Lintas Selayar – Bira

(versi edit telah diterbitkan di Majalah JalanJalan May 2010)

oleh : R. Heru Hendarto

Setelah menghabiskan malam dengan menginap di ruang tunggu bandara Hasanuddin Makassar, pukul 6 pagi saya mencari ojek untuk membawa saya ke terminal Mallengkeri kota Makassar. Terminal di selatan kota yang berbatasan dengan kabupaten Gowa ini dibangun khusus untuk melayani trayek angkutan umum dari Makassar tujuan kota-kota di arah selatan dan timur, sedangkan masyarakat yang ingin menuju kota-kota bagian utara diakomodir oleh Terminal Daya. Menembus kemacetan kota pagi itu, tepat pukul setengah delapan saya pun tiba disambut oleh hiruk-pikuknya para penumpang yang berkumpul hendak menuju kota Benteng di pulau Selayar. Saya catat, tidak kurang dari enam bis berkapasitas 40 orang sudah menunggu di sana. Saya pun segera check in ke salah satu PO antar kabupaten yang sudah saya pesan sehari sebelumnya.

Bis yang bersih dan ber-AC dingin mengantarkan saya menuju kota Selayar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bis-bis di Sulawesi, walaupun judulnya executive Air Conditioned, namun di perjalanan semua bersifat on demand. Buktinya, di daerah Takalar, bis sempat berhenti sejenak dan para penumpangnya turun membeli semangka yang tampak ranum di jual di pinggir jalan. Rekan saya juga pernah mengalami peristiwa serupa, namun kali itu yang dibeli bukan semangka, tapi jagung rebus dengan sambal yang ekstra pedas. Demikian pula untuk isi cargo, saya cukup beruntung muatan barang saat itu yang masuk ke dalam hanya karung beras. Saat perjalanan serupa dari Luwuk ke Ampana, hampir saja beberapa ekor ayam masuk ke kabin penumpang sementara seekor kambing sudah terikat pasrah di belakang bis! Perjalanan total memakan waktu hingga 10 jam, termasuk istirahat siang serta menunggu keberangkatan ferry penyeberangan Bira – Pamatata yang menyita waktu 3 jam sendiri. Sesungguhnya, perjalanan saat itu cukup menarik karena di sebelah kanan terhampar lanskap laut pesisir selatan Sulawesi. Pemandangan apik dari pantai putih, deretan rumah-rumah Bugis, deretan pepohonan palem di perbukitan dan tambak garam yang putih kemilau cukup menghibur mata. Tiba di pulau Selayar, kondisi malam hari membuat saya kehilangan orientasi lokasi, dan setelah mengisi perut malam itu saya langsung terlelap kelelahan.

Pagi-pagi sekali, menggunakan ojek saya menyusuri kota menuju ke arah selatan. Mentari pagi menerangi bumi Selayar dan saya baru tersadar bahwa sesungguhnya kota kecil maritim ini cukup apik. Jalanan kota begitu bersih dan lengang, serta di sisi timur pantainya terhampar memanjang seolah-olah selalu menemani kita kemana pun pergi.  Rumah-rumah penduduk tidak begitu mewah, namun cukup apik dan bersih berada di bawah naungan pepohonan kelapa yang banyak terdapat di sini. Ojek motor pun saya minta meluncur perlahan, menikmati suasana pagi menuju salah satu tempat wisata di kota Selayar, pantai  Baloya.

Baloya, sebuah pantai putih bersih memanjang dihiasi cuatan-cuatan batu-batu dan pulau karang di sana-sini yang cukup apik. Pesisirnya pun cukup landai dan akan menggoda siapa pun untuk menceburkan diri ke airnya yang hangat. Salah satu spot terbaik di daerah ini telah disulap menjadi sebuah resor, sekaligus sebagai pintu gerbang menuju surga diving di Selayar. Pulau Selayar memang terkenal akan keelokan pemandangan bawah lautnya. Khusus untuk diving, lokasi terbaik adalah di Kepulauan Takabonerate yang berjarak kurang-lebih 2 jam perjalanan dengan speedboat. Di depan pantai Baloya, terpapar pulau Pasi yang hijau memanjang. Setengah jam melewatkan segarnya pagi di situ, saya kembali menuju ke arah kota. Tertarik dengan cerita akan sejarah pulau Pasi dan sekitarnya, saya meminta ojek berbelok menuju ke Kampung Padang. Desa nelayan dan penghasil garam yang dalam bahasa Bajo memiliki arti “tumpukan pasir dan karang” ini berada di titik terdekat dengan pulau Pasi dan menyimpan beberapa peninggalan kerajaan di masa lampau. Saat itu, di abad ke-17 dan 18, Padang dan Pasi menyimpan sejarah perdagangan yang cukup maju. Sejarah mencatat, beberapa kali saudagar besar dari daratan Cina seperti Baba Desan dan Baba Bos Kamar datang dan menjadikan Kampung Padang sebagai sentra perniagaannya. Peninggalan-peninggalan mereka masih dapat kita saksikan hingga saat ini berupa jangkar besar dan meriam kuno di desa Padang dan makam-makam kuno yang tersebar di pulau Pasi. Hingga saat ini pun, sisa-sisa masa kejayaan laut masih dapat kita saksikan dengan banyaknya perahu nelayan dan banggan (bagang) besar penangkap ikan yang berlabuh di sini.

Tidak ingin ketinggalan ferry yang beroperasi sehari dua kali, pukul 11.00 siang saya sudah meluncur cepat menuju pelabuhan Pamatata di utara pulau. Perjalanan selama satu jam saat itu sungguh saya nikmati karena sepanjang sisi kiri terbentang pasir putih memanjang yang elok menemani. Saat kali pertama malam sebelumnya tiba, hanya gelap yang menghiasi daerah ini. Tidak lama begitu saya tiba, KMP Bontohara pun datang dan ferry berkapasitas 1000 GT ini pun membawa saya kembali ke Tanjung Bira. Angin semilir dan ombak yang tenang membuat saya tak terasa terlelap siang itu dan akhirnya terjaga oleh bunyi memekakan telinga dari klakson ferry saat hendak merapat di pelabuhan Bira.

Matahari mulai condong di ufuk barat saat saya melangkahkan kaki dari gerbang pelabuhan menuju pantai barat Bira sejauh 2 km. Pantai ini memang sangat menawan, pasir putih menghampar hingga 3 kilometer ke utara dan di sisinya dibentengi oleh tebing-tebing karang yang indah. Saya coba meraup segenggam pasirnya dan karena ukuran butirnya yang halus, serta-merta pasir tersebut berjatuhan meluncur dari sela-sela jemari. Pantai barat Bira ini juga landai dan berair jernih serta menghadap ke sebuah pulau di kejauhan, Lihukan namanya. Karena panjangnya pantai ini, kita dapat berjalan menyusuri sisinya menuju utara dan menikmati pemandangan yang apik sepanjangnya. Beberapa kali tampak perahu bermotor berlayar bolak-balik ke pulau tersebut membawa wisatawan yang hendak snorkeling ataupun sekedar menikmati panorama pulau. Di kejauhan pantai, tampak belasan muda-mudi sedang ramai-ramai menangkap ikan dengan membawa jaring dalam bentuk melingkar. Semakin mereka merapat, semakin riuh-rendah pula suara mereka melihat banyaknya ikan yang terperangkap di dalam. Tanpa terasa, mentari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Orang-orang pun bergegas meninggalkan pantai sementara saya tertegun menyaksikan semburat warna-warna senja yang begitu indah. Debur ombak yang gemulai seolah-olah menjadi senandung alunan musik yang mengiringi tenggelamnya sang surya kala itu.

Jika diperhatikan, karakter pantai barat Bira dan pantai timurnya sedikit berbeda. Pantai timur lebih eksotik karena penuh dihiasi dengan jejeran nyiur melambai dan deretan rumah-rumah suku Bugis yang tinggi-tinggi dan gagah dilihat. Namun, pantai barat lebih ramai pengunjung karena lokasinya yang lebih terbuka dan lebih banyak tersedia fasilitas. Jika anda menyukai keramaian, silakan datang ke barat namun jika anda menyukai suasana sepi dan kehidupan masyarakat nelayan yang masih asli, pantai timur adalah pilihan terbaik.

Bira yang masuk ke dalam wilayah Bulukumba, bersama-sama dengan Tana Beru juga terkenal akan sentra pembuatan perahu Phinisi. Di sekitar Bira, pembuatan perahu ini dilakukan di sekitar pantai timur, dan jika rangka luar yang terbuat dari ulin atau jati sudah selesai maka perahu akan diteruskan diturunkan ke laut menuju seputaran pelabuhan untuk dilakukan proses finishing. Pak Barru, seorang nelayan setempat yang baru tiba dari melaut pagi itu berkata : “Kami membuat perahu ini turun-temurun, dan syarat utama dalam pembuatannya adalah tidak boleh bertengkar sesama pekerja”.   Memang, pembuatan phinisi yang memakan waktu satu tahun ini syarat dengan nilai-nilai ritual dan kebersamaan. Panrita Lopi, sebutan untuk pawang perahu, memulai ritual pembuatan perahu yang harus ditaati. Tidak ada buku panduan atau hitungan eksak untuk pembuatan phinisi, semua ada di luar kepala dan diasah oleh pengalaman turun-temurun. Pertengkaran para pekerja dalam pembuatannya pantang terjadi, dinilai akan menghasilkan perahu yang cacat melaut. “Harga sebuah perahu bisa mencapai 2 hingga 3 milyar, tergantung ukuran dan kerumitan dalamnya”, imbuh Pak Barru.  Saya hanya bisa terdiam mengangguk, kagum dengan nilai kebersamaan yang ditanamkan dan kagum dengan etos kerja keras mereka, suku Bugis dari Bira.

Getting There :

Hampir semua maskapai Indonesia melayani jalur penerbangan Jakarta – Makassar dengan harga tiket mulai dari 800 ribu. Dari Makassar, anda dapat naik bis pagi hari ke Benteng dari Terminal Mallengkeri. Bis AC tersedia sebanyak dua buah, yaitu PO Aneka Transport (0411-5048232) atau PO Sumber Mas Murni dengan harga tiket 100 ribu. Selain itu terdapat juga beberapa PO ekonomi non AC lainnya.  Cara lain adalah dengan menaiki pesawat udara seminggu tiga kali langsung menuju bandara Benteng (mulai dari 250 ribu). Perjalanan menuju Benteng akan melewati ferry penyeberangan Tanjung Bira.

Where to Stay :

Hotel di Benteng cukup banyak, seperti Berlian Hotel (0414-21129) dan Syafira Hotel (0414-22768). Jika anda ingin beraktivitas diving dapat mencoba Selayar Island Resort (0414-21750).

DI Bira, lebih banyak lagi hotel tersedia seperti Bira View Inn (0413-82043) atau mencoba kesederhanaan Riswan Guesthouse (0413-82127)-60 ribu.

What to Do :

Jika anda penikmat pantai bersih putih memanjang, Bira adalah tujuan yang cocok. Semua kegiatan di pantai dari bermain pasir, mandi, memancing hingga snorkeling dapat anda lakukan di sini. Anda juga dapat menyewa perahu seharga 250 hingga 300 ribu menuju pulau Lihukan di hadapan. Namun jika diving adalah kegemaran anda, Selayar dan Takabonerate adalah tujuan wajib. Peralatan selam dapat disewa di Selayar Beach Hotel.

Tempat ini pun tidak tertutup bagi anda yang menggemari sejarah. Di Benteng terdapat beberapa peninggalan jaman dahulu seperti nekara perunggu dan jangkar serta meriam kuno. Untuk anda yang menggemari kehidupan sosial masyarakat,  deretan desa nelayan di pantai timur Bira cocok sekali untuk anda kunjungi.

Di bulan Oktober biasanya dilangsungkan Festival Takabonerate. Di dalamnya diadakan atraksi budaya suku Konjo yang mendiami pesisir Bulukumba hingga Selayar. Juga diadakan lomba memancing dan kegiatan bawha laut lainnya di perairan Takabonerate – Selayar.

6 Responses to “Lintas Selayar – Bira”

  1. mas mau tanya dong, kira-kira perjalanan darat dari bira ke makassar dapat ditempuh berapa jam? kendaraan paling pagi dari bira ke makassar ini jam berapa? mungkinkah jam 12 sudah sampai di makassar?

    • Kira2 5-6 jam an, soalnya jalan (2 bulan lalu) masih rusak. dan jembatan dibangun..itu pun pake kendaraan pribadi ya. Kendaraan paling pagi ya pake angkot itu ke Bulukumba sambung Panther ke Mksr tp tetep nunggu penuh. Kadang2 kalau hari ramai ada Panther nunggu di Bira. Opsi lain ya nunggu bis dari Selayar di penyeberangan ferry Bira tiba sktr jam 9-10, stop aja naik ikut ke Mksr.

  2. Jadi ingin ke Bira terutama ke bagian pantai timurnya, hehehe….

  3. Om RHH si ToekangBatoe :
    gw mo ke Selayar n Takabonerate
    katanya dah ada pesawat dari makssar ke bulukumba
    gw lagi males jalan darat nihh😦

    Do you have info ’bout this ???

    • Betul Bu…lupa apa seminggu dua kali atau dua hari sekali…silakan browse yaa karena aku sendiri ga tau info detilnya yang jelas dahulu masih di subsidi pemda sehg tiket cuma 300 ribu an..
      Waktu aku ke sana bertepatan dengan Festival Selayar jadi ada pesawat tapi penuh dan ferry malah ditambah pelayarannya. Kalau ke sana, dan ambil pesawat, pastikan ada informasi kendaraan angkutan ke kota karena kalau tidak dapat kendaraan/dijemput atau ada ojek, gempor bu jalan kaki wkwkwkw..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: