Menguak Selimut Kabut Mistisme Mamasa

Oleh : R. Heru Hendarto

(versi edit telah diterbitkan di Majalah Garuda Nov 2011)

West Tana Toraja, demikian julukan bagi Mamasa yang terletak di provinsi muda Sulawesi Barat. Tenggelam dibalik nama besar Tana Toraja, Kabupaten Mamasa yang anggun diselimuti kabut sebenarnya menawarkan keindahan alam dan kedalaman budaya yang sangat mengagumkan. Malam itu, seorang tua berambut putih masuk ke dalam bis non AC yang sudah sarat dengan penumpang. Melantunkan salam pembukaan, beliau lalu memimpin doa bagi para penumpang dan kendaraan agar selamat sampai di tujuan. Sesudahnya, segera pukul 20.20 bis PIPOSS meluncur dari Terminal Daya membawa saya menuju pesisir barat Sulawesi, kota Polewali. Kata PIPOSS sendiri cukup unik, karena merupakan kependekan dari kalimat bijak ‘Padaidi Padaelo Sipatuo Sipatokkong’. Artinya kurang lebih ‘Bersama-sama Sama Rasa Saling Bantu’. Kondisi jalanan yang masih diperbaiki membuat bis terguncang-guncang meliuk-liuk di jalan poros berdebu Makassar-Pare Pare. Terjepit sempitnya kursi depan dan penumpang sebelah, saya pun terlelap karena kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Bau Bau. Tepat pukul 03.30, saya terbangun dan turun di Terminal Tilopaya Polewali, menghabiskan subuh di sana dan selanjutnya ayam masih berkokok ketika saya meluncur di atas pete-pete menuju perempatan Mabuliling. Di sana, sudah tersedia banyak Kijang yang akan membawa kita ke kota Mamasa. Tiga orang tergopoh-gopoh berlari menghampiri saya segera begitu turun dari pete-pete :” Mamasa? Mamasa?”. “Iya Pak, tetapi kenapa jadi ramai begini?”, jawab saya sambil tersenyum. Mereka pun lalu tertawa, dan kembali berlari-lari dengan kocaknya mengejar calon penumpang lain. Mereka, bapak-bapak dewasa yang notabene saingan mencari penumpang satu sama lain, tampak demikian akurnya dan bercanda satu sama lain. Bahkan tak jarang mereka menyerahkan penumpang mereka ke mobil yang lain. “Hmm, banyak rupanya pelajaran kehidupan yang bisa kita tiru dari mereka”, pikir sayadalam hati.

Kabut masih bergayut dengan lembutnya ketika mobil mulai menanjak di ketinggian 600 meter. Buruknya kondisi jalanan membuat semua penumpang terguncang-guncang. Tiada hiburan lain satu-satunya kecuali melayangkan pandangan ke sebelah barat di mana terhampar birunya teluk Polewali sementara di hadapan terbentang hijaunya perbukitan Mamasa. Di balik tebing-tebing jalan yang longsor, banyak sekali terdapat aliran sungai jernih dengan airnya yang tampak menyegarkan. Perjalanan tambah mengasyikkan ketika memasuki daerah Messawa, mulai tampak suguhan panorama pedesaan dengan rumah-rumah sederhana adat Tongkonan di sana-sini. Saya pun sangat menikmati perjalanan tersebut, tentu saja melayangkan pandangan sambil berpegangan erat pada door rail karena mobil berjalan zig-zag dengan hebohnya mengatasi lubang dalam, tanjakan terjal serta tikungan tajam. Walaupun Mamasa sudah berta

hun-tahun mandiri menjadi kabupaten, prasarana jalan utamanya sangatlah buruk. Selain dikarenakan medan yang terjal dan berkelok, litologi dasarnya pun batupasir agak lepas sehingga dengan morfologi asli yang terjal sangat rawan akan bahaya longsor. Ada joke setempat yang dilontarkan Alex, sang supir, bahwa jika orang Mamasa hendak membuat Surat Izin Mengemudi (SIM) di Samsat, tidak akan dipersulit. Seringkali cukup hanya dengan menjawab bahwa si supir asli Mamasa, SIM akan diberikan begitu saja tanpa perlu driving test. Bahkan petugas daerah sana pun sudah yakin dengan kemampuan mengemudi orang Mamasa, yang sebenarnya diasah secara alami oleh beratnya medan perjalanan yang harus ditempuh.

Matahari sudah bergeser ke ufuk barat ketika saya memasuki kota Mamasa. Kota kecil nan sejuk ini terletak di ketinggian 1.100 m dpl, dan dikelilingi oleh puncak-puncak bukit hijau yang menjulang. Penginapan sengaja saya minta carikan oleh Pak Alex di tengah kota, dan dipilihkan di tengah pasar -cukup nyaman sepertinya karena memudahkan untuk akses ke mana-mana. Matahari semakin condong ketika saya sudah duduk di

sadel belakang ojek motor, kembali terguncang-guncang menuju ke timur kota. Kabut berarak tepat di atas kepala, membuat saya seolah-olah berjalan di antara awan. Tampak sawah hijau menguning terhampar berteras-teras di lereng perbukitan utara Mamasa, demikian indahnya. Apalagi hamparan beberapa rumah adat yang tampak dengan julangan atapnya yang serupa perahu membuat suasana saat itu demikian indahnya. Motor saya berhenti di Kampung Tua Tawalian, sekitar 4 km sebelah timur Mamasa. Di sini, terdapat gereja tua yang dibangun pada tahun 1929 oleh Zeding dari Belanda. Misionaris ternyata sudah cukup lama memasuki daerah ini dan berbaur dengan kepercayaan Aluk Todolo masyarakat setempat menghasilkan akulturasi budaya yang cukup unik. Tampak di dalam gereja, dinding dan mimbar dihiasi pahatan merah-hitam-kuning khas Mamasa dan aksesoris lokal yang indah dan tampak serasi. Saya pun naik ke menara atas, dimana lonceng tua yang sudah aus digantikan lonceng baru yang lebih kecil namun lebih kuat. Dari atas, tampak terhampar pemandangan desa Tawalian yang indah. Beberapa atap Tongkonan tampak mencuat di kampung Sirenden, sementara di sebelah bawah terlihat sebuah rumah adat Parengnge’ yang tampak sudah demikian tuanya.

Kabut semakin tebal ketika saya kembali ke arah kota untuk segera berbelok ke utara memasuki jalan Mamasa-Toraja menuju Rantebuda. Selepas melewati pemandian air panas Kole, saya memasuki kompleks rumah adat Rambusaratu’. Pak Deny, salah seorang generasi keturunan ke-21 bangsawan setempat menyambut saya dengan ramahnya. “Tongkonan Mamasa memiliki kekhasan memiliki kamar lima sedangkan Toraja hanya memiliki jumlah kamar tiga”, demikian katanya. “Saya perhatikan dari luar, atapnya kok berbeda juga ya Pak?”, sambung saya. “Oh ya, atap di sini terbuat dari Uru, yaitu sirap dari sejenis kayu jati yang bisa bertahan hingga seratus tahun. Di Toraja, atap Tongkonan didominasi bambu dan tempelan ijuk”, jelasnya. Ternyata, sedikit perbedaan letak geografis dapat membuat sebuah kebiasaan berubah mengikuti ketersediaan alam. Bahkan, bahasa sehari-hari yang digunakan pun mengalami beberapa modifikasi walaupun pada intinya bahasa Mamasa dan Toraja identik. Saya perhatikan, rumah-rumah di Mamasa tidak memiliki aksesoris seramai Toraja, terutama tanduk kerbau yang menghiasi tiang depan rumah. Hanya rumah di Rantebuda berusia lebih dari 500 tahun inilah yang cukup banyak menyampirkan tanduk kerbau sebagai simbol status si pemilik, sementara di tempat lain cukup hanya dengan menggantungkan gendang dan kulit kerbau yang dikeringkan. Sebagaimana Toraja, cerita-cerita klasik akan mayat yang dikebumikan dengan cara disuruh berjalan sendiri pun santer beredar. Orang Mamasa zaman dahulu, suka merambah ladang menembus hutan dan gunung terjal yang jauhnya berhari-hari. Jika salah satu anggota meninggal di jalan, maka karena repot dan beratnya medan, diadakanlah upacara pembangkitan mayat. Mayat itu kemudian akan dapat berjalan kembali ke rumahnya dengan melintasi bukit dan hutan sendirian. Tentu saja, hal itu dilakukan dengan niatan baik, yaitu memulangkan si mayat ke keluarganya yang jauh. Namun itu cerita dulu, sekarang praktek seperti itu sudah ditinggalkan. Tetapi hingga sekarang pun, kekuatan mistisme Mamasa memang masih tampak tersisa, dah bahkan orang-orang dari Toraja pun segan terhadap saudara mereka ini.

Hari terakhir, langit pagi masih diselimuti kabut dan saya sudah kembali menumpang di atas motor milik Tadius, ojek langganan saya itu menuju Ballapeu’ sejauh 12 km. Utamanya saya hendak menuju Buntumusa, puncak bukit yang cukup tinggi di kawasan ini sehingga saya dapat menyaksikan hamparan indahnya lembah Mamasa dari ketinggian. Ballapeu’ sendiri adalah desa tertinggi yang terletak 1.600 m dpl dan masih menyimpan berbagai macam rumah adat yang masih asli. Tiga puluh menit rupanya terasa begitu lamanya, namun iming-iming indahnya hamparan sawah lembah Mamasa membuat saya menahan sekuat tenaga rasa nyeri di pinggang. Tak sia-sia rupanya pagi itu, tepat sebelum memasuki desa, saya berpapasan dengan ratusan penduduk desa yang berarak menuju pemakaman di atas bukit. Rupanya, pagi itu adalah waktunya tabur bunga bagi penduduk desa yang meninggal karena sakit liver. Tabur bunga dilakukan pada hari kedua, lalu tujuh hari berisitirahat dan disambung dengan tabur bunga kembali pada hari ke-sepuluh. Bunga yang digunakan bebas, asalkan indah dan harum. Darah yang mengalir di tubuh saya terasa terhenti, menyaksikan deretan orang-orang asli Mamasa berpakaian hitam berjalan di perbukitan beriringan dalam suasana hening dan mistis. Kabut yang berjalan di sekeliling membuat saya seolah-olah merasa bukan sedang menginjakkan kaki ‘di dunia’. Para anak kecil, tampak sebagian menjunjung tongkat dengan simbol keagamaan berwarna perak di atas kepala. Para wanita dalam balutan Kaen Itam tampak menangis meraung-raung di atas kuburan yang belum ditutup dan melemparkan bunga di genggaman sementara para pria mengumpulkan kayu untuk membuat pondokan.

Acara tabur bunga pun usai, namun kesan dingin dan mistis Mamasa tetap membekas di benak saya. Keramahan penduduknya, alam yang indah serta bangunan-bangunan tua menghiasi pedesaan yang tampak apik membentengi kaki bukit dan dibingkai dengan persawahan yang demikian luas menghijau. Kabut Mamasa mulai menipis seiring naiknya matahari di ubun-ubun. Saya mengamati pergerakannya perlahan menggelayut di antara sisi-sisi bukit. Terlihat sungguh apik dan mengesankan membuat saya membenarkan pernyataan salah seorang turis barat yang pernah masuk ke Mamasa beberapa tahun lalu : “It could have been Scotland”.

Getting There :

Hampir semua maskapai Indonesia melayani jalur penerbangan Jakarta – Makassar dengan harga tiket mulai dari 800 ribu. Dari Makassar, anda dapat naik bis 3/4 PO Bukit Zaitun atau Mamasa Trans dari Terminal Daya pukul 7 pagi dan tiba pukul 6 sore.  Atau anda dapat melakuan reservasi dengan kendaraan pribadi Kijang dan Panther (100.000) yang disulap menjadi mobil angkutan umum.  Cara lain adalah dengan mengambil bis AC ke arah Mamuju atau Majene dan turun di perempatan Mabuliling Polewali (60.000) lalu melanjutkan perjalanan dengan Kijang ke Mamasa (50.000). Poros jalan Polewali-Mamasa rusak berat.

Terdapat pula penerbangan Lion ke Mamuju setiap harinya, namun karena jarak tempuh Mamuju-Mamasa yang mencapai 10 jam, opsi ini sebaiknya dihindari. Jika hendak kembali ke Makassar, terdapat bis yang berangkat pukul 7 pagi atau Kijang yang berangkat setiap saat menunggu penuhnya penumpang.

Where to Stay :

Sudah banyak terdapat hotel dan penginapan di Mamasa. Jika anda ingin menikmati pemandian air panas Kole, anda dapat menginap di Mamasa Cottage (300.000) CP 0813-42523777/0813-55391499. Untuk memudahkan akses transportasi (ojek dan kendaraan umum), anda dapat mencoba guest house murah meriah Mini yang terletak di selatan Pasar Mamasa Kota (100.000) CP 0813-42075883.

What to Do :

Mamasa menawarkan keindahan alam dan arsitektur tua seperti Toraja. Namun yang menyenangkan adalah daerah ini belum terjamah mass tourism sehingga anda dapat dengan leluasa menuju berbagai tempat wisata dan menikmati keaslian Mamasa seutuhnya. Waktu satu hari sudah cukup untuk menikmati Mamasa kota dan sekelilingnya, namun idealnya jika anda hendak meng-explore lebih jauh, diperlukan waktu minimal satu minggu. Dalam waktu itu, anda dapat mengunjungi kubur batu di Nosu (5 jam perjalanan) atau mengunjungi air terjun Mabuliling (satu hari perjalanan) atau air terjun Liawan di Sumarorong (38 km ke selatan).

Jika fisik anda prima, anda dapat mencoba jalur trekking Mamasa-Toraja selama 3-4 hari berjalan melewati pedesaan di perbukitan dingin Sulawesi. Anda dapat menggunakan jasa tour guide atau dapat melakukannya sendiri karena jalurnya cukup jelas sehingga tidak akan tersesat. Di perjalanan anda dapat menginap di rumah penduduk dengan membayar atau bertukar sembako dengan mereka.

Sebagai oleh-oleh, kain tenun Sambu buatan tangan ibu-ibu Mamasa terkenal sangat berkualitas baik. Demikian pula kopi Arabica dan Robusta Mamasa (yang sering dinamakan juga dengan kopi Toraja), adalah kopi kualitas prima yang cukup layak anda jadikan buah tangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: