TREKKING TURGO – Menikmati Pesona Merapi dari Sisi Lain

Oleh : R. Heru Hendarto

(versi edit telah diterbitkan di Majalah Travel Trend Maret 2009)

Turgo, adalah sebuah nama yang tenggelam dibalik ketenaran Kaliurang sebagai tempat wisata walaupun sama-sama berada di sisi lereng Merapi. Turgo sendiri lebih dikenal di kalangan media, ilmuwan ataupun pemerintahan karena mengingatkan akan bahaya besar yang ditimbulkan oleh Gunung

Merapi (2.968 m dpl) pada akhir tahun 1994. Saat itu, gunung berapi teraktif di dunia ini meluncurkan awan panasnya dan menyapu Desa Turgo. Gumpalan luncuran gas, uap panas dan material halus bersuhu 3000C dengan kecepatan 100 km/jam ini meluluh-lantakkan semua yang dilaluinya. Tercatat 62 warga meninggal, 22 menderita luka bakar dan 6 warga hilang. Saat ini, bekas hancurnya desa akibat musibah tersebut sudah tidak tampak sama sekali.

Adalah Pak Triyanto, seorang tokoh pemuda masyarakat Turgo yang pertama kali memperkenalkan dan mempopulerkan wisata trekking di Turgo ini berbeda dengan wisata trekking Merapi yang dikelola oleh salah satu operator di Kaliurang, wisata trekking Turgo menyajikan hal yang berbeda dan membidik segmen yang berbeda pula. Tampak di papan pengunjung dan buku tamu, yang datang dan mengikuti paket wisata melalui Pak Yanto kebanyakan adalah rombongan pelajar, mahasiswa, keluarga serta wisatawan domestik dan manca negara tipe backpacker atau independent traveller. Untuk mengakomodir peserta yang jumlahnya dapat mencapai 200 orang dalam sebulannya, Pak Yanto menyulap salah satu rumah tipe Sinom miliknya menjadi Pondok Alam Desa. Sebagai salah satu tipe rumah Joglo khas Jawa, rumah Pak Yanto memiliki ruang tengah berlantai semen yang besar dan diubah sebagai tempat menginap dan ruang santai. Di situ, kita dapat menyaksikan koleksi foto-foto Merapi beliau dan batuan-batuan Merapi yang terletak bersama beberapa trofi di meja sudut ruang.

Pagi itu pukul 05:30, kami semua diundang Pak Yanto untuk menyaksikan pemerahan susu sapi. Dikepung dengan hawa dingin Merapi pagi hari, kami pun menuruni Pondok Alam Desa menuju rumah salah seorang tetangga beliau. Di situ, kami menyaksikan proses pemerahan susu dari seekor sapi yang berada di kandang sebelah rumah. Sapi adalah hewan piaraan yang umum terdapat di Turgo, sehingga sepanjang hari kita akan selalu dikagetkan oleh lenguhannya yang keras dan panjang. Pukul 06:00 sarapan pun sudah tersedia, bau harum nasi putih wangi semerbak lengkap dengan hidangan susu sapi hangat. Kami pun menikmati sarapan sederhana berlaukkan tahu dan sayur buncis sambil menyaksikan video tentang wisata trekking Turgo.

Jalur trekking yang kami ambil saat itu adalah jalur sepanjang 4 jam dan merupakan salah satu jalur dengan tipe sedang. Pukul 07:25 kami sudah berkumpul di depan pondok dan sebelum memulai perjalanan tidak lupa Pak Yanto memimpin doa agar kami diberi keselamatan. Setelah melalui jalan aspal desa, kami membelok mengambil jalur setapak menembus kebun dan hutan. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Pak Yanto menunjukkan beberapa tanaman tradisional seperti kina, arumdalu, kayu manis, eyeng-eyeng dan anggrek. Kami juga menyempatkan singgah di salah satu tempat pembudidayaan anggrek alami yang berlokasi di halaman rumah salah seorang penduduk. Tidak hanya anggrek, di tempat ini pun tampak subur beberapa tanaman buah seperti alpukat dan jambu air. Medan selanjutnya menjadi lebih sulit, beberapa kali kami harus naik-turun lereng tebing hutan pinus yang menguras tenaga. Kami juga sempat melewati sebuah celah sempit yang menurut Pak Yanto adalah jalur lahar Merapi pada tahun 1969. Saat itu, bukti yang tampak bahwa tempat itu memang bekas jalur lahar adalah bongkah-bongkah batu andesit yang tampak memenuhi pinggir dan tengah sungai kering itu. Sementara di sekelilingnya, rerumputan dan tanaman tumbuh rimbun sehingga tidak memberikan ciri khusus yang dapat dikenali.

Pukul 08:15, kami beristirahat di pintu gerbang Obyek Wisata Alam Tritis – Turgo yang masuk ke kawasan Taman Nasional Merapi. Sambil melepaskan dahaga, kami pun melemparkan pandangan ke sekeliling. Sepertinya tempat ini dibangun sebagai tempat wisata keluarga, tampak banyak ayunan dan jalan setapak yang mengelilingi tempat ini namun semuanya dalam kondisi tidak terawat. Ternyata, walaupun pembangunan tempat wisata ini sudah menelan uang banyak, pemanfaatannya ditangguhkan karena masih memiliki masalah konflik penggunaan. Di sebelah tempat wisata ini terdapat suatu lokasi yang dahulu merupakan tempat tinggal warga dari tiga dusun, Gondang, Kembang Kerep dan Bendo. Desa Kumpul Rejo adalah nama tempat tersebut, namun saat ini hanya berupa tanah luas kosong yang ditumbuhi bambu dan pepohonan keras lain. Karena dari zaman dahulu desa ini masuk ke dalam daerah rawan bencana, pada tahun 1975 seluruh penduduknya mengikuti transmigrasi bedol desa ke Jambi.

Perjalanan kami lanjutkan dan ternyata jalur yang kami lalui semakin asyik. Tidak jauh dari gerbang wisata Tritis, kami melewati sebuah gua yang panjangnya 300 meter. Namun, “gua” ini bukanlah berupa rongga bebatuan namun tersusun atas lindungan pohon bambu. Benar sekali, jalan setapak di sini dinaungi banyak tanaman bambu dan di sinilah seumur hidup kami dapat menyaksikan sedemikian banyak jenis tanaman bambu dalam satu daerah. Mulai bambu apus yang gede-gede, bambu petung, njrinjing yang miring-miring tumbuhnya, cendani yang tegak lurus serta bambu gading dan bambu kuning yang berbeda sama sekali. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga setempat yang mencari rumput pakan ternak. “Monggo Mas, Mbak…”, sapaan mereka yang ramah khas Jogja sungguh membuat kami tiba-tiba merasa betah di sini.

Jalanan semakin menanjak dan akhirnya pukul 09:50 kami tiba di puncak. Sayang sekali, saat itu puncak Merapi yang terasa demikian dekatnya sedang terhalang kabut tebal. “Biasanya waktu yang paling baik menyaksikan panorama Merapi adalah Bulan Mei sampai Agustus”, demikian kata Pak Yanto. “Namun seringkali di luar bulan itu kita juga masih dapat menyaksikan puncaknya walau cuma sebentar”, tambahnya. Dari posisi kami saat itu, pertengahan lereng Merapi masih samar-samar tampak. Beberapa torehan gawir sebagai jalur lahar turun dari atas dan tersebar ke berbagai sungai di Yogyakarta. Lahar adalah aliran material gunung api yang dipicu oleh konsentrasi air dan gravitasi sehingga membawa lumpur beserta material batu mulai ukuran kecil hingga sebesar rumah. Istilah lahar ini sudah diserap ke dalam Bahasa Inggris sehingga digunakan secara internasional, terutama di kalangan ilmuwan. Demikian juga jalur awan panas atau wedhus gembel yang menumpang jalur yang sama namun memiliki tingkat bahaya berlipat ketimbang lahar karena karakternya yang ringan dan menyebar. Korban terakhir keganasan Merapi adalah tanggal 14 Juni 2004 saat dua orang relawan terkubur hidup-hidup dan terpanggang di salah satu bunker perlindungan di Kaliadem.

Kabut ternyata tetap berputar mengelilingi puncak sehingga setelah menunggu sambil beristirahat, kami pun kembali turun. Perjalanan turun berlangsung cepat dan tiba-tiba kami sudah diberitahu Pak Yanto bahwa posisi kami berada di kaki Turgo. Kami pun kaget, karena selama ini hanya bisa menyaksikan Bukit Turgo dari kejauhan saja, bersandingan dengan Bukit Plawangan di seberangnya. “Ke atas tidak ada jalannya, tapi ada bekas Gua Jepang yang tembus dari satu sisi ke sisi lain bukit”, terang Pak Yanto. Tidak tahu kenapa, tapi memang di Kaliurang banyak sekali terdapat Gua Jepang seperti halnya yang terdapat di Kaliurang sendiri. Konon katanya, Gua Jepang ini selain berfungsi sebagai tempat pos pengamatan militer juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga Jepang seperti emas dan uang.

Lima belas menit kemudian kami berhenti di sebuah rumah yang sudah hancur menyisakan dinding saja. Ternyata rumah itu adalah rumah kediaman Bapak Adi Suwanto yang hancur dihantam awan panas pada tahun 1994. Saat itu, keluarga Pak Adi sebanyak 3 orang meninggal akibat bencana itu. Sepertinya hanya rumah ini yang tidak dibangun kembali karena rumah-rumah di sekitarnya tampak berdiri baik. Perjalanan menelusuri jalan setapak di tengah kampung dilanjutkan dan kami dibelokkan jalurnya mengambil arah melewati pinggir Kali Boyong. Kali Boyong adalah kali yang memisahkan Turgo dengan Kaliurang, memiliki lebar kurang-lebih 120 meter dengan kedalaman yan sama. Di sini, tampak truk-truk pengangkut pasir dan batu (sirtu) mengangkut material muntahan Merapi yang terkenal berkualitas baik. Merapi, bagi penduduk di lerengnya memang membawa berkah yang luar biasa bagi kehidupan.

Total perjalanan selama 4 jam 17 menit dan kami pun tiba kembali di Pondok Alam Desa. Saat itu kabut sudah semakin tebal sehingga pemandangan sekeliling rumah tertutupi sepenuhnya. Harusnya kami juga akan menyaksikan proses pembuatan teh mulai pemetikan, pengolahan hingga penghidangannya namun hujan rintik-rintik pun turun sehingga acara tersebut dibatalkan. Sebagai penutup, kami diputarkan video mengenai bencana Merapi. Sambil menyaksikan film tersebut, kami juga packing barang-barang bawaan sebagai persiapan pulang. Pukul 13:30 kami pun berpamitan dengan Bapak Yanto dan meluncur kembali menuju Yogyakarta.

How to Get There :

Dari Yogyakarta, Desa Turgo dapat dijangkau dengan mengambil jalan ke utara melalui Monumen Jogja Kembali (Monjali). Jalan Monjali posisinya tepat di sebelah barat dan berjejeran dengan jalan Kaliurang. Turgo berjarak sekitar 30 kilometer dan dapat ditempuh selama 35 menit.

Begitu memasuki Turgo, di pinggir jalan akan ditemui papan penunjuk arah menuju Pondok Alam Desa dan Gallery Foto Merapi. Jalan menuju tempat tersebut sudah beraspal dan cukup nyaman untuk dilalui.

Where to Stay :

Pondok Alam Desa adalah satu-satunya penginapan di Turgo, kecuali anda berkeinginan untuk mengambil hotel di daerah Kaliurang yang cukup banyak tersedia.

Pondok Alam Desa, Turgo Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta telpon 0856 2903 864/0828 2922 014 up Bapak Triyanto

Tips :

Gunakan pakaian yang dapat mengusir hawa dingin serta sepatu yang cukup kuat untuk trekking. Membawa snack dan minuman sangat dianjurkan namun jangan membuang sampah sembarangan.  Jalur trekking dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan fisik. Tersedia 4 jalur dengan lama perjalanan 1 hingga 6 jam dengan aktivitas yang bervariasi. Jika membawa anak kecil anda dapat meminta jalur khusus di luar jalur di atas dengan waktu tempuh serta medan yang lebih ringan namun tetap sarat dengan program edukasi bagi anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: