Petualangan Melintas Talaga Raya

(versi edit telah diterbitkan di Majalah JalanJalan Maret 2010)

Oleh : R. Heru Hendarto

Pukul 10.30 WITA, speedboat sarat penumpang mengantarkanku menyisiri lautan sebelah pulau. Angin timur mulai keras terasa menggoyang perahu dan saya hanya bisa duduk pasrah terjepit bangku dan penumpang sebelah. Air laut hanya sejengkal lagi dari bibir jendela dan beberapa kali terasa tempiasnya menghunjam ke muka. Kaum wanita beberapa kali menjerit keras saat perahu terbanting ombak sementara kaum lelaki bersiaga dengan wajah tegang. Saya pun beberapa kali menahan nafas dan melirik pintu keluar terdekat satu-satunya yang berada di moncong speedboat, kira-kira 6 langkah jauhnya. Jika terjadi apa-apa, pikir saya, tidak mungkin lolos kecuali sesegera mungkin menjangkau pintu itu dengan segala resikonya. Dua jam setengah saya lalui dengan penuh ketegangan, dan akhirnya speedboat kapasitas 50 orang itu pun merapat di dermaga sebuah pulau. Ucapan syukur pun saya panjatkan di dalam hati.

Itu lah pengalaman mendebarkan saat kali pertama saya mendatangi Kecamatan Talaga Raya, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Sebuah kecamatan yang terserak ke dalam tiga pulau utama, Kabaena, Talaga Besar dan Talaga Kecil. Saat itu saya mendarat di dermaga Talaga Kecil, pulau yang sekaligus menjadi ibu kota Kecamatan Talaga Raya yang melingkupi Desa Talaga I, II, Talaga Besar, Wulu, Kokoe dan beberapa dusun kecil di sekitarnya. Pulau ini sebenarnya tidak begitu luas, namun merupakan pulau yang terpadat penduduknya. Tidak mengherankan jika selanjutnya pulau ini pun dijadikan ibukota kecamatan. “Adakah kendaraan umum ke dalam Pak?”, tanya saya kepada seorang bapak yang sedang mendorong perahu ke tepian.”Tak! Bise cube ojek saje” imbuhnya. Kaget juga saya mendengar logat jiran yang dilontarkannya. Lebih jauh bercakap-cakap, barulah saya tau jika dia sedang istirahat setelah 5 tahun bekerja di Malaysia. Minggu depan dia sudah harus kembali ke sana, kembali bekerja di perkebunan sawit setempat.

Melangkahkan kaki memasuki perkampungan, saya menemukan bahwa pulau ini nyaris tidak memiliki tanah. Dimana-mana terlihat pasir menghampar dan batu-batu gamping yang mencuat. Satu-satunya pohon yang menghiasi pekarangan adalah kelapa, selebihnya beberapa tanaman bunga yang disemai di pot. Sekilas pulau ini memang gersang, belum lagi sengatan matahari siang itu yang begitu membakar kulit. Tidak betah berlama-lama, segera saya menuju bagian selatan pulau. kira-kira 25 menit melangkahkan kaki, tibalah saya di Pantai Bungi. Sebuah pantai yang bersih dan sepi namun cukup horor karena tampak sebuah pemakaman desa di salah satu sudutnya. Tak apalah pikir saya, tempat ini dapat menjadi tempat bernaung dari sengatan matahari siang yang sangat terik. Sambil menunggu sore tiba, saya pun bersandar di pohon jambu mete sambil mengamati sekeliling. Pulau Talaga Kecil ini cukup unik, jika dilihat dari utara bentuknya mirip dengan piring makan yang tertelungkup. Teman-teman pun melontarkan guyonan bahwa asal-muasal pulau ini adalah berupa UFO yang jatuh. Nyatanya, pulau ini terbentuk oleh terumbu karang yang sudah mati dan kebetulan memang pertumbuhannya merata ke segala sisi sehingga menjulang tengahnya seperti bentuk piring.

Matahari tergelincir setinggi dada ketika saya menuju sisi timur pulau. Rona merah mulai muncul ketika saya menghampiri sebuah pelabuhan tua. Jetty sederhana yang disusun atas tumpukan karang dan dipagari beton tampak sudah rusak diterjang ganasnya ombak angin timur. Sebuah speedboat tua bersandar di tepian ditemani jejeran perahu nelayan. Penduduk di sini memang umumnya bekerja sebagai TKI di Malaysia, sehingga kaum muda lelaki agak jarang ditemui. Istilah “jamal” pun santer di sini, yaitu akronim dari Janda Malaysia yang menunjukkan banyaknya wanita kesepian di sini akibat ditinggal suaminya bekerja di luar. Di pelabuhan tua ini, tampak sebuah mesjid desa yang berdiri kokoh. Arsitekturnya agak jarang ditemui di tempat lain, mungkin mengadopsi dari luar. Tidak semua bagian mesjid dicat namun justru hal ini lah yang menambah keelokannya. Sunset sore itu begitu indahnya, berkas sinar mentari yang sudah tenggelam masih menyemburat kuning, keluar dari ufuk menerangi awan tipis menyiratkan rona berwarna-warni. Tampak Pulau Kabaena memanjang di kanan dengan Tanjung Kokoe di hadapan, sementara Pulau Talaga Besar membayang di sebelah kiri. Setelah rona menghilang, malam itu saya segera menaiki ketinting menuju Desa Wulu di Kabaena, ditempuh hanya selama 20 menit dari Talaga.

Ayam mulai berkokok ketika saya menyusuri pesisir Desa Wulu. Tampak serombongan perahu datang dari arah Talaga membawa jerigen-jerigen kosong untuk diisi air. Talaga memang tidak memiliki sumber air bersih sehingga untuk keperluan sehari-hari mereka harus datang ke Wulu untuk mengambil air dari mata air yang terletak di kaki bukit. Agak aneh memang, bahwa sebuah pulau yang padat penduduknya tetapi tidak memiliki air. Habibi, seorang warga Wulu bercerita bahwa dahulu sebenarnya penduduk pertama di situ tinggal di Wulu. Namun saat itu mereka mendapat gangguan dari makhluk halus sehingga memaksa mereka untuk pindah ke Talaga dengan konsekuensi harus bolak-balik mengambil air bersih. Sambil senyum-senyum mendengar cerita itu, saya meneruskan perjalanan mendaki jalanan terjal ke atas desa. Dari atas saya benar-benar menyaksikan keelokan daerah ini, tampak teluk Wulu di bawah menghadap laut lepas membiru dan pulau Talaga di sebelah kanan seolah-olah menjadi tempat persinggahan yang eksotik.

Si Kuda, demikian julukan kami kepada Hardtop satu ini. Sudah tidak terkira ketangguhannya teruji di berbagai medan berat. Berbagai aksesoris offroad pun nyantol di mobil norak tahun 74 ini, termasuk tentu saja lukisan kepala kuda di pintu kanan dan kirinya. Terguncang-guncang dan terbanting-banting di jalanan batu-tanah, kami menyusuri sisi selatan pulau menuju ke timur. Beberapa kali kepala saya terhantam rak besi di kabin namun tidak saya hiraukan karena excite-nya. Kami pun lalu berhenti di sisi atas Kalimbungu, sebuah dataran rawa pinggir pantai yang dipenuhi rerumputan. Pemandangan di sini sungguh-sungguh memukau mata, hamparan laut biru dan jejeran perbukitan hijau membentang seluasnya. Di sisi kiri jauh tampak Pulau Talaga Besar dengan mercu suarnya yang khas serta di sisi kanan ujung tampak Tanjung Kokoe. Si Kuda pun melanjutkan perjalanan hebohnya dan terhenti di ujung bukit timur, di lapangan batu tertinggi menghadap matahari tenggelam. Lama waktu kami habiskan di sini, berangan-angan dapat menembus sisi timur memasuki Kaliasin yang terletak di bawah namun apa daya jalan sudah terputus. Kami pun terperangah menyaksikan sunset yang lagi-lagi indah, dan kemudian kembali ke desa selepas maghrib.

Saya, Andres dan Salman, tiga orang yang cukup nekad menjelajahi hutan dan perbukitan menembus Desa Kaliasin di sisi barat pulau. Matahari masih setombak di ufuk saat kami di-drop di tempat terakhir dimana kendaraan masih mampu lewat dan selanjutnya kami berjalan kaki menyusuri jalanan sempit di punggungan bukit. Sirathal Mustaqim, demikian kami menjuluki jalan itu. Bagaimana tidak, bagaikan titian rambut dibelah tujuh, jalan terjal kami lalui dengan lebar hanya dua meter lebih sedangkan di sisi-sisinya terhampar jurang dengan kedalaman 200 meter lebih. Tidak ada ampun bagi orang yang terjatuh ke bawah, dipastikan langsung “lewat”. Mobil kecil sebenarnya masih bisa melewati jalan ini tetapi tidak memungkinkan untuk berputar balik. Jadi hanya one direction, maju dan mundur, tidak ada opsi untuk berputar balik. Beberapa kali kami beristirahat saat perjalanan mulai berat mendaki dan menembus hutan tanpa jalan setapak. Kami bergantian mengayunkan parang membabat semak dan perdu untuk menyibak jalan. Tiga liter air cepat kami habiskan hanya dalam waktu dua jam.

Sehabis siang, kami sudah mulai menuruni lereng perbukitan menuju Kaliasin. Pedoman kami cuma muara Kaliasin dan matahari yang masih terlihat jelas. Kiranya perjalanan itu tidak segampang yang kami perkirakan, sengatan terik matahari dan merintis jalan dengan parang membuat kami bertiga kelelahan. Air pun sudah habis, sehingga terpaksa pukul 15.30 kami menampung air sungai kecil yang cukup jernih untuk diminum. Gelap mulai menerawang namun kami belum sampai juga. Andres yang asli Padang, berseloroh bahwa Kaliasin adalah tempat yang “dekat di mato jauah di kaki”. Canda kami pun terhenti, terhalang oleh rimbunan bakau dan rawa berlumpur di hadapan. Kami tahu bahwa pantai sudah dekat, namun kami bingung bagaimana caranya menembus rawa ini. Akhirnya kami bertiga menyusuri sungai kecil yang ternyata makin lama semakin dalam. Di suatu titik, saya yang berjalan paling depan berhenti. Trekking Pole saya tertancap lumpur dalam, bukan lagi pasir berbatu seperti sebelumnya. Air sungai sudah menggenangi pinggang dan di kejauhan saya melihat gelembung-gelembung udara kecil-kecil keluar dari dasar sungai. “Man, gantian di depan dong!Kamu kan pake sepatu safety!”, demikian pintaku. Salman tidak bergeming walaupun dia satu-satunya yang memakai sepatu dengan besi pengaman di ujung kaki. Pintar juga dia, pikirnya memang kakinya terlindung, tapi betis hingga paha bagaimana? Akhirnya sambil senyum-senyum kesal, saya memaksakan mengambil jalur ke pinggir menembus rawa bakau bernyamuk dan lumpur semata kaki. Memang tidak nyaman tapi setidaknya aman, semua masih terlihat oleh mata.

Akhirnya, pukul 17.00 kami tiba di Kaliasin diiringi hujan gerimis yang cukup membuat basah kuyup. Penduduk Kaliasin ternyata para pendatang dari Bugis sehingga untunglah kami yang membawa Salman yang dengan bahasanya memuluskan niat kami menginap di salah satu rumah penduduk. Sambil beramah-tamah, kami dijelaskan bahwa Kaliasin dinamai begitu karena sungai yang mengalir di dekat situ berasa payau. Untuk keperluan air sehari-sehari mereka ambil air di Kalitawar, sungai air tawar di bukit sebelah utara. Tuan rumah juga menjelaskan bahwa sungai di rawa timur desa banyak buayanya. Kami bertiga hanya bisa terdiam saling melempar pandangan, syukur tadi kami tidak nekad meneruskan langkah di sungai itu. Saat itu mendung menggantung namun tidak menghalangi canda tawa kami bersama pemuda-pemuda desa di pantai yang merona jingga.

Pagi-pagi kami pamit untuk meneruskan perjalanan menyusuri pantai timur ke selatan menuju Desa Kokoe. Sepanjang perjalanan yang kami tempuh selama tiga jam, kami mendapati banyak perahu nelayan yang berlabuh di pantai. Ternyata saat itu sedang musim panen mete, sehingga banyak nelayan mengurungkan niat ke laut dan memilih memanen mete di kebun mereka yang agak jauh masuk ke pantai. Pemandangan pagi itu sungguh indah, laut yang jernih dan karang yang mencuat di sana-sini membuat kami tidak merasa lelah.

Kokoe I adalah desa yang terletak di Tanjung Kokoe yang berbentuk unik seperti jamur. Di sebelah baratnya, terdapat Kokoe II yang berada di Pulau Kokoe. Masyarakatnya lumayan ramah dan berasal dari Sulawesi Selatan. Pulau Kokoe cukup menghebohkan masyarakat sekitar karena sudah beberapa kali menjadi tempat terdamparnya ikan paus. Saat itu, ikan paus terakhir sudah membusuk dan menyisakan kerangkanya yang dapat disaksikan dari kejauhan. Menurut cerita orang-orang tua sekitar, mereka percaya bahwa ikan paus dapat mengetahui kapan ajalnya. Sebelumnya, mereka akan mendamparkan dirinya di pantai alih-alih mati di lautan. Entah benar entah tidak, cerita itu menemani kami di dalam perahu yang kami sewa melaju kencang untuk kembali ke Desa Wulu mengakhiri perjalanan kami siang itu.

Getting There :

Talaga Raya dapat dijangkau dengan speedboat dan kapal kayu dari Pelabuhan Batu BauBau yang berangkat setiap harinya secara bergantian. Speedboat menempuh waktu dua setengah jam dan kapal kayu menempuh waktu 4 jam. Harga tiket sama, yaitu 60.000 rupiah. Jika ombak besar, dapat diambil opsi menggunakan ferry penyeberangan KMP Madidihang seharga 20.000 rupiah dari BauBau menuju Dongkala di Kabaena Barat dan dilanjutkan dengan ketinting sewaan selama setengah jam.

BauBau sendiri dapat ditempuh dari Jakarta melalui penerbangan Merpati dengan transit di Makassar. Penerbangan tersedia seminggu tiga kali dengan harga tiket sekitar 1,7 juta rupiah.

Where to Stay :

Tidak ada hotel di daerah ini, namun di sekitar pelabuhan Talaga Raya terdapat losmen sederhana seharga 60.000 permalam. Selebihnya kita dapat menumpang di rumah penduduk.

Tips :

Tidak ada ATM di daerah ini sehingga anda mesti mempersiapkan dana cash. Jarang pula terdapat warung nasi sehingga anda harus mempersiapkan sendiri makanan anda. Untuk island hopping, jika tidak terburu-buru anda dapat menumpang kapal nelayan atau kapal pengambil air. Cukup mengganti solar mereka saja, atau barter dengan rokok sepantasnya.

Penduduk setempat adalah pelaut tangguh, namun saat berada di perbukitan atau hutan mereka berubah 180 derajat. Jangan memaksakan mereka untuk berada di hutan di atas pukul 5 sore, segeralah pulang.

48 Responses to “Petualangan Melintas Talaga Raya”

  1. disitu ada komoditi apa mas? sering survei kayaknya ya. hehe..
    ini cerita2 dah lama ya? kalo skrg trip2nya kmana aja mas?

    • ada deh hehe..mirip2 di buli lah hehe…
      sekarang masih di seputaran sulawesi kok..kadang2 kalimantan dan flores..ditunggu aja semua artikelnya nanti di blog ini…:)

      • Anonymous Says:

        Bisa minta foto desa telaga kecil mas,dan bisa g mas kasih tau bagaimana saya bisa ke sana dan menenpuh berapa jam dari bau bau,penting buat saya mas mau nyari bpk anak saya dia org telaga kecil trimakasih

      • Maaf saya tidak banyak foto2 di dalam desanya..lebih sering di pinggirnya. Kalau dari baubau jalurnya ada ferry seminggu dua atau tiga kali. Atau naik kapal kayu atau speedboat setiap hari dari pelabuhan rakyat tanjung batu..

  2. Assalamu’Alaikum

    Kang gambar-gambarnya bagus sekali….
    Kemarin Q copy fotonya secara tidak sengaja di google tanpa seizin dari Kakak….
    Jadi Q minta ma’af yah….?
    Tapi boleh kah Q minta izin lagi tuk mengsave lagi uploadnya kita????
    By Jiwa Kesatria Maya Talaga (Drafter Kontraktor)
    http://www.facebook.com/intelijenduniamaya

  3. kyanya talaga pulau yg mengasyik deh soalnya pemandangannya bagus

  4. Anonymous Says:

    memang pemandangan kampung halamanku keren2 kok,.,,.

  5. H.RiiNaa.R Says:

    talaga pulauQ yang tercinta.. baru bbrapa hari meninggalkannya tpi skarang sdah sangat merindukannya..
    hhmmm,,

    • Anonymous Says:

      talaga kmpungq yg tercnta , z pegn pulkam cz kngen mha kelurga d’tlaga , jgn lpax jlan2 d’kmpungku , @MIYAS KAEPU

  6. MIYAS KAEPU Says:

    Bgi pra pembca tentg artikel pertualgan d’pulau talaga , jgn lpa nah jlan d’talaga , z ykin leant gak bkalan nyesal ,

  7. ak mw pulang ke kampung TALAGA KECIL tp lg sbuk kuliah ,,
    gmna iia cra nya ,,
    huft ,,🙂

  8. huw’huw’😥
    kangend skli sm pulau talaga…
    3 bln skolah d.talaga.., bnyak skli pnglaman indah.., bukn hnya pulaunya.., smua pnduduknya sngat baik…

  9. Excelent post mas bro!
    thanks uda mendeskripsikan kampungQ tercinta,

  10. wah…pulau talaga, tempat ane menghabiskan masa SD ane nih, jadi kangen sama temen2 di sana….

    keren-keren fotonya bang….
    asyik kyaknya nih backpacker di negeri sendiri.

  11. aku minta ijin untuk ngesaha

  12. ismail harun ziha Says:

    kalau pada pengen ke talaga bisa menghubungi saya… 085722553877… saya orang talaga asli,,, sekarang saya di bandung, sedang melanjutkan pendidikan profesi di sini… makasih ya sudah berkunjung di sana… nama saya Ismail Haru Ziha…

  13. ismail harun ziha Says:

    bang, saya minta izin untuk memposting artikel ini ya,, boleh? makasih ya sebelumnya….

  14. Talaga itu kampungku tapi sekarang z tnggal di dongkala kabtim sy ingin pulkam tapi ngga ada kapal……….

  15. Anonymous Says:

    I LOVE TALAGA

  16. Anonymous Says:

    Bagus2 gambarnya🙂

  17. z suka anda menulis sbuah kisa d talaga raya, tp msyarakat talaga it awalx bkan dr kampung wulu n dr kadatua n siompu.

    • Terima kasih infonya. Saya hanya meneruskan cerita dari orang setempat saja. Yang coba disampaikan bukan penduduk Telaga berasal dari penduduk Wulu tetapi orang yang datang ke kawasan tersebut pertama kali tinggal di Wulu karena sumber air bersih satu2nya hanya di situ. Siapakah orang yang datang ke Wulu dan lalu pindah ke Talaga? Mungkin dari Kadatua dan Siompu?

  18. Anonymous Says:

    lma gak gak blek kampung…kokoe. aku rinduuuuuu….limongang akuuuuuuuu…….

  19. 3bulan dlu aq dsna tinggal d’telaga kecil pnduduk.x ramah smua aq rindu pulau talaga

  20. Wah foto-fotonya nggak asing, saya tau di foto rumah siapa dan dimana! Soalnya sampai sekarang saya masih di Talaga kecil…. Tapi kuliah di makassar pada tahun 2012…

  21. aku kangen sama pulau talaga…!

  22. Jadi rindu sama kampungku talaga raya,, abis baca perjalanan ini!!

  23. wah, pak Heru ini pintar mngatur kata2 dr ceritax. pembaca kaya merasa ada d tmpat tersebut apa lg yg baca rata org talaga sendiri (including me) jd kaya baca novel Ayat-Ayat Cinta ini tp versi kampung halaman… ehehehe
    #KOMPOR GAS PAK🙂😀. its awesome !!!

      • Mawar enata Says:

        Kangeeen ma talaga,kpengen plang kmpung tpi syang blom liburr..
        Hufft udh hmpir 3 taon kuliah d.bauz,tpi bru plang kmpung 4 kalii..
        Kangen minta ampun abisss baca ini,bkin tmbah kangen n pngen cpet2 plang…
        I lov talagaa.

  24. bang ada kontak person orang-orang talaga g, kebetulan saya mau berkunjung ke sana. kalau ada dah boleh saya minta bang, mksh. salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: