Mendaki Gunung Api, Banda

Oleh : R.Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Liburan Juli 2011)

Seperti halnya Gunung Gamalama di Ternate atau Gunung Merapi di Yogyakarta, Banda pun memiliki satu buah ikon yang selalu menarik pandangan mata yaitu Gunung Api. Ibarat sayur tanpa garam, tak lengkap rasanya jika kita berfoto tanpa menjadikan gunung vulkanik yang masih aktif ini  sebagai latar belakangnya. Terletak di tengah kepulauan Banda dan berdiri menjadi sebuah pulau sendiri, Gunung Api (666 m dpl) sungguh sangat menantang untuk didaki. Bagaimana tidak, kapan lagi anda bisa mendaki sebuah gunung dimulai tepat persis dari titik 0 meter-nya?

Setelah meminta untuk disediakan sarapan lebih awal, pukul 05.30 saya berjalan menuju Pelabuhan Rakyat Neira. Di sana sudah menunggu ketinting Bpk Messi yang sudah di-booking sebelumnya. Ketinting ini cukup kecil, hanya muat untuk tiga penumpang saja dan berjalan bergoyang-goyang di atas perairan biru Banda. Tiga menit menyeberang dari Neira, saya pun tiba di seberang, di kaki Gunung Api. Pukul 06.15 saya sudah melangkahkan kaki mendaki perlahan. Sepatu, tas, kamera, tripod, air minum dan snack sudah mapan berada di dalam backpack 35 liter saya. Pagi itu embun dimana-mana sehingga dalam waktu 5 menit sepatu dan celana hingga bagian paha sudah basah kuyup. Sebenarnya, saya agak bergidik melihat medan awal pendakian yang rimbun dan jalanan setapak yang tertutupi rontokan dedaunan bambu karena saya tahu persis bahwa tempat seperti itu adalah lokasi favorit untuk persembunyian ular. Namun saya tekadkan untuk berjalan terus saja, dengan berhati-hati mengambil langkah panjang dan membuat suara berisik supaya hewan-hewan melata menjauh. Toh jika ada apa-apa saya tinggal kembali turun, atau malah menelepon untuk meminta bantuan karena sinyal tersedia sepanjang jalan dari kehadiran BTS di Neira.

Saya pun tiba di pos pengamatan satu-satunya 15 menit kemudian, dalam kondisi nafas naik-turun. Memang, jalur pendakian gunung ini nyaris tidak ada jalur datar, dari bawah langsung nge-track naik ke atas dengan kemiringan 35 derajad. Jalurnya berbatu lepas-lepas berukuran kecil hingga sedang sehingga memang sangat membahayakan. Basaltic lava scoria, batuan berwarna gelap bersudut runcing dan berlubang-lubang memang mendominasi  jalur pendakian ini. Selain ancaman jatuhan batuan, yang paling berbahaya adalah jika kita terjatuh karena terpeleset. Menghindari itu, saya pun jadi lebih rajin memberdayakan tangan menggapai perdu dan semak rumput di pinggir. Sepertinya kehadiran sepasang trekking pole pun tidak akan banyak membantu. Semangat saya sudah mengendur, ketika tiba-tiba seorang ibu tua menyusul dengan cepatnya dari bawah, tanpa bekal, tanpa alas kaki. “Cari apa ka Bu?”, sapa saya sopan sambil duduk mengatur nafas. Ternyata si ibu mencari mangga muda yang memang banyak jatuh rontok di tanah. Ketika nafas mulai teratur sementara si ibu masih sibuk, segera saya kabur ke atas supaya tidak semakin malu. Di tengah perjalanan, mendekati lereng atas, saya berpapasan dengan turunnya 17 anak muda yang rupanya menginap di puncak dari hari sebelumnya. Sadar saya sendirian lagi, langkah pun melambat terlebih-lebih medan semakin berat. Pohon besar dan sedang sudah tidak ada, sehingga semak rerumputan tinggal menjadi andalan untuk berpegangan. Sekonyong-koyong terdengar suara, dan dari bawah menyusul naik dua pasang muda-mudi sehingga saya pun bersemangat lagi. Saat itu matahari masih terlindung di balik awan, suasana cukup sejuk, namun tetap saja saya sudah menghabiskan 1,5 liter air mineral.

Jika orang normal mendaki Gunung Api dalam waktu 1,5 jam, dan orang tercepat hanya dalam waktu 55 menit, maka saya pun membukukan rekor atas nama sendiri yaitu 3 jam! Memang, perut tidak bisa dibohongi, dan kedua kaki ini rasanya sudah terseok-seok menopang badan seberat 95 kg. Di puncak Gunung Api ini hanya terdapat cekungan bekas kawah lama, dengan batu-batu sebesar kepala berserakan dan beberapa sisinya tampak mengeluarkan asap belerang yang hangat. Mendung menggantung sehingga saya tidak leluasa menyaksikan panorama Banda dari ketinggian. Kawah gunung yang terletak kira-kira 2/3 atas juga tertutup asap tebal. Dua jam saya di atas, duduk menikmati keindahan alam diiringi suaranya Mas Peter Cetera yang mendayu-dayu, duh. Lapar, saya pun meraih wafer coklat yang saya beli di pasar sambil menikmati aroma mi instan yang direbus oleh anak-anak muda itu. Tiga buah wafer sudah masuk ke dalam perut ketika mulut saya merasakan keanehan rasa dan teksturnya. Begitu bungkusnya saya perhatikan, terbacalah bahwa tanggal expired wafer tersebut jatuh tepat pada hari itu. Selanjutnya tak dinyana-nyana, sebagian awan menghilang sehingga saya sempat  mengabadikan pulau Neira dan Banda Besar walaupun hanya dalam waktu sepuluh menit. Saya pun berlari-lari ke bagian selatan puncak untuk menyaksikan panorama Desa Lonthoir di bawah, namun tetap saja pulau Ay dan Run di bagian barat tertutup awan tebal.

Pukul 11 lewat saya mulai berjalan turun, diikuti empat muda-mudi tersebut. Dari empat anak itu, hanya satu remaja yang bisa mengikuti kecepatan saya. Tentu saja, saat medan turun ini saya dimudahkan dengan sepasang kaki yang panjang sehingga lebih leluasa melompati undak-undak memilih pijakan sementara anak muda satu itu lebih lincah dan ringan. Kami pun jalan dengan cepatnya, saya dalam kecepatan stabil sedangkan dia lebih cepat namun lebih sering berhenti.  Hanya dalam waktu satu jam tepat, kami pun tiba di bawah. Saya sengaja mengulur waktu penjemputan ketinting selama sepuluh menit lebih dengan berenang membilas keringat di badan sekaligus mencuci celana dan sepatu. Namun, saya sudah puas berenang dan ketinting jemputan pun datang tetapi tiga remaja sisanya belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal, jika mereka sudah tiba di bawah, akan saya ajak barengan menyeberang ke Neira, gratis. Saya pun duduk selonjor di dalam ketinting Bpk Messy, meninggalkan puncak Gunung Api membawa segudang kenangan manis yang berbalut peluh dan pegal di tubuh.

One Response to “Mendaki Gunung Api, Banda”

  1. Keren! Gunung api Banda memang keren :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: