Perjalanan Ampana – Togean (Lintas Atas Sulawesi 3 fr 5)

Oleh : R. Heru Hendarto

Sekitar 200 orang penumpang sudah memenuhi KM Duta Samudera dan saya tidak kebagian tempat sama sekali. Kapal ini memiliki dipan-dipan bertingkat di deknya dan diisi oleh para penumpang. Sebagian besar dipan dilengkapi dengan kasur busa plastik tipis untuk tempat berbaring namun sepertinya  penumpang malah lebih suka menggunakan sarung sebagai alas. Saya yang datang pukul 10.30 pagi, hanya bisa naik ke dek dua dan merebahkan badan di buritan kapal dekat tangga naik di atas ruang mesin. Ternyata saya tidak sendirian, sekitar 10-an turis asing dari berbagai negara pun bernasib sama,  terdesak di belakang berikut tas-tas rucksack kami yang segede gaban. Saya sendiri tidak masalah karena toh perjalanan hanya  5 jam, demikian juga mereka sehingga kami yang senasib pun share tempat duduk. Belgia, Spanyol, Belanda, dan Perancis adalah negara asal bule-bule ini. Saya pun berkenalan dengan beberapa orang termasuk Raul, seorang bule santun khas mediterania. “Well, I’m a teacher and every holiday I went abroad, this time Indonesia, India year before”, katanya. Wah, enak banget kayaknya ya jadi guru di luar negeri ternyata bisa travelling ke luar. Kapan ya guru-guru kita bisa melakukan hal yang serupa pikir saya. Saya pun berbasa-basi sejenak, sambil kaget juga takjub, saya yang setinggi 1,8 m ternyata tidak ada apa-apanya dibanding Raul yang tinggi dan kekar ini. Tapi saya tetap bersyukur walau kalah tinggi karena di langit-langit atas saya, tampak paku-paku runcing bermunculan dengan seramnya. Saya yakin jika tersenggol, lukanya tidak akan seberapa namun tetanusnya itu yang bisa membuat saya “lewat”.

Tepat 10.42 siang, ketiga kapal berangkat hampir bersamaan dari pelabuhan Ampana. Cuaca demikian cerahnya saat itu dan angin bertiup sedang menerpa kapal. Rasa kantuk yang datang mendera tiba-tiba hilang ketika saya dikagetkan dengan pemandangan indah di perjalanan menuju Wakai. Di beberapa tempat, tersebar pulau-pulau kecil dengan pesisir yang berwarna hijau toska. Tampak deretan rumah-rumah kayu di kampung-kampung nelayan pada sudut-sudut pulau yang terlindung dari ombak. Sepertinya damai betul jika benar-benar bisa tinggal di kampung nelayan itu, satu-satunya keramaian hanyalah deburan ombak yang terhempas indah tersaji gratis di depan.

Tiba-tiba terdengar suara berisik dari ruangan bawah, seperti suara mesin yang jammed dan terlihat pula kepulan asap hitam keluar. Dua orang crew kapal yang sebelumnya tenang-tenang saja di atas, langsung membuang rokoknya dan berlari ke bawah. Saking kencangnya, tangga turun 2 meter yang curam mereka lewati dengan sekali lompat! Mesin pun mati total sementara penumpang menjadi gelisah karena kapal terombang-ambing angin timur dan mulai menjauhi Pulau Batudaka. Sinyal handphone sudah lenyap dari dua jam sebelumnya sementara dua kapal lainnya sudah tidak tampak di muka. Tepat pukul  13.50 siang status kami berubah menjadi penumpang kapal hanyut. Kami dan para bule yang notabene pendatang, tidak bisa menutupi kecemasan tergurat di wajah kami. Penduduk lokal pun, yang sehari-harinya terbiasa menggunakan moda transportasi ini beberapa kali menghela nafas keras dan bergumam kesal. Untunglah, mesin segera berputar kembali dan kapal pun meluncur walau perlahan menuju Wakai. Ternyata, kerusakan tadi diakibatkan engine fan-belt yang putus sehingga perbaikan pun dilakukan seadanya dan mesin digeber pelan untuk mencegah kerusakan terulang.

Mendekati ashar, kapal pun merapat di Wakai yang merupakan ibu kota dari kecamatan Una-Una. Kami yang kebingungan karena belum melakukan reservasi sebelumnya  lantas menaiki salah satu perahu milik resort yang memang tersedia di situ menunggu pelanggan. Dari tiga buah pengelola resort di pulau Kadidiri, kami memilih Kadidiri Paradise karena berharap masih ada kamar yang tersisa. Liburan musim panas kali ini membuat tempat sekualitas surga ini disesaki pengunjung luar. Saya sendiri tidak masalah, kalau penuh pun masih bisa memilih opsi untuk menginap di pantai saja ditemani bulan yang mulai merona penuh. Yang penting, ada tempat untuk MCK dan makan saja sudah lebih dari cukup. Raul dan Muhida yang berasal dari Perancis pun setuju dengan saya. Lagipula mereka telah menempuh penerbangan beribu-ribu mil ke Jakarta dan bersusah payah menuju kepulauan terpencil di Teluk Tomini ini, tentu tidak akan kembali begitu saja dengan mudahnya. Dari pembicaraan motorist yang mengendalikan perahu, samar-samar diantara deru mesin saya dengar resort hampir penuh. Hampir bagi saya adalah harapan walaupun  saya sadar saat itu kami datang bertiga belas, jumlah yang cukup banyak. Lima belas menit kemudian, di bawah cuaca mendung, kami pun sudah tiba di pesisir Kadidiri. Saya dan beberapa tamu beruntung masih memperoleh kamar sementara empat orang terpaksa tidur di ruang santai lantai dua. Sedianya, esok yang hari Minggu, akan banyak pengunjung yang check out sehingga pengorbanan hanya perlu dilakukan malam ini.

Tidak membuang waktu, saya segera lari ke pantai menikmati suasana sore itu. Penginapan-penginapan  di Kadidiri resort memanjang menghadap ke barat, tersusun berturut-turut dari utara ke selaran, Kadidiri Paradise, Black Marlin dan Lestari Kadidiri. Kadidiri Paradise menempati lahan terluas sementara dua resort lainnya dibentengi belakangnya oleh julangan tebing gamping. Kadidiri Paradise sendiri cukup apik dengan view-nya menghadap laut lepas dan jetty kayu yang menghiasi. Dua resort lainnya malah tidak kalah cantik karena di depannya terdapat pulau-pulau kecil karang seolah-olah seperti pot raksasa yang membingkai pantai itu. Tempat ini begitu tenangnya sehingga kita serasa berada di dunia lain. Hanya ada deburan ombak dan lambaian pulau kelapa yang menemani. Di pantai, tampak karang-karang hidup berwarna-warni melambai-lambai terayun oleh arus laut dan di sisinya beberapa turis sedang bersenda-gurau dalam air. Menguping pembicaraan turis di samping, terdengar bahwa beberapa dari mereka akan menuju Fadhila Cottage di desa Katupat yang berjarak satu jam perjalanan dari Kadidiri. Untuk fasilitas, Kadidiri memang nomer satu tapi soal akses ke lokasi diving yang tersebar di Togian, pulau Katupat adalah tempat yang paling cocok.

Beberapa turis bermain beach volley sementara sisanya tergeletak di pantai berleha-leha sambil membaca buku. Dari tebal buku yang mereka baca, saya dapat mengira-ngira berapa lama liburan mereka sesungguhnya. Delapan sentimeter tebal buku yang mereka baca, dipastikan liburan mereka tidak kurang dari 3 minggu sedangkan buku-buku setebal Kamus Umum Bahasa Indonesia biasanya mereka habiskan kurang dari 2 minggu. Beberapa dari merasa terusik dan memandang curiga ke saya yang menenteng kamera DSLR mendekati posisi mereka. Saya tersenyum saja dan membalikkan badan menghadap matahari yang mulai bergerak mendekati ufuk sambil menancapkan tripod. Mungkin dikiranya saya mau mengambil gambar mereka. Maaf ya, kalo bikini saja sih gampang kok nyarinya, tapi sunset yang merona merah di tempat terpencil di tengah Teluk Tomini adalah moment yang sangat-sangat jarang bisa diperoleh orang. Tidak banyak orang Indonesia yang melakukan perjalanan ke sini dan beruntung bisa mengabadikan keindahan surga Tomini yang malahan lebih tersohor di Eropa ketimbang negeri sendiri.

Sebenarnya saya agak pesimis dengan cuaca perairan sore itu. Sedari siang mendung menggantung di atas Tomini sehingga matahari pun terhalang sinarnya. Namun, saya yang sudah sering menghabiskan waktu memburu sunrise dan sunset di Indonesia timur masih bersemangat karena awan yang menggantung hanya terdiri dari satu lapis saja. Jika matahari sudah tenggelam sejenak dari ufuk, bias sinarnya masih cukup terang untuk memberi rona yang indah di awan yang menggelayut tinggi. Benar saja, tiga menit setelah matahari masuk sepenuhnya ke permukaan laut, sinarnya memberikan rona jingga, merah dan ungu yang begitu indahnya. Beberapa turis yang tersadar akan indahnya sunset kala itu berlarian ke jetty kayu dan ikut mengabadikan keindahan alam yang tak terkira ini.

Malam hari pukul 19.00, kami semua makan malam bersama di aula besar. Dari 32 orang tamu malam itu,  hanya kami bertiga yang berwajah lokal. Walhasil, oleh pemilik penginapan, kami disediakan tempat tersendiri di pojokan. “Supaya tidak diganggu, Mas,” demikian kata Lina, kepala pelayan di situ. Entahlah, apa agar kami yang  tidak diganggu atau malah yang tidak mengganggu, yang jelas kami menikmati sekali menu makan malam saat itu. Seekor ikan bakar bubara besar (jackfish) terhidang di meja kami, demikian pula spaghetti bologna porsi jumbo. Kami pun yang memang kelaparan sedari sore, langsung melahap hidangan tersebut dengan cepatnya. Tidak disangka, desert pun terhidang dan hanya khusus ada di meja kami yaitu bakwan. Tiga orang bule di samping saling adu pandang dan kemudian tanpa ragu meminta bakwan kami itu. Kesulitan menjelaskan apa itu bakwan dalam bahasa Inggris, teman saya hanya berujar : “fried vegetables”. Mereka sepertinya mengangguk mengerti dan ludeslah bakwan jatah kami itu. Pukul 20.30, kami semua terkapar kekenyangan di jetty kayu Kadidiri Paradise sambil menyaksikan bulan purnama yang menggantung terang dengan eloknya di atas perairan Tomini. Pengunjung lain tampak duduk-duduk di seputaran api unggun dan menyetel lagu dari music player yang mereka bawa. Kami pun ikut terbawa beat lagu pop yang enak di telinga, yang ternyata disetel oleh dua orang bule Finlandia. Sayup-sayup deburan ombak terdengar, membuat saya segera kembali ke kamar untuk beristirahat malam itu, mempersiapkan fisik untuk aktivitas esok harinya.

Getting There :

Kepulauan Togian hanya dapat ditempuh melalui dua jalur, Ampana dan Gorontalo. Dari Ampana, tersedia setiap dua hari sekali kapal kayu penumpang yang berangkat menuju Wakai. Tersedia juga ferry penyeberangn KM Puspita dan Tuna Tomini yang masing-masing beroperasi satu kali seminggu dengan tujuan Gorontalo – Wakai – Ampana pp. Tiket rata-rata 100.000 rupiah. Dari Wakai, perjalanan ditempuh dengan speedboat atau ketinting ke masing-masing resort di Kadidiri secara gratis.

Alternatif lain adalah menyewa speedboat dari Marisa, sebuah kota kecil sejauh tiga jam dari Gorontalo, dan jalur ini hanya dapat ditempuh dengan menyewa speedboat berkapasitas 6 orang dengan harga 2,5 – 3 juta rupiah sekali jalan dengan waktu tempuh 2 jam.

Where to Stay :

Black Marlin (085657202004) adalah resort yang direkomendasikan oleh Lonely Planet, dan Kadidiri Paradise juga cukup layak untuk dicoba. Masing-masing memasang harga 150 – 200.000 per kepala per malam, termasuk makan tiga kali sehari. Jika budget anda terbatas, anda dapat mencoba Lestari Kadidiri yang dikelola Pak Aka dan Ibu Inu (085823641843). Tempatnya lebih sederhana namun lebih alami dengan harga 100 ribu per kepala per malam.

What to Do :

Kepulauan Togian adalah surga bawah laut yang setara keindahannya dengan Raja Ampat, Wakatobi dan Bunaken. Aktivitas diving dapat anda lakukan di sini, tentu saja dengan menyewa pealatan selam. Instruktur PADI dapat anda temui di Black Marlin. Sekedar snorkeling di sekitar pulau pun sudah cukup menyenangkan, bahkan di Lestari Kadidiri menyediakan fasilitas snorkeling gratis.

Di bulan Juli diadakan Festival Togian yang berpusat di Togian dan Ampana. Anda akan mendapatkan kepuasan wisata yang cukup lengkap mulai dari wisata alam dan budaya, dari gunung hingga terumbu karang bawah laut di Kepulauan Togean.

Cost  :

–          KM Duta Samudera Ampana – Wakai (5 jam)                  :   40.000,-

–          Akomodasi satu malam Kadidiri Paradise                        : 200.000,- (per kepala)

10 Responses to “Perjalanan Ampana – Togean (Lintas Atas Sulawesi 3 fr 5)”

  1. Farid itu yg gemuk itam bukan bang? panggilan nya Baygon. hehe.. abang kapan kesana? aku br 2 minggu lalu dr sana. nginap di kadidiri paradise, ambil dive trip soalnya..
    iya tu. Katupat, Bomba, Poyalisa yg ada di pulau2 lain katanya menarik jg utk dikunjungi, byk pantai bagusunya..

    • hahaha betul, deskripsinya begitu..tapi ga tau kalo panggilannya baygon. Aku ke sana dah lama, bertiga di tahun 2009 an apa 2008 gitu… Ga sempat kemana-mana selaian Wakai Kadidiri soalnya lanjut terus dari luwuk sampe manado…nanti kuposting yang trip terakhir ke manado..InsyaAllah

  2. Mas, boleh tanya detail mengenai perjalanan menggunakan KM Duta Samudera? Apakah kapal berangkat tiap hari dan jam berapa berangkatnya. Saya sedang menyusun rencana perjalanan Ampana-Togean-Ampana.
    Thanks

  3. Kapal ada tiga, berangkat saat itu dua hari sekali (hari ini berangkat besok kembali). Biasanya datang dari Wakai hari Sabtu dan Minggu kembali ke sana lagi, dan seterusnya. Jadwalnya sih berangkat jam 10 dan tiba jam 1.30, namun sering molor. Jika mau tanya jadwal terupdate telpon Hotel Oasis : baca di dua postingan sebelum ini

    https://toekangbatoe.wordpress.com/2011/10/21/perjalanan-luwuk-%E2%80%93-ampana-lintas-atas-sulawesi-2-fr-5/

    salam

  4. mhn info, untuk yg dari Ampana, tersedia setiap dua hari sekali kapal kayu penumpang yang berangkat menuju Wakai [biasanya hari apa yah?].

    • waktu itu sih berangkat dari Ampana Minggu, Senin kembali ke Ampana, tinggal diurutkan saja harinya. Namun, untuk pastinya , apalagi perjalanan ini sudah lama, silakan dibrowse data terakhir atau coba2 minta bantuan ke hotel Oasis untuk jadwa kapal itu.

  5. loved d pics…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: