Menyusuri Pesona Pasir Putih Tanjung Bira

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Januari 2014)

Kaki telanjang saya OLYMPUS DIGITAL CAMERAmelangkah perlahan, menapak di basahnya pasir putih nan memanjang. Sesekali, hempasan lembut ombak menampar mata kaki. Matahari mulai bangun dari peraduannya, sinar kuningnya menerangi langit di ufuk timur. Deretan rumah kayu bergaya tradisional di sisi kiri dibentengi jejeran nyiur melambai, saya seolah terlempar ke masa ratusan tahun silam. Nyaris tak tampak manusia lain, pantai ini serasa milik saya pribadi. Tak puas bertandang satu kali, kesempatan ini adalah kali kedua saya merasakan hangatnya pasir pantainya.

Bira adalah tanjung yang membagi dua pantai, barat dan timur, dan maOLYMPUS DIGITAL CAMERAsing-masing menawarkan pesona yang berbeda namun melengkapi. Konsentrasi pengunjung tertumpuk di sebelah barat, saya memilih untuk menikmati ‘perawannya’ sisi timur. Tak banyak yang tahu, bahwa pantai Bira timur sangat menarik. Selain lebih sepi, seperti halnya khas daerah Bulukumba OLYMPUS DIGITAL CAMERAdan Tana Beru, kita bisa menemukan beberapa perahu phinisi yang sedang dibangun. Tak hanya satu atau dua, kita juga bisa melihat belasan perahu serupa yang sedang diperbaiki. Persis di sebelah dermaga penyeberangan ferry Bira-Pamatata di Selayar, sebuah teluk tenang memang dikhususkan untuk menjadi ‘bengkel’ perahu kayu besar nan tangguh ini.

Walau terbuat dari kayu ulin ataupun jati terbaik, perahu phinisi sudah OLYMPUS DIGITAL CAMERAkondang mengarungi se-antero dunia. Pak Barru, seorang nelayan yang baru tiba dari melaut pagi itu berkata : “Kami membuat perahu ini turun-temurun, dan syarat utama dalam pembuatannya adalah tidak boleh bertengkar sesama pekerja”. Memang, pembuatan satu buah phinisi yang memakan waktu hingga satu tahun ini syarat dengan nilai-nilai ritual. Panrita Lopi, sebutan untuk pawang perahu, mengawal ritual pembuatan perahu dengan taat. Tidak ada buku panduan, gambar teknis ataupun hitungan eksak dalam pembuatan phinisi. Semua langkah kerja dan desain sudah ada di luar kepala, terasah oleh pengalaman turun-temurun ratusan tahun. Pertengkaran para pekerjanya dalam proses pembuatan sangat pantang terjadi karena dapat menghasilkan perahu yang cacat melaut. Dikerjakan dengan material terbaik dan para pekerja yang trampil, satu perahu phinisi ukuran sedang dapat mencapai harga 2 hingga 3 milyar rupiah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAMatahari mulai jauh dari ufuk, saya pun meninggalkan pantai timur dan melangkah ke barat. Pasir putih menghampar hingga 3 kilometer ke utara dan di sisinya dibentengi oleh tebing-tebing karang yang indah. Penasaran dengan kelembutan pasirnya, segenggam tangan saya raup. Dan benar, karena ukuran butirnya yang halus, pasir pun serta-merta jatuh berhamburan meluncur dari sela-sela jemari. Konon, tekstur pasir seperti ini lah yang menjadi kegemaran penyu untuk bertelur. Pantai barat ini landai dan berair jernih serta menghadap ke pulau Lihukan. Karena panjangnya pantai ini, kita dapat berjalan jauh ke utara menyusuri sisinya dan menikmati pemandangan yang apik di sepanjangnya.

Bira barat adalah pusat keramaian, orang banyak beraktivitas. Mulai dari para nelayan yang melaut, penduduk yang berbelanja, juga para wisatawan yang asyik menikmati pesona pantainya. Penginapan banyak tersebar di sini, tinggal sesuaikan selera saja. Beberapa kali tampak perahu bermotor berlayar hilir-mudik ke Lihukan. Sebagian membawa wisatawan, sebagian memang kapal reguler yang membawa penOLYMPUS DIGITAL CAMERAduduk datang dan pergi. Penasaran, saya pun mendekat dan mengorek informasi. Nego punya nego, saya ambil paket snorkeling dengan speedboat fiber terbuka, lengkap berikut life vest tentu.

Lihukan adalah sejatinya pulau yang berkontur karang. Pasirnya tak kalah putih dari Bira, dan keindahan panorama bawah lautnya menjadi bonus yang luar biasa. Setelah mengarungi ombak kurang dari sayu jam, tanpa basa-basi saya pun langsung terjun ke air. Badan saya langsung disapa ombak lembut bersuhu hangat. Di bawah muka airnya, ribuan hard dan soft coral terhampar di dasar. Samar-samar di selanya terdapat banyak ikan kecil berwarna-warni berenang-renang meliuk-meliuk menerobos arus bawah air. Hamburan gelembung udara berukuran mini tersebar dimana-mana, lepas dari karang dan naik perlahan OLYMPUS DIGITAL CAMERAke atas. Berkas matahari masuk ke dalam air, menembus memancarkan sinarnya yang indah. Kalap dengan keindahannya, dua tempat utama lokasi snorkeling terbaik pun saya sambangi.

Puas, dan lelah tentu saja. Atas rekomendasi motorist perahu, kami tidak langsung kembali ke Bira tetapi melipir ke sebuah restoran terapung. Tentu saja, namanya daerah pesisir, hidangan ikan bakar adalah menu utama yang wajib dicoba. Sambil menunggu, kami menikmati hiburan yang membuat restoran terapung ini unik. Tepat di sebelah tampat makan, di bawah, terdapat kolam berukuran sedang. Berisi air laut, di dalamnya sengaja dipelihara sejumlah penyu dan beragam ikan laut berwarna-warni. Tak ketinggalan pula berpuluh udang galah, namun siang terik itu mereka lebih suka mengademkan diri di sela-sela tembok bebatuan karang. Tinggal cuatan sungutnya saja yang tampak dari luar, meliuk-liuk ke sana-kemari. Beberapa penyu yang memang ditangkarkan berenang lambat di alam kolam. Ukurannya cukup besar, setara seorang anakOLYMPUS DIGITAL CAMERA SD. Tentu saja, kita bisa ikut berenang mendampingi sang penyu. Memberi makan sayuran yang disediakan pun dapat dilakukan. Penyu-penyu tersebut sangat penurut. Asyik berenang, saya nyaris tak mendengar panggilan pelayan. Makanan sudah siap terhidang, saya pun naik ke atas. Ikan kuwe bakar dengan lalap tomat, siraman kecap irisan cabe dan nasi hangat sepertinya kombinasi yang pas untuk disantap di siang bolong. Wah, Bira memang istimewa!

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: