Kemilau Gemericik Air di Moramo

Oleh : R. Heru Hendarto

Melepaskan diri dari suasana kota, pukul 04.45 subuh kami sudah meluncur meninggalkan Kendari menuju ke arah tenggara.  Perjalanan dimulai dengan menyusuri Teluk Kendari, yang jaman dahulu terkenal dengan sebutan Vosmaer Baai, memanjang barat dan timur teluk ini selalu menginspirasi penduduk kota kemana pun mereka beraktivitas. Dua puluh menit kemudian, jalanan hotmix-pun berubah menjadi aspal berlubang, dan kanan-kiri sudah berubah menjadi perkampungan penduduk yang menempati sepanjang pesisir laut. Saya sendiri cukup menikmati perjalanan yang terasa dingin itu, kami melaju dan nyaris tidak bertemu penduduk yang lebih memilih untuk berdiam diri di rumah pagi itu. Telah berbelas kali sebenarnya saya menginjakkan kaki di kota ini, namun baru kali ini saya meluangkan waktu menuju tempat yang memang sudah saya incar sedari dahulu.

Kondisi jalan memburuk, berganti dengan jalanan tanah berpasir berbatu sehingga membuat kami terguncang-guncang melewatinya. Namun, di kiri-kanan terhampar sejuknya sawah yang menghijau dan pepohonan buah yang ranum berjejer. Ternyata, kami sudah memasuki daerah pedesaan Moramo yang dihuni oleh kaum petani transmigran. Tambah terpesona saya melihat sebuah kampung yang sangat rapi dan bersih, dengan sebuah pura berwarna merah maroon  di muka rumah salah seorang warga. Pendatang dari Bali, memang banyak menghuni daerah pedalaman di Sulawesi Tenggara. Bersama-sama dengan pendatang dari Toraja, ‘duo pendatang’ ini terkenal sanggup menyulap lahan gundul menjadi hamparan sawah menghijau. Tidak hanya itu, sistem pengairan pun dapat mereka buat dengan baik seperti sistem di daerah asal mereka.

Mobil pun memasuki gerbang beton dan parkir di salah satu pojok halaman. Suasana sekeliling masih tampak sepi, hanya ada satu warung yang baru saja membuka jendelanya. Karena hujan semakin deras mengguyur, kami pun berteduh di warung tersebut. Kebetulan, tak lama berselang kami ditemani seorang tua yang ternyata adalah salah satu perintis dibukanya air terjun ini. Pak Darmo, yang asli Boyolali, akhirnya menemani kami menjelajahi kawasan wisata ini.  Dia pun menuturkan bahwa saat kali pertama datang ke tempat ini, hanyalah semak belukar yang melingkupi. Di awal tahun 80-an, dia pun mulai merintis dan merapikan tempat ini sehingga menjadi cukup terkenal dan akhirnya diresmikan oleh Menparpostel saat itu, Soesilo Soedarman pada tahun 1986. Air Jatuh Moramo, dahulu lebih dikenal dengan nama Osena Jaya oleh penduduk setempat, berada di dalam area Suaka Alam Tanjung Peropa. Sementara, sudah menjadi kebiasaan menyebut sebagian orang Sulawesi untuk menyebut kata air terjun dengan ‘air jatuh’ sehingga dianugerahkanlah nama yang agak aneh tersebut. Di awal-awal diresmikannya, tempat ini adalah tempat wisata unggulan sehingga selalu ramai dikunjungi pelancong. Infrastruktur parkir, taman, pondok wisata dan lain sebagainya tertata indah. Jalan aspal mulus dua puluh tahun yang lalu membuat waktu tempuh perjalanan dari Kendari hanya satu jam saja, tidak selama waktu yang kami butuhkan, hampir dua jam dan itupun kami sudah habis-habisan menekan pedal gas dan melaju kencang di jalanan sepi.

Sebuah jembatan besi rancang bangun klasik menyambut kami di jalur setapak Moramo. Konstruksi menggantungnya tampak kokoh, namuan membuat saya dag dig dug saat melewatinya. Tali-tali baja yang bergantungan paralel sepanjang jembatan tak cukup menenangkan hati. Selain beberapa kayu pijakannya banyak yang lapuk dan licin, jembatan selau bergoyang-goyang kanan dan kiri saat diinjak. Empat meter di bawah, tampak dasar sungai yang airnya deras menderu-deru. Di sebelah kanan tampak bendungan sederhana yang digunakan untuk menahan aliran air dan disebarkan ke persawahan di sekeliling tempat ini. Walaupun tidak begitu besar, tapi derasnya aliran sungai yang melewatinya menandakan bahwa volume air yang disuplai cukup berarti.

Jalanan tiba-tiba menyempit, berubah menjadi jalur setapak dengan lebar satu meter. Di kanan kiri kami, rindangnya pepohonan yang menjulang tinggi melindungi sehingga menahan jatuhnya mentari pagi yang masih bersembunyi dibalik awan. Yang paling mengasyikkan sebenarnya adalah, jalur trekking menuju air terjun menanjak ringan memotong beberapa alur sungai yang airnya demikian jernih. Tidak seperti tipe sungai-sungai besar di tempat lain, jalur air di daerah ini hanya berupa creek sedang berair dan berbatu. Kelokan dan liukan aliran airnya yang terhadang bebatuan memberikan kesan yang indah. Tak disangka pula, beberapa kali melintas gerombolan kupu-kupu beraneka warna di ketinggian dan kicauan burung-burung yang begitu ramai terdengar. Sekilas tempat ini mengingatkan saya akan Air Terjun Bantimurung di Maros. Dua puluh menit kemudian, saya dikejutkan dengan suara gemuruh yang muncul tiba-tiba. Tambah kaget kembali ketika seolah-olah pelukan hutan belantara ini melepaskan riak putih bertingkat menuju ke hulu.

Sungai Biskori, yang berhulu di Pegunungan Tambolosu, memberikan pemandangan terbaiknya di sini. Sebanyak tujuh tingkat utama dari sungai ini, melebar dari ujung ke ujung menyajikan pemadangan yang luar biasa indahnya. Dari tujuh tingkat itu (cascade), di antaranya terdapat lagi puluhan tingkat-tingkat kecil setinggi setengah hingga satu meteran yang semakin memperindah keelokan tempat ini. Air yang mengalir sedemikian jernihnya, sehingga memberi kesan warna hijau bening yang sedap dipandang mata. Hujan yang deras mengguyur tak menyurutkan niat saya mengeksplorasi Moramo. Setelah puas mengabadikan keindahannya dari bawah, saya pun bergerak ke atas dari sisi kanan. Pemandangan di sini tak kalah eloknya, dan baru saya sadari bahwa air terjun ini masih berujung tinggi hingga ke atas sejauh 100 meteran. Jika di bagian kakinya terdapat kolam-kolam raksasa yang terhampar, maka menuju bagian atas akan semakin menyempit dan penuh oleh akar pepohonan yang tumbuh di atas batu berair.

Air Jatuh Moramo ini saya nilai adalah air terjun yang paling indah yang pernah saya saksikan. Curug Cikaso, Cilember, Bantimurung, Tawangmangu dan beberapa air terjun lain tidak dapat menyaingi kecantikannya. Gara-garanya adalah cascade yang terpahat oleh alam selama ribuan tahun. Batugamping yang kebetulan dipotong oleh aliran air Biskori ini, terpahat oleh kikisan arus. Tidak begitu susah bagi alam untuk mengukir batugamping yang memang secara natural larut oleh air dan memiliki bentuk dasar yang sudah sangat menarik. Jadi, indahnya suatu air terjun tidak melulu dari tingginya saja, namun bentukan-bentukan yang diberikan sehingga mampu memberikan kesan mengalir dengan lembut bak kelokan sutra.  Dan memang terbukti, sebagian besar air terjun yang indah di Indonesia terdapat di atas hamparan litologi batugamping atau batu kapur. Batugampingnya pun tidak sembarangan, namun berasal dari terumbu laut yang sudah terekspos ke permukaan dan mengapur sehingga memiliki bentukan awal yang sudah menarik.

Saya pun nekat melangkahkan kaki memotong jalur sungai merintis pinggir cascade dan bergerak ke atas. Cukup ngeri sebenarnya berjalan di bibir batu dengan hantaman derasnya air di kaki, namun pemandangan dari atas menggoda saya untuk naik. Langkah kaki pun tertahan di atas, di saat saya sudah tidak bisa bergerak naik karena terhalang pepohonan. Mata saya tertumbuk di puncak, tanpa bisa menerka-nerka lagi masih adakah jejeran cascade di atasnya. Sudahlah pikir saya, di sinilah puncak tertinggi yang bisa saya capai. Saya pun duduk melepaskan lelah, tak peduli dengan basahnya pakaian karena guyuran hujan dan air sungai. Pandangan saya hamparkan ke bawah, di mana kaki air terjun ini berada. Pikiran pun melayang, membayangkan air yang bergerak cepat di atas air terjun yang menakjubkan ini menuju laut lepas selatan kaki Sulawesi.

How to Get there :

Lokasi wisata ini sejauh 65 Kilometer dari Kendari, ibukota Propinsi Sultra. Perjalanan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat selama dua jam menuju Kecamatan Moramo, Konawe Selatan di tenggara Kendari. Perjalanan dapat pula dimulai dari Bandara Walter Monginsidi yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan (2 jam). Lalu sambil terus mengikuti petunjuk jalan, menuju desa Sumber Sari. Setelah sampai di pemberhentian, perjalanan dapat dilanjutkan ke lokasi air terjun dengan berjalan kaki sejauh kurang-lebih 2 Kilometer yang ditempuh selama 30 menit.

Di sini sudah tersedia parkir yang luas bagi para wisatawan yang datang menggunakan mobil pribadi. Di atas, tersedia tempat ganti pakaian berupa kamar mandi dan WC. Sementara itu, untuk mendukung kenyamanan bagi para wisawan, disediakan juga pondok istirahat di areal sekitar air terjun.

Kendari sendiri dapat ditempuh dengan berbagai maskapai utama di Indonesia seperti Garuda, Batavia, Lion dan Express dengan transit di Makassar. Tiket di saat low season sekitar 800 ribu rupiah sementara di peak season dapat mencapai 1,3 juta rupiah.

Where to Stay :

Tidak ada hotel atau penginapan di sekitar lokasi. Opsi satu-satunya adalah menginap di Kendari. Hotel Athaya di jalan Syech Yusuf (0401-3131033, 3131133) menawarkan pemandangan Teluk Kendari yang elok sehingga layak anda coba.

What to Do :

Selain menikmati indahnya air terjun, anda dapat juga sekedar melepaskan lelah atau pun berenang menikmati segarnya air pegunungan. Jika anda hobby birding, tak ada salahnya membawa teropong untuk mengamati hadirnya beberapa species burung Sulawesi. Wisata Moramo adalah wisata keluarga, anda dapa membawa seluruh anggota keluarga dan bersenang-senang bersama. Waktu terbaik untuk datang adalah pagi hari atau sore hari, di saat suasana sejuk terasa serta matahari bersinar lembut dari samping.

8 Responses to “Kemilau Gemericik Air di Moramo”

  1. om, archieve, tulisanmu yang lain mana, perasaan banyak deh ato ga ada listnya?

  2. ada ngobrol sama franky ya ente om, iya ini trip tterakhirku di HG

  3. darimana nebaknya om? mendetil sampe SMM, berasa seleb neh, inPo dah kmana2, btw ente termasuk rombongan IAGI convent?

    • ngk liat statusnya frank mau ke Medan…sudah tebak2 aja pasti ke emas di sana, di telpon Tony beritanya ke SMM…yah pikirku paling om bukor pindah juga :p

      IAGI 10 orang Buena..sore aku tiba InsyaAllah…ikut pesta pecah es-nya dulu..:D

  4. iya nih karena mo pindah trayek, ga enak juga kalo mo minta ikut convention, ntar aja kalo da di tempat baru sapa tau ada kesempatan, paling ga sih workshopnya lah , lebih penting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: