Sakit Hati Membara di Dada

Sudah menjadi resiko bahwa seorang field geologist harus menghadapi pula ancaman berbagai serangan penyakit yang umum menyerang di kawasan hutan. Gatal-gatal, cacingan, kaki gajah, diare, tipus, liver, demam berdarah dan malaria adalah beberapa penyakit yang umum diderita geologist (termasuk juga panu, kadas, kurap dan korengan tentunya). Beberapa penyakit bisa berujung pada kematian, terutama jika dalam perjalanannya berkolaborasi dengan penyakit lain. Misal, malaria yang berkolaborasi dengan tipus atau demam berdarah akan menyebabkan double infection yang cukup dapat membunuh seseorang. Namun pada prinsipnya, penyakit apapun apabila terlambat ditangani (atau terlambat diketahui) akan dapat mengakibatkan kematian. Buktinya, selama ini, sudah ada seorang rekan saya sesama geologist yang meninggal karena serangan malaria (innalillahi wainnaillaihi rojiun). Mencoba untuk tidak berakhir dengan takdir yang sama, saya pun berusaha sekeras mungkin menjaga kondisi tubuh dan menghindari penyebab munculnya penyakit itu. Namun memang manusia hanya bisa berusaha, sisanya adalah hak prerogatif Sang Illahi semata.

Suatu subuh, saya merasa aneh karena tubuh rasanya sulit sekali untuk digerakkan. Badan terasa pegal-pegal dan sedikit demam, sementara kepala terasa berat. Karena masih banyak pekerjaan dan mengira hanya masuk angin biasa saya pun tetap memaksakan diri untuk beraktivitas di site office. Setelah dua hari, ternyata penyakit tak kunjung hilang. Saya pun sudah menghabiskan berbelas sachet jamu penolak angin namun rasa tidak enak di badan tak kunjung hilang. Di hari ketiga saya malahan mencoba untuk lari pagi, siapa tahu dengan banyak berkeringat, tubuh menjadi segar dan penyakit pun segera hilang. Alih-alih berkurang, tubuh saya semakin lemas seiring banyaknya keringat yang mengucur sehingga siang harinya saya pun menyerah. Diantar seorang mekanik, saya masuk ke sebuah klinik yang cukup besar. Oh ya, perlu diingat lagi bahwa saat itu saya masih berada di sebuah kabupaten di Kalimantan Timur sehingga kategori ‘besar’ di sini adalah besar untuk kelas kabupaten saja.

Berbagai tes pun dijalankan, dan maklumlah namanya klinik kecil semua proses terkesan lambat. Saya pun dioper ke berbagai laboratorium untuk menjalani tes darah dan urin setelah sebelumnya diperiksa oleh dokter umum yang masih muda dan tampak meragukan. Memaksakan untuk menahan sakit selama tiga hari, ternyata tubuh saya drop. Saat berjalan keluar dari ruangan sehabis periksa darah, saya tiba-tiba merasa ringan dan terjatuh. Nyaris pingsan, kesadaran saya mulai kembali dan mencoba bangkit berdiri. Sebenarnya yang saya khawatirkan saat itu bukan jatuhnya, tetapi malunya itu lho. Menarik nafas panjang, saya segera berpegangan menuju sebuah kamar di klinik yang disiapkan oleh seorang suster manis (ehm) setelah kaget melihat kondisi saya. Berbaring sejenak, suster tadi membuatkan saya secangkir teh panas, yang rasanya semanis parasnya. Rasa hangat yang menjalar membuat saya merasa agak segar dan berusaha duduk kembali. Total mungkin hanya sekitar 5 menit jedanya dari pertama saat saya terjatuh hingga kembali bertemu dokter untuk membahas hasil laboratorium saya. Jadi, berdasarkan hasil lab, saya dinyatakan positif terkena infeksi saluran kencing. Walaupun ragu, saya mengiyakan saja dan menebus beberapa obat di apotek. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang mengiang-ngiang di telinga, misalnya; kenapa saya kencing tidak sakit? Lalu kenapa harus infeksi saluran kencing, tidak infeksi lainnya?, dan kenapa-kenapa lainnya. Tapi yah, saya kan bukan dokter, jadi sebagai pasien yang baik sayapun istirahat dua hari sambil terus mengonsumsi obat yang diresepkan.

Dua hari berlalu, kondisi saya tidak kunjung membaik. Mulai ragu-ragu dengan diagnosa dokter, saya pun tambah penasaran. Tanya sana-sini, saya diberitahu oleh warga lokal bahwa di situ terdapat sebuah rumah sakit yang dikelola oleh seorang bekas mantri. Jadi, di saat kota kecil itu masih berupa kampung sederhana, si dokter yang dulu adalah satu-satunya mantri di situ sudah duluan membuka praktek. Seiring waktu, sang mantri ini pun semakin sukses dengan mendirikan sebuah rumah sakit sederhana yang terletak di ujung kota. Hebatnya, walaupun hanya berpredikat ‘mantri’, setiap pasien yang datang ke dia pasti sembuh. Syaratnya sih cuma satu, kita harus mendapat suntikan darinya! Jadi bukan obat oral bukan pula oles, tapi wajib suntik! Penasaran, saya pun datang ke sana, sekarang gantian di antar oleh Mas Darwis, supervisor di tempat kerja saya. Cukup ramai juga antriannya, saya pun semakin yakin karena jelas tampak dari ramainya pasien, kharismanya belum memudar. Saya pun masuk ke ruangan periksa, di situ tampak seorang lelaki paruh baya berkaca mata duduk di dalam memegang hasil lab saya. “Mas, sampean kena liver nih! Harus total istirahat”, katanya tanpa basa-basi. “Ah masak Dok! Saya ga lemes-lemes amat kok, masih bisa beraktivitas,” jawab saya tidak percaya. “Coba baring deh,” sambungnya. Baju saya pun diangkat, dan sekonyong-konyong dia menekan perut kanan atas saya. “Sakit kan?”, tanyanya. Saya yang tidak merasa apa-apa selain rasa geli hanya menjawab : “Nggak Dok”. Dia tampak penasaran, sekarang dengan kedua telapak tangan mendorong bagian yang sama. “Sekarang pasti sakit kan?”, katanya pede. Sumpah, saat itu saya benar-benar tidak merasakan sakit selain rasa geli sehingga saya pun menggeleng dan berkata, “Masih kayak tadi Dok”. Belum selesai saya bicara, tiba-tiba jleebhh! Dokter itu menghunjamkan kedua ujung jarinya ke ulu hati saya sehingga tenggelam ke daging sedalam kira-kira 3 cm! “Sekarang bagaimana Mas?”, tanyanya dengan mata mendelik. Saya yang kesakitan pun seenaknya saja menjawab : “Kalau kayak tadi Dok, jangankan di ulu hati, di dengkul juga pasti sakit!”. ‘Sakit hati’ saya semakin menjadi-jadi karena selanjutnya saya disuruh berbaring miring seksi dengan pantat terbuka, untuk apa lagi kalo bukan untuk menerima ‘suntikan legendaris’ itu via salah satu susternya. Sebenarnya saya yang sudah tahu perihal cerita suntik-menyuntik itu tidak keberatan jika pada akhirnya harus mengalaminya sendiri, tapi melihat rekomendasi dokter selanjutnya yang mengharuskan saya menjalani rawat inap, saya pun akhirnya bertanya-tanya ragu. Apa perlunya saya disuntik tadi kalau saat rawat inap berbagai jenis obat suntik bisa diinjeksi lewat infus atau diganti dengan obat oral?

Karena alasan itu pulalah saya membandel, menolak rawat inap dan pulang ke rumah dengan hati dongkol. Tapi saya kena batunya, sehari kemudian kondisi saya memburuk. Untuk ke kamar mandi saja saya harus berjalan merambat berpegangan ke dinding rumah, parah deh! Akhirnya terpaksa saya kembali ke rumah sakit itu walau sebenarnya ingin pindah ke tempat lain tetapi saya malas jika harus menjalani serangkaian ulang tes laboratorium lagi. Saya pun mendaftar ke ICU dan tidak lama kemudian sudah terbaring di ruang keparat itu. Satu yang saya paling benci dari ruang ICU adalah, suasananya yang selalu horor setiap saat. Lha jelas saja, semua pasien mulai dari yang sekedar sakit migrain atau sakit dalam seperti saya hingga korban kecelakaan lalu-lintas bercampur-baur di satu ruangan. Apa tidak bergidik kita saat melihat pasien di sebelah meraung-raung kesakitan berdarah-darah karena tulang kering kakinya patah dua? Patah terbuka lagi!

Kamar kelas I adalah kamar termewah di situ sehingga mau tidak mau saya ambil. Saat masuk sebenarnya saya cuma sendiri, namun di malam kedua bergabung seorang pasien yang ternyata sama-sama ‘orang hutan’ seperti saya. Bedanya kalau saya kena liver, dia kena tipus dan gejala malaria. Setali tiga uang kondisi saya dengannya. Terkulai lemah, demam keringatan tapi masih saja cengar-cengir. Kami masing-masing memperoleh cairan infus, saya lupa apa jenisnya untuk saya, yang jelas saya ingat betul ada label hijaunya sementara pasien di sebelah saya berlabel merah. Sengsaranya, kami berada di kamar paling ujung yang seharusnya secara logika adalah kamar yang paling tenang karena orang pasti jarang hilir-mudik. Nyatanya, hampir semua penunggu pasien beristirahat di depan kamar kami, membawa anak-anaknya yang masih kecil lagi. Tentu saja suasana begitu ributnya, dan hanya mulai reda pukul 10.30 malam. Belum lagi, kamar yang hanya dibatasi kayu sebagai dindingnya membuat ruangan tidak soundproof. Pasien kamar sebelah, yang dua-duanya ibu-ibu, selalu menyetel keras-keras TV ruangan dengan acara sinetron-sinetron tak bermutu kesukaan mereka (jangan lupa ya jika sejarah persinetronan tak bermutu itu sudah lama hadir di bumi Indonesia). Tentu saja siksaan sinetron itu baru berakhir pukul 11 malam, karena waktu di daerah itu masuk ke dalam zona WITA. Waduh tambah parah nih di sini, bukannya sembuh malah jadi stres, pikir saya.

Namun, demi keinginan untuk sembuh dan kembali beraktivitas, saya kuat-kuatkan saja dirawat di kamar itu. Namun rasanya semakin menjadi-jadi saat saya mendapat jatah makan malam pertama. “Lho, kok ada ayamnya Mbak? Gede lagi, saya kan nggak boleh makan lemak menurut dokter?”, tanya saya. “Oh maaf Pak, nanti saya perhatikan. Ambil kentangnya saja ya Pak”, pinta suster muda itu. “Baik Mbak”, jawab saya dongkol karena mesti ngobok-ngobok semur itu hanya untuk mengambil kentangnya dan membuang ayam dan kuah hangatnya yang begitu menggoda iman. Paginya, saya diberi sarapan agar-agar dan pisang, lumayan bergizi lah pokoknya. Siangnya, saya kembali protes karena menu saat itu semur daging yang besarnya segede tangan (bayi). “Aduh, maaf ya Pak, tadi belum belanja soalnya”, jawabnya datar. Whaaat? Belum belanja? Jadi daging ini daging kemarin maksudnya?, sungut saya dalam hati.

Sorenya, saya tertatih-tatih buang air kecil ke WC sambil menjunjung tinggi-tinggi botol infus saya. Segera setelah berbaring, saya memencet bel meminta tolong suster untuk membuka saluran infus yang saya hentikan saat pergi ke WC tadi. Datanglah seorang suster yang baru saya lihat mukanya, celingak-celinguk melihat infus saya. “Tadi setelan infusnya berapa detik ya Pak?”, tanyanya tak berdosa. “Lah mana saya tahu Mbak, diberitahu juga nggak”, jawab saya kesal. Ya iya lah, masak setelan tetesan infus berapa detik sekali diberitahu ke saya. Memangnya pasien boleh setel-setel infus sendiri semaunya? Dia lalu keluar kamar, saya pikir mungkin kembali ke ruangannya untuk menanyakan setelan infus saya ke suster kepala. Satu menit, dua menit, lima menit saya menunggu lalu tanpa sadar terlelap saking ngantuknya. Tiba-tiba saya terbangun karena merasa nyeri tak terhingga di lengan dan terkaget setengah berteriak melihat darah saya sudah mengalir mengotori selang infus dengan noda merah yang menyebar! Jadi ternyata, sedari tadi selama itu tidak ada satu pun suster yang kembali untuk menyetel tetesan infus saya sehingga darah saya membalik ke atas. Emosi saya kian memuncak ketika malamnya saya juga baru tersadar (dan bodohnya, pasien sebelah saya juga) kalau cairan infus saya tertukar dengan infusnya dia, oh no! Okay, that’s it! Makin lama makin parah nih, tambah ga bener. Sudah bulat tekad di hati bahwa saya harus keluar dari rumah sakit ini, karena terbukti membuat saya makin sakit. Paginya saat saya ngotot keluar, susternya berkata : “Bapak yang minta keluar ya Paak, kalo ada apa-apa dengan sakitnya kami tidak tanggung jawab lagi lhooo..”, katanya setengah genit. “Ga papa Mbak, makin lama di sini bisa tewas saya”, jawab saya ketus. Sebenarnya, saya sudah sangat-sangat terbiasa dan terlatih dengan minimnya fasilitas, tapi ini saya rasa sudah kebangetan. Apa mereka tidak tahu ‘perjuangan’ saya untuk bisa sekedar dirawat di situ? Syukurlah, begitu keluar saya merasa agak baikan sehingga bisa terbang ke Jakarta untuk beristirahat selama dua minggu untuk pulih dan selanjutnya bisa kembali beraktivitas seperti semula.

 

Moral of The Story : Sehat adalah harta yang tidak ternilai. Jika di saat kita sehat bisa mendambakan 1000 macam keinginan, namun di kala sakit hanya mendambakan 1 macam keinginan : kembali sehat!

4 Responses to “Sakit Hati Membara di Dada”

  1. as. wah cepat sembuh ya. keberadaanmu penting untuk nusantara and internasional

  2. Sehat itu mahal…karena sakit lebih mahal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: