The Spicy Banda

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Juli 2014)

Merapat di pelabuhan NeiraBanda, dahulu terkenal dengan sebutan Pulau Rempah. Gaungnya pun mampu menggoyahkan bangsa Eropa hingga rela berlayar beribu-ribu mil mengarungi samudera luas. Semuanya itu hanya untuk sekedar mendapatkan ‘bumbu penyedap rasa’ terhidang di meja makan. Konon, karena rempah Banda ini lah Columbus tersasar dan menemukan Benua Amerika. Kepulauan Banda dari jendela pesawatBanda semasa 700 tahun lalu masih menganut animisme dan dinamisme sebelum Islam datang. Jalur perdagangan saat itu sudah berjalan baik dengan suku Jawa, Bugis, Cina dan Melayu. Portugis pun datang memberi ‘nuansa baru’ dalam berdagang. Terlebih lagi, Belanda dan Inggris pun ikut berebutan menuntut hak monopoli dagang. Penjual makanan khas Banda di pelabuhan PELNIPara Orang Kaya (pemuka) Banda menganggap angin lalu tawaran itu. Kemudian, kedatangan Belanda beberapa tahun selanjutnya membawa konflik dan Inggris pun hengkang dari Pulau Run dan Ay. Banda dalam kekacauan hebat. Efeknya, harga pala di Eropa menjulang ke langit setara dengan harga bulir emas.

 

Banda memang menarik dan indah, dimana lagi di nusantara kita bisa menyaksikan bangunan tua bersejarah eks Belanda, panorama kepulauan yang demikian indahnya, julangan gunung api yang Pelabuhan rakyatmembara, jejeran perkebunan pala yang menghijau, pengalaman bawah laut yang sangat mempesona serta sejarah pergerakan nasional untuk kemerdekaan Indonesia. Semuanya itu berawal dan hanya terdapat di Banda, the Spices Islands. Lonely Planet pun menggambarkan Banda dengan : “Were they more accessible, the Banda’s might be the one of the world’ s top tourist spot. Yet for now you’ll have these wonderful islands almost entirely for yourself. Hurry – this can’t last!

 

Gereja Tua NeiraMatahari baru sejengkal di atas ufuk ketika kapal PELNI membawa saya merapat muara Banda. Pagi hari itu, pelabuhan sudah ramai hiruk-pikuk. Pasar yang hanya ada saat kapal datang dan berlangsung beberapa jam saja. Saya pun membeli manisan pala dan sebungkus kecil halua kenari/kenari manis. Semua snack khas dari Banda sepertinya ada di sini karena mata saya menyapu juga kehadiran kacang botol (kacang tanah yang di simpan dalam bekas botol kecap atau sambal), selai kenari, pala, dan berbagai makanan ringan lainnya.

 

“Teeeeeett…!!”, suara keras klakson motor mengagetkan saya. Interior Delfika yang apikAh, seandainya tidak ada sepeda motor dan mobil di Neira, pasti kita serasa dilemparkan ke masa 400 tahun silam. Tepat di depan penginapan saya terdapat rumah Sjahrir, dan selanjutnya rumah Captain Cole dari Inggris yang pernah menaklukkan Neira di awal 1800-an, semuanya bergaya kuno. Di pertigaan, terdapat tugu rakyat Banda dalam Istana mini bekas kantor VOCmenyambut kemerdekaan Republik Indonesia Syarikat (RIS). Di seberangnya terdapat Kantor Camat Banda dan Gereja Tua yang mungkin adalah satu-satunya gereja saat ini di Banda. Tampak seekor ayam-ayaman bertengger di puncak, ditambah dengan panah penunjuk mata angin menjadikan lonceng gereja ini sangat unik. Di sekitar pasar terdapat pula Pintu dalam benteng Nassauberbagai bangunan tua bersejarah seperti Kelenteng Tua dan rumah Kapten Tan Koa yang sedang direnovasi. Sekilas saya melewati kantor pos Neira dan monumen Parigi Rante (sumur dengan dikelilingi rantai) tempat pembantaian masyarakat Banda dahulu. Rumah pengasingan Hatta (1939 – 1942) pun menarik langkah kaki saya. Terbuka namun tak berpenjaga, saya pun mengisi buku tamu dan memberi donasi selayaknya di kotak yang tersedia. Rasa nasionalisme saya pun terbakar ketika melihat banyak sekali koleksi milik Bung Hatta yang masih tersimpan dengan baik. Mendorong Kora-KoraMulai dari jas, kaca mata, kopiah, alat makan, surat dari sang istri Rahmi Hatta dan yang paling menggugah adalah sebuah mesin ketik tua yang terletak di atas meja. Dari rumah inilah, Hatta bersama-sama Sjahrir, Cipto, Iwa dan beberapa pemuka bangsa yang diasingkan menggodok dan merancang format kebangsaan sebagai Indonesia yang satu. Lahirlah kemerdekaan yang kita nikmati hingga saat ini.

 

Esoknya, saya telah berada di dalam pok-pok Pak Dalam pokpok menuju LonthoirAyub menuju Desa Lonthoir di Pulau Banda Besar. Perahu melalui perairan jernih kehijauan dengan hard coral membayang-bayang di dasar. Ombak cukup tenang. Tiba di desa, saya tersengal-sengal mendaki ratusan anak tangga menuju Parigi Pusaka. Konon, sumur ini dalam waktu tertentu, misal setiap 8 atau 10 tahun sekali harus dibersihkan oleh para tetua. Mesjid besar LonthoirSerangkaian upacara melibatkan sepotong ‘kain sakti’ yang memiliki panjang 99 meter. Kain sepanjang tersebut, hanya dan cukup dimuat di dalam sebuah toples kaca saja. Saat ritual mencapai puncak, kain tersebut diturunkan ke sumur dan seketika air sumur pun mengering! Saat itu di sekitar sumur sangat sepi, saya hanya mengambil gambar secukupnya dan balik kanan terus melalui jalanan yang sama untuk menuju Benteng Hollandia.

 

Benteng ini terletak di ketinggian tebing dan langsung menghadap Gunung Api. Dahulu posisi kapal berlabuh adalah di perairan antara Neira dan Banda Besar, bukan antara Neira dan Gunung Api seperti sekarang. OlehPemandangan Gunung Api dari Hollandia karena itu, sebagian besar benteng dibangun menghadap pelabuhan lama seperti Nassau, Belgica dan Hollandia. Tak begitu banyak yang tersisa di Hollandia, selain pemandangan apiknya. Dari ketinggian, kita bisa menyaksikan hamparan laut Banda Besar dengan latar belakang Gunung Api dan dibingkai oleh dedaunan pohon rindang. Seperti halnya Gunung Gamalama di Ternate, Gunung Api Banda menjadi ikon di sini. Serasa tak lengkap rasanya berfoto tanpa menempatkan gunung aktif ini sebagai latar belakangnya.

 

Anak-anak BandaManyun karena terjebak ombak besar di Neira, esoknya saya hanya berjalan ke Benteng Belgica yang dibangun awal 1600. Belgica dibangun untuk mem-back up posisi Benteng Nassau yang lebih rendah dan lemah. Ditemani juru kunci sekaligus fotografer dadakan saya, Pak Hamim menunjukkan beberapa ruangan dan menara pengamatan di atas. Atas Benteng BelgicaBenteng ini berbentuk unik, segi lima dengan menara di tiap sisinya. Dari bawah, selalu yang terlihat hanya dua buah menara dan benteng yang hanya bersisi empat. Material pembangunan benteng ini didatangkan dari luar Banda. Secara fisik, basaltic lava scoria dari Gunung Api tidak cukup kuat untuk dijadikan material benteng. Di dalamnya terdapat beberapa ruang meeting, penjara laki-laki dan wanita serta beberapa ruang kosong yang saya tidak tahu fungsinya. Di tengah-tengah, terdapat dua buah lubang persegi sebagai gua bawah tanah, satu menuju Nassau dan satu menuju laut. Namun lubang tersebut sudah tidak pernah dipergunakan dan tidak ada satu pun yang berani mengecek keberadaannya. Waktu 400 tahun telah berlalu, cukup membuat bergidik siapa pun jika harus memasuki lorong sempit itu.

 

Pesawat saya tertunda satu hari karena cuaca buruk. Namun Tuhan memang Maha Adil. Saya jadi berkesempatan menyaksikan acara Buka Kampong pengukuhan Tetua Adat. Tifa pun ditabuh sebagai penanda panggilan buat warga. Tetua wanita dalam balutan baju putih dan kain merah keluar dan berbaris sejauh 50 meter. Tiba-tiba, lima orang Para penari Cakalele siap beraksiprajurit dalam balutan baju perang warna-warni keluar menyembah, menyambut dan mengawal tetua tadi. Hulubalang Tengah, Hulubalang Kiri dan Kanan serta Kapitan Kiri dan Kanan, lima orang terkuat dari desa yang dipilih sebagai panglima perang. Merah, kuning, hijau, adalah warna dominan pakaian dan aksesori mereka. Dua orang Kapitan tampil lebih Hulubalang Tengah, dengan jari terikat cincin Lensounik dengan helm logam layaknya prajurit VOC dan tombak di tangan. Cara membawa tombaknya pun berbeda, yaitu bagian yang tajam dilekatkan di perut sementara gagangnya menjulur ke depan. Semua senjata tajam yang digunakan, adalah asli dan sudah berumur ratusan tahun sebagai pusaka desa. Mereka pun menari-menari, dan tampak sekali Hulubalang Tengah yang difavoritkan karena walau tubuhnya paling kecil, namun gerakannya paling lincah. Semakin cepat gerakannya, semakin semangat masyarakat berteriak melengking : “Ay ya ya ya ya ya yoo…!!”. Seperti halnya tarian Indonesia timur lainnya, Cakalele dibawakan dalam gerakan yang sangat dinamis. Jangan sekali-kali menganggap remeh karena tarian dibawakan dengan satu kaki dan pastinya sangat menguras stamina pemainnya.

 

Malamnya, acara dilanjutkan dengan Tutop Kampong, dengan rangkaian acara yang mirip dengan sore harinya. Yang membedakan, tarian mereka dilakukan satu-persatu dan Tarian penutupan prajurit Cakalelemengelilingi lima batang bambu yang ditancapkan di halaman. Bambu ini melambangkan saat pembantaian Orang Kaya di Nassau, kepala mereka digantung di ujung bambu dengan isi perut melingkari batangnya Sunset di depan Istana Minipenuh dengan lumuran darah. Cakalele di Banda, diklaim sebagai Cakalele paling asli di Maluku karena penuh syarat ritual dan sendi Islam yang diserap, misalnya doa bersama, lima batang bambu dan lima pendekar Cakalele sebagai perwujudan 5 rukun Islam, penggunaan mesjid sebagai tempat pengukuhan. Di Lonthoir, filosofinya serupa namun penari Cakalele-nya sejumlah 7 orang.

 

Irama tifa yang dari tadi terdengar kencang, Terong saus kenari berubah melambat dan bunyi gong pun menggema. Saatnya balenso, mereka pun menari dengan gerakan gemulai dalam lingkaran besar bersama-samsa tetua wanita. Lenso usai, semua prajurit kembali menari satu-persatu. Di antara beberapa gerakan, mereka berjongkok dan menggoreskan senjata pada batang bambu. Nafas masih tersengal-sengal namun mereka kembali bergabung untuk acara pamungkas. Semua lima batang bambu tersebut lalu dicabut dan disilangkan di hadapan mereka. Semua janur di pagar luar digoyang dan dicabut oleh masyarakat. Acara pun selesai, dan masyarakat pun puas karena seorang tetua adat telah ditetapkan untuk lima tahun ke depan. Kenangan akan keindahan Banda terus membayang sepanjang perjalanan saya di pesawat udara. Suatu saat, saya niatkan kembali ke sini, tentu saja untuk mencicipi keindahan bawah lautnya yang belum sempat saya rasakan.Banda dari puncak Gunung Api

2 Responses to “The Spicy Banda”

  1. Indonesia sungguh kaya akan tempat wisata dan budayanya. Pengen banget bisa mengelilingi Indonesia seperti penulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: