuk ke celah tebing hingga masuk ke dalam sebuah batu berlubang. Air dari atas terus menetes membasahi kami. Sekonyong-konyong, sungai lebar berair dengan ajaibnya lenyap ke bawah tebing. Kami pun seakan hilang ditelan bumi. Lampu senter tak bisa menembus lorongnya yang teramat dalam. Obor pun kami hidupkan. Cahaya oranye tua pun menerangi dinding dan dasar gua. Bau minyak tanah menyeruak bercampur dengan bau kotoran kelelawar yang menyesakaan nafas. Kehadiran nokturnal bersayap ini memang  di luar dugaan. Kami tak siap dengan masker untuk sedikit menangkal bau kotoran kelelawar.

Mendarat di sisi lantai gua, kami berjalan perlahan. Sendal dan sepatu sudah kami lepas sedari tadi. Lumpur menggenang di lantai gua. Tebalnya bisa sejengkal tangan orang atau sekitar 20cm-an. Tak begitu jelas asal usul lumpur itu. Apakah dari tanah atau tumpukan kotoran dari ribuan kelelawar yang menggantung di atas. Beberapa kali kaki saya terperosok ke lubang-lubang batu kapur. Rasanya nyeri sekali. Dua orang berjalan di depan, membuka jalan dan mengecek posisi lubang yang terlihat mata. Semakin masuk ke dalam, dinding gua semakin membuat saya terkesima. Pendaran cahaya seakan menyiba relief-relief alami pada dinding gua.

 

Tak hanya sekadar kehadiran stalaktit dan stalagmit klasik layaknya pilar-pilar raksasa dalam sebuah gua, Batu Lubang terkenal pula akan beberapa stalagmit yang berbentuk unik. Saya pun jongkok dan mengamati sebuah batu yang membuat mulut berdecak kagum. Bentuknya persis seperti kepala orang yang akan melakukan ruku’. Batu itu dikenal sebagai Batu Sembahyang oleh warga Sagea.  Namun, bagi mereka bukan batu itu obyek utama di gua itu. Obyek paling menarik adalah batu-batu kristal putih yang berhamburan di dalam.

Biasanya kristal yang ada di dalam gua kapur adalah bentukan dari mineral-mineral kalsit atau dolomit. Walau bukan barang baru, tetapi pancaran mineral itu jika terkena cahaya sungguh menawan. Apalagi jika pendaran cahaya itu kita amati dalam lingkungan gua yang gelap. Namun sayang sekali, obyek utama di dalam gua itu tak sempat kami capai. Walaupun sebenarnya saya sungguh sangat penasaran dengan keberadaan batu-batu kristal itu, saya terpaksa menyurutkan langkah menjelajah gua lebih jauh lagi. Alam sadar kami mengatakan, tak mungkin menembus gua dengan peralatan yang tidak memadai. Nyawa bisa menjadi taruhannya. Kondisi gua sangat tidak layak dijelajahi dengan kondisi seadanya. Selain kesulitan penerangan, hawa amoniak semakin kuat dan membuat pusing. Asap obor pun terlihat berputar-putar di situ-situ saja pertanda sirkulasi udara yang amat buruk. Belum lagi kehadiran kalajengking dan laba-laba beracun di celah-celah dinding, dan kondisi psikologis penunjuk jalan yang mulai tampak ‘menyerah’. Cerita-cerita gaib tentang ‘sosok penunggu gua’ pun mau tak mau ikut terngiang di kepala. Saya pun mengambil keputusan dan membatalkan perjalanan menyusuri gua lebih jauh lagi.

Walau tak sempat menyusuri gua dan melihat langsung batu-batu kristal, perjalanan itu sangat terkenang. Setelah meninggalkan Halmahera dan kembali ke Ternate, saya browsing di internet untuk mencari tahu tentang gua itu. Saya pun baru tahu, ternyata nama asli Gua Batu Lubang adalah Boki Moruru. Memiliki arti‘putri yang menghanyutkan diri. Konon nama gua ini diambil dari leganda sang putri.

 

Boks–

Tips

  • Desa Sagea dapat ditempuh dengan mengambil penerbangan ke Ternate terlebih dahulu. Dari Ternate, perjalanan dilanjutkan dengan menyebrang setengah jam ke Sofifi, terus ke Weda yang ditempuh selama dua-tiga jam perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat. Desa Sagea dapat ditempuh dengan kendaraan sewa atau ojek dalam waktu dua jam perjalanan dari Weda. Boki Moruru dapat ditempuh selama dua jam perjalanan ketinting ke hulu sungai Sagea.
  • Demi perjalanan yang lebih aman dan nyaman, bawalah peralatan khusus untuk menjelajah gua. Paling tidak siapkan senter, masker, topi, pakaian ganti, dan peralatan panjat tebing jika punya. Bawalah juga obat-obatan P3K.
  • Jangan lupa bawa makanan ringan dan kamera untuk mengabadikan suasana.

Selimbau, Menyambangi Sisa-Sisa Kerajaan Melayu di Hulu Sungai Kapuas

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , on January 1, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag April 2015)

Derik suara kayu terinjak beradu dengan paku berkarat mengiringi langkah kemana pun kami beranjak. Setiap waktu kami pun harus terbiasa berjalan dengan mengangkat kaki lebih tinggi dari biasanya. Cuatan beda tinggi dari papan yang terpaku bisa membuat kami tersungkur jika tidak awas. Ya, kami sedang berada di atas jalan kayu yang panjang menghampar. Tiang-tiang tinggi menjulang menahan landasan yang kami injak. Jika musim hujan tiba, air menutupi tiang tersebut dan praktis kami seperti berjalan ‘di atas sungai’. Di sini, di Selimbau, segala macam hiruk-pikuk aktivitas masyarakat Melayu-nya memang notabene berada di atas air dari tubuh Sungai Terus yang merupakan anak sungai terpanjang di nusantara, Kapuas.

Perjalanan jauh ke pemukiman Melayu

Bukan lah suatu tempat yang gampang dijangkau, saya menghabiskan waktu semalaman berkendara dari kota Pontianak untuk menjangkau Sintang. Terus ke timur, kota Kecamatan Selimbau pun kami masuki saat matahari sudah sepenggalah. Bukan lah kota yang umum terlihat tentunya, karena hampir seluruh bangunan yang ada berbahankan kayu dengan pondasi julangan tiang-tiang sebesar paha dewasa yang tertancap di atas lumpur sungai. Saya pun menyeberangi ‘kampung atas air’, berjalan menyusuri jembatan kayu menuju pinggiran sungai yang sangat lebar. Di sana, di atas air Kapuas telah tersedia penginapan kami, sebuah ‘kapal bandung’. Kapal kayu pengangkut barang yang berkapasitas 5 ton ini memiliki kabin tengah yang cukup luas, leluasa untuk dijadikan tempat tidur. Lelahnya perjalanan jauh dari Jakarta memaksa saya harus merebahkan diri walau matahari sedang terang-terangnya bersinar. Biarlah, eksplorasi Selimbau dapat menunggu sejenak. Jika dipaksakan, saya hanya menumpang tempat untuk sakit saja nanti. Sore hari, dengan sisa tenaga yang mulai pulih, saya menikmati sunset merona di atas air Kapuas. Sungguh terasa tenang dan damai rasanya menyaksikan mentari tenggelam, seiring dengan alunan lembut gemericik arus sungai.

“Nak kemenaa Baang..?”, sapaan ramah penduduk setempat malah membuat saya canggung. Bukan apa-apa, saya yang fasih berbahasa Melayu Pontianak tak berdaya meladeni pembukaan pembicaraan itu. Sebagai sesama bahasa Melayu, memang ada kemiripan pengucapan dan arti. Namun justru kemiripan itu yang membuat saya kesulitan. Sedikitnya persamaan atau kemiripan bahasa yang ada tidak bisa saya polakan dengan baik sehingga saya tak berani menjawab sapaan dalam bahasa Melayu juga. Mungkin malah lebih gampang bagi saya jika bahasa yang digunakan di sini sama sekali berbeda dengan Pontianak. Akhirnya, Bahasa Indonesia adalah pilihan paling tepat saat itu untuk berkomunikasi.

Musim Kering

Berada di anak sungai Kapuas yang berada dalam pengaruh pasang-surut Danau Sentarum, Selimbau mengalami pasang-surut air yang cukup unik. Jika musim hujan tiba, maka air Kapuas akan menggenangi Danau Sentarum dan sekitarnya sehingga Selimbau terendam air setinggi belasan meter. Di saat musim kering, danau akan memasok air ke Kapuas walau tetap saja tak mencukupi sehingga meninggalkan julangan tiang-tiang kayu pondasi rumah dan bantaran sungai yang kering kerontang. Aktivitas penduduk pun berubah drastis. Lebar sungai tinggal beberapa meter saja, muka air pun mendangkal. Jika saat air melimpah anak-anak dengan leluasa bisa mandi menjeburkan diri, di musim kering perahu pun susah-payah untuk lewat. Semua bangunan pinggir air seperti kamar mandi, WC dan keramba ikan tertarik ke tengah. Banyak pula yang kandas dan rusak tak bisa digunakan. Air pun harus diirit sehemat mungkin. Masa-masa paceklik selama tiga bulan harus dilalui masyarakat setiap tahunnya. Musim kering walau cukup mengganggu, di lain sisi memberi berkah yanng luar biasa. Ikan-ikan yang berlimpah di wilayah Kapuas dan Sentarum terjebak di cekungan-cekungan air. Sangat memudahkan untuk diambil tentu saja. Seiring dengan hukum alam, populasi ikan yang menurun dikarenakan eksploitasi, akan kembali normal di saat musim hujan. Benih-benih ikan akan tersemai dan tumbuh menjadi besar dan menyebar ke seluruh penjuru tubuh air.

 

Sisa kerajaan besar

Sebuah mesjid besar berdiri di tengah kampung, di pinggir sungai. Bangunan tua peninggalan kerajaan Selimbau berwarna kuning terang tampak mencolok mata. Khayalan saya pun melambung ke ratusan tahun silam, di saat wilayah ini menjadi kerajaan yang cukup disegani. Memang tidak semegah kerajaan Pontianak yang berada ratusan kilometer di hilir, atau sebesar kerajaan Sintang di baratnya. Namun kerajaan Selimbau di puncak kejayaannya pernah menaungi seperlima dari wilayah Kalimantan Barat saat ini. Berperang dan bertahan dari gempuran kerajaan lain di sekitarnya, dan bahkan bertahan dari serbuan suku pengayau pemburu kepala dari Serawak, Selimbau tetap berdiri. Berawal dari kerajaan Hindu, Selimbau berubah menjadi kerajaan Islam dan memasuki masa kejayaan di akhir abad ke-19. Hubungan baik  terus terjaga dengan Kesultanan Pontianak hingga dan porak-poranda oleh kehadiran Jepang di nusantara.

 

Selain Mesjid Jami Selimbau, masih ada sebuah tiang bendera yang tegak berdiri. Tiang tua yang berada di utara mesjid ini lah adalah tempat bangunan kerajaan Selimbau berdiri, dengan nama Istana Noor Mahkota. Di sekelilingnya, masih terdapat beberapa rumah kediaman para keturunan raja, lengkap dengan ornamen-ornamen peninggalan kerajaan di dalamnya. Sebuah foto yang sudah tua hitam-putih dengan jelas menunjukkan kehadiran perahu kesultanan Pontianak yang mengunjungi Selimbau di awal abad 20. Pernak-pernik keemasan ornamen kerajaan pun masih banyak menempel di dinding. Tak lepas pula, masih ada sekitar 20 orang penduduk yang bergelar Raden, menandakan bahwa gelar yang diperuntukkan untuk menteri kerajaan tersebut masih digunakan. Walau garis keturunan raja terakhir masih ada, gelar raja tak pernah sampai ditasbihkan. Konon, keturunan terakhir tidak bersedia dilantik menjadi raja karena kekhawatiran diburu oleh tentara Jepang. Peristiwa eksekusi massal pemancungan kepala ribuan tokoh masyakarat di Kalimantan Barat di daerah Mandor, masih menyisakan bekas kepedihan hingga era kemerdekaan ini. Memang benar, luka di hati lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik di badan.