Menyusuri Keindahan Pulau Kawei; Heaven Comes to Earth ….

Oleh : R. Heru Hendarto

(versi edit telah dterbitkan di Majalah JalanJalan April 2009)

Menembus keelokan birunya perairan Raja Ampat di timur Indonesia dengan keindahan alamnya masih jarang terjamah.

Gaung nama Raja Ampat belakangan ini semakin santer terdengar baik diekspos oleh media ataupun menjadi bahan perbincangan hangat para penggemar diving, fishing, backpacking ataupun travelling. Sebagai salah satu kabupaten yang relatif baru berkembang, Raja Ampat menyajikan keindahan alam sepenuhnya, baik panorama pulau dan pantainya yang menawan ataupun pemandangan bawah lautnya yang memukau. Kepulauan memang ini terletak di jantung pusat segitiga karang dunia dan memiliki keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia saat ini dengan lebih dari seribu  jenis ikan, hampir tujuh ratus jenis moluska dan lima ratusan jenis hewan karang. Kepulauan sekaligus kabupaten Raja Ampat dengan Waisai sebagai ibukotanya  ini berada di bagian paling barat pulau induk Papua, dengan luas 4,6 juta hektar. Potensi menarik lain adalah pengembangan usaha ekowisata dan wilayah ini telah pula diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) oleh Pemerintah Indonesia.

Kota Sorong adalah kota transit menuju kabupaten Raja Ampat. Kota yang dalam Bahasa Biak berarti Laut Terdalam ini terletak di kepala burung Pulau Irian Jaya dan berhadapan langsung dengan lautan sehingga dinamika masyarakatnya pun berkaitan erat dengan kehidupan laut. Di Sorong sendiri, kita dapat menyaksikan indahnya panorama laut dari kota di sekitar Tembok Berlin. Tembok yang mengadopsi nama tembok terkenal di Jerman ini sebenarnya adalah dinding beton penahan gempuran air laut yang dipasang memanjang di pinggir jalan untuk mencegah abrasi lanjut. Tembok serupa dapat kita temui di kota Ternate, Maluku Utara namun dengan nama yang berbeda yaitu Schwering yang konon berasal dari istilah bahasa Belanda. Mulai sore hingga malam hari, Tembok Berlin penuh dengan pengunjung yang mencari suasana dan angin segar pinggir pantai sambil menikmati hidangan jajanan malam ataupun hanya sekedar duduk berbincang-bincang menghabiskan malam. Menuju Kepulauan Raja Ampat, transportasi publik yang tersedia dari Sorong cukup terbatas dan dengan jadwal yang kurang menerus serta hanya mencakup kota-kota utama saja. Penduduk sebagian besar mengandalkan moda transportasi seperti speedboat ataupun boti kayu untuk menjangkau berbagai lokasi yang letaknya terpencar-pencar.

Kesempatan saat itu adalah mengunjungi salah satu pulau yang terletak di timur Raja Ampat yaitu Pulau Kawei. Nama Kawei berasal dari nama salah satu suku yang dulunya dipercaya berasal dari pulau itu. Perjalanan menuju Kawei dimulai dari Sorong menggunakan speedboat dengan 3 engine masing-masing berkekuatan 40 pk. Bila air tenang dan cuaca baik serta perahu tidak sarat muatan, perjalanan akan ditempuh selama 4 hingga 5 jam. Pagi itu pukul 06.00 WIT, speedboat pun meluncur dari Pelabuhan Perikanan Sorong menembus lautan ke arah barat.

Saat itu lautan cukup tenang, dan ombak pun hampir tak ada sehingga serasa kami menyeberangi danau saja. Lima menit lepas dari pelabuhan, kami melewati pulau kecil yang cukup unik. Dahulu pulau yang bernama Jefman di seberang Sorong ini digunakan sebagai pelabuhan udara. Praktis, semua penumpang harus menyeberang ke pulau ini menggunakan boti atau speedboat agar bisa meneruskan perjalanan dengan pesawat udara. Sekarang, bandara tua ini sudah tidak digunakan sejak 2004 dan sudah dipindahkan ke bandara baru Domine Eduard Osok atau disebut juga Bandara Sorong Daratan di sisi lain kota. Meluncur dengan cepat di atas perairan tenang, dalam waktu dua jam speedboat pun melewati perairan sekitar Saonek.  Di perairan sekitar kota inilah sinyal handphone terakhir yang bisa kami dapat sehingga selanjutnya ponsel pun dimatikan. Perairan Saonek adalah perairan yang posisinya cukup terbuka sehingga sering muncul ombak besar yang mengharuskan kapal-kapal yang melintasi daerah ini bersembunyi dahulu berlindung di balik pulau-pulau sekitarnya.

Lepas dari Saonek, kami melewati suatu tempat yang sangat indah. Kabui demikian namanya, sebenarnya berupa selat yang salah satu ujungnya sangat sempit sehingga seolah-olah seperti berjalan melalui sungai yang bermuara ke sebuah teluk. Selat Kabui ini sangat menawan, perairan biru yang jernih serta dihiasi dengan pulau-pulau kecil berupa karang yang mencuat dimana-mana cukup membuat mulut ternganga menyaksikannya. Dasar laut yang dangkal tersaji di bawah dan samar-samar dapat dilihat karang hidup berwarna-warni serta ikan-ikan laut beraneka ragam berseliweran di sela-selanya. Di salah satu sudutnya juga terdapat Kampung Buton, yaitu sebuah kampung sederhana yang menjadi sentra perniagaan hasil laut di daerah itu. Penduduk daerah sekitar seperti Saonek, Bianci dan Selpele sering bertransaksi hasil laut di desa yang penduduknya berasal dari Sulawesi Tenggara ini. Lepas dari Kabui, kita juga akan melintasi pusat pengembangbiakan mutiara yang dikelola secara profesional oleh investor dari luar negri.

Tepat setelah melewati Kabui, perasaan cemas menghinggapi kami. Betapa tidak, angin mulai terasa dan ombak pun mulai beriak besar. Speedboat mulai terguncang-guncang sehingga motorist menurunkan kecepatan dan selalu memperhatikan aba-aba crew di haluan agar speedboat tidak terjebak di pertemuan arus ataupun menghantam karang yang kadang-kadang mencuat di beberapa tempat mendekati permukaan air. Rasa cemas semakin menjadi karena posisi kami mulai mendekati pulau Kawei dan sudah lepas dari lindungan Selat Kabui ataupun Pulau Waigeo sehingga posisi kami benar-benar terbuka. Tempat ini adalah momok terakhir selain Saonek dalam jalur perjalanan laut Sorong – Kawei. Masing – masing penumpang sudah mendekap dan menggunakan life vest yang tersedia. Hal yang paling kami takuti saat berhadapan dengan ombak besar adalah engine mati dan pecah body speedboat karena terhempas ombak atau menghantam karang. Beruntung dua hal tersebut tidak terjadi dan kami pun selamat hingga tiba di pesisir timur Kawei diiringi dengan doa syukur. Kelemahan fatal akan speedboat yang bahannya terbuat dari fiberglass adalah, bila pecah maka tidak akan ada ampun bagi penumpangnya. Air laut akan mengisi dengan cepat dan speedboat pun akan segera meluncur tenggelam ke dasar laut dalam hitungan detik dan membawa apapun yang terperangkap di dalamnya. Hal itu pernah terjadi di sekitar perairan Waigeo, pulau utama sekaligus terbesar di Raja Ampat. Sebuah speedboat tenggelam akibat ombak besar dan membawa satu orang penumpangnya ke dasar laut, diduga ikut tersangkut ke tubuh perahu.

Menjejakkan kaki di pulau ini, hati kami pun berdecak kagum. Sebuah dermaga kayu sederhana mencuat dari sebuah teluk kecil yang jernih airnya. Pasir putih menghampar dan di bagian tengah teluk tampak karang berwarna-warni meliuk-liuk mengikuti arus air. Di kanan dan kiri bukit kecil penuh dengan pepohonan hijau mengapit teluk seolah-olah menjadi bingkai yang apik. Sebagian besar adalah pohon batang kerasa dan perdu serta beberapa kumpulan pohon kelapa di tengah teluk. Kami pun mencoba mencicipi kelapa itu dan rasanya pun mirip dengan rasa kelapa di tempat lain yang tumbuh di lingkungan pesisir pantai, rasa manis bercampur dengan asin. Kami rasa pengaruh resapan atau intrusi air laut sebagian terserap menjadi air buah dan memberi cita rasa yang unik. Agak jauh di tengah laut, tampak sederetan pulau kecil yang berbentuk unik, seolah-olah mencuat seperti pot raksasa dari dalam laut. Puncak-puncak kecilnya yang bergerigi tumpul indah sekali di pandang mata. Jarak dari teluk ke pulau itu kira-kira 4 kilometer dan dapat ditempuh dengan boti selama kurang-lebih 20 menit. “Hmm, pasti akan kusempatkan ke pulau itu”, gumamku dalam hati. Sore hingga malam itu kuhabiskan waktu bercerita dengan teman-teman di bawah tenda komando yang menjadi tempat bernaung kami selama di sana.

Dini harinya, begitu selesai menunaikan sholat subuh aku segera menyambar kamera dan melangkahkan kaki ke pinggir teluk. Hampir separuh pinggir teluk kukelilingi dan spot yang paling indah memang di sisi dermaga kayu yang menghadap langsung ke arah matahari terbit. Menunggu sunrise diiringi deburan ombak dan hembusan angin pagi yang menyegarkan sungguh merupakan pengalaman menyenangkan saat itu. Seiring dengan langit yang mulai merona tiba-tiba aku terperanjat, ray of lights oranye, ungu dan merah menyembur dari ufuk timur mendahului munculnya sang mentari. Puas mengabadikan sunrise yang sangat elok, aku segera kembali ke tenda basecamp untuk sarapan dan mempersiapkan perjalanan hari itu.

Sebuah boti satu engine kapasitas 15 orang sudah menunggu di dermaga kayu pukul 07.30 pagi itu. Rombongan kami berjumlah 11 orang dan memang rencananya hari itu kami akan menyusuri pantai timur Kawei dari utara hingga ke tengah pulau. Boti pun meluncur dengan tenang meninggalkan teluk menyusuri sisi pantai. Kulirik GPS temanku dan terbaca kecepatan rata-rata 7 knot, lumayanlah untuk boat kayu satu engine dengan muatan yang hampir penuh. Persinggahan kami pertama adalah pantai sisi utara teluk Hole Siput. Dulu, di teluk ini ada sebuah perusahaan yang mengembangkan hasil laut namun saat itu sudah lama bangkrut dan bangunan yang tersisa hanya gudang semen yang ambruk dindingnya. Nama siput yang dilafalkan penduduk setempat diambil dari seafood dan hole berarti teluk bagi masyarakat sekitar. Hole Siput adalah sebuah teluk yang sangat indah berada di kaki Bukit Kawei dengan tinggi 706 m dpl. Walaupun tidak setinggi gunung-gunung di tempat lain akan tetapi bukit ini hampir selalu puncaknya tertutup oleh awan. Bagiku, mendarat di sisi utara teluk adalah pengalaman yang cukup mengesankan. Betapa tidak, pantai satu-satunya yang bisa dinikmati dari dekat ini tersusun atas deretan pantai pasir putih dengan permukan air yang dangkal. Terumbu tampak menghiasi pinggiran pantai dan diselingi oleh munculnya bongkah-bongkah batuan beku ultramafik yang menambah keeksotismean pantai tak bernama ini. Tidak ada jejak manusia sama sekali di situ apalagi sampah terserak, bahkan gubug nelayan sekalipun tidak tampak. Hole Siput memang terlihat indah dan pinggir-pinggirnya dihiasi oleh berbagai macam terumbu karang, namun jangan sekali-kali menganggap remeh bagian tengahnya. Sisi dangkal teluk sedalam 2 – 8 meter akan terus menjorok dan tepat di tengah teluk berubah menjadi perairan tenang dengan kedalaman air 80 – 120 m!

Tiga puluh menit kami menikmati keindahan alam yang masih perawan dan selanjutnya meneruskan perjalanan masuk ke tengah Hole Siput menuju bagian leher pulau. Istilah ini diperuntukkan bagi bagian tengah pulau karena Pulau Kawei memang morfologinya menyempit di bagian tengah sehingga seolah-olah menyerupai bentuk leher manusia. Bagian leher ini sedemikian sempitnya dan menjadi pemisah pantai barat dan pantai timur. Kedua pantai ini dapat ditempuh dengan menyeberangi leher hanya dalam jarak ratusan  meter saja. Satu-satunya yang menghambat perjalanan adalah munculnya bukit batupasir dan ultramafik di tengah leher dan rimbunnya pepohonan di tempat itu. Perahu pun mendekati daerah leher dan kami terpaksa turun dan berjalan mendekati bebatuan pantai karena boti tidak dapat merapat. Memang, daerah leher di teluk ini dipagari dengan barisan mangrove yang sangat rapat, memaksa boti berlabuh jauh dan kamipun melompati akar-akar bakau menuju ke tepian. Kami menyempatkan diri naik ke atas dan mengabadikan keindahan Hole Siput dari atas. Ternyata, pantai yang kami kunjungi sebelumnya saat disaksikan dari ketinggian memiliki bentuk melengkung seperti bulan sabit yang sangat indah.

Menembus rerimbunan pepohonan, kamipun tiba di pantai barat Kawei. Pantai ini tidak kalah indahnya dibanding pantai timurnya, bahkan terbentang lebih panjang dengan permukaan airnya yang jernih. Sedikit yang disayangkan saat itu, di pinggir pantai terdapat banyak sampah plastik yang terhempas saat ombak besar datang. Kami pun maklum karena memang saat itu adalah musim angin barat sehingga semua sampah yang berasal dari lautan di sebelahnya terbawa ke perairan Kawei. Di kejauhan, tampak sepasang penyu atau Teteruga sedang berenang berguling-guling menunaikan seremoni perkawinan mereka. Lebih dari satu jam kami menyaksikan ritual itu dan sepertinya sudah berlangsung berjam-jam sebelumnya hingga kami pun meninggalkan pantai barat dan kembali ke camp.

Sore hari pukul 15.30, aku dan beberapa teman memutuskan akan memancing di deretan pulau-pulau kecil di hadapan teluk. Menggunakan boti yang sama, kami pun meluncur melintasi laut yang mulai berombak di sore hari mendekati lokasi pemancingan. Dari jauh, pulau itu tampak menyatu dan saat didekati ternyata tersusun atas berbagai ‘pot raksasa’ seperti Selat Kabui namun dengan jarak yang cukup berdekatan. Ombak yang sebelumnya cukup menggoyang boti tiba-tiba mereda di sini. Mungkin karena terlindung dari jejeran pulau-pulau karang kecil, ombak yang sebelumnya keras berubah menjadi tenang. Kami mengitari sisi barat, selatan dan timur pulau dan menemukan hanya ada dua pantai yang berpasir dengan panjang kurang-lebih 40 meter. Itupun boti kami tidak bisa mendarat karena pantai sangat dangkal dan cukup riskan juga jika kami berjalan kaki di atas karang runcing. Akhirnya kami memilih spot memancing tepat di tengah dua pulau karang setelah sebelumnya pindah tempat sebanyak dua kali. Saat pertama melempar pancing, kami sepenuhnya tertipu oleh arus laut. Di permukaan, arus air tampak tenang menuju ke timur namun begitu kail kami lempar masuk, segera tertarik kuat ke arah utara sehingga saling membelit dan memaksa motorist untuk memutar arah perahu. Setelah kami mapan di tempat pemancingan terakhir, masing-masing berlomba-lomba melempar kailnya jauh ke tengah. Dan memang betul kata orang, Raja Ampat adalah surganya ikan. Hanya dalam waktu 45 menit, perahu sudah penuh oleh 25-an ikan besar berbagai jenis. Mulai kutila ungu, kutila kuning, kutila merah, tongsen, tongkol, kakap dan nyaris juga salah satu rekan memperoleh ikan hiu. Sayang tarikan khas hiu yang kuat membuat putus tali pancingnya padahal posisi hiu sudah tergiring dan berada di dekat lambung perahu. Puas dengan melimpahnya hasil pancingan, mendekati maghrib kami pun segera meninggalkan lokasi pemancingan menuju basecamp untuk pesta ikan bakar.

Kesempatan berikutnya kami habiskan dengan mengelilingi bagian utara pulau dengan menembus lebatnya hutan. Pulau ini sebelumnya memang tidak berpenghuni sama sekali sehingga kami harus membuat rintisan jalan yang sama sekali baru. Di beberapa tempat kami menemukan jejak-jejak kaki babi hutan sebagai satu-satunya binatang berkaki empat penghuni asli pulau terpencil ini. Di daerah teluk ada juga seekor anjing putih, namun anjing itu dibawa dari kecil oleh salah satu crew ke Kawei. Setelah hampir setahun dan tumbuh menjadi anjing muda, sama sekali tidak sekalipun terdengar suara gonggongannya. Mungkin semata-mata karena dari kecil dia hidup sendirian dan tidak menemukan teman sesama sehingga tidak dapat berinteraksi seperti anjing-anjing di tempat lain. Setelah beberapa saat berjalan, kami melepaskan lelah sejenak di atas sungai kecil tipe perennial stream yang bermuara ke teluk di samping basecamp. Karena lingkungannya belum terganggu sama sekali, airnya begitu jernih dan terasa segar di kerongkongan. Anehnya, mungkin karena dipengaruhi oleh mineral batuan sekitarnya, air sungai di sini rasanya agak sedikit manis. Air bersih adalah barang yang langka di pulau ini dan dengan luasnya yang 2.000 hektar, diperkirakan hanya ada sekitar 6 buah sungai kecil yang tersebar di seluruh bagian pulau. Naik ke atas hulu sungai menuju ketinggian sebelah atas pulau, tampak jelas resort Pulau Wayag yang sangat terkenal itu di sebelah utara pulau. Perjalanan ke sana kira-kira dapat dtempuh satu jam dengan speedboat, dan jangan sekali-kali mencoba menuju Wayag menggunakan boti satu engine karena posisinya yang berada di pinggir Samudera Pasifik. Sekali engine mati atau terhantam ombak besar maka dipastikan boti akan tenggelam atau hanyut terbawa arus ke samudera luas. Kulemparkan pandangan ke barat dan tampak Pulau Balbalak dengan profilnya yang memanjang dan Pulau Gag yang merupakan pulau terluar di bagian baratdaya Raja Ampat. Selain itu, tampak pula samar-samar Pulau Gebe yang sudah masuk ke dalam wilayah administrasi Maluku Utara. Benar-benar deretan pemandangan kepulauan perawan yang sangat indah.

Meninggalkan Kawei, perjalanan pulang menuju Sorong kulalui dengan berat hati walaupun pemandangan yang indah tersaji di kiri kanan speedboat. Tiba di kota Sorong, setelah check in dan sambil menanti flight esok harinya, kuhabiskan waktu menyusuri pesisir dengan berjalan kaki. Saat itu aku menuju Pasar Boswesen, pasar tradisional Sorong. Berbagai hasil bumi tersedia melimpah di sini, begitu juga dengan pedagangnya yang terdiri dari Suku Bugis, Jawa dan Papua sendiri. Namun, aku tidak menghabiskan waktu dengan menyusuri lorong pasar yang pengap namun berbelok ke belakang pasar. Di sini, banyak perahu tertambat di muara sungai dan banyak anak menghabiskan sore hari dengan memancing di tembok pinggir pantai. Aku pun menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu pula dengan menyaksikan indahnya matahari bulat yang tenggelam perlahan di ufuk barat.

Getting There :

Sorong adalah kota transit menuju Raja Ampat. Dari Sorong, tersedia kapal penumpang kayu KM Raja Ampat yang melayani rute kota-kota besar seperti Saonek, Bianci hingga Waisai. Namun, untuk mencapai Kawei, dapat menggunakan speedboat sewaan dengan harga 5 – 6 juta pp tergantung besarnya speedboat dan banyaknya engine.

Dari Jakarta, menuju Sorong dapat menggunakan maskapai Merpati ataupun Express Air dengan transit Makassar dan total lama perjalanan 5 jam. Harga tiket sekitar 1,8 hingga 2,2 juta dan melonjak saat week end atau liburan.

Where to Stay :

Hotel Meridian (0951-327999) cukup direkomendasikan karena bersih dan letaknya tepat di depan bandara. Beberapa orang menyukai Hotel Cendrawasih (0951-322367) yang walaupun lebih sederhana namun menawarkan breakfast prasmanan.

Tips :

Sorong memang memiliki pemandangan yang cukup indah namun anda harus tetap waspada dan berhati-hati. Bila malam tiba, di atas pukul 21.00 WIT banyak sekali gerombolan pemuda mabuk-mabukan di pinggir jalan, bahkan di tempat umum seperti di angkot atau Tembok Berlin sekalipun. Lebih baik anda tidak keluar malam di atas jam tersebut.

Untuk memilih transportasi ke Raja Ampat, anda dapat menawar harga sewa yang diberikan. Kuncinya adalah anda tahu persis berapa lama waktu tempuh perjalanan dan dapat menghitung konsumsi BBM per jamnya. Sebagai contoh, perjalanan pp ke Kawei jika menyewa speedboat tiga engine akan menghabiskan BBM kira-kira enam ratus liter atau 60 liter per jamnya. Dengan harga BBM 7.000 rupiah per liter maka ongkos BBM total adalah 4,2 juta. Dari basic expense itu anda tinggal memainkan angka layak untuk beaya speedboat saja berikut crew-nya. Biasanya satu speedboat diawaki satu motorist, dan satu atau dua helper/assistant.

Malaria adalah penyakit endemik di daerah Raja Ampat, persiapkan diri anda dengan mengkonsumsi obat-obatan anti malaria sebelum masuk dan saat berada di lokasi. Gunakan pakaian panjang dan sarung tangan serta oleskan lotion anti nyamuk di bagian tubuh yang terbuka. Tipe malaria yang umum ditemukan di sini adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax.

6 Responses to “Menyusuri Keindahan Pulau Kawei; Heaven Comes to Earth ….”

  1. subhanallah keren om

  2. Anonymous Says:

    mampiiiiiiiiiiiiiiiiiiirrr!!! ^^

    -fita-

  3. kapan bisa liat kawei lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: