Beta, Ale, Dorang, Kitorang Samua Cinta Ambon

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag Agustus 2014)

Peluit kapal berbunyi dengan nyaringnya sebanyak tiga kali dan KM Nggapulu yang saya tumpangi sedari Baubau pun merapat di pelabuhan Yos Sudarso. Mentari masih malu-malu sembunyi di ufuk timur, ketika saya sudah melangkahkan kaki menembus perkotaan Ambon yang mulai menggeliat, melewati Mesjid al Fatah yang berbentuk unik itu. Lima belas menit saya berjalan, dan hanya berpapasan dengan tiga buah angkot, lengkap dengan dentuman house music yang menggelegar tentunya.

 

“Museum Siwalima, berapakah?”, tanya saya pada seorang tukang ojek sambil meletakkan mangkuk kosong bekas mi rebus sarapan saya pagi itu. Dua menit kemudian, saya sudah meluncur melewati hiruk-pikuk macetnya kota Ambon di pagi hari. Angkot, becak, sepeda motor, dan anak sekolahan bercampur-baur menjadikan suatu nuansa baru yang berbeda. Saya pun menyusuri sisi selatan Teluk Ambon di atas sepeda motor, dibuai oleh hembusan angin pagi beraroma garam dari laut yang menyegarkan di wajah. Semua karyawan museum masih apel pagi sehingga saya memutuskan untuk beristirahat, duduk dan menyandarkan backpack saya ke kursi taman. Museum ini sungguh apik, terbagi dalam dua bangunan utama, di antara keduanya adalah jalanan menanjak yang dikelilingi taman yang apik. Saking betahnya menunggu, tercampur penat di badan setelah dua hari melakukan perjalanan laut, saya pun terlamun hingga tersadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WITA.

Dengan interior yang cukup gelap, museum Siwalima ini sekilas cukup menyeramkan. Tampak sekali bangunannya sudah berumur, demikian pula deretan display yang digunakan di dalam. Namun namanya museum, bukankah semakin tua malahan semakin menarik? Siwalima sendiri jika diartikan secara harfiah berarti ‘sembilan lima’. Pasca konflik di Ambon, semangat kebersamaan dibangun sehingga penulisan Siwalima digabung sehingga memiliki arti konotasi baru yaitu ‘semua punya’. Jargon ini lah yang selalu didengungkan, merekat kembali semangat kebersamaan dan kerukunan warga kota Ambon.

Peta Maluku lengkap terpampang di muka, jelas sekali bahwa museum ini jauh dibangun sebelum masa provinsi Maluku Utara memisahkan diri. Baru di sinilah saya bisa menyaksikan sajian sejarah dan adat-istiadat Maluku secara lengkap. Dimulai dari pulau Tual, Ambon, Saparua, Buru, Obi bahkan hingga merambah ke Maluku Utara seperti Ternate-Tidore, Halmahera, Morotai dan Jailolo. Legenda mengenai orang pedalaman hutan suku Togutil di Halmahera direkam dengan baik, bahkan sebuah foto lelaki Togutil dipajang di sana. Hingga sekarang, suku yang mengasingkan diri ini hanya dapat ditemui oleh para pekerja dalam hutan seperti surveyor, geologist ataupun forester.   Beruntung sekali saya bisa menyaksikannya di antara puluhan foto suku terasing lainnya. Setelah menjelajah paparan kehidupan tradisional masyarakat, di bangunan bawah saya disuguhi kebudayaan maritim Maluku. Beberapa rangka ikan paus bergigi mengisi tengah ruang, saking besarnya saya pun dapat berjalan-jalan di antaranya. Masih mengantuk dan menyisakan mabuk laut, saya pun segera menyudahi kunjungan dan mencari penginapan di daerah kota.

Matahari mendekati ufuk timur ketika saya meluncur ke utara kota Ambon. Soya Atas, dikenal sebagai kampung adat tertua di Ambon yang terletak di ketinggian, cocok sekali untuk melarikan diri dari panasnya hawa laut di kota. Jalanan yang mendaki membuat motor mengeden, dan sesekali mesti mengoper ke gigi terendah karena berpapasan dengan kendaraan dari atas. Sesampai di desa, saya kecele, tidak ada tempat wisata resmi di sini. Walaupun bertajuk desa wisata, Soya Atas tidak memiliki tempat khusus wisatawan. Sesuatu yang sebenarnya saya suka karena bisa membaur dengan masyarakat tanpa ada dikotomi turis dan penduduk lokal. Mencoba mencari tempat tinggi, saya pun bertanya ke seorang ibu lalu mendaki sebuah bukit kecil. Dari sini, saya dapat meyaksikan sebagian pemandangan kota Ambon. Jauh lebih cantik jika malam hari sepertinya, karena pasti kerlap-kerlip kota akan tampak menghiasi pinggiran teluk dengan indahnya. Jika fisik kuat, sebenarnya saya dapat mencoba naik lebih tinggi menuju puncak Sirimau (950 m dpl), gunung yang diabadikan namanya menjadi Kapal Pelni yang dahulu menjadi langganan saya. Konon, melalui 500 buah anak tangga, kita akan sampai di atas dan pemandangan Ambon akan lebih apik tersaji. Cukup puas menyaksikan kota dari Soya, saya pun turun ke bawah bersamaan dengan beberapa penduduk yang pulang dari ladang mereka.

Mentari sudah condong ke barat ketika saya menyusuri jalan menanjak kembali, menuju ‘Karpan’, alias kependekan dari Karang Panjang. Di sinilah, menurut saran pemuda Ambon, tempat paling cocok untuk menyaksikan indahnya Ambon di sore hari. Selain karena aksesnya gampang, tak ada tempat lain yang bisa menandingi indahnya panorama patung Marta Christina Tiahahu, pahlawan wanita kebanggaan Maluku, berdiri menghadap ke teluk Ambon seolah-olah siap siaga selalu untuk menjaga kota ini. Kerlip lampu kota dan hilir-mudik kapal laut membuat saya pun terpana, sehingga lupa waktu dan tersadar bahwa angkot sudah susah didapat. Akhirnya saya pun terpaksa berjalan kaki turun sejauh 2 km untuk mencapai pinggir kota dan melanjutkan perjalanan ke losmen dengan ojek.

Pagi hari, saya yang penasaran dengan kehidupan masyarakat pinggiran kota segera meluncur ke tempat yang susah bagi lidah saya untuk menyebutnya : Galalapoga. Di sinilah salah satu nadi transportasi masyarakat Ambon. Ratusan kolekole atau sampan kayu berukuran kecil, berseliweran menyeberangkan penduduk yang dari satu sisi utara teluk ke sisi lainnya. Seperti halnya di daerah timur lainnya, kolekole di Ambon dicat dengan warna-warni meriah, membuat mata menjadi segar. Kolekole memang menjadi alternatif penyeberangan dengan cepat dan murah, ketimbang harus menuju ke arah hulu teluk dan menunggu ferry yang berangkat setiap satu hingga dua jam sekali. Selain itu, jalan darat memutar sejauh dua jam sepertinya hanya dilakukan masyarakat yang membawa kendaraan bermotor. Beberapa kali ditawari untuk menyeberang, saya pun akhirnya memilih duduk di pojok gang sambil ngobrol bersama pemuda-pemuda Ambon yang tegap-tegap dan bercakap kocak. Dari mereka lah saya tahu bahwa ratusan kolekole ini di akhir minggu yang tentu saja sepi penumpang, akan berpindah ke Pantai Natsepa mencari rezeki dari para pengunjung membludak. Wah, saya pun terkejut mendengarnya. Bukan apa-apa, jarak Natsepa dari sini masih jauh sekali, apalagi ditempuh dengan cara mengayuh. Tentu para pengemudi kolekole ini tangguh-tangguh ya, sanggup merengkuh jarak sebegitu jauh hanya dengan sepasang lengan dan dayung.

Jernihnya pantai Liang merontokkan penat di pantat setelah duduk diam di jok belakang motor selama dua jam.  Air yang berwarna hijau turqoise terasa hangat di wajah. Taufik dan teman-temannya, tampak berlarian sana-sini sambil bermain air. Sekolah mereka pulang awal sepertinya, dan anak-anak asli Ambon ini pun menghabiskan waktu di Liang. pun Di depan Liang, terhampar pulau Seram yang eksotis. Beberapa kali kapal ferry melintas menuju pelabuhan Waipiri di Seram yang berjarak 40 km jauhnya. Kebetulan memang, pelabuhan ferry ini letaknya bersebelahan persis dengan pantai Liang. Tak mau kalah dengan angkot-angkot di kota, ferry ini pun mendendangkan lagu dangdut dengan kerasnya. Mentari mulai menaik, saya pun kepanasan. Berteduh di jejeran pepohonan yang memagari pantai, saya bercakap-cakap dengan Pak Yusuf. Beliau ini adalah penjaga pantai, sudah cukup uzur dengan wajah yang unik. Salutnya, salah satu putera beliau, putra Maluku, sedang kerja sambil kuliah mengambil doktor di Amerika. Saya, Pak Yusuf dan Taufik cs adalah pengunjung pantai Liang yang hanya ramai di waktu libur.

Masih bertemakan pantai, perjalanan pulang dari Liang saya menyempatkan singgah ke Natsepa. Tak lain tak bukan tentu saja sengaja untuk mencicipi rujak Natsepa yang terkenal itu. Panas matahari tak menggoda saya untuk turun ke laut, melainkan memesan juga sebutir besar kelapa muda. Satu piring rujak menghampiri saya, cukup mengundang liur. Tumpukan buah menggunung, disiram gula merah dan butiran kacang. Seiris mangga pun secepat kilat mampir ke mulut, membuat mata merem-melek saking enaknya. Sebenarnya, kunci lezatnya rujak Natsepa bukanlah di ramuan buahnya, melainkan taburan kacang tanahnya. Buahnya sama saja dengan rujak lain, namun perpaduan rasa antara segarnya buah-buahan, manis kental gula merah dan gurihnya kacang dan pedasnya sambal membuat rujak Natsepa bercita rasa khas.

Sore hari, saya sudah meluncur menyusuri teluk Ambon menuju desa Airlow. Pintu Kota, demikian namanya, adalah sebentuk bukit karang yang bolong di bagian tengahnya karena hantaman ombak. Lubang yang menganga itu seolah-olah menjadi pintu masuk yang menyambut pendatang saat mendekati perairan Ambon. Tidak begitu ramai di sini sepertinya, sehingga saya leluasa jalan berputar mendaki ke atas tebing Pintu Kota. Dari sini, saya bisa puas menyaksikan panorama laut Banda. Katanya sih, perairan sekitar Pintu Kota banyak yang memiliki spot snorkeling yang bagus. Karena mendung, saya tidak bisa melihat jauh, malahan bergidik karena ternyata di sekitar pantai tampak air lautnya berputar menandakan laut yang dangkal dan arus yang kuat. Matahari tertutup awan, dan saya pun tidak mungkin hunting sunset. Apa boleh buat, saya harus mencari sasaran menarik lain di malam harinya.

Pasar Batumerah Mardhika adalah sasaran terakhir saya, gara-gara terpancing oleh saran tukang ojek sih sebenarnya. Pasar yang katanya tak pernah tidur 24 jam, dan lengkap akan segala macam kebutuhan, termasuk kuliner tentunya. Memang betul, pasar ini masih penuh sesak walaupun jam sudah menunjuk pukul 8 malam. Saya pun tidak tertarik masuk ke dalam lorong, namun memilih untuk berjalan menyusuri pinggirannya. Itu pun, masih harus bersaing dengan ratusan sepeda motor yang lalu lalang memenuhi jalan. Kerlip lampu menarik mata saya, otomatis kaki pun berbelok. Pucuk dicinta ulam pun tiba, saya yang memang ingin menyantap sajian ikan malahan jadi bingung. Di sini, berbagai olahan ikan disajikan. Saya pun memilih yang paling enak, ikan fufu (bakar) Cakalang. Tentu saja, sekalian saya beli juga teman lauk berupa tiga buah suami. Jangan salah kira, suami ini adalah makanan olahan dari singkong yang diparut dan direbus. Sama saja dengan kasuami di Buton, namun di pedagang menolak istilah tersebut dan tetap kekeuh dengan nama suami. Malam sudah larut, dan saya harus beristirahat setelah tiga suami sukses masuk ke perut. Sayang, fufu cakalang itu terlalu besar sehingga hanya bisa saya habiskan sisi sebelahnya saja. Malam terakhir di Ambon kiranya, masih banyak yang belum terjelajahi. Saya pun menikmati heningnya kota di bundaran Gong Perdamaian melewatkan malam. Masih terngiang-ngiang kata Donny, tukang ojek saya, “Amatoo Bang”, selamat tinggal.

Advertisements

2 Responses to “Beta, Ale, Dorang, Kitorang Samua Cinta Ambon”

  1. Sheibasari Says:

    Informasi nya sangat lengkap dan membantu. Suatu hari nanti maluku adalah target bikepacker – an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: