Dieng; Negeri Dewa-Dewi Kayangan

Oleh : R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di majalah Jalanjalan Juni 2011)

Kabut sore tampak putih berarak di bawah kaki, tubuh menggigil dan jari-jari terasa demikian kakunya. Nafas hanya bisa tertarik pendek-pendek namun terasa menyegarkan dalam suasana yang demikian heningnya. Demikianlah yang saya rasakan ketika saya menginjakkan kaki di desa tertinggi di nusantara. Sembungan, adalah desa di Dieng yang terletak di ketinggian 2.100 m di atas permukaan laut. Ritme kehidupan serasa melambat di sini ketika sore hari itu semua masyarakat sudah masuk ke rumah saat dingin menusuk tulang mulai menyerbu desa ini. Sembungan tampak senyap ketika azan maghrib mulai mengumandang dari menara masjid desa yang berarsitektur sangat unik.

Entah sudah berapa belas kali saya menjejakkan kaki di dataran tinggi nan sejuk ini, namun tidak pernah sekali pun bosan-bosannya untuk datang dan kembali datang mendambakan keindahan khas Dieng yang tidak akan bisa dijumpai di tempat lain. Hanya di sinilah, kita bisa menyaksikan peninggalan kebudayaan masa lampau terserak dengan apiknya di hamparan rerumputan hijau. Semburan asap dari kawah beracun dan lambaian kabut yang melayang-layang di pagi hari memberikan kesan mistis yang demikian mendalam. Tak usah heran pula jika anda menyaksikan para penduduknya berladang dengan menggunakan sweater dan sarung tebal sepanjang hari. Apalagi, tampak jelas asap tersembur dari rokok kretek yang bertengger di mulut mereka. Bagaimana tidak, berada di rata-rata ketinggian 2.000 m, suhu siang hari masih berkisar di seputaran 170 Celcius! Malam hari? Jangan ditanya, di sini masih umum terjadi suhu minus yang sangat ditakuti para petani. Ya, embun pagi hari yang terkena suhu minus ini akan membeku sehingga merusakkan tanaman produktif petani seperti kentang atau tembakau. Bun upas, atau embun racun, adalah momok para petani di Dieng.

Pukul empat dinihari, saya sudah memaksakan diri duduk di atas sadel dan memacu motor ke arah Gunung Sikunir (2.263 m dpl). Seketika gas motor saya turunkan karena setiap speedometer menunjukkan angka 20, badan saya menggigil hebat. Jaket tebal, sarung tangan dan helm fullface yang saya gunakan ternyata tidak banyak membantu. Saya pun hanya berjalan perlahan melewati Telaga Warna, Dieng Volcanic Theatre dan segera setelah melewati Sembungan dan Telaga Cebongan saya mulai berjalan mendaki dalam kondisi cahaya remang-remang. Udara yang sangat dingin, oksigen yang tipis, medan yang menanjak membuat saya hampir putus asa. Namun, iming-iming pemandangan yang menakjubkan memberi energi ekstra kaki saya untuk segera menapak naik.  Baru saja saya menginjakkan kaki di puncaknya ketika semburat warna keemasan melampar di ufuk timur. Saat-saat selanjutnya menjadi salah satu momen terindah yang pernah saya alami. Semburat tersebut melebar menjadi garis-garis tebal oranye, ungu, kuning dan merah yang bergradasi demikian indahnya. Di bawah, tampak pula hamparan kabut yang berarak tebal di kaki gunung, samar-samar silih berganti menghalangi kerlap-kerlip lampu desa yang masih menyala. Saya pun terpana menyaksikan deretan siluet Gunung Sindoro, Merbabu dan Merapi berdiri dengan gagahnya di kejauhan.

Turun dari Sikunir, saya melewati kembali Telaga Cebongan di sisi Desa Sembungan. Tampak telaga yang mendangkal tersebut berkilap membiru dipanasi sinar mentari pagi. Beberapa warga Sembungan dengan asyiknya duduk melemparkan kail di pinggir danau. Lepas dari Sembungan, saya kembali ke arah semula dan segera mendaki di bukit sebelah Telaga Warna. Lima belas menit kemudian, kembali terhampar pemandangan luar biasa di hadapan saya. Telaga Warna, yang saat itu berwarna hijau mengkilat, terhampar di bawah kaki saya dengan latar belakang Sindoro yang menjulang megah. Di sebelah selatannya, tersembul danau yang lebih kecil namun berair coklat mengkilap. Telaga Pengilon atau danau cermin, adalah nama yang diturunkan dari beratus-ratus tahun sebelumnya. Kedua telaga tersebut berasal dari kawah vulkanik yang tertutup oleh air permukaan. Aktivitas vulkanik yang masih berlangsung menghasilkan konsentrat belerang yang dapat mengubah warna air di danau. Dahulu saya pernah menyaksikan warna air yang biru, namun belakangan warna hijau adalah warna dominan dengan selingan warna merah yang terjadi hanya dalam beberapa tahun sekali.  Gelembung-gelembung gas belerang tampak masih muncul di sisi dan tengah danau.

Membalikkan tubuh ke arah sebaliknya, saya kembali disuguhi pemandangan Dieng Plateau yang tak kalah menakjubkan. Di tengah, tampak sebuah lembah berbentuk lapangan luas yang diapit julangan perbukitan. Padang Kurusetra, demikian lapangan tersebut dinamai, menandakan kepercayaan masyarakat bahwa di tempat ini lah dahulu duel Pandawa dan Kurawa berlangsung. Saya melamun membayangkan ribuan pasukan berhadap-hadapan dalam jarak satu kilometer dan melepaskan ribuan anak panah ke arah musuh. Sementara ratusan pasukan berkuda menyerang dari sisi kanan dan kiri memacu kudanya dengan cepat dan beringas. Saya pun tersadar dan paham bahwa legenda Mahabarata cukup berpengaruh di masanya sehingga sedemikian banyak tempat di Dieng dinamai dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan cerita tersebut. Kelompok candi Hindu abad ke-7 Masehi yang berada di padang rumput tersebut juga dinamai dengan tokoh-tokoh Pandawa seperti Gatotkaca, Bima, Arjuna, Dwarawati dan bahkan punakawan Semar. Sebagian besar candi masih terawat dengan baik, mengokohkan tingginya peradaban nusantara di masa lampau. Berdiri di antara candi-candi tersebut, menghempaskan kita ke suasana mistis kerajaan-kerajaan dahulu. Di sebelah kompleks candi terdapat danau kecil yang dijuluki Bale Kambang. Jangan keliru, walaupun namanya seperti itu tetapi nyatanya dahulu kolam ini bukan digunakan sebagai tempat mandinya putri-putri raja. Tentu saja, siapa yang bisa tahan menyiramkan air ke tubuh di tengah dinginnya udara terbuka Dieng? Nyatanya memang Bale Kambang digunakan untuk menyimpan harta pusaka kerajaan, disembunyikan secara rahasia di pulau mini yang terdapat di tengah kolam. Konon, tumpukan daratan di tengah Bale Kambang ini selalu berubah-ubah posisinya alias mengambang.

Selain candi, Dieng juga terkenal akan kawah uap panasnya. Kawah utama di tempat ini adalah Sikidang dan Sinila, dua kawah yang cukup besar dan paling ramai dikunjungi. Di sini, kita bisa menyaksikan menggelegaknya air panas beruap belerang bercampur lumpur kecoklatan. Beberapa pengunjung tampak mencelupkan telur mentah yang dimasukkan ke dalam kantong plastik selama  beberapa menit, dan selanjutnya telur matang pun siap disantap. Bagaimana jika kita tercebur ke dalam kawah itu? Ditanggung hanya dalam hitungan jam tubuh kita akan tinggal tersisa tulang-belulang saja. Sileri, adalah nama kawah lain yang letaknya cukup jauh dari pusat keramaian Dieng. Berasal dari kata leri atau beras, di sekeliling kawah memang banyak batuan kecil-kecil memanjang terserak seperti beras. Beberapa kawah berpotensi menghasilkan gas beracun, namun di sisi lain kekuatannya dimanfaatkan untuk diolah oleh Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) menjadi tenaga listrik yang bermanfaat bagi umat manusia. Jalur distribusi pipanya akan dapat kita temui dengan mudahnya di pinggir jalan ataupun menembus lereng-lereng perkebunan kentang yang banyak terdapat di sekitarnya.

Suatu fenomena unik yang masih tersisa dan melegenda di Dieng adalah Rambut Gimbal. Ada beberapa anak setiap generasi di Dieng yang dilahirkan dengan rambut yang lengket, tebal dan kasar berminyak, sehingga mirip dengan rambut gimbal gelandangan. Rambut Gimbal, dicurigai sebagai turunan dari gen yang belum diketahui, tidaklah bersifat permanen menetap selamanya. Dengan mengadakan suatu upacara khusus, rambut gimbal ini akan hilang dan si anak tersebut pun akan tampil seperti anak normal biasa. Entah kekuatan apa yang ada dibalik upacara tersebut sehingga secara fisik bisa mengenyahkan fenomena anak rambut gimbal. Namun, dibalik dinginnya dataran Dieng, reruntuhan candi yang membisu dan semburan panas kawah beracunnya, cerita rambut gimbal ini masih hidup dan menjadi legenda nyata yang berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi untuk kita saksikan.

Getting There :

Dieng dapat ditempuh dari Jakarta dengan jalur darat berupa bis yang berangkat setiap sorenya ke Wonosobo. Dari kota ini, anda berganti terminal dengan menggunakan dokar (kereta kuda) dan menyambung perjalanan dengan bis ¾ ke Dieng. Sepanjang jalan anda akan disuguhi pemandangan yang sangat menarik. Demikian pula jika anda memutuskan menggunakan jalur pesawat menuju Yogyakarta dan Semarang, jalur darat yang selanjutnya anda tempuh akan sangat menghibur karena berada di apitan Gunung Sindoro dan Sumbing.

Karena tempat wisata di Dieng terpencar-pencar, ada baiknya memang jika anda membawa sendiri kendaraan pribadi. Atau, opsi menyewa kendaraan (roda empat atau roda tua) yang tersedia di sana dapat anda pertimbangkan.

Where to Stay :

Losmen yang cukup terkenal di Dieng adalah Penginapan Bu Jono (085227389949), atau anda juga dapat mencoba Pondok Wisata Lestari (0281-3342026). Selain itu, banyak juga terdapat berbagai homestay dan losmen lain di seputaran Dieng dengan rate mulai dari 75.000 hingga 150.000 rupiah.

Jika anda tidak kuat hawa dingin, anda dapat memilih untuk menginap di Wonosobo yang sedikit lebih hangat dan naik ke Dieng di pagi hari.

What to Do :

Anda dapat menjelajahi keseluruhan dataran tinggi Dieng, mulai dari mengunjungi candi-candinya yang artistik, kawah yang memukau ataupun panorama telaganya yang indah. Masih banyak tempat yang jarang dikunjungi orang di Dieng, salah satunya adalah air terjun Sikarim yang terletak di petak Sirangkel di sebelah Sembungan. Mengunjungi dan menyaksikan dalamnya sumur Jalatunda juga dapat menjadi hal yang mengasyikkan. Selain itu, anda juga dapat menaklukkan jalur trekking yang banyak tersedia di sana. Membawa serta seluruh anggota keluarga pun akan jadi mengasyikkan. Jika anda tertarik dengan pasar tradisional, anda dapat berjalan-jalan di pasar tumpah yang banyak terdapat di sepanjang jalan Wonosobo – Dieng.

Tepat selepas kota Wonosobo, anda akan menemukan perkebunan teh Tambi yang dikelola dengan baik. Di sini tersedia pula penginapan yang layak, serta paket wisata untuk keluarga termasuk di dalamnya pengenalan mengolah teh sebagai minuman.

Oleh-oleh Dieng yang terkenal adalah kentangnya, dan juga pepaya Dieng yang bernama Carica. Carica ini sudah diolah dalam botol dan sirup dengan rasa yang unik. Selain itu, keripik jamur juga menjadi primadona setempat. Jangan lewatkan pula mencicipi hangatnya mi ongklok dan tempe kemul khas Wonosobo.

9 Responses to “Dieng; Negeri Dewa-Dewi Kayangan”

  1. Salah satu tempat favoritku juga🙂

  2. mantab fr nya
    ssalam dari dieng🙂

  3. sayang banget tebing2 di dieng sudah menjadi lahan kentang. Takut nya longsor karena kurang daerah resapan😦

  4. waww dieng apeg tenan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: