Bumi Anggrek Terlekangkan Waktu

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Mei 2014)

 

Baling-baling pesawat tipe ATR semakin meraung keras dan perut saya sedikit terkocok ketika roda-rodanya menyentuh landasan. Tak begitu buruk rasanya Teluk Pomalaa dan penambangan nikelsebenarnya, bahkan sebenarnya saya lebih menyukai sensasi naik pesawat baling-baling daripada pesawat bermesin jet. “Selamat datang di Sangia Nibandera”, sebuah bandara kecil di Kabupatan Kolaka dimana semuanya dilakukan serba manual. Tak ada ban berjalan di sini, alat x-ray nya pun belum berfungsi sementara ruang tunggu yang tersedia sangat sederhana namun dalam setiap penerbangan, bandara ini penuh sesak dengan hiruk-pikuk orang. Tak pelak lagi, bandara kecil ini adalah salah satu pembuluh nadi terpenting transportasi masyarakat Kolaka.

Kabupaten seluas hampir 7 ribu meter persegi dengan penduduk hanya 315.000 jiwa ini terletak di pesisir barat daya Sulawesi Tenggara. Kabupaten Kolaka hanya memiliki dua kota yang menjadi ikon terkenal, masing-masing adalah kota Kolaka sebagai pusat pemerintahan dan kota Pomalaa sebagai pusat perekonomian. Sangia Nibandera terletak kurang-lebih empat puluh menit perjalanan darat dari kota Pomalaa, dan menjadikan kota kecil ini sebagai persinggahan pertama saya. Konon, nama Sangia Nibandera sendiri adalah nama bendera berwarna merah dan putih, yang telah digunakan prajurit Kolaka sebagai simbol perang jauh sebelum proklamasi kemerdekaan negara kita, mengagumkan!

Jalanan aspal rusak bercampur tanah yang melontarkan debu tebal di saat musim kering, topografi perbukitan gersang di timur pesisir, lalu-lintas yang cukup kampung-pesisir-watubangga.jpgramai serta penduduknya yang datang dari berbagai daerah membuat kota ini dijuluki sebagai kota koboi. Magnet satu-satunya yang membuat masyarakat terhipnotis mendatangi kota ini adalah pertambangan nikel laterit. Dipelopori oleh berdirinya tambang dan pabrik pengolahan nikel milik salah satu perusahaan BUMN di tahun 80-an, Pomalaa selanjutnya berkembang seiring hadirnya ratusan perusahaan semenjak terjadinya mineral booming di dunia awal tahun 2000-an. Tak heran saat saya lewat, Teluk Kolaka sedang dipenuhi oleh tak kurang dari 6 buah Mother Vessel berukuran draft 50.000 ton yang sedang memuat bijih nikel mentah untuk diekspor ke luar negri, Cina umumnya.

Pantai Harapan, adalah tempat wisata yang membuat saya penasaran. Terletak di pesisir teluk, pantai menjadi sangat unik karena material pembangunnya. Disusun dari timbunan slag, pantai ini memanjang hingga 150 meter ke barat dan menjadi salah satu tempat hiburan utama di kota Pomalaa. Di bagian ujungnya, terdapat berbagai fasilitas umum serta laut yang dibendung dan dapat digunakan sebagai kolam renang yang aman. Kanan-kiri jalur pantai ini dibentengi dengan jutaan pohon bakau yang ditanam sebagai komitmen perusahaan terhadap lingkungan. Slag sendiri adalah material logam sisa pemurnian nikel, dengan kandungan utamanya berupa besi, slag aslinya berwarna abu-abu berukuran kerikil butir-butir-slag-sisa-proses-pemurnian-nikel.jpghingga bongkah dan menjadi umum digunakan sebagai  material penimbun. Bahkan, banyak daerah pesisir Pomalaa yang dahulunya adalah laut, ditimbun dengan slag dan dibangun perumahan menyulap wajah dari daerah muka air menjadi perkampungan yang ramai penduduknya. Modernisasi, sepertinya tak menjanjikan harapan bagi semau orang. Suku Bajo salah satunya, menyingkir lebih ke selatan untuk menghindari hiruk-pikuknya perkampungan yang semakin tumbuh ini. Mereka pun menyebar menghuni pesisir yang masih alami di berbagai daerah semisal desa Hakatutobu dan desa Tangketada di mana mereka masih dapat mencari ikan dengan leluasa dan mengembangkan budi daya rumput laut pada hamparan laut jernih di hadapan pesisir.

Jika Pomalaa adalah pusat kegiatan perekonomian utama, maka Kolaka adalah pusat pemerintahannya. Berjarak bakau-yang-ditanam-sepanjang-pesisir-pomalaa.jpgkurang-lebih satu jam perjalanan ke utara, Kolaka adalah kota pusat penghasil coklat dan hasil bumi yang cukup tertata dengan rapi dan bersih, tak heran jika kota ini pun dianugerahi Adipura beberapa kali. Selain jalan poros utama, menuju Kolaka dapat ditempuh melalui jalan bypass. Jalur ini menjadi favorit saya walau pun kondisinya masih berupa jalan tanah berlubang. Selain karena memanjang menyisiri pantai, jalan bypass ini menyajikan pemandangan yang luar biasa. Di sisi barat, terhampar laut biru Teluk Kolaka dengan Pulau Padamarang sementara di sisi seberangnya lautan tambak air asin membujur dengan latar belakang hijaunya perbukitan yang elok. Rumah-rumah kayu mencuat di sana-sini seolah-olah menyembul di atas kilaunya permukaan air tambak-tambak yang melampar sejauh mata memandang.

jus-tulang-di-pesisir-kolaka.jpgDi pesisir pantai kota Kolaka, alias Pantai (Tugu) Coklat, banyak jejeran lapak makanan digelar sedari sore hari. Favorit saya di kota ini adalah jus tulang. Ya, wujud makanan ini betul-betul seunik namanya. Jus tulang adalah potongan paha dari sapi yang berukuran raksasa, disajikan dengan kuahnya yang gurih menghangatkan. Seni memakannya cuman ada dua tapi sangat-sangat mengasyikkan. Pisau kecil disediakan agar kita dapat memotong sisa daging yang menempel di tulang, mencelupkannya di kuah dan menikmatinya ala konro.  Yang terakhir adalah, mengaduk-aduk daging sumsum yang ada di rongga tulang dan menyeruputnya dengan sedotan selagi panas, nikmat sekali! Suasana di sini pun sepertinya cocok buat muda-mudi, angin laut yang segar dan kerlip lampu kota, membuat malam seolah cepat berlalu. Tampak pula kendaraan hilir-mudik memasuki pelabuhan Kolaka, menaiki ferry yang sedianya akan membawa menyeberang Teluk Bone menuju Bajoe, kota pelabuhan kecil di Sulawesi Selatan.

Sebagai bekas pusat kerajaan di zaman dahulu, Mekongga, demikian namanya, tak menyisakan lagi banyak putri-putri-cantik-dalam-balutan-pakaian-khas-suku-tolaki.jpgpeninggalan. Masih ada memang sebentuk bangunan kompleks pemakaman dan beberapa benda pusaka kerajaan yang disimpan di sebuah rumah seorang keturunan raja, namun wujud fisik sesungguhnya dari kerajaan Mekongga seperti keraton, pelabuhan, mesjid dan lain-lainnya telah tiada. Kolaka memiliki motto ‘Wonua Sorume’ yang berarti bumi anggrek, sepertinya semenjak jaman kerajaan dahulu anggrek sudah menjadi bagian dari budaya di sini. Namun, sepertinya pesona anggrek di Kolaka sudah memudar. Senasib dengan anggreknya, Keramik Mekongga yang dahulu terkenal sebagai kerajinan masyarakat, saat ini sudah jarang ditemukan. Pembuatan guci dari tanah liat ini sepertinya hanya dilakukan untuk meneruskan tradisi nenek-moyang dahulu. Masyakarat asli Kolaka adalah Suku Tolaki, yang dikenal karena kulitnya yang putih dan parasnya yang cantik. Mirip sekali dengan ciri-ciri fisik suku asli Moronene di pesisir selatan dan Pulau Kabaena ,yang konon nenek moyangnya berasal dari Asia Timur. Di sini, suku Tolaki Sulawesi Tenggara dibedakan dengan panggilan sesuai wilayah geografisnya. Tolaki Mekongga di pesisir barat, dilantunkan mulut untuk membedakan mereka dengan suku Tolaki Kendari yang menghuni pesisir timur. Memiliki rupa fisik yang sama, budaya yang mirip, mereka sepertinya enggan disamakan walau pun memiliki pengikat adat ‘Kalo’ yang sama. Baju adat Tolaki, adalah salah satu dari sekian baju adat di nusantara yang saya kagumi karena memiliki warna dan aksesori yang memukau mata.

sungai-terpendek-di-dunia-tamburasi.jpgJargon ‘sungai terpendek di dunia’ tak pelak lagi membuat saya penasaran juga sehingga rela menempuh perjalanan dua jam setengah ke arah utara. Tamboraasi atau Tamburasi dalam pelafalan biasa, adalah salah satu tempat wisata di Kolaka yang sangat terkenal. Saya pun tiba di sore hari, di kala pengunjung mulai sepi dan mentari sudah condong ke barat. Memang cukup mengagetkan juga melihat sebuah sungai yang hanya memiliki panjang sekitar 20 m saja dan langsung bermuara ke laut. Terpendek? Saya kira tidak karena sebenarnya sumber air berasal dari sungai bawah tanah yang keluar dari tebing batukapur. Dengan suhu sekitar 150 Celcius, dinginnya air sungai ini sangat kontras dengan hangatnya air laut dari pantai Tamboraasi di sebelahnya. Bagi yang tidak tahan dingin, dapat menceburkan diri ke pesisir sebelah baratnya dan menikmati hangatnya air laut. Beberapa orang bercerita bahwa di saat-saat tertentu sungai ini menjadi lebih pendek. Saya pun dapat menerima informasi itu karena memang sand barrier yang membelokkan arah sungai hingga menyamping ini sebenarnya tidaklah permanen. Di saat angin tidak kencang bertiup dari arah barat, maka arus sungai akan lebih leluasa menembus langsung lurus ke arah laut tanpa dibelokkan oleh ombak laut, dan saat itulah jarak terpendek didapat.

Sudah hampir waktunya saya meninggalkan Kolaka, namun di saat injury time, saya masih menyempatkan diri mengendarai sepeda motor kembali ke arah kelelawar-watubangga.jpgselatan. Pomalaa saya lewati, bandara pun saya lalui, hanya untuk mengejar keunikan lain dari kabupaten ini. Watubangga, adalah nama desa nelayan yang memiliki warisan unik berupa kelelawar raksasa. Ya, ratusan kelelawar setiap siang harinya selalu beristirahat di pucuk pepohonan pantai di sini. Tampak tenang dan sesekali bergerak, kelelawar ini saya perkirakan memiliki bentang sayap sekitar 70 cm. Pantai Watubangga ini sebenarnya apik, hanya tidak begitu banyak pengunjungnya. Mungkin karena bau prengus alias bau apek seperti kambing yang semerbak dimana-mana akibat hadirnya kelelawar ini. Kehadiran kelelawar raksasa ini juga terdapat di kota Watang Soppeng, Sulawesi Selatan. Bahkan mereka hadir di tengah kota dan membaur dengan kehidupan masyarakat. Bahkan mereka menganggap kelelawar ini sebagai penjaga kota, tak pelak lagi kota ini pun lebih dikenal sebagai kota Kalong.

Puas menghabiskan waktu-waktu terakhir saya, sepeda motor bebek pun saya pacu perlahan kembali ke arah Pomalaa. Di saat melintasi gerbang  pelabuhan salah satu perusahaan tambang di sana, jalanan pun berubah sementara menjadi tanah licin. Melintas perlahan, tiba-tiba seorang bapak di seberang jalan berteriak memanggil : “Ojeeeek…!” Tak pelak saya pun jadi senyum-seyum sendiri, mungkin tampilan saya yang kebetulan menggunakan helm tipe open face dan pakaian lapangan menjadikan mirip dengan tukang ojek lokal. Tak apalah, kejadian menggelikan ini pun membuat saya masih saja tersenyum-senyum sendiri saat duduk di kabin pesawat dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta esok harinya. Masih tersisa beberapa tempat menarik di Kolaka yang belum saya kunjungi, Gunung Mekongga dan beberapa air terjun serta mata air panas di kakinya cukup menantang kiranya. Jika saya punya kesempatan kembali ke Kolaka, tempat tersebut adalah tujuan saya berikutnya. Mungkin saja saya akan bertemu dengan tumbuhan anggrek yang dahulu melegenda itu.

 

 

When to Go :

Waktu terbaik mengunjungi Kolaka adalah di musim kering bulan April hingga September saat laut tenang dan cuaca kering. Saat-saat ini, perjalanan menyeberangi Teluk Kolaka akan menyenangkan, demikian pula jalanan tanah tidak akan licin di saat harus menyusuri pesisir kaki perbukitan di Kolaka.

Seringkali di waktu-waktu tersebut, hajatan diadakan penduduk dan dapat dipastikan akan ada pesta tarian Lulo. Tarian ini dilakukan secara massal mengikuti alunan musik dan menggambarkan pergaulan muda-mudi setempat yang dinamis. Siapa pun bisa bergabung untuk ikut menari, asal kan mempelajari dahulu gerakan kaki dan tangan peserta, jika tidak mau terinjak.

How to get There :

Satu-satunya maskapai yang melayani jalur ke Kolaka adalah Wings Air dari Makassar. Penerbangan cukup padat, dua kali setiap hari dan tiga kali sehari selama dua hari dalam seminggunya. Rata-rata harga tiket 500 ribu rupiah one way dengan pesawat baling-baling turboprop selama 45 menit perjalanan.

Alternatif lain adalah menggunakan penerbangan dari berbagai maskapai menuju Kendari, lalu mengambil jalan darat selama empat jam berkelok-kelok menembus perbukitan Sulawesi Tenggara.

Where to Stay :

Hotel Wisata Mekongga, adalah hotel unik di Kolaka. Terletak di Pantai Mandra, hotel ini berbentuk miniatur rumah adat di Kolaka. Terdapat sepuluh bangunan yang dapat digunakan untuk umum dengan harga mulai dari 300 ribu rupiah.

 

Tak seperti Kolaka, hotel di Pomalaa tidak begitu banyak. Namun salah satu yang terbaik adalah Hotel Triputra (0405-2310860), Dawi-Dawi, mulai dari 250 ribu rupiah. Di sini kita dapat merasakan suasana keramahan rumah tangga yang tidak seperti suasana hotel kebanyakan, dan nilai tambah ini lah yang ditonjolkan si pemilik sehingga hotel ini nyaris selalu penuh setiap harinya.

 

 

 

 

 

 

 

2 Responses to “Bumi Anggrek Terlekangkan Waktu”

  1. Menarik!
    Saya menetap di pomalaa tapi sepertinya pak heru lebih tau detail kolaka n skitarnya. saya juga sudah mengunjungi beberapa tempat yang pak heru ceritakan, tapi hanya sbg turis tanpa tau history nya.. bagus skali fotonya pak. bisa dapat spot yg menarik. mudah2n cita2nya memgelilingi nusantara tercapai

    • Terima kasih..saya bbrp kali pomalaa dan kolaka memang di waktu luang saya sempatkan main dan mencari tahu sejarahnya..tidak usah berkecil hati, biasanya memang kita lebih ngeh dengan daerah lain ketimbang tempat tinggal sendiri, saya juga begitu kok hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: