Menikmati Keindahan Indonesia Timur Seutuhnya dari Atas Perahu (Sailing Flores – Lombok)

Oleh : R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Liburan Mei 2011)

HARI 1 Pukul 06.30 – Jalanan kota Labuan Bajo

Sudah lima belas menit saya berjalan meninggalkan hotel, menyusuri jalan protokol kota kecil di Kabupaten Manggarai Barat ini. Tak kurang dari 200 buah perahu bersandar di sekitar teluk pinggir jalan, mulai dari sampan, bagang penangkap ikan hingga yacht tipe mewah. Melewati Kampung Air, saya disapa dengan ramahnya oleh beberapa penduduk setempat. Ah, semakin membuat saya berat hati meninggalkan kota mungil nan cantik ini. Namun hamparan bukit-bukit gamping yang mencuat di atas air tenang membiru, seolah-olah memanggil saya, menggoda untuk segera mendekap lebih intim bumi Flores yang eksotis ini.

Pukul 07.15 – Pelabuhan Rakyat Labuan Bajo

Sebuah kapal kayu penumpang tak bernama berbobot sekitar 6 ton sudah menunggu dari malam sebelumnya. Tak besar, tak kecil, membuat saya agak ragu dengan ketangguhannya nanti yang akan diuji ganasnya laut Flores. Tapi segera saya buang jauh-jauh pikiran jelek itu, karena toh memang tipe kapal ini yang umum digunakan untuk berlayar di daerah ini. Jika tak tangguh, kenapa tetap dipakai? Sebuah keluarga Indonesia-Belanda dengan dua anak putrinya yang imut sudah duluan berada di atas dek. Saya melambaikan tangan dan datang hampir bersamaan dengan rombongan ibu-ibu empat orang yang membawa salah satu anak lelakinya. Bersama Aris, sang ketua rombongan, kami semua bersepuluh, plus 4 orang awak kapal tentunya.

Pukul 08.15 – Atas dek kapal

Satu jam sudah kami beramah-tamah, ngalor-ngidul bicara soal pekerjaan, liburan, Flores dan keindahan Indonesia timur ini. Rombongan ibu-ibu itu ternyata baru saja melakukan Flores overland, membuat saya makin ngiler saja. “Next time lah”, ujar saya untuk mengobati kekecewaan ini karena waktu perjalanan saya yang terbatas. Sudah garing rasanya dan kapal belum berangkat-berangkat juga, saya pun berkata kepada Hans, bule Belanda itu : “What are we waiting for Hans?”. Semata-mata karena mereka tiba duluan dari kami dan saya tidak tahu apa saja persiapan yang mesti dilakukan pagi itu. Hans hanya menggeleng, “No idea”. Tiba-tiba saja, deru sepeda motor terdengar dan merapat membawa penumpang (yang ternyata nakhoda kapal) yang memangku sebuah karung besar berisi beras. Hans dan saya pun tertawa, “Well, definitely impossible to go for 4 days 3 nights without nasi for us ha?”.

Pukul 09.15 – Perairan Teluk Labuan Bajo

Kapal pun berangkat, perlahan meluncur di atas perairan yang tenang membiru. Angin sepertinya tampak sangat bersahabat. Kami menikmati hamparan panorama lanskap Flores yang khas. Musim kering yang sudah berjalan 2 bulan membuat puncak-puncak bukit yang ada tampak gersang. Bahkan puncak bukit yang mencuat di sebelah kiri depan kami tampak berwarna hitam legam. Ya, karena keringnya bumi Flores ini, hutan sekitar pun jadi rawan terbakar. Asap tampak masih mengepul di puncak bukit dan batas daerah yang sudah termakan api hanya sekitar 500 meter dari kampung kecil di bawahnya!

Pukul 10.17 – Pulau Kelor

Persinggahan pertama kami, berupa pulau kecil yang sangat apik. Kelor, mungkin dinamai karena ukurannya yang memang mungil. Sebuah bukit gamping berumput mencuat di tengah air, dan hanya menyisakan sisi berpasir putih di bagian selatannya. Pasirnya sebenarnya cukup halus, dan serta-merta bergulir jatuh ketika dipegang tangan. Mirip-mirip dengan karakter pasir di Bira ataupun di Ujung Genteng sepertinya. Hanya saja, di banyak tempat terhampar pula pecahan-pecahan karang putih seukuran jempol kaki yang membuat kami harus berhati-hati dalam melangkah. Si kecil bule pun segera berteriak-teriak kegirangan sambil berlari ke arah pasir mengumpulkan kerang-kerang yang berserakan. Fatima, sang ibu yang asli Purwokerto, mengingatkannya untuk berhati-hati sementara kakaknya yang berusia belasan tahun sudah terjun berenang ke sisi kapal. Aris dan Hans sudah duluan meraih snorkel dan berenang menjauhi kapal ke sisi timur pulau. Saya pun tergoda oleh jernihnya air dan liukan soft coral yang membayang di bawah. Segera saya dan Mbak Wita terjun menyusul merasakan air yang ternyata terasa begitu dingin saat itu. Saya yang sebenarnya agak fobia dengan air, mulai menikmati indahnya pemandangan bawah laut yang tersaji di kaki saya. Beragam ikan berwarna-warni tampak berenang bolak-balik di antara beraneka-ragam koral. Satu ikan sempat saya kenali, ikan yang muncul sebagai sosok Nemo, bersembunyi di balik rumput laut besar. Namun sontak, saya yang terlena segera berenang membalik ke pesisir. Tiba-tiba di bawah saya, lereng pulau yang jernih penuh koral lalu berubah drastis menjadi biru gelap, pertanda air yang mendalam. Saya pun lalu menepi, namun masih tetap berada di air sambil berpegangan di sepotong bambu yang mengapung. Ah, rupanya bukan sekedar bambu biasa, bersama-sama dengan bambu lain membentuk persegi, konstruksi itu adalah sejenis bubu pemerangkap ikan. Tampak seorang nelayan dengan kacamata renang buatan sendiri, hilir mudik mengejar dan mengarahkan sekumpulan ikan untuk masuk ke bubu raksasa tersebut. Ikan yang masuk, tentu saja tak akan bisa keluar lagi. Wuih, tak terbayang kekuatan penyelam itu karena berenang biasa saja sudah sangat menguras tenaga, apalagi harus menyelam dan mengejar gesitnya gerakan ikan di bawah air. Makan siang pertama kami di atas kapal saya habiskan dengan lahap, apalagi lelah sehabis berenang serasa terobati dengan lezatnya ikan bakar dan pedasnya sambal tomat. Siang itu, kapal pun kembali meluncur stabil ke arah barat, dan angin sepoi-sepoi menidurkan saya di dek depan. Sebelum mata sepenuhnya tertutup, kami sempat berpapasan dengan kapal sejenis, Kapal Layar Motor (KLM) Angin Mamiri, yang membawa rombongan bule yang asyik berjemur di haluan.

Pukul 13.16 – Pulau Rinca

Kapal mulai merapat di Loh Buaya, gerbang masuk ke Pulau Rinca. Jadi, komodo (Varamus komodoensis) tidak hanya terdapat di pulau Komodo saja, namun juga di pulau besar lain seperti Rinca, Padar dan pulau-pulau lain dalam areal Taman Nasional seluas 60.300 ha ini. Konon jumlah mereka saat ini hanya tinggal 4.000 ekor saja. Belum sempat kaki menginjak jetty kayu, Aris sudah memperingatkan kami untuk berhati-hati. Komodo dapat saja sudah berada di gerbang depan, sehingga sebelumnya kami harus tetap berjalan berkelompok dan memasang mata dengan sangat awas. Idih, kayaknya serem amat ya, belum apa-apa sudah bergidik seperti ini. Kira-kira berjalan 15 menit melewati lapangan rumput, tibalah kami di kantor TNK. Disambut ramah petugas, kami malah sibuk mengambil kamera karena tampak beberapa komodo sedang berkeliaran di sekitar kantor. Baru tahu juga kami, bahwa komodo adalah hewan yang sangat sabar. Layaknya buaya, dia dapat berdiam diri berjam-jam lamanya sambil menunggu mangsanya mendekat. Karena warnanya yang abu-abu itu, cukup tersamarlah tampilan komodo di alam Flores ini. Begitu mangsa mendekat, secepat kilat komodo akan menggigit dan menransfer kuman penyakit berbahaya yang terdapat di dalam air liurnya. Jika tidak mendapat pertolongan segera, binatang besar atau manusia akan lumpuh dalam hitungan hari, dan selanjutnya mati karena infeksi parah. Saat itulah komodo yang setia membuntuti mulai akan memangsa, menggigiti, mencopot bagian tubuh satu-persatu dan akhirnya menelannya. Ranger TNK kami selalu berjalan di depan dan membawa kayu panjang. Selain untuk memukul-mukul semak rumput untuk mengetahui komodo yang bersembunyi, kayu ini paling cocok digunakan untuk menghalau binatang lain seperti ular. Oh ya, kami diberitahu juga kalau komodo dewasa berat satu kwintal dapat berlari hingga 18 km/jam! Memang belum dapat menyamai kecepatan lari manusia rata-rata, namun jika kita dikejar komodo dan terjatuh, dapat diperkirakan apa yang terjadi selanjutnya. Belum lagi, ternyata komodo juga disinyalir mampu berenang di laut. Cukup menyeramkan juga kedengarannya. Sebuah bangkai kerbau tergeletak di sisi kiri track kami, sudah tak menyisakan daging sedikitpun. Seekor komodo masih memaksakan dirinya memakan kerbau itu, walau bagian yang masih sanggup dicopot adalah kaki. Walhasil, kaki itu pun masuk ke perutnya, dan saking panjangnya menyisakan ujung pahanya yang muncul di luar mulut komodo. Begitu rakusnya komodo satu ini! Di ujung jalur trekking, kami berdiri di atas ketinggian dan mengagumi keindahan lanskap Flores yang benar-benar mempesona. Matahari sudah sangat condong ke barat ketika kami meninggalkan Loh Buaya.

Pukul 19.30 – Pulau Kalong

Dihibur oleh pemandangan sunset yang indah di tengah laut, tak lama kemudian kami merasakan gerak kapal melambat, dan akhirnya berhenti di sebuah pulau. Gelapnya suasana membuat saya tak bisa berorientasi situasi sekitar. Yang sempat saya perhatikan, tampak beberapa lampu lain yang menandakan ada beberapa kapal serupa yang berlabuh di sini. Jeims, kru kapal pun segera melemparkan jangkar. Bersamaan dengan itu, sebuah kapal lain pun berlabuh dan melemparkan jangkarnya di sisi belakang kapal kami. Bersiap-siap melahap makan malam, tiba-tiba beberapa kru kapal kami dan kru kapal lain berteriak heboh. Ternyata, arus laut di sekitar pulau ini sangat kuat sehingga tak terasa kapal kami berputar dan berjejeran dengan kapal lain. Saya pun lebih kaget lagi karena tiba-tiba muncul sebarisan pohon bakau dekat di sebelah kiri. Mesin pun dihidupkan dan kapal berlayar menjauh untuk segera menemukan spot pelemparan jangkar terbaik. Saya pun baru ngeh, ternyata kalong yang dimaksud tinggal di pepohonan bakau ini. Tidak hanya ratusan, namun konon jumlahnya mencapai ratusan ribu. Lelah melalui hari yang sangat menyenangkan tadi, kami pun terlelap dengan cepat. Tentu saja, saya setel alarm di waktu subuh agar dapat menyaksikan rombongan kalong yang pulang ke sarangnya setelah semalaman pergi berburu. Sebelum alarm berbunyi, saya sudah terbangun karena mendengar suara ciutan riuh-rendah yang ternyata berasal dari kalong itu. Saya pun terpana menyaksikan langit dipenuhi titik-titik hitam. Sayang sekali, saya tidak bisa mengabadikan momen langka itu karena langit masih dominan gelap. Belum pukul enam pagi ketika sarapan mulai terhidang dan kami pun mengisi perut sebagai bekal kegiatan awal hari itu seiring bergeraknya kapal ke barat.

HARI 2 Pukul 06.48 – Loh Liang

Tiga puluh menit berlalu ketika kami berlayar melewati kampung Naga di pulau Komodo, dan kami pun merapat di perairan Loh Liang bersama tiga kapal lain. Tak bisa mendekat, kami pun dijemput dengan fiberboat milik pengelola TNK dan dibawa ke dermaga. Kantor di sini lebih mewah, tampak beberapa bangunan bungalow dan hall yang terkelola dengan baik. Tak kalah ramahnya dengan petugas Rinca, kami pun disambut hangat dan dibawa untuk briefing singkat. “Bagaimana, mau pilih short, medium, long atau adventure trekking?”, begitu kata si petugas ‘menembak’ kami. Kami pun sepakat untuk mengambil jalur medium, selain supaya lebih enjoy dan juga agar bisa mengakomodir seluruh peserta sehingga tidak terpisah-pisah menjadi beberapa rombongan. Cukup kecewa juga rasanya saat itu, karena kami tidak menemukan satu ekor komodo pun! Alih-alih komodo, saya sendiri malah menghabiskan memory card dengan memfoto kenampakan satwa liar lain seperti burung, rusa dan kerbau. Ternyata saat ini memang sedang musim kawin komodo, sehingga mereka lebih suka mengasingkan diri di tengah hutan. Yah, siap juga sih yang kawin sukanya ramai-ramai? Tapi, soal makan bagaimana? Sebenarnya, setelah makan seekor komodo dapat bertahan selama 1 bulan, sehingga tidak menjadi masalah tentu. Keindahan panorama teluk Loh Liang yang indah mengobati kekecewaan kami. Turun ke bawah, matahari masih rendah di ufuk timur ketika kapal meneruskan perjalanannya.

Pukul 09.48 – Pink Beach

Satu jam meninggalkan pulau Komodo, kami menyaksikan sekumpulan kapal berlabuh di lepas pesisir pulau. Perairan sekitar tampak indah sekali, mirip dengan pulau Kelor, tampak soft dan hard coral membayang di bawah airnya yang biru kehijauan. Tampak beberapa pasang turis bule snorkeling di seputaran perahu sementara di kejauhan beberapa boat sedang menunggu tuannya yang menyelam di bawah. Saya pun segera kembali menceburkan diri di pagi yang panas itu ke dalam dinginnya air laut nan asin ini. Tak berbekal apa pun, saya segera membungkus kedua tangan dengan plastik pembungkus supaya dorongan di dalam air lebih terasa. Menyelam bebas hingga kedalaman 6 meter, saya tertarik dengan seekor bintang laut berwarna biru ngejreng. Kehabisan nafas, sayapun angkat bintang laut itu ke atas untuk lebih memperhatikan keunikannya. Tak dinyana, begitu terangkat di atas air, binatang unik ini mengeluarkan cairan dari pusatnya. Mirip (maaf) air kencing, saya pun tertawa sambil mengembalikan binatang ini kembali ke habitatnya. Dua puluh menit mengapung, saya mulai lelah. Dengan izin nakhoda, saya meminjam kano kayunya dan mulai mendayung ke pinggir pantai. Dulu, di masa kecil saya pernah beberapa kali mendayung sampan di pinggiran sungai Kapuas, Pontianak. Dengan penuh semangat saya pun mulai mendayung, dan hanya dua menit berikutnya kepercayaan diri saya menjadi luntur. Ombak laut yang cukup keras membuat limbung kano saya. Pindah posisi dari belakang ke depan tetap membuat jalan perahu meliuk-liuk. Akhirnya saya menyerah, saya pun terjun ke laut sambil mendorong kano dari dalam air perlahan. Akhirnya, 10 menit kemudian saya pun mendarat di Pink Beach. Tak asal diberi nama, pantai ini memang memiliki butir-butir pasir yang sebagian berwarna merah! Kiranya, warna itu berasal dari pecahan koral berwarna merah yang terdampar di pantai. Pulangnya, saya cukup memanggil kru kapal untuk berenang mendekat, membawa kano dan saya kembali ke kapal.

Pukul 01.54 – Gili Laba

Kapal berlabuh di sebuah teluk yang dinamai Gili Laba, perairan yang tak kalah cantik pula. Jenuh dengan snorkeling, saya, Hans dan Jeims trekking ke puncak bukit. Sedangkan yang lain lebih memilih beristirahat di dek kapal saja. Tubuh yang tambun, perut kembung dan kelelahan membuat saya tertinggal di belakang. Hans dan Jeims yang duluan tiba di puncak bukit di atas segera menyemangati saya untuk segera menyusul. Lima menit kemudian, saya pun tiba bergabung di puncak. Amazing, tak henti-hentinya saya berdecak kagum melihat panorama yang mungkin merupakan panorama terindah yang pernah saya saksikan seumur hidup. Sebuah teluk yang indah melingkar di kaki saya, seolah-olah membingkai kuningnya perbukitan Flores yang memukau itu. Kapal kami tampak bersandar di bawah, mungil sekali kelihatannya, mengapung di atas air berwarna biru yang bergradasi hijau di tepian. Saya pun mengabadikan keindahan alam itu sambil sesekali mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberi saya kesempatan emas ini, panorama yang tidak semua orang bisa saksikan.

Pukul 18.30 – Selat Sape

Di sini jantung saya (dan penumpang lain) berdebar tak keruan. Kapal semakin melaju karena selain menggunakan mesin, dibantu juga dengan angin timur yang kencang berhembus. Layar sudah tegak terpasang dan dihantam angin keras sehingga miring ke kanan. Selat Sape, adalah selat yang ditakuti para pelayar. Selain ombaknya yang besar, di waktu-waktu tertentu di beberapa bagian selat ini terjadi pusaran air yang kuat yang dapat menelan kapal apapun. Hal ini karena selat ini adalah penghubung Laut Flores dan Laut Sawu yang terus bermuara ke Samudera Hindia. Arus laut Flores dipaksa mengalir dan disedot dengan hebatnya oleh Samudera Hindia yang jauh lebih masif. Beberapa kali saya mendengar cerita kapal serupa kami, saking dahsyatnya ombak, beberapa tas milik turis terlempar hilang di laut. Untuk itu pulalah, selalu awak kapal mengingatkan penumpang untuk mengikat tasnya di saat melewati selat ini. Karena hal itu pula lah, hingga pukul 8 malam saya tidak bisa memicingkan mata. Samar-samar saya melihat julangan Gunung Sangeang dan berharap dapat segera tiba di sekitar pulau gunung api itu. Bukan apa-apa, jika kami sudah mencapai pulau itu, dipastikan selanjutnya kondisi ombak akan jauh lebih reda karena letaknya sudah terlindung oleh Pulau Sumbawa. Tak dinyana, lagi-lagi karena lelah jua lah yang membuat saya tiba-tiba terlelap di tengah-tengah hebohnya goyangan kapal.

HARI 3 Pukul 08.15 – Pulau Satonda

Terbangun pagi-pagi, saya sangat menikmati perjalanan ini karena ombak mereda dan langit begitu cerahnya. Bahu saya dicolek Aris yang memberitahukan bahwa di kiri saya adalah puncak Tambora yang letusannya sangat melegenda itu. Tampak keropos di bagian puncak, kaldera yang tersisa memang berukuran raksasa. Terbayang sudah betapa dahsyatnya ledakan abad ke-19 itu, yang abunya menutupi sebagian Eropa dan membuat Napoleon kalah perang serta konon memicu ditemukannya sepeda sebagai alat transportasi. Setengah jam kemudian, kami pun sudah berlabuh di perairan sebuah pulau kecil nan sepi. Dua puluh menit menunggu, saya dan Aris yang sudah tak sabar menanti jemputan perahu petugas penjaga, segera menceburkan diri berenang ke laut. Dengan sandal jepit yang saya pasangkan di kedua tangan, gerakan saya lebih cepat di air. Tas kamera saya titipkan ke kru kapal yang datang dengan kano putihnya. Satonda, adalah sisa dari gunung api yang sudah mati dan meninggalkan kaldera yang diisi oleh air laut. Saat ini, jalur hubungannya dengan Laut Flores sudah putus sehingga danau ini praktis terisolasi. Saya pun tak berniat menceburkan diri di tengah danau sepi ini, melainkan hanya mengelilingi tepiannya saja. Di sebuah tempat, saya menemukan ribuan batu tergantung di pepohonan pinggi danau. Ternyata, beredar kepercayaan setempat bahwa dengan menggantungkan batu di sini, keinginan kita akan terkabul. Namun, jika sudah terkabul, tentu saja harus kembali dan melepas ikatan di batu tersebut. Konon, salah seorang pasangan Eropa yang sudah lama mendambakan momongan, terkabul keinginannya setelah berkunjung ke sini. Tentu saja, beberapa waktu berikutnya mereka kembali ke sini, melepas batu sambil mengadakan acara syukuran, berupa makan-makan dengan seluruh penduduk desa sekitar Satonda.

Pukul 01.30 – Pulau Moyo

Tiba juga kami di pulau yang indah ini, dan semakin bergaung keelokannya karena Lady Diana dan Mick Jagger pun menyempatkan diri berkunjung dan menikmati salah satu hide away terbaik Asia-Pasifik ini. Kami pun mendarat di salah satu sisi pulau yang sepertinya jarang disinggahi manusia. Mencuci muka dan tangan dengan segarnya air tawar, membilas tumpukan air garam yang selam aini menempel di tubuh adalah aktivitas yang saya lakukan pertama kali. “Saya mau tunjukkan kalian kolam tersembunyi di sini, jarang yang tahu” kata Aris tiba-tiba. Kami pun lalu menyusuri sungai yang berair jernih itu, di beberapa tempat tampak ikan sebesar kepalan tangan berseliweran. Tentu saja kami mencoba menangkapnya, teteapi gerak mereka sungguh gesit. Tiga ratus meter trekking ke arah hulu menembus hutan, kami pun dihadang oleh tebing sungai. Di sini, air mengalir menuruni tebing kapur setinggi 50 meter. Perlahan, kami pun menaiki tebing ini dengan ekstra hati-hati karena terpeleset sedikit saja sudah tidak terbayang akibatnya. Sepuluh menit bergumul dengan tebing, kami pun tiba di puncak. Di sana, sudah menunggu sebuah kolam alami dengan airnya yang jernih. Memang, hamper tidak ada tanda-tanda bekas orang di situ.tak ada jejak coretan, sampah rumah tangga ataupun jalan setapak di sekitarnya. Diameter kolamnya tak seberapa, paling sekitar 6 meter saja. Namun, saya bergidik ketika menerjunkan diri ke dalam. Sudah masuk menyelam sekitar 7 meter ke bawah namun saya belum bisa melihat dasarnya! Saya pun lalu naik dan menyambar sabun untuk membersihkan kerak-kerak garam dan kulit mati yang terbentuk selama 3 hari perjalanan menyenangkan ini. Tak lupa, rambut saya yang sudah seperti ijuk saya lumuri shampo. Berendam di dalam air, serasa sedang berada di bathtub saja. Setengah jam di atas, kami pun turun perlahan untuk meneruskan perjalanan.

Pukul 04.45 – Pulau Medang

Kami dapat bonus dari perjalanan ini, sang nakhoda ada keperluan tertentu sehingga harus kembali ke rumahnya sebentar. Pulau Medang, adalah pulau kecil yang penduduknya hampri semua berasal dari Sulawesi. Baik dari suku Bugis, Mandar ataupun Bajo rukun hidup bersandingan di sini. RUmah-rumah mereka masih berbentuk aslinya, dengan karakter sambunglayang di bubungan depan sebagai penanda suku si pemilik rumah. Selain sebagai nelayan dan nakhoda kapal turis, mereka juga mencari pendapatan dengan mengembangkan rumput laut. Agar-agar adalah istilah lokal yang lebih populer, dan seumur-umur saya belum pernah menyaksikan hamparan rumput laut seluas ini. Layaknya berada di lahan persawahan. Sejauh mata memandang saya hanya dapat melihat botol-botol kecil yang mengapung, sebagai tempat bergantungnya rumput laut. Mungkin, bentangan budidaya rumput laut itu dapat mencapai panjang 4 km dan lebar 1 km. Dijamu dengan makan di rumah nakhoda, kami pun menikmati keramahan penduduk dan keceriaan anak Medang hingga lepas sore. Lewat maghrib, kami pun kembali berlayar perlahan untuk beristirahat di Gili Bola, menghabiskan malam di sana.

HARI 4 Pukul 08.27 – Labuan Lombok

Terkaget-kaget saya ketika pukul 3 dini hari mesin kapal sudah menderu kencang, saya pun tertidur lagi. Pagi hari terakhir pejalanan kami ini, hanya saya habiskan dengan duduk-duduk di dek sambil mengepak ulang backpack 35 liter saya. Sepanjang perjalanan, langit begitu cerahnya dan puncak Rinjani tampak membayang di kejauhan. Kembali lagi keinginan yang sudah lama terkubur kembali mencuat, apalagi kalau bukan ingin sekali seumur hidup menaklukkan puncak itu. Namun, tentu saja, persiapan fisik harus saya lakukan, dan tidak dalam waktu dekat ini tentu saja. Kapal pun melambat, masuk ke sebuah teluk yang cukup indah. Labuan Lombok, sebuah teluk sekaligus pelabuhan yang terletak di sebelah utara pantai Kuta Lombok, menjadi akhir perjalanan yang sungguh berkesan ini. Tak hanya daratan Flores dan Lombok yang cantik, perairannya pun sangat menawan! Setelah memberi cinderamata ke Jeims dan pamitan dengan awak kapal yang ramah, kami pun sudah berada di dalam mobil menuju Mataram dan selanjutnya berpisah pulang ke rumah tujuan masing-masing membawa segudang kenangan manis dan setumpuk foto dalam memory card.

6 Responses to “Menikmati Keindahan Indonesia Timur Seutuhnya dari Atas Perahu (Sailing Flores – Lombok)”

  1. Dewi Setiawati Says:

    Agenda tahun ini ah pokoke🙂 *yg blm pernah meninggalkan jejak karbon nang Lombok (ndeso pollll)….blogmu tak taruh di aku juga yaaaaa..

  2. biayanya berapa untuk trip ini om?

    • lupa..tapi harga teman🙂 dan saya hanya gabung trip sailingnya saja karena trip keseluruhannya ada overland sebagai pendahuluan..

      coba browse aja, banyak ko yang nawarin paket seperti ini dengan harga sekitar 2 – 3 juta tergantung jumlah orang dan fasilitas. coba juga lihat di web nya Perama..

  3. I was curious if you ever thought of changing the page layout of
    your site? Its very well written; I love what youve got to say.
    But maybe you could a little more in the way of content so people could connect with it better.
    Youve got an awful lot of text for only having one or two pictures.
    Maybe you could space it out better?

    • Yes..actually I had a plan (that never realised yet) to change themes and make up the content. But at least until early year I cannot find any themes that both interesting and also has enough ‘dark’ BG to strengthen the appearance for text and photos.

      And also, for others this reason seems a little bit ridiculous, but the truth is I don’t have enought time to tidy up my blog. I worked in a remote area with bad internet connection, impossible to do editing. At the field days off, at home, I have to do anything else with family that is more important than blogging haha. But I still hold the line that is my intention to make the blog is to share my articles to friends whom cannot get the magazines. Not to 100% telling the stories of mine to all readers ( which is become a bonus maybe?). But thanks for the suggestion, I have to make it up someday..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: