GEBE; pulau yang terlupakan di ujung tenggara Halmahera

Oleh : R. Heru Hendarto

(versi edit telah diterbitkan di majalah Jalanjalan Feb 2009)

Letih dan lelah mendera tubuhku saat pertama menginjakkan kaki di pulau ini. Bagaimana tidak, terombang-ambing selama 20 jam di kapal Perintis Pelni sungguh menyiksa. Kapal kecil dengan penumpang yang penuh ditambah lagi deraan ombak besar Laut Banda benar-benar menguji stamina. Tiba di sana pukul 01.00 dinihari, suasana begitu ramainya dan sambil terkantuk-kantuk aku menaiki kendaraan menuju tempat menginap. Gebe, adalah sebuah pulau yang terletak di ujung lepas kaki ‘huruf K’ Pulau Halmahera, dipisahkan oleh Selat Jailolo dan dihuni oleh kurang-lebih 4.000 jiwa. Pulau ini terbagi ke dalam empat desa yaitu Sanafi, Kacepi, Umera dan Omnial di Pulau Yoi. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian berkebun dan nelayan, sisanya pedagang dan pegawai. Beberapa tahun lalu, pulau ini masih sangat ramai oleh pendatang karena masih beroperasinya satu perusahaan tambang nasional di daerah ini. Namun, seiring dengan berkurangnya cadangan dan penurunan produksi, daerah ini mulai ditinggalkan. Sisa kejayaan daerah ini masih tampak dari terseraknya fasilitas perusahaan seperti lapangan terbang, rumah sakit bahkan lapangan golf serta perumahan karyawan yang tersusun rapi. Hingga saat ini fasilitas tersebut masih dapat digunakan oleh masyarakat. Lapangan terbang dan rumah sakit penuh oleh penduduk lokal yang berobat, lapangan golf yang cukup indah bebas digunakan oleh siapa saja asal tertib. Ratusan perumahan karyawan sebagian besar sudah diserahkan melalui pemerintah desa dan saat ini dihuni masyarakat setempat. Sekarang, dengan terjadinya perubahan perekonomian masyarakat, sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya dari kopra dan hasil laut.

Pulau Gebe dapat ditempuh langsung melalui penerbangan Ternate – Gebe dengan maskapai Merpati. Maskapai ini melayani rute penerbangan tiga kali dalam seminggu dengan pesawat kecil Casa 212 dan lama penerbangan satu jam. Bila diperlukan, penerbangan dapat ditingkatkan frekuensinya di saat tertentu, semisal ada acara khusus perusahaan atau kunjungan pemerintah ke daerah ini. Jalur lain adalah melalui laut dengan menggunakan kapal perintis Pelni Kieraha yang datang sebulan dua kali. Kieraha II melayani rute Bitung – Sorong melewati Kepulauan Maluku Utara bagian atas sedangkan Kieraha I melayani rute Ternate – Sorong melewati bagian bawah Kepulauan Maluku Utara. Kedua kapal singgah di Pulau Gebe dan meneruskan perjalanan ke timur melewati Kepulauan Raja Ampat di Irian Jaya Barat. Di luar jalur transportasi itu, tersedia kapal barang atau kapal kayu dengan jadwal yang tidak tetap melayani rute Gebe dan pulau-pulau sekitarnya. Saat itu aku terpaksa menempuh perjalanan ke Gebe dengan kapal laut karena sudah seminggu lebih menunggu penerbangan namun semua seat selalu penuh terisi!

Pulau ini sesungguhnya sangat elok, tampak jelas dari keindahan pantainya, keramahan penduduknya, rapih dan bersihnya desa-desa mereka serta menawannya sungai-sungai yang mengalir di dalamnya. Kesan akan keindahan Gebe sudah terasa saat tiba di pelabuhan. Terlihat tiga pelabuhan indah yang letaknya berjejeran, Pelabuhan Pelni, Pelabuhan Perikanan dan Pelabuhan Rakyat Yam di bagian paling timur. Bagian pesisir baratdaya Gebe ini memang cocok sekali sebagai pelabuhan karena pantai di sini relatif curam dan posisinya terlindung oleh Pulau Fau di sebelah selatan sehingga tidak akan terganggu ombak besar di musim angin kuat. Pelabuhan perikanan adalah pelabuhan yang paling sering disinggahi kapal, terutama kapal barang yang sedang bongkar-muat ataupun kapal nelayan yang menjual hasil tangkapan lautnya. Di dekat pelabuhan ini terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan sebuah pasar tradisional yang terletak tidak jauh dan menjadi ‘pusat aktivitas’ masyarakat pulau. Pasar di sini hanya ramai di pagi hari dengan berbagai barang dagangan dapat ditemui di sini, terlebih lagi ikan laut yang dapat diperoleh dengan harga murah. Sebaliknya, pelabuhan tradisional di sebelah timurnya digunakan oleh nelayan-nelayan kecil rakyat sekitar Gebe. Kaget juga saat pertama kali main ke pelabuhan ini karena walaupun namanya pelabuhan fisiknya jauh dari bayanganku. Pelabuhan Rakyat ‘Yam’ hanya berupa jalur batugamping atau karang yang menjorok dan mencuat alami ke arah laut. Hebatnya, morfologi alami ini dimanfaatkan penduduk disulap dijadikan pelabuhan sederhana. Di sebelah kiri pelabuhan ini terdapat perternakan mutiara kecil-kecilan milik warga. Yang namanya peternakan mutiara ini hanyalah berupa kotak semen kecil yang diberi petak berisi air laut sebagai tempat pemeliharaan kerang mutiara. “Panen setahun sekali dengan hasil seadanya, maklum cara yang digunakan pun pas-pasan” demikian tutur si empunya. Tepat di seberang pelabuhan, Pulau Fau tak berpenghuni yang gersang memanjang menjadi benteng kokoh terhadap deburan ombak. Pulau ini memiliki permukaan tanah laterit yang memerah dan gersang, hanya ditumbuhi sejenis perdu dan semak dengan beberapa pohon kayu yang tidak rimbun. Persis seperti kenampakan morfologi perbukitan rendah dengan savana dan stepa di dalamnya.

Aku pun meneruskan langkah ke timur dan kira-kira satu kilometer kemudian aku menjumpai Tanjung Kalioo yang begitu indah. Sebuah teluk kecil berbatu yang menjorok melengkung ke dalam dan ditutup dengan tanjung indah di pinggirnya. Di sini, laut dangkal membiru menghampar sangat jernih. Di Tanjung Kalioo ini banyak sekali terdapat ikan, ditandai dengan banyaknya nelayan yang mengail di sini dan di pinggir-pinggir pantai banyak ditemui bubu perangkap ikan. Sore cerah itu, seorang nelayan tampak sedang mempersiapkan bahan bakar untuk perahunya. Sesungguhnya dia sudah melaut dari pagi hari, namun cuaca cerah dan hasil tangkapan yang banyak menggodanya untuk kembali menghabiskan hari itu di laut.

Menyusuri langkah terus ke timurlaut Kalioo berkilo-kilo jauhnya, kita akan memasuki daerah Semingit yang sebagian besar terdiri dari hutan lindung. Sungguh menyenangkan sekali berada di sini, tebaran pepohonan kayu besar yang dikelilingi padang rumput sungguh menyejukkan mata. Aku menuruni lembah dan kembali terperangah, sebuah sungai besar berbatu sungguh elok dipandang mata. Airnya yang jernih dan segar mengalir meliuk-liuk di sela-sela bebatuan dinaungi rindangnya pepohonan pinggir sungai. Sejenak aku terpana dan merasa enggan meninggalkan tempat ini. Kusempatkan meneguk airnya yang terasa sejuk di kerongkongan, sungguh suatu nikmat yang susah didapatkan!

Jalur menuju Semingit sulit dilewati dengan kendaraan bermotor karena medannya yang berat dan fasilitas jalan batu yang terbatas. Di beberapa tempat kita bahkan harus menyeberangi rawa berair asin ataupun sungai-sungai yang berbatu, tidak ada pilihan lain selain harus menempuh daerah ini dengan berjalan kaki. Penduduk setempat sendiri pun jarang ada yang memasuki hingga jauh ke dalam daerah ini tanpa keperluan khusus. Biasanya penduduk yang ke sini hanya untuk berkebun sementara di pinggirannya, berburu ataupun mencari sarang burung walet di gua-gua batugamping yang banyak terdapat di sekitar sini. Selain karena sulitnya akses menuju Semingit, di bagian pinggir timur daerah ini juga dikeramatkan oleh penduduk. Hal itu dikarenakan masih terdapatnya banyak buaya di laguna payau Semingit. Terbukti, saat kami melintas di lereng perbukitan Semingit atas, tidak disangka kamera kami menangkap sosok seekor buaya di kejauhan yang sedang berenang kembali dari laut masuk ke laguna. Diperkirakan panjang buaya tersebut mencapai 4 meter dan menurut penduduk sekitar, buaya tersebut masih masuk usia remaja sehingga bila mencapai dewasa panjangnya bisa mencapai 6 meter lebih!

Menuju utara, kita akan berada di perbukitan Kaf yang pemandangannya tidak kalah menakjubkan. Tampak pantai utara Gebe yang putih memanjang dan dijejeri buih-buih ombak yang pecah menawan. Tampak juga dari jauh muara-muara sungai yang berhulu di Perbukitan Kaf dipenuhi oleh masyarakat yang memanfaatkannya tidak hanya sebagai sumber air minum tetapi juga untuk mencuci dan keperluan rumah tangga. Selain itu, terlihat juga di bagian timurlaut Pulau Yoi atau Yu yang indah seolah-olah terhampar di dekat mata. Di pulau yang berjarak dua puluh menit perjalanan air ini terdapat Desa Omnial yang menjadi pemasok ikan laut dan kopra ke Pulau Gebe. Namun selain itu, yang paling menarik dari Yoi ini adalah morfologi pulaunya. Di bagian tenggara pulau terdapat teluk yang sangat lebar dan memenuhi hampir separuh dari luas pulau. Tampak dari atas Kaf, teluk yang dangkal menghijau dipagari jejeran pohon kelapa sangatlah menggoda hati. Di tempat ini pulalah terdapat kepiting kenari, hewan laut yang ukurannya sebesar piring dan rasanya yang terkenal sangatlah lezat. Selain hewan laut, di situ juga terdapat bangkai pesawat terbang Jepang bekas PD II terbenam di dasar teluk yang di saat air surut dapat dilihat dengan jelas membayang di dasar laut dangkal. Walaupun pulau tersebut berjarak relatif dekat dengan Gebe, di saat angin dan ombak kuat perjalanan ke sana mustahil dilakukan. “Dahulu pernah ada seorang lelaki nekad menuju Pulau Yoi untuk mencari kelapa bagi wanita pujaan hatinya, namun hanyut terbawa ombak dan terdampar hingga ke Filipina dan baru kembali setelah dua tahun berlalu’, demikian ujar Manan, salah seorang penduduk Umera.

Turun ke lereng utara, tepat di kaki Kaf kita akan menjumpai Desa Kacepi di pinggir jalan utama. Jalur darat yang ada di sini adalah melalui jalur utara pulau, dimulai dari Sanafi, Kacepi, dan berakhir di ujung tenggara pulau di Desa Umera. Yang menyenangkan di sini adalah, desa-desa di Pulau Gebe ini sangatlah rapi dan bersih. Pagar rumah mereka bercat putih-biru berderet rapi dengan pekarangan yang apik. Penduduknya, yang walaupun bertampang sangar dan berkulit hitam, ternyata ramah-ramah dan humoris serta enak sekali diajak berbincang-bincang. Desa mereka semuanya berada di pinggir jalan utama Gebe yang bermuara ke desa terujung yaitu Desa Umera.  Nilai lebih Desa Umera ini dibanding desa lainnya adalah pemandangan alamnya yang menawan. Di Umera ini terdapat pantai terindah di Gebe, yaitu Pantai Ikasu. Pantai yang pasirnya berwarna putih hasil rombakan cangkang laut serta airnya yang hijau membiru dengan debur ombak yang membahana sungguh merupakan perpaduan keindahan alam yang menakjubkan. Lebih lagi, bila cuaca cerah, dari pantai ini kita akan dapat melihat Pulau Gag, Pulau Kawei, Pulau Waigeo serta deretan Kepulauan Raja Ampat lainnya yang berjajar di sebelah timur. “Tambe so fat pyoto soi! (sampai jumpa di lain waktu!)”, demikian sapa rekan-rekan kru saat aku meninggalkan pulau penuh kenangan ini.

 

10 Responses to “GEBE; pulau yang terlupakan di ujung tenggara Halmahera”

  1. Sambil kerja sambil traveling….
    Bagus mas liputannya….

  2. onn kamaruddin Says:

    Dulu awal tahun 80-an, saya sekolah SD di Pulau Gebe. entah sekarang pulau ini seperti apa, karena sejak 83 meninggalkan pulau tersebut saya gak peenah balik lg

    • tahun 2007, Antam sudah meninggalkan Gebe, hanya menjalankan pit kecil saja. semua fasilitas yang tdaik digunakan Antam diserahkan ke desa termasuk ratusan perumahan karyawannya diserahkan ke penduduk. Yang masih tersisa fasilitas rumkit, golf dan lapangan terbang…kondisi sekarang tidak tahu lagi pak…:)

  3. saya sangat terkesima dengan liputan perjalanannya mas Heru..kapan2 kita bisa share juga..kebetulan saya juga lahir dan besar di gebe..saya tinggalkan gebe sejak 1998.saat ini Domisili tetap di Makassar.Pingin rasanya kembali dan mengingat memori waktu kecil di gebe..Jika ada waktu dan kesempatan.mungkin saya bisa kembali lagi kesana…

  4. trimakasih pak atas liputannya tentg gebe jujur saya sebagai salah satu putra gebe asli warga desa kacepi juga blum pernah ke kaf,namun sudah pernah ke semingit, saya merasa bangga dan termotivasi untuk membangun gebe, trimakasih bnyak pak atas tulisnya.

  5. Gebe…my first journey to Halmahera, Gebe keren bgt pantainya beautiful
    thanks Mas Heru..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: