Perjalanan Gorontalo – Manado – Tomohon (Lintas Atas Sulawesi 5 fr 5)

Oleh : R. Heru Hendarto

Lelah mendera tubuh setelah terombang-ambing speedboat di teluk Tomini dan terjebak di mobil angkot selama tujuh jam, kami tiba di Gorontalo saat matahari sudah condong ke barat. Saat itu ada acara pemerintahan di kota ini sehingga hotel banyak yang penuh. Beberapa hotel yang disarankan Lonely Planet kami hubungi dan tetap saja yang tertinggal hanya kamar VIP. Untung saja, Pak Supir kenal baik dengan salah satu pemilik losmen yang baru saja selesai direnovasi. Saya yang mendengar namanya tiba-tiba teringat bahwa losmen ini dahulu masih tua dan kuno dan mungkin banyak tamu belum tahu jika renovasi yang diadakan sudah selesai.  Informasi ini malah saya dapatkan diinternet saat browsing hendak membuat itinerary backpacking trip ini. Ternyata renovasi memang sudah selesai dan hotel ini tampak cukup apik, rindang dan kamar serta mebelnya mengkilap saking barunya. Dua nona bule Swiss ini mengangkat jempolnya tanda setuju dan kami pun menginap di situ, tentu saja demi mengejar harga murah.

Sore hari setelah makan kami hanya memutuskan untuk berjalan-jalan di dalam kota saja. Sebenarnya saya ingin sekali mengunjungi Benteng Utanaaha, sebuah benteng dari tanah yang cukup apik keliatannya. Tapi letaknya yang di luar kota membuat waktu jua lah yang membatasi niat itu. Akhirnya, saya memisahkan diri dan berjalan menuju utara hotel sementara nona-nona bule memilih untuk pergi ke warnet. Kaki saya melangkah di atas rerumputan hijau di lapangan depan hotel dan tiba-tiba pandangan saya tertumbuk pada sebuah patung yang tegak berdiri. Tampak seorang pejuang dengan topi lama memegang sebuah senapan di tangan kiri dan tangan kanannya menunjuk ke arah timur. Eh, jangan-jangan ini patung Nani Wartabone, pejuang Gorontalo yang terkenal itu pikir saya. Ternyata benar, karena di seberang patung, terpampang sebuah prasasti peresmian di tahun 1987 oleh CJ Rantung-Gubernur Sulut waktu itu.  Sepertinya tempat ini adalah salah satu taman kota yang dilengkapi fasilitas wi-fi karena saya lihat ada beberapa orang menggelar dan asyik dengan laptop-nya.

Malam hari, saya berniat menikmati pemandangan kota Gorontalo dan menurut si penjaga hotel, kantor gubernur adalah tempat yang paling cocok. Menyewa bentor, becak bermotor, saya hanya diantar hingga kaki pendakian. Selanjutnya saya harus meneruskan perjalanan dengan jalan kaki menanjak sejauh 1 km karena bentor tidak sanggup menaklukkan terjalnya jalan. Tubuh bercucuran keringat saat tiba, namun saya begitu menikmati pemandangan dari atas. Di kejauhan, tampak kerlip lampu yang muncul dari Menara Keagungan. Saya pun sempat berbincang-bincang dengan Benny, seorang staf kantor gubernuran yang menjelaskan tentang sekilas Gorontalo. “Adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah”, demikian jelasnya, menyatakan menyatunya adat dan agama di bumi Gorontalo. Perut mulai keroncongan ketika saya pamit turun dan meminta tukang bentor untuk mencarikan saya  makanan khas di kota. Milu siram, itulah makanan yang terhampar di depan saya. Ternyata makanan yang banyak terdapat juga di Manado ini aslinya berasal dari Gorontalo. Bentuknya seperti sup kuah jagung dengan diberi sayur dan potongan ikan laut. Rasanya jangan ditanya, hangat, gurih dan lezat menjadi satu dalam semangkok besar sajian penuh protein dan  karbohidrat.

Esoknya, kami sudah bersiap-siap menuju Manado dengan sebuah kijang. Tarif di sini lumayan menggelikan, untuk kursi paling depan dikenai 150 ribu, baris kedua 125 ribu dan baris belakang 100 ribu! Mengejar murah, saya yang sudah kehabisan seat di belakang, mengambil baris di tengah. Kijang pun melaju kencang di jalanan poros Gorontalo – Manado dan satu jam berikutnya saya menyesal setengah mati. Betapa tidak, perjalanan ini menyusuri pesisir utara Sulawesi dimana tersaji banyak sekali pantai-pantai dan tebing-tebing yang apik membingkai birunya laut pada hari yang sangat cerah kala itu. Saya yang duduk di seat baris kedua paling kanan, tidak bisa apa-apa dan hanya pasrah menggenggam kamera di pangkuan. Beberapa kali saya diejek oleh teman saya di belakang kiri yang sibuk jeprat-jepret pemandangan di sebelahnya melewati kaca riben yang temaram. Jika tahu begini, pasti saya akan duduk di depan walaupun mesti membayar lebih mahal. Dua belas jam kemudian kami pun tiba di Bumi Nyiur Melambai dan memilih sebuah penginapan yang terletak di dekat pasar ikan.

Pagi-pagi, kami sudah dijemput oleh angkot yang kami sewa untuk keliling Manado dan Tomohon. Kami singgah dulu di pos pasar kota Pinangsukulan Karombasan untuk meminta izin DLLAJR agar angkot kami tidak diganggu-ganggu saat di perjalanan nanti. Selanjutnya, kami sudah meluncur menaiki tanjakan di atas Manado menuju kota bunga Tomohon. Pemandangan tampak indah di kiri-kanan jalan dan sebuah bukit kecil menarik mata saya. Gunung Lokon (1.580 m dpl), sebuah tonjolan batu berapi yang menjadi ikon kota Tomohon ini tampak gagah berdiri di bawah cerahnya langit biru.  Gurat-gurat gawir di lerengnya menandakan gunung itu cukup aktif dan tampaknya sudah melalui beberapa kali periode erupsi. Rupanya suburnya tanah di sekitar sini dimanfaatkan penduduk dengan membudidayakan tanaman bunga sehingga Tomohon pun terkenal dengan Kota Bunga. Di sini, kami mendapat teman baru, sepasang backpacker tua dari Belgia yang hendak bergabung keliling Tomohon, Tondano dan Air Madidi. Inilah enaknya travelling ala backpacker, solidaritas selalu terbangun di mana saja bertemu. Share beaya pun menjadi opsi terbaik dalam keakraban yang tanpa memandang batas warna kulit, agama apalagi negara.

Hanya lima belas menit saya sanggup bertahan di pasar Tomohon, pasar yang terkenal dengan “kebun binatangnya”. Mulanya saya merasa biasa saja, berbagai jenis ikan tersaji di los depan. Beberapa tempat tampak kios-kios penjual babi dengan warna dagingnya yang khas. Makin ke dalam los pasar, makin banyak hewan-hewan yang tidak umum diperjualbelikan untuk dikonsumsi. Mulai dari (maaf) anjing, ular sawah, tikus hutan dan kelelawar atau paniki alias batman tersaji di sini. Sayang saya tidak menemukan kucing saat itu, atau yang biasa disebut penduduk dengan bahasa halus eveready, merujuk ke kucing hitam yang menjadi logo salah satu produk baterai. Pemandangan ceceran darah merah dan potongan tubuh hewan-hewan tidak membuat saya bergeming. Namun, sebentar kemudian, bau darah dan jeroan datang menusuk hidung dan seketika itu saya langsung mual. Cepat-cepat kamera saya tenteng keluar bangunan, pamit kepada salah seorang penjual paniki yang ramah menemani. Saya masih mendingan lah, sepasang turis bule sudah kabur dari tadi sebegitu mata mereka menumbuk ke tubuh anjing yang terpotong dua. Rata-rata mereka tidak tega melihat anjing, mungkin serupa dengan kita kalau melihat kucing menderita. Saya akhirnya terpojok ke sudut jalan pasar, dan akhirnya terlibat pembicaraan dengan seorang ibu tua penjual nike. Ini bukan merk sepatu ya, walaupun teman saya di sebelah langsung dengan kocaknya menanyakan ke ibu apakah ada jual Adidas dan LA Gear juga. Nike adalah udang kecil yang hanya hidup di Danau Tondano yang notabene airnya tawar. Warnanya merah dan katanya gurih, mungkin bagi saya padanannya adalah udang ebi yang banyak terdapat di laut. Dijual perukuran kaleng susu peres, Sang Ibu sibuk melayani pembeli yang tenyata cukup banyak tergoda dengan udang unik ini.

Akhirnya, keinginan saya mencicipi makan nike pun kesampaian. Di pinggir indahnya lanskap danau Tondano yang permukaannya bergejolak, kami menikmati sayur kangkung, woku belanga, mujaer, cakalang dan tentu saja perkedel nike. Rasanya memang gurih digigit dan kenyal di lidah sementara ikan cakalang memberikan sensasi pedas asin. Tepat di bawah kami, permukaan air danau saat itu sangat beriak, seumur hidup saya belum pernah melihat danau serupa laut seperti ini. Mungkin, jika saya menurunkan sampan dengan layar, saya akan terdorong dengan kencangnya oleh angin. Sempat juga saya mencoba memainkan sekelompok kulintang yang terdapat di depan kasir, pengalaman sekali seumur hidup yang sungguh menyenangkan!

Tertidur sejenak di dalam angkot yang berjalan pelan menuju Air Madidi cukup membuat tubuh saya kembali segar. Lima belas menit kemudian angkot pun memasuki pelataran parkir lokasi waruga di Sawangan. Waruga adalah kubur batu yang digunakan sebagai bagian seremoni penguburan masyarakat Minahasa saat kepercayaan animisme dan dinamisme berkembang pada tahun 800 M. Di sini, terdapat 2.000 buah waruga yang dikumpulkan dari masing-masing rumah penduduk dan dilindungi hingga saat ini. Konon menurut cerita, mayat dimakamkan dengan cara didudukkan di dalam kubur batu. Lalu tutup waruga yang sangat berat, dibawa dengan cara dijunjung kepala, dan ditutupkan ke atas tubuh mayat begitu saja. Mayat perempuan membawa perhiasan yang diletakkan di dalam piring di kaki dan sebuah piring lagi diletakkan di kepala sementara laki-laki hanya dibekali dengan satu piring di kaki. Sehingga saat jasad mereka sudah hancur, kita akan menemukan perhiasan yang tertutup piring untuk sebagai penanda mayat perempuan dan sebuah piring terbuka untuk laki-laki. Yang menarik, waruga ini sarat simbol – simbol kehidupan yang diguratkan di permukaan batu. Contohnya, guratan dalam mendatar sebanyak tujuh buah di sisi atas tutup menandakan bahwa penghuni waruga tersebut adalah tujuh jasad bertumpuk. Yang unik, terdapat pula waruga dengan aksesori lelaki bertopi pelaut dan ornamen matahari terbit. Ternyata, di tahun 1.600-an, ikut dimakamkan pula masing-masing seorang pelaut Spanyol dan seorang warga Jepang di situ. Setelah menyempatkan diri mengunjungi museum yang menampilkan peralatan pembuatan waruga dan perhiasan peninggalannya, kami pun pamit kepada Pak Anton, juru kunci waruga Sawangan yang dengan ramah melayani kami selama di sana.

Di terminal Air Madidi, kami berpisah dengan sepasang backpacker Belgia tersebut. Kami hendak kembali ke Manado sedangkan mereka harus kembali ke hotel di Tomohon. Setelah memastikan mereka mendapat angkutan balik, kami pun meneruskan perjalanan kembali ke kota. Pelabuhan perikanan adalah tujuan kami sore itu dengan harapan kami akan memperoleh sunset dengan latar belakang pulau Manado Tua. Empat puluh menit kami menyaksikan mentari tenggelam merona merah hingga gelap menyapa namun aktivitas di sekitar TPI itu tidaklah menyurut. Kelelahan karena sudah melakukan perjalanan selama 9 hari, kuil Ban Hin Kiong kami putuskan menjadi tujuan terakhir kami malam itu. Kelenteng Ban Hin Kiong terletak downtown Manado dengan usia mencapai 300 tahun. Ban Hin Kiong terdiri dari 3 kata, Ban berarti banyak, Hin berarti kelimpahan kebaikan, dan Kiong berarti istana. Jadi menurut para pendirinya artinya adalah ‘keyakinan orang akan mendapatkan begitu banyak kebaikan dan keselamatan untuk mencapai keteraturan kehidupan’. Rasa-rasanya cukup banyak pengalaman yang saya peroleh dalam perjalanan ini, mulai dari karakter masyarakat, moda transportasi, budaya, teman baru dan tentu saja nilai-nilai keluhuran hidup yang tercermin dari peninggalan karya-karya manusia yang agung. Saya pun merenung sambil memejamkan mata malam itu, beristirahat untuk bersiap-siap kembali ke Yogyakarta esok subuhnya.

Getting There :

Hampir semua maskapai melayani penerbangan ke Manado, baik yang transit lewat Makassar atau tidak. Harga tiket bervariasi dari 900.000 hingga 1,4 juta rupiah. Maskapai Batavia Air, Garuda dan Merpati juga melayani penerbangan Gorontalo – Manado. Gorontalo sendiri memiliki terminal yang menghubungkan kota-kota besar di dekatnya seperti Palu, Bitung, Manado, Kotamubagu dll.

Where to Stay :

Hotel di Gorontalo banyak terdapat di pusat kota, seperti halnya Quality Hotel (0435-822222) namun tidak ada salahnya juga anda mencoba Hotel Melati (0435-822934) yang cukup apik, atau menginap di Pentadio Resort (0435-881213) yang terletak di pingir danau Limboto.

Banyak sekali hotel di Manado mulai dari bintang 5 hingga losmen kelas melati. Hotel Celebes (0431-870425) menawarkan akomodasi yang nyaman sedangkan Unique Inn (0431-864987), sesuai namanya menawarkan keunikan karena hotel ini berada di jembatan penyebrangan yang dahulunya digunakan sebagai food court. Beberapa losmen yang terletak dekat dengan pasar ikan banyak menjadi incaran pendatang karena lokasinya dekat dengan kota dan penyeberangan ke Bunaken.

What to Do :

Di Gorontalo anda dapat mengunjungi berbagai macam tempat wisata, mulai dari Benteng Utanaaha, Menara Keagungan, gua ular yang konon berisi banyak ular yang bisa dipanggil keluar ataupun wisata selam Olele yang terletak di lepas pantai selatan Gorontalo.

Manado, jauh lebih banyak lagi menyimpan place of interest. Mulai dari wisata laut Bunaken, pesisir pantai utaranya yang menawan hingga ke dataran tinggi Tomohon yang indah. Belum lagi keunikan pasar tradisional dan desa-desa penghasil rumah Tomohon seperti Woloan. Pemandangan danau Tondano dan danau Linow juga sangat apik, dibingkai oleh gunung-gunung cantik yang dapat didaki. Tidak ketinggalan pula wisata-wisata alam Cagar Alam Tangkoko Dua Saudara dan peninggalan-peninggalan prasejarah di seputar Air Madidi. Hampir setiap bulan dalam setiap tahunnya juga diadakan berbagai macam festival yang menarik.

Cost  :

–          Sewa bentor ke kantor gubernur pp                                :     25.000,- (share bertiga)

–          Makan milu siram                                                                     :       9.000,-

–          Akomodasi satu malam Hotel Melati                                :   180.000,- (share bertiga)

–          Kijang ke Manado (12 jam)                                                  :   125.000,- (seat tengah)

–          Sewa angkot keliling                                                             :   250.000,- (share berlima)

–          Makan siang mewah di Tondano                                       :     30.000,-

–          Akomodasi dua malam Hotel Unique                               :  350.000,- (share bertiga)

3 Responses to “Perjalanan Gorontalo – Manado – Tomohon (Lintas Atas Sulawesi 5 fr 5)”

  1. Shanti Mendera-Usrok Says:

    Hai kawan lama… ternyata jd geologist itu gak menderita2 amat yak…
    Sisi positifnya, sambil mapping bisa explore daerah sekitar, alias jalan2.
    Mantap deh tulisannya.
    Ditunggu karya2 berikutnya Her🙂

  2. jadi geologist itu capek-capek enak Bu…hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: