Gadget Freak

Tak kalah dengan tokoh-tokoh pemeran film James Bond yang selalu digambarkan dikelilingi oleh peralatan canggih dan mahal, demikian pula kami, para field geologist. Bedanya, peralatan yang kami bawa sebenarnya tidak semuanya masuk ke dalam kategori gadget karena sebagian bukanlah barang elektronik, melainkan instrumen mekanis. Tapi, karena memang tampilannya gagah dan keren, mau tidak mau tetap akan ‘mempesona’ siapa saja yang menyaksikannya. Berikut adalah barang-barang yang biasanya saya bawa dalam sebuah eksplorasi. Benda-benda yang termasuk dalam list awal adalah barang yang sifatnya ‘wajib bawa’. Jika salah satu barang ini tidak ada, jangan harap anda bisa masuk ke lapangan untuk bekerja, mending balik kanan pulang kandang daripada perjalanan yang dilakukan akhirnya menjadi sia-sia.

  1. Kompas Geologi; tipe yang umum digunakan adalah Silva dan Brunton. Namun yang paling familiar digunakan oleh geologist adalah tipe Brunton, karena memiliki nilai derajat dalam satu putaran 3600. Berbeda dengan Brunton, putaran Silva dibagi dalam 4 kuadran sehingga maksimal nilainya adalah 900, cukup membingungkan untuk mengonversinya lebih lanjut ke dalam putaran 3600. Kompas geologi tipe Brunton buatan lama terbuat dari logam nirkarat, dengan ukuran sebesar telapak tangan. Kompas dapat dibuka untuk difungsikan mengukur bearing (arah), mengukur strike (jurus) batuan dan di dalamnya terdapat clinometer yang dapat digunakan untuk mengukur dip (kemiringan) batuan ataupun kemiringan lereng. Brunton buatan baru, dibuat dari plastik keras sehingga lebih ringan. Hampir semua kompas geologi tahan cuaca dan tahan air hingga kedalaman 1 meter. Saya sendiri lebih menyukai Brunton baja karena selain lebih kokoh dan ‘terasa di tangan’, kompas ini juga sangat cocok untuk menyambit anjing-anjing liar yang kadang-kadang muncul di seputaran pinggir desa. Selain itu kaum wanita pun menyukai tipe Brunton ini karena cermin di bagian dalamnya dapat digunakan sekalian untuk berdandan.
  2. Palu geologi; alat pemecah batu yang cukup handal untuk mengamati tekstur batuan segar dan mengambil sampel batuan. Terdiri dari dua jenis; palu batuan beku dan palu batuan sedimen yang dibedakan oleh bentuk mata belakang palu itu sendiri. Untuk palu beku, mata belakang berbentuk meruncing sedangkan pada palu sedimen mata belakangnya memipih memanjang namun tetap meruncing. Selain itu ukuran palu juga bermacam-macam, bahkan ada palu sedimen yang memiliki panjang gagang hingga 50 cm dari rata-rata umumnya panjang gagang palu yang hanya 25 cm saja. Palu geologi harganya sangat mahal apabila dibandingkan dengan sesama palu jenis lainnya dikarenakan masih diimpor dan terbuat dari logam nirkarat asli. Persentase campuran logam dan konstruksinya memang dirancang sedemikian rupa sehingga palu tersebut menjadi sangat-sangat kuat. Palu geologi ini, selama digunakan untuk memukul pada mata depan atau belakangnya, sekuat apapun si pengguna menghantamkannya ke batuan yang sekeras apapun juga, tidak akan pernah bisa patah. Pernah oleh seorang dosen, untuk menekan harga, diupayakan untuk membuat palu sejenis di daerah pengrajin logam terkenal di Ceper, Klaten. Namun, si pengrajin baja tersebut kesulitan meniru komposisi logam palu yang cocok dan hanya bisa menghasilkan palu gagal yang selalu patah bila dihantamkan dengan keras. Karena kuatnya palu geologi inilah, otomatis palu menjadi senjata andalan seorang field geologist. Baik saat dihadang penduduk dengan golok terhunus, atau berhadapan dengan babi hutan bangkotan setinggi 1,2 meter pun, dengan hulu palu geologi tergenggam di tangan perasaan pun menjadi tenang. Mau beradu hantam dengan golok, ayuk saja karena golok pun akan patah. Apalagi jika palu melesak ke kepala babi hutan, dipastikan langsung klenger. Namun, palu ini juga memiliki batas kekuatan hantaman, sehingga saat berhadapan dengan batuan yang super keras, seperti chert (batuapi), granit atau kuarsit, maka tidak ada jalan lain. Daripada anda menghantam terus-menerus dan berakhir sia-sia, hanya menghasilkan percikan api dan loncatan serpihan kecil batu yang membahayakan tangan dan mata sendiri, opsi membawa palu martil 10 kg sepertinya layak menjadi prioritas.
  3. Lup; alat pembesar untuk mengamati tekstur batuan. Berbeda dengan lup baca yang umumnya berkaca dan bergagang besar, lup geologi tanpa gagang ini berukuran kecil dan sangat praktis. Berbingkai logam, lup dengan diameter 2,5 cm ini memiliki dua lensa yang perbesarannya umumnya 10 dan 25 kali. Lup ukuran kecil ini memang didesain untuk diletakkan di dekat mata, bukan jauh dari mata sebagaimana lup baca. Sehingga jika anda hendak mencapai fokus pandangan dan perbesaran terbaik, batuannya lah yang digeser-geser menjauh atau mendekat dari obyektif, bukan lupnya karena medan pandangnya akan hilang.
  4. GPS (Global Positioning System); alat penentu posisi. Jaman kuliah dahulu, saya hanya pernah sekali memegang yang namanya GPS. Itu pun, karena saat itu GPS adalah barang langka dan mahal, saya tidak sempat menggunakannya selain hanya sekedar ‘menimang-nimang’ dan mengaguminya. Ukurannya lumayan besar dan cukup norak bila ditenteng-tenteng. Sewaktu Kuliah Lapangan dan Pemetaan Mandiri, kami semua belum ada yang menggunakan GPS satu pun sehingga penentuan lokasi hanya mengandalkan peta kontur dan kompas. Dengan menyilangkan dua titik yang sudah diketahui pasti lokasinya di peta, kami pun dapat menentukan posisi dengan baik. Kuncinya adalah, kami sudah harus dapat mengidentifikasi titik yang namanya jelas di peta, misal puncak bukit, kelok sungai ataupun jalan desa. Selanjutnya, saat bekerja di perusahaan, kompas sama sekali tidak kami gunakan untuk penentuan posisi. Selain kurang akurat, sering kali dalam kenyataanya kami harus memasuki daerah yang belum di-cover oleh peta kontur dengan skala besar (minimal 1 : 50.000; 1 cm di peta = 500 m jarak sesungguhnya). Apalagi jika kami kebetulan memasuki daerah rawa atau perbukitan rendah, bagaimana kami bisa mengetahui nama-nama bukit jika memang tidak ada namanya sama sekali dan bentuknya serupa satu sama lain? GPS yang pertama kali saya gunakan adalah Garmin 12XL (discontinued), tipe handheld yang sudah cukup canggih pada jamannya. Rugged, tough dan waterproof hingga kedalaman 1 meter adalah fitur unggulannya sehingga GPS ini banyak juga digunakan oleh kalangan militer. Kelemahannya adalah akuisisi sinyal satelit yang lelet, apalagi jika lokasi tertutup pepohonan atau awan mendung. Jika sudah begitu, bisa-bisa lebih dari setengah jam GPS digelar namun tetap belum bisa mengunci koordinat karena satelit yang ditangkap kurang dari tiga buah. Sudah banyak makan asam garam untuk hal serupa, tak ayal lagi, bila saya menghadapi kondisi seperti itu mau tidak mau jurus pamungkas harus saya lancarkan. Dengan meneriakkan kode ‘hajar!’, para kru lokal saya sudah paham dan dengan sigapnya mengayunkan parang membabat apa saja yang berada dalam radius 10 m supaya halangan pohon dan perdu lenyap. Kelemahan lain dari GPS ini adalah, tidak bisa mengunci nilai ketinggian sebagai fungsi dari altimeter. Jadi, setiap bertemu singkapan atau point of interest lainnya, walaupun koordinat sudah terkunci dan tersimpan di memori GPS, tetap saja kami harus mencatat ulang nilai ketinggiannya. Belakangan, perkembangan GPS sedemikian pesatnya, mungkin menyaingi perkembangan teknologi handphone. Mulai dari tingkat akurasi dan kecepatan akuisisi satelit, display warna, kemampuan ungguh peta, bahkan disematkannya pula radio gelombang FRS/GMRS 1 watt (seperti pada Garmin tipe Rhino). Fitur radio ini cukup menarik karena bukan hanya dapat digunakan sebagai alat komunikasi jarak dekat (1 watt hanya meng-cover area radius 1 km), namun dapat juga digunakan untuk saling membaca posisi rekan di peta. Cukup dengan menekan tombol push to talk/transmit, maka posisi kita akan terbaca di GPS lawan bicara, demikian pula sebaliknya. Sayang sekali kekuatan radio tersebut hanya 1 watt, jika bisa pemancar yang disematkan berdaya 4-5 watt seperti radio Handy Talky misalnya, posisi rekan yang sejauh 8 km pun bisa terlacak di peta. Beberapa tipe GPS keluaran terakhir sudah sanggup mengunci koordinat via satelit walaupun posisi GPS terhalang lembaran logam karena berada di dalam kabin mobil.
  5. Radio Handy Talky; alat komunikasi dua arah. Untuk keperluan eksplorasi, radio yang sering saya tenteng adalah Icom V8. Walaupun ukurannya besar dan bulky, radio ini memiliki kekuatan pancar hingga 5 watt sehingga dapat meng-cover area hingga radius 8 km di hutan dan bukit, bahkan dapat mencapai 50 km bila di tepi pantai. Radio ini juga gampang dimodifikasi, terutama penggunaan antena teleskopik panjang untuk memperoleh coverage area lebih luas dan penggunaan batere cadangan tipe AA untuk mendukung komunikasi yang lebih lama. Sementara, untuk lokasi yang sudah lebih mapan (seperti pada tahap pengeboran hingga penambangan), radio Motorola GP2000 lebih disukai. Walaupun berkekuatan pancar hanya 4 watt, namun ukurannya yang mungil dan stylish membuatnya disukai orang. Terlebih, berbagai fungsi dapat diprogramkan ke dalamnya, seperti channel radio, kemampuan telefoni, squelch dan scramble, dan lain-lain sehingga menjamin komunikasi tidak bocor ke orang luar.  Jeleknya, untuk radio Motorola yang sudah diprogram ini, tidak dapat lagi digunakan masuk ke channel umum 2 meteran untuk berkomunikasi dengan penikmat radio amatir lainnya. Jadi, after working hour, untuk bisa mengudara dengan ‘janda-janda kesepian’ teman-teman yang iseng lebih sering mengudara menggunakan radio Icom. Tentu saja tidak ada satu pun rekan yang berani kopi darat dengan mereka karena sudah terbukti berkali-kali bahwa suara merdu, genit dan mendayu-dayu di radio pasti berbanding terbalik dengan kualitas wajah.
  6. Handphone tipe outdoor. Handphone tangguh yang pernah saya gunakan di lapangan adalah mulai dari ‘si Hiu’ Ericsson R310 (sempat punya dua buah, warna biru dan oranye), Nokia 5210 dan terakhir adalah Siemens M75. Memang, gagah sekali tampaknya saat geologist menggunakan handphone ini, apalagi dalam balutan pakaian dan aksesoris lapangan dan diguyur hujan lebat, siapa pun yang melihat pasti kesengsem. Yang jadi permasalahan cuma satu, saat di hutan jarang sekali terdapat sinyal seluler sehingga HP pun lebih banyak ngendon di dalam tas atau nyangkut di pinggang. Lagipula, lama kelamaan saya mulai mengabaikan untuk menggunakan handphone outdoor saat di berada lapangan. Bukan apa-apa, dipikir-pikir untuk apa saya punya HP tahan air tapi saat turun hujan saya juga masih harus menyelamatkan barang-barang lain yang tidak waterproof seperti dompet, peta, kalkulator dan lain sebagainya? Sekalian saja HP dan barang-barang tersebut saya jadikan satu dan bungkus dengan plastik tahan air, beres kan?
  7. Jam digital. Tidak seremeh nama dan fungsinya, jam yang saya gunakan adalah Casio seri Protrek yang cukup canggih. Diperlengkapi dengan triple sensor untuk fungsi altimeter, barometer, termometer dan kompas, jam ini selalu mendampingi saya kemana-mana. Bahkan, saking cintanya dengan Protrek ini, saya sampai punya dua. PRG 80 berwarna hijau khusus untuk mblasak-mblusuk di hutan dan PRG 110AB hitam yang berukuran lebih kecil untuk pemakaian sehari-hari. Dua fungsi yang paling banyak saya gunakan adalah fitur kompas dan barometer. Kompas, tentu saja berguna sebagai penunjuk arah saat saya sedang berorientasi ataupun sekedar mencari arah kiblat. Sedangkan barometer, sesuai namanya, mengukur tekanan udara sehingga perubahan cuaca sewaktu-waktu dapat terus diikuti. Tekanan udara yang jatuh tiba-tiba, biasanya menandakan cuaca akan memburuk sehingga saya pun dapat bersiap-siap menghadapi perubahan cuaca mendadak seperti angin keras, mendung ataupun hujan. Terlebih lagi, dengan fungsi perekaman nilai tekanan udara secara terus-menerus dalam waktu 24 jam sebelumnya, saya dapat memrediksi bagaimana prilaku cuaca untuk esok harinya. Satu yang tidak mengenakkan saat mengenakan jam ini adalah, sindiran orang-orang yang tidak paham akan fungsinya. “Sudah tua kok masih pakai jamnya anak-anak”, demikian kata mereka. Padahal, saya yakin 100% mereka akan berbalik heran jika saya jelaskan semua fungsi tambahannya yang canggih dan sangat membantu pekerjaan orang lapangan seperti saya, dan pasti akan makin terkagum-kagum lagi jika mereka tahu berapa harga jam ‘anak-anak’ itu.
  8. Handphone satelit. Dahulu, saya ingat betul jika saya pernah menonton tayangan wawancara eksklusif suatu stasiun televisi dengan salah satu panglima GAM di Aceh. Yang membuat saya terpesona adalah, tampak sebuah telepon satelit dengan gagahnya nangkring di bahu kiri Sang Panglima. Tak disangka tak diduga, sewindu lebih setelah itu saya pun berkesempatan menjajal handphone tangguh satu ini. Tipe yang biasa saya tenteng adalah Ericsson R190s, dengan ‘S’ adalah kependekan dari satellite. Antenanya gede, dan dapat diputar dari samping naik ke atas. Body-nya tidak kalah bongsor dengan tombolnya yang besar tetapi hanya memiliki layar seupil, khas HP jadul Ericsson. Asal langit tidak terhalang mendung atau hujan, dipastikan dalam waktu kapanpun, saat antena dinaikkan maka komunikasi otomatis dapat dilakukan. Jangan bicara soal pulsa ya, karena komunikasi adalah hal mutlak saat kita berada di remote area. Jika saat itu tarif GSM masih di kisaran 1.000 hingga 4.000 rupiah per menitnya, tarif telepon satelit ini flat 8.000 rupiah! Tidak seperti halnya komunikasi suara via GSM atau CDMA yang jernih, kualitas pembicaraan via satelit sangat buruk. Volume suara kecil, bergema dan delay adalah hal yang harus dimaklumi. Sebenarnya yang paling menjengkelkan adalah delay suara yang terjadi. Jika kita sedang berbicara terburu-buru, maka komunikasi dipastikan akan berjalan tumpang-tindih. Akhirnya pada suatu waktu, kita bisa saja berebutan berbicara berbarengan atau lebih buruk lagi, sama-sama terdiam menunggu respon lawan bicara. Namun, karena tidak ada opsi komunikasi yang lebih baik, mau tidak mau fasilitas ini tetap menjadi andalan. Jangan pernah berharap pada layanan SMS karena fitur ini dihilangkan oleh penyedia layanannya di Indonesia. Toh, tidak mungkin juga kita kembali ke jaman beberapa puluh tahun lalu saat komunikasi di daerah terpencil masih mengandalkan radio Single Side Band (SSB), dimana kita harus repot-repot merentangkan antena yang panjangnya 60 meter itu.
  9. Teropong medan. Seringkali saat memasuki lokasi, saya memerlukan pandangan yang lebih baik untuk berorientasi. Demikian pula jika kami menghadapi hadangan sungai atau jurang yang tidak bisa disebrangi, mau tidak mau kami harus melakukan pengamatan singkapan dari jauh. Dengan medan pandang sejauh 1 km yang setara dengan penglihatan 100 m, keberadaan teropong sangat membantu. Apalagi jika kami sedang melewati ceruk sungai yang biasa digunakan oleh para gadis desa untuk mandi dan mencuci, tak akan disangsikan lagi kemampuannya dan kegunaannya.
  10. Multi tools; kumpulan alat serba guna. Ada dua tipe multi tools yang sering saya bawa kemana-mana, satu yang ada peralatan makannya dan satu lagi yang ada pisau dan peralatan mekanis di dalamnya. Khusus untuk urusan makan, saya membawa Coleman kecil yang di dalamnya terdapat sendok, garpu, pisau dan pembuka botol. Kualitas logamnya lumayan, namun jangan berharap bisa memotong kayu menggunakan pisaunya. Yah, paling tidak kalau sekedar memotong buah atau mengoleskan mentega masih bisa lah. Untuk keperluan lain yang sifatnya lebih tough, saya menenteng sebuah Leatherman Waves kesayangan. Terbuat dari logam pilihan, pisau dan gergaji tajamnya dapat digunakan untuk mengerat dan memotong kayu berukuran kecil. Selain itu, obeng dan tang di dalamnya juga sangat diperlukan dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil di camp seperti memperbaiki tenda atau pun memotong kawat. Saking cintanya saya dengan ketangguhan tools ini, pernah suatu waktu ketika saya berlibur di Pulau Samalona, Makassar, tak dirasa ikat pinggang dan Waves saya tertinggal. Sambil merutuki diri menyesali keteledoran itu, tetap saja, tiga hari kemudian sebuah Waves baru pun sudah kembali bertengger di pinggang saya.

Selain deretan gadget itu, tak ketinggalan juga perlengkapan lapangan lain yang tersemat di badan. Tas punggung, celana dan baju lapangan, sarung tangan, sepatu lapangan dan topi rimba adalah seragam wajib kami. Selain itu, di tenda atau camp, pasti tidak ketinggalan pula sleeping bag dan jaket lapangan all weather sebagai pembungkus badan. Prinsipnya, kami tidak mau ‘ala koboi’, lepas perhitungan dengan memasuki suatu daerah tanpa mempersiapkan diri dengan peralatan dan logistik sebaik mungkin. Bukan apa-apa, medan kerja kami seringkali berada di lokasi yang terpencil sehingga kurang peralatan sedikit saja bisa fatal akibatnya. Jadi, setiap hendak memasuki suatu lokasi, pasti sebelumnya kami sudah menyusun rencana matang. Hal-hal penting seperti perlengkapan lapangan, logistik, obat-obatan, transportasi, akomodasi dan kru lapangan pasti sudah kami tetapkan jauh sebelumnya.

 

Moral of The Story :

 On tools we trust, God do the rest.

 

2 Responses to “Gadget Freak”

  1. very good

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: