Melewatkan hari di Vosmaer Baai, Kendari

Oleh : R. Heru Hendarto

(versi edit telah diterbitkan di Majalah JalanJalan Mei 2009)

Belum lama azan subuh berselang, saya telah melangkahkan kaki menuju hamparan air di pinggir sebuah teluk yang cukup luas. Diiringi keheningan yang menenangkan jiwa, tampak semburat rona merah muda dan oranye muncul di ufuk timur. Perlahan sinarnya menerangi langit dan membuat permukaan air teluk berkilat-kilat dengan indahnya. Awan-awan tipis berarak diagonal dan refleksinya di permukaan air seolah-olah membingkai teluk dengan manisnya. Lama sekali saya berdiri dan menyaksikan sensasi itu sambil terus menikmati hembusan angin pagi yang menyegarkan dada.

Kendari adalah sebuah kota di ujung tenggara kaki “K” Sulawesi, bukanlah merupakan kota besar seperti Makassar atau Menado namun cukup memiliki pesona alam yang menarik. Di tengah kota, terdapat sebuah teluk yang disebut Teluk Kendari. Jauh sebelum nama ini dikenal, Belanda memberi nama Vosmaer Baai sebagai penghargaan kepada residennya, Vosmaer. Teluk seluas 18 km2 yang menjadi muara sungai Wanggu, Kambu dan Anggoeya ini membelah kota Kendari menjadi dua, Kendari Lama dan Kendari Baru. Kendari Lama berlokasi di timur dan ditempati oleh pusat perniagaan dengan pertokoannya yang tampak kuno sedangkan Kendari Baru menempati bagian barat kota yang tercirikan dengan berdirinya bangunan-bangunan instansi pemerintahan kota. Vosmaer Baai kemudian semakin jarang digunakan seiring dengan populernya nama Kendari yang berasal dari kata Kandai. Kandai adalah nama alat kayuh/penokong rakit atau perahu dari bambu yang panjangnya tiga depa.

Diiringi hangatnya sinar matahari pagi yang baru saja muncul di ufuk, saya melangkahkan kaki menyusuri bypass menuju ke arah Kendari Beach. Jalur di pinggir teluk sungguh nyaman untuk dilewati, sejauh mata memandang hanya hamparan air yang luas di sebelah kanan. Sesekali kamera saya menangkap panorama matahari yang masih malu-malu muncul di balik awan pagi itu. Rona kuningnya menembus awan dan terpendar hingga menerangi keseluruhan pantai dengan warna-warni keemasan. Tiba di Kendari Beach, saya agak terkejut. Ternyata tempat ini bukanlah seperti pantai-pantai lainnya. Di sini, ombak laut tidak langsung menerpa dan pantainya tidak berpasir sama sekali! Kendari Beach ternyata adalah penamaan suatu bagian dari Teluk Kendari yang cukup panjang dan digunakan sebagai tempat menghabiskan waktu masyarakat kota di sore dan malam hari.

Saat itu, air sedang surut dan dari batas bakau yang tumbuh di pinggir teluk tampak bahwa beda ketinggian pasang-surut di daerah ini mencapai dua meter. Sebuah kapal nelayan beukuran besar tampak kandas di atas lumpur dasar teluk yang berwarna coklat pucat. Kapal kayu itu hanya bertumpu di lunas bawah kapal dan agar tidak rubuh, beberapa tonggak kayu besar dipasang di kiri-kanan perahu. Di sudut-sudut lain teluk, tampak pula beberapa kapal dan perahu berbagai ukuran bernasib sama dan seolah-olah pasrah teronggok di pinggiran. Air yang surut ternyata tidak ikut menyurutkan mental para penduduk sekitar, di kejauhan tampak seorang penjaring ikan pulang menyusuri pantai. Di bahunya tersampir jala ikan yang cukup berat, dibawanya melangkah melalui hamparan lumpur dasar teluk yang lengket. Sebuah kantong plastik besar berwarna hitam tergantung di pinggangnya. Dari kejauhan, tampak kantong plastik tersebut terayun perlahan karena berisi ikan yang cukup banyak di dalamnya.

Di sisi timur, tampak serombongan kapal nelayan sedang membongkar muatan. Tampak sekitar 15 buah kapal berlabuh di teluk dan masing-masing dikelilingi oleh beberapa sampan kecil. Karena air surut, kapal besar tidak bisa mendekat ke daratan sehingga tangkapan hasil melaut sebelumnya dipindahkan dengan estafet sampan kecil. Saya perhatikan, proses ini memakan waktu cukup lama, hingga dua jam lebih. Itupun sebenarnya sudah dibantu oleh beberapa pemuda yang mondar-mandir separuh berenang menarik sejenis rakit yang di atasnya diisi keranjang-keranjang penuh berisi ikan. Sementara, pagi itu matahari bersinar dengan cerahnya menerangi langit biru di atas teluk. Panorama teluk yang memang memiliki potensi wisata bahari seperti selancar angin dan dayung motor air ini saat itu memang sungguh menawan. Hampir tiga jam saya menghabiskan waktu di pinggir teluk menyaksikan bongkar-muat hasil tangkapan para nelayan saat itu.

Saya terus melangkahkan kaki menuju terus ke timur dan panas matahari yang terik menyengat menghentikan langkahku di pinggir pelabuhan Kendari. Tidak terasa sudah empat kilometer lebih saya berjalan menyusuri teluk dan kiranya siang ini saya harus berhenti untuk beristirahat. Tepat di tengah hiruk-pikuknya proses bongkar-muat di pelabuhan, saya menyetop ojek dan kembali ke hotel untuk beristirahat.

Pukul 17.00, kembali saya meluncur ke Kendari Beach mengunakan taksi. Tidak seperti sebelumnya, saat itu saya cuma berniat menghabiskan waktu di situ saja hingga malam tiba. Sore itu, tampaknya semakin banyak perahu dan kapal nelayan berlabuh di pinggir. Sepertinya, di bagian barat dari tempat ini adalah tempat favorit para nelayan untuk mengistirahatkan perahunya melewati malam. Air laut sudah mulai naik dan tampak beberapa pemuda sedang membersihkan kapal mereka. Seiring masuknya mentari ke horison, mereka pun bergegas meninggalkan kapal dan menuju ke pinggir menggunakan sampan. Azan maghrib mengumandang menutup hari itu meninggalkan deretan perahu yang terdiam membisu dilantun ombak mengalun kecil di pinggir Kendari Beach.

Malam menjelang, tempat ini bukannya semakin sepi namun malahan tambah ramai. Memang, di Kendari, tempat ini lah satu-satunya yang cocok untuk menghabiskan malam. Kios-kios makanan hingga warung seafood bertebaran di sepanjang pantai. Berbagai macam jajanan pun disajikan di sini, mulai dari minuman khas yang menghangatkan, sarabba ataupun pisang goreng yang ditaburi coklat dan gula di atasnya yang lebih dikenal dengan sebutan pisang epek. Muda-mudi berdatangan menggunakan sepeda motor ataupun kendaraan roda empat, bercanda satu sama lain dengan riangnya. Di seberang, tampak kerlap-kerlip lampu menghiasi pinggiran teluk dengan indahnya.

Puas menikmati suasana teluk di malam hari, saya kembali ke arah kota. Tepat di pinggir sungai di sebelah Rabam, sebuah keramaian memancing saya ke sana. Ternyata, sedang ada acara hajatan salah satu warganya. Di situ, digelar tarian pergaulan muda-mudi yang biasa disebut dengan tarian Lulo atau Molulo. Molulo asalnya adalah tarian pergaulan dari Suku Tolaki yang dibawakan beramai-ramai sambil bergandengan tangan membentuk lingkaran besar. Inti tarian ini adalah ungkapan rasa syukur dari masyarakat atas sesuatu keberhasilan yang dicapai yang sekaligus merupakan ajang pertemuan muda mudi untuk saling menjejaki perasaan adanya benih-benih cinta diantara mereka. Perserta tarian tidak mengenal tingkat dan golongan dalam masyarakat, sehingga tarian ini menjadi tarian rakyat yang sangat populer. Dalam perkembangannya hingga sekarang, tarian ini telah menjadi tarian daerah Sulawesi Tenggara yang sangat digandrungi bukan saja oleh masyarakat Tolaki, akan tetapi juga oleh suku-suku lain yang ada di Sulawesi Tenggara. Di daerah Sulawesi Tengah, tarian serupa disebut dengan nama Madero. Saya hanya menyaksikan saja dari kejauhan keakraban dan keceriaan para penari yang bergandengan tangan mengentakkankaki dan tangan dalam harmoni dalam lingkaran besar.  Sungguh suatu pengalaman sehari yang begitu mengesankan di sini, di Kendari.

Getting There :

Penerbangan ke Kendari dari Jakarta dilayani oleh banyak maskapai seperti Garuda, Merpati, Batavia, Sriwijaya dan Lion Air. Transit di Makassar, total perjalanan mencapai hampir tiga jam di luar waktu transit. Harga tiket pada saat low season berkisar dari 900 ribu hingga 1,5 juta rupiah.

Where to Stay :

Hotel Dewa Bintang (0401-331661) terletak cukup dekat dengan Teluk Kendari namun Hotel Imperial (0401-391222) cukup direkomendasikan karena bersih dan letaknya tepat di di pusat kota dan oleh-oleh. Sebagian besar hotel lain tersebar di Jalan Ahmad Yani, sebagai salah satu pusat dari kota Kendari.

Tips :

Menjangkau tempat-tempat di Kendari dapat menggunakan ojek yang banyak lewat di jalan raya, cukup berdiri di pinggir jalan dan mereka akan berhenti untuk menawarkan jasa. Harga sekali jalan dalam kota jarak dekat berkisar antara 3.000 hingga 5.000 rupiah. Opsi lain dapat menggunakan taksi Dachtraco (0401-326600) ataupun angkutan umum lain seperti angkot.

Jangan lupa untuk menyempatkan diri membeli oleh-oleh khas Kendari seperti jambu mete yang cukup melimpah. Berbagai variasi olahan mete dapat ditemukan di kota ini dengan harga cukup murah jika bertepatan dengan musim panen buah tersebut.

Tidak ada salahnya menyempatkan diri pula mengunjungi sentra pakaian bekas ‘RB’ yang terletak di depan Mall Rabam. Di sana dapat dipilih berbagai pakaian dan aksesori bekas ataupun baru meliputi baju, celana, jaket, tas bahkan sepatu. Jika beruntung anda akan dapat menemukan barang bermerk dengan kondisi bagus dengan harga cukup miring.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: