Perjalanan Luwuk – Ampana (Lintas Atas Sulawesi 2 fr 5)

Oleh : R. Heru Hendarto

Sekotak gede gabus styrofoam tergeletak di ruang tunggu PO Mandiri Pratama yang akan membawaku ke Ampana. CTM, begitu tulisan berwarna ungu yang menghiasi luarnya. Busyet, tak terbayang berapa ribu butir obat isinya dan mungkin saja sekotak ini sanggup  menyuplai kebutuhan CTM untuk sebuah kota. Kaget dengan harga tiket bis ekonomi seharga 60 ribu rupiah sedangkan tiket AC hanya 70 ribu saja. Sambil geleng-geleng keheranan, saya segera membayar tiket pada awak bis. Kok ya beda AC dengan non AC tipis banget, sampai tidak signifikan gitu bedanya? Tetap saja saya tidak dapat menemukan jawabnya sampai waktunya saya naik ke dalam bis.

Ternyata, yang namanya bis AC, walaupun embel-embelnya executive-reclining seat, dalam perjalannya hampir semua barang bawaan bisa masuk ke dalam kabin. Mulai dari sayur-mayur, kotak perkakas hingga karung beras pun sukses berada di dalam. Bahkan, nyaris saja beberapa ekor ayam masuk ke kolong tempat duduk penumpang sementara seekor kambing lengkap dengan kandang kayu dan rumput di dalamnya sudah nangkring di pantat bis! Mulailah saya  ngeh bahwa harga tiket non AC walau masih relatif tinggi namun lebih ramai disesaki penumpang karena banyak penumpangnya yang lebih suka merokok. Dan tentu saja, bis non AC akan lebih sanggup menampung lebih banyak barang “aneh” di kabinnya, tak peduli apapun bentuk dan bagaimana baunya. Mungkin, karena ketergantungan masyarakat Luwuk terhadap moda bis ini, crew bis pun saya nilai agak galak. Atau mungkin jalur ini memang “keras” sehingga adu mulut dan otot pun menjadi hal yang biasa.

Bis yang sejatinya memiliki trayek Luwuk – Palu ini meluncur perlahan di jalan yang berkelak-kelok. Saking lambatnya, perjalanan selama 2 jam hanya dapat menempuh jarak 70 km saja. Terkantuk-kantuk di dalam bis yang bergoyang-goyang, tiba-tiba para penumpang dikejutkan dengan hentakan keras. Barulah saya sadar jika bis sudah tidak berada di jalan aspal lagi. Kanan-kiri dan depan adalah air dan saya semakin sadar jika bis sedang menyeberangi sungai berbatu! Dengar-dengar cerita dari para penumpang, dua tahun sebelumnya jalur jalan dan jembatan ini putus di tiga tempat karena diterjang banjir besar. Selama hampir 3 bulan penduduk Luwuk terisolasi darat sehingga untuk menempuh perjalanan ke Palu, mereka harus membayar ketinting menyeberangi tempat ini dengan beaya tiga kali lipat beaya bisnya saja. Syukurlah, jalur ini segera diperbaiki pemerintah walaupun belum sempurna tetapi sudah bisa dilewati kendaraan.

Tepat di Pagimana bis pun berhenti untuk makan siang. Tidak ada yang istimewa di kecamatan ini selain terdapat ferry yang menghubungkan antara Pagimana dengan Gorontalo tiga kali seminggu. Jadi, tanpa ada jalur ini, masyarakat Luwuk yang akan ke Gorontalo ataupun Manado harus mengambil jalur udara yang mahal ataupun menunggu kapal Tilongkabila yang memiliki jeda waktu sebulan dua kali. Peristirahatan kedua adalah Bunta yang berjarak satu jam dari Ampana. Di sini bis berhenti satu jam untuk istirahat malam sebelum melanjutkan perjalanan tanpa henti ke Palu hingga pagi harinya. Kembali saya terkaget-kaget karena semua KTP penumpang diminta oleh crew bis. Ternyata, warisan kerusuhan masa lampau masih terasakan hingga sekarang. Saat kendaraan memasuki Poso di tengah malam, pemeriksaan penumpang dan barang pun akan tetap dilakukan petugas sehingga KTP adalah senjata wajib sebagai bukti pengenal diri. Saya segera menyahut bahwa saya turun di Ampana sehingga KTP pun tidak saya keluarkan.

Crew bis yang siang tadi galaknya minta ampun, tidak tahu mengapa berubah menjadi ramah. Pukul 08.30 malam saya pun tiba di Ampana, turun tepat di perempatan jalan dimana saya buta arah dan tujuan. Beruntung dua orang polantas yang baik hati menghampiri dan dengan diantar dokar yang dikemudikan Owa yang asli Ampana, saya pun menuju penginapan yang ternyata hanya berjarak 1 km. Perut terasa keroncongan berat dan setelah check in, tanpa memasukkan tas ke kamar-dititipkan di front office, saya langsung kabur ke arah pelabuhan mencari makan. “Apa makanan khas di sini Bu?”, tanya saya di dalam sebuah warung sederhana. “Kaledo dik” sergah si Ibu. “Seperti konro sapi rasanya” demikian sambung si Ibu cepat karena melihat saya kebingungan. Tidak banyak tanya lagi segera saya pesan dan sepuluh menit kemudian terhidang lah kaledo tadi di meja makan. Tidak tanggung-tanggung, jika konro disajikan dalam mangkuk kecil, maka kaledo ini dihidangkan dengan porsi semangkuk besar. Kuahnya tampak berlebih dan mengebul-ngebul saking panasnya. Saya pun segera mencicipi kuahnya,”Hmm, masih terasa hambar”. Berbagai macam bumbu seperti garam, kecap dan jeruk pun saya campurkan dan dalam sepuluh menit seporsi besar kaledo tuntas bersama sepiring nasi.

Mentari mulai membersitkan sinarnya di ufuk timur dan saya sudah bersiap-siap dengan kamera dan tripod terpasang.  Pelabuhan Ampana adalah tempat yang paling pas untuk menyaksikan matahari terbit. Di sebelah baratnya terbentang pesisir Marina Ampana sementara bagian timurnya dibentengi oleh lereng Gunung Tanjungapi. Angin begitu tenangnya saat itu sehingga permukaan laut tampak nyaris tidak beriak. Tepat pukul 04.21 bersit rona oranye dan merah pun muncul dengan indahnya di atas perumahan suku Bajo memecah birunya langit dini hari itu. Sisa waktu pun saya habiskan dengan menunggu matahari muncul malu-malu sepenuhnya. Bunyi klakson kapal lalu mengagetkan saya, sebuah kapal kayu penumpang mulai merapat dari arah utara. Sepertinya kapal jenis ini lah yang melayani jalur Ampana – Wakai di kepulauan Togian. Tipenya mirip dengan kapal kayu yang melayani jalur BauBau – Wanci di Wakatobi. Dengan bobot 100 GT, kapal ini sanggup mengangkut 200 penumpang sekali jalan. Dua puluh menit kemudian, datang sebuah bis ekonomi yang sekiranya baru memasuki Ampana dari Palu. Seperti halnya bis yang saya tumpangi sebelumnya, bagian atas dan belakang bis ini tampak penuh dengan kotak-kotak kardus dan styrofoam. Sempat sesekali tercium bau amis menandakan beberapa  kotak berisi hasil laut. Tidak begitu nyaman dengan wewangian dan ramainya penumpang bongkar-muat, saya segera melangkahkan kaki ke barat menyusuri pesisir Marina.

Sinar mentari mulai menghangati punggung ketika saya menghampiri sekumpulan nelayan yang menjajakan ikannya di pinggir pantai. Tiga bapak-bapak muda tampak berjongkok di sekeliling tumpukan ikan yang tampak segar menggoda. Ternyata dua orang sedang menawar harga ikan Katombo yang baru saja dipancing. Menurut si Penjual, ikan Katombo adalah ikan yang bisa diolah menjadi hidangan apa saja, baik itu dibakar, digoreng atau dibuat hidangan asam manis. Ikan ini tulangnya lunak sekali sehingga jika langsung dicincang dan dicampur dengan bumbu vetsin, jeruk, bawang dan garam dapat langsung disantap tanpa dimasak seperti halnya perangi yang menjadi makanan khas daerah Wakatobi. Dua ekor cakalang juga tampak tergeletak di pinggir, berhasil dipancing hanya menggunakan pancing dan tiras, sejenis kain yang diikatkan di kail. Memang dasarnya cakalang adalah ikan yang agresif, goyangan dan kelebatan kain sudah cukup untuk membuatnya menyambar kail di air tanpa ampun.

Kota Luwuk menyimpan banyak bangunan tua peninggalan Belanda yang masih terawat. Di daerah pertokoan di pasar kota, kita akan melihat banyak sekali toko-toko tua yang berjejeran di jalan. Tembok-temboknya kokoh dan atasnya dihiasi lis tebal serta lengkap dengan aksesori lubang angin yang memanjang. Pintu-pintunya pun dibuat dari kayu yang rapat berjejer, serta warna-warni pastel yang ditorehkan membuat pertokoan ini apik untuk dilihat. Saya menyempatkan singgah ke salah satu rumah makan yang sudah buka dan menghabiskan sepiring nasi kuning lengkap dengan lauknya sebagai bekal perjalanan saya hari itu. Tujuan terakhir saya pagi itu memang adalah kembali ke  Pelabuhan Ampana. Sedianya saya akan berangkat ke Kepulauan Togian menggunakan kapal kayu penumpang ke Wakai dan dari sana meneruskan tujuan dengan speedboat ke Kadidiri. Ternyata, di pelabuhan Ampana sudah merapat tiga buah kapal kayu sejenis. Saya yang sudah memegang tiket KM Duta Samudera segera bergegas menaiki kapal yang sudah penuh sesak oleh penumpang.

 

Getting There :

Saat ini, satu-satunya cara mencapai Ampana adalah dengan mengambil jalur penerbangan menuju Palu atau Poso dan meneruskan perjalanan dengan jalan darat. Maskapai Merpati, Batavia, Lion dan Garuda melayani jalur Jakarta – Palu dengan tiket 700 ribu hingga 1,2 juta rupiah. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan jalur darat selama kurang-lebih 6 jam. Dalam waktu dekat akan dibuka jalur penerbangan langsung menuju Ampana dengan dirintisnya pembangunan bandara kecil kota Ampana.

 

Where to Stay :

Hotel Oasis (0464-21058) adalah pilihan yang baik jika anda hendak menuju Kadidiri Paradise di Togian karena kedua tempat ini dimiliki pengusaha yang sama. Selain Oasis, Marina Inn (0464-21280) juga tersohor akan pelayannya yang baik. Tiket penyeberangan dari Ampana ke Wakai (40.000) tersedia di kedua hotel ini sehingga anda tidak perlu terburu-buru untuk membeli di pelabuhan.

 

What to Do :

Di dalam kota Ampana, anda dapat menyisiri pantai atau sight-seeing menyaksikan pemandangan kota yang tidak begitu ramai namun penuh dengan bangunan-bangunan tua. Di bagian timur terdapat Tanjung Api yang sesuai dengan namanya, di sini terdapat sumber air panas yang masih menggelagak di pinggir pantai dan tidak jauh ke arah laut terdapat tempat yang cocok untuk snorkeling.

Jika ada waktu luang, di beberapa hotel menyediakan paket tour ke perbukitan tengah Sulawesi, menembus hutan hujan tropis menyaksikan mamalia khas Sulawesi serta berkunjung ke pemukiman (lipu) suku terasing Taa di Ampana.

 

Cost  :

–          Tiket bis AC Luwuk – Ampana (9 jam)                               :   70.000,-

–          Dokar kota ke hotel dan ke warung makan                     :   15.000,- (share bertiga)

–          Makan malam kaledo dan minum                                     :   20.000,-

–          Akomodasi semalam di Hotel Oasis                                  : 190.000,- (share bertiga)

–          Makan pagi nasi kuning dan minum                                  :     9.000,-

–          Beli makan siang dibungkus                                               :    7.000,-

19 Responses to “Perjalanan Luwuk – Ampana (Lintas Atas Sulawesi 2 fr 5)”

  1. Anonymous Says:

    edan dah

  2. Nice Bro! Want to go to Togean this Feb. How long from Luwuk to Ampana. Any Car or Taxi can hire from Luwuk to Ampana.

  3. Haloo makasih tulisannya yah.. boleh info bis berangkat jam brp dari luwuk dan tiba jam berapa di ampana? Thanksss

  4. Mas.. kalo dari Palu ke Ampana ada angkutan umum atau travel gitu yah? Masih bingung mo lewat Palu atau Gorontalo.

    • harusnya ada, coba browse ya. Kalau mau cari jarak dekat coba flight ke Poso saja, tinggal sambung 2 jam. Kalau mau ke Togean, lewat Gorontalo saja lebih nyaman asal pastikan ferry nya ada.

  5. in d8=ipalu jln ap busnya

  6. kalo mau ke togean lewat palu bisa, travelnya lebih nyaman, tp jgn milih yg bis, karena kalo naik bis ttp aja ky yg dialamin sy mas heru. Travelnya L300, tarifnya sekali jalan 140.000, brgktnya jam 09.00 dan 17.00 (sehari 2X)

  7. Klw bis dr Ampana ke Luwuk jam brp? Klw Travel gt ada?

  8. masyarakat Taa Says:

    maaf suku Taa tdk Asing di Ampana
    90% orang ampana yaitu suku Taa & bare’e

    • Maaf saya memperoleh info tersebut dari leaflet dinas budpar setempat yang terdapat di sebuah hotel dan juga info dari staf dinas saat saya berkunjung ke Wakai.. terima kasih ataa tambahannya.

  9. mas boleh minta no hpnya saya butuh unformasi perjalanan ke ampena

  10. nice trip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: