Sudah Jatuh, Tertimpa Batu Pula (Pejuang Peridotite)

Saat menerima dan menyanggupi assignment dari atasan untuk melakukan survey di suatu daerah, tidak jarang bagi kami hal itu sama saja dengan menandatangani ‘kontrak mati’. Lokasi yang terpencil, fasilitas yang minim dan logistik yang terbatas sering kali menjadi kendala yang kadang-kadang bisa berakibat fatal. Berjalan menembus rapatnya pepohonan di hutan, menyisiri lereng-lereng terjal perbukitan ataupun sekedar menyusuri sungai berbatu, semuanya menyimpan bahaya yang tersembunyi. Seperti halnya saat tim kami melakukan eksplorasi pendahuluan di sekitar daerah Kalimbungu, Kabaena bagian tenggara, ketika salah seorang geologist terjatuh dan terluka parah. Suatu kejadian yang tak terlupakan seumur hidup dan menjadi cerita menarik yang dituturkan dari mulut ke mulut. Berikut adalah detil ceritanya, seperti yang dituturkan oleh Pak Barjo dan Rahman kepada saya.

Hari itu adalah hari kedua saat tiga orang field geologist melaksanakan pemetaan permukaan nikel laterit di daerah D3W dan D4W. Karena lokasi yang harus di-cover tersebut cukup jauh, mereka pun mendirikan flying camp yang jaraknya kira-kira 8 km dari camp utama. Camp utama ini sendiri terletak 3 km di utara Kalimbungu, sebuah teluk kecil di selatan Desa Wulu yang digunakan sebagai pangkalan pendaratan tim dan keperluan logistik. Sehari sebelumnya, geologist Rasul dan Usman yang telah kembali ke tenda pukul 14.30, diberi nasehat oleh Pak Barjo, seorang senior geologist sekaligus penanggung jawab tim. “Kali lain kalau pulang ke camp jangan jam setengah tiga lah, nggak enak dilihat sama yang lain. Paling nggak setengah lima supaya luas area yang di-cover bisa tetap sesuai dengan target”, demikian katanya. “Wah, tapi isinya batu semuanya Pak!”, kilah Usman. “Iya, kalaupun batu Mas tapi paling tidak tetap didatangi dan dipetakan dengan detil”, demikian sambung Pak Barjo. Pagi itu, Pak Barjo pun berangkat dan bergabung dengan tim Tape and Compass (TC) sementara Rasul dan Usman memisahkan diri dengan membawa kru lokal masing-masing satu orang. Hari pun lewat dan sore itu Pak Barjo tiba di camp pukul setengah lima, namun merasa heran karena yang sudah hadir saat itu cuma Rasul sementara Usman belum tampak batang hidungnya sama sekali. Cemas menunggu, tiba-tiba setengah jam kemudian datanglah kru-nya si Usman, sendirian. Yang bikin kaget, kru ini membawa pesan berupa kertas berisi tulisan Usman yang isinya cukup singkat : “Saya jatuh, kaki patah. Mohon dikirim air secepatnya”. Tidak ketinggalan pula tampak koordinat lokasi tertorehkan di kertas itu.

Kaget dengan berita buruk itu, langsung Pak Barjo dan teman-teman berangkat dengan membawa air dan karung yang sedianya hendak digunakan sebagai tandu nantinya. Saat hendak berangkat, Pak Barjo pun meminta kru Usman tadi untuk menjadi penunjuk jalan di depan. Tampak sejenak tak bergeming mendapat perintah tadi, kru tadi sekonyong-konyong berkata sambil menangis sesenggukan : “Tidak ingat Pak tempatnyaa…”. Benar juga dia rupanya, untuk kembali menuju lokasi flying camp memang gampang karena berada di pinggir atas sebuah sungai. Jadi, datang dari arah mana saja, cukup dengan turun dan menyusuri sungai maka sampailah di lokasi flying camp tersebut. Namun untuk arah sebaliknya menjadi sangat sulit karena posisi persis untuk membelok menuju hutan susah untuk diingat karena rupa pepohonan pinggir sungai sama saja kelihatannya. Apa boleh buat, koordinat Usman yang tadi dituliskan di kertas akhirnya dimasukkan ke GPS dan dijadikan pedoman, sehingga dari flying camp ditembak jalur lurus langsung menuju arah tempat jatuhnya itu. Tidak segampang mengucapkannya, yang namanya istilah perjalanan ‘tembak lurus’ di hutan adalah benar-benar pekerjaan berat. Selain harus membabat semak membuat jalan baru, semua medan baik lereng terjal, jurang atau puncak bukit pun harus ditembus tanpa kecuali. Karena sulitnya proses itu, walaupun dengan membawa banyak orang, baru pukul setengah tujuh malam Usman bisa ditemukan oleh tim penyelamat. Kondisi Usman saat itu tergeletak di tepi lereng, dengan kaki tidak dapat digerakkan dan mulut kering karena kekurangan air. Ceritanya, saat Usman berjalan, dia menginjak batu di pinggir lereng. Batu itu pun menggelinding dan Usman kehilangan keseimbangan serta ikut terperosok pula ke bawah. Jurang tempat dia terjatuh sebenarnya tidak begitu dalam, hanya lebih-kurang 3 meter saja. Namun, runtuhan batu susulan berikutnya yang berukuran besar lah yang menimpa dan meremukkan tulang pahanya.

Dari jeda waktu dia terjatuh hingga ditemukan oleh tim penyelamat, saat merasa sangat kehausan dia pun terpaksa mengonsumsi air seninya sendiri. Luka di kakinya adalah patah tulang dengan luka tertutup, sehingga Pak Barjo pun memerintahkan untuk memindahkan tubuh Usman ke tandu darurat yang sudah selesai dibuat. Saat itu adalah hal yang paling disesali Pak Barjo, karena saat mengangkat tubuh Usman, keluarlah pekik kesakitan yang amat sangat dari mulutnya dan membahana ke seluruh pelosok hutan malam itu. Rupanya karena lukanya tidak tampak dari luar dan keadaan gelap, Pak Barjo menganggap Usman masih memungkinkan untuk dipindah tubuhnya. Seharusnya, saat itu dipasang dahulu spalk di paha sehingga tulang yang patah tidak bergerak-gerak. Begitu sakitnya proses pemindahan itu, Usman pun berkata pilu saking sudah putus asanya : ”Nggak usah diangkat Pak, saya dibunuh di sini saja”. Wedew, saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rupa para tim penyelamat malam itu saat mendengar permintaan memelas dari Usman.

Akhirnya, setengah memaksakan, tubuh Usman diangkat secepat mungkin dan diletakkan di tandu untuk dievakuasi keluar hutan. Di tengah perjalanan kembali ke flying camp, pukul setengah sepuluh malam semua tim terpaksa berhenti, baik karena kecapaian mengangkat tandu dan juga kelelahan merintis ulang semak-belukar yang demikian rapat. Keadaan tambah parah karena persediaan air bersih sudah sangat menipis sehingga setiap kali minum masing-masing orang hanya diberi jatah seukuran satu buah tutup botol air mineral. Melihat kondisi Usman dan kru yang sama payahnya, pukul sepuluh Pak Barjo mengajak tiga orang berangkat untuk mencari air minum karena sudah benar-benar habis sama sekali. Usman pun terpaksa ditinggalkan masih dalam kondisi kesakitan, dengan ditunggui dua orang kru lokal. Saat proses mencari air itu, Pak Barjo bercerita bahwa semua kru sudah sedemikian lelahnya sehingga terpaksa dia sendiri yang memegang parang untuk merintis semak membuka jalan. Hanya bermodalkan cahaya senter, Pak Barjo membabat semua semak dan pohon kecil tanpa kecuali. Tidak peduli akan kemungkinan kehadiran ular dan binatang buas lainnya, dengan betis dan tangan berdarah-darah tergores duri dan ranting tajam, pikiran Pak Barjo saat itu hanyalah satu yaitu bagaimana caranya mengevakuasi Usman secepat mungkin ke luar dari lokasi. Gagal mencari air karena pekatnya malam, Pak Barjo akhirnya kembali menuju flying camp dan tiba pukul dua belas malam. Langsung meraih telepon satelit sambil mengabarkan berita itu dia meminta tiga orang di camp yang masih segar untuk membawa persediaan air menuju ke lokasi Usman. Berangkat pukul satu, mereka dikabarkan tiba pukul empat dini hari. Paginya pukul enam, kembali Pak Barjo menyusul ke lokasi Usman dan tiba pukul delapan.

Kriiing….! Kriiiing….! Suara cempreng satellite phone dinihari itu mengagetkan Rahman yang lagi asyik-masyuk bertempur dengan kalkir, pensil Staedtler warna warni, pen Rotring beragam ukuran, demi mengejar deadline gambar dan report yang mesti dikirim segera ke mabes pusat di Jakarta. Karena serba mendadak, semuanya serba manual, tidak ada plotter, laptop pun saat itu cuma sebiji buat dikeroyok bareng.

“Halo, Kabaena Camp, ada yang bisa dibantu..?” ucapnya saat menjawab telepon sambil sedikit menguap menahan ngantuk. “Oh, pak Barjo lagi ga di camp induk pak, beliau lagi flying-camp di hutan dengan tim kecil, mungkin 2 hari lagi baru kembali ke camp induk. Dari Klaten ya pak..?” ucapnya datar. “Halo, halo, maaf pak, pak Barjo lagi ga di camp induk” ucapnya kembali mengulangi jawaban atas pertanyaan si penelpon di seberang sana dengan suara sedikit dinaikkan sembari mencoba mencerna pertanyaan si Penelepon. Maklumlah, kualitas reception suara satphone turun naik seperti rupiah vs dolar, bergantung beberapa kondisi, entah lagi mendung atau karena terhalang rimbunan pohon. Yang pasti motto ‘Sepanjang Ada Langit, Sinyal Terus Berkibar’ mesti diberi catatan kaki : ya berkibar kalau sedang tidak mendung!

“Oh, ini dari pak Barjo toh..? Ha ha ha, saya pikir telepon dari kampung nyariin bapak, eh ternyata bapak sendiri“, tiba-tiba saja tawanya Rahman meledak. Pantas saja dari tadi pada ga nyambung komunikasinya, lha wong orang yang dicariin yang ternyata menelpon, he he he. Namun sejenak kemudian tawa Rahman tiba-tiba terhenti. Seketika itu pula dia terhenyak mendengar informasi dari pak Barjo di seberang telepon. “Apa..? Usman..? Accident..?” ucapnya kaget. Tiba-tiba saja adrenalin Rahman langsung mengalir deras, otaknya berputar cepat mencoba mencerna info mendadak ini. “Gimana kondisi Usman, pak..?” tanyanya lebih lanjut menggali info. Rahman tiba-tiba saja teringat in-house training pelatihan P3K yang pernah diikuti. Saat menerima telepon yang mengabarkan kondisi kecelakaan, sebaiknya : 1) Jangan panik, tetap tenang. 2) Minta informasi nama si penelepon, nama si korban, waktu, penyebab dan lokasi kecelakaan. 3) Tanyakan kondisi terakhir si korban, dan tindakan pertolongan pertama yang mungkin telah dilakukan. 4) Sebisa mungkin memandu tindakan pertolongan pertama yang harus dilakukan sambil melanjutkan info tersebut ke bagian Emergency Response Team (ERP).

Tapi kondisi di sini jauh berbeda dengan teori, improvisasi mesti dilakukan. Hambatan hutan belantara, posisi terpencil, akses sulit, komunikasi terbatas, sehingga otomatis kami semua sudah barang tentu akan sekaligus merangkap sebagai tim ERP. Bagaimana tidak, wong personil juga hanya berapa orang dan tidak mungkin dipecah lagi khusus untuk membuat tim ERP. “Oke, yang penting kondisinya stabil, istirahat saja dulu semua pak, besok pagi-pagi tim evakuasi akan berangkat lewat teluk Kalimbungu di sebelah selatan untuk menjemput bapak dan tim via jalur laut”, demikian komunikasi Rahman dengan pak Barjo dinihari itu.

Untunglah tim kecil flying camp pak Barjo berangkat dibekali mobile satphone juga. Jika tidak, wah tidak kebayang bagaimana harus mengirim info mendesak sepenting ini di dinihari buta di tengah-tengah hutan. Pokoknya, karena berita Usman pada dinihari itu, kami semua tidak bisa tidur. Toton sibuk memberi kabar ke pak Kasna selaku ‘Kepala Suku’. Kebetulan beliau sedang berada di ibukota kabupaten dalam rangka mencari speedboat untuk disewa sebagai kendaraan operasional berhubung lokasi kerja kami yang cukup terisolasi. Doni dan Ade kebagian mempersiapkan alat-alat P3K dan perbekalan. Rahman sendiri lantas menuju kamar kru lokal untuk membangunkan mereka dan meminta bantuan mereka me-lobby perahu milik penduduk di kampung untuk digunakan saat evakuasi esok paginya. Perahu penduduk di sini umumnya dipakai untuk melaut di seputaran pulau saja sehingga ukurannya rata-rata tidak besar, yah mirip-mirip ces atau klotok di Kalimantan.

Pagi-pagi buta mereka semua berangkat menuruni bukit menuju kampung di bawah untuk selanjutnya menggunakan perahu menuju titik penjemputan. Kami sama sekali tidak membawa barang-barang pribadi kecuali peralatan P3K dan bekal yang cukup banyak untuk menyuplai tim pak Barjo nanti. Kami yakin mereka tidak akan sempat lagi untuk memasak sarapan pagi, semua akan bergerak serba cepat mengejar waktu sebelum kondisi Usman menjadi drop. Kami memutuskan untuk menggunakan dua perahu, yang satu khusus untuk evakuasi korban dan yang lainnya buat tumpangan tim pak Barjo. Sebenarnya, saat itu sudah masuk musim ombak, atau penduduk sekitar menamakannya musim angin timur, tapi untunglah pagi itu laut cukup ramah sehingga perjalanan menuju teluk Kalimbungu mulus hingga tujuan.

Sampai di meeting point pukul 06.10 pagi, rupanya tim pak Barjo masih belum kelihatan. Kami memutuskan untuk sekali lagi berkeliling dengan perahu di sekitar teluk, antisipasi kalau-kalau mereka muncul tidak persis di mulut muara sungai yang kebetulan menghubungkan jalur hulu tempat mereka nge-camp dengan posisi teluk itu. Berputar-putar hampir setengah jam, masih tetap belum nampak adanya tanda-tanda keberadaan tim pak Barjo. Akhirnya, kami memutuskan untuk memecah menjadi dua tim, masing masing akan berpencar dan bergerak masuk ke arah hulu dengan jalur yang berbeda. Rahman dan Doni memutuskan berjalan mengikuti muara mengikuti sungai ke hulu. Setelah berjalan masuk kurang lebih 1 jam, masih tidak nampak pula tanda-tanda keberadaan mereka sama sekali. Bahkan di permukaan pasir sepanjang pinggir sungai pun sama sekali tidak memperlihatkan bekas jejak-jejak kaki yang lewat. Rahman pun menjadi ragu, dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke arah teluk. Dia yakin mereka tidak melewati jalur ini untuk menuju Kalimbungu. Sambil berlari-lari kecil mereka berjalan kembali keluar menuju meeting point di muara sungai di teluk.

Voila! Mereka sampai di teluk hampir bertepatan dengan munculnya tim pak Barjo dari arah hutan dan lebih dahulu bersua dengan tim Toton sebelum akhirnya mereka semua bergabung. Tepat dugaan Rahman, mereka mengambil jalur yang berbeda dari jalur yang kami perkirakan, pantas saja dia tidak melihat jejak-jejak kaki di sepanjang pasir pinggir sungai tadi. Kondisi Usman cukup memprihatinkan, sedikit bergerak saja dia akan langsung berteriak kesakitan. Rupanya sepanjang jalur penanduan turun, sepanjang itu pula erangan kesakitan terlontarkan tidak berhenti. Bahkan, Rahman memperhatikan Usman terus menggigit kain yang tersumpal di mulutnya demi menahan rasa sakit yang teramat hebat.  Kondisinya saat itu, bagian paha kiri bengkak cukup besar.

Proses evakuasi lantas dimulai, perlahan-lahan Usman dinaikkan ke atas perahu. Apa boleh buat, sambil teriak kesakitan mau tidak mau harus terus diangkat dengan sedikit tergoyang-goyang karena perahu terus berayun-ayun karena hantaman ombak. Selanjutnya, perlahan perahu pun meninggalkan lokasi kembali menuju kampung. Rencananya sih, dari kampung baru selanjutnya akan dicarikan perahu yang lebih besar, berhubung perjalanan ke kota BauBau mesti ditempuh dengan perjalanan laut selama kurang lebih 3 jam. Jalur perjalanan harus melalui laut lepas sebelum masuk ke selat utama untuk mendarat di pelabuhan Jembatan Batu. Kira-kira perjalanan baru menempuh 10 menit, tak dinyana, dari kejauhan nampak speedboat besar yang menuju rombongan mereka. Setelah cukup dekat, akhirnya Rahman yakin kalau itu adalah pak Kasna yang tampak berada di atas speedboat. Rupanya, beliau berhasil datang tepat waktu bahkan dengan perahu operasional yang ternyata telah berhasil dikontrak. Tentu saja, tugas perdana speedboat operasional ini adalah untuk evakuasi. Kami kemudian memindahkan Usman ke speedboat yang lebih besar dan saat itu juga empat buah mesin masing-masing berkekuatan 25 PK digeber kayak setan segera meluncur ke BauBau. Mereka berlima, Rahman, pak Kasna, Doni, Toton dan Ade ikut dalam rombongan sementara tim pak Barjo memisah balik menuju kampung dan selanjutnya menuju ke camp utama untuk beristirahat. Perjalanan laut menuju ibukota ditempuh selama 3 jam. Beruntung saat tiba di BauBau, lokasi rumah sakit berada tepat di dekat pelabuhan utama, bahkan bangunan Unit Gawat Darurat hanya berjarak kira-kira 200 m dari tempat speedboat ditambatkan.

Setibanya mereka di ruang UGD, cukup lama Usman harus menunggu untuk mendapatkan penanganan. Setelah sekian waktu, barulah datang seorang perawat pria yang mengecek kondisi paha kiri Usman. Si Perawat lantas melakukan tindakan menggunting celana lapangan Eiger andalan si Usman untuk membuka akses ke paha yang cedera, membersihkan lokasi bengkak dengan obat merah, dan kemudian membiarkan Usman kembali menunggu, ya menunggu..! Setengah emosi mereka bertanya kepada si perawat, “Pak, cuma segini saja? Kami kan dari tadi menunggu, masak hanya segini saja tindakan medisnya? Bapak tahu tidak perjalanan panjang kami hari ini hanya agar bisa mendapat perawatan secepatnya?”. Pak Kasna pun tiba-tiba menyeruak dan ikut menimpali, “Mas, berapa saja biayanya akan kami bayar, ga usah takut, yang penting tolong dirawat yang benar kawan kami ini”, ucap beliau. Setengah keder, si Perawat menjawab : “Sabar pak, dokter spesialis yang akan menangani sudah kami hubungi, harap bapak-bapak sabar sedikit”. Mungkin dia ngeri kalo bakal ‘dikeroyok’ dengan orang-orang yang bertampang garang, rambut acak-acakan, baju celana basah semua, mata merah belum tidur-tidur. Ditambah lagi wajah-wajah galak typical hutan, kusam, merah laterite, atau memang hitam kalo yang bawaannnya sudah hitam sangar seperti pak Kasna atau Toton. Dengan kondisi tampang saat itu, tidak bisa dipungkiri kalo impresi dan kesan yang muncul memang tidak bersahabat. Padahal kita semua orang-orang yang sangat bersahabat lho, bahkan kalau soal kesetiakawanan tidak perlu diragukan lagi.

Menunggu lama, baru sore hari kemudian dokternya datang. Setelah dilakukan pemeriksaan standar, dokter memerintahkan perawat agar pasien dibawa ke ruang rontgen. Rahman dan Doni turut menunggui di ruangan rontgen, penasaran dengan hasil foto seperti apa yang bakal muncul. Proses persiapan dan pengambilan foto memakan waktu sekitar setengah jam. Sesudahnya kemudian Usman kembali dibawa ke ruang UGD. Tak lama setelahnya sang dokter kembali dengan membawa hasil rontgen dan memperlihatkan kepada kami semua hasilnya. Hmm, cukup ngeri juga melihat foto itu yang menampakkan kondisi paha Usman sesungguhnya. Jadi, terjadi fraktur dalam tepat di bagian pertengahan tulang paha, ‘patah tebu kalau istilah tukang urut kampung. Tulang yang patah bagian bawah bahkan sudah naik menohok ke arah atas sehingga terjadi pemendekan kaki kiri beberapa sentimeter. Dokter menyarankan untuk pembedahan guna pemasangan pin sekaligus mengembalikan posisi tulang patah tadi ke posisi semula guna mencegah pemendekan kaki permanen, namun itu harus dilakukan di rumah sakit yang lebih besar. Maklumlah, rumah sakit di sini umumnya masih golongan tipe C dengan pelayanan spesialis yang masih terbatas. Dari awal mereka memang sebenarnya sudah berniat untuk langsung membawa Usman ke Jakarta saja, biar mendapat perawatan yang lebih bagus sekaligus bisa lebih dekat dengan keluarganya. Mereka sangat paham sebenarnya soal itu, namun jalur penerbangan yang paling dekat untuk bisa ke Jakarta hanya ada di ibukota provinsi. Usman hanya bisa diberangkatkan dengan kembali menggunakan jalur laut terlebih dahulu esok harinya menuju Kendari, selanjutnya baru bisa diatur penerbangannya langsung ke Jakarta.

Jadilah malam itu mereka semua menginap di rumah sakit menemani kawan kami Usman yang terkapar. Usman sendiri, untuk sementara cukup merasa nyaman dengan paha yang digips. Setidaknya gips tadi bisa meredam getaran-getaran di sekitar ranjang Usman. Maklumlah, sedikit saja paha Usman kena getaran atau tergoncang, mukanya langsung meringis menahan sakit. Awalnya semuanya berjalan lancar, namun kemudian muncul satu masalah kecil. Usman dengan ‘malu-malu kucing’ berbicara kepada Rahman : “Kang, saya mau buang air kecil, gimana caranya ya..?”, tanya Usman dengan dialek Sunda-nya. Rahman yang mendapat pertanyaan itu juga ikut bingung. Sambil garuk-garuk kepala dia lantas bertanya balik, “Gimana, mau dipapah gak ke kamar mandi..?” Usman menimpali, “Wah Kang, gerak sedikit saja rasanya badan sakit kabeh euy, gimana ya..?” ucapnya bingung. Akhirnya Rahman menjawab, “Baiklah, biar ‘eksekusi’ di ranjang saja” ucap Rahman, sambil terus berpikir-pikir bagaimana caranya supaya bias ‘pas’.

Kemudian Rahman berinisiatif mengambil botol kosong air mineral ukuran sedang. Dia pun berkata kepada Usman, “Man, maaf-maaf nih, tolong ‘Usman kecil’ disuruh ‘mengintip’ keluar dulu, biar ‘helm-nya’ gampang nyungsep ke dalam botol kosong ini” ucapnya memberi ide sambil nyengir-nyengir kuda.  “Wah, ide bagus Kang, makasih” ucapnya sembari mencoba menggapai ‘Usman kecil-nya’. Sialnya, entah tangan Usman yang pendek atau memang posisinya yang tidak pas, ‘si Usman kecil’ tidak tergapai, tetap tergontai pasrah di posisinya sementara ‘panggilan alam’ masih terus menggema. “Ya sudahlah, biar saya yang handle’ timpal Rahman. Akhirnya dengan perasaan geli dan aneh, Rahman mencoba ‘menangkap si Usman kecil’ yang ‘bersembunyi’ di balik seprei rumah sakit. Setelah memegang ‘batang leher’nya, dia lantas bersiap memasukkan mulut botol tadi ke bagian ‘helm Usman kecil’. Namun, ternyata tidak seperti yang Rahman bayangkan, muncul lagi masalah baru.  Tiba-tiba saja, ‘Usman kecil’ bangkit ‘meronta’, mungkin kaget saat mendapat sentuhan ‘khas’ he he heh… ”Man, tolong dong ‘jagoan kecil’ ente disuruh rileks, kalau ‘bangkit’ melulu, gimana caranya bisa masuk ke dalam mulut botol?” pintanya. Bisa-bisa bikin geyser nanti” tambah Rahman lagi tertawa. “Sorry Kang, refleks, panggilan alam sudah emergency, cepetan Kang” ucapnya menimpali. Busyet nih dalam hati, bakal tumpah-ruah kemana–mana nih. Terpaksa dengan sedikit kasar, ‘helm Usman kecil’ dipaksakan masuk ke dalam mulut botol sedemikian rupa hingga posisinya tidak akan memunginkan untuk menghasilkan ‘geyser mini’ secara tak sengaja. Phew, akhirnya ‘ritual alam’ si Usman terlaksana dengan lancar juga meski beberapa tetes sempat muncrat ke pergelangan tangan Rahman. “Man, besok-besok kalo mau pipis, ntar sampai di Jakarta aja ya, jangan di sini,” ucap Rahman tertawa mencandai si Usman.  Sebenarnya dia malu dan risih juga, tapi apa boleh buat dalam kondisi seperti itu mending pakai gaya koboi saja daripada ntar diomelin perawat gara-gara bikin banjir ranjang rumah sakit.

Esoknya, Usman segera digotong ber-ramai-ramai menaiki kapal cepat MV Sagori menuju Kendari. Perjalanan sedianya memakan waktu 6 jam, sehingga Usman pun dibaringkan di lantai dek atas ruang VIP dalam kondisi kaki sudah dispalk. Tiba di pelabuhan laut Kendari, ambulans rumah sakit yang sudah dipesan sebelumnya sudah siap sedia dan mengangkut Usman ke rumah sakit setempat secepatnya. Tak disangka, di dalam perjalanan yang seharusnya hanya membutuhkan waktu 20 menit, ban ambulans pecah. Suasana saat itu panas kering-kerontang khas Sulawesi, dan semua penumpang keringatan berpeluh membanjir menunggu proses penggantian yang baru selesai satu jam berikutnya. Tiba di lokasi, tidak banyak yang bisa dilakukan rumah sakit tersebut karena memang hanya kami gunakan sebagai tempat transit ke Jakarta. Sementara Usman beristirahat, beberapa rekan lain bergerilya mencarikan tiket pesawat ke Jakarta. Lagi-lagi karena pasal peraturan yang tidak jelas asal-usulnya, hampir semua maskapai yang ada menolak memberangkatkan Usman dan Rahman. Alhamdulillah, akhirnya mereka berhasil memperoleh juga sebuah maskapai yang bersedia membawa mereka berdua, hanya dengan satu syarat : mereka harus memborong 9 seat sekaligus! Wah, benar-benar otak bisnis tetap jalan, angkut dua orang, bayarnya kok 9 orang? Mau tidak mau, demi si Usman yang kondisinya makin parah, disanggupilah ‘todongan semena-mena’ itu. Di dalam pesawat, dua row kursi direbahkan untuk digunakan Usman.

Dalam perjalan, pesawat transit di kota Makassar dan berganti armada. Rahman yang saat itu tidak membawa apapun, akhirnya memesan kepada istrinya untuk membawakan handphone saat transit di bandara. Begitu pesawat tiba, Rahman yang sudah menyampaikan kebutuhannya dan menitipkan Usman kepada petugas, segera berlari ke ruang kedatangan sementara Usman ditandu menuju pesawat berikutnya. Terengah-engah Rahman tiba di pesawat, dan langsung disambut dengan amarah pramugarinya. “Bapak ini kah keluarganya? Kami cari-cari dari tadi sampai kami umumkan segala. Kami pikir mana pendamping Pak Usman ini, kasian sekali dibiarkan begitu saja”, kata mereka agak ketus. “Tapi semua sudah beres kan Mbak?”, sambut Rahman. “Ya sudah Pak, Bapak sudah ada dan penumpang sudah siap semua”, ujar mereka. “Ya kalau begitu minta maaf lah Mbak, saya tadi ambil perlengkapan di ruang kedatangan karena saya tidak membawa apa-apa dari lokasi karena emergency ini,” jawab Rahman kembali. Tiba di Jakarta, melalui pintu khusus, kembali Usman dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.

Seharusnya dengan tibanya Usman di Jakarta, segala sesuatu akan berubah menjadi lancar. Namun saat Usman sedang dirawat di ruang gawat darurat untuk (harusnya) segera menjalani operasi, Pak Marlen Direktur Keuangan kami berkata ke pihak keluarga : “Bagaimana Pak, Bu, ada tidak niatan keluarga untuk menjalani pengobatan alternatif?”. Keluarga agak kaget mendengar hal itu, karena seolah-olah pihak perusahaan kok lepas tangan. Pak Marlen pun segera menyambung, “Bukan maksudnya perusahaan lepas tangan, medis tetap kita jalankan saja dan beaya kami tanggung sepenuhnya, hanya kita perlu jaga-jaga. Coba saja lihat sebentar lagi, pasti pihak rumah sakit berkata macam-macam supaya harga operasinya mahal. Yang dokter spesialisnya sedang cuti lah, yang pin-nya nggak ada dan harus beli di Singapur lah dan lain-lain”. Dan ternyata benar sekali ucapannya, tak berapa lama perwakilan rumah sakit berkata bahwa stok pin sedang habis dan perlu dipesan dari Singapura. Karena tidak ada pilihan lain, operasi pun tetap dilakukan dan setelah selesai, pengobatan dilanjutkan keluarga di salah satu tempat penanganan patah tulang yang terkenal di Jawa Barat. Kabar terakhir, setelah sembuh total, Usman pindah perusahaan dan saat ini telah berkeluarga. Sayang sekali, kontak kami dengan Usman sudah putus karena nomer handphone-nya sudah berganti, tidak bisa kami hubungi kembali.

 

Moral of The Story :

  ‘Kesetiakawanan’ adalah hal yang tak ternilai. Di hutan rimba, rekanmu adalah keluargamu.

 

 

6 Responses to “Sudah Jatuh, Tertimpa Batu Pula (Pejuang Peridotite)”

  1. as. makasih atas tulisannya ya

  2. Waduh…kok namanya Usman sih oom..?Usman kan masih sehat-sehat saja di Sora…hehehe…

  3. cara bertutur yang asyik sampe seperti nonoton sinetron..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: