Yang Lokal yang Orisinal

Berkesempatan mengunjungi banyak daerah terpencil di Indonesia, bertemu dengan berbagai ragam suku negeri ini dalam ciri khasnya masing-masing adalah suatu anugerah seorang field geologist yang tak terhingga dari Yang Mahakuasa. Lambat laun, dalam interaksi kita dengan orang-orang lokal, kita akan dapat menyimpulkan sendiri karakter mereka sehingga dapat memilih pula ‘cara bergaul’ yang tepat. Namun umumnya kami para geologist tidak begitu banyak kesulitan bergaul dengan helper lapangan yang kami ambil dari penduduk setempat, di daerah manapun! Hampir setiap waktu suasana akrab dapat kami ciptakan dengan baik. Saya pikir salah satu faktor penyebabnya adalah kenyataan bahwa saat bekerja di lapangan, kami tidak memiliki batas hierarki atau jabatan. Maksud hierarki di sini adalah, antara field geologist dan helper lapangannya sama-sama senasib sepenanggungan. Bagaimana tidak, wong dari sisi penampilan kami tidak ada bedanya, sama-sama kucel, lusuh, bau dan berdebu. Yang membedakan penampilan di antara kami adalah bahwa geologist biasanya menenteng GPS (Global Positioning System) sedangkan helper-nya kebagian membawa golok. Selebihnya sih sama saja, apa yang kami makan mereka juga makan. Kami kehujanan mereka juga kehujanan, kami sakit mereka pun juga merasakan sakit yang sama. Jangankan dengan kru, dengan sesama staf saja nyaris sulit dibedakan mana yang senior dan mana yang yunior, kecuali dari raut muka mungkin. Karena faktor kebersamaan inilah, seringkali hubungan kami berakhir seperti sahabat, bukan seperti layaknya atasan dan bawahan. Waktu sudah berlalu bertahun-tahun tapi sering komunikasi kami masih terjalin erat dengan baik, walau sekedar bernostalgia pengalaman gila saat dahulu eksplorasi di tengah hutan rimba.

Pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan Timur, saya membawahi sekitar 6 orang kru lokal untuk melakukan eksplorasi awal batubara. Enaknya membawahi helper lapangan di daerah Kalimantan adalah, rata-rata mereka adalah forester yang handal. Walaupun sebagian juga berprofesi sebagai nelayan, namun hampir semua dari mereka juga memiliki kebun atau ladang di dalam hutan sehingga urusan terabas-menerabas dan babat hutan pun mereka sudah piawai. Golok di pinggang, topi lusuh di kepala, rokok di mulut serta sepatu bot karet sepertinya adalah asesori wajib mereka saat memasuki hutan. Karena asli dan lahir-besar di situ serta sering menjelajah daerah sekitarnya, mereka pun sangat menguasai medan dengan segala shortcut yang ada di dalamnya. Sangat-sangat menguntungkan bagi kami para geologist, karena menggunakan berbagai alternatif jalur yang sudah ada akan lebih cepat dan efisien dibanding jika kami harus membuka membuat sendiri jalur yang sama sekali baru. Kalimantan sendiri adalah pulau yang kaya akan batubara, sehingga otomatis masyarakatnya pun sudah terlatih dan cukup berpengetahuan. Tidak perlu repot-repot menjelaskan panjang lebar tentang kenampakan fisik batubara, mereka sendiri sudah hapal. “Hitam, berlapis memanjang dan gampang terbakar kan Pak?”, imbuh mereka. Dan memang, rata-rata mereka menemukan singkapan batubara secara tak sengaja saat membakar membuka ladang baru dan menemukan bahwa ada bagian tertentu yang selalu berasap dan apinya sukar sekali padam walau ditimpa hujan sekali pun. Karena itu pulalah, saya cukup senang bila bertugas di Kalimantan. Bukan apa-apa, program eksplorasi bisa berjalan lebih cepat dari rencana awal. Bila bertemu beberapa percabangan sungai, saya cukup menunggu di situ dan memerintahkan mereka menyebar mengikuti masing-masing alur sungai dalam radius 2 km. Jika menemukan batubara, mereka akan memberi kode berupa teriakan “Au!” dan saya pun tinggal menyusul mereka untuk melakukan deskripsi singkapan tersebut. Jika tidak dapat, dalam waktu kurang dari 1 jam mereka sudah berkumpul kembali di tempat saya menunggu untuk meneruskan perjalanan menyisiri daerah selanjutnya, praktis bukan? Malahan beberapa kru senior sudah ada yang mahir mempergunakan GPS, paling tidak untuk sekedar mengunci koordinat lokasi singkapan. Untuk kru seperti ini, lebih gampang lagi. Saya akan tunjukkan peta dengan lokasi yang harus dia sisir dan minta dia menandai koordinat singkapan batubara yang ditemui dengan GPS. Itu untuk penduduk yang sudah familiar dengan yang namanya GPS, lain cerita jika ketemu penduduk yang baru pertama kali melihatnya. Mungkin karena heran bercampur kagum karena’alat sakti’ ini selalu dibawa kemana-mana oleh geologist, mereka pun jadi penasaran. “Pak, pakai alat ini bisa tahu di bawah ada batubaranya atau tidak ya?”, begitu dengan polosnya mereka bertanya. Gubraak! “Walah Pak, kalau cukup dengan GPS bisa tahu ada batubaranya apa tidak, nggak bakalan kantor repot-repot mengirim satu tim geologist kemari”, demikian sambung saya sambil tersenyum. Namun, ada satu pertanyaan dari orang lokal yang paling susah saya jawab : “Pak, biasanya kan jika di atasnya ada batubara dan sudah habis ditambang, di bawahnya pasti masih ada emas kan ya?”. Tidak dijawab salah, jika dijawab pun mesti panjang lebar dan akan semakin membingungkan si Penanya. Di tahap-tahap awal eksplorasi, sebagai kompensasi, biasanya kru lokal Kalimantan pun akan meminta bayaran harian yang relatif lebih mahal dibanding daerah lain di Indonesia. Karena harga upah harian tersebut sudah menjadi standar tak resmi yang berlaku setempat, selanjutnya kami hanya bisa ‘bermain’ di item lainnya : upah harian sudah termasuk rokok dan makan atau tidak?

Broker lokal adalah orang-orang yang sangat saya hindari di lapangan, terlebih-lebih di Kalimantan. Saat booming harga batubara dahulu, semua orang berlomba-lomba dan latah terjun ke bidang batubara. Sudah barang umum bahwa sebuah lahan konsesi batubara yang dimiliki si Anu, dapat dipromosikan dan dijual oleh beberapa orang marketer sekaligus yang biasanya adalah saudara atau teman dekatnya. Parahnya, marketer ini juga bisa merekrut beberapa orang lainnya untuk membantu mereka, demikian seterusnya. Jadi, bisa saja pemilik lahan yang asli, sudah tidak tahu lagi siapa-siapa saja orang yang berkeliaran di luar memasarkan lahan batubaranya. Saya pun pernah kena sialnya saat diajak seseorang untuk meninjau lahan batubara milik seorang haji di seputaran Samarinda. “Wah Mas, itu batubaranya luas sekali, behampar di mana-mana pang!”, demikian katanya. Tertarik dengan kata-katanya, saya pun akhirnya berangkat ke tempat yang disebutnya. Satu jam berikutnya, begitu turun dari mobil, kami segera disambut dua orang dengan parang terhunus. Perang mulut pun segera terjadi, tentu saja akhirnya saya pun diam saja membiarkan broker tadi yang berurusan dengan para penjaga sangar itu. Setengah mati si Broker berusaha menjelaskan posisinya sebagai ‘marketer resmi’ lahan itu, setengah mati pula si penjaga ngotot sambil mengacung-acungkan golok mengkilapnya. Diurut-urut, si Broker ini memang adalah broker tangan kesekian dari si Haji sehingga dua penjaga yang adalah saudara langsung pemilik lahan pun tidak mengenalnya sama sekali. Entah apa yang dinegokan, hingga akhirnya dua puluh menit kemudian kami diperbolehkan masuk ke lokasi. Hanya sepuluh menit memasuki lokasi, saya pun dengan kecewa dan segera kabur meninggalkan lokasi. Si Broker yang keheranan pun bertanya : “Kenapa Mas, kok cepat sekali survey-nya?”. Tidak membuang waktu dan basa-basi, segera saya mengambil selembar kertas dan menggambarkan kenampakan batubara yang dia sebut behampar itu. Jadi, pada tipe batubara muda (kalori rendah), karena proses kompaksi serta pematangan yang tidak lama biasanya mereka memiliki bentuk perlapisan yang dip/kemiringan batuannya tidak konsisten. Karena itu lah, perlapisan yang meliak-liuk tak teratur itu seolah-olah di permukaan tampil seperti singkapan yang tersebar di mana-mana dengan jumlah perlapisan yang banyak. Padahal, tubuh lapisan yang seolah-olah banyak itu hanya satu. Dan jika kita gali dengan seksama, tebalnya pun hanya 30 cm, buat apa? Wong selain harganya jatuh, mengambilnya juga mau pakai apa, pokoknya jauh dari kata ekonomis lah! Dikasih gratis juga orang pada nggak mau. Anehnya, dia tidak kecewa sama sekali ke saya karena jualannya gagal. Bahkan dia malahan senang mendapat penjelasan gamblang seperti itu. Syukurlah, walau sempat clash dengan penjaga dan tertipu dengan batubaranya, broker tadi masih waras. Sering kasus terjadi, saat suatu lahan dinyatakan tidak prospek, si geologist-nya yang dibodoh-bodohin. Tidak hanya oleh broker atau pemilik lahan, saya sendiri pun pernah disindir oleh seorang direktur sebuah perusahaan besar karena dianggap lambat dalam melakukan survey permukaan. Saya hanya berkata pelan, “Pak, saya melakukan semua sesuai prosedur dan saya tidak paham deal-deal Bapak dengan pemilik lahan. Jika saya menyatakan tidak prospek, dan suatu waktu jika harga batubara tidak berubah tiba-tiba ada geologist lain menyatakan lahan tersebut prospek dan sukses ditambang, betapa malunya saya Pak!”. Syukurlah, dari sekian puluh konsesi yang saya datangi, setiap saya nyatakan tidak prospek, belum pernah kejadian tiba-tiba lahan tersebut berubah menjadi tambang. Yah, jelek-jelek begini, saya selalu berusaha bekerja secara profesional.

Untuk soal keahlian merambah hutan, rata-rata kru lokal Kalimantan memang tidak diragukan lagi kehebatannya. Walau pun begitu, saya akhirnya terpaksa membuat kesimpulan empiris bahwa dibalik kehandalannya, rata-rata kru lokal ataupun helper lapangan di Kalimantan sangat ‘pelit’ dalam urusan terabas-menerabas semak perdu untuk merintis jalan. Lah, mereka yang memiliki tinggi rata-rata 1,55 m tentu saja dengan enaknya dapat dengan cepat menerobos semak-belukar hutan hujan Kalimantan yang terkenal rapat hanya dengan tiga-empat kali tebasan parang. Sedangkan saya yang memiliki tinggi 1,78 m tentu saja sangat kerepotan ketika harus menyusul melewati lorong imut yang mereka buat itu. Dengan gaya menunduk terpaksa, resiko tersering yang saya hadapi adalah keseleo tersandung akar tanaman atau baret berdarah di dahi dan pelipis karena terhantam ranting tajam dan duri perdu. Pernah suatu waktu di pesisir Kalimantan Selatan, kelopak mata kanan saya tertusuk duri perdu sehingga sampai tertarik ke atas. Benar-benar bersyukur sekali saya saat itu karena geser 1 cm saja, bisa-bisa kornea mata saya yang kebagian tertusuk duri tajam itu.

Hambatan lain yang saya temui adalah saat pengalaman memasuki pedalaman Purukcahu, Kalimantan Tengah, yang banyak dihuni oleh berbagai ragam suku Dayak. Walaupun kru lokal yang saya bawa juga orang Dayak, namun saking banyaknya suku di sana dan beragam bahasa yang digunakan, sering kali mereka pun keder. Saat saya survey memasuki belantara, saya berjalan santai serta melompati sebuah sungai kecil yang hanya selebar 1,5 meteran. Tiba-tiba helper saya berkata pelan : “Pak, kita jangan lewat sini ya”. “Kenapa?”, tanya saya heran. Dia pun menjawab sambil memasang raut muka cemas : ”Sungai ini batas wilayah suku Dayak lainnya Pak, dan saya tidak paham bahasanya sama sekali. Okelah, saya pun memilih mengalah karena saya percaya penuh dengan helper karena merekalah yang lebih ‘arif’ akan situasi setempat ketimbang saya yang notabene hanyalah pendatang singkat. Oh ya, di daerah ini pulalah pengalaman paling bergidik yang pernah saya rasakan. Bukan apa-apa, di sepanjang jalan tanah yang membelah hutan di sana, dilalui berbagai jenis kendaraan mulai dari sepeda motor hingga truk logging kayu. Nah kebiasaan masyarakat di sana adalah, jika terjadi kecelakaan yang melibatkan melayangnya nyawa manusia, tepat di pinggir jalan akan dipasang patung kayu manusia sebagai penanda korban. Jadi jika kita melewati sebuah tikungan dan menemukan ada sebuah patung kayu di pinggir jalan, berarti di situ pernah terjadi kecelakaan yang menewaskan satu orang. Di beberapa tempat tampak ditemui dua hingga tiga patung berjejer, menandakan adanya kecelakaan masal di situ. Dan di sepanjang jalan itu, jika dihitung-hitung, ada hampir dua puluhan patung yang tegak berdiri di pinggir. Jika malam hari, suasana gelapnya, sepi dan bunyi-bunyian hutan semakin menambah parah suasana. Apalagi kelebatan cahaya lampu mobil yang lewat membuat seolah-olah patung tersebut tampak hidup, mulutnya menyeringai dan matanya memelototi kita, hiiiii.

Apakah untuk urusan eksplorasi, Kalimantan relatif lebih enak dari pada pulau lainnya di nusantara? Tidak juga sebenarnya, karena sudah banyaknya penduduk yang paham dengan batubara dan bahan tambang lainnya, seringkali mereka pun menjadi komersil habis. Ada banyak desa di Kaltim dan Kalsel yang penduduknya mensyaratkan membayar sekian rupiah bagi kami hanya untuk sekedar berjalan melewati kebunnya, dengan nominal yang jauh berlipat bila kita melakukan pengeboran di lahannya dan biasanya berujung ke harga yang tak masuk akal saat kita akan membebaskan tanah tersebut untuk keperluan penambangan. Batas-batas tanah pun sering tumpang-tindih dan menjadi isu pelik yang harus diselesaikan. Jika suatu saat anda bertemu penduduk lokal dan bertanya : “Tanahnya sampai mana Pak batasnya?”. Jangan kaget jika yang bersangkutan menjawab dengan santainya sambil menunjuk ke sebuah bukit yang jaraknya mungkin 20 kilometer jauhnya : “Ya dari sini lah Dik, terus ke sana sampai sejauh mata memandang!”. Di luar Jawa, jangankan sertifikat, tanah dengan status girik pun jarang dimiliki penduduk. Mereka hanya mengandalkan pengakuan sepihak mengenai batas tanah yang mereka garap dan jelas menimbulkan kesulitan yang pelik saat dilakukan inventarisir luas dan pemilik tanah dalam keperluan ganti rugi lahan. Hal ini dikarenakan di Kalimantan, tanah masih luas tersedia dimana-mana. Jadi anda dapat begitu saja membuka hutan baru dan mendirikan ladang di sana seluas kita mampu menggarapnya. Sebagai bukti kepemilikan, cukup patok penanda batas kebun dan pemberitahuan ke kepala desa. Asal ladang kita tidak tumpang-tindih dengan ladang sebelahnya, biasanya kepala desa akan setuju-setuju saja. Urusan ukur-mengukur luas dan kesepakatan tertulis bersama antara pemilik ladang sebelah-menyebelah, itu urusan ke sekian. Apalagi urusan pembuatan girik ataupun pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan, hampir mustahil ditunaikan jika tidak ada kepentingan tertentu atas lahan itu.

Lain di Kalimantan, lain pula di Halmahera. Saat kami melakukan eksplorasi di daerah Waisumo, sekitar 1,5 jam utara kota Buli, kami berhadapan dengan penduduk lokal yang begitu baiknya. Rata-rata kru lokal kami ambil dari daerah sekitar situ saja, dan memang saat itu merupakan suatu anugerah akan kemudahan bagi kami. Sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk daerah Indonesia timur dan daerah-daerah lain yang sudah dijamah oleh penambangan, masyarakatnya akan berkarakter keras. Namun di daerah ini yang notabene berada di timur Halmahera, kami mendapat kru lokal yang sangat-sangat kooperatif. Rata-rata penduduk Waisumo hingga Wayamli adalah orang-orang yang menyenangkan, kocak, penurut dan rajin-rajin. Dan tidak itu saja, mereka piawai dalam dua hal : membabat semak merintis jalan dan menuruni tebing perbukitan. Jika mereka diberi tugas membabat semak untuk membuat jalan setapak baru, tak ayal lagi, parang mereka berkelebatan sana-sini dan dalam waktu tidak lama sebuah lorong yang lebar pun sudah jadi. Saya dan rekan-rekan tidak akan kesulitan melalui lorong hasil tebasan mereka sama sekali, tidak seperti halnya jika kami sedang berada di Kalimantan. Demikian pula untuk urusan berjalan menuruni tebing, kami yang notabene tukang jalan pula, sampai keheranan akan kecepatan mereka menuruni bukit yang di atas rata-rata. Selidik punya selidik, ternyata mereka mengandalkan tumpuan tumit kaki saat turun, berbeda dengan orang kebanyakan yang mengandalkan ujung atau samping telapak kaki. Jadi, jika bertumpu dengan tumit, mereka dapat melangkah cepat. Seandainya terpeleset pun mereka akan jatuh dalam posisi terduduk terlentang dengan kedua tangan menahan, tetap dalam posisi aman. Sedangkan pada tumpuan ujung kaki atau sisi telapak, jika terjatuh minimal kami keseleo dan lebih parah lagi dapat tersungkur jatuh dan terguling-guling ke bawah. Trik mereka dengan tumit ini cepat kami serap dan kami tiru, sehingga untuk urusan turun bukit dan lereng kami masih termasuk yang tercepat di antara yang lain.

Mereka juga rajin-rajin dan patuh-patuh, yang penting perut mereka dibuat kenyang dulu maka tugas apapun pasti beres. Jadi jangan heran jika dalam sehari mereka bisa makan lima hingga enam kali! Pertama sarapan pagi, lalu makan mi instan dan ngopi pukul 09.30 pagi, lalu ditutup makan besar di siang harinya. Selanjutnya makan lagi di sore hari pukul 16.30 sepulang dari lapangan dan tentu saja makan malam itu sendiri. Tidak jarang, pukul 22.00 mereka yang sambil menonton TV, masih membuat mi instan atau gorengan karena masih saja merasa kelaparan! Sebagai imbalan dari fasilitas makan sepuasnya di camp, kami para staf membuat peraturan tak tertulis. Isinya adalah : ‘Semua helper wajib memenuhi keinginan para geologist, yaitu menyediakan kelapa muda sepuasnya. Tidak ada satupun helper yang berhak dan dibenarkan makan kelapa muda sebelum geologist-nya mencicipi dahulu’. Walhasil, dalam seharinya, saya bisa menghabiskan 4-5 butir kelapa muda yang tersedia gratis di kebun yang terdapat di sepanjang perjalanan dari camp menuju lokasi pengeboran.

Suatu pagi, saya pernah kedatangan seorang anak kecil yang rupanya anak tetangga yang rumahnya agak jauh dari camp kami. Dia disuruh ibunya untuk membawa kelapa dan labu ke camp kami, semata-mata meminta barter dengan makanan lain karena sudah beberapa hari mereka tidak makan nasi. Sambil penuh haru sampai hampir menitikkan air mata, logistik kami membawakan bocah itu beras, gula, kopi dan minyak makan dalam jumlah yang banyak. Betapa kami tidak terharu, sebegitu kuat mental penduduk sekitar situ yang walaupun hidup kelaparan dan terlilit kemiskinan, mereka tetap menghindari yang namanya mengemis. Coba kalau camp kami berada di daerah lain, pasti setiap hari akan banyak penduduk yang datang mengemis makanan atau meminta uang dengan seenaknya. Karena rasa hormat mereka ke kami dan rasa kagum kami ke mereka itu pulalah, kami memutuskan bahwa dokter perusahaan yang kami bawa juga bertugas melayani masyarakat sekitar yang berobat. Jika penyakit yang diderita cukup parah, dokter perusahaan dapat membuat pengantar untuk ke rumah sakit setempat. Obat dan jasa yang diberikan, semuanya gratis.

Di dekat Waisumo, terdapat kota Buli sebagai kota pertambangan yang hanya sejauh 1,5 jam perjalanan di selatan camp kami. Di sini terdapat banyak tambang nikel yang berada di bawah kepemilikan PT Aneka Tambang. Untuk urusan upah di sini, terdiri dari beberapa item. Misalnya, selain upah yang dibayar harian dan ditanggung makan (yang rata-rata bisa sehari lima kali), mereka juga minta per harinya diberi sebungkus rokok. Tak tanggung-tanggung, rokoknya pun tipe mahal seperti Marlboro atau Dji Sam Soe yang jika di daerah terpencil harga perbungkusnya bisa mencapai belasan ribu rupiah. Belum lagi untuk urusan angkut-mengangkut barang, kru lokal yang disewa sebagai porter, selain upah harian akan menuntut lagi tambahan charge sekian rupiah perkilogram perkilometernya dari barang yang dipikul!

Namun yang saya kagum campur heran adalah gaya hidup mereka, yang sangat-sangat ‘menikmati hidup’. Mulai dari pesisir timur Sulawesi, Halmahera hingga Papua, hampir seluruh masyarakatnya berprinsip : ‘Sekarang happy-happy, besok ya urusan nanti’. Jadi jika mereka memperoleh uang gaji, sebagian besar uang tersebut akan segera digunakan untuk bersenang-senang. Jika kita berfikir, sayang banget uang sejutaan lebih yang diperoleh susah-payah hanya ludes dalam waktu dua malam, tetapi mereka malahan berfikir sebaliknya. Penduduk Bianci dan Selpele di kepulauan Raja Ampat Papua Barat berkata : “Yang penting bisa senang-senang sekarang, kalau besok uang habis toh tinggal dicari lagi Pak! Kalau perut lapar, tinggal ambil perahu dan melaut cari ikan untuk lauk, beres kan?” Hmm, benar juga sih, gaya hidup yang praktis dan sederhana, jangan-jangan malah pemikiran kita yang terlalu kompleks! Di Kalimantan dan Sumatera pun, prinsip seperti ini masih banyak dipegang masyarakat. Jadi jangan heran, di kala masa ganti rugi lahan sudah selesai dan terbayar lunas, kita akan menemui banyak kendaraan bermotor roda dua terbaru lengkap dengan plat putihnya berseliweran di jalanan desa. Hampir setiap malam ada penduduk yang mengadakan pesta hiburan di rumahnya, seperti joget bersama bermodalkan alunan VCD hingga mendatangkan hiburan organ tunggal. Sebulan, tiga bulan berlalu, setengah tahun berikutnya jangan heran jika motor-motor baru itu sudah berpindah tempat ke pegadaian atau showroom motor bekas dan pemiliknya kembali berladang (jika masih ada sisa ladangnya) seperti semula berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Uang puluhan hingga ratusan juta yang dahulu diterima cash, seolah-olah raib tiada bekas sama sekali.

Yang lebih berkesan lagi adalah saat saya ditugaskan di Desa Wulu, Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Untuk mencapai pulau ini, diperlukan perjuangan yang tak kalah serunya. Dari Jakarta, saya harus menempuh perjalanan udara selama tiga jam menuju Kendari. Lalu, disambung dengan kapal cepat selama 6 jam menuju BauBau. Dari BauBau, perjalanan diteruskan dengan ferry penyeberangan selama 5 jam menuju Dongkala dan disambung dengan menaiki ketinting 1 jam lamanya hingga tiba di lokasi. Penduduk di sini sebagian besar adalah berprofesi sebagai nelayan, dan sebagian kecilnya memiliki kebun jambu mete yang terletak tidak begitu jauh dari desa. Kru lokal di Wulu ini rata-rata memiliki fisik yang tangguh dan kuat, maklumlah mereka sedari kecil ditempa oleh ganasnya lautan. Untuk soal makan, jangan ditanya, mirip-miriplah dengan rekan-rekannya dari Halmahera dan Papua. Namun satu yang tidak saya duga sama sekali, saat itu baru pukul 16.00 sore hari dan posisi kami masih berada di pinggiran hutan sejauh 9 kilometer dari desa. “Pak, kita pulang saja ya?”, tiba-tiba mereka berucap. Saya yang keheranan pun balik bertanya : “Lho, kenapa? Sudah capek? Lagipula masih terang-benderang begini kok!”. Mereka hanya terdiam sambil berpandang-pandangan satu sama lain. Menghindari bibit konflik merekah, setengah jam kemudian saya mengajak kembali ke camp yang hanya berjarak 2 kilometer dan disambut mereka dengan raut muka cerah ceria. Selidik punya selidik, ternyata masyarakat di Wulu dan sekitarnya sangat takut dan percaya dengan yang namanya setan-setan penunggu hutan. Jadi, mereka tidak berani berada di dalam hutan lama-lama. Saya sendiri tidak habis pikir, mereka yang setiap malam berani sendirian melaut dengan perahu kecil mengayuh menjala ikan hingga 5 kilometer dari pantai dalam keadaan gelap gulita dan dihantam ombak ternyata menjadi berubah bertolak belakang di saat harus merambah hutan di daratan. Saya sendiri lebih memilih berada di hutan ketimbang mesti sendirian melaut seperti mereka. Saat di laut siapa yang tahu, ada ombak besar datang kita bisa terjatuh dan tenggelam, minimal hanyut dibawa arus sampai entah kemana. Sedang di hutan, walau pun banyak binatang dan onak duri, paling tidak saya masih menginjak tanah dan semua masih ‘tampak oleh mata dan terpegang oleh tangan’. Tapi paling tidak akhirnya saya menjadi paham, mengapa kebun mete mereka letaknya hanya di seputaran pinggir desa saja, paling jauh hanya berjarak 2 kilometer saja. Konon, asal-muasal ketakutan penduduk ini ternyata berakar dari sejarah awal berdirinya tempat ini. Wulu, yang terletak di Kabaena bagian tenggara, diberkahi dengan sumber air tawar dari mata air yang hanya terdapat satu-satunya di situ. Logikanya, dengan sumber air bersih yang sangat berharga, harusnya Wulu akan penuh dipadati oleh penduduk. Tapi nyatanya, yang selanjutnya penuh dengan penduduk sehingga berkembang menjadi kota kecamatan adalah Talaga, sebuah pulau kecil sejauh 3 kilometer di seberang Wulu. Pasalnya, Wulu dan sekitarnya penuh dengan makhluk halus sehingga masyarakat yang sering diganggu memilih untuk hijrah ke Talaga walaupun di sana tidak tersedia sumber air bersih sedikitpun. Konsekuensinya, setiap hari tampak perahu masyarakat Talaga mondar-mandir ke Wulu untuk mengambil air bersih yang tak pernah kering sepanjang tahun.

Saat Wulu sudah dibuka menjadi daerah penambangan, tradisi mistis pun masih berlanjut. Pertama-tama, saat perdana penambangan, didatangkan lah masyarakat dan berbagai tetua adat dari Wulu, Talaga, Kokoe dan bahkan mendatangkan juga sesepuh dari Mawasangka yang sudah masuk ke daerah pesisir Pulau Muna. Tidak lupa, sepasang ayam hitam dan putih disediakan, bukan untuk disembelih, tapi untuk dimantrai dan dijadikan simbol kedamaian. Yang apes disembelih saat itu adalah beberapa ekor ayam biasa lainnya. Walaupun ayam-ayam sajen itu suka nangkring dan mengeluarkan kotoran dimana-mana, tidak satu pun penghuni camp yang berani menyembelihnya untuk dijadikan lauk karena takut tulah. Penampakan pun masih saja terjadi walau tidak sesering dahulu. Untuk mengantisipasi hal itu, diadakanlah kembali acara syukuran, namun kali ini yang dikorbankan adalah seekor kambing. Jika penampakan yang ada semakin menjadi-jadi dan berujung ke acara kesurupan, diadakanlah pesta (lebih) besar-besaran dengan mengorbankan seekor sapi. Jadi, kecendrungan di daerah sini adalah, semakin seram suatu penampakan dan melibatkan orang banyak, semakin besar pulalah hewan yang dikorbankan untuk dikonsumsi ramai-ramai. Saya sih senang-senang saja jika suatu saat terjadi penampakan yang lebih heboh karena dapat dipastikan tidak lama sesudahnya kami akan dapat menikmati berbagai macam hidangan olahan daging sapi yang lezat.

Dari segala macam pengalaman bergaul dengan masyakarat lokal di berbagai penjuru nusantara, satu yang paling berkesan adalah sewaktu saya ditempatkan di salah satu daerah terpencil di pedalaman Sumatera. Di sana, kami merekrut beberapa orang penduduk lokal untuk dijadikan penjaga alat berat yang parkir di hutan sehabis waktu kerja siang harinya. Jika di Kalimantan digunakan istilah waker atau wakar, maka PK atau Penjaga Keamanan adalah istilah yang digunakan di Sumatera Selatan untuk security. Tugas PK adalah menjaga keamanan alat berat saat parkir malam hari di hutan. Suatu waktu, kami menemukan bahwa solar yang masih tersisa di tangki sebuah bulldozer D85ESS-2 telah hilang. Tidak tanggung-tanggung, jumlah yang hilang mencapai seratusan liter lebih dengan kerugian mencapai hampir satu juta rupiah. Tentu kecurigaan kami dialamatkan ke si PK ini, yang tidak mungkin tidak mengetahui pencurian tersebut karena dia tidur semalaman di dalam kabin dozer tersebut. Namun, apa jawaban si PK ini saat diinterogasi mengenai pembobolan tangki dozer tersebut? “Saya kan digaji hanya untuk menjaga keamanan alat beratnya Pak, soal urusan bahan bakar, kan bukan tugas saya?”, begitu ujarnya dengan tampang tak berdosa. Mantaaaap sekaaliii jawabannya…!

 

Moral of The Story :

Indonesia adalah negara yang besar, terdiri dari ratusan suku bangsa dan dialek bahasa serta karakter yang memperkaya hasanah kehidupan bangsa.

2 Responses to “Yang Lokal yang Orisinal”

  1. sama. kru senior saya jg udah bisa dilepas dgn GPS di tangan, jadi lebih hemat waktu dan bisa ngerjain kerjaan yg laen. hehe..
    orang Buli emg happy-happy terus..😀
    wah. jadi pengen maen ke daerah Buton lg ni. byk tempt bagus ya bang di daerah utara nya?..
    itu pedalaman Sumatera pasti daerah L**at kan bang? luar biasa emg org disana..

    • Butur bagus2 ternyata, terutama kehidupan masyarakat desa dan pantainya serta pemandian..ga nyesel deh ke sana..

      Kalo yang Sumatera, bukan, tapi di daera R**b*t** namany. Nah Kalau L**at itu, temenku yang geodesi yang ngalamain sama orang sana, parah memang hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: