Perjalanan Togean – Gorontalo (Lintas atas Sulawesi 4 fr 5)

Oleh : R. Heru Hendarto

Matahari belum lama menebarkan sinarnya saat saya bersiap-siap di dermaga belakang untuk mengunjungi Wakai yang sempat terlewatkan kemarin. Kebetulan hari Minggu ini adalah hari pasaran di Wakai dan hampir semua pedagang sekitar menggelar dagangannya di pasar kota. Tawaran motorist untuk berkunjung gratis ke Wakai tidak bisa saya tolak karena memang pagi itu kami tidak punya agenda apa-apa. Sambil menunggu kapal kayu disiapkan, saya berbincang-bincang dengan Farid yang merupakan penduduk lokal dan juga salah satu staf Dinas Pariwisata setempat. Ternyata, daerah indah ini berubah menjadi sepi seperti kuburan di bulan Desember. Saat itu, angin barat yang kencang dan membawa hujan akan mengisolasi Togian dari rutinitas masyarakatnya. Ombak besar akan setiap hari menghantam perairan sehingga masyarakat pun enggan keluar. Tentu saja, sebelumnya mereka sudah bersiap dengan menimbun logistik di desa masing-masing. Rusaknya jetty Kadidiri Paradise ternyata dikarenakan hantaman gelombang besar angin barat setengah tahun lewat. Farid sendiri kapok bepergian laut di saat gelombang besar karena di tahun 2001 dia adalah salah satu korban tenggelamnya kapal Wana Bhakti dari Ampana menuju Wakai. Kejadian di bulan puasa itu berawal dari matinya mesin akibat terhantam ombak besar sebanyak tiga kali, lalu kapal pun tenggelam. Posisi kapal yang di tengah-tengah, sejauh dua jam dari Ampana, membuat para penumpang kebingungan mencapai daratan. “Saya selamat Mas, itu pun setelah berebut sebuah jerigen dengan seorang bapak tua”, kenangnya. Dua puluh jam terombang-ambing di lautan hingga sebuah perahu nelayan menyelamatkannya.

Cerita seram tentang ombak Tomini cukup membuat jerih saya, tapi pagi itu cuaca demikian cerahnya dan langit biru cukup menyemangati saya untuk meluncur dengan kapal kayu ke Wakai. Pukul sembilan pagi saya sudah kembali menikmati gugusan pulau yang berada di jalur Kadidiri – Wakai. Sebelum lepas dari Kadidiri, saya melewati tiga orang bule yang sedang snorkeling di depan pantai yang cukup sepi. Mereka melambaikan tangan, saya pun membalas sambil kagum dengan keberanian mereka memilih tempat snorkeling sejauh 1 km dari resort terakhir tanpa kawalan perahu. Empat puluh menit kemudian kami mendekati Wakai, dan saya baru tersadar bahwa kami tidak lah sendirian. Beberapa perahu kayu tampak datang dari beberapa arah, menemani kami merapat di pelabuhan bersama-sama perahu lainnya yang sudah duluan tiba. Pasar kota Wakai, yang hanya berjarak seratus meter dari pelabuhan tampak ramai sekali oleh pengunjung. Pagi yang cerah itu Wakai penuh dengan orang yang berpakaian warna-warni kontras dengan langit yang biru menggoda, menjadi pemandangan yang cukup unik untuk disaksikan.

Saya pun melangkahkan kaki mendekati pasar tersebut. Saya perhatikan, hampir semua barang dagangan terdapat di sini, mulai dari bumbu dapur, buah-buahan, sabun colek hingga mebel pun ada. Tidak begitu tertarik untuk berbelanja sesungguhnya, namun soft drink dingin di pagi mendekati siang itu tampak sangat menggoda. Tiga orang bule Inggris lewat di depan warung. Dua rak telur ayam, sayur-mayur dan tiga buah jeruk Bali yang ditenteng mereka cukup untuk membuat saya tersenyum-senyum. Tidak berapa lama, lewat lagi empat orang bule yang menenteng dua sisir pisang, satu krat soft drink dan seekor ayam hidup. Sepertinya mereka memang tinggal di Kadidiri dalam waktu lama sehingga segala peralatan dan kelengkapan lauk mereka persiapkan sendiri.

Lima belas ribu rupiah adalah harga yang disepakati dengan tujang ojek pasar untuk mengantarkan saya ke air terjun Tanimbo dan menunggui saya pp. Perjalanan itu sebenarnya hanya memakan waktu 10 menit saja, tapi saya yang meminta untuk mengambil rute memutar kota. Tidak menyangka sama sekali saya bahwa jalan yang saya tempuh ternyata melewati deretan kebun cokelat. Walaupun harganya naik-turun, namun 19 ribu rupiah per kilogram cukup menjanjikan bagi penduduk Wakai. Hanya diakui mereka, kualitas cokelat mereka masih kalah dengan kualitas cokelat Ampana yang bisa dihargai 25 ribu rupiah per kilogramnya. Di sudut kampung sebelum belokan Tanimbo, beberapa kuda beraneka warna tampak sedang merumput dengan bebasnya tanpa dikekang. Air terjun Tanimbo sendiri adalah air terjun dengan tujuh tingkat yang digunakan sebagai sumber air bersih PDAM Wakai dan sekitarnya. Saat saya ke sana, musim kering sudah berlangsung lama sehingga sungainya pun menyusut debit airnya. Air terjun pertama sudah kehabisan airnya sama sekali, sehingga kami naik ke tingkat kedua. Jalur sempit terjal berbatu gamping yang runcing-runcing mencuat memperlambat jalan saya. Tiba di tingkat kedua, kondisnya lebih baik walau airnya juga berkurang debitnya. Paling tidak, genangan air kehijauan akibat pantulan pepohonan di atasnya cukup menggoda saya untuk meneguknya. Tiga teguk yang dingin menyegarkan di kerongkongan, dan saya masih sempat untuk membasuh keringat di muka dan tangan dengan airnya. Pemandangan di tempat itu biasa-biasa saja menurut saya, apalagi adanya hiasan pipa air minum di sisi kiri cukup membuat hilang mood saya. Menurut si tukang ojek, empat tingkat pertama memang biasa-biasa saja, namun tingkat ke lima dan seterusnya sangatlah indah. Namun, begitu tahu waktu tempuh ke tingkat tersebut mencapai 1,5 jam saya pun mengurungkan niat karena sudah berjanji kembali sebelum makan siang. Speedboat khusus diver bermesin 75 pk membawa saya kembali ke Kadidiri dengan kecepatan 40 kpj!

Sore itu, saya memutuskan untuk sedikit explore pantai Kadidiri dan saya pun melangkahkan kaki ke selatan. Begitu melewati Lestari Kadidiri, saya baru sadar ternyata lebih banyak turis yang tinggal di sini. Mungkin, karena harganya yang lebih murah dibanding resort lainnya, banyak bule memilih penginapan ini karena dengan uang yang sama mereka dapat tinggal lebih lama. Beberapa malahan tidak peduli dengan kamar, malahan memilih untuk tidur dengan hammock yang berjejeran di bawah tenda terpal. Asyik juga kelihatannya, dan saya berani bertaruh bahwa bule-bule yang siang tadi berbelanja di Wakai pasti menginap di sini. Takut tersasar, saya bertanya dahulu ke Pak Aka-pengelola Lestari Kadidiri, jalan menuju pantai di sebelah. Menuju arah yang ditunjuk, saya memutari tebing bukit dan menerobos semak-belukar rimbunnya hutan di situ. Dibimbing oleh samar-samar jalan setapak yang sudah tertutup, dengan korban sandal saya yang putus, lima belas menit kemudian tibalah saya di pantai sebelah. Sebenarnya ucapan pantai tidak begitu cocok, karena tempat ini tidak berpasir. Tapi yang menyenangkan, tempat ini sepi sekali tanpa pengunjung, yang berarti tanpa gangguan. Dan deretan pepohonan kelapa yang membentengi tepiannya sungguh indah dipandang mata. Serasa memiliki private beach sendiri, saya berenang satu jam sebelum memutuskan untuk kembali ke resort sebelum malam turun karena tidak mungkin saya bisa menembus hutan tadi tanpa penerangan. Sejenak menghabiskan sunset di depan Black Marlin, saya kembali ke kamar sambil menyusun misi untuk malam harinya.

Ferry dari Ampana menuju Gorontalo melewati Wakai sedang naik dock untuk dua minggu, sehingga itinerary saya hancur berantakan.  Mau tidak mau, saya harus menyewa speedboat menuju Marisa dan meneruskan perjalanan ke Gorontalo dari sana. Untuk itu saya harus memperoleh teman seperjalanan sehingga misi “mencari mangsa” pun saya jalankan. Beruntung, malam itu kami yang sudah bertiga mendapat tambahan teman seperjalanan, Hans dari Belanda dan sepasang nona muda Annina dan Hermina dari Swiss. Tenang karena beaya sewa speedboat dapat di-share bersama saya pun tidur nyenyak malam itu.

Enam tiga puluh pagi hari, speedboat meluncur di permukan teluk Tomini yang bergejolak. Saat itu, sebuah speedboat serupa juga berangkat dari Black Marlin. Sebenarnya kami kaget sekali karena perahu yang kami kira tidak seperti yang kami duga. Speedboat yang kami naiki ini terbuka sama sekali, dan lebih-lebih lagi, tidak satupun kami lihat lifevest di situ. Engine mesin pun saya lihat hanya dua buah, yang walaupun masing-masing berkekuatan 75 pk tetap saja riskan untuk mengarungi lautan ganas ini. Saya sudah pernah mengarungi lautan di perairan Raja Ampat, Halmahera ataupun Wakatobi, namun speedboat di sana tertutup kabinnya sehingga air tidak bisa masuk ke dalam. Mereka pun lebih suka menggunakan 5-6 engine 25 pk yang  lebih aman,  lebih dari dua mesin mati pun mesin-mesin lain masih sanggup menjadi back up. Saya tidak tau apakah memang karakter motorist di Sul-Teng lebih suka menggunakan engine sedikit tapi memiliki power besar.

Yang saya cemaskan sebelumnya pun benar-benar terjadi. Angin timur yang ganas mulai menggoyang laut. Angin timur lebih ditakuti nelayan karena bersifat kering, jadi ketika laut tenang dan langit tampak cerah, nelayan akan melaut namun mereka tidak akan menyangka bahwa dibalik itu ombak sedang ganas-ganasnya di tengah laut. Berbeda dengan angin barat yang basah, di saat mendung menggantung di kejauhan, itu adalah pertanda bahwa laut sedang marah sehingga mereka dapat membatalkan untuk turun ke laut. Hempasan air laut dari depan membuat wajah dan tangan saya basah kuyup. Motorist pun sibuk mengatur kecepatan speedboat agar dapat mengikuti alunan ombak dan mengambil jalur zig-zag. Saya tambah cemas ketika melihat speedboat di belakang sudah tidak tampak karena tertutup ombak. Namun apa boleh buat, saya yang dianggap group leader oleh yang lain, pura-pura saja berani. Dalam hati saya berkata, sekali saja muncul ombak besar yang tidak berpola menghantam haluan perahu, dipastikan kami akan tenggelam. Satu-satunya yang menghibur saya adalah, ombak datang dari timur sehingga jika kami jatuh ke laut, paling tidak kami akan terdampar di Gunung Api Pulau Una-Una di sisi kiri atau paling apes tersangkut di pesisir Tomini sekitar Palu. Masa-masa genting adalah dua jam perjalanan awal karena ombak setinggi dua meter tampak berkejaran di sisi kanan kami.

Pesisir Marisa tampak di muka dan perjalanan selama 3,5 jam terpaksa kami lalui dari yang seharusnya 2 jam saja. Hans yang sudah agak tenang mulai mengeluarkan rokoknya, Annina dan Hermina pun sudah bercanda riang di seat belakang. Pesisir yang dangkal memaksa perahu mematikan mesin dan didorong ber-ramai-ramai menuju tepian sungai. Ketiga bule itu ternyata ingin bergabung dengan kami, meneruskan perjalanan ke Gorontalo. Nego punya nego, sebuah angkot siap kami sewa menuju Gorontalo yang katanya hanya sejauh dua jam lebih perjalanan. Ternyata kami tiba di Gorontalo dalam waktu  empat jam, hingga saya menjadi tidak percaya dengan orang lokal jika bicara soal jarak dan waktu tempuh. Mulai dari bis Luwuk-Ampana yang terlambat dua jam, speedboat Kadidiri – Marisa hingga perjalanan angkot ini. Hans yang ingin meneruskan perjalanan ke Manado dengan pesawat memisahkan diri sementara kami dengan Annina dan Hermina tinggal di sebuah hotel yang cukup apik untuk beristirahat.

 

Getting There :

Kepulauan Togian hanya dapat ditempuh melalui dua jalur, Ampana dan Gorontalo. Dari Ampana, tersedia setiap dua hari sekali kapal kayu penumpang yang berangkat menuju Wakai. Tersedia juga ferry penyeberangn KM Puspita dan Tuna Tomini yang masing-masing beroperasi satu kali seminggu dengan tujuan Gorontalo – Wakai – Ampana pp. Tiket rata-rata 100.000 rupiah. Dari Wakai, perjalanan ditempuh dengan speedboat atau ketinting ke masing-masing resort di Kadidiri secara gratis.

Alternatif lain adalah menyewa speedboat dari Marisa, sebuah kota kecil sejauh empat jam dari Gorontalo, dan jalur ini hanya dapat ditempuh dengan menyewa speedboat berkapasitas 6 orang dengan harga 2,5 – 3 juta rupiah sekali jalan dengan waktu tempuh 2 jam.

 

Where to Stay :

Black Marlin (085657202004) adalah resort yang direkomendasikan oleh Lonely Planet, dan Kadidiri Paradise juga cukup layak untuk dicoba. Masing-masing memasang harga 150 – 200.000 per kepala per malam, termasuk makan tiga kali sehari. Jika budget anda terbatas, anda dapat mencoba Lestari Kadidiri yang dikelola Pak Aka dan Ibu Inu (085823641843). Tempatnya lebih sederhana namun lebih alami dengan harga 100 ribu per kepala per malam. Di Wakai, anda dapat mencoba Pemda cottage yang terletak di bukit di atas pelabuhan.

 

What to Do :

Kepulauan Togian adalah surga bawah laut yang setara keindahannya dengan Raja Ampat, Wakatobi dan Bunaken. Aktivitas diving dapat anda lakukan di sini, tentu saja dengan menyewa pealatan selam. Instruktur PADI dapat anda temui di Black Marlin. Sekedar snorkeling di sekitar pulau pun sudah cukup menyenangkan, bahkan di Lestari Kadidiri menyediakan fasilitas snorkeling gratis.

Di bulan Juli diadakan Festival Togian yang berpusat di Togian dan Ampana. Anda akan mendapatkan kepuasan wisata yang cukup lengkap mulai dari wisata alam dan budaya, dari gunung hingga terumbu karang bawah laut di Kepulauan Togean.

 

Cost  :

–          Akomodasi satu malam Kadidiri Paradise                        :   200.000,- (per kepala)

–          Sewa speedboat ke Marisa                                                      : 3.000.000,- (share berenam)

–          Sewa angkot Marisa – Gorontalo (empat jam)                :   300.000,- (share berenam)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: