Nyamuk-Nyamuk Keparat!

Nyamuk adalah hewan yang identik dengan penyakit, tidak peduli di antara julangan gedung-gedung tinggi kota ataupun di rapatnya pepohonan belantara hutan rimba, selalu saja membawa masalah. Seperti halnya pacet dan lintah, saya belum bisa melihat apa fungsi dan kegunaannya nyamuk ada di dunia ini. Jika dibilang bahwa nyamuk juga berfungsi sebagai pelengkap rantai makanan bagi kodok dan cecak, ah saya kira laron dan lalat bisa jadi bahan makanan substitusi yang tak kalah lezatnya. Coba silakan saja tanya sang kodok atau si cecak, kira-kira lebih suka nyamuk yang ceking apa lalat yang bertubuh montok?

Saya ingat betul bahwa hari itu adalah hari Jumat, dan sedari pagi semenjak tiba di kantor di Jakarta saya sudah merasa tidak enak badan. Siangnya, saat teman yang lain pergi untuk menunaikan sholat Jumat, saya hanya bisa lari ke pojok ruangan dan tidur di bawah meja kerja yang tersembunyi. Sorenya memang saya berniat pulang ke Yogyakarta untuk mengunjungi istri yang sudah dua minggu saya tinggal. Kepala terasa berat dan badan panas dingin, begitulah keluhan saat itu. Namun aktivitas kerja tetap saya lakukan sambil menunggu mobil travel yang akan menjemput saya di kantor. Sore pukul 16.30, hujan deras mengguyur Jakarta. Saya yang sebelumnya lemas, tiba-tiba merasa segar dan bisa berlari menembus hujan menuju parkiran mobil dimana travel sudah menunggu. Jemput sana-sini, pukul 20.30 saya sudah meninggalkan perbatasan tol Bekasi menuju Yogyakarta. Saya pun memaksakan diri untuk tidur walaupun biasanya jika naik travel saya selalu meluangkan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan penumpang sebelah. Kali ini saya menyerah, berlapiskan selimut dan jaket tebal, saya menggigil kedinginan. Kombinasi hujan deras di luar, AC mobil yang dingin dan badan yang demam menggemerutukkan gigi saya. Anehnya, setelah keluar keringat, tubuh saya kembali segar. Begitu terjadi berulang-ulang sehingga penumpang sebelah saya melirik heran. Sebentar-sebentar pake selimut, sebentar-sebentar buka selimut keringatan lalu kipas-kipas, dasar orang aneh!

Pagi harinya saya tiba di rumah dan langsung terkapar di tempat tidur. Istri saya tercinta, yang kaget melihat kondisi saya segera menyiapkan makanan dan selimut hangat. Kondisi saya Sabtu itu sebenarnya agak membaik ketika Minggu paginya kondisi saya drop lagi. Kepala terasa pusing sehingga susah untuk melihat sekeliling, seperti berputar. Sementara itu, saya sudah menduga saya terkena malaria karena gejalanya serupa dengan yang saya dengar dari rekan-rekan. Siangnya, saya diantarkan oleh istri ke sebuah rumah sakit terkenal di kota Yogyakarta. Setelah diperiksa di ICU, saya diberi pengantar untuk periksa darah di laboratorium. Kaget juga karena darah saya diambil dua tabung, pertanda cukup banyaknya tes yang harus dilakukan. Selesai diambil darah, saya menunggu sambil terkulai lemas di pojokan. Kira-kira setengah jam kemudian, saya dipanggil oleh si penjaga laboratorium.

Rupanya hasil lab saya sebagian sudah keluar, namun sebagian masih dalam proses. “Wah Mas, sampean sepertinya harus segera minta rawat inap nih”, kata bapak laboran. “Memangnya kenapa Pak? Malaria ya?”, tanya saya tak mengerti. “Bukan Mas, malarianya negatif tapi trombositnya anjlok nih (saat itu trombosit saya hanya 60.000 dari batas bawah normal yang 140.000). Kemungkinan sih demam berdarah, tapi coba nanti tanya dokternya aja”, jelasnya. “Oh, seberapa parah Pak? Bahaya kah?”, tanya saya lagi. “Waah, bahaya sekali Mas. Kemarin aja ada anak SMP periksa sini, nilai trombositnya kayak Mas. Masuk rawat inap sore, eh malamnya sudah ndak ada!” (orang Yogya merasa agak saru jika berkata ‘meninggal’, sehingga diperhalus menjadi ndak ada), ceritanya dengan mimik serius. Waduh kacau, ini Bapak bukannya menyemangati malah bikin jatuh mental saja. Akhirnya malam itu saya pasrah masuk dan dirawat di kamar kelas II.

Seperti halnya penderita demam berdarah lainnya, selain mengonsumsi obat-obatan dokter, saya pun mencoba berbagai resep tradisional. Mulai dari jus jambu merah, herbal ang kak dari China dan jus kurma kering menjadi santapan rutin saya sepanjang hari. Minggu malam masuk, Senin pagi trombosit saya naik lumayan sehingga keluarga menjadi agak tenang.  Untuk sharing saja, gejala penyakit yang dirasakan pasien demam berdarah sebenarnya tidak berat-berat amat. Lemas, demam, dingin dan pusing adalah gejala yang umum terjadi. Namun yang paling menyebalkan adalah, setiap pagi anda harus menerima pengecekan darah dari suster. Jadi, setiap pagi sehabis bangun tidur anda akan ditusuk nadinya untuk diambil darah. Jika tusukan di tangan kanan sudah terlalu banyak, lokasi tusukan akan berpindah ke nadi tangan kiri yang sebenarnya sudah ditempati oleh jarum infus. Jika tangan anda nadinya cukup jelas terlihat, prosesi pengambilan darah akan cepat berjalan. Saya, yang nadinya susah terlihat, pernah menjalani tiga tusukan tanpa hasil sama sekali kecuali rasa sakit yang tersisa. Segera setelah sang suster berganti orang meminta bantuan perawat pria senior di lantai bawah, barulah tusukannya menghasilkan darah. Tusukan untuk pengambilan darah ini di luar suntikan obat dan perbaikan infus lho ya, jadi sehari anda minimal ‘ditusuk’ dua kali. Dan tusukan yang paling menyakitkan adalah suntikan pengetes alergi antibiotik. Jadi sebelum tubuh diberi antibiotik tertentu, sebuah suntikan pengetes alergi dimasukkan ke bawah kulit. Selain rasanya nyeri, suntikan itu juga terasa panas sekali seolah-olah membakar kulit.

Sungguh mengagetkan selanjutnya karena berdasarkan pemeriksaan hari Selasa pagi trombosit saya drop drastis, lebih rendah dari hasil pemeriksaan pertama. Saya pun makin banyak dan semangat mengkonsumsi jus kurma kering untuk menaikkan trombosit. Cukup sukses sepertinya karena hari Rabu trombosit saya naik lagi untuk kembali turun di hari Kamisnya. Terlebih lagi, sekitar pukul 11 pagi tubuh saya menggigil hebat karena kedinginan. Getarannya dimulai dari perut dan perlahan naik ke dada hingga seluruh tubuh. Saking hebatnya, saya yang sudah mengerahkan tenaga penuh tidak sanggup menahan goyangan badan saya sendiri. Kedinginan, saya dilapisi oleh dua buah selimut tebal rumah sakit dan sebuah sleeping bag namun sama sekali tidak memberikan pengaruh. Jangankan keringatan, merasakan hangat sedikitpun tidak! Kamis siang sekitar pukul 12.30, tubuh saya kembali menggigil dengan hebatnya, persis seperti hari sebelumnya. Sorenya, setelah melihat data lab saya, si Dokter yang tampak agak kebingungan mendekati saya. Seluruh tirai tempat tidur ditutup dan dia mendekati saya perlahan. Apa-apaan nih pikir saya, wah dah ga benar nih, pikir saya heran. Dia pun berbicara perlahan ke saya : “Masnya kalo pergi ke daerah sering jajan?”. Saya yang bingung dengan pertanyaannya, terutama dengan istilah ‘jajan’, baru ngeh dan menjawab setengah menit kemudian : ”Sama sekali tidak Dok, memang kenapa?”. “Yah, ini ada indikasi HIV. Gimana, bersedia dites tidak besok?”, jawabnya lembut. “Yah bersedia aja Dok, kasian juga anak istri saya nantinya kalo benaran saya HIV”, jawab saya agak sewot. “Tapi Dok, saya bukan lelaki nakal ya, kalo saya memang dapat HIV ini mungkin karena pisau cukur atau sebab lain”, sambung saya meluruskan. Iya dong, siapa sih yang tidak tersinggung disangka pengidap HIV?Apa mentang-mentang saya geologist terus tiap ke lapangan pasti sering jajan sehingga kemungkinan kena HIV menjadi besar gitu? “Ya sudah, besok sebelum tes konsultasi dulu ke kepala perawat ya!”, jawab dokter sambil beranjak pergi.

Jujur, saat itu rasanya seperti kiamat menghampiri saya.  Kondisi tubuh pada Kamis sore itu begitu lemahnya (trombosit hanya 30.000) sehingga opsi transfusi darah pun harus disegerakan. Plasma darah sebanyak dua ampul sukses masuk ke tubuh saya. Merasa agak segar mendapatkan ‘darah baru’, saya memperoleh ide untuk menelpon Pak Bernard-mantan GM saya dan Tony-bekas rekan kerja saya yang sama-sama pernah mendapat sakit malaria. “Coba minta dokter tes malaria pas suhu tubuhmu paling tinggi!”, demikian saran Pak Bernard yang diamini Tony. Ternyata Pak Bernard dan Tony pernah mengalami sakit malaria tetapi terlambat dideteksi karena tidak terbaca hasilnya di data laboratorium. Diagnosa malaria baru muncul di saat mereka melakukan tes darah berbarengan saat tubuh mereka menggigil dalam suhu paling puncak, 390C. Pagi berikutnya seperti sudah diduga, trombosit saya jatuh lagi, seolah-olah transfusi plasma dua ampul malam sebelumnya tidak berpengaruh apa-apa. Namun, saya yang sudah pede, menolak untuk melakukan tes HIV dan meminta perawat untuk mengambil darah saya dalam rangka tes malaria ulang di saat panas paling tinggi yang menurut kebiasaan akan menyerang di siang hari.

Benar, esoknya tepat pukul 11.30, tubuh saya kembali menggigil dengan hebat. Bahkan, terhebat dibanding dua hari sebelumnya. Bulik saya yang kebetulan ada di samping saya pun, segera memanggil perawat dan sebuah tusukan yang sudah tidak saya rasakan lagi nyerinya sukses membawa darah saya ke laboratorium. Getaran di tubuh saya tiba-tiba menghilang, berganti dingin yang menusuk. Terasa sekali dingin itu merambat perlahan naik dari ujung kaki, pelan tapi pasti naik sedikit-demi sedikit. Entah kenapa tubuh saya sama sekali tidak bisa bergerak, hanya terbujur kaku dengan kedua tangan di samping badan. Saya mencoba membuka mata tapi hanya bisa separoh sehingga bayangan yang saya dapat di sekitar ruangan hanya samar-samar. Tersadar bahwa rasa dingin tersebut sudah tiba di perut, saya segera memanggil bulik yang menunggu di sebelah kanan. “Bulik, saya mau titip wasiat”, ucap saya lirih. Kaget, bukannya mendengarkan ucapan saya, Bulik ini malah kabur ke luar. “Bulik!”, dengan kesalnya saya memanggil dengan suara parau. Gimana sih ini, mau dititipin wasiat malah ngabur. “Sudah Nak, sebut saja, nanti Ibu yang ingat”, tiba-tiba suara ibu sebelah yang sedang menunggui suaminya yang sakit masuk ke telinga saya. Bulik yang berdoa di luar akhirnya ikut masuk bergabung, dan saya ingat betul saat itu mengucapkan tiga buah wasiat.  Pertama, tolong bilang Rahmi istri saya, jika saya tidak ada, hubungi semua yang saya kenal untuk dimintakan maafnya atas dosa saya serta selesaikan hutang jika masih ada. Wasiat kedua, Rumah yang saat itu sedang dalam proses KPR, silakan dijual untuk modal hidup istri saya jika perlu. Dan wasiat terakhir, jika saya tidak ada, silakan Rahmi menikah lagi dengan lelaki yang baik (serius lho). Si Ibu sebelah dan Bulik mengiyakan terisak, sementara air mata saya sudah menetes dari tadi. Merasa tenang, saya pun memejamkan mata menunggu ‘sakaratul maut’ tiba. Suasana begitu tenangnya saat sensasi dingin itu sudah melewati dada dan mulai menyentuh tenggorokan saya. Tidak merasa takut sama-sekali, saya samar-samar mendengar suara azan Jumat berkumandang dari menara mesjid di luar rumah sakit. Saya tahu persis saat itu pukul 12 siang karena kebiasaan mesjid di Yogya adalah menyelenggarakan sholat Jumat di tengah hari, tidak peduli walau waktu dhuhur selalu bergeser mengikuti posisi matahari. Anehnya, saat itu saya merasa tangan saya ada yang membimbing untuk ber-sedakep ke atas perut. Lebih aneh lagi, begitu tangan saya ada di tempatnya, tubuh saya serasa ada yang mendorong untuk miring ke kanan seolah-olah hendak menyongsong suara azan itu.  Mapan di posisi itu, tubuh saya diam tidak bergerak dan menghadap persis ke arah kiblat seperti layaknya posisi orang dikubur! Cukup lama saya mengalami kondisi itu, dengan posisi tubuh seperti mayat dan pikiran yang sudah kosong, hanya sayup-sayup suara azan masih terdengar di telinga. Begitu suara azan berhenti, tiba-tiba saya merasa tubuh saya berubah segar. Rasa dingin dan kaku itu tiba-tiba hilang sirna, berganti dengan keringat yang membasahi tubuh. Masih kaget dengan perubahan kondisi itu, saya pun duduk di tempat tidur dengan baju basah kuyup oleh keringat. Hal pertama yang saya lakukan adalah meraih telepon genggam dan menghubungi ibu saya yang di Kalimantan, memohon maaf layaknya seorang anak kepada orang tuanya. Demikian pula dengan kakak-kakak saya lainnya. Istri saya yang datang sore itu semakin menenangkan hati saya, tidak lupa saya mengulangi wasiat tadi. Bukan apa-apa, saya merasa jika sekali lagi saya diserang dengan kondisi seperti tadi, saya tidak yakin jika masih sanggup bertahan. Saya menganggap bahwa hanya hari itu lah kesempatan saya untuk meminta maaf sebelum ‘mungkin’ nyawa saya diambil esok siangnya. Ya kalo benar malaria, kalo bukan dan ternyata itu HIV? Apalagi virus itu sudah sedemikian parah menggerogoti trombosit saya yang sudah drop duluan dari awal.

Sore harinya, si Dokter membawa hasil laboratorium dan memanggil istri saya untuk mendekat ke tempat tidur. “Ini ya Bu, tes awal malaria waktu hari Minggu kemarin negatif, tapi tes tadi siang positif”, katanya pelan. “Jadi malaria ya dok?”, tanya saya setengah kaget setengah senang. “Ya, tipe vivax Mas! Jadi anda dapat double infection malaria dengan DBD”, sambungnya. Tak terhingga mungkin lafaz syukur saya panjatkan kepada Allah SWT di dalam hati. Bersyukur karena bukan HIV, karena dengan demikian istri saya yang sedang hamil empat bulan pun terjauh pula dari kemungkinan tertular virus mematikan itu. Selanjutnya saya pun menerima pengobatan malaria, dan esoknya kondisi tubuh saya kunjung membaik. Saya merasa menjadi orang paling bahagia di dunia, apalagi didampingi oleh Ibu dan kakak-kakak saya yang berdatangan karena khawatir dengan parahnya kondisi saya, apalagi setelah menerima ‘telpon aneh’ berisi permintaan maaf dari saya Jumat siang itu. Akhirnya Selasa siang saya diperbolehkan keluar rumah sakit oleh dokter sambil terus meneruskan obat untuk membasmi total virus malaria vivax ini.

Oh ya, malaria itu ada empat jenis; malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae. Satu yang pertama, dahulu terkenal dengan sebutan malaria tropika yang jika menyerang akan mengakibatkan sakit dengan diiringi gejala yang parah. Namun, walau sifatnya yang mengkhawatirkan, pengobatan dapat diberikan dan virusnya akan langsung mati sehingga tidak akan kambuh lagi (kecuali digigit nyamuk yang membawa virus itu lagi). Saking hebatnya serangan falciparum ini, saya pernah mendengar cerita Pak Bernard yang menyaksikan sendiri rekannya menghantamkan kepalanya berulang-ulang ke dinding. Saat itu dia terkena malaria di pedalaman Bengkulu dan saking hebatnya sakit yang dirasakan, dia pun berteriak-teriak seperti orang kesurupan sambil membentur-benturkan dengan keras kepalanya berkali-kali ke dinding rumah yang untungnya terbuat dari kayu. Tiga jenis malaria yang terakhir, harus menuntaskan pengobatan hingga 15 hari untuk mengejar virus yang bersembunyi di dalam hati. Jika tidak tuntas, di saat kondisi tubuh lemah, penyakit ini akan menyerang kembali walaupun efeknya tidak seganas falciparum. Pantas saja, saya terkena malaria ini tepat setelah dua minggu kembali dari lokasi di Papua. Berarti tubuh saya sebenarnya sudah membawa bibit penyakit ini dari awal, namun karena masih fit, penyakit itu belum muncul. Saat jatuh sakit, kondisi tubuh saya menjadi lumayan parah karena vivax ini lambat terdeteksi dan sudah bergabung bersama-sama dengan virus DBD, bergotong-royong memakan trombosit saya. Terlepas dari maut, saya bertekad untuk kembali menjalani hidup dengan cara pandang baru, yang lebih positif dan lebih membangun serta membawa manfaat untuk sesama. Geologist tobat nih, ceritanya.

Omong-omong soal site saya saat itu di Papua, lokasinya berada di kepulauan Raja Ampat. Untuk menuju tempat itu, kami harus mengambil penerbangan selama 5 jam dari Jakarta menuju Sorong. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan speedboat selama 5-6 jam. Masa-masa di dalam speedboat ini adalah masa-masa berkesan bagi saya. Sepanjang jalan tersaji pemandangan apik birunya laut dan hijaunya pulau-pulau karang kecil yang mencuat di Teluk Kabui. Jadi, seolah-olah kita melewati kolam raksasa dengan pot-pot kecil di sana-sini. Di kejauhan, juga tampak sebuah pulau kosong berpasir putih yang hanya dihiasi sebuah pohon kelapa. ‘Pulau wallpaper’ demikian julukan kami karena kenampakannya memang serupa dengan hiasan wallpaper komputer di site office. Namun, tepat sebelum dan sesudah melewati Teluk Kabui adalah juga masa-masa ‘berkesan’ bagi kami karena ancaman ganasnya ombak di lautan lepas. Sekali speedboat pecah dan kemasukan air, dapat dipastikan body-nya yang terbuat dari serat kaca itu dalam hitungan detik akan meluncur ke dasar laut membawa apa saja yang ada di dalamnya. Belum lagi tempatnya yang ‘terbuka’, salah-salah ombak, kami bisa saja terhanyut ke Samudera Pasifik. Saking ‘berkesannya’ perjalanan air di sini, saya selalu menyempatkan berdoa dan mendekap erat life vest di pangkuan.

Site kami adalah pulau seluas 300 hektaran, dan terletak di ujung barat Raja Ampat. Pulau ini sebelumnya kosong tak berpenghuni sama sekali, kecuali babi hutan, ular dan binatang liar lainnya. Tim utama kami saat itu berjumlah kurang-lebih 12 orang, mulai dari geologist, geodet, civil eng, surveyor, logistik, operator dan mekanik alat berat dan tidak ketinggalan pula seorang dokter. Sebagai tim perintis, kami tinggal di beberapa tenda komando dengan dua puluhan kru lokal. Seiring perjalanan eksplorasi, kami pun mulai pindah ke site office yang cukup bagus dan melibatkan lebih banyak orang lagi. Dari awal, Slamet, dokter perusahaan kami selalu disiplin menjaga kesehatan rekan-rekannya. Seminggu sekali, kami diharuskan mengonsumsi obat anti malaria. Bahkan, untuk beberapa kru lokal yang bandel atau takut menenggak obat, Dokter Slamet ini dengan sadisnya akan menunggui orang tersebut untuk memastikan bahwa obat yang diberikan ditelan dengan sukses.

Apakah program pencegahan malaria tersebut berhasil sukses 100%? Tidak juga, malahan gagal total sepertinya. Seingat saya, dalam kurun waktu 6 bulan, tidak ada satupun staf yang tidak terjangkit malaria. Mulai dari geologist-nya, geodet engineer hingga staf logistik pun terjangkit penyakit menyebalkan ini. Memang, menangkal malaria adalah pekerjaan sulit karena mereka memiliki beberapa tipe. Dan, seringkali obat yang kita konsumsi tidak mampu menahan semua tipe malaria tersebut dengan baik. Terlebih, nyamuk malaria ini berpatroli siang dan malam sehingga melakukan pencegahan 24 jam supaya mereka tidak hinggap di badan adalah sebuah kesulitan tersendiri. Bahkan saya mendengar pula bahwa pada suatu hari, rekan saya mendapati si Dokter Slamet sedang meringkuk berselimutkan sarung sambil menggigil kedinginan. “Kenapa Dok? Malaria ya? Tanya rekan saya tersebut. Si Dokter hanya menjawab dengan suara bergetar : ”Ngggak….,hahanyaa peppaannaass biaasahaah koookk….”. He he, ternyata dia malu mengakui kalo kena malaria juga. Ya iyalah, kalau dokternya saja kena malaria, bagaimana nasib pekerja lainnya? Ini masalah image dan harga diri Bung!

Moral of The Story :

Setiap saat maut dapat menjemput kita kapan saja di mana saja, selalu persiapkan diri anda untuk menghadapi “The after life”.

 

2 Responses to “Nyamuk-Nyamuk Keparat!”

  1. Haryanto Tedja Says:

    Masa mas Heru kalah sama nyamuk malaria yang kecil gitu. Alhamdulilah akhirnya sembuh. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: