Labuan Bajo, Gerbang Surga Taman Nasional Komodo

(versi edit telah diterbitkan di Majalah JalanJalan Sep 2010)

Oleh : R. Heru Hendarto

Pagi-pagi sekali, pukul 07.30 saya menginjakkan kaki di Labuan Bajo meninggalkan KM Tilongkabila yang telah dua hari dua malam membawa saya meninggalkan BauBau dan Makassar.  Ketenaran Komodo membawa saya ke daerah Flores yang kering-kerontang. Kota kecil ini begitu ramainya, mungkin karena saat itu bertepatan dengan musim libur sehingga penuh sekali dengan turis manca negara. Masih terasa goyang dilamun ombak di kapal, saya tidak langsung mencari penginapan tetapi membuang pusing di kepala dengan berjalan mencari keringat menyusuri pesisir pelabuhan.

Seperti namanya, Labuan Bajo berasal dari kata Labuan yang berarti persinggahan dan Bajo sebagai salah satu suku pengembara laut dari Sulawesi.   Kota kecamatan dengan luas kira-kira 150 kali lapangan bola ini memang awalnya dihuni oleh rekan-rekan dari Sulawesi. Saya pun memanggul backpack dan membelokkan langkah memasuki perkampungan mereka. Matahari mulai naik ketika saya melewati separoh jalan pemukiman ini. Beberapa orang menyapa ramah kepada saya sementara kaum ibu hanya melemparkan senyum dari jendela-jendela rumah mereka. Seumur-umur, belum pernah saya melihat sebegitu banyak kapal kayu yang berlabuh di satu tempat. Tidak kurang dari 200 buah kapal berbagai jenis bertambat di sini, mulai dari sampan dayung kecil, boat kayu,  bagang penangkap ikan hingga kapal kayu barang. Belum lagi terhitung berbagai macam yacht yang berkeliaran di sekitar pelabuhan. Rumah-rumah para pendatang ini masih mencirikan daerah mereka, berupa rumah kayu panggung dengan ciri khusus di bubungan atap depan. Sambunlayang, adalah bahasa Makassar yang menunjukkan bagian rumah ini. Untuk bentuk yang menyilang seperti huruf V, dipastikan bahwa si pemilik rumah berasal dari suku Bugis, Bone dan Makassar, sedang bentuk bercabang dua seperti huruf U adalah ciri khas suku Mandar. Saya pun meninggalkan Kampung Air, demikian nama tempat itu dan beranjak mencari hotel untuk melepaskan penat di badan.

 

 

Urusan mencari hotel di Labuan Bajo saat peak season seperti ini adalah urusan yang cukup pelik. Empat hotel dan losmen saya datangi di sepanjang pelabuhan dan bukit atas namun nihil. Hanya satu yang memberikan harapan namun saya ragu karena receptionist-nya berkata : “Masih menunggu kepastian turis yang check out siang ini Pak, tadi malam si mereka berniat begitu”. Akhirnya, dengan langkah gontai dan separuh putus asa, saya memasuki sebuah losmen yang letaknya agak terlindung pepohonan dan bangunan ruko dan sangat-sangat bersyukur dapat menemukan sebuah kamar biasa dan segera beristirahat menghilangkan penat di badan.

Setelah makan siang dan merebahkan diri sejenak, saya pun meluncur ke luar hotel. Di pertigaan jalan, saya memanggil ojek. Akhirnya, Jeremy, pemuda asli Manggarai mengantarkan saya berkeliling kota hingga sore hari. Gua Batu Cermin yang berjarak 15 menit dari kota adalah tujuan pertama saya. Sebenarnya saya tidak begitu menyukai yang namanya gua, selain tidak suka gelap, saya pun tidak menyukai kepengapan di dalamnya. Namun, semuanya sirna begitu saya memasuki gua ini. Tidak seperti Gua Gong di Pacitan yang tertutup misalnya, Gua Batu Cermin ini cukup terbuka sehingga sinar matahari dengan leluasanya menerobos masuk menerangi lorong-lorongnya. Tidak ada rasa pengap, lembab ataupun gelap, yang ada hanyalah ketakjuban yang tersisa. Bagaimana tidak, ribuan atau jutaan tahun lalu gua ini adalah terumbu karang raksasa yang lunak dan hidup lalu mati dan memerangkap organisme hidup yang ada di dalamnya. Di beberapa tempat Jeremy menunjukkan beberapa bentuk fosil menarik yang masih dapat dilihat dengan mata.

 

Kembali ke arah kota Labuan Bajo bagian atas, di daerah Waringin saya terdiam terpesona menyaksikan indahnya landscape kota ini. Di hadapan saya, terbentang pahatan alam yang mengukir daratan dan lautan sedemikian rupa indahnya. Tepat di kaki saya, Kampung Air yang dihiasi perahu beraneka-ragam memanjang hingga bertemu dengan pelabuhan lautnya. Permukaan laut tampak biru sekali saat itu, tampil kontras dengan tonjolan bukit-bukit kecil nan gersang di sekelilingnya. Di kejauhan, tampak pulau Rinca dengan puncak-puncak bukitnya menggoda saya untuk segera ke sana. Morfologi perbukitan kapur Labuan Bajo yang begitu mempesona ini memang sangat menggoda, sulit diungkapkan padanan keindahannya dengan kata-kata. “Magic !”, begitu ujar sepasang turis Italia di sebelah saya yang juga membawa anak-anak mereka ber-backpacking mengunjungi Flores.

Sang mentari sudah mulai bergeser di ufuk barat ketika Jeremy mengantarkan saya ke Pantai Pedhe. Pantai indah berpasir putih ini hanya berjarak 5 menit dari kota. Tidak banyak penduduk di daerah ini, hanya beberapa rumah nelayan yang menghuni pinggir kanan pesisir, selebihnya hanya bentangan pasir putih membentengi birunya air laut. Lumayan banyak pepohonan di sini, dan sepertinya pantai ini sering digunakan sebagai ajang pameran kebudayaan dan industri daerah. Dan saya menyesal sekali, karena sehari sebelumnya di tempat ini digelar tarian khas Flores, Tarian Caci. Dua orang bertelanjang dada memegang cambuk dan tameng kulit binatang dan saling memukul. Tarian perang ini tidak sembarangan dimainkan, even yang sangat menarik sesunggunya. Satu jam di pantai ini, herannya, tidak ada satu pun turis manca yang datang ke sini, jadi kami berdua saja yang seolah-olah memiliki tempat ini. Saya pun menghabiskan sore bersama Jeremy, mendengarkan kisah sedihnya sebagai anak yatim yang ditinggal ibunya bekerja sebagai TKW di luar negri. Sembari menyemangati dia, pandangan saya terusik dengan datangnya keluarga kecil yang dengan bahagianya bermain pasir dan air di senja yang begitu indah saat itu.

 

 

Pagi yang sangat cerah, hari terakhir saya di Labuan Bajo. Di pelabuhan rakyat di sebelah utara kota, telah menunggu sebuah kapal kayu penumpang yang akan membawa saya sejenak berkeliling Labuan Bajo. Kapal ini kira-kira berbobot 50 ton, dan dirancang untuk menembus lautan luas. Kapal sejenis inilah yang digunakan juga untuk melayari rute sailing Flores menuju Lombok dan Bali dan sebaliknya. Satu keluarga Belanda dan empat orang wanita dan seorang pria menemani perjalanan singkat saya saat itu. Kapal pun meluncur meninggalkan pelabuhan, mengambil jalur ke baratlaut sejenak. Tampak sekilas di kejauhan pulau Seraya yang terkenal itu, berdiri dengan puncaknya yang tenggelam di antara jejeran bukit-bukit lain di ujung barat atas daratan Flores. Selepas dari gugusan pulau di hadapan Labuan Bajo, kami segera meluncur dengan kecepatan sedang ke selatan. Di hadapan, tampak selalu mengikuti di haluan puncak bukit Pulau Rinca dengan bentuknya yang khas. tidak seperti perbukitan lain yang berwarna creamy akibat rumput yang meranggas, puncak ini berwarna hitam legam di bagian utara lerengnya. Tidak diragukan lagi,  warna tersebut berasal dari rerumputan gunung yang terbakar yang sebelumnya sempat saya saksikan dari Pantai Pedhe.

Hampir satu jam berlayar, kami pun tiba di Pulau Kelor. Pulau kecil tak berpenghuni ini sebenarnya hanya “sepelemparan batu” dari Labuan Bajo. Pulau yang benar-benar indah, hamparan pasir putihnya memanjang lembut membentengi bukit kecil di tengahnya. “Mas, ayo terjun!”, begitu Aris menantangku. Segera saya raih snorkel dan segera menceburkan diri ke perairan biru kehijauan nan jernih yang menyegarkan. Snorkel terpasang dan saya pun menjauhkan diri dari perahu. Lima puluh meter dari perahu, saya terbelalak oleh keindahan bawah laut yang hanya berada di ujung kaki. Gerombolan ikan berwarna-warni berseliweran di sela-sela karang yang juga tidak kalah indahnya. Saya tidak pernah hapal jenis-jenis ikan laut yang indah-indah itu, namun satu yang sangat saya tahu, dua ekor clown fish lewat gemulai dengan anggunnya diliuk gelombang laut namun serta-merta menghilang dengan gesitnya. Saking asyiknya terbuai pemandangan bawah air , saya terantuk ke sebilah bambu yang lumayan besar.  Rupanya, pantai ini juga dijadikan tempat pencarian ikan oleh nelayan setempat seperti dari desa Papagaran di utara ataupun dari desa Rinca di selatan. Bambu panjang berbentuk persegi ini diikat dengan jaring halus yang salah satu ujungnya terbuka. Cara kerjanya persis dengan bubu raksasa, saat pasang ikan akan berenang masuk dan selanjutnya akan terperangkap tidak bisa keluar. Namun, saya juga menyaksikan hebatnya akal para nelayan di sini. Tidak mesti tergantung naiknya air, tampak seorang nelayan menggunakan kacamata renang buatan sendiri mengitari jaring bambu. Ternyata, sang nelayan tersebut berenang menguber-uber segerombolan ikan dan dengan sengaja mengarahkan larinya mereka ke mulut jaring. Jangan tanya betapa susahnya hal itu dilakukan, bayangkan saja, anda harus mempunyai stamina yang sangat kuat agar dapat berenang belak-belok mengimbangi kecepatan ikan-ikan tersebut. Jerih payahnya tidak sia-sia, sambil mengangkut seikat ikan-ikan seukuran lengan, dia meninggalkan pantai Kelor dengan sampan dayungnya.   Setelahnya, saya pun menghabiskan siang itu dengan makan siang di atas kapal sambil menikmati pemandangan menakjubkan bumi Flores yang tersaji di depan mata.

Where to Stay :

Hotel Gardenia (Jl. Soekarno – 0385-41258) cukup disukai wisatawan karena bentuknya unik, cukup teduh dan menawarkan pemandangan dari hotel yang menarik. Jika ingin menikmati privasi, anda dapat mencoba hotel bintang empat Bintang Flores (Pantai Pedhe – 0385-42000).

What to Do :

Labuan Bajo adalah kota kecil, mengelilingi kota dapat dtempuh hanya dalam waktu 20 menit dengan ojek. Namun, Labuan Bajo adalah gerbang menuju surga Flores. Di sekitarnya, banyak resort yang menggoda, seperti resort Seraya, Puri Komodo ataupun sekedar snorkeling di Pulau Kelor ataupun berperahu di teluknya yang tenang. Jika ingin melihat komodo di habitat aslinya, anda dapat menuju pulau Rinca yang hanya berjarak satu jam perjalanan laut. Meneruskan perjalanan ke barat, anda akan mendapati lebih banyak lagi lokasi wisata alam yang begitu indahnya seperti pulau Kalong, Komodo, Gili Laba, pantai Merah dan lain sebagainya. Jika masih terasa kurang, anda dapat berlayar terus ke barat melewati Sangiang, melihat anggunnya Rinjani dan indahnya pulau Satonda di NTB. Menuju timur Labuan Bajo, anda akan dapat menemukan kehidupan tradisional masyarakat Manggarai, Sawah Laba-Laba dan bahkan Danau Kelimutu yang terkenal itu.

Untuk dalam kota, anda cukup menggunakan ojek dengan tarif 3.000 rupiah. Untuk tempat lain, anda dapat menyewa perahu dengan sistem cost share, jadi semakin banyak anggota rombongan anda maka akan murah. Di saat peak season seperti Juli-Agustus, harga sewa akan naik. Ada baiknya juga jika mengunjungi Labuan Bajo di bulan itu, booking-lah dahulu hotel untuk anda karena tingkat hunian pasti tinggi sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: