Keraton Wolio, Pesona Kerajaan dengan Benteng Terluas di Dunia

Oleh : R. Heru Hendarto

(versi edit telah diterbitkan di Majalah JalanJalan Mar 2009)

Keraton dengan warisan budaya luhur, tegak dan gagah berdiri menaungi Bau-Bau menyiratkan kemegahannya di masa lampau.

Bau Bau? Hmm…, nama unik kota ini pasti sudah lama terdengung di telinga kita. Ingatan pun kembali melayang ke masa kecil saat guru SD dulu menerangkan akan Butas atau Buton Asphalt. Pulau Buton memang terkenal sebagai daerah yang memiliki cadangan aspal alami terbesar kedua di dunia. Kota Bau Bau terletak di ujung selatan Pulau Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Sejarah kota Bau Bau ini di mulai di tahun 1400‐an yang saat itu menjadi pusat dari Kerajaan Buton atau Wolio sebagaimana yang tertulis dalam kitab Nagarakratagama karangan Mpu Prapanca. Buton atau Butuni saat itu digambarkan sebagai sebuah kota yang terkenal akan keindahan kebun‐kebunnya dan sistem pengairan yang sudah berkembang baik. Konon, sejarah berdirinya Buton dimulai dari perjalanan empat petingggi Tanah Melayu yang tiba di daerah ini dan mendirikan kerajaan dengan Wa Kaa Kaa sebagai ratu pertama di tahun 1332. Goresan penting sejarah Buton tertoreh tahun 1542 dengan berubahnya Buton menjadi Kesultanan Islam dengan Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis sebagai sultan pertama. Kebesaran sultan pertama ini diabadikan sebagai nama pelabuhan laut di kota ini, Pelabuhan Murhum.

Saat menaiki ojek di jalanan kota Bau Bau, pandangan mata kita tak akan lepas dari bangunan keraton yang tampak berdiri di ketinggian kota Bau Bau. Peninggalan besar yang masih dapat disaksikan dan berdiri megah itu adalah Benteng Keraton Wolio yang dibangun semenjak pemerintahan Sultan Buton III, La Sangaji atau Sultan Kaimuddin yang berjuluk Sania Mangkekuna dan diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Buton VI, La Buke atau Gafurul Wadudu pada tahun 1632–1645. Benteng ini berbentuk huruf dhal pada abjad Arab, memiliki panjang kurang‐lebih 2.740 meter dengan tinggi rata‐rata 4 meter dan memiliki ketebalan 1,5 ‐2 meter. Jika diperhatikan dengan seksama, konstruksi benteng ini cukup unik, yaitu dibangun dari susunan batugamping atau batu kapur dan direkatkan dengan perekat alami berbahan rumput laut. Tidak seperti benteng yang terdapat di daerah lain yang umumnya dibangun dari material batu kali atau batu bata yang direkatkan dengan kapur dan telur ayam, Benteng Wolio memanfaatkan batu kapur yang memang tersedia melimpah di daerah ini. Di dalam benteng terdapat 12 pintu gerbang atau Lawa yang melambangkan 12 lubang pada tubuh manusia dan 16 pos jaga atau Bastion yang setiap pintu gerbangnya ditempatkan sejumlah meriam. Sumber lain menyebutkan bahwa jumlah pos jaga sebenarnya adalah 17 yang melambangkan jumlah rakaat dalam sholat fardhu umat Islam. Memang, semua bangunan di dalam Benteng Wolio sarat akan makna-makna religius dan sosial yang sangat kuat saat itu. Keseluruhan luas kompleks benteng ini sekitar tidak kurang dari 22 hektar dan sudah diakui MURI sebagai benteng yang terluas di Indonesia. Saat ini, masyarakat Buton masih menanti pengakuan bahwa benteng ini juga sekaligus merupakan benteng yang terluas di dunia.

Melengkapi kemegahan Benteng Wolio, di dalamnya terdapat pula Masjid Agung Keraton (Masigi Ogena), didirikan oleh Sultan Buton XIX Sakiuddin Durul Alam atau Langkariyri pada awal abad 17. Masjid dua lantai berukuran 20,6 x 19,4m2 ini berperanan sebagai pusat kegiatan keagamaan kesultanan. Saat ini pun, masjid keraton ini masih digunakan untuk sarana peribadatan sehari-hari. Bahkan, di saat bulan Ramadhan masjid selalu penuh dengan jamaah yang beribadah, menunaikan berbuka dan sahur bersama di bagian selatan selasar. Material sebagai bahan baku untuk membangun masjid sama dengan bahan baku pembuatan benteng, yaitu campuran dari batu kapur dan pasir. Keunikan masjid ini adalah  jumlah pintunya sebanyak 12 buah dan tersusun atas 313 potong kayu yang identik dengan simbol 12 lubang pada tubuh manusia berikut jumlah tulang yang terdapat di dalamnya. Anak tangga masjid sebanyak 17 buah plus dua buah anak tangga tambahan, identik dengan jumlah rakaat shalat fardhu dan shalat sunnah. Masjid ini pula memiliki sebuah bedug dengan panjang 99 cm yang melambangkan Asmaul Husna. Karena usianya yang cukup tua, renovasi pun dilakukan pada tahun 1929. Saat itu, atap daun nipah yang selalu ditambal sulam selama dua ratus tahun diganti dengan atap seng. Berturut-turut selanjutnya tahun 1978, 1986 dan terakhir tahun 2002 renovasi dilakukan untuk mempertahankan keutuhan masjid hingga tampak seperti saat ini.

Melayangkan pandangan ke sekeliling masjid, sungguh kita akan menemukan pemandangan apik dan lingkungan yang asri. Tepat di sebelah masjid berdiri sebuah tiang kayu yang berjuluk Kasulaana Tombi, menjulang setinggi 21 m yang digunakan untuk mengibarkan tombi atau bendera panji Buton yaitu Longa‐Longa. Hingga saat ini kondisi tiang yang sudah berusia 200 tahun lebih ini masih cukup baik walaupun sudah agak miring dan lapuk dimakan usia. Di hadapan masjid, kita akan menemukan situs bersejarah batu Popaua yang digunakan sebagai tempat pelantikan ratu pertama Wa Kaa Kaa dan tradisi tersebut masih diteruskan oleh Sultan Buton berikutnya hingga saat ini. Di sebelahnya juga terdapat pula Baruga yang berbentuk bangunan besar dari kayu tanpa dinding yang digunakan sebagai tempat pertemuan dan membahas berbagai persoalan yang munculdalam kehidupan masyarakat.

Melangkahkan kaki menyusuri dinding benteng ke arah timurlaut, kita akan melewati sejumlah bangunan adat yang masih sangat terawat. Sebagian dihuni oleh keluarga sultan dan sebagian dihibahkan kepada pemerintah kota untuk dijadikan kantor instansi. Menurut masyarakat di dalam benteng, adat yang berakar dari nenek moyang mereka masih dijaga teguh hingga kini. Hal  tersebut dapat terlihat dari prosesi adat seperti pernikahan, warisan kain tenun khas Buton, bahasa yang digunakan dan acara-acara adat yang masih rutin dijalankan setiap tahunnya. Tiba di ujung benteng, kita akan menemui lapangan luas yang rapi dengan sebuah pohon tegak berdiri dengan beberapa makam yang terdapat di bawah naungannya. Benteng Wolio dahulu memang dibuat dengan tujuan melindungi keraton dengan kekuatan meriam sehingga dibangun di ketinggian kota Bau‐Bau sehingga pemandangan di tempat ini sangatlah indah. Setiap sore hingga malam hari benteng ini ramai oleh pengunjung yang ingin menghabiskan waktu bercengkerama menyaksikan cantiknya hamparan kota Bau‐Bau di bawah dan menanti sunset elok di ufuk barat. Pemandangan pesisir Bau‐Bau seperti perahu‐perahu yang berlabuh di Pelabuhan Batu, ramainya Pantai Kamali, kapal‐kapal besar lepas di Pelabuhan Murhum serta pemandangan Kolam Laut Bau‐Bau dengan Pulau Makasar di belakangnya sungguh sangat elok.

Tidak hanya Benteng Keraton Wolio, di luar benteng masih terdapat beberapa peninggalan bersejarah yang masih dapat disaksikan hingga saat ini. Tidak begitu jauh dari Wolio, terdapat benteng lain yang melengkapi kemegahan Kerajaan Buton yaitu Benteng Sorawolio. Benteng ini, seperti halnya Benteng Istana Baadia yang berbentuk huruf alif, memiliki bentuk huruf miim dengan empat Bastion di tiap sudutnya. Saat ini benteng tersebut sebagian sudah runtuh dengan meriam yang tergeletak di beberapa sisi dan lingkungan sekitarnya penuh dengan rerumputan namun secara keseluruhan lingkungan benteng ini masih asri dan menyiratkan kegagahannya di masa lampau. Selain benteng Sorawolio, terdapat pula Masjid Quba yang masih asri terjaga, Istana Baadia serta Pusat Kebudayaan Wolio. Ketiga tempat ini letaknya berdekatan dan dapat ditempuh menggunakan ojek dari Masigi Ogena. Peninggalan lainnya yang terletak agak jauh adalah Istana Kamali yang berlokasi di dekat Pantai Kamali di pusat kota Bau‐Bau. Istana ini dibangun pada tahun 1922 oleh bantuan Belanda dan oleh karena itu jugalah para sultan tidak berkenan tinggal dan berdiam di situ. Di awal kemerdekaan istana tersebut sempat dipinjamkan sebagai bangunan sekolah AMS (Ambtenaar Middlebare School) dan selanjutnya sekarang ini dijadikan bangunan Universitas DayanuI Ikhsanuddin sehingga diberi julukan Istana Ilmiah. Selain peninggalan-peninggalan bangunan bersejarah tersebut, ternyata di banyak tempat lain masih terdapat puluhan benteng yang dibangun untuk mengawal Benteng Wolio dan menjaga pulau-pulau di sekitarnya. Benteng-benteng tersebut banyak dibangun di abad 17, bertujuan menyangga Buton dari ancaman kerajaan lain di Tanah Air ataupun agresi Belanda yang mulai meresahkan. Tidak mengherankan bila Buton juga terkenal akan julukan Negeri Seribu Benteng.

Kota Bau‐Bau mulai terasa semakin bergeliat membuka diri membenahi pariwisatanya. Selain Keraton Wolio, pemerintah kota pun mencoba terus menggalakkan pariwisata kota Bau‐Bau dengan lebih profesional seperti dengan dikembangkannya Pantai Lakeba, penelitian mengenai wisata selam Pantai Nirwana dan rencana pengelolaan Gua Langkasa. Di sisi lain, masyarakat kota Bau‐Bau pun mendukung dengan penuh sinergi, salah satunya dengan turut menyukseskan Festival Keraton dan Festival Pulau Makasar yang rutin digelar pemerintah kota setiap tahunnya. Diharapkan kelak, Bau‐Bau yang selama ini hanya menjadi kota transit wisata penyelaman Wakatobi, dapat lebih dilirik dan menjadi alternatif wisata yang tidak kalah menarik dibanding tempat lainnya.

Getting There :

Kota ini dapat ditempuh dengan penerbangan Makasar – Bau Bau melalui maskapai Merpati dengan lama penerbangan kurang dari satu jam. Frekuensi penerbangan empat kali seminggu dengan pesawat baling-baling sekelas Fokker dengan harga tiket sekitar 400 ribu rupiah. Jalur lain yang dapat ditempuh adalah menggunakan kapal cepat Sagori Express, Super Jet ataupun Santosa88 dari Kendari yang melayani rute menuju Bau Bau sehari dua kali pp dengan harga tiket ekonomi sekitar 125 ribu rupiah. Perjalanan menempuh waktu 5 – 6 jam tergantung banyaknya penumpang dan kondisi ombak.

Where to Stay :

Banyak hotel di kota ini, namun yang cukup baik adalah Hotel Rajawali (0402-2823633) dan Hotel Mira (0402-2822911). Jika ingin lebih menikmati suasana pantai dan keramaiannya, di sekitar Pantai Kamali banyak terdapat hotel low budget yang cukup layak.

Tips :

Kota Bau Bau adalah kota kecil yang cukup ramai dan relatif aman. Tempat yang perlu agak diwaspadai adalah pasar dan pelabuhan, selebihnya anda cukup leluasa berwisata tanpa khawatir.  Bank dan ATM cukup banyak tersedia sehingga anda tidak perlu membawa cash berlebih. Perjalanan menuju Keraton atau tempat lainnya dapat dilakukan dengan ojek. Harga rata-rata 3.000 rupiah untuk dalam kota dan untuk tujuan yang jauh harga akan naik namun bisa dinego. Tidak sulit mencari ojek di Bau Bau, cukup berdiri saja di pinggir jalan maka akan banyak sepeda motor yang menghampiri. Kota Bau Bau sendiri cukup banyak memiliki tempat wisata selain Keraton Wolio dan kunjungan ke semua tempat wisata yang berada di kota dapat dilakukan cukup dalam waktu satu hari.

Jika anda mengunjungi Bau Bau melalui pesawat via Makasar, tidak ada salahnya saat pulang anda mengambil jalur laut menuju Kendari dan meneruskan penerbangan dari sana. Pemandangan indah sekitar Selat Buton yang dilewati selama perjalanan laut Bau Bau – Kendari sungguh rugi untuk dilewatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: