Menembus Batu Lubang Boki Moruru

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Maret 2015)

Bumi Halmahera memang menawan. Lidah saya sudah menikmati lezatnya kepiting rawa berukuran jumbo, bermain-main dengan kakatua merah yang eksotis nan cerewet, hingga merasakan buah pala olahan lokal yang kecut, pahit dan pedas tumplek blek jadi satu. Mata saya dimanjakan oleh pemandangan alam nan asli dan masih perawan.

Tak banyak daerah saya jelajahi selama seminggu itu. Bukannya saya malas bepergian, namun infrastruktur di sana waktu itu belum baik. Selain ada jalanan beraspal, jalanan pasir dan tanah berbatu juga masih sering ditemui. Bahkan tak jarang jalanan itu sering putus di banyak tempat akibat luapan sungai berlumpur. Amat mustahil bisa ditembus walau dengan sepeda motor sekalipun.

 

 

Di tengah kondisi mati gaya, tiba-tiba seseorang memecah keheningan.“Pak, kitorang main Batu Lubang saja ka? Bagus dia punya ee…, ornamen itu!” Ajakan Taufik langsung mengiang di telinga dan membuat semangat saya bangkit lagi. “Apa pula kira-kira ini ya, Batu Lubang?”pikir saya. Saya pun sedikit frustasi mencari info tentang Batu Lubang itu lewat internet. sinyal GSM pun sangat terbatas. Tak banyak informasi yang saya dapatkan lewat smartphone saya yang minim signal. Jadi, sumber informasi yang terbaik  adalah secara verbal. Taufik pun memperlihatkan sebuah gambar kalenderyang sudah expired dua tahun lalu. “Ini Batu Lubang,” katanya. Melihat gambar ornamen Batu Lubang itu pun, saya putuskan untuk pergi ke sana.

Sewa ketinting

Matahari sudah mulai naik ketika kami mulai beranjak menuju Batu Lubang dari desa Sagea di Halmahera Timur. Saya duduk anteng di atas ketinting kayu Pak Musa, bermesin Robin 5 PK.  Suara mesin tua penuh karat itu cempreng. Bersama kami, turut ikut beberapa orang lain. Ada enam batang obor kami bawa sebagai sumber cahaya jika kelak dibutuhkan. Selama perjalanan, Berbagai cerita seram mengenai Batu Lubang pun berseliweran di kuping saya. Sebodo amat lah, kapan lagi saya bisa mengunjungi sebuah tempat wisata tak terkenal di hulu sebuah sungai deras di jantung Halmahera?

Sepuluh menit menuju hulu, arus sungai Sagea makin bergolak. Dasar sungai yang berbatu pun mulai tampak. Air sungainya jernih sehingga saya bisa melihat bebatuan yang ada di sekitar satu atau dua meter di bawah lunas ketinting. Beberapa batu seukuran permukaan meja tiba-tiba muncul di tengah sungai dan membuat arus berputar di sekelilingnya.

“Waduh, bahaya ini, bisa-bisa prahu kandas,” pikir saya. Kami berharap melewati sungai dengan tenang, bukannya mau semi arung jeram. Melawan arus yang semakin deras, mesin ketinting pun semakin meraung, dan tak kalah tangguh melawan tendangan arus dari depan. Tapi tiba-tiba, “Dhuaak!”. Ketinting kami kandas, mesin pun mati seketika. Lebih heboh lagi, perjuangan menghidupkan mesin tua itu lima kali lebih berat daripada melepaskan perahu dari jepitan batu besar di dasar sungai.

Dua kali tersangkut ke dasar sungai, sehingga kami pun harus berjalan kaki basah kuyup menembus arus sejauh 200 meter, ketinting pun akhirnya memasuki  aliran sungai di antara dua celah tebing menjulang. Suasananya mirip dengan Cukang Taneuh atau Green Canyon di kawasan Pangandaran. Namun suasana di sini membuat saya keder karena tebingnya lebih rapat dan gelap. Sungainya pun tampak sangat dalam dengan arus berputar di bawah.

Hilang ditelan bumi

Ketinting terus melaju hingga masuk ke celah tebing hingga masuk ke dalam sebuah batu berlubang. Air dari atas terus menetes membasahi kami. Sekonyong-konyong, sungai lebar berair dengan ajaibnya lenyap ke bawah tebing. Kami pun seakan hilang ditelan bumi. Lampu senter tak bisa menembus lorongnya yang teramat dalam. Obor pun kami hidupkan. Cahaya oranye tua pun menerangi dinding dan dasar gua. Bau minyak tanah menyeruak bercampur dengan bau kotoran kelelawar yang menyesakaan nafas. Kehadiran nokturnal bersayap ini memang  di luar dugaan. Kami tak siap dengan masker untuk sedikit menangkal bau kotoran kelelawar.

Mendarat di sisi lantai gua, kami berjalan perlahan. Sendal dan sepatu sudah kami lepas sedari tadi. Lumpur menggenang di lantai gua. Tebalnya bisa sejengkal tangan orang atau sekitar 20cm-an. Tak begitu jelas asal usul lumpur itu. Apakah dari tanah atau tumpukan kotoran dari ribuan kelelawar yang menggantung di atas. Beberapa kali kaki saya terperosok ke lubang-lubang batu kapur. Rasanya nyeri sekali. Dua orang berjalan di depan, membuka jalan dan mengecek posisi lubang yang terlihat mata. Semakin masuk ke dalam, dinding gua semakin membuat saya terkesima. Pendaran cahaya seakan menyiba relief-relief alami pada dinding gua.

 

Tak hanya sekadar kehadiran stalaktit dan stalagmit klasik layaknya pilar-pilar raksasa dalam sebuah gua, Batu Lubang terkenal pula akan beberapa stalagmit yang berbentuk unik. Saya pun jongkok dan mengamati sebuah batu yang membuat mulut berdecak kagum. Bentuknya persis seperti kepala orang yang akan melakukan ruku’. Batu itu dikenal sebagai Batu Sembahyang oleh warga Sagea.  Namun, bagi mereka bukan batu itu obyek utama di gua itu. Obyek paling menarik adalah batu-batu kristal putih yang berhamburan di dalam.

Biasanya kristal yang ada di dalam gua kapur adalah bentukan dari mineral-mineral kalsit atau dolomit. Walau bukan barang baru, tetapi pancaran mineral itu jika terkena cahaya sungguh menawan. Apalagi jika pendaran cahaya itu kita amati dalam lingkungan gua yang gelap. Namun sayang sekali, obyek utama di dalam gua itu tak sempat kami capai. Walaupun sebenarnya saya sungguh sangat penasaran dengan keberadaan batu-batu kristal itu, saya terpaksa menyurutkan langkah menjelajah gua lebih jauh lagi. Alam sadar kami mengatakan, tak mungkin menembus gua dengan peralatan yang tidak memadai. Nyawa bisa menjadi taruhannya. Kondisi gua sangat tidak layak dijelajahi dengan kondisi seadanya. Selain kesulitan penerangan, hawa amoniak semakin kuat dan membuat pusing. Asap obor pun terlihat berputar-putar di situ-situ saja pertanda sirkulasi udara yang amat buruk. Belum lagi kehadiran kalajengking dan laba-laba beracun di celah-celah dinding, dan kondisi psikologis penunjuk jalan yang mulai tampak ‘menyerah’. Cerita-cerita gaib tentang ‘sosok penunggu gua’ pun mau tak mau ikut terngiang di kepala. Saya pun mengambil keputusan dan membatalkan perjalanan menyusuri gua lebih jauh lagi.

Walau tak sempat menyusuri gua dan melihat langsung batu-batu kristal, perjalanan itu sangat terkenang. Setelah meninggalkan Halmahera dan kembali ke Ternate, saya browsing di internet untuk mencari tahu tentang gua itu. Saya pun baru tahu, ternyata nama asli Gua Batu Lubang adalah Boki Moruru. Memiliki arti‘putri yang menghanyutkan diri. Konon nama gua ini diambil dari leganda sang putri.

 

Boks–

Tips

  • Desa Sagea dapat ditempuh dengan mengambil penerbangan ke Ternate terlebih dahulu. Dari Ternate, perjalanan dilanjutkan dengan menyebrang setengah jam ke Sofifi, terus ke Weda yang ditempuh selama dua-tiga jam perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat. Desa Sagea dapat ditempuh dengan kendaraan sewa atau ojek dalam waktu dua jam perjalanan dari Weda. Boki Moruru dapat ditempuh selama dua jam perjalanan ketinting ke hulu sungai Sagea.
  • Demi perjalanan yang lebih aman dan nyaman, bawalah peralatan khusus untuk menjelajah gua. Paling tidak siapkan senter, masker, topi, pakaian ganti, dan peralatan panjat tebing jika punya. Bawalah juga obat-obatan P3K.
  • Jangan lupa bawa makanan ringan dan kamera untuk mengabadikan suasana.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: