Ternate, an Exotic Island-Mount

(versi edit telah diterbitkan di Majalah JalanJalan Sep 2009)

Oleh : R. Heru Hendarto

Pesawat yang saya tumpangi mulai menderu keras bersiap-siap landing di Ternate saat mata saya terpaku pada pemandangan indah sebuah danau yang muncul di jendela. Saat itu siang hari dan sinar mentari terik memantulkan warna hijau tosca yang begitu indahnya. Sensasi saat itu mirip saat saya menyaksikan sinar matahari pagi menghangati Kawah Ijen yang kebetulan juga permukaannya berwarna hijau tosca akibat kandungan belerang.

Danau tersebut hilang di sudut pandang dan segera pesawat pun mendarat mulus di bandara kecil Kota Ternate, Sultan Baabullah. Bandara ini terletak di pinggir pantai dan melayani penerbangan-penerbangan komersial dari Sulawesi dan juga penerbangan perintis dari pulau-pulau sekitarnya. Jangan mengharap akan fasilitas di sini karena hampir semuanya self-service, maklum bandara kecil di daerah. Saya pun turun dari pesawat dan langsung menuju ruang bagasi. Tidak ada conveyor belt, tidak ada AC, tidak ada trolley, dan semua bagasi langsung disorongkan melalui roller bar besi. Penumpang langsung menyambut bagasinya masing-masing, dan walaupun suasana saat itu hiruk-pikuk namun keamanan tetap terjaga. Tidak satu pun saya dengar penumpang yang mengeluhkan kehilangan barang ataupun tidak saya lihat porter yang mengganggu berlebihan, beberapa menit kemudian ruang bagasi pun kembali sepi. Saya memang terkesan sekali dengan keamanaan Bandara Baabullah dan kejujuran petugas serta masyarakatnya. Kali kedua saya ke daerah ini dengan penerbangan yang tidak connect, dan bagasi saya tiba duluan. Namun setelah 5 jam kemudian saya datang, semuanya masih lengkap tergeletak di pojok ruangan, utuh dan tidak terganggu!

Fajar mulai menyingsing ketika saya melangkahkan kaki menuju schwering Ternate. Schwering, konon berasal dari bahasa Belanda yang merujuk pada bangunan beton yang memagari pantai dari abrasi laut akibat terjangan ombak. Malam sebelumnya, schwering ini menjadi tempat wisata lokal bagi masyarakat kota. Berbagai lapak barang kaki lima, tenda makanan dan hidangan laut, gorengan, serta permainan anak mendominasi seluruh pinggirannya. Namun, pagi itu semuanya berakhir dan schwering disulap menjadi tempat yang bersih dan nyaman untuk menikmati hangatnya mentari pagi dan segarnya angin lautan di antara suara deburan ombak. Matahari pun menyembul malu-malu di belakang pulau Halmahera, semburat keemasannya memberkas berwarna-warni pada awan yang terserak di atas. Ronanya saat itu membersitkan warna kuning, oranye, merah jingga dan ungu dengan langit biru di belakangnya. Silaunya mentari pagi itu juga tampak membangunkan seorang nelayan yang terlelap kelelahan setelah mengail semalam suntuk. Matahari pagi itu semakin naik mengiringi aktivitas warga kota yang mulai ramai berlalu-lalang. Sinarnya meninggi menerangi puncak Gunung Kiematubu (1.730 m dpl) yang tertutup awan di Pulau Tidore. Di sebelah kanannya terdapat gunung yang lebih kecil yang bernama Maitara (570 m dpl) yang berarti “di tengah-tengah”, sebuah pulau yang terletak di antara Ternate dan Tidore. Kiematubu dan Maitara, kedua-duanya diabadikan keelokannya dalam lembaran uang seribu perak dan bersama-sama Gunung Gamalama (1.715 m dpl) menjadi ikon-ikon pulau yang berdiri tegak menjulang menemani pandangan mata kita saat beraktivitas di mana saja.

Saya meluncur menggunakan angkot menuju Pelabuhan Bastiong. Pelabuhan ini terkenal di Ternate karena tidak hanya berfungsi sebagai pelabuhan penyebrangan, di sini terdapat juga pasar tradisional sekaligus terminal. Sudah terbayang riuhnya tempat ini, tempat yang benar-benar cocok untuk street hunting. Apalagi posisinya yang berhadapan langsung dengan Pelabuhan Rum di Tidore pastinya juga menjanjikan landscape yang apik. Turun dari angkot, saya pun terkaget-kaget. Bukan apa-apa, tidak biasa saja saya melihat ikan sebesar paha orang dijual bertebaran. Ikan asap namanya, biasa berupa ikatan ikan tenggiri atau tongkol yang dimasak dengan cara dibakar hingga setengah matang. Walaupun begitu, ikan ini cukup aman juga bila dikonsumsi langsung. Maklumlah, ikan-ikan ini adalah ikan segar dari laut, bukan ikan-ikan di Jawa yang umumnya sudah melewati proses pengawetan. Baunya yang segar menemani langkah saya menuju pelabuhan, hmm, untunglah saya sudah sarapan sebelumnya. Pelabuhan penyeberangan Bastiong melayani rute ke berbagai pulau di sekitarnya. Sebagian besar jalur dilayani oleh speedboat dan sisanya oleh kapal kayu. Beberapa kali kamera saya mengabadikan keindahan dan keramaian daerah ini, benar-benar pengalaman yang menyenangkan.

Matahari lewat sebahu ketika saya keluar dari Bastiong dan menghampiri Fuad, seorang tukang ojek yang mangkal di pos kamling. “Antar saya keliling pulau, berapa kau kasi harga?”, kata saya tanpa basa-basi. Nego punya nego, harga disepakati 40 ribu rupiah untuk sewa ojek dari pukul 10.15 keliling Pulau Ternate menyambangi tempat-tempat wisata yang ada. Fuad ini ternyata cukup kocak juga, dan sebagaimana tukang ojek di daerah lain yang saya sewa, pasti senang bisa menemani saya. Bukan apa-apa, jarang sekali penduduk lokal dapat tawaran seperti ini, disewa penuh dan diajak keliling tempat-tempat indah yang mereka sendiri belum sempat kunjungi semuanya.

Bicara mengenai penduduk lokal, ada percakapan yang lucu di sini. Biasanya untuk menunjukkan arah penduduk menggunakan dua istilah : ke laut dan ke darat. Sedangkan orang-orang di sini kalo berbicara suka menyingkat kata. Misal, “bikipa” itu artinya bikin apa/buat apa, “kitorang” adalah kita orang, dlsb. Jadi kalau kita bertanya ke orang : “mo kamana ka?”, jangan kaget kalau yang bersangkutan jawab “sapi laut”! Maksudnya, saya pergi ke (arah) laut. Lucu juga makhluk makian Kapten Haddock disebut-sebut di sini. Demikian pula jawaban “saya” yang memiliki arti “ya” (halus) kadang-kadang menjadi hal menggelikan seperti ini :

Saya : “Ada ikan bakar?”

Nona penjaga warung : “Tarada (tidak ada), tadi ada banyak”

Saya : “Iya tadi pagi juga saya lihat banyak. Jadi sudah ada yang habisin ikan sebelumnya?”

Nona penjaga warung : “Saya”

Saya : “Lhoooo…, jadi rupanya Mbak yang ngabisin ikan bakar sebanyak itu, lagi laper atau kalap sih Mbak?”

Nona penjaga warung : “???” (bengong)

Kencang juga Fuad ini membawa sepeda motornya, namun begitu ” saya ancam” motornya saya yang akan bawa apabila dia ngebut terus akhirnya berjalanlah dia di seputaran 40 km/jam. Perhentian pertama saya adalah Fort Oranje, sebuah benteng peninggalan Belanda yang dibangun di tahun 1607. Saat itu benteng ini berfungsi sebagai pusat aktivitas melawan Portugis dan Spanyol dan juga sebagai kantor perwakilan VOC. Sekarang, benteng legendaris ini ditempati dan digunakan Tentara Nasional Indonesia sebagai salah satu basis kantornya di Ternate. Saya mengurungkan langkah memasuki benteng ini karena waktu yang sedikit. Setengahnya juga karena saya merasa sedikit kecewa karena sebagian besar bagian dari benteng ini dibiarkan tidak dirawat, banyak dinding batu runtuh dan rerumputan subur dimana-mana. Tetapi tetap saja, semuanya semakin menambah kesan akan kuatnya benteng ini. Kokoh, kekar namun mistis adalah kesan pertama yang saya rasakan hadir di tempat ini.

Motor kembali menderu di jalan Ternate yang sempit dan ramai, dan pagi menjelang siang itu saya memasuki daerah Salero dan singgah di Keraton Ternate. Di sini, Istana Sultan berdiri menghadap Pantai Salero, seolah-olah menjaga kota dan pesisir pantai dari ketinggian. Di sini, kita masih dapat menyaksikan kebesaran kerajaan Islam ini di masa lampau. Keraton megah beraksitektur kuno dengan panji-panji kebesaran yang berkibar di halaman tampak gagah sekali berdiri dengan Gunung Gamalama di belakangnya. Dan sebagaimana keraton-keraton lainnya, keraton dengan alun-alunnya ini juga menjadi pusat aktivitas masyarakat kota.

Tidak begitu jauh dari Keraton Kesultanan Ternate, berdiri benteng peninggalan Portugis, Toluko atau Toloko sebagaimana yang biasa dilafalkan masyarakat lokal. Benteng tua setinggi 3 kali orang dewasa ini dibangun abad 16 dengan arsitektur batu yang menawan. Renovasi menyeluruh dilakukan pemerintah tahun 1995 dan selesai seluruhnya dua tahun kemudian. Sekarang, Benteng Toluko dan sekelilingnya dalam kondisi baik dan terawat. Saya sempat melihat sekilas pada buku tamu dan sepertinya benteng ini rutin dikunjungi beberapa LSM asing. Menuju ke dalam dinding batu, kita akan menemukan bangunan batu utama yang terletak agak tinggi. Jalan masuk ke benteng tersusun dari batu persegi yang berjajar menuju ke atas dikelilingi taman indah di kanan-kiri. Di belakang bangunan utama, kita akan dapat meyaksikan pemandangan yang sangat indah. Kita akan dapat memantau hampir seluruh bagian kota Ternate dan garis pantainya dari ketinggian sekitar 200 m. Rona biru hamparan laut tampak membentang dan dengan indahnya dihiasi oleh kehadiran puncak Gunung Kiematubu di Pulau Tidore. Dan menariknya, di arah sebaliknya kita dapat menyaksikan hijaunya Gunung Gamalama yang mencuat di tengah pulau dengan gerombolan awan putih yang muncul dari kawahnya. Seusai puas mengambil foto dan juga mengabadikan Fuad sesuai permintaannya, kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalanan yang lebih jauh.

Setelah Toluko, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Pantai Sulamadaha, pantai yang cukup terkenal di Ternate. Di perjalanan kami sempat melewati lokasi Batu Angus, yaitu lokasi dimana banyak bebatuan yang tampak berwarna hitam. Hal ini disebabkan daerah tersebut tersusun atas batuan lava skoria sehingga menghasilkan kenampakan fisik yang legam. Di Batu Angus ini pernah terjadi pertempuran hebat antara tentara Indonesia dengan pasukan Jepang dan masih dapat disaksikan makam-makam perwira jepang di sini. Kira-kira 10 menit dari Batu Angus, kami pun tiba di pantai Sulamadaha, pantai dengan pemandangan yang tersaji begitu apik. Teluk kecil berbatu-batu tersusun rapi dan seolah-olah membingkai Pulau Hiri yang berada tepat di sampingnya. Pepohonan teduh dan perdu-perdu memberi nuansa sejuk di sekelilingnya. Lokasi ini cocok buat yang suka menyendiri ataupun sekedar ingin melepaskan diri dari ramainya suasana kota. Pantai ini memiliki arti, Sulamadaha, dengan arti “Madaha” di dalam dan “Sula” dari Kepulauan Sula. Penduduk asli daerah ini sebenarnya sebagian besar adalah pendatang dari Kepulauan Sula di selatan Maluku Utara dan posisi desanya yang agak masuk ke dalam sehingga dijulukilah nama tersebut.

Tujuan terakhir saya adalah Danau Tolire, danau hijau yang selalu menggoda dari jendela pesawat setiap hendak mendarat di Bandara Baabullah. Sesampai di sana, tampak sepi sekali dan hanya ada sepasang muda-mudi yang bercengkerama. Danau Tolire dahulu dipercaya memiliki legenda yang asal-muasalnya adalah kampung yang tenggelam. Dan hingga saat ini juga dipercaya gua di tebingnya terdapat buaya-buaya dan hanya bisa disaksikan oleh orang-orang tertentu. Namun kebenarannya saya ragukan mengingat hingga saat ini saya belum menemukan dokumentasi yang jelas akan cerita ini. Penduduk setempat juga berkata bahwa siapapun yang melempar batu dari pinggir danau pasti tidak akan bisa jauh ke tengah dan batunya akan jatuh dekat dari tempat melempar. Setelah saya perhatikan dan coba sendiri, hal tersebut memang benar. Namun bukan karena mistik ataupun yang lainnya melainkan diameter danau ini cukup panjang, kira-kira mencapai 1 kilometer dan batuan penyusun sekeliling danau adalah batuan ultramafic hasil bekuan clan ferromagnesian magma yang mengandung banyak besi. Tingginya intensitas gravitasi digabungkan dengan jauhnya pinggir danau serta kuatnya angin yang berhembus pasti akan menahan apapun benda yang bergerak di atas danau. Hmm, bukan sesuatu hal yang gaib bukan?

Setelah puas beristirahat di danau, matahari sudah agak jauh menggelincir ketika saya memutuskan untuk kembali ke kota. Fuad menawarkan untuk kembali dengan jalan yang berbeda yaitu meneruskan memutari pulau dengan arah berlawanan jarum jam mengingat jarak tempuh ke kota dari Danau Tolire sama saja, arah apapun yang ditempuh. Saya terima saja tawaran menarik tersebut dan walaupun saat pulang diguyur gerimis tetap saja kami jalani dengan senang karena sempat melewati beberapa pantai indah, Danau Laguna dan Benteng Kastela dan Kota Janji. Nomer telepon Fuad, tukang ojek tersebut saya simpan karena memang nanti bila ada kesempatan kembali dan cuaca lebih cerah saya berkeinginan mengulangi trip ini dengan mengunjungi lebih banyak tempat dalam waktu yang lebih lama.

Getting There :

Penerbangan ke Ternate dari Jakarta dilayani oleh banyak maskapai seperti Merpati, Lion Air dan Express Air. Transit di Makassar (dan Ternate untuk Lion), total perjalanan mencapai hampir empat jam di luar waktu transit. Harga tiket berkisar 1,8 hingga 2,4 juta rupiah.

Where to Stay :

Hotel Boulevard (0921-3110777) terletak dekat dengan schwering dan memiliki view yang indah. Dari sini kita akan dapat menyaksikan pemandangan sekitar pesisir dan Tidore. Hotel Ternate City (0921-22555) juga cukup direkomendasikan karena bersih dan letaknya tepat disekitar pusat oleh-oleh.

What to Do :

Menjangkau tempat-tempat di Ternate dapat menggunakan ojek yang banyak lewat di jalan raya, cukup berdiri di pinggir jalan dan mereka akan berhenti untuk menawarkan jasa. Harga sekali jalan dalam kota jarak dekat berkisar antara 3.000 hingga 5.000 rupiah dan bila ingin menyewa seharian full day, harga 75.000 all in biasanya akan cukup memuaskan si tukang ojek. Tersedia pula angkot dengan tarif 2.000 rupiah.

Penduduk Ternate sangat ramah dan helpful, jangan sungkan untuk bertanya atau sedikit meminta pertolongan jika anda membutuhkan. Tempat-tempat yang agak rawan hanya di pasar dan terminal, selebihnya cukup aman.

Ternate terkenal dengan kerajinan besi putihnya. Berbagai bentuk perhiasan wanita, hingga kalung dan gelang untuk pria dapat anda bawa sebagai cindera mata. Dijamin barang-barang tersebut tidak akan berkarat ataupun luntur warnanya.

Jika anda memiliki waktu, anda dapat meluangkan diri menuju Soasiu Tidore menggunakan speedboat dari Bastiong dengan tiket seharga 2.000 rupiah. Dilanjutkan dengan angkot ke kota seharga 7.500, selama 40 menit anda akan tiba di kota Soasiu yang tidak kalah indahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: