Momok Mahasiswa, Pengenalan Geologi Lapangan

Oleh : R. Heru Hendarto

 

Jika mahasiswa jurusan lain cukup hanya merasakan OPSPEK fakultas dan OPSPEK jurusan, tidak demikian halnya dengan mahasiswa geologi. Satu yang menjadi momok mahasiswa baru seperti kami adalah Pengenalan Geologi Lapangan (PGL) yang harus kami hadapi saat memasuki semester kedua. Intinya, dalam acara itu kami akan di-gojlok habis-habisan oleh para senior di hutan dengan materi geologi, yang tentu saja meliputi sejumlah kegiatan fisik yang super berat. Tidur pun di tenda komando dengan fasilitas dan peralatan seadanya. Biasanya kegiatan berlangsung 4 hari 3 malam, dan waktu sebegitu lama sudah lebih dari cukup untuk membuat beberapa peserta pingsan atau trauma. Jika seandainya saya bisa membuat skor dan membandingkan rata-rata bobot penyiksaan antara OPSPEK dan PGL, saya akan kasih skor 3 untuk OPSPEK dan 8 untuk PGL. Skor 9 dan 10 tentu saja, adalah sudah masuk ke kategori siksaan neraka dan neraka jahanam. Karena relatif ringan, ‘bentuk pelecehan’ kami para peserta terhadap panitia dalam menghadapi OPSPEK pun lebih nyata dan berani. Masih banyak di antara kami yang bisa belagu di hadapan panitia yang paling sangar sekalipun. Tepat pada subuh hari OPSPEK Fakultas hari kedua, seorang teman yang tubuhnya tambun tampak berjalan menuju gerbang Fakultas yang jaraknya lumayan jauh, hampir 150 meter. Di muka gerbang, tampak seorang panitia dengan galaknya berteriak-teriak ke peserta yang baru datang dari arah jalan : “Ayo semuanya lariii….jangan ada yang jalan…., lari..!!”, demikian bentaknya. Tampak beberapa peserta yang baru saja turun dari sepeda motor diantar ayahnya segera tergopoh-gopoh berlari membawa segala keribetan aksesoris OPSPEK yang norak ceria itu. Lebih kasihan lagi, beberapa anak kos yang awalnya berangkat dari kosnya saja sudah kelelahan berjalan kaki karena tidak memiliki kendaraan, mau tidak mau segera berlari diiringi jatuhnya keringat mereka yang segede jagung di pagi yang segar itu. Lain peserta-peserta itu, lain pula gaya teman baru saya yang keturunan India keling. Tubuh tambunnya memang menyulitkan dia untuk berlari sehingga dia pun hanya berjalan perlahan menuju gerbang, tentu saja sambil terus disalip peserta-peserta lain yang lebih cepat. Begitu gemasnya terhadap Si Tambun ini, si panitia itu pun berjalan cepat mendekatinya sambil terus berteriak-teriak : “Ayoo cepaat..!! Lambat amat sih kamu ini….nggak lihat tuh semua temanmu pada lari haa…?!”. Si Tambun tetap saja istiqomah, kekeuh tetap berjalan santai tanpa sedikit pun mempercepat langkahnya walaupun dihujani teriakan pedas. Namun, begitu tiba di hadapan si panitia, dia pun hanya berkomentar pendek : “Ngapain mesti lari sih Mas? Wong jalan kaki saja nyampe kok!”. Apa kira-kira balasan si panitia saat ‘dilecehkan’ dengan telak oleh teman keling satu ini? Tidak ada, cuma bisa terdiam memasang raut muka kecut bercampur amarah. Demikian pula saat OPSPEK berlangsung, pada suatu sesi OPSPEK, semua peserta disuruh tunduk sambil dibentak-bentak. Topiknya sih tidak jelas, pokoknya saat itu semua panitia memasang tampang galak dan memarahi peserta tanpa kecuali. Mulai urusan kekurangan laporan lah, jam ngaret lah, sampai teman terlambat hadir karena harus ke kamar kecil pun jadi topik seru. Salah seorang teman seregu tampak cuek memandang ke atas, yang tentu saja segera memancing amarah panitia. “Hei kamu..! Ngapain nengok-nengok ke atas?! Nggak lihat semua teman kamu pada tunduk..?!, demikian bentak salah seorang panitia yang tampangnya terbilang cukup sangar. Sang teman itu pun segera kembali menunduk pelan sambil berkata : “Lagi cari burung Kak!”. “Kuraaang ajaaar….!!! Semua dengar nih, salah seorang teman seregu kalian ada yang berani berkata begitu. Tandanya kalian semua brengsek, tidak kompaaaakkk…!!!”, sambar panitia tadi sakit hati. Dia pun berjalan menghampiri si pembangkang satu itu sambil kembali berkata keras : “Tadi cari burung, sekarang kamu nunduk bisanya cari apa haa..?!. Teman satu itu pun lalu menjawab dengan santainya : “Cari duit jatuh Kak..!”.

Giliran kami menjalani PGL pun hampir tiba, dan rata-rata semua mahasiswa dag dig dug menghadapinya kecuali beberapa rekan wanita. Sudah bukan rahasia lagi bahwa cewek termasuk barang langka di jurusan geologi sehingga begitu ‘muncul’ sudah banyak yang langsung di-booking oleh para senior. Dan waktu satu semester sudah lebih dari cukup bagi para wanita itu untuk tebar-tebar  pesona menaklukkan hati para senior pengagum mereka. Tentu saja, dengan harapan saat PGL nanti mereka akan mendapat guardian angel yang sanggup membentengi dari segala macam gangguan senior berwatak jahat lainnya yang bergentayangan. Seperti si Ninik, yang menjadi kembang angkatan karena kecantikan dan kesupelannya, dengan gampangnya memperoleh ‘nuansa keakraban’ dari para senior. Walhasil, karena sudah akrab, ‘ancaman penindasan’ saat PGL pun akan semakin jauh. Demikian pula dengan si Ina, yang dengan gampangnya menclok sana-sini minta diboncengin senior sambil pelan-pelan menanamkan rayuan mautnya. Bagaimana dengan saya, lelaki berpostur 178 cm, tidak bisa berbasa-basi dan memiliki bawaan wajah yang jauh dari namanya bersahabat? Boro-boro!

Berlokasi di lapangan sebuah desa kecil di pelosok Klaten, kami semua pun tinggal di tenda komando tentara. Sudah menjadi tradisi bahwa angkatan yang kebagian menggojlok anak baru adalah angkatan yang sama genap dan ganjilnya. Jadi, setiap mahasiswa baru akan ‘dihajar’ oleh angkatan dua tahun di atasnya, 99 oleh 97, 98 oleh 96, 97 oleh 95, 96 oleh 94 dst. Dan sudah menjadi tradisi pula bahwa di malam terakhir semua senior, tanpa pandang bulu dari angkatan tahun berapa pun, akan turun di malam pembantaian. Terlebih, ada beberapa senior yang sudah ‘benar-benar senior’, dalam artian angkatan tua tapi tidak lulus-lulus atau sudah lulus tapi masih ngerecokin kegiatan mahasiswa dan masih ‘maksa’ ikut turun di malam pamungkas itu. Senior angkatan-angkatan berat inilah yang sering menjadi biang kerok rusuhnya acara.

Sore hari, kami tiba di lokasi dan setelah menata barang-barang, dimulailah acara pemanasan pembantaian pertama malam itu. Tidak begitu berkesan sebenarnya karena kami masih segar, perut masih kenyang dan kondisi tubuh masih bersih dan wangi. Lagipula, bentakan dan teriakan seperti itu sih sudah biasa kami dengar, kurang seru. Apalagi malam itu kami lebih banyak disibukkan oleh urusan administrasi seperti pembagian kelompok, tugas-tugas wajib, peralatan dan tetek-bengek lain. Oh ya, aksesori kami saat itu adalah pakaian lapangan yang ringkas, karena tidak mungkin kami mengenakan aksesori norak khas OPSPEK yang akan me-ribet-kan segala gerak dalam kegiatan pembantaian ini.

Pukul 07.00 pagi, kami yang sudah terbagi dalam beberapa regu, sudah ‘siap perang’ untuk trekking ke perbukitan sekitar. Tas punggung berisi makan siang, jatah air 600 ml, ponco, buku, pulpen, peta, kompas, lup dan palu geologi serta satu set penggaris segi tiga dan pensil warna pun menjadi teman kami mengembara hari itu. Belum apa-apa, tawa sudah membahana di pagi itu karena ada salah seorang rekan kami yang keliru membawa peralatan tulis. ‘Klip’, yang harusnya diartikan sebagai penjepit kertas, salah diartikan sebagai klip penjepit jemuran. Walhasil, tampaklah penjepit jemuran berwarna-warni sebesar jempol menempel dengan noraknya di clipboard yang dia bawa kemana-mana.

Saat itu, tugas kami hanyalah jalan dan berjalan, menjawab soal, plotting peta dan berjalan kembali. Hukuman menyanyi dan bentak-bentak atau jalan jongkok hanya berlaku di sekitar pos. Pukul 13.30, jatah air minum saya sudah lama habis sedangkan tidak mungkin saya meminta tambahan air ke teman yang juga sudah hampir kehabisan. Walhasil, melihat sungai mengalir dengan jernihnya di lereng bukit, saya pun mencidukkan botol minum saya hingga terisi penuh. Sebagian rekan satu regu meniru saya, yang lebih kreatif langsung mencemplungkan sebutir Redoxon, jadilah minuman yang menyegarkan di tengah siang panas mendung saat itu. Selang dua menit, saya pun menenggak air sungai itu. Seteguk, dua teguk, tiga teguk saya sikat sekalian mumpung sumber airnya dekat, habis tinggal ambil lagi pikir saya. Saat tegukan keenam dan sudah menghabiskan 2/3 air di botol, mata saya terbelalak lebar melihat dua ekor cacing air kemerahan yang bergerak-gerak menjijikkan tertinggal di dasar botol. “Hueeek…!!”, kontan saja saya menyemburkan sisa air di mulut dan menguras habis isi botol, namun dengan terpaksa mengikhlaskan 2/3 air yang sudah terlanjur masuk ke perut. Teman saya yang melihat kejadian itu hanya menepuk pundak dan berkata : “Sudahlah dhab, yang penting kebutuhan air kita hari ini tercukupi, soal kena cacingannya kan urusannya masih lamaaa…”. Saya hanya bisa tersenyum kecut dan sekonyong-konyong nyengir lebar-lebar melihat beberapa rekan yang sudah duluan menghabiskan ‘minuman berenergi’ mereka tandas setandas-tandasnya.

Malam harinya, sesi kedua yang lebih sadis pun dimulai. Hujan yang lebat mengguyur sore harinya membuat kami yang kelelahan siangnya semakin kehabisan energi. Hujan memang pembunuh yang efektif, dan dengan alasan itu pula lah PGL selalu diadakan di bulan Desember. Pakaian yang melekat di tubuh kami pun sudah bercampur lumpur basah karena berbagai bentuk hukuman sudah kami jalankan. Mulai squat jump, lari di tempat, guling-guling di lumpur, sit-up, push-up dan berbagai up-up lainnya. Panitia pun semakin semangat melihat kami yang sudah mulai ‘loyo’, sehingga pressure pun lebih digelar. Kami dipecah-pecah menjadi beberapa kelompok kecil dan beberapa trouble maker termasuk saya pun ditarik keluar barisan sendirian. Tanpa gentar sedikit pun, saya menghadapi segala macam caci-maki senior. Bagaimana mau gentar, lha saat mandi dan bersih-bersih sore harinya kami semua sudah melancarkan operasi intelijen sesama angkatan. Yang intinya tiba pada kesepakatan bersama bahwa panitia berhak memaki-maki, membentak dan lain sebagainya asal tidak main fisik. Pelecehan fisik pada salah satu peserta adalah genderang perang bagi satu angkatan. Hitung-menghitung kekuatan, kami yang ber-78 orang ini tidak akan kalah dari jumlah panitia yang hanya 60-an orang saja. Jadi, apesnya kita keroyok rame-rame pun mereka tidak akan menang, begitu pikiran jahat nan praktis kami pada saat itu. Beberapa rekan yang berbadan gede dan memiliki bekal bela diri dipersiapkan di garda depan. Jadi, walau dimaki-maki bagaimana pun saya sih santai saja, termasuk dengan entengnya menggunakan lengan baju saya untuk mengelap ludah panitia yang berhamburan seperti hujan ke wajah. “Tunduk dik.!! Tunduuuuuukkkkkkkk..!!!, itu lah teriakan perintah yang frekuensinya paling sering terdengar saat PGL berlangsung. “Iya dik, dengar nggak tuh…tunduuuukkkk..!!!!”, itu lah teriakan kedua terbanyak frekuensinya dan sekaligus menjadi teriakan yang  paling kami benci saat itu. Kenapa? Karena teriakan yang dilontarkan itu, bisanya hanya jadi follower mengekor rekannya saja. Apapun perintah rekannya yang jadi leader di depan kami, dia ulangi dengan suara full melengking nan cempreng, dasar.

Sementara itu pula kami sesama peserta tetap saling melirik, jika kondisi makin parah kami tinggal menunggu isyarat dari salah seorang teman dan tak diragukan penyerbuan pun pasti akan terjadi. Bersyukur bahwa acara malam kedua itu hanya ‘sebatas itu’ saja, kami pun tidak sampai terlibat tawuran masal. Akhir cerita, mendekati tengah malam, kami pun dibariskan untuk perpisahan terakhir malam itu. Dalam suasana tegang, seorang senior pun memberi aba-aba terakhir, “Sekaraaanngg…., semua bubarr ke tendaaa massing-massiiiinggg…!!!”. Tiba-tiba Ina, salah seorang rekan cewek yang cukup imut tiba-tiba maju ke depan dan berkata : ”Maaf ya Kak, saya minta izin minum susu dulu karena saya tiap malam harus minum susu sebelum tidur…”. Gubraaakkk, kami semua setengah mati menahan tawa mendengar permintaan anak mama satu ini. Samar-samar saya dengar dan lihat di kegelapan, tertutup rimbunnya pepohonan pinggir hutan, beberapa senior tertawa terpingkal-pingkal sambil sembunyi-sembunyi. Waktu menunjukkan pukul 12 malam, dan kami yang sudah tidak sempat bersih-bersih lagi pun tidur di tenda dengan alas tikar basah. Lumpur yang melekat di badan, di rambut kepala dan (maaf) menyelip di celana dalam pun tidak kami hiraukan sampai kami tertidur semua karena kelelahan.

Peta topografi yang berbeda kembali digelar dan hari ketiga itu lagi-lagi kami harus menempuh jalur yang sudah ditentukan panitia. Iseng-iseng kami yang kemarin penasaran berapa sih sesungguhnya jarak yang kami tempuh saat itu, melakukan pengukuran peta. Gilaaa…, ternyata hari sebelumnya kami menempuh jarak tidak kurang dari 18 kilometer! Dan jarak sejauh itu bukan lah jalan raya yang lurus nan datar, tapi medan perbukitan dengan beda tinggi 500 meteran. Jadi jika dihitung lebih detil mengikuti kontur dan mempertimbangkan slope, jarak yang kami tempuh saat itu setara dengan 22 kilometer! Hari ini, kami tambah lemas saat menghitung jarak yang ada di peta, jalur sejauh 24 kilometer sudah menanti dan harus kami selesaikan hari itu. Sudah terbayang betapa capeknya nanti hanya sekedar untuk menunggu hari berakhir. Mungkin, untuk alasan itu pula lah panitia memberangkatkan kami lebih awal. Pukul 6 pagi lewat sedikit, dan ayam masih berkokok ketika regu pertama dilepas panitia.

Tidak seperti hari sebelumya dimana finish kami di tenda, di penghujung sore hari ketiga ini kami dipaksa singgah di sebuah sendang atau danau kecil yang penuh dengan air. Tentu saja, menjelang maghrib itu kami mulai dibantai habis-habisan karena malam itu adalah malam terakhir PGL. Teriakan ter-favorit pun mulai bergema, “Tunduuuk….ayo semua tunduuuukkkk….!!, demikian Mas Andi berteriak-teriak. Kami pun dipecah-pecah lagi (warisan penjajah berupa politik devide et impera ternyata masih membekas kuat di sini), menjadi kelompok cewek dan kelompok cowok. Kali ini saya kembali di-kerubutin panitia, gara-garanya permintaan ekstra panitia yang saya tentang. Jadi ceritanya panitia meminta peserta tunduk, namun bagi saya agak berlebihan. Tunduknya sampai dagu menyentuh dada, benar-benar hingga menyentuh dada. Jujur, fisik saya entah kenapa, tidak memungkinkan sama sekali untuk melakukan hal itu. Dagu saya tidak dapat menyentuh dada! Bisa sih kalau dipaksa, tapi posisi kepala saya bukan lagi tunduk, tapi membungkuk, lengkap dengan lengkung punggungnya. Kurang tahu apakah gesture saya dianggap mengejek panitia atau bukan, yang pasti kembali saya jadi bulan-bulanan. Kepalang tanggung pikir saya, sekalian saja saya lawan dengan tunduk gaya biasa. Saat ditanya kenapa saya tidak tunduk hingga menyentuh dagu, saya jawab dengan galak : ”Itu bukan tunduk Mas namanya, tapi bungkuk..!! Walhasil, kembali wajah saya ditaburi hujan liur panitia yang dengan semangatnya ber-ramai-ramai mengelilingi saya lagi seorang diri.

Di antara kami, ada beberapa cowok yang ‘terpilih’ untuk menjadi garda depan angkatan jika-jika terjadi bentrokan fisik selama PGL. Saya yang Kyu 2 karate Inkai, Sodik yang pesilat Setia Hati Terate, Ahmad yang atlet PBAD kempo Dan II (terkenal sebagai trio pendekar sakti berwatak selembut domba) dan sekitar 6 orang teman lainnya yang tampak gagah perkasa. Jadi, selain dipilih karena memiliki bekal bela diri yang cukup, beberapa orang dengan postur tinggi kekar pun ikut terpilih. Adalah Donny, salah seorang dari kami garda depan yang asli dari Yogya, memiliki tampang sangar berkulit hitam dan berbadan kekar. Gentho (preman), adalah julukan yang kami berikan buatnya. Donny ini, sangat sukses menjaga ‘brand image kesangaran’ dia selama kebersamaan kami satu semester sebelumnya. Kemana pun dia pergi, terasa betul ‘hawa pembunuh’ yang selalu mengikutinya. Namun tak dinyana sore itu, mungkin memang sudah takdirnya untuk melepaskan jubah baju pembunuhnya.

“Siapa yang merasa kuat, silakan maju ke depaan…!!”, teriak Mas Bambang. Majulah sekitar 10-an dari kami yang merasa kuat saat itu termasuk Donny untuk memisahkan diri dari rombongan. Pikir kami, mungkin nantinya di saat diminta nyemplung danau rame-rame, kami diminta jadi pagar terluar sebagai pengaman rekan-rekan lain, make sense lah. Berdirilah kami dengan wajah tengadah, raut congkak memasang muka tak bersahabat. Mungkin kalo ada seragam ijo-ijo lewat saat itu, bakalan habis kami gebuki, he. Hanya tak disangka-sangka saat teriakan kedua membahana, malahan geli tak karuan menghampiri kami saat melihat Donny maju lagi selangkah sendirian memisahkan diri dari rombongan para lelaki ‘otot kawat balung besi’ ini. Apakah rupanya gerangan teriakan kedua itu? “Hayoooo…! Sekarang siapa yang tidak bisa berenang, cepat maju ke mukaaaaa….!!!!”, sambung Mas Bambang. Ha ha ha oalaahh lee…preman kok takut air!

Seperti sudah diduga sebelumnya, kami-kami yang pembangkang ini ditaruh di bagian sendang paling dalam. Hauuff, hauuuf…, saking dalamnya muka air, posisi hidung kami sudah sejajar terendam air sendang yang berlumpur coklat seperti coffemix. Tiada pilihan lain, kami pun berdiri dengan kepala mendongak sambil terhuyung-huyung di dalam air. Panitia pun ternyata lebih kreatif, jika di darat mereka hanya teriak-teriak dan menghentak-hentakkan kaki, di sini mereka teriak-teriak plus memukul-mukul air sendang semaunya. Tentu saja setiap teriakan mereka akan dibarengi rentetan cipratan air berlumpur ke wajah kami, termasuk juga bonus masuk ke mata, hidung dan telinga. Tapi ada sisi positifnya juga, saya hanya perlu mengelap lumpur dari wajah saya, bukan air liur seperti sebelum-sebelumnya. Maghrib pun sudah lewat, dan curi dengar kasak-kusuk panitia yang khawatir akan sendang yang juga angker ini, kami pun naik dan kembali tiba di tenda pukul 19.00. Berakhirkan siksaan itu? Tentu tidak! Setelah ishoma yang hanya 30 menit, kami harus kembali siap menghadapi malam terakhir pembantaian PGL.

Senior dari berbagai angkatan tampak sudah berdatangan dan bergerombol di pinggir lapangan. Karena ini malam pembantaian terakhir, topik PGL pun mulai tidak jelas. Jika hari-hari sebelumnya kedisplinan menjadi pokok yang harus dipenuhi, malam itu topiknya tidak karu-karuan lah pokoknya. Jika push up adalah santapan utama karena ada salah satu rekan yang tidak berpakaian rapi, melalaikan tugas ataupun terlambat, malam itu mungkin jika ada yang tidak sengaja bersin pun pasti kami semua harus menanggung akibatnya bersama. Benar-benar kacau, sepertinya targetnya malam ini adalah ngerjain peserta, tidak peduli peserta benar atau salah yang penting tetap saja senior adalah selalu benar.

Awalnya sih biasalah, masing-masing peserta diminta mengumpulkan tanda tangan senior. Tentu saja setiap tanda tangan harus ditebus dengan sesuatu berharga. Jika push up adalah sesuatu yang sudah jamak, maka hukuman menyanyi, merayu ataupun bermain drama adalah alternatif yang cukup populer. Saya sendiri sih tidak keberatan, walaupun kena batunya karena harus menirukan seruan tokoh robot (mungkin ada yang masih ingat?); “Go go power rangers….., berubaaaah…!!”. Yang tentu saja diiringi gerak tubuh mengangkat tangan kanan ke atas, menyesuaikan persis seperti gerakan di film-nya. Selain karena mbak-mbaknya manis (ehm), ramah senyum lagi. Banyak juga sih malam itu senior yang bersikap baik, nggak ngasih hukuman yang berat-berat, dan rasanya bagi saya lebih berkesan daripada yang sok garang tapi malah jadinya lucu dan wagu (aneh).

Mendekati tengah malam, saya sudah lupa apa alasannya sehingga kami dikumpulkan lagi, dan kemudian untuk dipecah-pecah lagi (taktik usang). Tahu-tahu saya sudah dikerubuti empat sampai lima senior yang dengan galaknya memaki-maki mencoba memancing keluar amarah saya. Lirik punya lirik, ada beberapa teman juga yang dikondisikan serupa saya, sementara peserta lainnya disuruh tengkurap menunduk ke tanah berlumpur. “Saya dengar kamu di sini sok jago ya..??!! Bekal apa kamu sampai berani nantangin panitia..?? Kamu berani lawan saya hah…!!”, demikian bentak salah seorang senior yang saya tidak kenal sama sekali. Seperti biasanya gaya saya, karena hanya sebatas disenggal-senggol saja, saya pun hanya menolak dan berkata tidak (tentu saja sambil terus melap hujan liur di wajah). Mereka mungkin sudah merasa capek memancing amarah saya namun saya menanggapinya dengan adem-adem saja sehingga pelan-pelan teriakan di sekeliling saya mulai mereda. Tiba-tiba menyeruak Mas Yumar, seorang senior yang ‘cukup senior’. Beberapa senior lain yang kalah awu (angkatan) pun tahu diri, menyingkir.  Sebenarnya saya memang sudah menyimpan dendam dengan senior satu ini. Gara-garanya adalah ulahnya yang tidak simpatik saat asistensi mineral. Saya dan beberapa rekan yang saat itu hanya mengerti nama batuapung, digoblok-goblokin olehnya yang dengan pongahnya memberi tahu bahwa nama ilmiah batu tersebut ternyata adalah pumice. Yah, kami semua terima salah karena tidak tahu nama ilmiah batuapung adalah pumice, tapi ya mbok tidak pakai acara goblok-goblokan dong. Kami sendiri tahu itu namanya batuapung juga dari literatur karena materi kuliah dari dosen juga belum sampai ke extrusive volcanic rocks. Tak dinyana, si Yumar yang sudah saya kenali betul wajahnya ini meneriakkan kata kasar sambil tangannya mendorong tubuh saya. “Kamu berani lawan saya hah..? Buktikan kalo berani..!!”, demikian katanya dalam logat khas sambil terus menyorongkan tangannya. Dorongan pertamanya saya tangkis ke luar perlahan tapi penuh tenaga, dorongan ke dua saya tangkis lagi ke luar sambil mundur meregangkan kaki memasang kuda-kuda, dorongan kali ketiga saya tangkis lebih cepat sambil memasang kepalan tangan kanan di sisi badan. Saya hanya berkata tegas, “Jaga sikap Mas..!”. Dalam hati, sekali lagi dia mencoba mendorong saya atau melakukan gerakan yang aneh-aneh, dipastikan jodan gyaku tsuki saya akan bersarang di rahangnya. Toh cukup satu pukulan saja untuk menggerakkan ke-77 rekan saya yang lain dalam skenario pamungkas penyerbuan panitia (walaupun pasti malam itu kami kalah jumlah akibat datangnya angkatan senior, tapi kami sudah nothing to loose di malam terakhir ini). Panitia lain yang sudah melihat gelagat tidak mengenakkan, segera menarik Yumar ke belakang menjauhi saya.

Masih suasana panas, tiba-tiba menyeruak lagi seorang senior yang tidak saya kenal betul. “Saya tantang kamu adu push up…! Berani..??!!”, demikian tuturnya garang. ”Berani….!!!”, imbuh saya tanpa basa-basi. Kami pun turun dan saya lalu menghitung dengan lantang, “satuu..! duua..! tigaa..!”. Di setiap hitungan kami melakukan full push up hingga dada menyentuh tanah, kepala menengadah berhadap-hadapan, pelotot-pelototan hingga tiba hitungan terakhir. ”Sepuluh..!! sebe…”, teriakan saya lalu terhenti karena sekonyong-konyong dia berdiri. Penantang saya itu menyingkir dan datanglah senior yang lain lagi yang langsung tengkurap mengambil posisi push up di depan saya. “Sekarang saya yang tantang kamu, ayo hituung…!!”, ujarnya tidak kalah galak. “Haaa….?”, saya kontan langsung berdiri sambil tertawa terkekeh-kekeh. “Kenapa kamu hah..?!”, bentaknya. “Yang benar aja Mas.., mosok nantang push up aku sendirian sampean ganti-gantian orangnya…, ya gak mungkin menang akunya dooong…”, sergah saya sambil cengar-cengir. Memang kelihatan pada dasarnya dia hanya sekedar mau ngerjain saya, sehingga dia pun berbalik badan sambil tampak sekilas berusaha menahan tawa juga. Hilang sudah mood emosi saya karena kejadian lucu itu, sehingga saat berikutnya muncul tantangan adu push up dari Mas Deni saya abaikan begitu saja. Saya tahu betul Mas Deni ini, yang anggota Mapala jurusan, mampu melakukan push-up dengan satu tangan. Sadar tidak akan menang adu push-up dengan dia, saya hanya menjawab : ”Maaf Mas, saya nggak punya masalah dengan Mas…!”. Amaaaann……, he he.

Acara malam itu berakhir dengan renungan malam, cukup menyentuh sekali isinya bagi kami mahasiswa baru geologi. Dan yang paling mengharukan, selesai renungan kami semua bersalam-salaman berpelukan saling meminta maaf. Inilah yang membuat seringkali kami, mahasiswa geologi, merasa lebih akrab dengan angkatan dua tahun di atas. Acara yang diadakan oleh mereka seperti ini lah yang selalu membekas dalam dan berkesan di hati, dengan ujungnya yang selalu berakhir happy ending. Air mata saya pun menetes terharu, tidak ada lagi yang namanya batas dan sekat angkatan, semua membaur dalam satu almamater geologi yang akan kami bela sepenuhnya. Lega sekali rasanya malam itu, semua rasa yang masih menyangkut di dada serasa lepas menghilang. Kami semua tertawa walau badan bau karena penuh lumpur dan keringat yang menjadi satu. Teringat dengan sesuatu karena masih penasaran dengan seseorang, cari punya cari, saya tidak melihat sekalipun sosok Yumar saat acara maaf-maafan itu. Ternyata, dendam masih membara, kawan!

Moral of The Story :

Untuk menjadi tangguh, seseorang harus menghadapi ujian tertentu dalam hidupnya. Semakin berat ujian tersebut, semakin tangguh dan tahan bantinglah mental kita terbentuk nantinya. Jadi, bersyukurlah bahwa Tuhan masih sayang kita dan ingin menjadikan kita menjadi lebih kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: