Si Pocong, Kunti dan Mbok Tua

Entah kenapa, makhluk halus terkutuk itu seolah-olah selalu membayangi saya dan teman-teman kemana pun kami pergi. Tidak cukup dengan menakuti satu orang, sering kali mereka melakukan gangguan teror menyeramkan ke beberapa orang sekaligus. Mungkin sedang kejar tayang memenuhi target kali ya, atau mungkin di antara mereka, bagi yang paling banyak meneror manusia akan disegani oleh setan lainnya dan dianugerahi gelar kehormatan ‘setan preman’.

Saat itu kami sedang melakukan kegiatan Kuliah Lapangan yang biasa kami singkat dengan KL. KL ini adalah kegiatan kuliah wajib yang harus diambil sebagai syarat mahasiswa untuk dapat melakukan Tugas Akhir dan KKN. Bertempat di sebuah Kampus Lapangan Geologi di Bayat-Klaten, kami menghabiskan waktu sekitar 6 hari untuk mempelajari teknik-teknik pemetaan geologi yang baik dan benar. Setelah itu kami akan dilepas untuk menjalankan pemetaan geologi mandiri seluas 20 km2 di daerah yang sudah ditentukan sebelumnya secara peorangan. Hari-hari di Kampus Lapangan Geologi bisa dibilang hari-hari penyiksaan yang tidak kalah mengerikan bila dibandingkan dengan Pengenalan Geologi Lapangan (beruntung kami sudah sukses di-godok oleh PGL). Bedanya, Kuliah Lapangan bersifat lebih intelek, maksudnya lebih menyiksa kami dari sisi keilmuan walaupun yang namanya beban fisik karena mesti kembali naik-turun bukit setiap hari adalah konsumsi wajib. Selain deraan fisik dan mental, ada sesuatu lain yang juga sangat kami khawatirkan; gangguan setan dan makhluk halus sebangsanya. Kampus Lapangan ini memang sedari dulu terkenal dengan keangkerannya, terbukti dengan bejibun-nya penampakan di sini setiap tahunnya. Tidak hanya anak-anak geologi yang mengalaminya, mahasiswa jurusan Geofisika, Geografi, Sipil, Biologi, Arkeologi dan berbagai jurusan dari berbagai universitas lain yang menginap di sini pun memperoleh gangguan yang sama. Berbagai dukun dari berbagai daerah dan memiliki berbagai tingkat kesaktian hewes-hewes pun tidak ada yang berhasil mengusir keberadaan makhluk-makhluk ini sampai sekarang. Karena itu, sudah jamak di saat rombongan baru mahasiswa kampus lapangan tiba, secepat kilat begitu turun dari bis mereka akan berebutan berlari ke barak mencari tempat tidur yang berlokasi di bawah, atau malahan berharap masih dapat tempat di pojok (karena kalo ada apa-apa bisa putar menghadap ke tembok sambil tutup mata tutup telinga, he). Posisi-posisi yang ‘menantang bahaya’ seperti tempat tidur di tingkat atas atau pinggir dekat ventilasi udara ke WC belakang selalu dihindari (walaupun mau tidak mau lokasi itu harus ditempati oleh peserta yang paling sial, yang kebagian tempat paling akhir). Bukan apa-apa, bagi yang menempati tempat di atas, konon menurut cerita senior, sering kali lewat potongan tangan ataupun kepala yang melayang nyelonong begitu saja tanpa permisi. Karena banyak dibekali cerita horor itu lah, saat kami mengerjakan tugas beramai-ramai di ruang makan tidak akan ada seorang pun yang berani balik sendirian walau sekedar mengambil alat tulis yang tertinggal di barak, padahal waktu masih menunjukkan pukul 8 malam dengan barak yang hanya berjarak 30 meter saja!

Kurang ajarnya, makhluk-makhluk halus ini tidak pernah mengganggu di saat tubuh dan pikiran kami masih fit. Jadi, setelah lelah mendera tubuh karena setiap hari berjalan kaki naik-turun bukit dan malam harinya di-recokin dengan laporan dan tugas hingga pukul satu dini hari, barulah para makhluk gentayangan itu beraksi. Saya ingat betul bahwa bahwa malam itu adalah malam ketiga ketika kami yang sudah mulai kelelahan fisik ini merasa heran. “Kok sampai malam ketiga gini belum ada yang mengganggu ya?”, demikian kata teman-teman. Mulai lah jahil-nya para mahasiswa geologi kumat. Si Ardin, mengikat sebuah selimut di bagian ujungnya (selimut kami saat itu persis seperti selimut khas rumah sakit; tipis, putih bergaris abu-abu) lalu dengan santainya dikenakan di kepala menutupi seluruh tubuh dan langsung mengendap-endap ke WC belakang. Oh ya, tempat paling seram di sini adalah WC belakang barak C dan D dimana di situ terletak beberapa cermin yang berukuran gede. Seringkali, saat kita bercermin itulah muncul bayangan hantu yang menyeringai. Jadi, yang namanya bercermin malam hari adalah hal yang pantang bagi kami, kecuali jika kepepet perlu saja. Itu pun hanya sekian detik saja kami merapikan rambut, set set set… selesai. Tidak ada satu pun yang berani misalnya memencet jerawat atau mengatur gaya rambut dengan pomade berlama-lama di depan cermin. Ardin lalu berjingkat-jingkat mendekati Husen yang sedang asyik bercermin, mengendap-endap dan bwaaa…!!!, teriakan Husen mengagetkan kami semua dari barak A hingga D. Sadar bahwa pocong itu hanya si Ardin yang menyaru, Husen berang dan dikejar lah pocong jejadian itu yang segera lari menyelamatkan diri. Riuh-rendah tawa berderai mulai dari barak ujung ke ujung, dan sementara waktu lupa lah kami akan ketakutan gangguan hantu di kampus ini. Eits, nanti dulu, ternyata ini adalah awal mula datangnya gangguan beruntun dari serombongan makhluk halus ke angkatan kami. Malam itu Husen yang menempati tempat tidur di tingkat atas, tepat di seberang tempat tidur Ardin, terbangun. Masih terbuai akan rasa kantuk yang mendera, dia seolah-olah melihat selimut yang dikenakan Ardin sebelumnya sudah tergantung di dinding. Dalam posisi berdiri dengan ikatan di atas, Husen menyangka ada yang iseng menyangkutkan selimut itu di paku dinding sehingga dia pun melanjutkan tidurnya. Pagi harinya, Ardin terbangun dan merasa kaget karena selimut yang dia gunakan sudah berbalik arah. Ikatan pocongan yang dia kenakan di bagian kaki, sudah berubah posisi pindah ke bagian kepalanya. Menyangka dia sendiri yang memindahkan posisi selimut dalam kondisi mengantuk, Ardin pun tidak banyak bertanya-tanya.

Hari berlalu dengan cepatnya ketika sore itu kami tiba kembali di kampus lapangan. Selesai makan malam dan sholat Isya, kami kembali disibukkan dengan tugas-tugas laporan yang berhamburan. Denting mesin ketik pun membahana di seluruh ruangan makan. Sebagian rekan masih berkumpul di depan barak A putra yang bersebelahan dengan barak khusus putri. Tiba-tiba rekan kami si Ina nyeletuk : “Eh, pada nyium bau wangi ga?”. Spontan teman-teman yang ada di situ pun pada memonyongkan mulutnya sambil penasaran mengendus-endus bau yang ada. Benar juga sih, saat itu memang santer tercium bau wangi mirip-mirip pandan. Sadar bahwa bau pandan itu mungkin berasal dari dapur yang sedang menyiapkan makan pagi buat esok hari, kami pun tidak meneruskan pembicaraan. Malam berlalu dengan damai dan kami tidur begitu lelapnya sampai baru tersadar esok paginya.

Matahari pagi bersinar lembut dengan hangatnya diiringi lantunan asyik Sometimes-nya Britney Spears dari tivi ruangan saat kami menyadari bahwa sarapan pagi saat itu sama sekali tidak ada yang menggunakan bumbu pandan sebagai pewangi. Terlebih lagi, saat kami menanyakan ke ibu koki, dengan penuh yakin si ibu berkata bahwa tidak ada satupun yang memasak malam itu karena persiapan sarapan dan bungkus untuk makan siang selalu dimulai pukul tiga subuh. Saat itu pula si Agung, demikian kami memanggil rekan kami satu itu, sudah semalaman sakit dan hari itu diputuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit terdekat di Klaten. Tubuhnya menggigil demam, panas namun merasa kedinginan. Dengan kondisi tubuh yang lemah, dia pun dibawa dengan mobil jurusan untuk berobat. Kami pun lalu berangkat ke lapangan seperti biasa di pagi itu. Sedikit merinding dengan bau wangi yang tak berasal-usul itu, kami baru menyadari bahwa Elly yang terkenal sebagai tukang omong, saat itu total sama sekali berubah menjadi pendiam. Oh ya, khusus untuknya, saya memanggil dia dengan sebutan warig, istilah kata dalam bahasa Banjar yang berarti monyet. Demikian pula panggilan dia ke saya, hanya sebagai bentuk rasa solider sesama mahasiswa yang berasal dari tanah Kalimantan. ‘Radio rusak’, adalah julukan teman seangkatan yang diberikan ke teman satu ini, sekedar untuk menggambarkan betapa sangat-sangat cerewetnya dia. Tidak peduli suasana apa pun, selalu saja mulutnya melontarkan pembicaraan yang kadang tak jelas juntrung-nya, ataupun misuh-misuh tidak sopan. “Tumben kamu diam banget pagi ini El”, sapaku ramah. Saya tidak meneruskan pembicaraan karena dia hanya melengos diam dan meneruskan berjalan dengan regunya. Mungkin lagi bete, kecapekan, begitu pikir saya. Baru malam harinya saya tahu cerita di balik diamnya Elly itu. Siang harinya saat istirahat makan siang di puncak Pendul, si Salman, yang notabene adalah teman seregunya mencoba merayu Elly untuk menceritakan apa sih masalahnya. Lama dirayu, berceritalah si Elly dengan nada pelan, bahwa malam sebelumnya dia tidur dengan nyenyaknya karena kelelahan. Tahu-tahu, dia yang tidur dengan posisi miring, terbangun dan merasa dicolek-colek bahunya. Dia pun spontan membalikkan badannya dan jreeeennnggg…..!!, tampak jelas wajah hantu pocong yang sedang menyeringai di pinggir tempat tidurnya. Pemandangan itu berlangsung beberapa saat, dan tentu saja Elly tidak bisa berkata apa-apa. Jangankan berkata-kata, mencoba untuk berteriak membangunkan teman di sebelah juga tidak bisa karena lidah kelu tidak karuan. Siksaan itu berakhir di saat dia kembali jatuh terlelap, entah tidur entah pingsan, dan baru tersadarkan diri esok paginya!

Tambah seru saja suasana malam itu ketika kami mengetahui bahwa ternyata Najef pun mengalamai hal yang serupa. Hanya bedanya, Najef yang lahir dan besar di desa terpencil di Muntilan ini tidak begitu terpengaruh akan godaan itu. Mungkin Najef sudah biasa menghadapi hal-hal mistis begitu di kampungnya sehingga melihat rupa si pocong menyeringai, dia hanya melengos dan kembali membalikkan badannya seperti semula untuk kembali terlelap meneruskan tidurnya. Berbagai cerita seram pun bertebaran dari berbagai rekan yang lain sehingga suasana tambah mencekam. Bahkan, di saat matahari sudah muncul pun kami masih dicekam ketakutan. Pukul 06.00 pagi hari, dan tidak ada satu pun yang berani menunaikan sholat dhuha di musholla belakang. Gara-garanya beberapa kali teman yang sholat sendirian di situ memperoleh makmum ghaib, yang ikut dengan lantangnya mengamini bacaan Fatihah kita namun hanya tampak punggungnya saat imam sujud. Salah satu cerita paling seru adalah saat rekan kami yang cukup ‘gemulai’, Rafi, berjalan ke belakang barak D untuk mengambil wudhu dalam rangka menunaikan sholat Isya. Saat itu sekitar pukul satu dinihari, dan Rafi yang baru saja menyelesaikan tugas lapangan malam itu beranjak ke WC belakang untuk mengambil wudhu. Bangunan di belakang tiap barak berbentuk letter U, dengan kamar mandi dan WC di sekeliling dan tempat pancuran air untuk wudhu dan mencuci di berada tengah. Rekan-rekan lain sudah pada tertidur lelap saat Rafi melangkahkan kakinya dari sisi kiri dan sudah terlanjur melihat seorang wanita berpakaian putih berada di dalam WC di sisi ujung kanan. Berlagak berani dan memegang prinsip ‘beda dunia beda kepentingan dan tidak saling mengganggu’, dia meneruskan langkah ke tempat wudhu tanpa menoleh lagi ke arah WC itu. Saat membasuh hidung dan muka, angin dingin serta-merta menerpa tengkuk dan dari kejauhan Rafi melihat wanita tadi melayang rendah mendekatinya. Posisi terakhir hantu berbaju putih itu adalah benar-benar di sisi kanannya persis, hanya berdiri tegak mematung tanpa bersuara! Rafi hanya bisa meneruskan wudhu sambil bergidik ngeri. Memang sih dia tidak dapat menyaksikan wajah seram empunya setan itu karena posisinya sengaja dibuat terus membungkuk. “Tapi aku liat jari-jarinya setan itu, sudah kurus hanya kulit berbalut tulang, warnanya hitam lagi dengan kuku yang panjang dan runcing-runcing!”, ceritanya dengan penuh semangat. “Trus kamu ngapain Fi?”, sambungku penasaran. “Aku tetap saja nerusin wudhu, sambil terus mbungkuk biar ga liat wajahnya. Begitu selesai, aku langsung ngeloyor balik kiri sambil ngucapin salam, beres kan?”, imbuhnya kocak.

Serangkaian acara Kuliah Lapangan angkatan kami pun akhirnya selesai dan kembali ke kampus untuk segera bersiap-siap melakukan pemetaan mandiri ke berbagai daerah yang sudah ditentukan lewat undian sebelumnya. Cerita seram masih saja membayangi kami akan sangar-nya Kampus Lapangan Geologi itu. Terlebih, saat sudah berada di kampus, si Agung yang saat itu sakit dan dilarikan ke dokter dan divonis dehidrasi berkata : ”Dehidrasi apaan, lah aku malam itu dibangunkan dan ditarik-tarik bahuku kayak mau dijatuhkan ke lantai dari tempat tidur sama tangan yang sama sekali nggak kelihatan. Aku setengah mati ngelawan supaya tidak jatuh, eh malahan jadinya demam !”. Hiiiiiii…….., ampun deh.

Usai Kuliah Lapangan, hanya selang seminggu kemudian masa pemetaan mandiri pun tiba. Tiap anak diberi tugas untuk melakukan pemetaan mandiri dengan area seluas kurang-lebih 20 km2. Daerahnya saat itu terhampar memanjang dari Parangtritis hingga Wonogiri, terbagi melalui undian tentu saja. Yang memperoleh lokasi di Parangtritis tentu saja lebih enak, karena bisa nglaju dari Yogya. Sementara yang berlokasi di Klaten hingga lebih jauh ke timur, tentu saja harus membuat camp sementara di rumah penduduk. Kelompok saya beranggotakan saya sendiri, Erwin, Anugrah, Riza dan Yanu. Kami berlima, kebetulan saja mendapat lokasi di sekitar Bayat lagi sehingga kami memutuskan untuk nge-camp di rumah Pak Surat, sekretaris desa baik nan ramah yang rumahnya berlokasi di dekat Pesarean Sunan Bayat di lereng Gunung Jabalkat yang terkenal super mistis. Lokasi para peserta seregu memang dibuat berdekatan oleh para dosen (walaupun kategori dekat di sini adalah jarak 4 kilometer), petak peta yang harus dijelajahi rata-rata memiliki daerah overlap sekitar 20%-nya dari peta teman seregu. Dari sini, strategi pemetaan mandiri efektif pun kami atur. Biasanya, kami melakukan pemetaan geologi dengan jalan berbarengan di daerah yang overlap tersebut untuk pemanasan dan menyamakan persepsi, setelah selesai baru kami memisahkan diri. Ada juga yang mengambil cara lain, menyelesaikan satu lokasi secara berbarengan dan kemudian kembali keroyokan menyelesaikan pemetaan di lokasi teman satunya. Cara ini biasanya kami ambil jika mempunyai rekan seregu wanita yang tentu agak riskan bila dibiarkan berjalan sendirian di hutan. Sebagian lain, terutama cowok-cowok pemberani, memilih solo mapping menyelesaikan sendiri daerah pemetaan sebagai kewajibannya. Tentu saja saat ke lokasi, selalu kami sempatkan untuk melewati jalur favorit di pinggiran sungai waktu pagi saat berangkat dan sore hari saat hendak kembali. Apa lagi tujuannya jika bukan hendak menikmati pemandangan indah dari gadis-gadis desa yang sedang mandi di pinggir sungai. Jaman saya dahulu itu, jika bertemu atau berpapasan dengan gadis desa yang manis-manis, biasanya saat kita goda mereka akan tersenyum tertunduk malu. Jika mereka berjalan berdua atau bertiga, tak jarang mereka tertawa kecil sambil saling mencubit pinggang satu sama lain. Pokoknya rasanya indah dan damai gimanaaa begitu, susah untuk dilukiskan dengan kata-kata. Kalau jaman sekarang, ketemu gadis desa dan kita godain, pasti mereka akan balas goda dengan gaya super genit. Atau malahan, lebih parah lagi, kita duluan yang digoda mereka. Maklumlah, pengaruh sinetron-sinetron cengeng tak bermutu di televisi sudah merambah hingga ke pelosok-pelosok desa.

Namanya undian sering kali memang terasa tidak adil; shit happens, mengutip kata Rick Allen, drummer Def Leppard saat kehilangan tangan kirinya. Yang kebagian medan pemetaannya ringan dan banyak terdapat rumah penduduk tentu saja sangat beruntung. Apalagi dapat komposisi litologi serta struktur geologi yang sederhana, tentu lebih bersyukur lagi. Lain ceritanya jika petak peta anda berlokasi di medan berbukit tanpa akses jalan setapak dan hanya ada satu kampung, itu pun di pinggir peta. Lokasi saya sendiri terbilang sedang, secara litologi dan struktur tidak berat tapi di pojok kiri peta terdapat sebuah puncak dari bukit Batur Agung yang memiliki tinggi 700 m di atas permukaan laut. Untuk menyajikan peta lintasan yang baik, saya harus kembali menuju bukit itu untuk kedua kalinya setelah sebelumnya saat kuliah Geomorfologi-KL kami memerlukan waktu 4 jam lebih trekking lereng 650 hanya untuk mencapai puncaknya!

Sepeda motor saat itu hanya ada dua buah, sehingga saya yang membawa motor harus mengantar rekan lain dahulu baru selanjutnya menuju lokasi saya. Pulangnya sesuai kesepakatan, biasanya janjian untuk menunggu di pos kamling pinggir jalan pada jam tertentu. Bila jam yang disepakati tidak muncul berarti dianggap pulang sendiri dengan bis atau angkudes atau ojek, dan jika sedang beruntung bisa menumpang gratis truk sapi yang banyak hilir-mudik. Handphone adalah barang mewah bagi mahasiswa saat itu dan dalam angkatan kami hanya tiga orang saja yang memilikinya, jadi komunikasi sangatlah terbatas. Saat-saat menegangkan bagi kami adalah bila menjelang malam salah satu rekan belum muncul. Dipastikan yang ada di benak kami pasti lah hambatan tak terduga yang terjadi di lapangan, mulai dari yang paling seram seperti kecelakaan jatuh di bukit, tersasar di hutan hingga yang paling ringan seperti kehabisan angkutan sehingga harus berjalan kaki pulang. Namun, mau alasan apa pun, tetap saja kami harus segera pergi mencari. Yang paling membuat kami dongkol adalah saat si Riza terlambat pulang hingga tiba di camp pukul 18.30 malam. Kami yang sudah cemas dan akan menyusun rencana pencarian, hanya bisa memendam dendam. Ternyata Riza ini terlambat pulang bukan karena kelamaan pemetaan di hutan, melainkan sedari pagi sudah berada di rumah seorang nenek yang asyik mengajaknya ngobrol hingga sore hari. Tak lupa tentu saja, dia selalu disuguhi berbagai macam makanan dan cemilan khas desa yang unik dan lezat, membuat Riza malas melanjutkan pemetaan hari itu. Huh, kesal sekali kami mendengar ceritanya, sekalian saja dia nikahi cucu nenek tersebut biar tidak usah pulang beneran.

Pagi itu adalah hari ketiga kami melakukan pemetaan, dan seperti biasa saya mengantarkan dahulu Anugrah menuju ke jalanan terdekat di pinggir lokasinya. Kami pun berpisah, dan saya melakukan kegiatan hari itu tanpa ada feeling apa-apa. Saya pun kembali sore harinya mendapati Anugrah sudah duluan tiba di rumah dengan tampang tegang. “Tumben dah nyampe Nug? Pantasan tadi nggak nunggu di tempat biasa”, tanya saya sambil memarkir motor. “Gila deh, kapok dah gua!”, jawabnya dalam logat Betawi. “Nape emang?”, jawab saya ikut-ikutan latah pula. Nyerocos-lah dia bahwa hari itu dia pulang cepat karena selama perjalanan pemetaan merasa diikuti ibu-ibu tua yang aneh. “Lho, bagaimana maksudnya sih Nug?”, tanya saya bloon. Jadi tuturnya, saat saya mengantarkan dia pagi itu dengan sepeda motor, Anugrah melihat seorang mbok-mbok tua berpakaian kebaya khas Jawa berjalan memanggul bakul tertutup kain di punggungnya. Tampak sedang berjalan sambil meng-inang sirih, dia tidak memiliki perasaan aneh apapun saat itu. Saya sendiri tidak melihat ibu itu dan kami katanya hanya melintas cepat menyalip di jalanan saja. Saat dia saya tinggalkan dan mulai berjalan memasuki jalanan kampung, dia bertemu si ibu tua itu lagi. Saat itu kembali dia tidak berpikiran macam-macam karena dia pikir ibu itu penduduk setempat yang pasti hapal jalan potong di sekitar situ. Anugrah pun meneruskan berjalan dengan cepat menuju puncak sebuah bukit kecil yang terhampar di hadapannya. Siang hari dia baru selesai melakukan pemetaan dan istirahat di puncak bukit itu sambil makan siang. Sedang enak-enaknya makan, eeh tampak ibu tua itu lewat lagi di hadapannya santai tanpa ekspresi sedikit pun. Well, oke lah jika fisik ibu itu kuat karena terbiasa ditempa oleh medan terjal perbukitan dari sejak kecil sehingga nafasnya tampak tetap teratur dan tenang. Tapi, berapa sih kecepatan rata-rata seorang nenek renta saat berjalan mendaki bukit? Rata-rata kecepatan kami berjalan di medan datar adalah 5-6 kilometer per jam dan 3-4 kpj di medan berlereng sedang. Rasanya sulit membayangkan ibu setua itu dengan cepatnya dapat menyusul karena jalan setapak di bukit yang dilewati adalah jalan satu-satunya di situ.

Matahari sudah sedikit tergelincir di atas kepala ketika perasaan Anugrah menjadi sangat-sangat tidak enak (katanya sih begitu, padahal aslinya sih pasti takut ya). Bungkusan makan siang tidak dia habiskan dan sesegera mungkin meluncur turun ke bawah bukit untuk kembali karena sudah kehilangan mood pemetaan hari itu. Mengambil arah jalanan turun yang sama, Anugrah segera menyalip ibu tua itu secepat mungkin dan dalam tempo satu jam sudah tiba dan beristirahat di pinggir jalan sambil menunggu Angkudes lewat. Tidak lama dia pun sudah berada di dalam angkudes menuju camp dan sangat-sangat terkejut saat dua menit kemudian melihat ibu tua itu sedang duduk-duduk santai sambil memperhatikan dia dengan tajam di sebuah poskamling yang hanya setengah kilometer jauhnya dari lokasi Anugrah menyetop Angkudes tadi!

Moral of The Story :

Menjadi seorang geologist tidak hanya butuh fisik yang kuat, namun juga mental yang tahan banting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: