Archive for teh orthdox

Menikmati Sensasi Teh Eksklusif Kualitas Premium Kayu Aro

Posted in Jalanjalan with tags , , , , on June 6, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Desember 2015)

Sluuurp !”, bunyi keras sruputan secangkir teh terdengar. Mata Sang Penikmat Teh, Stefan, sampai merem-melek. ABG bule blasteran Jerman-Tiongkok yang menghabiskan masa remajanya di Singapura ini tampak nikmat sekali mencicipi bergelas-gelas teh premium dari Kayu Aro. Teh kualitas nomer satu ini diekspor secara ekslusif ke luar negri, dimana para konsumen loyalnya begitu menghargai cita rasa dan aroma khas yang terbangkitkan. Lidah saya sendiri, tak sanggup merasakan nikmatnya teh mahal tersebut. Pasti karena sudah berpuluh tahun termanjakan oleh aroma dan rasa kuat teh tubruk nasgitel khas Jawa yang bagi saya tak ada duanya.

 

Kebun Teh Terluas di Dunia

Membentang seluas 3.000 kali lapangan bola ukuran paling besar, tak pelak lagi, Kebun Teh Kayu Aro ternobatkan menjadi salah satu kebun teh terluas di dunia dan juga salah satu yang tertua di Indonesia. Kita bisa saksikan saat berdiri di tengah kebun teh, sepanjang mata menyapu hanya terpandang hamparan hijaunya daun nan segar itu. Hanya di sisi utara sajalah kita bisa seolah-olah melihat batas perkebunan Kayu Aro, yaitu julangan Gunung Kerinci yang merupakan gunung api tertinggi di Indonesia (3.805 mdpl). Denyut nadi masyarakatnya pun sangat tergantung pada ritme perkebunan ini. Setiap pagi, ratusan pekerja teh melewati jalanan utama desa Kersik Tuo dengan kendaraan roda dua hingga roda empat. Konon dahulu, beberapa dekade silam, kita masih bisa menyaksikan rombongan pedati kayu beriringan mengangkut pekerja menuju perkebunan. Sungguh suatu pemandangan klasik pastinya namun sayang sudah tergerus oleh kemajuan zaman.

Saat Belanda membuka perkebunan ini, para pekerja didatangkan dari Jawa sebagai kuli kontrak. Seiring dengan bertambahnya populasi, para pendatang ini telah melalui tiga generasi dan proses asimilasi berlangsung dengan baik. Walau dimana-mana kita masih mendengar bahasa Jawa marak digunakan, para keturunan pendatang ini juga fasih berbahasa Kerinci. Demikianlah, kondisi yang harmonis ini berjalan hingga puluhan tahun. Dan ternyata, beberapa orang yang saya temui banyak yang berasal dari seputaran Yogyakarta dan Jawa Tengah. Berbicara dengan mereka seolah melemparkan saya kembali ke suasana nostalgia kampung halaman, yang notabene terpisah jarak ribuan kilometer jauhnya.

 

Menuju Pabrik Teh Hitam

Tanaman teh yang hidup di sini konon berasal dari daratan India, Assam. Saat ini, diyakini bahwa kualitasnya masih terjaga seperti saat aslinya dahulu. Teh hitam atau teh ortodox begitu namanya, terkenal dengan rasa dan aroma yang khas sehingga selain diminum langsung, digunakan pula sebagai bahan campuran utama. Terletak di pinggir jalan raya, bangunan di Bedeng Delapan bernuansa kuno tersebut pasti menjadi magnet di mata para pelintas jalan. Kompleks bangunan kayu kuno nan menjulang itu tersebar dalam area yang luas. Di pabrik milik PT Perkebunan Nusantara VI ini lah proses produksi teh hitam itu dimulai hingga bermuara ke Eropa, Rusia, Arab, Amerika Serikat dan tak ketinggalan pula negara-negara Asia Tengah. Saking ekslusifnya, produk Kayu Aro ini akan sulit kita temukan di pasar domestik, bahkan di kawasan Kerinci sekalipun. Namun, di beberapa lokasi seperti beberapa warung atau bahkan toko perlengkapan outdoor, kita masih bisa menemukan produk teh dengan label ‘Kayu Aro’.  Cukup menarik tampilannya, berupa teh celup dan bubuk yang dikemas dengan ukuran kecil hingga besar. Entahlah, apakah memang teh yang sama atau bukan saya tidak paham, apalagi sampai berbicara tentang kualitas khas-nya itu.

 

Proses Pembuatan

Parkir melalui pintu taman samping pabrik, kami pun melangkah masuk ke halaman. Tampak pasangan muda yang sedang melakukan foto prewedding di sana. Lokasi pabrik ini memang sangat cocok, kita bisa memilih tema fun dengan latar belakang bunga-bunga warna-warni di taman, atau tema vintage dengan mengandalkan bagian pabrik yang kuno. Dan, sepertinya kami cukup beruntung, karena diizinkan oleh mandor di sana untuk menyaksikan proses pembuatan teh legendaris ini. Tidak semua orang boleh masuk dan melihat-lihat, tentu saja untuk menjaga kualitas dari produk teh tersebut.

Daun teh yang terpilih dihampar di atas bak serupa para-para. Yang unik, proses ini diiringi dengan pengurangan kandungan air melalui aliran udara panas  yang dihembuskan dari bawah. Beberapa pekerja bertugas membolak-balik teh agar layunya merata. Daun teh lalu diangkat dengan lori gantung memasuki mesin penggilingan. Cukup menarik sebenarnya bahwa seluruh proses hanya melibatkan sedikit pekerja, dan banyak mengandalkan mesin-mesin mekanis. Produk teh orthodox ini berbeda dengan produk teh hijau, sehingga proses selanjutnya diangin-anginkan dan difermentasi. Setelah dikeringkan atau ‘digoreng’, warna hitam khas teh tersebut pun diperoleh. Hebatnya, mesin yang ada sanggup memisahkan bubuk teh hitam sesuai dengan mutu tertentunya.

Teh lalu dikemas dalam kantung kertas berukuran 55 kg. Cukup besar jadinya, jauh lebih besar dari ukuran kantung semen. Yang menarik, proses pemadatan teh dalam kantung dilakukan manual. Seorang pekerja akan menaiki kantung tersebut dan menginjak-injak dengan kakinya. Persis seperti orang yang sedang menari sajojo. Produk bubuk teh yang mencapai 5.500 ton setahun ini lalu dikirim melalui jalur laut dengan diangkut terlebih dahulu menggunakan truk berukuran 30 ton. Tentu saja segala proses tersebut harus melalui proses quality control yang terakhir, yaitu pengujian rasa dan aroma.

 

Rasa dan Aroma Berkualitas

Beruntung dua kali, sepertinya itulah ungkapan yang cocok buat kami. Tak dinyana, kami pun ditawarkan kembali untuk mencicipi teh Kayu Aro. Tawaran langka yang tidak akan pernah kami tolak, dan kami pun sudah duduk manis mengitari sebuah meja di serambi pabrik.

Klasik, itu lah kesan penyajian teh yang kami peroleh. Teh hijau dan teh hitam disajikan dalam wadah porselen putih. Rasa terbaik didapat dengan menyeduh teh dengan air mendidih, namun tidak boleh terlalu lama. Gula dipisah dan teh tambahan disediakan dalam teko yang bermotifkan sepasang meneer Belanda. Kebulan uap teh panas menyeruakkan aroma yang semakin hot di siang itu. Mungkin, akan lebih lengkap rasanya jadi Londo beneran jika ada campuran krim susu dan snack kering tersedia. Tapi yang ada pun sepertinya sudah cukup nikmat. Barometer saya apalagi kalau bukan si Stefan yang tampak berkali-kali menyeruput teh dan kembali menuang ulang dari teko porselen itu. Lidahnya masih original bule, sementara kami sudah lama terkontaminasi.

Berpamitan, kami pun mengucapkan terima kasih kepada sang mandor. Dari awal pria paruh baya ini telaten menemani kami, menjawab pertanyaan-pertanyaan kami baik yang serius ataupun yang kocak. Gurat di wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar orang lapangan. Selain keramahannya, kami pun salut akan semangatnya yang tak kalah dengan anak muda. Tampak sekali pancaran kebanggaan di wajahnya sebagai karyawan PTPN. Mudah-mudahan rasa ini lah yang terus menggerakkan denyut nadi masyarakat di sekitar Kebun Teh Kayu Aro yang mengesankan ini.

Boks–

Tips

  • Kayu Aro dapat ditempuh dari kota Padang dengan 8 jam perjalanan darat. Sepanjang perjalanan kita akan dihibur dengan pemandangan yang indah dan juga hamparan rumah-rumah adat Minangkabau yang masih terpelihara. Demikian pula memasuki daerah Kerinci, masih banyak rumah adat Kerinci yang tampak dari pinggir jalan. Akses jalan cukup baik dan banyak terdapat warung sekelas mini market sederhana di sepanjang jalan. Jalur lain dapat juga ditempuh melalui kota Jambi, dengan lama waktu perjalanan serupa.
  • Kegiatan utama di daerah ini adalah wisata kebun teh, baik sekedar sightseeing ataupun mengikuti tur pabrik. Selain itu beberapa makanan setempat pun layak dicoba seperti dendeng batoko, ataupun lemang asli Kerinci. Selain itu, kita juga dapat menemukan dodol kentang sebagai produk olahan Kerinci. Jika fisik memungkinkan, kita dapat mendaki Gunung Kerinci, 3.805 m dpl dengan lama perjalanan pergi pulang dua hari. Opsi lain yang lebih ringan adalah trekking ke Danau Gunung Tujuh, atau hunting burung langka. Bahkan, beberapa kelompok penggemar satwa langka harimau Sumatra pun menjadikan Kayu Aro sebagai base
Advertisements