Singkawang, Kota Seribu Kelenteng

(versi edit telah diterbitkan di Majalah JalanJalan Feb 2011)

Oleh : R. Heru Hendarto

Terletak di ujung atas Kalimantan Barat, hampir separuh populasi dari kota ini dihuni oleh keturunan etnis Tionghoa, menjadikan Singkawang adalah The Real China Town sesungguhnya di negeri ini. Kota yang aslinya bernama Sau Kew Jong ini awalnya hanyalah persinggahan dari para pekerja tambang yang didatangkan dari Guang Dhong di abad 18 untuk mengerjakan tambang emas yang saat itu berlokasi di Monterado (yang konon berasal dari pelafalan lokal dari tempat sejenis di Amerika waktu itu, Mount Eldorado). Seiring waktu, kota ini berkembang menjadi kota multi etnis dengan panorama pesisir yang elok di barat Borneo.

Pantai berpasir putih bersih berbutir halus, terserak memanjang dibentengi oleh jejeran pohon nyiur memanjakan mata saya. Angin sepoi-sepoi berhembus diiringi deburan ombak cukup dapat menyalakan rasa tenang, damai di hati. Tampak kerumunan pengunjung, yang walau pun tampak sedemikian banyaknya, seolah-olah masih saja tidak dapat menutupi barisan pasir putih yang memang memiliki panjang berkilo-kilometer.  Dimulai dari selatan ke utara; Pasir Panjang Indah, Palm Beach dan berakhir di Teluk Karang ini, belum lagi terhitung beberapa pantai kecil elok tak bernama menjadikan Singkawang, sebuah kota kecil di pesisir barat Borneo, menjadi terkenal akan keindahan alam pantainya. Karakter khas lainnya yang mungkin hanya didapati di sini, di daerah Bangka-Belitung dan Kepulauan Riau adalah bongkah-bongkah besar (boulder) batuan granit yang mendekorasi pinggiran pantai dengan indahnya. Bongkah yang berukuran besar tampak seperti monumen tegak di atas putihnya pasir, sementara bongkah yang lebih kecil terserak di atas permukaan air hijau tosca layaknya kelereng yang terlantar sehabis dimainkan anak-anak sore hari. Tak aneh sebenarnya, karena basement geologi Singkawang dan dua daerah lainnya tersebut memang adalah batuan granit yang terbentuk dari bekuan magma tipe asam, dengan fisik batuan berwarna cerah dengan butir-butir mineral yang tampak oleh mata. Tekanan gaya kompresi yang berlangsung ribuan bahkan jutaan tahun meretakkan dan mengangkat granit ini ke permukaan. Lalu selanjutnya pelapukan tropis lah yang berbicara, memahat batuan masif ini menjadi bongkah-bongkah indah yang tampak eksotis di mata. Gurat-gurat tegas struktur kekar di sisi batuan menjadikannya tampak semakin kokoh walau sudah berjalan melewati waktu jutaan tahun. Di sisi sebelah timurnya, bongkahan granit menghitam yang jauh lebih besar menjulang tersulap oleh alam menjadi bukit-bukit menghijau yang tampak elok menyembul di sisi-sisi luar kota.

Ombak saat itu bergolak demikian tenangnya, sehening angin yang bertiup perlahan. Di depan, terlihat jejeran pulau-pulau mungil menghijau, seolah-olah menjadi gerbang menuju laut Tiongkok Selatan yang terletak luas nun jauh di ujung mata. Air laut sedang surut, mentari sudah naik di atas kepala, dan para nelayan pun tampak melabuhkan sampannya di pesisir.  Merah, hijau, dan biru adalah warna-warni dominan dari cat di lambung sampan mereka. Dengan bentuk yang tipikal sama, kecuali beberapa sampan besar dengan rumah juru mudi, saya cukup heran karena tidak menemukan perahu yang berukuran cukup besar yang sekiranya lebih tangguh menghadapi kuatnya hantaman ombak laut lepas. Berlunas pipih namun melebar di lambung atas, perahu ini memang tidak bercadik dan didesain agar dapat bergerak cepat dan lincah di lautan. Sebuah baling-baling yang dimotori sebuah mesin Don Feng 15 pk meyakinkan saya bahwa sampan ini hanya digunakan untuk melaut dekat pesisir saja. Beberapa lembar jaring masih tergeletak di haluan kapal, menandakan si pemiliknya belum lama pulang dari melaut. Ternyata, kapal-kapal berukuran besar rupanya dilabuhkan ke dalam, jauh memasuki sungai berair coklat khas rawa gambut dan tertambat di rumah juragan-juragannya.

Ngi ho mo?” (apa kabarnya), sapa salah seorang nelayan kepada rekannya yang baru saja melintas di pinggiran jetty beralas kayu. Percakapan selanjutnya pun sudah tidak saya pahami lagi karena bukan menggunakan kata-kata yang umum terdengar di telinga saya. Walaupun lahir dan besar di provinsi ini, saya lebih terbiasa mendengar percakapan bahasa Melayu daripada bahasa Khek (Hakka) yang digunakan oleh etnis Tionghoa di sini. Sebentar dulu, seorang nelayan Tionghoa? Tak salah memang, di Singkawang lah kita bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri begitu membaur dan beragamnya kehidupan mereka. Di sini kita bisa menyaksikan etnis Tionghoa menjadi nelayan, petani, buruh angkut, penjual es keliling, tentunya selain juga berdagang membuka toko sebagai profesi yang umumnya mereka geluti.  Namun tidak hanya dilihat dari ragam profesi tersebut, mereka pun sangat-sangat fleksibel dalam berbahasa. Sebagaimana halnya tuntutan kota multi etnis, bahasa yang digunakan pun beragam. Selain bahasa Khek, terdapat juga bahasa Dayak dan Melayu yang umum dituturkan. Sebagai bahasa pemersatu adalah bahasa Melayu Pontianak dan juga bahasa Indonesia tentunya. Walaupun namanya serupa; sama-sama bahasa Melayu, namun di sini terdapat banyak versi bahasa dan dialeknya. Misalnya bahasa Melayu Sambas yang lebih mirip penuturannya dengan bahasa yang digunakan di Bangka, pengucapannya banyak menggunakan huruf vokal ‘e’ di akhir kata seperti halnya pengucapan ‘e’ pada kata ‘sedan’. Sedangkan bahasa Melayu Pontianak lebih serupa dengan bahasa yang digunakan di daerah Kepulauan Riau dan Malaysia, menggunakan lafal ‘e’ seperti halnya pengucapan pada kata ‘jelas’. Masih ada lagi Melayu Mempawah dan Melayu Sanggau yang sudah bercampur dengan bahasa lain seperti bahasa Dayak dengan variasi dialek lainnya.  Belum terhitung juga variasi bahasa Dayak lain yang tak kalah banyaknya. Namun, karena lebih luas digunakan, maka Bahasa Melayu Pontianak lah yang menjadi andalan penduduk untuk berkomunikasi sehari-hari. Saya yang sudah cukup mahir melantunkan bahasa ini pun tidak kesulitan untuk membaur.

Dari mane Bang?”, sapa ramah seorang amoi mengagetkan saya. “Dari Ponti dek, agik jalan-jalan jak ni be”, sambar saya otomatis sambil menurunkan kamera. Jika di Glodok Jakarta kita terbiasa menyapa dengan sebutan koh atau cik, di sini sapaan moi (amoi-wanita muda) dan ke (tauke-juragan) lebih umum digunakan. Lain daripada itu, panggilan Bang, Kak dan Dik sangat umum terdengar, selain juga panggilan Mas dan Mbak yang mulai familiar digunakan. Kulit putih bersih, paras cantik, dan pribadi bersahaja memang membuat kota Singkawang terkenal akan ‘amoi’-nya. Tak heran pula jika banyak pria lajang jauh-jauh datang dari Hongkong dan Tiongkok daratan yang mencari pujaan hatinya di kota ini. Entahlah apa selanjutnya mereka memperoleh kebahagiaan hidup atau tidak, yang jelas hal itu samar-samar sudah menjadi rahasia umum. Cinta datang dari seberang negri, begitu istilah yang saya gunakan. Tetapi harap diingat, tidak semua etnis Tionghoa di sini berkulit putih mulus. Jangan lupa bahwa di sini banyak pula terdapat pedagang keliling, nelayan dan petani dengan kulit menghitam karena terbakar matahari. Saking sudah mirip warna kulitnya dengan kita yang aslinya sawo matang, satu-satunya cara kita membedakan mereka adalah dari sudut matanya yang tampak sedikit sipit.

Memasuki kota, tampak suasana yang tenang dengan sudut-sudut serta jalan protokol yang rapi dan bersih.  Kota ini tidak begitu luas sebenarnya, dan semua jalan seolah-olah bermuara ke satu tempat saja. Langkah saya pun terhenti di salah satu bangunan yang tampaknya sudah cukup tua. Benar rupanya, di atas menara kecilnya terpampang goresan semen menunjuk ke tahun 1951. Bangunan  dengan halaman luas ini ternyata masih digunakan sebagai bioskop, tampak dari tempelan poster film unggulan dan HTM yang dipasang di dinding sebelah dalam, terlindung kerangkeng pintu jeruji besi. Di halaman, tampak beberapa anak kecil keturunan berlari-lari dari sebuah toko buku menuju toko sepeda di sisi seberangnya. Di sisi bangunan, tampak ruko (rumah toko) berjejer dengan apiknya, memamerkan arsitekturnya yang tak kalah tuanya dibanding bioskop itu sendiri. “Jalan P. Diponegoro”, begitulah yang terpampang di baliho besar sebuah hotel di seberang, yang memiliki arsitektur kuno pula. Tergoda ingin menyaksikan jalanan Pecinan ini seutuhnya, saya pun melangkahkan kaki lebih cepat. Tepat sebelum jalan ini berujung di akhir, di sebelah kanan terlihat sebuah bangunan merah mencolok mata berdiri dengan anggunnya.  Vihara Tri Dharma Bumi Raya, terletak di simpang lima kota yang cukup unik. Jika pertama kali ke tempat ini pasti kebingungan untuk kembali ke arah semula. Konon vihara atau kelenteng yang dibangun pada tahun 1933 ini adalah salah satu rumah ibadat tertua di kota ini dan dipercaya menjadi tempat kediaman Dewa Bumi Raya. Bersama-sama dengan tiga ratus lebih vihara lainnya, tak pelak lagi julukan Kota Seribu Kelenteng pun melekat di kota ini.

Eksteriornya mirip dengan bangunan-bangunan yang biasa saya saksikan di film-film Mandarin, sementara interiornya lebih menarik lagi. Didominasi warna merah semburat emas, tak pelak lagi bahwa tempat ini melambangkan kekayaan dan kejayaan dalam budaya Tiongkok. Pilar-pilar seukuran pelukan orang dewasa dan lilin-lilin sebesar lengan menambah kemegahan sekaligus menambah kemistisan tempat ini. Berbagai macam tulisan dan simbol yang tidak saya pahami menghiasi seluruh bagian bangunan. Seorang ibu mendekati penjaga kelenteng, dan menunjuk ke abjad Cina yang saya tidak paham maksud dan urutannya sama sekali. Sang Penjaga pun menorehkan sesuatu di atas kertas dan mengangguk. Selanjutnya Si Ibu mengambil dupa dan membakarnya, tak lama kemudian dia pun sudah khusuk berlutut melakukan ritual keagamaan di depan  altar. Entah apa yang dikehendaki ibu ini, tetapi seusai berdoa, tampak semburat kebahagiaan terpancar di wajahnya. Dia pun berjalan keluar, berbelok ke kiri menyusuri pagar kelenteng. “Semakin banyak yang dilakukannya untuk sesama semakin banyak yang dimilikinya, semakin banyak ia memberi kepada sesama semakin banyak kepunyaannya (Tao Te Ching)”, begitulah pesan-pesan moral yang banyak terpampang di tembok vihara. Ah, terasa begitu damai dan indah sebenarnya hidup di dunia ini jika tanpa dicampuri oleh ketamakan manusia.

Puncak keramaian di kota Singkawang sebenarnya hanya berlangsung setahun sekali. Adalah perayaan Cap Go Meh yang berasal dari dialek Hokkian yang berarti ‘hari kelima belas bulan purnama’, yang masih menjadi bagian dari perayaan Imlek atau Tahun Baru Tionghoa. Keunikan perayaan di kota ini mengalahkan keramaian perayaan serupa di daerah lain di nusantara. Perayaan ini biasanya dimulai dari pesta lampion, yang semarak dengan ribuan cahaya kerlap-kerlipnya di semua sudut kota. Demikian pula tak ketinggalan kehadiran naga Barongsai yang beraneka ragam dengan liak-liuk gemulainya yang lincah berlari di jalanan kota. Rangkaian ritual keagamaan pun berlangsung di vihara hingga puncak perayaan yang dinanti-nanti masyarakat, yaitu parade Tatung.

Pagi itu, lapangan stadion Kridasana sudah penuh dengan lautan ribuan manusia. Apakah gerangan yang menjadi pusat perhatian mereka? Ternyata di lapangan sudah berdatangan ratusan peserta pawai dengan seragamnya yang berwarna-warni. Yang menjadi sangat unik adalah, hampir semua rombongan membawa tandu. Di atas tandu tersebut, duduklah  sang Lauya alias Tatung atau dukun etnis Tionghoa mempertontonkan kehebatannya. Tandu yang mereka duduki, disusun atas kayu belian (ulin) yang didekorasi dengan warna-warni menarik. Namun, yang mencolok mata adalah kehadiran berbagai macam senjata tajam seperti golok, tombak, pedang di kanan-kiri tandu. Aroma dupa menyengat dan irama monoton tabuhan gendang dan simbal memekakkan telinga, seiring itu pula sang Tatung mulai menghantamkan tubuhnya ke berbagai macam senjata tajam tersebut tanpa terluka sedikitpun. Sebagian yang lain melakukan ritual adat dan mulai menari-nari sesuai dengan karakter roh yang memasuki tubuhnya. Beberapa Tatung yang lain dengan lahapnya memakan hewan atau ayam hidup-hidup lalu meminum darahnya yang masih segar dan mentah. Aroma mistis semakin menyengat dan beberapa Tatung mulai menusukkan jeruji besi ke tubuhnya. Bagian yang menjadi favorit adalah muka sehingga Tatung yang paling banyak menyematkan tusukan di wajah akan dikerubuti penonton dengan ramainya. Sebagian mata mereka memerah ataupun terbalik memutih menandakan mereka sudah dalam kondisi trance. Mata mereka juga menyapu ke seluruh stadion seolah-olah menyapa seluruh roh yang hadir di situ. Konon, roh yang memasuki tubuh mereka memang sengaja diundang dan semuanya adalah ‘roh baik’. Tokoh pahlawan, hakim, pelacur yang tobat ataupun pendekar pembela rakyat dapat merasuki tubuh mereka dan diyakini dapat melawan roh jahat di daerah ini sehingga sebenarnya perayaan ini adalah untuk menyapu roh jahat di kota. Dari pakaian para peserta pun, kita dapat melihat roh  mana yang mereka undang karena figur dengan kostum Judge Bao, Kwan Im ataupun Nan Cha, dapat terlihat dengan jelas sebagaimana layaknya yang biasa kita saksikan di televisi.

Tidak hanya etnis Tionghoa, tampak pula beberapa rombongan Tatung Dayak yang ikut bergabung meramaikan festival. Jika disaksikan dengan seksama, memang batasan nyata antara Dayak dan Tionghoa di sini kurang begitu tegas. Sebagian rombongan menyematkan nama Dayak Iban namun disusul dengan tulisan abjad China di bawahnya. Sebaliknya untuk Tatung, juga banyak yang menyematkan aksesori Dayak seperti mandau, bulu burung dan motif perisai di tandu dan pakaian seragamnya. Lebih lagi, fisik mereka memang serupa sehingga sudah untuk dibedakan. Memang, sebenarnya ritual Tatung mirip dengan upacara adat Dayak. Sejak pertama kali datang ke Singkawang masyarakat Tionghoa telah menjalin persahabatan erat dengan penduduk pribumi khususnya suku Dayak. Karena itu tidak ada kecanggungan di antara kedua etnis ini. Tidak hanya asimilasi dengan suku Dayak, pada perayaan ini kita juga akan menemukan makanan khas, ‘lontong Cap Go Meh’, yang mungkin hanya satu-satunya di dunia. Jelas sekali bahwa tradisi Tionghoa Singkawang sudah membaur apik dengan tradisi Melayu, Dayak dan Jawa.

Puncak acara adalah ritual keliling kota yang bertujuan mengusir roh-roh jahat membersihkan kota dan mendatangkan kebaikan ke masyarakat. Para Tatung pun duduk dengan gagahnya di tandu yang ternyata alas duduknya juga diberi rangkaian paku tajam. Sebagian menari-nari di tandu dan sebagian lagi turun berjalan kaki. Masyarakat kota pun tumpah-ruah menyaksikan agenda langka ini dengan antusias. Dahulu di zaman orde baru, perayaan ini sempat dimatikan, namun di era keterbukaan ini, perayaan Cap Go Meh menjadi sesuatu yang sangat unik. Saking uniknya, tim MURI nasional pun turun untuk mencatat berbagai rekor yang diadakan saat itu. Memang, perayaan Cap Go Meh di kota Singkawang sungguh sangat pantas untuk dinikmati!

Getting There :

Singkawang dapat ditempuh dari Pontianak selama 3 jam. Penerbangan Jakarta – Pontianak dilayani oleh maskapai Lion Air, Mandala, Sriwijaya dan Batavia. Dalam seharinya, frekuensi penerbangan sangat banyak. Harga tiket untuk kondisi normal sekitar 400.000 rupiah dan di saat peak season seperti Lebaran, Natal dan Imlek melonjak tiga kali lipat.

Where to Stay  :

Banyak hotel di Singkawang, namun memilih hotel-hotel yang berada di pusat kota adalah pilihan bijaksana. Hotel Mahkota terletak di Jl Diponegoro (0562-631244, 631308) ataupun Hotel Prapatan (0562-636888, 631067) di Jl Sejahtera cukup dapat memberikan anda akses ke kota dengan leluasa dan membaur dengan ritme perkotaan yang unik.

What to See :

Tempat wisata alam tersebar di Singkawang, seperti pantai pasir putihnya yang menawan itu. Anda dapat memilih pantai dengan fasilitas yang cukup baik seperti Sinka Beach, Palm Beach ataupun Pasir Panjang. Jika anda ingin menikmati kesendirian, susuri saja pesisir daerah ini dan anda akan menemukan pantai-pantai tak bernama yang sangat indah.

Perbukitan Roban, Batu Belimbing dan Air Terjun Hangmoy juga layak anda datangi Karena lokasinya yang berada di perbukitan dan masih cukup asri. Di dalam kota terdapat juga Taman Bougenville, Taman Burung dan Teratai Indah, cocok buat anda kunjungi bersama keluarga.

Keramaian festival tahunan Cap Go Meh di bulan Februari berupa pawai lampion, atraksi barongsai, ritual keagamaan, panggung kebudayaan dan arak-arakan Tatung cukup menjadikannya pengalaman berkesan seumur hidup. Jalur festival biasanya dimulai dari stadion dan melalui jalur protokol jalan P. Diponegoro.

Sempatkan singgah ke Jalan Bawal dimana lebih terkenal akan julukan Pasar Hongkong. Di sinilah terdapat kuliner khas Singkawang, termasuk juga mie tiauw, sotong pangkung dan bubur Pekong. Malam hari adalah waktu yang paling cocok untuk bertandang karena lebih ramai lapak makanan yang dibuka.

Tips :

Singkawang adalah kota yang panas, gunakan pakaian yang menyerap keringat dengan baik. Beberapa lokasi hanya dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi sehingga opsi menyewa kendaraan cukup layak dipertimbangkan.

Berhubung acara Cap Go Meh dihadiri oleh banyak orang (dapat mencapai 20.000 orang), termasuk kerabat yang datang dari luar kota, pemesanan hotel sebulan sebelumnya wajib dilakukan untuk menghindari full-booked. Banyak aksi horor dipertontonkan di sini sehingga bila anda tidak siap untuk menyaksikannya, dapat memilih tempat agak jauh sehingga tidak terlalu ter-ekspos dengan aksi mereka. Pada perayaan Cap Go Meh, bawa minuman dan snack secukupnya karena jalur arak-arakan dapat mencapai 8 kilometer jauhnya.

2 Responses to “Singkawang, Kota Seribu Kelenteng”

  1. Singkawang merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat traveling…..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: