My Native Teacher

Oleh : R. Heru Hendarto

Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci umat Islam yang jatuh pada bulan November. Saya dan seorang teman, Adi, yang sama-sama masih rookie dalam tugas ini, diminta kantor untuk melakukan pemetaan batubara di Kalimantan Timur. Setelah melakukan studi pustaka di kantor secukupnya (yang nayatanya malahan jadi membingungkan), kami pun mengambil penerbangan langsung ke Balikpapan dari Jakarta. Target operasi kami adalah Jonggon, sebuah kecamatan kecil yang berjarak 2,5 jam dari kota Tenggarong di Kutai Kertanegara. Jonggon sebenarnya tidak begitu jauh karena hanya berjarak 7 jam perjalanan dari Balikpapan. Tiba di kota Tenggarong dan menginap semalam, kami meneruskan perjalanan menuju Jonggon dengan menggunakan ojek. Siang itu, di bawah rintik hujan, motor kami berjalan kepayahan melewati jalanan tanah becek nan licin di dusun terakhir. “Kita harus nginap sini, GPS-nya menunjukkan koordinat lokasinya dekat-dekat sini loh”, Adi mengingatkan saya. Dia pun lalu berjalan menuju halaman sebuah rumah kayu sederhana dan selanjutnya berbincang-bincang dengan seorang ibu, usia sekitar 40 tahun-an yang sedang berada di serambi. Terdengar suara ibu itu mengizinkan kami untuk menginap di rumahnya. “Tidak masalah, saya dan putri saya bisa memasak. Tapi saya harus memanggil turun suami saya dulu untuk menemani kalian, dia sedang berada di ladang atas. Perlu setengah hari untuk ke sana”, sambung Si Ibu dalam dialek bahasa mengalun yang cukup aneh di telinga. Tapi sungguh saya merasa keluarga ini adalah keluarga yang sangat-sangat membantu, terlebih dia tidak menyebutkan imbalan uang sama sekali di muka walaupun kami baru saja bertemu. Hospitable adalah pelajaran pertama bagi saya saat itu.

Sore itu, kami baru sadar bahwa kami harus menghabiskan malam di sebuah rumah kayu kecil tanpa memiliki kamar sama sekali. Dindingnya tersusun dari deretan papan, demikian pula lantainya. Memang sih terdapat sebuah serambi di bagian depan rumah dan sebuah dapur untuk memasak di belakang, tetapi bangunan utamanya mirip sekali dengan bangsal, hanya berupa lorong lebar dan panjang tanpa perabot, tanpa barang elektronik, dengan sebuah kalendar bergambar artis lokal tergantung dengan manis di dindingnya. Satu-satunya benda yang menghuni pojokan ruangan itu adalah tumpukan karung padi yang berkutu. Kami tahu betul bahwa karung tersebut berkutu karena saat malam tiba, kutu-kutu itu pun berkeluaran dan berkeliaran di lantai dan dinding kayu.  Jangan berharap ada hiburan di sini karena listrik adalah fasilitas mewah sehingga tidak terdengar satu pun lantunan musik atau televisi di sekitar. Suasana tenang itu malah membuat saya menikmati sekali suara hembusan angin yang mengalir di antara pepohonan dan gemericik air sungai yang mengalir deras di antara bebatuan. Tipe rumah mereka adalah rumah panggung, tipe rumah yang umum terdapat di Indonesia dalam bentuk rumah tinggi dengan lantai yang menggantung 1,5 meter dari tanah. Tidak ada toilet juga di sini sehingga untuk menunaikan hajat, saya tinggal memilih sungai di depan atau pekarangan rumput di belakang rumah. Gara-gara kehadiran makhluk agas, untuk urusan buang hajat ke sungai kami harus menghindari waktu senja dan malam hari. Bagaimana kami bisa berkonsentrasi BAB misalnya, jika baru saja membuka celana, pantat saya sudah dihajar oleh keroyokan gigitan agas yang pedas dan sangat gatal? Bagaimana pun, melihat dan merasakan suasana kesederhanaan di rumah itu, Humble adalah pelajaran kedua untuk kami.

Pukul 06.00 sore kami bertemu dengan suaminya, seorang peladang paruh baya dengan perawakan yang kuat. Bersamanya, ikut seorang pemuda usia 25 tahunan yang ternyata menantu sang bapak. Dia menemani mertuanya saat saya mendiskusikan rencana eksplorasi esok harinya. Mereka semua berbicara dalam dialek yang aneh, sangat sulit bagi kami untuk mengerti maksud mereka dan harus beberapa kali meminta mereka mengulang atau memperlambat pembicaraan. Untuk beberapa kata atau kalimat, mereka sering melantunkannya lebih panjang dalam alunan nada yang bergelombang. Misal, kata Jembayan (nama sungai di depan rumah), mereka lafalkan dengan ‘Jembaaiyaan’ (dengan nada fa ree miii). Di saat kami menanyakan upah harian mereka sebagai kru lokal lapangan, dia hanya menjawab : “ Tolong jangan memberi berlebih ke kami, sesungguhnya kami sudah sangat senang kalian mau datang ke sini”. Saya dan teman saya hanya bisa saling berpandangan, “Betapa keluarga yang sederhana dan tulus, mereka tidak mementingkan uang sama sekali”. Biasanya di tempat lain, sangat umum bagi penduduk lokal untuk meminta bayaran dengan jumlah yang sama sekali tidak masuk akal karena mereka tahu bahwa kami sedang dalam misi perusahaan dan pasti dibekali dengan dana yang cukup. Tetapi keluarga ini sungguh berbeda, kami sangat menghormati mereka dan segera berbaur dalam pembicaraan hangat sesudahnya. Sincere adalah pelajaran ketiga kami.

Malam itu dalam suasana keakraban, mereka bercerita bahwa mereka adalah keluarga Dayak dari suku Basap yang pindah mengikuti program transmigrasi sebagai transmigran lokal. Dayak adalah suku asli Kalimantan dan terdiri dari hampir seratus sub-suku yang mereka menghuni bagian pedalaman pulau. Tiap sub-suku memiliki bahasa sendiri, tetapi umumnya mereka dapat berbicara satu sama lain dalam bahasa Dayak persatuan. Sangat mengejutkan bahwa batas teritori setiap sub-suku tidaklah berbentuk jelas. Pada perjalanan lain ke pedalaman hutan hujan Kalimantan, saya sering melewati beberapa pohon yang ber-tato sebagai penanda batas desa. Tetapi yang paling menarik adalah saat saya berjalan melompati sebuah sungai kecil selebar 1,5 m dan pemandu saya tiba-tiba memberitahu bahwa sungai tersebut adalah batas kekuasaan bagi suku Dayak di seberang! Dua-tiga dekade sebelumnya, suku Dayak masih terkenal dengan tradisi Ngayau-nya. Pada acara pernikahan atau upacara pelantikan, lelaki Dayak pergi memburu kepala musuh mereka sebagai tanda kedewasaan dan keberanian. Saat ini, ritual itu hampir musnah tetapi kita masih bisa menyaksikan tengkorak-tengkorak sisa Ngayau terakhir. Kami mengambil kesimpulan bahwa keluarga ini adalah Dayak modern yang membuka diri mereka terhadap peradaban baru. Mereka juga mengaku muallaf, baru saja menjadi keluarga muslim dan mereka bahagia dapat menerima tamu sesama muslim di bulan suci Ramadhan. Dan di malam itu, sebelum kami memulai Tarawih mereka membersihkan lantai kayu rumah mereka dan menutupinya dengan selimut bersih sebagai tempat untuk kami sholat. Sebagai muallaf,  mereka belum dapat menunaikan sholat dengan baik sehingga mereka bergeser ke pinggir rumah tanpa bersuara. Akan tetapi mata mereka selalu memperhatikan gerak-gerik kami seolah-olah sedang mempelajari gerakan sholat. Open minded adalah pelajaran keempat kami.

Karena kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, tepat seusai Tarawih kami pun tertidur. Saya cukup kaget juga karena kami semua tidur dalam satu ruangan. Adi, saya, si menantu dan istrinya serta si Ibu dan Bapak tidur berjejeran sebelah-menyebelah. Walaupun merasa heran dan tidak biasa dengan kondisi seperti itu, tetap saja akhirnya saya pun terlelap. Selanjutnya pukul 04.00 dini hari, kami harus bangun untuk sahur. Saya memperhatikan bahwa si ibu sudah bangun dari pukul 01.00 malam, dan memasak untuk kami. Jadi, saat kami bangun hidangan sahur pun sudah tersaji. Menu sederhana saat itu adalah ubi rebus, sayuran, tempe, telur rebus dan nasi hangat. Kami menawari mereka untuk sahur bersama tetapi dengan halus mereka menolak. Sebagai muallaf, mereka belum dapat menunaikan puasa sepenuhnya karena belum siap dengan perubahan kondisi tubuh mendadak. Sahur saat itu sungguh nikmat bagi kami, mengingat pengalaman di tempat lain di mana sang empunya rumah tidak mau repot-repot menyediakan makanan sehingga kami harus puas dengan sahur nasi berlauk mi rebus dan telur jika kami beruntung. Walaupun mereka tidak sahur, tetap saja mereka berempat sekeluarga menemani kami menikmati makanan. Mereka menyajikan sayuran dan menambahkan teh hangat ke dalam gelas kami dengan cara yang sopan dan mengesankan. Respect adalah pelajaran kelima bagi kami.

Saya telah menyusun rencana untuk meng-cover seluruh lokasi dalam waktu 6 hari akan tetapi kami kaget karena menemukan bagian tengah area yang harus kami cover ternyata ditutupi rawa yang luas sehingga mustahil untuk bisa ditembus. Selama tiga hari kerja, si bapak dan menantunya sangat membantu kami. Parang di tangan mereka membabat habis semak belukar tropis Kalimantan sehingga saya dapat melewatinya dengan leluasa. Mereka juga tidak sungkan-sungkan mengangkat ‘tubuh kebo’ saya yang seberat 80 kg melalui sungai-sungai kecil dan memijat kaki setelah lelah lima jam berjalan terus-menerus di bulan puasa. Kami  berbincang dengan akrabnya, si menantu berkata bahwa dia sungguh bahagia memiliki istri yang sedang mengandung dan tidak sabar lagi ingin menjadi seorang bapak (walaupun kami kebingungan akan proses hamilnya mengingat rumah itu tidak memiliki kamar sama sekali). Mertuanya hanya tersenyum lebar ketika si menantu bertutur, namun tampak jelas raut wajah bangga terpancar dari wajahnya. Kami seperti keluarga saja saat itu, tanpa ada batasan antara atasan dan bawahan sama sekali. Blending in adalah pelajaran keenam.

Di hari terakhir, kami hanya bekerja setengah hari dan bergegas kembali ke rumah untuk bersiap-siap. Setelah kami packing peralatan, teman saya menanyakan berapa beaya yang harus kami bayar untuk semuanya. Sang suami dan istri tersebut menyebutkan sejumlah angka. Kembali, kami terkejut mendengar rupiah yang disebut. Sang bapak dan menantunya hanya menagih sejumlah kecil nilai rupiah untuk pengganti jerih payah mereka sebagai kru lapangan. Sama dengan suaminya, sang istri hanya meminta penggantian bahan makanan saja. Hal lain seperti akomodasi dan laundry sepenuhnya gratis, kami hanya harus mengganti deterjen saja. Kami sangat terkesan dengan kepribadian mereka, memang mereka hidup dalam kesederhanaan tetapi prinsip hidup mereka sangat-sangat luar biasa. Lebih lagi, di saat kami akan pergi, mereka membekali kami dengan buah-buahan dan hasil panen yang melimpah! Tentu saja, don’t judge everything on money menjadi pelengkap nilai kehidupan berharga yang saya dapatkan dari mereka. Mengagumkan!

 

Moral of The Story :

Kadang-kadang nilai-nilai kehidupan yang berharga tidak didapat dan berasal dari lembaran buku-buku tua atau petuah orang-orang bijak.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: