Menyambangi Nirwana Bawah Laut, “The Diver’s Heaven”

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Juni 2015)

 

“Brak…braak…braaak..!!!,” suara hantaman ombak mengangkat haluan speedboat menciutkan nyali. Mesin tunggal 60 PK meraung tak kalah kerasnya. Lifevest memang melekat di badan, namun mata saya masih melirik pada sebuah jerigen plastik kosong di depan kaki. Untuk survive di laut, mengapung adalah kemampuan mutlak ketimbang keahlian berenang.

 

 

Sepuluh menit berlalu, speedboat sudah mendekati bayang sebuah pulau kecil di depan. Ombak terpecah pulau, angin timur tak berdaya lagi. Hati kami pun tenang. Dengan raungan mesin yang lebih kalem,  kami pun meluncur cepat di atas permukaan air laut yang sangat-sangat tenang.  Serasa melayang di atas danau, nyaris tak berguncang sedikit pun. Setengah jam kemudian, boat dari bahan fiber ini pun menikung tajam, perlahan memasuki area jetty yang dipenuhi dengan rumah-rumah kayu di sekitarnya. Air saat itu sedang surut, saya terpaksa memanjat jembatan naik ke atas. Gemeretak kayu pun mengiringi langkah kaki. “Welcome to Derawan”, bisik saya dalam hati.

 

Gerbang keindahan bawah laut

Pagi itu langit tergantung kelabu, bukan mood yang pas tentunya. Setelah me-recharge badan dengan sepiring nasi kuning hangat plus lauk nan menggoda, saya melangkahkan kaki melintasi kampung. Katanya, di pulau Derawan ini ditinggali berbagai suku bangsa. Sebut saja Bajo, Buton, Bugis, Jawa, dan bahkan konon penduduk dari kepulauan Filipina pun banyak yang datang dan menetap. Perbedaaan itu samar saja kelihatannya karena kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Indonesia dan rumah yang berjejer di kampung berarsitektur serupa. Pasir putih membelah rumah-rumah panggung dari kayu. Sebagian wisatawan memilih berkeliling di atas sadel sepeda.

Gradasi warna biru muda, biru tosca hingga biru tua membayang di sisi pantai. Mendung yang menggila tak menyurutkan pesona terumbu yang membayang di bawah air. Beberapa pengunjung sudah ada yang menjeburkan diri duluan, sementara yang lainnya bersiap-siap. Saya pun tak mau kalah. Hangatnya air laut membuat saya betah, apalagi di bawah saya bertaburan karang yang meliuk-liuk. Ikan beraneka macam dengan gemulai mengitari terumbu hidup. Sebagian bahkan tak peduli dengan kehadiran saya, terus mendekat dan merapat. Lokasi snorkeling di Derawan ini adalah lokasi terdekat yang saya tahu, hanya sekitar 3 menit berenang santai dari pantai. Bahkan, kita bisa memilih untuk terjun langsung melalui jembatan kayu yang sudah tersedia di kiri-kanan. Sisi luar lokasi snorkeling dibatasi dengan pelampung. Lewat dari itu, dasar laut biru kehitaman menunjam langsung ke bawah. Saya bergidik melihat laut tak berdasar terhampar di ujung kaki.

 

Penangkaran tukik dan pari manta

Derawan hanya sekedar pemanasan. Indah memang, namun tentu tak menyurutkan langkah untuk terus mengeksplorasi pulau lainnya. Tak pelak lagi, saya kembali terjebak di dalam speedboat yang bergoyang kuat. Kali ini langit cerah membiru, secerah hati saya tentu. Sepanjang perjalanan, gradasi laut warna biru, hijau dan kombinasinya terus-menerus menemani. Laut mendangkal, terumbu kembali berhamparan di bawah. Saya mendarat di pasir putih Sangalaki.

Walau memiliki keindahan dasar laut yang tak kalah mempesona, pulau kecil yang berjarak dua jam perjalanan dari Derawan ini lebih terkenal dengan habitat penyu hijau yang langka. Di sini, tersedia cottage bagi wisatawan yang ingin menginap. Berkeliling pulau dan menunggu mentari tenggelam memang menarik, namun tentu saja atraksi utama adalah melihat penyu bertelur. Jika beruntung, kita bisa menyaksikan makhluk langka itu kawin. Omong-omong, seumur-umur saya pernah berkesempatan melihat ritual perkawinan sepasang penyu di alam saat berada di Raja Ampat. Mereka berpelukan bergulingan di air, cukup lama seolah-olah sedang menuntaskan serangkaian untaian tarian laut. Selanjutnya, setelah bertelur di tempat rahasia, tukik pun menetas. Ratusan anak penyu yang dilindungi ini pun dapat kita saksikan bergerak secara alamiah menuju laut, dan tentu saja jadi obyek belajar yang menarik. Bosan dengan keindahan pulaunya, kita dapat memilih untuk terjun menyelam. Tersedia selusin lokasi penyelaman tersohor dan jika beruntung kita bisa menyaksikan ikan pari manta, salah satu hewan yang menjadi kekhasan bawah laut Sangalaki.

 

Ubur-ubur tak bersengat

Tak lengkap rasanya bila tak merasakan atraksi menarik di kepulauan Derawan : berenang bersama ubur-ubur! Jangan khawatir, ubur-ubur di pulau Kakaban ini telah berevolusi sehingga tidak beracun. Informasi menarik ini jelas membuat kami jadi tak sabaran tentunya, apalagi Kakaban berada hanya di sebelah Sangalaki. Begitu cepat speedboat tiba di jetty, secepat kami yang bergegas menaiki dan berjalan langsung menuju jantung danau air payau Kakaban. “Stop Mas!”, fin-nya ditinggal di sini saja. Kesian nanti ubur-uburnya mati terhantam, demikian pinta sang penjaga pulau. Memang, untuk menjaga kelestarian populasi ubur-ubur ini, para pengunjung dilarang berenang dengan fin. Bahkan, kita tidak diperbolehkan melompat tiba-tiba ke tengah danau, apalagi mengangkat ubur-ubur dari atas air. Hantaman keras dan dehidrasi air pastinya akan membuat makhluk ringkih itu mati. Peduli dengan kelestarian makhluk langka ini, saya pun sangat berhati-hati di dalam air. Selain menghindari gerakan tiba-tiba, saya pun tidak menyentuh langsung. Berenang sembari serasa terlempar ke alam mimpi. Sensasi di danau berair hijau, dikelilingi ribuan ubur-ubur melayang pelan memang unik. Benar kata orang, saya serasa berenang di lautan cendol!

Jantung surga bawah laut

Terletak paling jauh, Pulau Maratua adalah pulau yang paling menarik. Berjarak tiga jam perjalanan speedboat dari Derawan, Paradise Island berbentuk U terbalik ini memiliki hampir sebagian besar pesona pulau-pulau lainnya. Titik penyelaman-nya luar biasa banyak, 21 tempat! Pari Manta-nya Sangalaki pun ada di sini.  Bahkan, jalur pantai Maratua adalah lokasi bertelur penyu hijau yang paling besar di nusantara. Ingin merasakan sensasi kehidupan pedesaan pinggir laut, saya memilih tinggal di homestay Desa Payung-Payung. Pengunjung sudah tampak lengang, tak seperti Derawan yang hiruk-pikuk. Biarlah, bagi saya, makin sepi makin eksotis.

Minim sarana transportasi, kami menuju sisi timur dengan menyewa sepeda motor. Mesin 4 tak meraung-raung menahan bobot total 160 kg. Jalanan pun bervariasi, bukan aspal mulus tentu. Dari lintasan pasir hingga jalan berbatu kapur pun kami libas. Tiga puluh lima menit, waktu yang terasa lama walau sekedar menahan sakit di pantat, terbanting oleh kerasnya shockbreaker motor yang sudah mati. Parkir di bawah pohon kelapa, kami menuju lokasi snorkeling di pinggir pantai. Sepi pengunjung, kami serasa memiliki pantai pribadi. Betapa tidak, jalur pantai sepanjang 1 km membentang, dan hanya ada kami di situ. Air jernih dan koral membayang. Air laut sedang hangat-hangatnya. Sinar mentari kekuningan di ufuk barat membayang. Puas berenang di tengah, saya merapat ke sebuah cottage.

Walau berdasar pasir, bawah laut cottage ini sangat menarik. Tak berkoral, tak berwarna, dan cenderung keruh. Tetapi, entah mengapa, ikan di sini luar-biasa banyaknya. Bukan saja ikan mungil nan imut yang suka menyelinap di koral, ikan-ikan besar yang pantasnya terhidang di atas piring pun ribuan jumlahnya. Beberapa yang saya familiar seperti jackfish atau ikan bubara, dan ikan tongkol berseliweran kesana kemari. Dengan berbekal sobekan roti, puluhan ikan mengitari tangan saya. Tiga puluh detik, seluruh remah roti pun habis dilahap. Pengen rasanya saya tangkap satu atau dua, sepertinya cocok sekali untuk lauk makan malam nanti. Sayang tangan saya tak segesit gerakan ikan-ikan di laut.

 

Ratusan ekor penyu hijau

Kembali ke desa Payung-Payung saat langit sepenuhnya gelap. Malamnya angin menggila, dermaga tempat speedboat kami merapat pun bergoyang-goyang dihantam ombak. Kami pun memilih beristirahat di homestay, mengisi semua batere hape dan kamera. Maklum, listrik hanya menyala di malam hari. Lewat sedikit dari pukul sepuluh malam, saya sudah terlelap.

Subuh hari, mendung menggantung. Saya yang sudah mengambil kamera dan tripod kecewa, batal lah acara hunting sunrise pagi itu. Satu-satunya yang membuat saya senang, pakaian basah di jemuran samping kering semuanya. Apalagi kalau bukan berkat angin kencang malamnya. Duduk di tepi jetty kayu, mata saya tertumbuk pada ratusan titik hitam membulat di bawah air. Sinar matahari belum mampu menembus awan kelabu, saya meneruskan duduk menikmati semilir angin pagi. Tiba-tiba, saya tersadar jika titik-titik hitam itu bukanlah batu. Walau lambat dan tertutup oleh riak air, ‘batu’ itu bergerak perlahan. Saya pun terkaget-kaget, itu adalah kawanan ratusan penyu hijau!

Memang saya pernah diberi tahu jika di subuh hari, biasanya ratusan penyu hijau akan datang merapat ke pantai. Tapi saya tak pernah menyangka jika kejadian itu terjadi tepat di jetty depan homestay kami. Sulit dipercaya rasanya melihat kawanan penyu dalam jumlah banyak, tersebar di kanan-kiri kami. Saya pun berlari kembali ke dalam kamar, mengambil masker dan underwater housing kamera. Dua penyu paling pinggir saya incar dan saya ikuti. Begitu tinggal berjarak 6 meter, saya pun terjun ke air. Saya berenang mendekat,  menghampiri hati-hati. Tinggal sedikit lagi sejangkauan tangan, senter saya hidupkan, sekonyong-konyong mereka berhamburan kabur. Sekali kibas melesat 3 meter, tak mampu saya kejar. Dan terjun kali pertama itu lah saya berada pada posisi terdekat. Pada puluhan kesempatan lain, jangankan mendekat atau menghidupkan senter, baru terjun ke air pun mereka sudah parno. Mungkin karena sinar mentari sudah membias ke dalam air sehingga kehadiran saya begitu jelas tampak. Mungkin pula mereka pernah mempunyai pengalaman buruk dengan manusia, ah entahlah. Yang jelas, menyaksikan konvoi ratusan penyu di dasar air dangkal adalah pengalaman mengunjungi kepulauan Derawan yang paling berkesan bagi saya.

 

Boks–

Tips

  • Kepulauan Derawan dapat ditempuh dengan mengambil perjalanan udara ke kota Tanjung Redeb atau kota Tarakan. Jika melewati Tanjung Redeb, perjalanan dilanjutkan dengan berkendara mobil selama dua jam menuju Tanjung Batu. Pulau Derawan hanya seperempat jam perjalanan speedboat dari situ. Jika memilih jalur Tarakan, perjalanan langsung disambung dengan speedboat selama 4 – 5 jam.
  • Tidak memerlukan peralatan khusus untuk dibawa, snorkel set dapat disewa di tempat. Namun lokasi penyewaan yang ada hanya tersedia di Derawan, menjadikan pulau dengan fasilitas terlengkap ini adalah pulau wajib pertama yang harus dikunjungi sebelum melakukan island hopping.
  • Jangan lupa bawa makanan ringan kamera tidak banyak penjual makanan yang ada. Lotion sunblock wajib digunakan untuk menahan panasnya matahari Kalimantan. Tentu saja kamera underwater juga disarankan dibawa untuk mengabadikan keindahan bawah lautnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: