Menyambangi Istana Kadriyah Pontianak, Menyeberangi Garis Khatulistiwa

(versi edit telah diterbitkan di Majalah JalanJalan Desember 2009)

Oleh : R. Heru Hendarto

Sudah bertahun-tahun saya tidak menginjakkan kaki di kota kelahiranku ini, Pontianak. Jeda waktu selama itu cukup membuat kangen menumpuk di dada dan saat ini, saya bertekad harus menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat wisata khas kota Khatulistiwa ini. Pontianak sebenarnya adalah kota yang unik, masyarakatnya terdiri dari banyak etnis seperti Melayu, Cina, Jawa, Bugis dan Padang serta daratannya dibelah oleh sungai terpanjang di Indonesia, Kapuas. Cukup membuat bulu kuduk bergidik jika merunut asal kata Pontianak adalah berarti hantu kuntilanak. Istilah hantu pontianak masih digunakan oleh negeri tetangga kita namun tentu saja istilah kuntilanak tetap melekat di benak kita sebagai hantu wanita berpakaian putih berambut panjang yang memiliki tawa melengking panjang menakutkan.

Perjalanan pertama saya adalah menyambangi Keraton Pontianak yang berjuluk Istana Kadriyah. Menapaki halaman keraton ini, khayalku melambung kembali ke masa silam di saat sejarah kota ini dimulai pada tahun 1771 M saat Syarief Abdurrachman berangkat dari Kerajaan Mempawah mencari tempat tinggal baru menyusuri Sungai Kapuas. Mereka sempat singgah di pulau bernama Batu Layang yang sekarang digunakan sebagai pemakaman keturunan Raja Pontianak. Di tempat inilah mereka mulai mendapat gangguan dari Hantu Pontianak. Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga di persimpangan Sungai Kapuas dan Landak, lalu mendirikan bangunan rumah dan balai setelah 8 hari membuka daerah tersebut. Delapan tahun kemudian dilantiklah Syarief Abdurrachman menjadi raja pertama dan berdiri pulalah Istana Kadriyah di lokasi tersebut. Begitulah asal berdirinya kerajaan Pontianak.

Istana Kadriyah masih tegak berdiri gagah di tepi sungai Kapuas, di wilayah Kampung Dalam Bugis dengan ornamennya yang kental menyiratkan ciri kerajaan Islam. Saya perhatikan, selain warna cat kuning khas Melayu, banyak sekali terdapat pahatan bulan dan bintang yang menghiasi sisi keraton. Tidak hanya di pintu masuk ataupun di dinding kayu, bulan dan bintang ini juga digunakan sebagai logo pada bendera kebesaran yang berkibar di halaman istana. “Maaf Mas, saat ini keraton sedang berkabung jadi kunjungan sementara ditutup”, sapaan dari bapak tua penjaga keraton mengagetkan saya. “Memang siapa yang meninggal pak?”, lanjut saya. Ternyata seorang kerabat dekat keluarga keraton baru saja meninggal empat hari sebelumnya. Pantas saja dari tadi saya heran kenapa bendera kebesaran keraton hanya berkibar setengah tiang. Saya sempatkan mengintip melalui pintu depan, tampak ruangan besar istana yang didominasi warna kuning. Singgasana keemasan raja berdiri kokoh dikelilingi dengan foto para pembesar kerajaan dan beberapa aksesori seperti jam duduk tua dan guci-guci keramik antik. Tampak sebuah cermin antik dari Perancis yang dinamakan “Kaca Seribu”. Ruangan ini masih menyiratkan aura kegagahannya sebagai tempat penentu pemerintahan di jaman dahulu.

Saya pun melangkahkan kaki ke serambi istana, menginjakkan kaki di atas papan kayu belian yang sangat terkenal kekuatannya. Jika masyarakat Jawa bangga dengan kayu jatinya, masyarakat Kalimantan bangga sekali akan kayu belian atau kayu ulinnya. Kayu ini memiliki kekuatan luar biasa, bahkan gergaji kayu biasa pun tidak akan mampu memotong batangnya. Pastinya pula jangan berharap anda akan menemukan ukiran indah dari kayu belian. Dan dengan merendam kayu ini di dalam air selama bertahun-tahun akan membuatnya awet dan tidak akan rusak selama puluhan bahkan ratusan tahun! Saat itu, tampak seorang pesuruh istana sedang mengepel lantai. Penasaran, saya longok embernya dan tidak terlihat adanya lapisan minyak di situ. Seringkali, sebagai kebiasaan masyarakat Pontianak, dalam periode waktu tertentu cairan untuk mengepel lantai kayu belian dicampur dengan solar. Campuran itu akan membuat lantai tampak lebih licin mengkilap, lebih awet dan bersih. Unik bukan?

Meninggalkan Keraton Kadriyah, saya melangkahkan kaki melewati gerbang istana menuju sebuah monumen yang saat ini terletak di samping sebuah pasar rakyat. Monumen sederhana ini dibangun sebagai peringatan empat puluh tahun pemerintahan Sultan VI Pontianak, Sjarief Mohamad Alkadrie. Kaum Melayu di Kalimantan Barat mewarisi nama khas, seperti nama depan Syarif atau Syarifah dari Pontianak, Gusti dari Mempawah ataupun Uray dari Sambas. Tanggal yang tertera pada pahatan batu pualam menunjuk pada tahun 1312 – 1352 tahun Arab. Meneruskan langkah menuju Masjid Jami yang hanya berjarak 100 meter dari monumen, saya melewati riuhnya pasar tradisional. Tampak pula, deretan perahu bermesin yang melayani penumpang yang hendak menyeberang ke arah kota sedang bertambat di pinggir sungai. Dinamika masyakarat kota Pontianak, semenjak dahulu di jaman pemerintahan keraton, memang dipengaruhi oleh transportasi air. Bagaimana tidak, walaupun infrastruktur jalan sudah cukup memadai, tetap saja moda transportasi air memegang peranan di kota yang dipotong oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak ini. Dahulu seingat saya, lebih banyak perahu sampan bertenaga manusia di daerah ini, namun kiranya kemajuan jaman mendorong substitusi tenaga manusia menjadi tenaga mesin 20 pk. Terlepas dari itu, menyaksikan deretan perahu yang melintasi Sungai Kapuas yang lebar cukup menjadi panorama yang menyejukkan hati.

Masjid Jami Pontianak masih mewarisi bentuk arsitektur aslinya dan hingga saat ini masih digunakan oleh para jamaah. Arsitektur kubah bertingkat khas Melayu tampak jelas menjadi ciri masjid ini, demikian pula beduk dengan motif mataharinya yang tampak masih mempertahankan bentuk aslinya. Tidak ketinggalan pula, sebagaimana kerajaan Melayu dan Kerajaan Islam lainnya di nusantara, tampak sebuah tiang bendera untuk mengibarkan panji-panji kebesaran kerajaan di masa lampau berdiri di sebelah barat masjid. Memasuki teras masjid, kembali lantai kayu belian menjadi alas pijakan kaki. Di dalamnya, tampak puluhan kayu penyangga dari belian seukuran pelukan orang dewasa menopang kekokohan bangunan ini. Tidak seperti corak bangunan luarnya, di bagian dalam masjid lebih didominasi warna hijau ketimbang warna kuning. Tampak kaca-kaca patri yang menghiasi pintu masuk juga memberikan nuansa berbeda. Lantunan azan terdengar mengalun dari loudspeaker yang terletak di bawah puncak kubah mesjid.

Salah satu budaya masyarakat sekitar sungai yang masih membekas di ingatan saya adalah permainan meriam karbit. Tidak tanggung-tanggung, ukuran meriam yang dimainkan memiliki panjang hingga 6 meter dengan diameter lubang 60 cm! Karena tidak ada bambu yang memiliki dimensi seperti itu, material yang digunakan adalah batang pohon kayu yang dibelah, dilubangi dan diikat kuat dengan jalinan rotan di berbagai sisinya. Satu kilogram karbit langsung masuk ke lubang hulu meriam dan ledakannya jangan ditanya. Dalam radius 10 kilometer ledakan meriam karbit raksasa ini masih terdengar membahana. Dahulu permainan ini bebas dilakukan di Pontianak selama bulan Ramadhan, namun seiring gangguan bunyinya, permainan dikonsentrasikan hanya di pinggiran tepian Kapuas. Waktu permainan pun dialihkan mendekati lebaran, namun hal ini tidak menyurutkan semangat masyarakat. Dalam satu buah stand meriam, beberapa meriam dijejerkan dan diledakkan beruntun atau bersamaan. Stand tersebut juga dilombakan dengan sponsor, meliputi stand terindah, meriam ternyaring dan lain sebagainya. Jangan heran bila even ini sangat dinantikan masyakarat kota Pontianak, mereka berbondong-bondong datang menyaksikan acara ini. Dan walaupun setiba di lokasi mereka hanya menyaksikan sambil menutup telinga masing-masing, tetap saja atraksi ini cukup menjadi hiburan yang hanya dapat disaksikan setahun sekali. Ledakannya benar-benar membahana dan dapat memecahkan kaca jendela yang berada di dekatnya. Pernah sekali waktu saya beberapa tahun lalu berusaha mengabadikan kilatan api yang keluar dari moncong meriam tapi ledakannya malah membuat saya tertahan menekan shutter kamera saking kagetnya. Demikian pula usaha menggunakan tripod tidak pernah berhasil karena getaran meriam terasa menjalar di lantai kayu hingga berpuluh-puluh meter jauhnya. Saat ini, meriam-meriam tersebut terletak tak bergeming di pinggir Kapuas menunggu Ramadhan yang akan datang untuk kembali dimainkan dengan riuhnya.

Lelah mengelilingi Pontianak diterpa matahari terik di atas ubun-ubun kepala, saya menyempatkan diri beristirahat di sebuah warung makan Melayu. Kwie tiauw goreng dan segelas es jeruk menemani makan siang saya. Yang unik di sini adalah untuk segelas es jeruk, kita akan merasakan sensasi rasa manis, asem dan asin berbalut es dingin yang menyegarkan. Rahasianya adalah, dalam segelas es jeruk, dicampurkan seujung sendok teh garam dapur yang total akan mengubah cita rasanya. Saya kira hanya es jeruk di Kalimantan Barat saja yang memiliki resep khas seperti ini. Kwie tiauw lezat pun datang dan saya pun bersantap siang dengan lahapnya walau sudah terlambat waktu. Berhubung es jeruk saya sudah habis, saya pun meraih sebuah teko beralaskan rantang tertutup serta dengan perlahan saya menuang air putih ke gelas dan meneguknya. Setelah dua teguk baru saya teringat kalau teko tersebut bukan berisi air minum tetapi berisi air mentah untuk cuci tangan. Bertahun-tahun meninggalkan Pontianak membuat saya lupa banyak hal sampai peristiwa konyol tersebut terjadi. Pantas saja saat saya meneguk air itu, beberapa pasang mata memandang heran ke saya, ha ha ha. Omong-omong soal meneguk air, ada ungkapan khas Melayu Pontianak di sini : ”Barang sape minom aek Kapuas, pasti die akan balek agik ke situk”. Jadi, siapa saja yang menyempatkan diri meneguk air Sungai Kapuas satu kali, dipastikan orang itu akan kembali lagi ke Kota Pontianak untuk suatu keperluan. Hmmm, terserah anda, percaya tidak percaya.

How to Get There :

Penerbangan Jakarta-Pontianak tersedia setiap hari dengan frekuensi yang sangat banyak. Maskapai yang melayani jalur ramai ini adalah Sriwijaya Air, Mandala Air, Lion Air dan Batavia Air. Rata-rata harga tiket berkisar 350.000 rupiah dan melonjak 3 kali lipat di masa ramai seperti lebaran, natal, imlek dan cap go meh.

Jalur laut dapat menempuh Kapal Pelni ataupun jika hendak membawa kendaraan pribadi dapat menggunakan kapal ferry penyeberangan dengan rata-rata waktu tempuh 40 jam perjalanan.

 

Where to Stay :

Hotel Grand Mahkota (0561-736022) adalah hotel tua di Pontianak, namun tetap masih berada di jajaran atas hotel mewah bintang 4 hingga saat ini. Jika anda hendak menikmati panorama Pontianak dari ketinggian, hotel berlantai 10 ini terletak di Jl. Sidas ini  layak untuk dicoba. Hotel bintang 3 lain seperti Hotel Kini di Jalan Nusa Indah III (0561-732223) yang berada di pusat kota dapat juga dijadikan tempat alternatif untuk menginap.

 

Tips :

Pontianak terkenal akan sengatan terik mataharinya yang luar biasa, gunakan pakaian katun untuk menyerap keringat dan pelindung kepala. Tidak ada salahnya membawa payung karena selain untuk menahan panas, perubahan cuaca sering terjadi sehingga hujan pun turun dengan derasnya.

Transportasi umum di Pontianak agak sulit,  untuk jarak jauh dapat menggunakan taksi, oplet atau angkot seharga 2.000 rupiah sedangkan untuk jarak dekat gunakan becak atau ojek. Selain mengunjungi Tugu Khatulistiwa sebagai trade mark Pontianak, Jangan lupa untuk menyempatkan diri menyusuri pemukiman penduduk tepi Kapuas pagi hari melewati jalan kayu di atas sungai ataupun menyewa sampan dari penduduk setempat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: