We are Crazy but not Stupid!

Sudah bukan rahasia lagi bahwa yang namanya geologist hampir selalu dipandang miring oleh orang lain. Berbagai predikat dan panggilan mulai dari wong edan, gembel, kere, kemproh, sinting dan sableng sudah sering kami terima. Tiada yang bisa kami lakukan selain nyengir cengengesan mengiyakan predikat itu dengan senang hati.

Sebenarnya, menurut hemat saya, bukanlah masalah kejiwaan kami yang terganggu (lagipula mana ada orang gila bisa kuliah?). Keanehan yang orang lain nilai pada diri kami itu sebenarnya adalah buah dari tuntutan profesi kami. Geologi, sesuai namanya, adalah jurusan yang berhubungan erat dengan alam. Kegiatan-kegiatan kami semenjak kuliah hingga bekerja selalu berkaitan dengan trip lapangan, masuk hutan, naik gunung, turun ke pantai, kepanasan dan kehujanan sambil tetap mobile. Karena itu pulalah istilah pakai CD (celana dalam) side A-side B sangat populer di antara kami. Baju penuh keringat pun cukup dijemur hingga kering dan digunakan lagi walau baunya yang tidak karuan itu sudah tidak dirasakan lagi karena sudah terbiasa. Kami toh tidak mungkin menuntut di tengah hutan bisa mandi sehari dua kali dengan air sekualitas PDAM, atau mengharapkan tempat tidur busa empuk yang dilengkapi dinginnya AC. Seringnya, mandi sehari sekali dengan air sungai berwarna coklat dan tidur di atas karung goni dikerubuti nyamuk saat flying camp adalah hal yang patut dinikmati. Ini pulalah salah satu alasan kenapa kami selanjutnya menjadi menantu yang disayang mertua, karena setiap kami datang bertandang, cukuplah hanya tikar digelar atau kursi tamu yang menjadi tempat tidur kami. Jadi, jika orang lain menganggap bebatuan itu kotor, dan tidak mandi adalah jorok, kami malah menganggap sebaliknya. Singkapan bebatuan adalah harta berharga karena menyajikan informasi geologi yang kami butuhkan, dan tidak mandi adalah sesuatu yang wajar jika memang tidak tersedia sumber air bersih yang memadai.  Lah, lagipula kami kan dapat rezekinya dari batu, tanah dan lumpur. Kenapa kami harus malu dan merasa hina-dina sedangkan sedot tinja saja adalah pekerjaan halal dan mulia?

Kegilaan dan keanehan pada diri kami sudah ‘dipaksa’ untuk mengakar dan tumbuh berkembang semenjak semester pertama bergabung di jurusan. Apakah ‘senjata’ seorang mahasiswa geologi saat itu? Kompas geologi (Brunton type), lup perbesaran hingga 25x, palu geologi (biasanya sediment type) dan tentu saja tidak ketinggalan sebuah mesin ketik! Lho, kok mesin ketik? Yup, mesin ketik adalah salah satu senjata wajib kami saat dua tahun pertama. Saking familiarnya kami dengan mesin ketik itu, ada sebuah angkatan di jurusan kami membuat kaos seragam angkatan bertuliskan geologi = mesin ketik, lengkap dengan gambar sebuah mesin ketik kuno dengan tuts-nya yang sudah buram dan lepas-lepas. Bukannya saat itu belum ada komputer ya, karena sesungguhnya era Windows 95 dengan Office-nya telah mulai bertaburan, menandai runtuhnya penggunaan Wordstar via dos. Walaupun memang printer tipe bubble jet belum begitu merakyat, tapi sudah banyak bertebaran rental pengetikan komputer ber-printer tipe dot matrix yang bunyinya membahana hingga satu kelurahan itu. Asal-muasal penggunaan mesin ketik ini sebenarnya adalah peraturan asistensi yang saat itu mewajibkan penggunaan mesin ketik untuk setiap pembuatan laporan praktikum. Tujuannya sebenarnya baik, menghindari copy paste tugas yang dasarnya sangat gampang untuk dilakukan. Seandainya hendak copy paste pun, minimal si peniru harus tetap mengetik ulang kerjaannya sehingga untuk sekedar mencontek pun kita harus meluangkan waktu dan energi untuk mengetikkannya di lembaran tugas.  Mesin ketik ini masih kami bawa-bawa dan jadi senjata andalan hingga kami mengikuti Kuliah Lapangan di semester 6 dimana Windows 98 yang cukup canggih kala itu sudah menjadi barang yang umum. Jadi jangan pernah sekali pun heran jika melihat seorang mahasiswa geologi, yang katanya anak teknik yang keren dan pintar itu (katanya lho!), menenteng-nenteng mesin ketik kemana-mana seperti me-nyaru penawar jasa pengetikan yang menjamur saat registrasi mahasiwa baru di kampus kami.  Suatu waktu saya menaiki bis kota menuju kampus, sang kernet pun men-jawil saya. “Mas mas.., uangnya kurang!”, katanya tak bersahabat.  “Mahasiswa Pak!”, sambung saya cepat. “Turunnya di mana? Mahasiswa kok gowo-gowo mesin tik, ngapusi!”, sungutnya dalam tatap curiga. Tidak mau terjebak dalam bantahan tak perlu, saya pun segera mengeluarkan dompet menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa, beres. Dia pun ngeloyor pergi meninggalkan saya yang risih abis karena jadi tontonan berbelas pasang mata penumpang bis lainnya.

Yang paling seru adalah saat-saat kami harus ke lapangan untuk melakukan field trip. Hampir setiap mata kuliah kegeologian mewajibkan kunjungan lapangan untuk melihat dan mempelajari secara langsung kenampakan makroskopisnya. Tidak ada satu pun yang bisa dengan akurat mendeksripsikan sebuah batuan hanya bermodalkan hand specimen tanpa melihat kenampakan aslinya dan data-data lain yang tersebar di lapangan (ini juga lah yang selalu menjadi alasan pembenaran kami-alias ngeles, mengapa saat tes asistensi Kristalografi dan Mineralogi dulu kami tidak ada yang berhasil satu pun mendeskripsikan beton dan beling). Pakaian perang khas lapangan, topi dan rompi rimba, daypack berisi alat tulis, clipboard, logistik, dan tentu saja trio palu, lup dan kompas adalah perkakas yang wajib bawa. Tidak peduli mau hari terang-benderang kek, mau hujan kek, mau berangin kek, yang penting hari itu target kunjungan lokasi harus selesai. Sebabnya adalah, untuk field trip yang hanya mengambil waktu week end di sela-sela sibuknya anak geologi mengikuti jadwal kuliah dan praktikum ini tidak akan bisa diulang dengan mudahnya di lain waktu bila gagal.  Untuk itulah jas hujan tipe ponco juga menjadi bawaan wajib kami. Jika hujan datang, tipe ponco adalah yang paling praktis karena bisa diangkat dan kami masih bisa menulis di bawahnya beralaskan clipboard yang dilapisi plastik. Nah, biasanya ada beberapa lokasi singkapan batuan yang letaknya berdekatan sehingga kami tidak perlu menggunakan kendaraan, cukup dengan berjalan kaki sebentar. Sore itu pukul 15.30 ketika hujan lebat sudah mengguyur kami setengah jam sebelumnya. Semua peserta mengenakan ponco, lutut ke bawah sudah basah kuyup karena ponco hanya menutupi bagian kepala hingga paha. Sepatu dan kaos kaki tampak berlumpur karena kami berjalan di tanah liat yang lengket dan licin. Beberapa peserta cewek dan cowok sudah tampak kelelahan sehingga berjalan terseok-seok. Kata-kata dosen lapangan yang menggunakan megaphone hanya samar-samar kami dengar. Rombongan berjalan menuju singkapan berikutnya dengan menelusuri sebuah jalan raya di daerah Gunung Kidul. Tiba-tiba, sebuah truk lewat dengan kencangnya. “Woooonnngg edhhuuaannnnnn…, ha ha ha…!!!!”, sebuah teriakan pun muncul dari jendela pintu kiri dengan mata melotot ke arah kami. “Woooo…, truuk edhuuaaann…!!” balas kami tak kalah nyaringnya sambil melemparkan apa saja yang bisa kami raih di situ. Batu, tanah keras, bahkan sepotong kayu pun berseliweran melayang ke arah truk yang melaju kencang itu namun tidak satupun yang berhasil kena. Sesudahnya teman-teman cuma bisa menggerutu, baru kali ini kami diteriaki gila, oleh kernet truk lagi, turun derajat banget. Dan sudah capek-capek kehujanan berlumpur seperti itu, plus diteriaki gila, hanya untuk membawa pulang satu tas penuh berisi bebatuan berbagai rupa dan jenis.

Kolektor batu, itu juga adalah julukan bagi kami karena hampir dipastikan di setiap kamar kos anak geologi selalu tergeletak sekumpulan batu berbagai jenis berwarna-warni. Batu-batu yang bagi kami ‘standar’ tapi menawan seperti kalsit, chert (baturijang), lava scoria, pumice (batuapung), dan silicified wood (kayu terkersikkan) hampir selalu ada, belum lagi bebatuan vulkanik dan metamorf lainnya. Hebatnya kami, hampir selalu bila ada teman kos yang bertandang, akan kami buat terpesona dengan koleksi batu ini. Apalagi bila kami menceritakannya sambil ditambahi dengan bumbu-bumbu sejarah terbentuknya bebatuan ini lengkap dengan reaksi kimia dan mineral-mineral ikutan yang menyertainya. Makin mengasyikkan juga bila kami bisa menambahkan bumbu-bumbu mistis mengenai khasiat batu serta kharisma penggunanya serta kejadian-kejadian supranatural lain yang membarengi saat didapatnya  batu itu. Namun, tentu saja itu hanya berlaku untuk orang-orang yang tertarik dengan bebatuan dan bisa mengabaikan ‘aspek kotor dan jorok’ yang melekat di batu itu. Untuk orang yang sama-sekali tidak peduli dengan batuan, paling hanya lewat di depan pintu kamar sambil berkata : “Huh, kemproh!”.

Ditempa oleh beratnya lapangan di mana susah senang dipikul bersama-sama, kami seangkatan sudah merasa sehati. Dari urusan membawakan tas teman yang kelelahan, berbagi nasi dan air minum saat makan siang di puncak bukit yang panas kering-kerontang, gotong-gotong teman yang pingsan di lapangan hingga njagain-nya di rumah sakit sudah pernah kami lakoni semua. Berbeda dengan jurusan lain yang tidak sempat mengalami beratnya deraan fisik dan mental, rasa solidaritas anak-anak geologi patut diacungi jempol, we are brothers forever. Di angkatan saya, boleh dikata tidak ada gank gank-an yang dominan terbentuk, memang sih ada beberapa kelompok kecil tapi semua anak bisa membaur satu sama lain tanpa kecuali. Saking akrabnya, sebagian besar kami memiliki nama panggilan khusus dan tidak ada satupun yang marah diberi julukan walaupun seringkali artinya tidaklah sopan. Sodik yang tinggi besar dijuluki Kingkong, Elly dipanggil Warig (berarti monyet dalam bahasa Banjar), Agung karena berasal dari Sibolga dipanggil Batak, Albina dipanggil Al Capone. Tantyo dipanggil Lithic (berasal dari nama batuan sedimen, lithic arenite), Adin dipanggil dengan sebutan Lowok (nama daerah di Malang). Erwin dipanggil Nyanyal (bahasa walikan dengan arti Kakang). Bagaimana, belum cukup unik? Baiklah, selanjutnya si Aris dijuluki Sepep (karena hobinya nonton Blue Film), Ical yang badannya kecil tapi paling cerdik (cerdas dan licik) dipanggil dengan julukan Raja Koya dan Fei yang badannya kurus-kering dengan panggilan Peyek. Setio dipanggil Iyem (nama khas yang identik dengan nama pembantu) dan tidak lupa juga Saleh yang dari Kuningan dipanggil dengan Burjois (kaum penggemar bubur kacang ijo). Lalu untuk klan binatang ada Ardin yang dipanggil dengan Themub (bahasa walikan Jogja yang berarti wedhus = kambing). Dua yang paling parah di antara kami adalah panggilan untuk Jono yaitu Lodjon (bahasa walikan-maaf tidak diterjemahkan karena sangat tidak sopan) dan Tommi dengan panggilan Kopet (artinya adalah maaf, sisa BAB cair lengket yang masih menempel). Okay, we admit that we’re not so that normal indeed.

Moral of The Story :

 Don’t judge a book by its cover.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: