Hantu Kantoran dan Kebodohan Mereka

Oleh : R. Heru Hendarto

Bayang-bayang setan jarum neraka kembali mendatangi saya dan teman-teman saat sibuk dengan Tugas Akhir untuk skripsi. Kebetulan, saya beruntung dapat kesempatan untuk melakukan Kerja Praktek untuk TA di sebuah oil and gas company di Provinsi Riau. Saat itu saya ingat betul adalah awal bulan puasa ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di kota Minas. Sebagaimana halnya mahasiswa TA dan KP lain dari berbagai universitas, kami semua ditempatkan di asrama mahasiswa. Sebenarnya ucapan asrama mahasiswa tidaklah tepat, karena yang digunakan untuk menampung kami hanya beberapa rumah eks karyawan. Dua rumah untuk mahasiswa dan satu rumah di pinggir khusus untuk mahasiswi. Sampai saat tulisan ini dibuat pun, saya tidak pernah paham apa kepanjangan tulisan ASBQ yang terpampang di depan ‘rumah’ kami itu. Sampai-sampai dengan teganya saya pleset-kan menjadi Asrama Siswa Bractical Qraining (well, cukup maksa sebenarnya). Untuk teman-teman yang kebetulan memperoleh tempat TA di Rumbai dan Duri, mereka memperoleh tempat di container yang didesain khusus untuk ditinggali. Portacamp, adalah istilah keren untuk container rumah itu. Rumbai sendiri adalah lokasi terdekat dengan Pekanbaru, dan dengan Minas yang berjarak satu jam perjalanan serta Duri yang berjarak 4 jam perjalanan, predikat ‘neraka’ pun jatuh ke kota terjauh itu. Sementara Rumbai dijuluki ‘gerbang neraka’, Minas adalah ‘pintu neraka’-nya.

Malam itu, setelah beberapa hari menempuh perjalanan jauh dari Yogya ke Jakarta lalu ke Pekanbaru, disambung Rumbai dan Minas sebagai tujuan akhir, saya pun tertidur kelelahan. Urusan administrasi lapor datang di HROD, bertemu mentor dan meminta student badge pun sudah beres sehari sebelumnya. Sebelum penderitaan dimulai, saya pikir tidak ada salahnya nge-charge energi dengan tidur lebih awal. Sedang enak-enaknya tidur, tanpa sempat melihat jam, saya terbangun karena mendengar suara ketukan di jendela. “Siapa itu? Mau dibukakan pintu kah..?”, sahut saya. Tidak ada suara jawaban dari luar, hanya bunyi jangkrik terdengar samar-samar di hutan belakang. Kembali saya tertidur dan terbangun oleh suara yang sama, namun karena tidak ada sahutan, saya pikir itu hanya suara binatang di kaca sehingga saya abaikan. Di sini, sudah menjadi kebiasaan bahwa jam kerja mahasiswa adalah malam hari. Siang hari hanya digunakan sesekali jika perlu untuk ke laboratorium, sedang sore hari dimanfaatkan untuk konsultasi dengan mentor. Agar lebih leluasa membuat laporan, termasuk di dalamnya menggunakan komputer di ruang workstation, kerja malam adalah wajib. Kecuali anda berani memasang muka tebal dan ngerecokin para karyawan yang sedang serius mengerjakan tugas mereka saat working hour. Jam-jam gentayangan mahasiswa TA lebih lama, karena baru berakhir saat subuh sedangkan mahasiswa KP paling banter hingga pukul 10 malam. Karena itulah, ketukan di kaca jendela itu saya kira ketukan mahasiswa KP yang tidak bisa masuk karena terkunci di luar. Paginya, setelah hari terang baru saya sadar bahwa kaca jendela di samping tempat tidur saya itu bagian luarnya dilapisi kawat ram nyamuk. Tidak mungkin bisa mengetuk kaca dari luar kecuali menggunakan paku yang diselipkan melalu celah kawat, tapi apa iya sih bunyinya bisa sama persis dengan jari tangan yang mengetuk-ngetuk?

Seminggu kemudian, saya sedang sendirian mengetik di ruang atas Wing C. Kebetulan seorang senior yang sudah lulus dan bekerja di situ berbaik hati menawarkan PC-nya untuk digunakan. Dan karena PC-nya cuma satu, saya, Putut dan Agung harus bergantian menggunakannya. Mereka pun mengerjakan pembuatan peta dan layout di workstation Wing D lantai bawah. Oh ya, saya lupa bercerita bahwa kantor itu berlokasi di tengah hutan (tentunya lokasi kantor itu juga dulunya dalah hutan dan rawa yang sudah dibuka). Gedung terbagi dalam empat los, masing-masing dinamai Wing A, B, C dan D. Wing A dan B khusus untuk non-engineer sedangkan kami menempati fasilitas di Wing C dan D. Ruangan-ruangan di Wing C dan D terkenal karena keseramannya, dan tidak ada satu pun security yang berani night patrol sendirian di situ. Tiap wing memiliki dua lantai dengan sebuah workstation di tiap lantai bawahnya. Yang namanya workstation, bagi kami mahasiswa, adalah sebuah ruangan canggih dan mewah yang belum pernah kami saksikan sebelumya. Zaman itu, namanya komputer dengan monitor 15 inci sudah tergolong barang mahal dan canggih, apalagi monitor 17 inci sejumlah dua buah yang terpasang pada setiap PC-nya! Jadi, saya dapat bekerja dengan menempatkan template di monitor kiri dan bekerja memperbaikinya di monitor kanan tanpa harus kehilangan detil pekerjaan sebelumnya. Saat paling menyedihkan adalah ketika kami harus pulang kembali ke tempat kos masing-masing dan berkutat dengan PC bermonitor 14 inci, oh mungilnya…

Semua ruangan di kantor ini tertutup dan fully Air Conditioned, tidak ada hembusan angin satu pun kecuali hembusan pelan angin dingin dari lubang sentral AC di langit-langit.  Pukul 01.30, mata sudah sulit dibuka saat saya masih memaksakan untuk menyelesaikan mengetik penutupan Bab II. Sekonyong-konyong, sebuah sosok bayangan hitam muncul di sisi kanan. Tidak percaya dengan adanya bayangan yang muncul di ekor mata, segera saya menoleh ke kanan namun bayangan itu pun segera lenyap. Kembali sibuk mengetik, bayangan itu pun muncul lagi hanya untuk kembali hilang saat saya pelototi. Cuek dengan ‘penampakan’ itu, saya pun kembali meneruskan pekerjaan. Selang sepuluh menit kemudian, saya dikagetkan dengan kehadiran angin keras yang muncul memutari ruangan. Saking kerasnya angin itu, semua poster kertas peta geologi dan korelasi stratigrafi yang ditempel di dinding ruangan terangkat bagian bawahnya dan bergerak bergelombang bergantian naik-turun. Walaupun mengantuk, logika saya masih bekerja baik saat itu. Mana mungkin hembusan konstan perlahan dari AC central di atas tiba-tiba membesar dan sanggup menghasilkan angin memutar dan mengangkat semua poster yang besarnya seukuran kertas A0? Namun, iman saya kuatkan dan segala bacaan ayat-ayat suci pun keluar dari lantunan. Saya pun berkata dalam hati, “Kamu jangan sampai kalah dengan setan-setan di sini ya. Kalau kalah mental, TA-mu tidak akan selesai dan gak bakalan lulus tepat pada waktunya!”. Demikianlah sugesti yang saya bangun sendiri demi membangkitkan tekad untuk lulus. Cukup lama sebenarnya peristiwa aneh itu berlangsung ketika tiba-tiba suasana senyap dan angin misterius tadi pun menghilang. Rasa tegang dan lelah yang mendera pun segera berkurang, berganti rasa lega yang mulai merambat muncul. Eh, belum pulih leganya saya, tiba-tiba layar monitor komputer di meja sebelah menyala sendiri. Penasaran, saya pun lirik monitornya. Hanya ada ikon menu-menu yang biasa muncul di desktop Windows. Saya paham betul, jika PC telah diatur pemiliknya untuk melakukan task tertentu pada waktu tertentu; misal defrag disk atau scan disk, mungkin saja sebuah PC bisa ‘hidup sendiri’. Tunggu tiga menit, tidak ada perubahan apa-apa di monitor. Saya pun yakin tidak mengeluarkan getaran apa pun yang bisa memicu tergeraknya mouse sehingga PC yang mungkin hanya berada dalam posisi standby bisa terhidupkan, lha wong jaraknya jauh. Lagipula kalau mau hidup karena itu, kenapa tidak dari tadi saat saya gaduh mondar-mandir di situ atau pas angin kencang tak berasal tadi muncul di ruangan?  Rasa takut pun kembali merambat timbul, dan tambah menjadi-jadi ketika monitor PC terakhir di pojok ruangan itu juga ikut-ikutan menyala! Well, saya rasa sudah cukup deh main setan-setanannya untuk malam ini. Tidak mau cari gara-gara lebih lanjut (saya mulai khawatir akan munculnya penampakan yang mengagetkan seperti yang dialami teman-teman lainnya), PC segera saya shutdown dan turun bergabung ke rekan-rekan di bawah yang ternyata sedang enak-enaknya tidur di workstation.  Belakangan rekan saya yang kebagian TA di Duri, si pendekar Sodik, mengalami kejadian yang serupa. Bedanya, setelah monitor hidup, tidak lama kemudian tuts keyboard pun bergerak sendiri mengetikkan sebuah nama seseorang. Begitu esoknya ditanyakan ke kantor, nama itu adalah karyawan di sana yang sudah meninggal karena accident, hiiiiiiii………

Malam lainnya, saya dan Putut sedang melaksanakan sholat Isya berjamaah di Wing D bawah. Dasarnya kami memang lalai, sholat baru kami tunaikan pukul satu dinihari. Saat itu kantor sepi sekali, hanya ada security dan dua orang mahasiswa TA dari kampus setempat yang menempati ruangan Wing C atas. Beberapa kali saat sedang sholat, kami mendengar suara orang berjalan mondar-mandir di depan pintu. Dan tepat pada saat kami sedang berdoa, terdengar suara orang sedang minum di gang. Oh ya, di kantor ini setiap lorong wing tersedia air minum fountain, jadi tinggal berdiri dan memencet kran maka air segar pun akan terpancur. Penasaran siapa orangnya, segera kami menuntaskan doa dan berdua berlari secepatnya menuju pintu dan melongok ke lorong. Hanya berselang 5 detik dari bunyi air mengucur hingga kami berdua mencapai pintu hanya untuk mendapati bahwa lorong dalam keadaan kosong-melompong namun cipratan air masih jelas tampak tertinggal di water fountain!

Lebaran pun tiba, dan kami yang dikutuk terjebak di Riau selama lebaran ini hanya bisa manyun mengisi waktu. Sebenarnya bukan dijebak sih, memang dari awal HROD sudah menyampaikan bahwa jika kami bersedia dipanggil untuk TA, konsekuensinya kami harus menghabiskan lebaran di sana. Jadi, dua minggu menjelang dan seminggu setelah lebaran kantor praktis nyaris kosong-melompong. Beruntung sekali akhirnya kami tidak perlu melewatkan lebaran di mess Minas. Ada tawaran dari Mbak Heni, senior kami yang kebetulan akan pulang kampung, untuk membantu menjagakan rumahnya di Rumbai. Gayung bersambut tentu saja, lumayan daripada hanya bengong melihat hutan dan monyet di Minas. Beberapa hari menjelang lebaran saya, Agung dan Putut yang kebetulan TA-nya sama-sama di Minas, berbarengan berangkat ke Rumbai. Di sana sudah menunggu Yadi, dan juga Andri yang mahasiswa geologi sebuah PTN di Jawa Barat. Tidak berapa lama bergabunglah Dewa yang datang dari Duri, melengkapi keramaian siang itu. Rumahnya sebenarnya sih biasa-biasa saja, bentuknya pun sama dengan rumah lain di sekitarnya. Hanya, kesan spooky begitu kuat saya rasakan, entah karena masih efek pengaruh Minas atau bukan. Yang jelas, kami semua pernah menyaksikan sesuatu yang ganjil alias tidak masuk di akal. Suatu pagi, setelah sarapan dan mandi, kami semua berangkat ke ruang kerjanya si Andri. Yah, sekedar menemani dia brainstorming akan topik TA-nya. Kantor Rumbai sudah tidak ada pegawai sama sekali karena hari itu sudah memasuki hari H-1. Kami pun bertukar cerita seram yang dialami masing-masing. Dasar sableng, setiap habis bercerita seram, semua pasti terbahak-bahak menertawakan ketololan masing-masing. Yadi pun ikut bercerita bahwa rumah yang saat itu kami tempati sebenarnya mempunyai ‘penunggu’ juga. Jadi sehari sebelum kami datang, dia yang kebagian menjaga rumah, ditinggal pergi tarawih oleh Andri. Yadi pun menghabiskan waktu menonton televisi di ruang tengah. Karena haus, dia pun beranjak ke kulkas di dapur untuk mengambil minuman dingin. Selagi membuka pintu kulkas, dia merasakan hawa dingin menjalar di tengkuk. Keanehan juga menjadi-jadi ketika suara televisi di ruang tengah mengecil perlahan. Sekonyong-konyong, terdengar suara wanita yang memanggil namanya dengan suara parau seperti menangis. “Yadiii…….Yaadiiiii…….., Yaaadddiiiiiiiiiihhh…!!!”, demikian si wanita tak berwujud itu memanggil-manggil. Yadi pun tidak bisa bergerak dan hanya terdiam ketakutan di depan kulkas. Dia hanya bisa berkata di dalam hati, “Jangan ganggu aku dong…, kita kan sama-sama nungguin rumah ini..” Cukup manjur juga ucapannya karena tepat seusai panggilan kelima, suara tersebut menghilang dan bunyi TV kembali normal. Tambah terbahak-bahaklah kami melihat Yadi mengekspresikan ulang wajah lucunya saat mendengar namanya dipanggil-panggil si hantu wanita itu. Dewa serta-merta pamit sebentar untuk ke kamar kecil yang hanya berjarak 10 meter dari pintu ruangan Andri. Belum habis derai tawa kami saat Dewa sekonyong-konyong berlari kembali ke ruangan dengan wajah pucat pasi ketakutan. Ternyata, saat dia kencing, ada yang membanting pintu WC dengan suara keras membahana tapi tanpa rupa. Tawa kami sontak terhenti melihat ekspresi ketakutannya, padahal waktu itu masih menunjukkan pukul 07.30 pagi! Sore itu, tepat pukul 16.15 kami kembali ke rumah dan mendapati bahwa lantai, dinding dan bath awning kamar mandi tampak basah kuyup oleh cipratan air seolah-olah ada yang mandi menggunakan shower. Padahal kami yakin sekali tidak ada orang lain di rumah itu, dan jika memang tadi pagi basah pun pastilah panas seharian dan exhaust yang terus berputar akan mengeringkan air yang tersisa. Sejak saat itu, saya selalu menggunakan kamar mandi kecil di dekat dapur belakang. Walaupun kecil dan kurang nyaman tapi saya merasa tenang dan aman. Lha, siapa yang berani menjamin tidak akan ada penampakan di kamar mandi depan? Ya kalo munculnya pas kita masih lengkap berpakaian, bagaimana kalo kita sedang telanjang? Apa iya kami yang pasti setengah mati ketakutan terus mau lari keluar tanpa pakaian begitu saja?

Penampakan terakhir kami alami saat sudah menjalani hari-hari terakhir di Minas. Tugas TA saya, Putut dan Agung sudah hampir selesai dan hanya perlu finishing di kampus. Jadi, di saat-saat itu, waktu banyak kami habiskan dengan bincang-bincang santai di ruang workstation. Seperti halnya malam itu, kami semua berkumpul di ruang workstation lantai bawah Wing D. Tiba-tiba, aiphone ruangan berbunyi dan diangkat oleh Agung. “Ya Kak, sebentar saya ke sana”, demikian ucap Agung pendek.  Belum selesai dia meletakkan gagang wireless aiphone ke tempatnya, dari atas terdengar suara orang berlari. Tiba-tiba Kak Fitri, begitu kami memanggilnya, sudah datang terengah-engah dengan wajah pucat. Hampir tiga menit lamanya dia hanya duduk di kursi menundukkan wajahnya di meja. Kami yang bingung, hanya bisa bertanya-tanya. Setelah beberapa kali meneguk air putih yang kami sodorkan, barulah dia bisa berucap dengan gemetar “Kak Fitri liat kuntilanak di atas….” Hiiii, saya saja yang mendengar ucapan lirihnya itu ikut merinding. Jadi di saat kami semua sedang berada di bawah, Kak Fitri memilih untuk meneruskan mengerjakan tugas di Wing D atas, wing yang terkenal paling seram itu. Perasaan dia sudah tidak enak ketika merasa ada seseorang yang berjalan melewati pintu ruangan. Namun, tidak berapa lama, terdengar suara berisik mesin fotokopi yang berada di ujung gang. Ah aman fikirnya, berarti itu adalah anak KP yang sedang menggandakan dokumen. Sejenak dia kembali berfikir dan perasaan tidak nyaman menghinggapi lagi ketika sadar bahwa malam itu hanya kami-kami saja anak TA yang hadir. Lagipula ada apa gerangan hingga anak KP berada di kantor hingga pukul dua pagi? Sambil takut-takut penasaran, Kak Fitri mengangkat gagang telpon dan menghubungi Agung di bawah. Segera setelah selesai menelpon, dia melongok ke luar pintu, tepat ke arah gang. Betapa kagetnya saat di gang itu terlihat seorang wanita berambut hitam, panjang sepunggung dalam balutan baju putih berdiri mematung membelakangi. Tentu saja secepat kilat dengan pucatnya Kak Fitri segera berlari menuruni tangga menuju ke kami di bawah!

Sebenarnya, masih terbersit rasa teramat sangat heran di hati saya yang hingga sekarang belum tertemukan jawabannya. Pasalnya, berdasarkan pengalaman pribadi atau pun cerita rekan-rekan lainnya, sang setan itu selalu saja muncul pada larut malam tepat di jam-jam tertentu. Pukul satu dan dua dinihari adalah waktu-waktu favorit para hantu ini untuk muncul. Bahkan lebih ekstrim lagi, di film-film horor sering kali ditayangkan kemunculan sang pengganggu ini tepat pada pukul 12 malam berdentang, lengkap hingga detik-detiknya lagi! Selain jam-jam tersebut, kita pun mengenal adanya hari-hari yang wingit karena sering menjadi hari favorit kemunculan mereka untuk menakut-nakuti kita, kaum manusia. Selasa Legi, Jumat Kliwon, malam Suro adalah hari-hari yang cukup familiar bagi masyarakat Jawa. Tidak hanya di Jawa, saya yakin masyarakat suku lain seperti Batak, Dayak, Bugis dan lain-lain yang memiliki penanggalan sendiri pun pasti memiliki hari-hari tertentu yang dianggap mistis. Jangankan kita orang timur, di barat pun dikenal pula hari Halloween dan angka 13 yang dipercaya membawa sial. Nah, ada kah yang bisa menjawab pertanyaan saya ini : “Kenapa sih setan dan hantu sering muncul di waktu-waktu prime time tersebut?”. Apakah mereka sadar, bahwa yang namanya hari Jumat Kliwon, Suro, tanggal 13, semuanya adalah buatan manusia? Karena ada sejarahnya masing-masing lah maka dibuat lah berbagai penanggalan dengan berbagai macam hari di dalamnya.  Lagipula, sejarah kalender Masehi, Hijriyah dan Jawa itu kan dibuat pada jaman manusia sudah ada, sedangkan setan itu kan sudah eksis duluan di alam semesta ini. Kok ya mau-maunya mereka ‘diperbodoh’ manusia, sehingga saat mau muncul mengganggu mereka mesti liat tanggalan dahulu? Apalagi jika merunut pada jam kemunculan, lebih parah lagi. Apakah hantu-hantu itu tahu jika jam satu dinihari saat mereka menampakkan diri, sebenarnya bukanlah benar-benar jam satu dinihari? Tentu saja, karena setelan jam di tiap-tiap rumah berbeda-beda akibat mesin dan sumber tenaga yang digunakan pun berbeda. Lihat saja jam digital anda dan bandingkan dengan jam dinding di rumah, pasti dalam kurun waktu satu bulan akan terjadi selisih waktu hingga belasan detik. Setelan jam yang dianggap benar dan dijadikan pedoman di dunia adalah setelan waktu server internet yang berpedoman pada getaran atom cesium yang disimpan di Paris dan Colorado.

Lebih jauh lagi nih, sadarkan hantu-hantu itu (dan kita juga) bahwa jam satu teng itu sebenarnya sama sekali bukan lah jam satu teng? Seperti kita ketahui bahwa bumi selalu ber-rotasi pada sumbunya. Rotasi inilah yang menghasilkan perbedaan siang dan malam selama 24 jam. Rotasi yang terus-menerus ini lah sebenarnya memberikan fakta bahwa waktu selalu bergeser dalam hitungan yang lebih kecil dari detik. Tidak percaya? Coba lihat jadwal azan sepanjang masa, pasti setiap dua hari akan ada pergeseran waktu azan hingga satu detik. Hal ini menandakan bahwa setiap saat waktu bergeser terus. Penzonaan waktu yang dilakukan sebagai kesepakatan dunia dengan waktu bujur GMT sebagai patokan, hanyalah untuk mempermudah kepentingan bisnis dan komunikasi. Jika anda berada pada pukul 8 pagi WIB dan saat itu anda sedang berada tepat di perbatasan Provinsi Kalimantan Tengah dan Selatan, lalu anda melangkahkan kaki menyeberang, apa anda kira waktu itu di Kalimantan Selatan benar-benar pukul 9 pagi WITA? Jika benar begitu, di saat menjelang maghrib dan matahari masih tampak (anggap saja pas pukul enam sore), apakah tepat satu meter di sebelah anda (yang masuk ke daerah Kalimantan Selatan) sekonyong-konyong menjadi gelap gulita karena sudah masuk ke pukul tujuh malam? Batas zona waktu dunia pun bisa dibengkokkan sesuai keperluan manusia dan tidak lagi patuh pada batas geografis (garis bujur) seharusnya. Buktinya, batas-batas zona waktu di Indonesia lebih disesuaikan pada batas provinsi atau batas antar pulau. Yang lebih parah lagi, kalau di lihat ke negara tetangga, Singapura dan Malaysia yang tepat berada di atas zona WIB kita dan masuk dalam jalur lurus Jakarta dengan Bangkok yang menjadi ikon patokan waktu dunia GMT +7, memilih tampil nyeleneh dengan GMT +8-nya. Berdasar fakta ini, saya beranggapan bahwa setan-setan dan hantu-hantu itu sebenarnya tidak punya pendirian dan bodoh. Jadi, jika mereka hendak menampakkan dirinya dan mengganggu manusia, mereka pertama-tama akan menengok jam di rumah kita dahulu. Jika masih kurang 10 menit ya mereka menunggu dengan sabar (mungkin juga sambil dandan-dandan dulu biar tampangnya serem), nah lalu, pas jam satu teng baru lah mereka berani muncul dengan hebohnya. Bloon yah!

Moral of The Story :

Scary but not so smart indeed, aren’t they?So be brave!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: