Mencicipi Secuil Keindahan WAKATOBI

Oleh : R. Heru Hendarto

(versi edit telah diterbitkan di Majalah JalanJalan Juni 2009)

Tanpa terasa sudah tujuh bulan saya beredar di seputaran Sulawesi Tenggara, namun belum sekali pun sempat berkunjung ke daerah dambaanku, Kabupaten Wakatobi. Berita yang santer mengenai keindahan pulau dan alam bawah lautnya sangat menggoda hati. Syukurlah, saat singgah di BauBau lalu saya dapat kesempatan untuk backpacking sendirian ke sana. Ah, tak terperi rasa girang di hati waktu itu, seperti kanak-kanak memperoleh hadiah gulali mungkin.

Sehabis isya, dengan ojek saya meluncur menuju Pelabuhan Murhum-BauBau. Sebuah kapal kayu yang cukup besar telah sedia menunggu. Dengan bobot 170 GT, KM Aksar Saputra 01 adalah kapal kayu penumpang terbesar yang pernah saya tumpangi selama ini. Mungkin malahan inilah pengalaman pertama saya menaiki kapal kayu yang khusus diperuntukkan bagi penumpang, bukan barang sebagaimana pengalaman sebelumnya. Malam itu, kapal sudah lumayan ramai dengan calon penumpang, sehingga saya buru-buru membeli tiket. Lelah mendera di badan sehabis merampungkan pekerjaan dan work travelling yang cukup lama, saya memesan kamar. Jangan pernah membayangkan kamar mewah ber-AC yang tersedia, alih-alih adalah kabin kayu ABK dengan dua sampai empat tempat tidur bertingkat. Kelas biasa juga tersedia, tentunya tanpa kamar dan tidur pun berjejeran atas bawah dengan alas kasur busa berlapis plastik. Saya berharap, dengan memesan kamar akan bisa beristirahat dengan baik sehingga esoknya badan pun segar dan dapat explore Wakatobi dalam kondisi fit.

Mendekati pukul sembilan malam, penumpang sekamar saya sudah mulai berdatangan. Sapaan pertama dari mereka untukku adalah : “ Bapak dari kepolisian ya….?”. Waduh, belum apa-apa sudah divonis begini batin saya. Maunya sih saya jawab kalau “Saya orang baik-baik Pak…..”, tapi takut tersinggung. Ya sudahlah, saya jawab saja kalau saya orang biasa, lagi jalan-jalan he he. Ternyata memang saya sepenuhnya ‘salah pilih tempat’. Transportasi satu-satunya saat itu adalah kapal sehingga orang-orang ‘kelas atas’ pasti memilih kamar karena kamar lah fasilitas termewah yang ada. Selanjutnya tidak mengherankan bila pembicaraan mereka di situ adalah kontrak kerja, pemborong, proyek dan lain-lain yang sebenarnya tidak ingin saya dengar. Syukurlah deru mesin kapal segera membahana dan tepat pukul 21.30 kapal pun berangkat meninggalkan BauBau, menyusuri Buton bagian selatan dan selanjutnya berbelok ke timur menuju Pulau Wangi-Wangi. Setengah jam kemudian, kapal sudah melewati daerah hunian penduduk pesisir sehingga digeber tidak keru-keruan sama nakhodanya. Busyet, tidak saya duga, kencang sekali jalannya! Parahnya, getaran mesinnya merambat di dinding dan lantai kapal mengalahkan getaran seluruh bajaj yang beredar di ibu kota … sampai tidur pun serasa berada di atas stoomwalls.

Pukul 06.00 waktu setempat, dengan disambut view matahari terbit yang indah dan hangat, kapal pun merapat ke pelabuhan Panjang kota Wanci yang merupakan ibukota kabupaten Wakatobi. Wakatobi sendiri (dahulu sebelum menjadi kabupaten bernama Kepulauan Tukang Besi) adalah kependekan dari nama pulau-pulau besar di sana, Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Bahkan orang setempat sendiri pun suka terkecoh bahwa ‘Wa’ dari Wakatobi adalah Wanci, sampai saya sempat ‘ngeyel-ngeyelan’ dengan salah seorang pejabat instansi pemerintah saat bertemu di BauBau sebelumnya. Setelah puas menghirup segarnya angin laut dan terpaan hangat mentari pagi, segera tanpa membuang waktu saya segera menyetop ojek dan menuju ke Pelabuhan Mola untuk mengejar speedboat menuju Kaledupa. Jadwal speedboat menuju Kaledupa adalah pukul 10.00 pagi, setiap hari. Sepuluh menit kemudian saya sudah tiba Mola, lalu menghabiskan waktu dengan berjalan memutari desa Mola yang dihuni oleh suku Bajo.

Rumah-rumah kayu sederhana mereka dibangun di pinggir pantai di atas tumpukan batu karang yang disusun dan hanya berpondasi kayu yang diletakkan menumpang begitu saja di atas bebatuan. Namun di bagian lain desa, kita dapat menyaksikan sebagian rumah Suku Bajo Mola yang sudah relatif modern. Jalanan gang mereka sudah berbeton apik dan rumah pun di cat berwarna-warni, fasilitas mewah seperti TV, parabola dan lain-lain tampak menghiasi rumah mereka. Dasar aslinya bawaan suku Bajo, di pinggir desa saya melihat riuhnya anak-anak kecil mendayung sampan hanya bermodalkan sebilah bambu panjang 1 meteran yang dipotong dijadikan dayung untuk bersampan-ria di pinggir laut tenang. Sementara tampak di tepian sebelahnya, seorang anak belasan tahun menyelam membawa senjata tombak mengincar ikan Balala bermodalkan kacamata renang buatan lokal dan kemampuan berenang serta menyelam menahan nafas yang luar biasa. Hebat!

Semangkuk mi instan rebus dan teh hangat manis menemani saya sarapan. Kaget juga karena namanya mi rebus di sini rupanya hanya mi instan yang direndam dalam air panas dan langsung disajikan begitu saja. Jadi, bentuknya pun masih kotak mengikuti bentuk packing aslinya, dengan hanya sedikit kuah dan rasanya pun tentu saja masih keras. Pokoknya jauh sekali berbeda dengan stereotype mi instan yang dihidangkan di Jawa. Apa boleh buat, karena lapar semalaman berlayar, habis juga mi itu dan saya pun meneruskan membunuh waktu sambil menyeruput teh hangat, wuih sedaaap……..! Eeeh, sedang enak-enaknya minum, ada seseorang yang tiba-tiba menaruh dua buah piring dan satu buah gelas kotor satu meter di samping saya. Lebih gila lagi, 2 menit kemudian ada lagi yang menaruh gelas kotor persis di hadapan saya. Gila kali ya! Tapi saya pikir biarlah, mungkin di sini hal seperti itu dianggap biasa, lain lubuk lain ikannya. Tapi saya pikir-pikir lagi, mbok taruh barang yang mengganggu selera dan pandangan macam begitu ya jauh-jauhlah dikit, kenapa harus di muka saya sedangkan di situ ada ruangan 8 x 10 meter persegi?

Setengah jam sebelum jadwal keberangkatan, speedboat dari Kaledupa pun tiba dan berhubung sudah ramai oleh calon penumpang segera saja saya masuk dan duduk di belakang. Di dalamnya, suara ibu-ibu riuh – rendah bercakap-cakap dalam bahasa daerah mereka dengan suara yang audzubillah keras (kata lainnya : berisik! he he). Ah tapi sayang, saya kesulitan merogoh handphone di saku celana, inginnya sih direkam dan dijadikan ringtone seperti momen saya dahulu saat naik angkutan desa Elf ke Blawan-Ijen. Pastinya ringtone seperti itu sangat menarik, unik dan tiada duanya! Speedboat di Pelabuhan Mola ini melayani jurusan ke Kaledupa dan Tomia, selain jurusan Bacan dan Obi di Maluku Utara dengan kapal kayu yang jadwalnya agak susah dipegang. Speedboat di daerah ini luar biasa, seringkali saya melihat speedboat yang dilengkapi 3 dan 4 engine namun di sini speedboat umumnya diperlengkapi dengan 5 – 6 engine berkekuatan 40 pk! Namun saya kira hal demikian lumayan wajar mengingat Wakatobi sendiri posisinya di tengah laut terbuka dan speedboat memiliki kapasitas 50 orang sehingga perlu ‘ketangguhan’ untuk mengarungi ombak lautan yang ganas. Sekedar info saja, satu badan speedboat terbuat dari fiberglass berharga 280 juta dan satu buah engine 40 pk seharga 25 juta, jadi total jendral bisa senilai 400-an juta rupiah itu harganya! Hmm, serasa menumpangi Land Cruiser di lautan lepas.

Selanjutnya speedboat mulai meluncur dengan kecepatan di atas rata-rata menembus angin timur yang mulai bergejolak. Di dalam speedboat baru lah saya paham bahwa rute yang ditempuh adalah Mola – Bajo Sama Bahari (Sampela) – Ambeau – Buranga – Langge dan terakhir bermalam di Lentea. Tanya punya tanya, untuk ke pulau Hoga bisa disambung dari Bajo Sampela atau pun dari Ambeau. Di perjalanan saya juga sempat berkenalan dengan mantan kepala desa Langge, La Besi. Dari beliau lah saya diperkenalkan dengan La Dedi dan akhirnya saya memutuskan menginap di kediamannya di Ambeau. Rencana menginap di resor Hoga saya batalkan karena speedboat kembali ke Wanci esok paginya dan hanya ada satu kali sehari sedangkan saya hanya punya waktu mepet, dua hari untuk explore Wakatobi sehingga pasti tidak terkejar untuk kembali ke BauBau bila menginap di Hoga. Rencana untuk ke Tomia dan Binongko pun batal karena speedboat hanya tersedia sehari sekali sehingga tidak mungkin terkejar kecuali mengambil opsi sewa speedboat dengan harga 5 – 8 jutaan. Idealnya, bila kita backpack dengan transportasi umum yang ada, explore Wakatobi memerlukan waktu minimal satu minggu penuh.

Tiba di kediaman La Dedi di dekat pelabuhan Ambeau, matahari tepat di atas kepala. Namun saya sungguh terkesan, rumah-rumah penduduk di sini tersusun apik dan bersih walau pun sebagian besar tidak memiliki tanah yang menutupi sebagian besar pekarangan selain pasir putih, batu karang dan genangan air laut. Keelokan dan kerapian kota kecil ini jauh mengalahkan kota kecamatan lain di Buton. Dan ternyata kediaman La Dedi ini sering pula digunakan oleh backpacker asing. Saya tahunya saat dia berkata bahwa turis di sini ada yang menginap di Resor Hoga namun ada pula yang memilih Kaledupa. Saya pun mengambil kesimpulan bahwa hanya yang kere-kere sajalah yang tidak memilih resor Hoga yang paketnya minta ampun harganya. Omong-omong soal nama, penduduk di daerah Buton dan sekitarnya sering menggunakan tambahan ‘La’ untuk laki-laki sebelum mencantumkan nama aslinya yang umumnya sangat mencirikan kedaerahan. Asimilasi lanjut dengan bahasa Indonesia menghasilkan kombinasi nama yang terdengar agak aneh di telinga saya. La Dedi, La Kiki, La Irfan dan La Joni adalah beberapa contoh nama yang cukup unik rasanya bagi saya. Aduh, jangan-jangan mungkin sudah banyak pula yang menggunakan nama La Heru di sini?

Sehabis makan siang, saya segera menaiki kepompong (perahu bermesin dalam) bersama motorist Ruslan menuju Hoga. Ruslan sendiri asli Bangka namun sudah lama berdiam di Ambeau, akunya dia sering mengantar tamu dari berbagai media nasional untuk berkeliling Hoga. Sebelum menuju pulau Hoga yang hanya berjarak 20 menit dari Ambeau, saya meminta Ruslan untuk memutari dahulu kampung Bajo Sama Bahari atau Bajo Sampela, julukan untuk mereka dari orang-orang Kaledupa. Kampung ini dibangun di atas tumpukan batu karang, dijadikan perkampungan tepat di tengah genangan laut dangkal dengan kedalaman kira-kira 6 meter. Di kampung ini sudah terdapat fasilitas seperti sekolah, rumah ibadah dan fasilitas umum lainnya. Dahulu, menurut cerita Ruslan, penduduk Bajo Sampela ini masih polos-polos belum tersentuh perkembangan zaman modern. Seperti cerita suku Dayak di Kalimantan, kaum wanitanya masih suka mandi dan berenang (maaf) polos tanpa pakaian dan tanpa rasa risih sedikitpun. Ah, sepertinya saya sepuluh tahun terlambat untuk datang ke sini.

Tiba di Hoga, saya pun tercengang sepenuhnya! Pantai pasir putihnya menghampar dengan pemandangan jejeran cemara dan kelapa menghiasi pesisir dengan eloknya. Saya kelilingi pantai di barat Hoga ini, menembus beberapa pondok kayu milik penduduk yang disewakan. Jumlahnya banyak sekali, mungkin ada 200-an buah rumah kayu yang apik namun tampak sepi. Sepertinya tempat ini disulap menjadi bersih dan ramai hanya di peak season kunjungan turis di bulan Juni dan Juli, selebihnya sepi sekali rasanya tempat ini. Sumber air bersih di pulau ini tidak ada, hanya berupa sumur air payau dan air tawar dari penyulingan milik pengelola setempat. Sambil menunggu sore hari, saya menyempatkan cibang-cibung berenang sendirian di pantainya yang putih bersih dan sangat menggoda itu. Di pinggir pantai, agak menjorok ke dalam kira-kira 30 meter terdapat sebuah bangunan besar. ‘Rumah Adat’ kata Ruslan, yang sebenarnya berupa hall besar dua tingkat dan di bagian kanan bawah dihuni kantor Marine Research Station Wallacea. Berendam di pinggir laut sambil menikmati sea, sand and sun, sorenya saya harus segera kembali ke Ambeau karena bila air surut datang (leting-istilah lokal) maka perjalanan Hoga – Ambeau harus memutar jauh karena terumbu apiknya terekspos kepermukaan dan tidak akan mungkin dilewati oleh ketinting kecil sekalipun. Hoga sendiri sebenarnya terkenal ke seantero dunia akan pemandangan bawah lautnya, bukan keindahan resor-nya. Dan berhubung saya tidak pernah menyelam, saya tidak bisa menyaksikan dan menggambarkan keindahan Hoga secara utuh.

Tiba di Ambeau, saya buru-buru mandi karena sudah diajak oleh La Dedi menuju Desa Sombano yang berada sejauh 8 km ke baratdaya Ambeau untuk menyaksikan matahari tenggelam. Wah kebetulan, berhubung posisi sunset di Ambeau sendiri terhalang oleh ujung pulau. Kami pun naik sepeda motor berdua melewati jalanan desa, di kiri – kanan banyak kopra yang menjadi salah satu andalan daerah ini selain rumput laut yang lebih prospek tentunya. Sombano sendiri adalah desa nelayan di bagian barat Kaledupa dan pantainya menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Di sini juga terdapat sebuah laguna danau Sombano yang menurut cerita cukup indah, namun La Dedi tidak berani membawa saya ke sana karena sudah lupa jalannya dan takut tersesat di hutan. Tapi tak apalah, sunset di pantai Sombano ini sendiri sangatlah indah, keranjingan jepret sana – sini sampai tak terasa habis sudah dua buah memory card. Di sekeliling tampak anak-anak desa bermain bercanda ria, seolah-olah tidak tanpa beban. Walau asyik berlarian sana-sini, spontan begitu azan maghrib berkumandang, mereka berebutan berlari ke rumah masing-masing. Setelah matahari terbenam keseluruhan, kami pun kembali ke rumah selepas maghrib. Setelah mandi untuk kedua kalinya hari itu, saya disuguhi makan malam dengan lauk khas Wakatobi, perangi. Perangi sendiri dibuat dari daging ikan mentah yang dirajang halus dan dicampur bawang merah, garam, jeruk dan sedikit vetsin. Semua saya lahap dengan nikmatnya ditemani sayur dan sambal. Walaupun diolah mentah, rasanya tidak terbilang enaknya sehingga habis tiga sendok penuh perangi sebagai lauk. Yah, sebenarnya saya lapar juga sih jadi maklum kalau agak ‘kalap’ sedikit.

Esoknya, pagi-pagi seusai subuh, saya sudah siap menunggu speedboat di pelabuhan. Rasa kecewa sedikit muncul karena sunrise saat itu penuh terhalang awan tebal. Akhirnya sambil bertempat di atap speedboat, tepat pukul 06.00 saya tinggalkan Ambeau diiringi Here Without You-nya 3 Doors Down. Kamera saya sekali lagi menghajar Kampung Bajo Sama Bahari, mumpung posisi strategis di atap nih. Lewat setengah jam, jantung terasa dag dig dug karena speedboat berjalan perlahan sekali serta mengambil gerakan zig-zag. Ternyata daerah itu adalah tempat pertemuan tiga arus, sehingga di saat angin tenang pun untuk melewati daerah tersebut harus berjalan perlahan dan dipandu oleh motorist yang handal kalau tidak ingin terbalik dan tenggelam tersedot arus. Tiba di pelabuhan Mola satu jam berikutnya, saya pun melanjutkan perjalanan dengan ojek milik La Datu menghabiskan waktu mengitari Pulau Wangi-Wangi.

Tujuan pertama adalah Pantai Sousu di Desa Matahora yang berjarak 20 km dari kota Wanci. Menyusuri jalanan aspal berbatu nan sepi selama satu jam, tibalah saya di tempat ini. Pantai Sousu tampak bersih sekali namun sepi di hari biasa. Pemandangan apik pulau – pulau karang kecil bertaburan terhampar, bahkan Pulau Hoga pun tampak pula samar-samar di kejauhan. Di daerah ini juga dibangun bandara perintis Matahora kota Wanci sebagai jalur penghubung udara dengan kota Kendari dan Bau-Bau. Bila bandara ini terwujud, pastilah kabupaten yang baru berumur 3 tahun ini akan semakin berkembang pesat. Sebentar saja saya menghabiskan waktu di Sousu, selanjutnya kami meluncur lagi menyusuri pantai timur ke arah Pantai Jodo. Tersasar du akali dan bertanya ke penduduk tiga kali, akhirnya sampai jugalah kami. Seperti halnya Sousu, pantai ini juga cukup apik, hanya berukuran lebih kecil dan bentuknya memanjang dengan pulau karang menghadang di muka yang dapat dicapai dengan jalan kaki di saat air surut. Namun sayang sekali, sebagian keindahan pantai sudah dirusak oleh praktek pengambilan pasir liar. Tampak sudut-sudut pantai yang bolong-bolong, bebatuan berhamburan ditimbun oleh pohon kelapa yang bertumbangan. Dua pantai terakhir yang sempat saya kunjungi adalah Molii Sahatu dan One Salibu, dan saya tutup dengan makan siang dan beristirahat menunggu kapal yang akan membawa menyebrang kembali ke Bau-Bau malam harinya.

Setelah menghabiskan sore di Pelabuhan Panjang, saya memutuskan mencari pengganjal perut dahulu di daerah itu. Setelahnya menikmati hidangan nasi goreng yang cukup aneh rasanya, sehabis Isya saya pun sudah berada di atas kapal Uki Raya III. Kapal ini setipe dengan KM Aksar Saputra dan melayani trayek yang sama. Kapal Aksar Saputra sendiri, ada yang melayani rute Wanci – Malaysia untuk mengangkut baju bekas atau RB, istilah kerennya di sini. Kapal Uki Raya berangkat lebih awal, sekitar pukul 21.20 dan seperti sudah kuduga sebelumnya, kapal pun tiba di Bau-Bau lebih cepat dari biasanya. Tentunya hal ini akibat dorongan angin timur yang mempercepat jalannya kapal. Dari pelabuhan, segera saya langsung beristirahat di mess mengakhiri lelahnya penat di badan. Sebelum terlelap suatu tekad terpatri di hati untuk kembali menyambangi Tomia dan Binongko yang belum sempat terjamah. Wakatobi, ku pasti kembali!

Getting There :

Menjangkau Wakatobi dapat melalui BauBau melalui penerbangan Jakarta-Makassar-BauBau dengan maskapai Merpati 3 x seminggu. Harga tiket sekitar 1,1 juta rupiah. Selanjutnya perjalanan menggunakan kapal kayu dari BauBau yang berangkat setiap malam menuju Wanci dengan harga tiket sekitar 120.000 rupiah.

Speedboat menuju Tomia dan Kaledupa tersedia setiap pagi, untuk Kaledupa beaya sekitar 50.000 rupiah. Menuju Hoga, dapat menyewa kepompong seharga 100.000 rupiah per hari.

Jalur lain menuju Wakatobi dapat ditempuh dengan penerbangan private dari Bali menuju Tomia. Dalam waktu dekat juga akan dioperasikan bandara Matahora di Wanci yang melayani rute ke Kendari dan BauBau.

Where to stay :

Tidak ada hotel berbintang di sini, opsinya adalah menghuni pondok kayu milik penduduk di resor Hoga yang dimulai dari harga 50.000 rupiah, atau mendiami homestay penduduk Ambeau dengan harga relatif sama. Booking dapat dilakukan via web atau jika berminat dengan homestay di Ambeau dapat menghubungi langsung La Dedi  (081524274113). Tamu dengan jumlah banyak masih dapat diakomodir.

What to do :

Snorkling dan diving adalah dua aktivitas utama di tempat ini. Peralatan selam dan perahu dapat disewa di sini dengan harga bervariasi. Untuk keperluan itu, Wallacea dan PADI dapat melayani anda. Jika ingin mencari alternatif harga, dapat menggunakan jasa ibu Geertre (0811460986), wanita Belanda yang sudah bertahun-tahun tinggal di sana.

Selain aktivitas dalam air, berenang di pinggiran dan berjemur menikmati indahnya pasir putih di Hoga juga sangat menyenangkan. Mengabadikan sunset dan landscape pulau juga tidak kalah asyiknya. Menikmati hidangan ikan bakar dan kelapa, dapat dipesan melalui penduduk sekitar.

2 Responses to “Mencicipi Secuil Keindahan WAKATOBI”

  1. Alfa Riski Says:

    ceritanya ngalir nyaman banget bacanya terimakasih La Kakak haha😀 *kalau misalkan hendak diving tapi belum punya sertifikat diving apa masih bisa menghubungi ibu geetre?

    • hahaha..kalau ada kata2 yang agak nyeleneh, itu becanda saja😀. Untuk diving saya tidak tahu, Ibu Geetre pun saya tidak update kabarnya lagi karena sudah lama sekali. Setahu saya, diving perlu sertifikat. Kurang tahu apakah bisa didampingi ketat oleh instruktur jika tidak punya, tergantung medan juga sepertinya ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: