Menggapai Puncak Tertinggi Sumatera

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Desember 2015)

“Sudah lah, yang penting pelan-pelan saja, Insya Allah sampai kok di puncak”, demikian ujar Lena di dalam sebuah chat grup saat sedang menyusun itinerary pendakian. Saling menghibur dan menyemangati, usia kami yang tak terlalu muda lagi memang menjadi salah satu ganjalan besar. Dengan gelar the highest volcano in Indonesia, Gunung Kerinci cukup menciutkan nyali kami, bahkan mungkin bagi pendaki umum lainnya. Kami berempat, Abi, Rahmat, saya sendiri dan Lena sebagai satu-satunya cewek dalam rombongan sebenarnya baru saling mengenal. Berawal dari posting ajakan jalan saya ke Kerinci di milis indobackpacker,  kami pun menguatkan tekad menyatukan rasa untuk bertualang ke Puncak Indrapura, 3.805 m dpl.

 

Setelah melalui latihan fisik mandiri selama dua bulan, tak terasa kami pun sudah terbang menuju Padang. Perjalanan selanjutnya tentu saja didominasi dengan kelak-kelok pemandangan apik dan hamparan rumah adat Minangkabau nan memukau. Tak ketinggalan gempuran house music dengan nada ajeb-ajeb khas mobil travel luar kota. Memekakkan telinga. Sepanjang jalan menuju perbatasan luar Sumatera Barat, kami memastikan dan menjadi yakin bahwa memang tidak ada yang namanya ‘Rumah Makan Padang’ di sana.

Tak terasa mentari pun sudah condong ke barat. Sinar emasnya menyorot hamparan perkebunan teh, sepanjang jalan dan sepanjang mata memandang, menjadi lanskap yang tak biasa. Puncak Kerinci berdiri dengan angkuhnya, menjulang tertutup awan. “Selamat datang di Kersik Tuo,” ucap saya dalam hati. Tiba-tiba, lirih terdengar sapaan penduduk setempat. “Monggo Mas, pinarak!” Suara lirih dari depan warung kelontong mengagetkan saya, yang tak asing dengan kata-kata itu. Rupanya itu suara Pak Suroto, warga setempat yang berasal dari Godean, Yogyakarta.

Pak Suroto telah menjalankan usahanya di Kersik Tuo selama puluhan tahun. Selain Pak Suroto, ada Mas Wandi dari Beran, Sleman, dan beberapa penduduk Kersik Tuo lain yang cerita punya cerita berasal dari Purworejo, Gunung Kidul dan Muntilan. Keberadaan mereka di sana sudah cukup lama dan turun temurun. Kisahnya berawal dari zaman pemerintahan Belanda. Ketika membuka perkebunan teh, Belanda mendatangkan tenaga kerja dari Jawa. Sebagian datang lewat program kerja paksa, tak terkecuali di Kersik Tuo. Selain itu, hal serupa bisa kita temui di perkebunan teh Pagar Alam di kaki Gunung Dempo, perkebunan teh hitam di Sidamanik, dan beberapa lokasi perkebunan teh lain di Sumatera. Telah melewati tiga generasi, para keturunan pekerja teh Kersik Tuo ini sebagian besar masih mempertahankan bahasa ibu dengan baik. Tak heran, jika kebetulan kita naik angkot, suasana riuh-rendah dengan canda tawa khas Jawa sering membuat kita tak sadar bahwa sedang berada di salah satu pelosok pulau Andalas. Dan, gara-gara bertemu ‘tetangga rumah’ ini, saya mendapat diskon saat membeli jaket gunung di salah satu toko outdoor di sana. Lumayan!

Sejujurnya, Kersik Tuo tak seperti gambaran benak saya sebelum ini. Bukan apa-apa, yang namanya daerah basecamp pendakian gunung pastilah sepi dan sulit akses. Namun, kota kecamatan ini sangatlah ramai. Kendaraan tak henti hilir-mudik dan toko kelontong sekelas mini market gampang kita temukan. Dahulu kala, menurut cerita Pak Darmin, para pekerja kebun teh berangkat dengan gerobak kayu. Jumlahnya puluhan dan memenuhi jalan di tengah kebun. Namun zaman telah berganti, saat ini gerobak kayu para pekerja digantikan oleh mobil pick up terbuka, truck, ataupun sepeda motor.

Lahan kebuh teh tertua di nusantara dan terluas di dunia ini memang menjadi nadi penggerak. Denyut kehidupan masyarakatnya bermuara pada Pabrik Teh Kayu Aro. Di sini, teh nomer satu kualitas Eropa diracik dan diekspor. Bahkan, saya sendiri kesulitan menemukan produk premium yang dijual di warung sekitar. Maka, begitu ada kesempatan berkunjungan ke pabrik Teh Kayu Aro, saya pun tak melewatkan kesempatan menyeruput the premium itu. Tiga gelas seduhan saya tenggak, salah satunya adalah teh hitam itu. Namun entah kenapa, lidah saya tak bisa merasakan nikmatnya minuman premium itu. Sementara Stefan, ABG bule blasteran Jerman-Tiongkok yang besar di Singapura, merem-melek di depan saya saat nyruput teh hitam.  Momen ini mirip dengan saat saya berkesempatan mencicipi hidangan kopi luwak. Tak terasa bedanya. Pasti karena lidah ndeso saya.

Pendakian pun dimulai

Angin segar berhembus di pagi itu, cuaca cerah. This is it, to be or not to be! Segala macam persiapan yang kami lakukan akan segera diuji. Segala perlengkapan dan logistik kami gendong dalam empat carrier. Kami juga membawa dua tenda stormbreaker. Melangkah pasti, kami mulai menaiki Elf menuju pintu pendakian Kerinci.

Memasuki Tugu Macan, jalanan aspal membelah perkebunan teh mengantarkan kami ke kaki gunung di mana awal pendakian yang sesungguhnya dimulai. Setelah briefing dan pemanjatan doa, dibantu Mas Mono dan Mas Azis sebagai porter, kami pun mulai melangkah. Tenda, peralatan masak dan sebagian logistik berpindah ke punggung kedua porter kami. Hap hap, langkah tegap kami dengan mantap menyantap tanjakan ringan dari Pintu Rimba hingga Pos 3. Jalur sudah menyempit sedari tadi, pepohonan yang lebat di kiri-kanan membuat lelah tak begitu terasa. Saking lebatnya, sinar matahari tak banyak menembus dedaunan, dan batang-batang pohon ditumbuhi lumut tebal.

Lain cerita, pada jalur selepas Pos 3. Jalur ini mulai menanjak dan terasa panjang. Satu-satunya yang masih menghibur kami adalah rerimbunan hutan yang menaungi kepala. Terengah-engah, kami menjejakkan kaki di Shelter 1 pada ketinggian 2.504 mdpl, tepat saat matahari mulai sedikit tergelincir. Tiba sesuai estimasi jadwal, tenaga tua saya masih mampu mengimbangi kecepatan anak muda yang ikut mendaki.

Di Shelter 1 ini suasananya cukup ramai, selain beberapa pendaki yang memang beristirahat siang di sini, dari atas juga turun rombongan lainnya. Tampak beberapa pendaki yang usianya sudah cukup sepuh, namun dengan gagahnya turun dari puncak dengan kecepatan yang masih mengagumkan. Beberapa pendaki luar negri pun tampak duduk bersenda-gurau di bawah pohon rindang.

Lepas dari Shelter 1, jalur kembali semakin menanjak. Keteguhan hati dan kekuatan fisik benar-benar diuji. Terlebih, kami diberi tahu bahwa pada saat bersamaan, ada sekitar 80 pendaki lain yang sedang bergerak menuju puncak. Kami pun memacu ritme, apalagi kalau bukan bertujuan agar bisa sampai duluan di lokasi dan mendapatkan tempat mendirikan tenda sebelum summit attack. Namun medan yang mulai semakin berat memaksa kami beristirahat lebih sering. Segala macam pose istirahat sudah kami coba, mulai dari berdiri menunduk, duduk bersandar hingga berbaring pun telah dijalani, namun recovery nafas terasa lebih lama. Apalagi alasannya kalau bukan ‘faktor U’.

Terus mendaki ke Shelter 2, sinar matahari mulai menguning dan redup. Sadar diri, saya meminta Mas Mono dan Mas Azis untuk berjalan lebih cepat ke Shelter 2. Paling tidak mereka bisa tiba lebih awal dan mendirikan tenda. Keinginan untuk camping di Shelter 3 pun sudah kami buang jauh-jauh. Pukul 5 sore tenda kami mulai berdiri, Alhamdulillah masih kebagian tempat. Saya dan Rahmad, Lena dan Abi dalam tenda masing-masing sementara Mas Mono dan Azis dalam tenda mereka. Malam itu, mi rebus, nasi putih dan sayur sup berserta keripik kentang menghangatkan lambung, mengantarkan tidur tak nyenyak saya. Dengan ketinggian 2.958 m dpl, tenda kami tidak begitu dingin sebenarnya karena suhu masih 13,80C. Namun entah mengapa saya kesulitan tidur walau sudah mengenakan sleeping bag dan aluminum pad. Bulan purnama yang cantik malam itu pun tak kuasa meninabobokan saya yang kelelahan.

Mengejar ketinggalan

Bangun awal, kami harus mengejar ketinggalan target kemarin. Mentari belum menampakkan sinarnya. Setelah sarapan singkat, jalur berupa gua perdu terjal pun kami lalui di dalam kegelapan. Mas Mono menemani kami, sementara Mas Azis menunggui tenda. Kami bersyukur bahwa istirahat di Shelter 2 adalah keputusan tepat.  Jalur antara Shelter 2 dan Shelter 3 rupanya sangat berat. Medan seperti itu tak mungkin bisa kami jalani kemarin dengan fisik yang sudah lelah dan menenteng carrier berat di punggung. Ibarat kata, di jalur itu kaki bisa ketemu dagu. Dan beberapa kali, kami memang harus berpose merangkak agar dapat beringsut naik.

Matahari mulai muncul ketika kami menjejakkan kami di Shelter 3, kami pun terpana dan berhenti sejenak. Hamparan perkebunan teh di sisi selatan dan kilau permukaan Danau Gunung Tujuh yang tersiram matahari menjadi pemandangan mengagumkan. Sudah ada 30-an tenda di sana, dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana dinginnya berada di ketinggian 3.300 mdpl terlebih  menahan gempuran angin malam di area terbuka seperti itu.

Dari Shelter 3, kepulan asap kawah sudah tampak di mata. Jaraknya tinggal 500 meter vertikal. Medan yang harus dilalui semakin seru.  Jalanan menanjak, berbatu, dan gersang. Cukup membuat kaki gemetar. Kepalang tanggung, matahari sudah cukup tinggi dan sinarnya menerangi jalur kami. Kami pun beringsut naik secara perlahan dikala pendaki lain mulai kembali dari puncak. Setiap sapaan mereka yang turun pasti bernada penyemangat. Saya sudah tak bisa membalas dengan kata-kata selain tersenyum lebar. Nafas sudah semakin tak beraturan.

Kira-kira pukul 9 pagi lewat saya baru menjejakkan kaki di puncak, bersama-sama dengan rombongan terakhir pendaki lain. Kawah sedalam 300 meter, menganga dan menyemburkan asap belerang dengan kencangnya. Kami harus berhati-hati karena asap pekat ini sangat berbahaya. Biasanya di atas pukul 10, pendakian ke puncak sudah harus dihentikan. Tebing tegak nan rawan longsor pun menjadi pijakan kami, cukup membuat jantung menciut.

Dari atas ketinggian puncak Kerinci, saya pun terkagum-kagum menyaksikan hamparan hijau hutan perawan Taman Nasional Kerinci Seblat di sisi barat dan utara. Sejauh mata memandang nyaris tak menampakkan tanda-tanda pemukiman. Tak mengherankan jika di sini adalah habitatnya harimau Sumatera. Di kawasan ini pun juga ada legenda hidup mengenai manusia kerdil Kerinci.

Setengah jam di atas, saya mulai turun. Berbeda saat turun dari puncak waktu pendakian Gunung Rinjani dan Semeru tahun sebelumnya, dimana saat itu saya masih mampu berlari-lari kecil ataupun melompat ringan, kali ini saya hanya mampu melangkah perlahan dan sesekali duduk merosot di atas pasir berbatu saat menghadapi turunan terjal. Kedahsyatan Kerinci rupanya bukan untuk main-main. Kapok? Tentu saja tidak, masih banyak puncak-puncak gunung menawan di nusantara ini yang rugi rasanya jika tidak didaki. Saya akan mendaki mereka satu per satu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: