Selimbau, Menyambangi Sisa-Sisa Kerajaan Melayu di Hulu Sungai Kapuas

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Lionmag April 2015)

Derik suara kayu terinjak beradu dengan paku berkarat mengiringi langkah kemana pun kami beranjak. Setiap waktu kami pun harus terbiasa berjalan dengan mengangkat kaki lebih tinggi dari biasanya. Cuatan beda tinggi dari papan yang terpaku bisa membuat kami tersungkur jika tidak awas. Ya, kami sedang berada di atas jalan kayu yang panjang menghampar. Tiang-tiang tinggi menjulang menahan landasan yang kami injak. Jika musim hujan tiba, air menutupi tiang tersebut dan praktis kami seperti berjalan ‘di atas sungai’. Di sini, di Selimbau, segala macam hiruk-pikuk aktivitas masyarakat Melayu-nya memang notabene berada di atas air dari tubuh Sungai Terus yang merupakan anak sungai terpanjang di nusantara, Kapuas.

Perjalanan jauh ke pemukiman Melayu

Bukan lah suatu tempat yang gampang dijangkau, saya menghabiskan waktu semalaman berkendara dari kota Pontianak untuk menjangkau Sintang. Terus ke timur, kota Kecamatan Selimbau pun kami masuki saat matahari sudah sepenggalah. Bukan lah kota yang umum terlihat tentunya, karena hampir seluruh bangunan yang ada berbahankan kayu dengan pondasi julangan tiang-tiang sebesar paha dewasa yang tertancap di atas lumpur sungai. Saya pun menyeberangi ‘kampung atas air’, berjalan menyusuri jembatan kayu menuju pinggiran sungai yang sangat lebar. Di sana, di atas air Kapuas telah tersedia penginapan kami, sebuah ‘kapal bandung’. Kapal kayu pengangkut barang yang berkapasitas 5 ton ini memiliki kabin tengah yang cukup luas, leluasa untuk dijadikan tempat tidur. Lelahnya perjalanan jauh dari Jakarta memaksa saya harus merebahkan diri walau matahari sedang terang-terangnya bersinar. Biarlah, eksplorasi Selimbau dapat menunggu sejenak. Jika dipaksakan, saya hanya menumpang tempat untuk sakit saja nanti. Sore hari, dengan sisa tenaga yang mulai pulih, saya menikmati sunset merona di atas air Kapuas. Sungguh terasa tenang dan damai rasanya menyaksikan mentari tenggelam, seiring dengan alunan lembut gemericik arus sungai.

“Nak kemenaa Baang..?”, sapaan ramah penduduk setempat malah membuat saya canggung. Bukan apa-apa, saya yang fasih berbahasa Melayu Pontianak tak berdaya meladeni pembukaan pembicaraan itu. Sebagai sesama bahasa Melayu, memang ada kemiripan pengucapan dan arti. Namun justru kemiripan itu yang membuat saya kesulitan. Sedikitnya persamaan atau kemiripan bahasa yang ada tidak bisa saya polakan dengan baik sehingga saya tak berani menjawab sapaan dalam bahasa Melayu juga. Mungkin malah lebih gampang bagi saya jika bahasa yang digunakan di sini sama sekali berbeda dengan Pontianak. Akhirnya, Bahasa Indonesia adalah pilihan paling tepat saat itu untuk berkomunikasi.

Musim Kering

Berada di anak sungai Kapuas yang berada dalam pengaruh pasang-surut Danau Sentarum, Selimbau mengalami pasang-surut air yang cukup unik. Jika musim hujan tiba, maka air Kapuas akan menggenangi Danau Sentarum dan sekitarnya sehingga Selimbau terendam air setinggi belasan meter. Di saat musim kering, danau akan memasok air ke Kapuas walau tetap saja tak mencukupi sehingga meninggalkan julangan tiang-tiang kayu pondasi rumah dan bantaran sungai yang kering kerontang. Aktivitas penduduk pun berubah drastis. Lebar sungai tinggal beberapa meter saja, muka air pun mendangkal. Jika saat air melimpah anak-anak dengan leluasa bisa mandi menjeburkan diri, di musim kering perahu pun susah-payah untuk lewat. Semua bangunan pinggir air seperti kamar mandi, WC dan keramba ikan tertarik ke tengah. Banyak pula yang kandas dan rusak tak bisa digunakan. Air pun harus diirit sehemat mungkin. Masa-masa paceklik selama tiga bulan harus dilalui masyarakat setiap tahunnya. Musim kering walau cukup mengganggu, di lain sisi memberi berkah yanng luar biasa. Ikan-ikan yang berlimpah di wilayah Kapuas dan Sentarum terjebak di cekungan-cekungan air. Sangat memudahkan untuk diambil tentu saja. Seiring dengan hukum alam, populasi ikan yang menurun dikarenakan eksploitasi, akan kembali normal di saat musim hujan. Benih-benih ikan akan tersemai dan tumbuh menjadi besar dan menyebar ke seluruh penjuru tubuh air.

 

Sisa kerajaan besar

Sebuah mesjid besar berdiri di tengah kampung, di pinggir sungai. Bangunan tua peninggalan kerajaan Selimbau berwarna kuning terang tampak mencolok mata. Khayalan saya pun melambung ke ratusan tahun silam, di saat wilayah ini menjadi kerajaan yang cukup disegani. Memang tidak semegah kerajaan Pontianak yang berada ratusan kilometer di hilir, atau sebesar kerajaan Sintang di baratnya. Namun kerajaan Selimbau di puncak kejayaannya pernah menaungi seperlima dari wilayah Kalimantan Barat saat ini. Berperang dan bertahan dari gempuran kerajaan lain di sekitarnya, dan bahkan bertahan dari serbuan suku pengayau pemburu kepala dari Serawak, Selimbau tetap berdiri. Berawal dari kerajaan Hindu, Selimbau berubah menjadi kerajaan Islam dan memasuki masa kejayaan di akhir abad ke-19. Hubungan baik  terus terjaga dengan Kesultanan Pontianak hingga dan porak-poranda oleh kehadiran Jepang di nusantara.

 

Selain Mesjid Jami Selimbau, masih ada sebuah tiang bendera yang tegak berdiri. Tiang tua yang berada di utara mesjid ini lah adalah tempat bangunan kerajaan Selimbau berdiri, dengan nama Istana Noor Mahkota. Di sekelilingnya, masih terdapat beberapa rumah kediaman para keturunan raja, lengkap dengan ornamen-ornamen peninggalan kerajaan di dalamnya. Sebuah foto yang sudah tua hitam-putih dengan jelas menunjukkan kehadiran perahu kesultanan Pontianak yang mengunjungi Selimbau di awal abad 20. Pernak-pernik keemasan ornamen kerajaan pun masih banyak menempel di dinding. Tak lepas pula, masih ada sekitar 20 orang penduduk yang bergelar Raden, menandakan bahwa gelar yang diperuntukkan untuk menteri kerajaan tersebut masih digunakan. Walau garis keturunan raja terakhir masih ada, gelar raja tak pernah sampai ditasbihkan. Konon, keturunan terakhir tidak bersedia dilantik menjadi raja karena kekhawatiran diburu oleh tentara Jepang. Peristiwa eksekusi massal pemancungan kepala ribuan tokoh masyakarat di Kalimantan Barat di daerah Mandor, masih menyisakan bekas kepedihan hingga era kemerdekaan ini. Memang benar, luka di hati lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik di badan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: