Perjalanan Baubau – Luwuk (Lintas atas Sulawesi 1 fr 5)

Oleh : R. Heru Hendarto

Klakson nyaring memekakkan telinga sebanyak tiga kali mengantarkan saya meninggalkan kota BauBau di sore hari yang cerah itu. Di atas kapal PELNI Tilongkabila saya pun meluncur perlahan menyusuri selat Buton, meninggalkan kerumunan anak-anak kecil yang dengan beraninya bersampan di sisi kapal berharap menunggu lemparan uang koin dari para penumpang. Ini adalah kali kedua saya menumpangi kapal ini, kali pertama tujuan saya adalah Labuan Bajo dan saat ini saya menuju ke jalur sebaliknya, ke arah utara menuju kota Luwuk.  Kota Raha di daratan Muna, Kendari di Sulawesi Tenggara dan Kolonedale di Sulawesi Tengah akan menjadi kota persinggahan saya.

Dua malam terombang-ambing di perairan timur Sulawesi, matahari baru saja tergelincir lepas dari ufuk ketika kapal merapat mendekati kota Luwuk. Disaksikan dari perairan, lanskap kota Luwuk cukup unik. Secara geologi, kota Luwuk tersusun atas formasi batugamping yang berbentuk bukit memanjang dua lapis seolah-olah bersalin menjadi benteng alam. Bukit hijau ini di beberapa tempat terbelah horisontal oleh jalur rekahan yang dilalui oleh lembah-lembah sungai yang cukup dalam. Di bagian pesisir, tampak deretan perahu-perahu besar yang berlabuh di samping rumah-rumah panggung para nelayan. Di beberapa tempat, menjulang beberapa kubah mesjid berdampingan dengan menara gereja. Jelas sekali terlihat bahwa masyarakat Luwuk hidup dalam kerukunan.  Perlahan, kapal pun memasuki pelabuhan di Teluk Lalong yang indah.

Turun dari kapal memanggul rucksack 60 liter, secepatnya kemudian saya sudah meluncur di atas ojek menuju salah satu tempat wisata di Luwuk, Air Terjun Hanga-Hanga. Dua puluh menit kemudian saya pun tiba di kaki sebuah lereng bukit yang cukup tinggi. Ternyata di tempat ini dibangun sebuah PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro). Tertarik dengan instalasi dan sumber air sebagai penggeraknya, saya segera menaiki tangga menuju ke atas. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah dan ternyata saya terlalu meremehkan tangga ini. Baru menginjak dua belas anak tangga saya sudah berhenti kelelahan. Akhirnya, sadar dengan fisik, saya pun perlahan saja menaiki anak tangga sejumlah 624 buah ini. Kemiringan tangga sekitar 60-750 dan beda tingginya yang 175 meter saya selesaikan dalam waktu 30 menit. Di atas, saya disambut oleh bendungan besar berair jernih yang ditunggui oleh Pak Aswin. Didampingi sebuah pesawat radio HT 2-meteran untuk berkomunikasi dengan gardu di bawah, beliau menjaga kebersihan aliran air sehingga debit pun tetap stabil. “Sampah-sampah harus selalu dibersihkan, dan setiap saat aliran dari mata air harus diperhatikan lajunya”, begitu jelas Pak Aswin. Dua puluh menit berbicara santai dengan Pak Aswin, saya segera tersadar bahwa debit sungai tiba-tiba mengecil. Segera setelah berpamitan, saya pun buru-buru turun ke bawah menuju air terjun yang sebelumnya saya lewati.  Dan ternyata benar yang saya takutkan pun terjadi, air terjun Hanga-Hanga yang sebelumnya berdebit besar, saat itu sudah kering sama sekali. Sedikit kecewa, saya pun berjalan turun ke jalan raya terdekat dan meneruskan perjalanan dengan ojek menuju pantai kilo 5.

Pantai putih bersih yang memanjang dan sedikit berbatu serta airnya yang jernih adalah andalan kilo 5 ini. Sedap rasanya duduk di pinggir pantai sambil membasahi kaki atau pun berenang ringan di sekitaran pesisirnya. Pantai ini cukup terbuka sehingga tidak dijadikan pilihan sebagai tempat berlabuh nelayan. Ombak pun tampak keras menghempas pinggiran memberikan bunyi yang menggelegar. Jejeran pepohonan di sepanjang pantai dan mendung tipis yang menggayut cukup membuat teduh suasana saat itu. Mentari sore pun tenggelam dalam rona mendungnya yang syahdu. Seiring malam, tampak warung-warung yang bertebaran di kilo 5 mulai menggeliat. Kerlip lampu berwarna-warni bertaburan diiringi dentuman house music mulai membahana.

Kurang begitu sreg dengan hiburan malam seperti itu, saya pun segera beranjak kembali ke kota. Kali ini yang menjadi sasaran tujuan saya adalah wisata makan durian! Durian di sini beraneka ragam berjejeran di pinggir jalan, mulai dari ukuran kecil hingga sedang. Walaupun ukurannya belum ada yang sampai mengalahkan durian monthong di supermarket, namun rasanya lezat tak terkira. Saya pun memilih yang berukuran kecil, “10.000 rupiah per tiga biji Pak!” demikian kata si Penjual. Tidak mau rugi, segera saya pilih yang paling bagus, paling wangi dan tentu saja paling lezat. “Enak sekali, durian dari mana ini?” imbuh saya sambil menjilati sisa-sisa di jemari. “Banggai Kepulauan, Pak!” sergah si Penjual. Pantas saja pikir saya, durian Banggai memang merajai di seantero Sulawesi bahkan hingga Ternate. Karena jarak Banggai dan Luwuk yang hanya semalam saja, saya beruntung bisa memperoleh durian lezat dengan harga sangat murah. Mumpung murah, kembali tiga durian saya habiskan hingga perut saya kepanasan. Enam durian cukuplah, pikir saya sambil mengulurkan lembaran 20.000 rupiah.

Perut kenyang, angin semilir dan langit yang cerah membuat saya ingin menyaksikan panorama kota di malam hari. Teluk Lalong yang tampak indah saat saya lewati tadi pagi, sepertinya akan sangat menggoda bila dihiasi kerlap-kerlip lampu seperti saat ini. Segera saya menuju daerah Soho, seperti biasa dengan duduk di atas sadel ojek. Motor pun menderu-deru berkelit di lorong-lorong sempit Luwuk demi mencari jalan pintas menuju Soho. Di ketinggian 135 m dpl, bukit ini memang tempat yang pas untuk menyaksikan indahnya panorama kota Luwuk. Tentu saja, sebelumnya sudah banyak berdatangan muda-mudi yang berjejer di pinggir tebing jalan ataupun duduk di dalam café sambil menikmati hidangan malam. Teluk Lalong, yang tampak berbentuk oval terbuka, seolah-olah menjadi magnet tempat bermuaranya kerumunan lampu berwarna-warni di seputaran kota. Angin laut yang sejuk bertiup perlahan cukup membawa suasana hening dan romantis, semakin malam semakin banyak pengunjung menyinggahkan diri di sini.

Salah satu bangunan yang tampak menonjol di Luwuk dan menjadi landmark kota adalah Mesjid Agung Luwuk. Dengan kubah warna keemasan ber-arsitektur Turki, mesjid ini menjulang di pinggir teluk. Baik dari pinggir laut ataupun dari ketinggian kota, kubahnya pun selalu terpantau mata. Di sekeliling mesjid adalah jalanan protokol kota, tidak heran jika sangat terawat dan bersih. Sesungguhnya, kota Luwuk secara keseluruhan adalah kota kecil yang bersih, dan tidak terdapat pengemis sehingga kita merasa nyaman berada di sini. Kurang-lebih 100 meter di selatan mesjid, tepatnya di hulu teluk, terdapat pusat jajanan bernama kilo 1. Serupa dengan tempat  makanan di pantai Losari-Makassar, sentra ini hanya ramai di malam hari dan menjual panganan khas Sulawesi, saraba (minuman jahe bersantan seperti bandrek), pisang epek (pisang bakar dan diberi pemanis) dan goreng-gorengan. Pagi hari, tempat ini sekonyong-konyong disulap menjadi bersih dan perabot disusun dengan rapi. Jejeran meja tampak bersusun melingkar di pinggir teluk sementara kios-kiosnya yang berwarna-warni tampak bersih dari sampah. Matahari mulai meninggi ketika saya meluncur ke perwakilan PO Mandiri Pratama di pinggiran kota untuk melanjutkan perjalanan menuju Ampana.

Getting There :

Maskapai Batavia Air dan Merpati telah membuka jalur udara ke Luwuk. Penerbangan dari Jakarta memakan waktu 3 jam dengan transit di Makassar. Harga tiket berkisar 900 ribu hingga 1,5 juta rupiah.

Jalur lain yang dapat ditempuh adalah dengan mengambil penerbangan ke Palu dan selanjutnya meneruskan dengan jalan darat via bis selama 14 jam. Jika anda dari arah utara, menuju Luwuk dapat dengan menumpang ferry dari Gorontalo menuju Pagimana dan dilanjutkan dengan jalan darat selama 3 jam.

Kapal PELNI Tilongkabila melayani rute Surabaya – Bitung dua kali dalam sebulan dan singgah di Luwuk setelah sebelumnya melewati Bali, Nusa Tenggara, Makassar, BauBau, Kendari dan Kolonedale.

Where to Stay :

Hotel di Luwuk cukup banyak dan beberapa menawarkan pemandangan pantai, seperti Pantai Wisata Hotel (0461-23199) dan Safari Beach Hotel (0461-23339). Lokasi kedua hotel ini cukup dekat dengan pelabuhan dan pasar.

What to Do :

Wisata pantai adalah pesona utama daerah ini. Bentangan pantai yang indah memanjang hingga ke timur. Mulai pantai Kilo 5 hingga pantai Bolii yang sejauh 20 menit perjalanan. Di dalam kota sendiri pun Teluk Lalong adalah tempat yang juga mempesona. Jika anda mempunyai waktu lebih dapat menyeberang ke Banggai Kepulauan yang menawarkan pesona wisata laut yang lebih apik.

Air terjun Hanga-Hanga akan memiliki debit air terbesar di musim hujan sehingga waktu-waktu yang paling cocok untuk menyaksikannya adalah di bulan November hingga Februari. Di sekitar Hanga-Hanga banyak terdapat kelokan sungai berbatu yang indah dan berair jernih.

Cost  :

–          Pelni Tilongkabila Kelas II BauBau – Luwuk (dua malam)              : 536.500,-

–          Ojek dari kota ke air terjun Hanga-Hanga (15 menit)                    :      5.000,-

–          Makan siang di warung lokal                                                              :   12.500,-

–          Ojek dari kota ke Kilo 5       (10 menit)                                             :   10.000,-

–          Angkot dari Kilo 5 ke pasar kota (15 menit)                                    :     3.000,-

–          Makan malam                                                                                       :   11.000,-

–          Ojek dari kota ke Soho (10 menit)                                                    :     5.000,-

–          Ojek dari kota ke pool bis   (5 menit)                                                :     3.000,-

–          Akomodasi 1 malam di Hotel Wisata                                                : 190.000,- (share bertiga)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: