Candi Cetho dan Sukuh

Versi edit telah diterbitkan di Majalah Sekar April 2009

 Oleh : R. Heru Hendarto

Jenuh dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari, sudah lama aku dan istriku berniat “escape” dengan berwisata ke daerah. Kebetulan sekali, kami berdua dapat meluangkan waktu saat libur menyambut Hari Raya Imlek kemarin. Kami ingin mencari suasana yang berbeda hingga wisata Candi Cetho dan Sukuh pun kami pilih. Selain belum begitu terkenal dibanding tempat wisata lainnya, lokasi kedua candi ini tidak begitu jauh dari rumah kami di Yogyakarta. Setelah merundingkan budget dan gaya berwisata, kami memutuskan untuk menempuh jalur transportasi umum dan akan menikmati perjalanan dengan gaya backpacker. Untuk itu, sebagai konsekuensinya, mobil sedan butut kami pun harus diparkir di rumah, juga anak kami yang berumur 15 bulan terpaksa harus ditinggal juga. “Dedek ngalah ya sama Mama Papa, tempatnya jauh jadi sementara di rumah dulu yaaa…..” begitu rayu istriku padanya.

Sabtu pagi hari, di tengah hujan yang mengguyur Yogyakarta dari subuh hari, kami menyetop becak dan menuju stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Selanjutnya kami berdua menumpang kereta api Prambanan Ekspress atau lebih terkenal dengan nama Prameks menuju Solo. Ini adalah perjalanan pertama kami menumpang Prameks, dan ternyata sangat menyenangkan! Pemandangan indah persawahan dengan latar belakang Pegunungan Seribu Gunung Kidul sungguh sedap dipandang mata. Berkali-kali kami harus melongok ke luar jendela dan berdecak kagum menyaksikan indahnya panorama pedesaan. Suasana di dalam keretapun cukup nyaman, walau agak sedikit penuh tapi kami berdua masih mendapat tempat duduk. Empat puluh lima menit kemudian tidak terasa kami memasuki Stasiun Balapan Solo sebagai tempat start kami menuju lokasi menggunakan bis.

Tiba di lokasi, hujan deras mengguyur sehingga kami terpaksa berteduh di sebuah warung kecil pinggir jalan. Mie rebus, teh hangat khas Jawa dan gorengan menemani kami melewati guyuran hujan di luar. Kami pun bercakap-cakap dengan pengunjung lainnya. Dari situ kami tahu bahwa di daerah itu selain kedua candi, terdapat tiga tempat wisata lain yang juga cukup menarik yaitu kebuh teh Kemuning, air terjun Parang Ijo dan Jumog. Kelima tempat wisata semuanya terletak terpencar dan memerlukan sarana ojek untuk menjangkaunya. Kembali kami beruntung, dikenalkan dengan Mas Tarso, tukang ojek ramah dan doyan bercerita yang siap sedia menemani kami mengunjungi tempat-tempat menarik di sana.

Setelah hujan mereda dan check in di penginapan, diantar Mas Tarso dan temannya, pukul 14.00 kamipun meluncur menuju Candi Cetho. Dari penginapan kami yang terletak di daerah Sukuh, Candi Cetho ditempuh selama kurang-lebih 20 menit. Sepanjang perjalanan sungguh menawan, rumah-rumah penduduk yang bersih dan asri menemani kami begitu turun dari penginapan. Selanjutnya setelah melewati perkampungan pinggir jalan, kami melewati kebuh teh Kemuning yang seudah ada sejak tahun 1960-an. Istriku sudah buru-buru melotot ke arahku sebagai pertanda dia ingin singgah sebentar ke situ, namun aku memberi kode untuk melanjutkan perjalanan. Saat itu kabut sudah mulai turun sehingga kami harus cepat-cepat tiba di tujuan terjauh, Candi Cetho. Menurut receptionist hotel, jika sore hari tiba kabut sudah banyak sehingga di Cetho kami tidak akan bisa menyaksikan apa-apa.

Betul juga, tiba di Cetho kabut sudah mulai turun dari lereng Gunung Lawu melingkupi sebagian candi. Kami turun dari motor dan melangkahkan kaki ke gerbang candi. Di sini, kami takjub sekali menyaksikan pemandangan yang belum pernah kami saksikan sebelumnya. Sudah banyak candi yang kami datangi, namun saat itu hanya candi inilah yang memancarkan kesan mistis yang kuat. Bagaimana tidak, tampak atap-atap candi dengan punden berundaknya berjejer ke arah atas. Jalan masuk berupa gerbang – gerbang batu dan tangga yang melintaskan kita melewati 13 terasnya. Agak merinding juga saat kami memasuki gerbang candi berketinggian 1460 m dpl yang diselimuti  kabut tebal diiringi aroma dupa yang menyengat, seolah-olah sedang kami sedang memasuki kerajaan di langit.

Candi Cetho dibangun pada abad XV, zaman kerajaan Majapahit akhir. Yang menjadi tanda tanya adalah arsitektur candi yang seperti punden berundak. Tipe candi seperti ini tidak terdapat di candi-candi lain di Jawa kecuali di Candi Sukuh saja. Belum lagi arca-arca yang ditampilkan memiliki ciri-ciri bentuk arca Prasejarah yang tampak dari posisi tangan dan penampilannya. Candi ini juga masih digunakan sebagai Pura, sehingga memasuki candi ini kita harus menghormati dan menaati beberapa peraturan yang terpampang di gerbang. Di saat kami menaiki teras kedua dan memperhatikan relief batu di atas tanah yang menggambarkan kesuburan, kami dikagetkan dengan kedatangan dua orang peziarah yang bersembahyang di situ. Mereka menaiki tangga satu-persatu sambil meletakkan dupa dan melakukan ritual keagamaan hingga ke atas candi. Kami terus menaiki tanggan dan menyaksikan di kanan-kiri banyak terdapat pelataran beratap yang masih dijaga keasliannya hingga kini. Hampir di atas,  kami menemui gerbang akhir yang tertutup pintu besi. Kami pun berhenti di situ dan mengabadikan beberapa arca dan ruangan tertutup yang dipenuhi dengan dupa. Sepertinya para pengunjung yang berziarah melakukan ritual akhirnya di tempat ini.

Meninggalkan Cetho, kami menuju kebuh teh yang sempat terlewatkan. Kami memasuki jalan batu menuju spot yang menarik untuk menyaksikan panorama sekitar. Dari tempat ini, kami semua bisa menyaksikan di kejauhan kota Karangpandang dan Solo di antara kabut yang menggantung. Di arah sebaliknya, kami juga dapat menyaksikan kompleks Candi Cetho yang berada di ketinggian di antara kabut yang melintas. Pemandangan saat itu sungguh mengasyikkan, belum lagi segarnya udara yang kami hirup yang seolah-olah membebaskan kami sementara dari beban pekerjaan.  Kebuh teh ini cukup tertata rapi, di dalamnya terdapat tempat pelengkap wisata berupa rumah makan dan outbound site yang sangat cocok sebagai tempat wisata keluarga. Bahkan, di tengah-tengah kebun terdapat Padepokan Segara Alam yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin mencari “ketenangan jiwa”.

Hari sudah menjelang gelap sehingga kami pun memutuskan untuk mengunjungi tempat terakhir sore itu, Parang Ijo. Parang Ijo terletak di tengah-tengah jalan menuju Cetho dan Sukuh, berupa air terjun yang memiliki ketinggian kurang-lebih 40 m. Airnya yang jernih mengalir menuju ke hilir dengan arus yang tenang. Saat tiba di sana pukul 16.45, pintu masuk sudah ditutup sehingga kami memutar memasuki lokasi dari pintu keluar. Wisata air terjun ini cocok bagi keluarga, di dalamnya terdapat kolam renang, pondok-pondok peristirahatan, gardu pandang dan berbagai macam makanan. “Mas, mas, lihat ini deh!” teriak istriku sambil tertawa. Penasaran, aku pun mendekati dan ikut-ikutan tersenyum. Yang kami lihat adalah sebuah plang warung makan, namun yang menarik adalah dari sekian belas menu yang ada, masing-masing dirujuk ke nama pembuat yang berbeda jadi seolah-olah masing-masing hidangan di sana sudah menjad hak patennya masing-masing orang. Misal, hidangan Sate Kelinci : Pak Gun, Es Buah : Pak Parmin, Sate Kelinci : Pak Gimo dan seterusnya. “Hmm, akur juga pedagang di sini rupanya”, fikirku.

Gerimis kembali datang sehingga sebelum maghrib kami meninggalkan Parang Ijo. Malam harinya kami beristirahat di sebuah penginapan yang lumayan baik. Terletak di sekitar Candi Sukuh dengan ketinggian 1110 m dpl. Kami disuguhi pemandangan yang elok di sisi barat, berturut-turut Karangpandan, Palur dan Solo dengan kerlap-kerlip lampunya yang ramai dan indah. Tidak luput pula sebuah mesjid dengan arsitektur menawan tampak di kejauhan sisi kiri. Mesjid itu terletak di jalur menuju makam mendiang presiden kita di Astana Giri Bangun. Mandi air hangat, makan malam, menonton TV dan mendiskusikan kegiatan esoknya adalah aktivitas malam itu, selanjutnya  kami pun terlelap kelelahan.

Pagi-pagi sekali, kami berdua sudah melangkahkan kami menuju Jumog. Air terjun ini terletak hanya sekitar 1,5 km dari penginapan. Kami sengaja memilih jalur melalui jalanan Desa Berjo yang sebagian besar tersusun atas batu-batu hasil swadaya masyarakat. Pagi itu kami kembali terpesona, ibu-ibu dengan kompaknya turun ke jalan dan bersama-sama menyapu jalanan desa yang memang sudah bersih. Sambil bersenda-gurau, mereka menyapa kami dengan keakraban khas Jawa. Sungguh, sudah lama kami tidak mengalami hal seperti ini lagi yang jarang sekali bisa ditemui di kota besar. Rumah-rumah mereka sederhana tetapi bersih, tembok jalanan penuh ditumbuhi sejenis lumut yang malahan menambah keeksotisan desa itu.

Tiba di Jumog, kami semakin terpesona. Sungguh air terjun ini benar-benar indah dan mengasyikkan. Airnya yang jatuh dari ketinggian kurang-lebih 50 m, memecah di dasar dan kemudian kembali mengalir dengan derasnya di antara bongkah-bongkah bebatuan andesit. Suasana sekitar juga sangat rindang, pepohonan yang menghijau serta lahan yang bersih membuat kami betah berlama-lama di sini. Beberapa kali aku harus pindah spot mencari angle pemotretan yang baik dan hasilnya memang tidak mengecewakan.

Selanjutnya kami melangkahkan kami ke tujuan terakhir, Candi Sukuh. Perjalanan sejauh 2 km kami lalui dengan perlahan mengingat medannya yang menanjak. Dua kali kami berhenti untuk beristirahat dan akhirnya tiba di pintu masuk candi. Sekilas, candi yang juga memiliki bentuk punden berundak ini tampak lebih asri dibanding dengan Cetho. Rumput yang terawat, tanaman yang menghiasi sekeliling kebun cukup sejuk dipandang. Memang, aura mistis candi ini kurang terasa jika dibandingkan dengan Cetho namun kehadiran sesajen dan dupa di beberapa tempat cukup mengukuhkan keberadaan candi ini sebagai tempat sakral. Di gerbang paling barat candi Hindu yang didirikan bersamaan dengan Candi Cetho ini terdapat relief phallus-vagina yang melekat di tanah, yang melambangkan kesuburan. Naik ke halaman candi menuju teras III, di beberapa tempat kita akan menemukan tiga arca kura-kura di pintu masuk candi utama, relief Sudamala dan Garudeya serta beberapa arca dengan bentuk yang unik. Di bagian utara malah terdapat sebuah arca yang menggambarkan tubuh lelaki lengkap dengan anatominya. Namun sayang, sebagian besar arca sudah kehilangan bagian kepalanya akibat ulah pencuri benda-benda purbakala. Menurut sejarah yang terpampang, candi ini sebenarnya diperuntukkan untuk ritual pelepasan ataupun peruwatan sesuai dengan hikayat cerita Sudamala dan Garudeya. Seperti halnya Cetho, Candi Sukuh jug amenghadap ke barat dan pemandangan dari atasnya tidak kalah indahnya. Sekitar tiga puluh menit kami menghabiskan waktu menikmati keindahan Sukuh, dan setelah mengambil foto dari atas candi kami pun segera kembali ke penginapan dan menyelesaikan perjalanan dengan kembali ke Yogyakarta.

Getting There :

Dari Solo, tempat wisata ini dapat dijangkau dengan mengambil jurusan ke arah Tawangmangu, kemudian setelah melewati terminal Karangpandang mengambil jalur ke kiri sesuai dengan penunjuk jalan yang terpampang. Arah Candi Sukuh dan Jumog adalah dari pertigaan Nglorok ke atas sedangkan arah tempat wisata lainnya adalah menuju Kemuning (pertigaan Nglorok ke kiri).

Jika mengambil jalur transportasi umum, dari Terminal Tirtonadi Solo mengambil bis ke Tawangmangu, turun di Karangpandan. Dilanjutkan dengan bis ¾ Karangpandang-Kemuning. Jika hendak menuju Sukuh turun di Nglorok ataupun meneruskan perjalanan ke Kemuning jika hendak mengunjungi Cetho. Perjalanan dianjurkan dengan ojek. Alternatif lain adalah menumpang ojek langsung dari Karangpandan.

Where to Stay :

Banyak losmen dan homestay di kota ini dengan rate murah, namun yang cukup layak dan pas untuk wisata keluarga adalah Sukuh Cottage (02717024587, 081548377787). Cottage-nya unik, pelayanannya ramah serta pemandangannya indah.

Tips :

Medan perjalanan menuju tempat ini sedikit berat, penuh dengan tanjakan terjal dan belokan curam. Gunakan kendaraan yang dalam kondisi baik dan layak. Jika hendak menggunakan kendaraan umum, bawalah barang bawaan seperlunya saja untuk mengurangi beban.

Tidak ada oleh-oleh khas di daerah ini selain sayur-mayur yang melimpah. Jika berminat membeli oleh-oleh anda dapat mencari di kota Solo, yaitu Serabi Notosuman di daerah Notosuman.

4 Responses to “Candi Cetho dan Sukuh”

  1. Bener mas, saya orang solo asli dan saya pernah ke cetho 2 kali. Foto-foto ternyata hasilnya ada 1 foto yang isinya agak menyeramkan. Penampakan mas… Memang suasana di candi cetho benar2 mistis.

  2. memang mantap air terjun yang satu ini, jadi pengen kesana sayang g ada temannya….
    kunjungi webku juga ya gan http://www.wisatapanorama.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: