Seribu Gunung

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah DestinAsian Indonesia Nov-Des 2016)

Berkonotasi dengan kekeringan dan kegersangan, dataran tinggi berbatu kapur Geopark Gunung Sewu ternyata memiliki potensi yang luar biasa.

Sebuah kereta kayu rakitan tergantung di samping saya. Beberapa utas tali menjulur hingga ke pulau seberang. Terpisah jarak seratus meter lebih, saya terdiam.  “Piye Mas? Kalau mau, kami bisa bantu tarik nyebrang…”, demikian ujar Mas Heri, penduduk Desa Timang.  Jauh di bawah kaki, deburan ombak semakin menggila. Karang-karang tajam mencuat sekelebat. Nyali saya pun menciut. Berat tubuh yang mendekati 100 kg, tak pede rasanya. Sulit sekali untuk ‘menitipkan’ nyawa hanya pada beberapa utas tali. Ikhlas, saya mempersilakan Hafiz yang berpostur kecil. Solo traveler asal Kuching, Malaysia ini pun naik tanpa ragu. Tampaknya dia menikmati sekali tergantung-gantung seperti itu. Hampir satu jam di pulau seberang, Hafiz baru kembali. “It’s so quiet there, so peaceful, takde suare ombak,” ujarnya. Selesai, kami pun menaiki sepeda motor masing-masing. Hafiz terus membuntuti saya hingga Wonosari. Satu jam kemudian kami pun berpisah di simpang jalan. Hafiz kembali ke kota Yogyakarta, saya berbelok kiri sambil menaikkan betot-an gas.

Jalanan aspal pun terbentang. Bukit-bukit kapur membentengi di kiri-kanan, tertutup oleh semak dan pepohonan jati. Saya mengendarai matic kubikasi 150 cc di antara ratusan perbukitan rendah. Terhampar dengan luas 800 km2, wilayahnya memanjang meliputi segmen Gunung Kidul, Wonogiri dan Pacitan. Mungkin sudah belasan kali saya menyambanginya. Mengeksplorasi tempat seluas ini, tak lain, sepeda motor adalah pilihan paling tepat. Tak semua lokasi di kawasan Gunung Sewu dihampiri trayek rutin kendaraan umum. Sementara, mengendarai roda empat pun rugi rasanya. Banyak kenikmatan tak terduga yang hanya bisa dirasakan di atas putaran dua roda.

Dahulu, hampir seluruh penjuru daerah ini identik dengan kekeringan dan kemiskinan. Penduduknya terpaksa pergi merantau mengadu nasib. Tanah yang tidak subur dan kesulitan air memang menjadi momok bagi siapapun. Secara geologi, Gunung Sewu berada di dataran tinggi yang utamanya tersusun dari formasi batugamping. Batu kapur keras berpori, tak mampu menyimpan air permukaan dalam jumlah cukup. Setiap hujan datang, air langsung menerobos jauh ke dalam tanah. Tak menyisakan waktu cukup untuk menggenang, atau membuat tanah melapuk tebal. Akibatnya, tanah subur pun tak berkembang dan air susah dijangkau. Tubuh sungai tak mengalir sepanjang tahun dan sumur pun harus digali puluhan meter. Itu pun jika dapat. Beberapa lembah ada yang dasarnya tertutup terrarosa, soil purba, sehingga menyekat pori batuan. Air pun dapat tertampung menjadi embung alami. Saat musim kemarau, kondisi kembali terpuruk. Tak ada hujan dan air di embung pun menguap.

Namun itu kisah usang. Telah berlalu puluhan tahun. Walau kering di permukaan, air tersimpan nun jauh tersembunyi di rongga sungai bawah tanah. Gunung Sewu, secara fakta, adalah gudangnya air bersih. Pompa raksasa dengan kekuatan head yang tinggi pun menarik air bening sesegar es ke permukaan. Distribusi air diatur, pertanian menggeliat. Jalanan pun dibuat mulus hingga pelosok dusun. Masyarakat makin sejahtera. Kondisi geologi yang unik dari Gunung Sewu juga menjadi incaran wisatawan. Deretan pantai pasir putih dengan julangan tebing kapur membentang. Tak kalah eloknya dari yang ada di Pulau Dewata. Sisi selatannya berbatasan palung laut hasil tunjaman lempeng samudra. Laut mendalam sekonyong-konyong, ombak pun tak kalah gilanya. Kalau bernyali, surfing pun bisa dilakukan. Di bagian daratan, rongga-rongga gua raksasa dan sungai bawah tanah menantang para pemburu adrenalin.

Siap Mas?”, sapaan Mas Jarod mengagetkan saya. Di depan saya menganga sinkhole dalam seluas lapangan sepakbola. Uji nyali yang kedua rupanya. Kali ini saya tak mau kalah. Setengah gemetaran, tali pun teraih. Descender stop saya lepas perlahan, tangan terasa terbakar. Turun dengan setengah berayun, 15 meter ke bawah. Lima menit menggantung ‘ajrut-ajrutan’ dengan Single Rope Technic, lamanya seperti satu jam. Buat yang bernyali lebih, turun ke gua dapat mengambil jalur rappelling utama. Tersedia lintasan kermantle sepanjang 80 m. Peralatan keamanan di sediakan pengelola dan guide berpengalaman siap memandu. Bahkan tersedia pula guest house yang nyaman di muara Gua Jomblang. Kaki lemas saya pun menyentuh dasar rerumputan. Gua yang unik, dasarnya ditutupi pepohonan berbatang keras. Menyulapnya bak hutan tropis mini. Saya berjalan pelan di atas lumut basah. Menuju utara, jalur menyeruak ke dalam rongga raksasa Grubug. Ruangan alami ini berukuran tinggi 80 m dan lebar 50 m. Sorotan headlamp menjadi panduan langkah kaki. Ada perasaan deg-degan karena gua ini menyimpan sejarah kelam. Dahulu, ratusan korban pembersihan anggota PKI dieksekusi mati, dan dilempar ke dasar gua begitu saja.

Lepas dari chamber raksasa, saya berhenti dan ternganga. Di depan mata tersaji salah satu dari pemandangan bawah tanah terindah yang pernah saya saksikan. Puluhan rol menyilaukan jatuh menghunjam. Walau sudah diberi tahu sebelumnya, tapi tetap saja kali ini sungguh istimewa. Bonus kilatan rol berhamburan dimana-mana. Tak lama memang, lima belas menit saja. Lalu semua rol bergabung menjadi cahaya besar yang diffuse. There goes the main course, kami habiskan sisa waktu turun ke dasar paling bawah. Segar dan jernihnya air kali Suci mendinginkan jempol tangan saya yang kram. Konon, aliran sungai bawah tanah ini tembus puluhan kilometer hingga ke Laut Selatan. Belum ada yang berani mencoba membuktikannya tentu.

Nanggung, saya sudah terlanjur terdampar di tengah-tengah Gunung Sewu. Petualangan saya teruskan ke ujung timur. Dua jam lamanya, dan Pacitan adalah kota yang tak pernah mengecewakan saya. Terlepas dari posisinya yang agak terpencil, daerah ini luar biasa. Jalanan mulus, sepi dan penduduk nan ramah menjadi daya tarik tersendiri.  Menjadi bagian dari Geopark Gunung Sewu, sebenarnya kabupaten ini sudah duluan ‘mendeklarasikan diri’. Dengan tagline Negri Seribu Satu Gua, konsep pariwisata dibangun. Infrastruktur diperbaiki, walau terkesan perlahan, tetapi perubahannya tersaksikan. Apalagi, Pacitan dianugrahi dengan 12 buah geosites. Terbanyak, bahkan dibandingkan dengan Gunung Kidul sekalipun. Geosites gua-gua kapur tersebut menurut ahli arkeologi, ditengarai menjadi rumah nyaman bagi manusia purba. Bahkan konon, populasi Pithecanthropus Erectus di Pacitan sedemikian banyaknya sehingga habitatnya layak dikategorikan kelas ‘kota metropolitan’.

Dua buah gua berdekatan terkenal pun menarik langkah saya. Gua Gong, sudah ditemukan semenjak 7 dekade lalu namun baru popular pada awal millenium kedua. Stalagtit dan stalakmitnya luar biasa indah dan macamnya. Sempat diklaim sebagai salah satu yang terindah di Asia Tenggara. Hingga kini, gua yang konon mengeluarkan suara dendang musik gamelan misterius di malam tertentu itu masih menjadi daya tarik wisata utama Pacitan. Sementara 15 menit di utaranya, Gua Tabuhan menjadi obyek pelengkap. Tak begitu indah memang, dan cendrung sepi. Namun, di sini saya menyaksikan atraksi permainan lagu dengan stalagmit sebagai media nadanya. Tak heran jika nama tabuhan pun disematkan. Alunan lagu campur sari Manthous (alm) hingga musik dangdut ala Evie Tamala pun menggaung.

Terus ke selatan, kali ini destinasi tersohordunia saya sambangi. Jalanan sempit nan jelek, aspal berlubang, tak menyurutkan laju kendaraan. Tak apa lah, semakin susah dijangkau semakin eksotis. Salah satu geosites pantai ini memang tak tersohor di ranah domestik. Tapi, Bruce Irons, peselancar nomer wahid dunia, telah mencicipi kedahsyatannya. Gayanya menaiki ombak terpajang di cover majalah Surf dan Waves. Menjadi barometer baru, bahkan di masa sepi turis, mata saya masih bisa melirik kehadiran belasan bule di Watu Karung. Khas peselancar tentu, mereka prefer untuk stay lama di suatu pantai ketimbang kerap berpindah. Pantai sepi ini tersusun atas pasir putih, karang keras dan julangan batu kapur. Sebuah pulau karang besar bertebing curam di timur sepertinya menjadi tahanan air laut yang dominan. Akibatnya, ombak membesar di sampingnya.  Terciptalah spot tunggu favorit para peselancar di atas surfboard dan bodyboard. Ombak hanya mereda di kala air surut. Saat pasang, hempasan ombak setinggi 4 meter datang menggila. Menerpa kencang dan konstan, laksana surga peselancar.

Sesungguhnya, isi Gunung Sewu tak hanya melulu batu kapur. Di bagian barat segmen Gunung Kidul, kita bisa menemukan sebuah lanskap menawan. Tersusun atas batu breksi vulkanik, Bukit Nglanggran yang dulunya berasal dari aktivitas magmatik gunung api purba menghasilkan pemandangan yang tak biasa. Julangan boulder raksasa bercorak abu-abu terlihat kontras dengan lingkungan sekelilingnya. Sementara itu di Pacitan, tak kalah menariknya, terdapat juga sebuah formasi litologi sedimen unik. Bebatuan sedimen klastik ini diendapkan pada lingkungan laut kala ratusan juta tahun yang lalu. Di tengahnya, kadang tersisipkan lapisan lain yang menarik. Keunikan ini tak ditemukan di daerah lainnya. Dari litologi sisipan ini lah asal-muasal batu permata yang terkenal khas Pacitan. Tipe-tipe batu akik jenis chalcedony seperti Red Baron, Golden Supreme ataupun Supreme Sunrise menjadi buruan kolektor. Bahkan, harga jual sebuah kalsedon merah Red Baron bisa mencapai senilai sebuah Avanza bekas, fantastis. Pamor batu akik di daerah ini tak lekang oleh waktu. Walau demam batu akik nusantara telah berlalu, eksistensinya tetap tak tergoyahkan. Kadung tercatat sebagai salah satu pusat produsen batu akik nasional, Pacitan terus berbenah. Berbagai akik daerah lain seperti obsidian, chrysoprase, chrysocolla dan amethyst didatangkan. Semuanya untuk melengkapi koleksi akik lokal. Selain tersebar pada desa sentra pengrajin tradisional, batu akik indah ini bisa kita temui dijajakan di berbagai lokasi wisata yang ada.

Terjepit di tengah, nama besar segmen Wonogiri seolah tenggelam. Memang, secara fakta, segmen bagian tengah Geopark Gunung Sewu ini tak setenar kawan-kawannya. Namun walau hanya memiliki 7 buah geosites, Wonogiri tetap mencoba menggebrak. Bermodalkan lanskap dan variasi litologi karst yang paling lengkap, strategi jitu dieksekusi. Saya pun menginjakkan kaki di sebuah museum karts dunia. Dengan senilai 21 milyar, museum tematis ini adalah yang terbesar dan terlengkap se Asia Tenggara. Sudah sewindu lamanya, museum yang berada di sekitar kumpulan utama geosites ini melengkapi eksistensi sebuah makna geopark secara utuh. Di barat dan timur, wisatawan dimanjakan oleh keindahan gua bawah tanah, pantai berpasir putih, air terjun dan lanskap yang menawan. Namun, di sini lah pemahaman mendalammengenai Geopark Gunung Sewu dibangun. Bagian dalamnya dilengkapi dengan display tiga dimensi menarik dan layar interaktif. Hampir seluruh tipe karts dunia dan nusantara disajikan dalam dengan komprehensif. Dengan konten yang menarik, semua usia, tua-muda pun teredukasi. “Lumayanlah Mas, setiap tahun ada lah sekitar 80 ribu pengunjung berdatangan, dan ilmuwan peneliti pun selalu bertambah’, ujar Pak Anton, sang kepala museum. Yang mengagumkan, sinergi dengan penduduk sekitar, tambang tradisional batu kapur pun banyak ditutup. Beralih ke usaha diversifikasi, pengolahan batu alam lebih difokuskan kepada pembuatan batu ukir. Less material but higher value, paling tidak kerusakan alam dapat diperlambat.

Puas sudah rasanya menyambangi sudut geopark dari pojok ke pojok. Di penghujung waktu, tepat sebelum meninggalkan segmen Gunung Kidul, roda kendaraan saya belokkan ke Bobung. Tak jauh dari Bukit Nglanggran, Desa Wisata ini menarik karena memiliki sentra kerajinan topeng kayu. Setengah abad yang lalu, topeng Bobung dibuat untuk konsumsi seniman tari semata. Topeng dibuat sesuai pesanan, untuk kalangan terbatas tentu. Namun, seiring dengan tuntutan zaman dan kualitas pembuatan yang unggul, topeng gaya kontemporer pun mulai bermunculan. Guratan tangan pengrajin layaknya seniman ulung. Kayu kering diubah menjadi karya seni kelas tinggi. Seni batik yang indah pun diaplikasikan ke media yang tak lazim. Dari wajah polos, bertransformasi warna dan motif, semakin memikat hati.  Tak heran jika kerajinan Bobung mendunia. Negara-negara di Asia, Amerika dan Eropa menjadi langganan ekspor tetap. Pak Sujiman, adalah salah seorang perintis seni topeng Bobung. Dari tangannya pula, ratusan pengrajin lain tumbuh berkembang. Para pemuda Bobung yang dahulu berbondong-bondong merantau, sekarang lebih memilih untuk kembali. Desanya memberikan harapan besar. Kesejahteraan tak perlu jauh-jauh di raih ke rantau orang.

DETAIL Geopark Gunung Sewu

Rute :

Geopark Gunung Sewu terhampar luas ke dalam tiga kabupaten. Lokasi terdekat dan paling mudah dijangkau adalah segmen Gunung Kidul. Wonosari, ibukota kabupaten, dapat dijangkau dengan berkendara satu jam ke arah timur Jogjakarta. Sedangkan dua segmen lainnya, lebih gampang dicapai dari kota Solo, Jawa Tengah. Segmen Wonogiri berjarak sekitar satu setengah jam ke selatan sedangkan segmen Pacitan dapat ditempuh dengan menambah waktu perjalanan satu setengah jam lagi.

Kendaraan umum sangat terbatas dan tidak meng-cover seluruh area. Karena lokasi wisata tersebar ke segala penjuru, membawa kendaraan sendiri adalah opsi terbaik. Beberapa sudut daerah sulit dijangkau dengan roda empat, sehingga roda dua dapat  menjadi pilihan. Sensasi jalanan berkelok dengan segarnya hawa pegunungan di daerah pesisir cukup menggoda.

 

Penginapan :

Jika ingin mengeksplorasi mendalam tentang Geopark Gunung Sewu, menginap di sekitaran kota Wonosari adalah pilihan yang tepat. Hotel Orchid yang terletak di jalan Baron dapat dicoba karena lokasinya yang dekat dengan pusat kota. Namun, pengalaman menginap paling seru tentu di Jomblang Resort (+62 811 117 010) yang tepat berada di tengah alam nan asri. Untuk menjangkau sisi timur geopark, hotel Prasasti (+62 357 881178 ) yang terletak tepat di jantung kota Pacitan adalah pilihan yang sempurna.

Tempat Makan :

Terrace Petruk menyajikan menu masakan khas Gunung Kidul, seperti beras merah dan lombok ijo. Demikian juga beberapa rumah makan tradisional yang tersebar di Wonosari. Panganan lokal dari parutan singkong seperti thiwul dan gathot patut dicoba. Ikan segar bakar dan kepiting dapat ditemui di pantai Baron dan Ngrenean. Kuliner luar biasa yaitu lobster, dapat dipesan di rumah penduduk sekitar pantai Timang. Jika tak memiliki pantangan, kuliner nyentrik berupa belalang (walang) goreng nan gurih dapat dijumpai dijajakan di pinggir jalan. Namun, sajian teh tubruk kental hangat dengan gula batu paling asyik dinikmati malam hari di Bukit Bintang, daerah Pathuk. Nuansa kerlip lampu kota Jogja di kejauhan membuat suasana menjadi romantis.

Olahan serupa variasi thiwul pun dapat dinikmati di Pacitan. Yang membedakannya, tambahan urap dan terong pedas menggoda bersandingkan ikan tuna bakar. Di masa tertentu, thiwul Pacitan dapat dinikmati dengan lauk ikan kelong, alias anak ikan hiu kecil. Lokasi makan yang memiliki pemandangan indah adalah Rumah Makan Bu Gandhos, pantai Tamperan, lima menit dari pusat kota. Pemandangan apik dari dermaga dan Pantai Teleng Ria yang dibingkai oleh Teluk Pacitan dapat disaksikan dari tempat tersebut.

Tempat Belanja :

Di kota Wonosari terdapat warung Gathot dan Thiwul Yu Tum (http://gathotthiwulyutum.com) yang cukup terkenal. Tak hanya makanan basah dari singkong, di sini juga menyediakan makanan unik walang goreng dan rengginang. Sedangkan di pantai Baron dan Kukup kita bisa membeli cemilan laut seperti udang dan cumi goreng, keripik rumput laut dan hiasan berbasis kerang laut. Sedangkan kerajinan tangan seperti topeng batik dapat dibeli di desa Bobung.

Di Pacitan, banyak terdapat olahan ikan tuna yang layak dijadikan oleh-oleh. Mulai dari tahu, bakso, hingga kerupuk dapat dibawa dengan harga murah. Lokasi oleh-oleh tuna ini tersebar di daerah dermaga Teleng Ria.

 

Aktivitas :

Geopark Gunung Sewu menawarkan kegiatan wisata yang lengkap. Mulai dari kegiatan ringan seperti bersantai di pantai atau yang sedikit menantang seperti mendaki bukit, menyusuri sungai bawah tanah atau surfing dapat dilakukan. Bahkan, kegiatan sport tourism yang ekstrem seperti caving atau rock climbing pun sangat dimungkinkan. Pastikan peralatan keamanan tersedia dengan baik untuk aktivitas-aktivitas yang memacu adrenalin. Edukasi mengenai karst dan geopark dapat ditemui di Museum Karts di daerah Pracimantoro.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: