Axis of Fagogoru, Halmahera Tengah

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah DestinAsian Indonesia Januari/Februari 2014)

Pak, kitorang main Batu Lubang saja ka? Bagus dia punya ee…, ornamen itu! Sebentar sore datang ka sa pu tatangga, Musa. Kasi pesan untuk pakai katinting dia tho?”, ajakan Taufik pun terus mengiang-ngiang menggoda saya. Menarik ketinting melewati beberapa titik dangkal sungai SageaPucuk di cita ulam pun tiba, besok hari libur dan saya belum ada hal lain yang akan dilakukan untuk membunuh waktu. Akhirnya sore itu, dengan berboncengan sepeda motor, saya meluncur ke desa Sagea. Perjalanan 30 menit terguncang-guncang melewati jalan tanah lumpur berbatu terbayar sudah. Sebuah ketinting bermesin tunggal, dua orang kru keluarga Pak Musa dan 6 batang obor sedianya akan siap menemani petualangan esok.

Saya tak leluasa browsing mencari tahu apa sebenarnya Batu Lubang ini. Walhasil, saya hanya bisa melihat fotonya dari kalender yang sudah expired dua tahun lalu, Kebetulan kalender itu masih disimpan oleh salah seorang penduduk. Tebing rapat dan tinggi menjulangBerbagai macam bentuk ornamen batukapur tampak terdokumentasikan, sementara fisik goa nya sendiri masih buram dari bayangan saya. Sedikit clue lain yang saya dapat, perjalanan di atas sungai akan menembus tebing, sebelum memasuki mulut goa yang konon katanya tak berujung. Memang, berada di pinggiran timur kecamatan Weda, saya notabene berdiri di bawah pulau Halmahera, tepat di kaki tengahnya si huruf ‘K’ ini. Di sini, komunikasi verbal mulut ke mulut lebih efektif ketimbang mengandalkan media elektronik. Desa Sagea pun memiliki danau yang cukup apik, walau sebenarnya adalah sebuah laguna yang sangat besar. Dengan jalanan tanah kondisi becek dan longsor, cakupan sinyal GSM yang sangat terbatas serta transportasi publik yang hanya lewat sekali dalam sehari (jika tidak hujan), siapa juga yang bisa mengira kalau di kabupaten baru ini juga punya tempat wisata?

 

 

Penduduk menyebrangi sungai Sagea dengan sampan

 

Pukul 08.15, sudah satu jam saya menunggu di muara sungai namun ketintingnya belum juga muncul. Langit mulai mengabu-abu, kami semakin cemas. Jika hujan turun dengan lebat, bukan tak mungkin acara ini berubah gagal total. Dengan kondisi sungai yang dangkal berbatu, saya sudah bisa menebak kalau fluktuasi debit airnya pasti sangat tinggi dan sangat tergantung pasokan air dari hulu. Kebetulan, sinyal GSM kencang di sini karena berada pada garis lurus menara BTS sebuah perusahaan nikel di Weda. Baru lah saya tahu kalau Batu Lubang ini sebenarnya memiliki nama cukup keren, Boki Moruru alias putri yang menghanyutkan diri. Konon dahulu, di sungai Sagea ini seorang putri dari Kesultanan Tidore mandi sambil menghanyutkan diri mengikuti arus sungai hingga ke hilir. Memang, legenda di Maluku tak pernah bisa lepas dari kejayaan kerajaan-kerajaan besar Islam nusantara seperti Ternate dan Tidore yang tesohor.

Tak lama, suara cempreng mesin tunggal berkarat terdengar mendekat. Pantas saja lama, karena motorist dan helper-nya ini mesti memasang mesin dahulu ke perahu. Sepuluh menit menyusuri sungai Sagea, saya mulai cemas. Tak hanya arus Ornamen Batu Sembahyangyang makin deras, dasar sungai berbatu pun mulai tampak jernih membayang satu atau dua meter di bawah lunas. Beberapa batu seukuran meja muncul di tengah sungai dan membuat arus terputar di sekelilingnya. “Waduh, bahaya ini,” pikir saya dalam hati. Kan kami niatnya melewati sungai dengan santai, bukan mau semi arung jeram. Mesin Robin 5 PK pun semakin meraung, kalah tangguh melawan tendangan arus dari depan. “Dhuaak!”, suara keras terdengar dari bawah. Sukses, ketinting kami kandas. Saya sih tenang-tenang saja. Bukan apa-apa, dasar sungai mulai tampak dimana-mana dan pinggiran sungai gampang dijangkau. Seketika air meluap, kami masih mudah menyelamatkan diri. Ternyata, perjuangan menghidupkan mesin tua itu lima kali lebih berat daripada melepaskan perahu.

Dua kali tersangkut ke dasar sungai dan sempat berjalan kaki 100 meter karena ketinting harus ditarik dalam kondisi kosong, kami pun mulai memasuki  celah tebing yang menjulang. Mirip dengan Cukang Taneuh aka Anak-anak Fritu asyik bermainGreen Canyon, namun di sini saya lebih keder karena tebingnya lebih rapat. Cahaya mentari sukar menembus, air terus menetes membasahi kami. Tak ada yang tahu pula berapa dalamnya sungai dan dahsyatnya kondisi arus di bawah. Ketinting pun tertahan di dinding batu. Sungai berair dengan ajaibnya sudah lenyap ke bawah tebing. Hilang ditelan bumi begitu saja. Kami pun mulai menyalakan obor, senter nyaris tak banyak membantu karena cahayanya tak sanggup menggapai ujung goa. Lumayan, sudah ada tangga besi walau sederhana dan tak cukup kokoh sepertinya. Bau menyengat dari kotoran kelelawar menyesakkan napas. Makhluk nokturnal bersayap ini memang di luar agenda, saya tak tahu sehingga tak siap membawa masker.

Bekas perayaan Paskah di Gereja Fritu

Lumpur menggenang di lantai goa, tebalnya bisa sekilan tangan orang dewasa. Entah lumpur yang berasal dari tanah bebatuan atau jangan-jangan tumpukan kotoran dari ribuan kelelawar yang menggantung di atas. Beberapa kali kaki saya terperosok ke lubang-lubang batugamping, nyeri sekali rasanya. Kami pun meneruskan eksplorasi goa. Boki Moruru memang cantik. Tak hanya stalaktit dan stalagmit klasik layaknya pilar-pilar raksasa, bentukan-bentukannya pun sungguh unik. Saya mengabadikan satu buah stalagmit yang bentuknya persis seperti kepala orang. “Batu Sembahyang”, demikian julukan orang-orang Sagea. Sayang, kami tak bisa menemukan bentukan-Kondisi jalanan utama cocok untuk offroaderbentukan lain. Dan, kami pun memang sudah tak sanggup lagi menembus lebih ke dalam, ke tempat batu-batu kristal putih. Peralatan kami jauh dari memadai untuk itu. Selain kondisi medan, kami juga harus memperhitungkan kehadiran banyak kalajengking dan laba-laba di sekitar dinding dan celah nan lembab. Tambah lagi, sederetan cerita makhluk-makhluk gaib penunggu goa mau tidak mau menjadi referensi saya. Sedikit banyak, hal-hal mistis seperti itu tetap mempengaruhi psikologis penduduk setempat.

 

 

 

Sungai Jiguna yang elok berair deras

Hutan perawan masih terhampar luas di sini. Pepohonan setinggi gedung kantor berlantai 10 masih banyak terdapat. Saking tinggi dan rapatnya, siang hari pun tetap serasa teduh. Saya memang sengaja meluangkan waktu menembus daratan Halmahera. Duapuluh lima kilometer jauhnya dari bibir pantai, posisi saya berdiri nyaris berada di tengah-tengah pulau. Di kejauhan tampak kota Maba dan Tanjung Buli di

Pengolahan manisan daging pala Halmahera Timur. Jangan tanya berapa jaraknya karena dibutuhkan satu hari penuh menjangkaunya dengan jalan kaki cepat. Banyak tahun berlalu, jalan kabupaten pun putus tergerus air. Bahkan sepeda motor pun tak berani lewat. Gemuruh air sungai kembali samar memanggil dari kejauhan. Lebih eksotis dari Sungai Sagea, sungai Jiguna ini memiliki arus yang lebih deras dan rombongan bebatuan sebesar kerbau. Konon, di saat hujan turun di hulu, muka sungai akan naik setinggi 4 meter dan menjadi mustahil disebrangi.

Sarang semut, saat berada di Papua saya penasaran sekali dengan nama benda ini. Kebetulan Riko, membawa pulang beberapa yang masih asli. Aah, baru saya tahu. Sarang semut itu bukan benar-benar berasal dari semut. Aslinya adalah sebuah tanaman. Myrmecodia pendans, adalah tumbuhan epifit menempel di inang lainnya. Berbentuk seperti umbi, dan kebetulan memiliki lorong-lorong di dalam sehingga menjadi favorit didiami koloni semut. Umbi inilah yang dipotong, dikeringkan dan digiling halus untuk dikonsumsi. Khasiatnya sudah cukup terkenal secara empiris. Saya sendiri pernah merasakan air rebusannya, hambar, sepat. Riuh-rendah para penduduk terdengar dari belakang rumah di desa Sepo. Tak hanya sarang semut, buah pala pun menjadi komoditi menarik di sini. Mengupas daging pala untuk dijadikan manisan, saya ikut mencicipi daging mentahnya. Kecut, pahit dan pedas tumplek blek jadi satu. Dagingnya dikonsumsi, bijinya ditanam, namun kulitnya berhamburan dibuang, mubazir. Teringat selai pala nan lezat yang berasal dari olahan rebusan kulit pala sewaktu berkunjung di Bandaneira, saya berjanji akan mencarikan resep pembuatannya.

Soft Coral melambai-lambai di sisi Pulau Tete

Goa, hutan dan sungai Halmahera sudah saya rengkuh. Saatnya melaut. Tak ada yang banyak tahu sebelumnya jika Teluk Weda, pesisir Sagea hingga Sepo memiliki bawah laut yang luas. Bahkan spot penyelamandi Teluk Weda diiklankan dengan tagline : “There are no other divers 300 Km around”. Hanya kita, tak ada yang lain. Tak bersertifikat menyelam, saya lebih memilih lari ke desa Sepo karena mudah dijangkau. Tak ada yang tahu jika Pulau Tete di seberang desa kecil ini memiliki hamparan terumbu yang indah. Kecuali para nelayan tentunya, dan merekalah informan saya. Menjelajahi lokasi snorkling yang masih perawan, siapa yang tak mau?

Kembali sebuah ketinting kecil bermesin Honda berkarat menemani saya. Kali ini, cukup tiga orang saja penumpangnya. Medan laut jauh berbeda dengan air sungai. Cadik di kiri dan kanan cukup menenangkan hati, cukup tangguh kiranya menerjang ombak kecil. Dua puluh menit, kami berhasil mendekati sisi barat pulau. Dan, “Waaauw…!!”,  seketika saya membelalak. Pekatnya laut sedalam lebih dari gedung lantai 20 mendadak berubah mendangkal. Di depan ketinting terhampar ribuan soft coral warna-warni yang diselingi hard coral merah berbentuk bulat. Ikan-ikan biru kecil tampak berlarian di sela-selanya. Bintang laut pun berhamburan dimana-mana. Satu yang pasti, saya tidak menemukan satu pun Kakatua Merah Halmaherakoral yang mati, rusak ataupun sekedar patah. Benar-benar perawan! Hebat sekali masyarakat di sini dalam mempertahankan potensi lautnya. Saya banding-bandingkan, bahkan lokasi snorkling terbaik di Pulau Seribu pun kalah jauh. Pesisir Gili Trawangan dan Amed pun rasa-rasanya lewat. Mungkin yang bisa menandingi keelokan dan keperawanannya hanya Pink Beach di Komodo. Satu-satunya kelemahan lokasi ini, karena dangkal, menikmatinya hanya bisa dari atas perahu. Jika nekad turun berenang, waktu terbaiknya adalah saat air laut telah melewati puncak pasang. Laut telah tenang dan kedalaman airnya cukup ideal.

Waktu kami datang memang tidak tepat. Air laut mulai pasang naik sehingga ombaknya mengganas. Terlebih kami sudah berada di selatan pulau yang Bintang laut di sela-sela coralberhadapan langsung dengan Laut Seram. Tanpa ampun, ketinting kami terancam terbalik. Lokasi snorkling kedua di pesisir selatan Pulau Tete, yang katanya lebih bagus dari yang pertama, tak bisa kami dekati. Dimulai dari Teluk Weda, terus ke timur hingga Pulau Pasi di dekat Sagea, Pulau Tete di Sepo hingga pulau-pulau kecil lainnya di sekitar Waleh memang penuh dengan hamparan koral. Tak cukup puas rasanya menjelajahi secuil keindahan bumi Fagogoru ini. Next visit, saya akan bawa snorkel set lengkap!

 

 

DETAIL Halmahera Tengah

Rute :

Menuju desa Sagea dapat ditempuh dengan mengambil penerbangan dari Jakarta ke Ternate, direct atau transit di Makassar dan atau Manado (1,7 juta one way). Dari Ternate, perjalanan dilanjutkan dengan menyebrang setengah jam ke Sofifi (speedboat, 30 ribu perorang). Kota Weda ditempuh selama dua jam perjalanan darat menggunakan Kijang atau Panther sebagai kendaraan umum (300 ribu). Desa Sagea dapat ditempuh dengan kendaraan sewa atau ojek (mulai dari 200 ribu, nego) dalam waktu dua jam perjalanan. Desa Sepo lebih ke timur lagi sejauh satu jam perjalanan. Boki Moruru terletak dua jam dengan ketinting (sewa 500 ribu pp, kapasitas 6 orang). Pulau Pasi, Pulau Tete hingga Waleh dapat dijangkau dengan ketinting satu hingga dua jam perjalanan laut (harga nego).

Penginapan :

Penginapan yang layak hanya ada di kota Weda, seperti Hotel Tiara Halmahera (Jalan Kompleks Perumahan) dan beberapa penginapan tipe melati di sekitar pelabuhan. Jika ingin serius berwisata diving, dapat mencoba Weda Resort (wedaresort.com).

Di Sagea, terlebih Sepo dan sekitarnya tidak ada penginapan. Namun, para penduduk dan kepala desa pasti bersedia menampung para tamu dengan imbalan sekedarnya.

Tempat Makan :

Tidak ada tempat makan khusus di daaerah ini selain warung-warung biasa. Namun tentu saja, kita dapat memesan kelapa muda dan sajian ikan bakar yang lezat dari penduduk sekitar. Jika beruntung, kita bisa mendapatkan kepiting kenari atau kepiting rawa berukuran besar.

Tempat Belanja :

Tidak ada toko cendera mata khusus, namun jika mau, kita dapat membawa oleh-oleh masakan kepiting. Ternate adalah kota yang paling tepat untuk berburu oleh-oleh mulai dari roti kering, batu permata giok Bacan hingga perhiasan besi putih dari Tobelo.

Aktivitas :

Susur gua Boki Moruru adalah aktivitas recommended. Snorkeling dan jungle trekking adalah bonus tambahan yang tak kalah asyiknya. Jika bersertifikat diving, Teluk Weda dalah tempat yang sempurna. Tempat ini sejatinya benar-benar cocok bagi yang ingin menyendiri dan lepas dari hiruk-pikuk kota.

 

2 Responses to “Axis of Fagogoru, Halmahera Tengah”

  1. Makasih mas heru ya. minta no HP mas heru kalau boleh karena nomor mas kemaren tuh kehapus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: