Tenganan, Bali dari Ratusan Tahun Silam

Oleh : R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di majalah Jalanjalan Juni 2011 dan Garuda Indonesia Inflight November 2011)

Saat itu pukul 04.40 dinihari ketika mentari baru saja menyiratkan berkasnya di ufuk timur ketika ferry menjejakkan lambungnya di Padang Bai. Perjalanan nyaris tanpa ombak dari Lembar tak begitu saya rasakan karena empat jam lebih terlelap kelelahan di dalam kabin. Mata masih mengantuk ketika saya melangkahkan kaki turun, menghirup udara pesisir Bali yang segar dan memanjakan mata dengan kehadiran puncak Gunung Agung yang tampak anggun berdiri di kejauhan.

Pukul 05.30, dan saya yang kesulitan untuk mencari tempat sarapan membelokkan langkah ke sebuah warung yang merangkap sebagai tempat penjualan tiket dan pelaksana tur. Secangkir teh panas dan semangkuk mi instan rebus sungguh sangat menyenangkan rasanya. Setengah jam membolak-balik buku panduan wisata Bali dan lelah browsing mencari informasi, akhirnya saya yang setengah putus asa mencari penyewaan sepeda motor bertanya ke gadis manis anak pemilik warung. Berbicara panjang-lebar, si Ibu pun nimbrung dan akhirnya sebuah motor matic milik pribadi disewakan ke saya dengan harga murah. Semua itu didapat karena kata kunci ‘Yogyakarta-kota saya tinggal‘ karena si Ibu itu begitu terkesannya dengan kunjungan sebelumnya ke Yogyakarta sehingga mempercayakan sepeda motor pribadinya untuk saya gunakan. Satu percakapan yang cukup menggelitik saya adalah di saat si Ibu berkata : “Yogyakarta indah ya, tempatnya bagus dan turisnya banyak”. Saya pun menjawab cepat : ”Bali pun tak kalah indahnya Bu, buktinyanya saya yang dari Yogyakarta malah ke Bali, he he”. Orang Bali senang dengan kota Yogyakarta sedangkan orang Yogya malah mainnya ke pulau Bali.

Sepuluh menit kemudian saya pun sudah melaju di jalanan lengang Candi Dasa. Aspal hotmix mulus tak membuat saya untuk memacu kencang kendaraan. Bukan apa-apa, rugi rasanya jika saya ngebut sedangkan pemandangan di barat saya demikian indahnya diterpa cahaya pagi yang berona keemasan. Beberapa kali saya berhenti di pinggir jalan untuk mengabadikan hijaunya persawahan yang sedang dibajak, dengan latar belakang Gunung Agung yang termasyhur itu. Lima belas menit kemudian saya pun berbelok di sebuah pertigaan dengan petunjuk arah ‘Tenganan’ di kiri atas. Jalanan pun semakin lengang, hanya dipenuhi anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah dengan ramainya. Motor saya pun akhirnya terhenti di sebuah pelataran parkir yang cukup luas dan rindang, hanya ada dua sepeda motor dan sebuah mobil pagi itu.

Tenganan, sebenarnya adalah nama sebuah desa di pulau Bali. Desa ini menjadi salah satu desa terunik dan terkenal karena penduduknya dipercaya adalah salah satu penduduk Bali yang tertua, biasa disebut dengan Bali Aga (Bali asli atau pertama). Tentu saja, tradisi dan kehidupan sehari-hari masyarakatnya masih terjaga dengan baik yang menjadi pesona utama tempat ini. Saya memasuki gapura kecil di sisi desa, dan segera saya dibuat takjub. Di dalam gapura itu, memanjang perkampungan yang mungkin terindah yang pernah saya saksikan seumur hidup. Bangunan-bangunan unik khas Bali, pepohonan yang rindang serta pernak-pernik barang kerajinan memenuhi dinding-dindingnya. Orang-orang dengan pakaian tradisional hilir-mudik beraktivitas. Sejenak saya merasa dilemparkan ke zaman ratusan tahun silam di saat modernisasi belum ada.

Saya berjalan perlahan sambil memperhatikan dengan seksama berbagai barang kerajinan yang dipajang di luar. Patung, topeng, kain, hiasan dinding, dan entah berapa ratus macam kerajinan lagi yang saya lihat. Saya menyusuri sepertiga jalan desa dan saya berhenti di sebuah kios ketika seorang penduduk sedang asik mengukir bilah-bilah bambu. Pak Sudarno, dengan mahirnya menggores pahat kecil meliuk-liuk di atas belahan bambu dan mengubahnya menjadi lukisan yang indah. Tiap goresan pahat yang dilambari dengan kekuatan dan kedalaman yang berbeda, akan memberikan rona yang berbeda pula. Di lain waktu beliau pun menggores daun lontar dan menyaputnya dengan kemiri yang dibakar memberi warna hitam legam yang dapat bertahan hingga ratusan tahun. Pak Sudarno, pria paruh baya ini adalah salah satu pemuka Tenganan dan terus berusaha mempertahankan tradisi desa dengan baik. Selain mengukir, beliau juga piawai dalam memainkan alat musik tradisional Bali seperti rantang, suling atau pun genggong yang suaranya khas terdengar di telinga. Beliau pun bercerita bahwa di telinganya terdapat bekas tindikan sebagaimana juga telinga penduduk yang lain baik lelaki maupun perempuan. Tindikan ini hanya diisi dan digunakan di saat acara adat Sandek (rapat desa) yang diadakan sebulan sekali atau acara Perang Pandan Mekare-kare yang termashyur itu.

Selera saya memang tak sama, demikian kesimpulan saya setelah berbincang-bincang dengan pak Konri. Seniman ini sudah menekuni seni lukis kanvas dan tekstil selama dua puluh tahun, dan berkata bahwa desa Tenganan saat ini masih kurang apik. “Bagaimana bisa Pak?”, tanya saya keheranan. “Contohnya coba lihat saja pepohonan ini, terlalu rindang dan penanamannya dulu tidak berkoordinasi dengan seluruh desa”, sambungnya sambil menunjuk ke jejeran pohon besar yang terdapat di dalam desa. “Oh?”, sambung saya sambil keheranan. Bagi saya pepohonan itu sudah tampak demikian apiknya, namun lain di pandangan beliau. Pak Konri ini memiliki relasi yang sangat luas, mulai dari staf kedubes di Jakarta hingga ke Brussel, bahkan pula pernah menerima kunjungan Pangeran William. Berbagai majalah travel ternama dunia pun pernah meminta rekomendasi beliau soal tekstil, dan merujuk kepada koleksi kainnya yang mencapai 300 buah, cukup mengagumkan.

Saya meneruskan langkah ke ujung atas desa, menapakkan kaki di jalan utama yang membelah Tenganan. Di sebuah bangsal, tampak beberapa orang tua sedang menganyam ijuk. Duk, adalah sebutan dari atap ijuk yang diambil dari hutan sekitar Tenganan. Sementara nama ijuk sendiri sebenarnya merujuk ke nama tali yang digunakan untuk mengikat duk tersebut. Ijuk hutan yang dikumpulkan mulai dipilah satu-persatu, ijuk pun dibersihkan dan dipilih dengan panjang seragam. Selanjutnya ijuk-ijuk tersebut diikatkan ke rangka bambu dan diikat dengan kuatnya. Tak banyak peralatan yang dilibatkan, hanya tali duk dan sebuah parang kecil, sisanya hanya mengandalkan gerakan tangan-tangan cekatan penduduk Tenganan. Sanggup bertahan selama tiga puluh tahun, duk menjadi salah satu alternatif material penutup atap rumah masyarakat selain genteng tanah. Cukup murah dan sangat berseni menurut selera saya.

Masyarakat desa ini sepertinya cukup makmur, hanya dengan mengandalkan sawah desa. Sawah Tenganan tersebar luas di sekitar dan digarap oleh penduduk daerah lain. Pembagian keuntungan sebesar fifty-fifty , bersih, di luar beaya operasional seperti pupuk dan lain-lain. Dari hasil itu saja, Tenganan memiliki kas desa berupa harta yang disimpan di dalam guci-guci. Terletak di dalam Bale Agung (kantor desa adat) di tengah kampung, penduduk desa secara bergantian melakukan ronda setiap malamnya. Ronda ini tidak sekedar untuk menjaga harta tersebut karena Bali relatif aman, namun juga untuk menjaga kehormatan desa sekaligus menjadi ajang silaturahmi penduduknya.

Langkah saya terhenti di pura ujung desa, dan baru saja tahu jika Tenganan dibelah oleh tiga jalan, atau street istilah penduduk sana. Saya pun melipir bergerak ke timur, melalui sebuah gang yang lengang. Tampak beberapa penduduk sedang meraut kayu dari batang pohon enau. Memang, tangan orang Bali sangat terampil. Batang kayu yang sepertinya tidak bernilai, bisa diolah  menjadi furniture yang indah dan bertekstur menawan. Berbagai macam kursi, meja dan perabotan lain siap dijual. Rupanya, sentra kerajinan kayu ini baru saja dirintis di Tenganan dan diharapkan dapat menjadi salah satu ciri khas desa selain tenun dobel ikat Geringsing yang sudah mendunia. Geringsing sendiri berasal dari bahasa Bali yaitu ‘gering’ yang berarti penyakit keras dan ‘sing’ berarti tidak sehingga secara keseluruhan geringsing diartikan sebagai penolak bala. Proses pembuatan kain gringsing dapat memakan  waktu sampai 3 tahun, sehingga sangat langka dan bernilai mahal, cocok untuk dijadikan koleksi sebagai kain adat desa Tenganan.

Getting There :

Bali dapat ditempuh dengan penerbangan direct dari Jakarta, selama lebih kurang 2 jam perjalanan. Selanjutnya perjalanan dari Denpasar dapat dilanjutkan dengan jalan darat. Desa Tenganan terletak di Kecamatan Manggis, sekitar 17 km jaraknya dari Kota Amlapura, dan sekitar 65 km dari Kota Denpasara. Dalam kondisi lalu-lintas lancar, jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu satu setengah jam.

Where to Stay :

Tenganan masih teguh mempertahankan tradisi dengan tidak menyediakan losmen ataupun hotel, namun anda dapat menginap di rumah penduduk, tentu saja dengan seizing empunya rumah.

Penginapan banyak terdapat di daerah Candidasa, sekitar 5 kilometer dari Tenganan. Anda dapat mencoba kemewahan Puri Bagus Candidasa, Jl Raya Candidasa, 0363- 41131 (mulai 600 ribu). Atau Agung Bungalows, Jl. Raya Candidasa, 0363-41535 (mulai 320 ribu) dapat menjadi pilihan menarik. Selain itu, di sepanjang jalan raya tersebut terdapat banyak sekali pilihan penginapan, mulai dari bintang 3 hingga kelas backpacker.

What to Do :

Mengelilingi Tenganan, cukup dapat membuat anda betah seharian di sana. Adalah suatu kenikmatan tersendiri jika bisa membaur dengan ritme masyarakat desa yang bersahaja. Banyak sekali cinderamata desa yang layak untuk dijadikan buah tangan, mulai kerajinan bambu, topeng Bali, alat musik hingga tenun ikat yang sangat terkenal itu.

Anda juga dapat melakukan hiking ringan di sekitar desa, pemandangan indah tersaji di sekitar karena lingkungan pedesaan ini berada di kaki perbukitan menghijau.

Selain itu, Candidasa, adalah tempat yang cocok untuk menikmati keindahan pantai Bali yang masih asri dan bersih. Tidak banyak turis lokal dan manca negara yang datang ke sekitar daerah ini sehingga suasananya sangat cocok bagi anda yang menginginkan lingkungan yang sepi dan damai, lepas dari hingar-bingar suasana pantai selatan Bali.

One Response to “Tenganan, Bali dari Ratusan Tahun Silam”

  1. Oh my goodness! Amazing article dude! Thank you, However I
    am encountering difficulties with your RSS. I don’t know why I cannot join it.
    Is there anyone else having similar RSS problems? Anyone that knows the answer will you kindly respond?
    Thanx!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: