Para Penunggu Mess

Saat itu saya hampir genap satu tahun ditempatkan di Sangatta, sebuah kota kecil di Kutai Timur mewakili perusahaan sebagai kontraktor di sana. Kota ini sebenarnya tidak begitu besar, dari ujung ke ujung dapat ditempuh dalam waktu 20 menit saja. Namun, karena memiliki cadangan batubara yang sangat besar, kota ini pun berkembang pesat dengan perputaran uang yang cukup besar pula. Seperti halnya Minas di Riau, kota ini dulunya adalah hutan dan rawa yang digusur diubah menjadi pemukiman. Tentu saja namanya bekas hutan, warisan-warisan cerita seram akan hantu yang banyak bergentayangan di daerah ini tetap santer beredar.

Kembali, bertepatan dengan bulan puasa, malam itu sehabis tarawih sendirian saya meneruskan mengetik di kamar menyelesaikan laporan ke kantor pusat. Kami menyewa salah satu rumah untuk dijadikan mess, yang hanya ditinggali saya dan supervisor saya yang membawa serta istrinya. Kamar saya di depan, dan saat itu baru pukul 8 malam ketika Darwis pamit ke saya. “Pak, saya ke townhall sebentar ya, mau belanja”, pamitnya. “Ya Mas!”, jawab saya dengan mata masih terfokus ke monitor dan keyboard, sibuk mengetik sehingga saya tidak banyak bertanya-tanya lagi. Terdengar suara pintu depan yang ditutup dan langkah kaki menjauh di halaman. Sepuluh menit kemudian, saya yang mengetik di kamar dengan pintu terbuka mendengar suara gaduh di kamar sebelah. Ah, Mbaknya lagi cari-cari apa sih di kamar, berisik amat, pikir saya. Saya pun meneruskan mengetik dan mendengar pintu kamar sebelah terbuka disusul suara langkah kaki mondar-mandir di dapur. Dapur adalah daerah kekuasaannya si Mbak ini karena yang satu-satunya memasak di mess itu hanya dia dan suaminya. Saya lebih suka membeli di luar karena bebas memilih menu sesuai selera. Masih serius mengetik, tiba-tiba saya merasakan hembusan angin dari luar masuk ke kamar. Sedikit terganggu, saya baru saja akan beranjak berdiri menutup pintu kamar ketika ekor mata saya menangkap sebuah bayangan putih dari sesosok perempuan yang lewat perlahan ala slow motion di depan kamar menuju ke dapur. Saya pun hanya merapatkan pintu kamar saja, tidak sampai menutupnya. Saat saya hendak bersila mengetik kembali, saya baru sadar bahwa suasana rumah saat itu tiba-tiba sunyi senyap sama sekali. Tidak ada suara sedikitpun, termasuk juga lenyapnya suara jangkrik yang biasanya tiap malam terdengar nyaring di sisi hutan belakang. Demikian pula suara-suara gaduh di dapur dan kamar sebelah, “Apa Mbaknya tidur ya?”, pikir saya. Merasa bulu kuduk berdiri, saya pun langsung mengangkat handphone. “Mas Darwis, Mas keluar sama Mbak atau sendiri?”, tanya saya secepatnya saat panggilan tersebut diangkat. “Berdua Pak, ini lagi di angkot perjalanan pulang. Memang kenapa Pak?”, sambungnya. Tersadar akan kondisi sesungguhnya, saya terdiam sejenak dan hanya bisa menjawab: “Oh begitu, ga papa kok Mas”. Handphone saya tutup, laptop saya matikan dan saya segera ngeloyor ke serambi depan menunggu kedatangan Darwis dan istrinya. Jadi, sedari tadi itu sebenarnya saya sudah ‘diganggu’ sama hantu wanita itu, hanya tidak ngeh karena terlalu sibuk mengetik. Kalau sedari awal saya sudah tahu jika Darwis pergi dengan istrinya, pasti sejak dari bunyi pertama saya sudah kabur duluan.

Jika dirunut-runut, setiap kali saya berpindah lokasi kerja dan menghuni mess perusahaan, dapat dipastikan minimal sekali saya mendapat gangguan dari makhluk halus. Namun, saya masih bersyukur karena gangguannya tidak seram-seram amat seperti jaman saya TA dan KL dahulu. Saat berada di mess perusahaan di Tanjung Enim, saat itu saya sendirian. Sebuah rumah bertingkat dua bertipe 220 yang disewa selama setahun, dapat dibayangkan betapa besarnya rumah ini yang notabene sehari-hari hanya dihuni oleh kami berdua. Jumlah kamar di rumah itu sebanyak empat buah dengan dua buah kamar dikhususkan untuk tamu. Sementara ruangan lain di rumah itu masih tersisa luas, termasuk ruang tamu, ruang tengah dan dapur yang memanjang ke belakang. Malam itu, atasan saya sedang pulang kampung ke Cirebon. Sehabis Isya, saya lalu mengetik di ruang tengah sambil menonton TV. Saya memang menyetel TV sekadar untuk mengusir sepi sehingga suaranya pun saya buat perlahan dan jalan acaranya tidak saya perhatikan sama sekali. Tiba-tiba, suasana terasa begitu senyapnya, padahal mess ini bersebelahan dengan banyak rumah dan berada di pinggir jalan. Saya yang sudah mempunyai feeling tidak enak duluan segera menutup laptop dan meraih remote control untuk mematikan televisi dan berniat naik kembali ke kamar saya di atas. Eeh, baru saja saya beranjak berdiri, tiba-tiba pintu kamar tamu yang berada 4 meter di kiri saya terbuka perlahan. “Waduh, kejadian deh!”, pikir saya sambil sesaat terdiam kebingungan. Bagaimana tidak bingung, pintu kamar itu dari dulu terkenal paling susah dibuka sehingga kejadian ini benar-benar di luar dugaan. Walaupun tidak terkunci, untuk membukanya perlu tenaga dan dorongan penuh yang hanya sanggup dilakukan orang dewasa. Jika tiba-tiba terbuka sendiri seperti itu kan benar-benar hal yang ganjil. Karena merasa tanggung, saya yang saat itu sudah setengah beranjak langsung saja menuju pintu kamar. Entah mengapa saat itu saya dapat bersikap tenang, setenang saat meraih gagang pintu dan menutupnya kembali rapat-rapat. Namun, mencegah hal yang sama terulang, saya segera naik ke kamar atas dan memejamkan mata sambil menutup kedua belah kuping dengan bantal, he he.

Demikian pula dengan kejadian yang saya alami saat berada di mess perusahaan di kota BauBau. Malam itu saya berdua dengan staf kantor lainnya. Karena cuaca begitu panasnya, saya pun mengambil kasur dan tidur di depan pintu sedangkan rekan saya tidur di depan TV ruang tengah. Sebentar-sebentar tidur sebentar-sebentar terbangun, saya tidak bisa tidur nyenyak sama sekali walaupun sudah berganti posisi beberapa kali. Saya masih sempat melirik jam tangan di samping saat waktu menunjukkan pukul dua dini hari, dan mata saya mulai tertutup. Tiba-tiba, dalam kondisi yang masih setengah sadar, saya merasa ditarik sekuat-kuatnya diseret beserta kasur ke ruang tengah oleh tangan yang tak tampak. Refleks, tangan kiri saya menggamit jauh dengan tujuan menggapai rekan saya yang tertidur di situ. Ternyata tangan saya menghantam monitor PC di lantai dan membuat saya tersadar penuh bahwa saya masih berada di tempat semula. Seramnya, walaupun mata saya sudah terbuka penuh dan saya sudah memindahkan posisi kepala dan tangan, tetap saja saya merasa ditarik, lengkap dengan suara angin yang berhembus kuat di telinga. Akhirnya setelah melantunkan beberapa ayat suci, tarikan itu pun bisa berakhir. Saat itu sebenarnya saya ingin teriak membangunkan rekan saya, tapi tidak ada suara sedikit pun yang bisa keluar. Jujur, pengalaman ‘ditarik’ setan ini adalah pengalaman pertama saya seumur hidup, biasanya yang paling sering saya alami adalah pengalaman ‘ketindihan’ saat tidur.

Sementara, di camp terakhir saya di Kabaena, saya sendiri merasa heran karena tidak banyak mengalami peristiwa menyeramkan seperti halnya rekan-rekan lain. Camp eksplorasi saya, yang walaupun sudah ‘diresmikan’ dengan upacara adat dan pengorbanan ayam-ayam, tetap saja tidak terbebas dari gangguan makhluk halus. Seperti Ibu Kantin misalnya, saat pergi ke WC di belakang dapur malam hari, dia melihat sebuah kepala yang melongok dari dinding luar. Wajahnya mirip dengan Nara, salah seorang cook kami tapi saat ditegur dia menghilang begitu saja. Saat itu Ibu Kantin yang ketakutan segera kembali ke kamar dapur dan mendapati Nara sedang tertidur pulas bersama rekan-rekan cook lainnya. Atau si Fitroh, yang terpaksa mengungsi tidur seminggu lamanya dari barak bawah ke barak atas gara-gara diganggu seorang hantu wanita yang juga membuatnya kesurupan hingga enam kali. Sementara selain wanita, tak luput pula seorang lelaki, Karyo, yang merupakan driller kami, sempat mengalami kesurupan pula. Malam itu, sepulang bertandang dari desa di bawah, dia tiba-tiba berteriak tidak jelas. Matanya mendelik, tubuhnya kaku-kaku dan mengejan-ngejan. Anehnya, Karyo yang memang orang Sunda ini memaki-maki dengan suara berat kakek-kakek, dalam bahasa Sunda pula. Intinya “Saya jagoan Priangan, siapa yang berani lawan saya!”, begitu yang sempat tertangkap dari ocehannya. Waduh, kok ini di daratan Sulawesi Tenggara, yang bikin kesurupan malahan jin Sunda? Ribet ini urusannya kalau main dengan urusan jin ekspor-impor kayak begini. Tak ketinggalan pula, meneruskan ancaman lisannya, beberapa kali rekannya sesama driller yang berusaha memegangi terkena bogem mentah Karyo. Karena kesal dipukuli tanpa bisa ‘tega’ membalas, saat Karyo terlepas dan lari ke hutan menerobos semak-semak, tidak ada satu pun rekannya yang mengejar. “Sudah biarkan saja, mau mati sekalian biar saja. Mana bisa kita kejar dia yang larinya kencang begitu!”, demikian kata driller lain. Akhirnya, semua pun tertidur karena hari sudah larut malam. Pagi harinya, si Karyo ini pun tampak lusuh berjalan lemas pulang sendirian ke barak sambil ngomel-ngomel : “Gimana sih ini, teman kesurupan kok tidak dibantuin sampai terpaksa pulang sendiri”. Ha ha ha….!

Saya sendiri, diganggu mahkluk halus di camp paling sebatas melalui mimpi, atau paling banter hanya ‘digoyang-goyang’ saja. Hanya satu pengalaman yang tak terlupakan, saat suatu malam saya tertidur di kamar. Tiap barak di camp kami memiliki ruangan bersekat kayu setinggi pinggang, jadi walaupun namanya ‘kamar’ tetap saja antara kita dan teman sebelah dapat saling melihat dengan leluasa. Satu kamar diisi dua orang, jika sedang ramai bisa diisi oleh tiga orang, masing-masing tidur di bawah beralas kasur berselimutkan sleeping bag. Malam itu sekitar pukul satu, saya tiba-tiba terbangun. Saya yang sudah memiliki feeling untuk hal-hal ghaib, merasa pasti ada yang tidak beres. Benar saja, beberapa detik kemudian terasa angin dingin berhembus melewati tubuh saya dari sebelah kanan. Saya yang sudah ‘bersiap-siap’, jadi kecele. Ternyata angin dingin itu hanya numpang lewat saja, dan terus bergerak ke kamar sebelah. Begitu angin aneh tersebut lewat, sontak rekan saya di kamar sebelah berteriak : “Ugh…ugh…uuuugghh.. !!“, persis seperti suara orang ‘ketindihan’. Berniat menolong dengan membangunkannya, ternyata sepuluh detik kemudian teriakannya sudah menghilang dan segera berganti dengan dengkuran. Saya yang sudah beranjak pun mengurungkan niat, dan kembali tidur sambil tersenyum-senyum sendiri karena merasa geli akan kejadian itu.

Sebenarnya, kejadian horor yang paling kocak kembali terjadi di mess BauBau. Tapi, bukan mess yang tempat saya ‘ketindihan’ ya, namun mess lama yang terletak di kota bagian bawah. Mess ini berukuran kecil dengan tiga kamar, sehingga jika rekan-rekan yang hendak travel in dan travel out ke site camp sedang ramai, satu kamar bisa diisi hingga berempat. Malam itu baru pukul sebelas sebenarnya, ketika seorang driller sudah tertidur dengan pulasnya di kamar sementara kami-kami masih asyik menonton siaran tv kabel. Sekonyong-konyong, si driller tadi berteriak-teriak khas orang ketindihan : “Aah…uugh…hegh…uugh..!”. Kami pun langsung menghampirinya, dengan niat hendak membangunkan supaya tersadar. Belum sempat menyentuh tubuhnya, raut muka driller tadi berubah tegang. Sambil matanya tetap terpejam, tiba-tiba dia bangkit duduk sambil berkata dengan serius : ”Ketik REG…spasi MISTERI… spasi NAMA ANDA…kirim ke 1212!”. Bwa ha ha….!!!

 

Moral of The Story : Lain lubuk lain ikannya, lain gubuk lain setannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: