Archive for waerebo

Menembus Jantung Cabo da Flora, Flores

Posted in Jalanjalan with tags , , , , , , , , , , , on June 26, 2017 by heruhendarto

Oleh R. Heru Hendarto (versi edit telah diterbitkan di Majalah Sriwijaya Jan 2017)

 

Keindahan alam dan keramahan penduduknya membuat Bumi Flores meninggalkan kesan mendalam bagi siapapun. Keunikan hewan komodo, keelokan panorama bawah laut, hamparan lanskap perbukitan yang indah serta budaya masyarakat yang beragam membuat pulau di timur nusantara ini semakin cantik. Penjelajahan overland adalah pilihan terbaik untuk menikmatinya.

 

DAY 1 – Labuan Bajo, revisited

Time 15:38 – sunny afternoon w/ gentle wind

Pesawat menukik, mata saya langsung tertumbuk pemandangan teluk yang indah. Saya pun terhenyak, delay tiga jam menyiksa badan pun sirna. Hijaunya pulau-pulau mungil nan mencuat serta birunya laut membuat tubuh kembali semangat. Same place with the same memory, namun modernisasi mengubah segalanya. Bandara baru dan hiruk-pikuk kota membuat saya pangling, lepas orientasi.  Ingatan saya pun melambung ke tujuh tahun silam saat kapal Pelni menghantarkan saya ke pelabuhan Labuan Bajo. Dua hari dua malam perjalanan laut dari Buton, saat itu rasanya layak saja untuk dijalani. Tapi kali ini rasanya jauh berbeda, menyaksikan segala keindahan lanskap yang dicapai dalam hitungan jam saja.

 

Time 18:30 – twilight cloudy dusk

Matahari mulai condong ke barat, saya pun meluncur ke spot foto favorit. Pemandangan sunset terindah Labuan Bajo jadi incaran siapapun yang menginjakkan kaki ke gerbang Pulau Komodo ini. Teluk yang menawan selalu membuai mata, puluhan perahu bertiang memenuhi perairan berkilau emas. Cuatan ujung pulau-pulau misterius pun terekam kamera. Dari kota pesisir ini, misteri the Komodo Dragon pun diungkap ke para ‘pemburunya’. Pulau Rinca, Pulau Komodo, lanskap kepulauan dan hamparan bawah lautnya selalu memukau bagi siapapun. Hari pun gelap, tersadar, saya bergegas menuju pelabuhan. Sebentar lagi rekan-rekan perjalanan Flores Overland akan tiba dari laut. Tak seperti mereka, saya memang absen ikut perjalanan sailing Komodo.  Tapi, tujuh tahun lalu kerinduan saya telah terobati. Empat hari tiga malam saya habiskan di laut, berlayar dari Bajo hingga berlabuh ke Gili Haji nun jauh di Lombok. Once in a lifetime trip yang mengesankan.

 

Di dermaga, puluhan kapal kayu berpenumpang bule telah bertambat. Semuanya penuh dengan turis kulit putih. Labuan Bajo kebagian pelancong mancanegara, salah satu yang terbanyak di nusantara. Kakak-beradik Adel dan Jovita pun melompat lincah naik ke daratan. Mbak Hening, Mbak Ellis dan rekan lainnya menyusul. Formasi kami belum lengkap. Mas Singgih tertunda flight-nya dan akan bergabung kemudian. Meeting point pun belum ditetapkan, entah lah. Malam perdana saya lalui dengan berburu ikan bakar segar dan lezat. Perut harus kenyang karena esok, perjalanan jauh akan dimulai.

 

DAY 2 – Labuan Bajo-Denge, Let the Adventure Begins

Time 09.30 – bright hot blue sky

Sepagi itu matahari telah bersinar dengan teriknya. Panasnya membakar kulit. Dua mobil telah siap di muka hotel. Good bye laut, petualangan darat pun dimulai pagi itu. Dinginnya hembusan AC dalam mobil menendang semangat kami. Sebelum meninggalkan kota, kami mlipir dahulu ke pinggiran Bajo. Gua Batu Cermin, obyek menarik di pinggiran kota tak kami lewatkan. Ditemani guide, kami leluasa mengeksplorasi dalam gua. Pahatan alam nan indah tersebar dimana-mana. Tak kurang, puluhan fosil menarik bertaburan di dalamnya. Mulai fosil kerang, hingga fosil ikan dan kura-kura pun bisa kita saksikan. Nama Batu Cermin konon berasal dari adanya batu besar mengkilap bak kaca di tengah gua.

 

Time 14.45 – light shower

Cuaca sekonyong-konyong tak bersahabat. Mendung menggantung, gerimis pun datang. Saya tak pernah cemas dengan perubahan cuaca. Namun, kali ini mobil melalui jalanan super sempit dan berkelok patah. Lebar satu depa lebih sedikit, jalur kami sudah jauh menyimpang dari jalan utama. Tebing di kanan, jurang di kiri. Sekali salah perhitungan, lewat lah sudah. Setiap tikungan, klakson wajib dibunyikan. Jantung pun tambah berdebar. Satu-satunya yang menghibur adalah pemandangan sawah yang terhampar di kaki perbukitan. Sungai mengalir menembus kaki tebing, berkelok laksana ular. Sungguh indah tanah Flores ini.

 

Time 17.40 – breezing fog

Seolah menyambut kami, kabut dingin menembus pori kulit. Suasana mistis pun merebak. Satu-satunya yang menghibur adalah masih bertaburannya rumah penduduk di sekitar lokasi. Kami tidak sendirian. Melangkah ke tengah perkampungan, tampak dua menara rumah tradisional mencuat tersibak kabut. Kampung Todo memang tidak setenar Waerebo, namun banyak sejarah yang telah terukir.  Legenda berkisah, seorang pemuda dari daratan Minang terdampar dan disambut hangat di sini. Lama bermukim, sang kakak memperoleh adik angkat. Suatu waktu, mereka bertengkar dan sang kakak pun minggat. Berjalan menembus rimba, sang kakak terdampar di Waerebo. Jauh setelah itu, Todo pun berkembang menjadi pusat kebudayaan Manggarai.

 

Todo tengah berbenah, demikian ujar Pak Titus. Rumah-rumah lama diupayakan untuk kembali tegak berdiri. Kejayaan sembilan rumah Mbaru Niang sepertinya akan bersinar kembali. Peninggalannya dijaga baik-baik. Bahkan di rumah utama, masih terdapat warisan berharga berupa gendang kecil yang terbuat dari kulit perut manusia. Kerajinan tenun dan budaya adat-istiadat pun kembali dihidupkan. Nama besar kerajaan yang pernah berkuasa di daratan Flores ini tak bisa terhapuskan begitu saja. Kabut semakin tebal, kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di desa Denge larut malam. Pondok Pak Blasius menjadi tempat pilihan untuk transit.

 

DAY 3 – Waerebo, Village on Clouds

Time 04.30 – clear dawn sky

Langit dini hari itu sangat bersahabat, bintang berkilau menghias atas kepala. Walau mata terkantuk, kaki terus melangkah. Perjalanan empat jam mendaki bukit pun harus kami lakoni. Sesekali kami tertawa lepas, mendengar cerita lucu dari Pak Frans. Legenda Gunung Pocoroko yang tegak berdiri di tengah jalur perjalanan menjadi penghibur lelah. Beberapa penduduk setempat menyalip langkah kami, tak tampak letih di wajah mereka. Hari ini adalah puncak perayaan tahun baru Penti di Waerebo. Melambangkan suka-cita dibalut nuansa magis yang kental, acara ini memanggil banyak perantau untuk pulang.  Kami pun mempercepat langkah, tak hendak ketinggalan acara. Bayang rerimbunan pohon sepanjang jalur setapak menuju Waerebo menyejukkan hawa pagi itu.

 

Time 09.15 – hot morning

Keringat telah membanjiri kaos, namun saya memilih untuk berlari. Dari kejauhan sudah terdengar gendang ditabuh. Desa Waerebo tinggal selangkah lagi dan acara Penti sepertinya akan dimulai. Saya terengah-engah dan terbelalak menyaksikan panorama desa dari ketinggian. Luar biasa, tujuh menara rumah beratap tinggi berlapis ijuk mencuat di tengah-tengah lembah hijau. Sekelilingnya perbukitan tinggi menjadi benteng pelindung. Saya seolah berada di negri antah-berantah. Bergabung dengan rombongan lain, kami pun disambut para tetua dengan ramah. Saling mengenalkan asal diri masing-masing, tiba-tiba hati rasanya tertambat di sini. Semua sudah dianggap layaknya saudara.

 

Ritual sesaji telah usai, penduduk pun bersiap untuk bersuka-ria. Tari caci akan dimulai. Tak seperti namanya, ‘tarian’ khas Flores ini lebih condong pada adu kecepatan mencambuk dan menangkis. Tak tanggung-tanggung, luka sobek berdarah adalah hal yang biasa. Sorak-sorai paling gemuruh terdengar jika pemain bisa mengenai wajah lawannya. Rasa sakit dan perih luka lecutan cambuk itu yang akan menguatkan mental para lelaki Flores. Matahari sudah di atas kepala, semakin panas semakin seru rupanya. Sportivitas sangat dijunjung tinggi. Boleh saling mengejek, namun yang kalah harus mengakui kekalahannya. Dan yang menang wajib menghormati yang kalah. Berjam-jam caci dilakukan dengan pemain-pemain yang bergantian. Tua, muda, semua berpartisipasi. Saya pun keasyikan hingga lupa makan siang.

Time 16.10 – foggy afternoon

Acara berlanjut ke daerah pekuburan. Dengan prosesi ritual, ayam disembelih. Jeroan-nya di-terawang oleh tetua, pertanda baik pun tampak. Masyarakat bersuka-cita. Acara lalu berpindah ke depan mbaru gendang, upacara boa dimulai. Ayam disembelih dan dibakar, leluhur pun diundang. Tarian sanda digelar di depan compang pemujaan. Para tetua terus menari berputar hingga hari menjelang gelap. Rafael, rekan perjalanan saya, ikut masuk ke dalam lingkaran. Lamat-lamat dia meniru gerakan dan melafalkan syair. Besar di Ruteng dan berkarir di Jakarta, Rafael sedang berjuang meneruskan adat kampung nenek-moyangnya.

 

Time 19.15 – cold night

Setelah ritual libur kilo di masing-masing rumah dilaksanakan, acara berlanjut. Sesajen babi pun digelar di Mbaru Gendang, semua penduduk dewasa berkumpul. Bersama-sama dengan roh nenek-moyang yang diundang dari lodok, boa, wae teku dan compang, mereka menari dan berpantun semalaman. Saya yang sudah tak kuat menahan kantuk naik dan menarik selimut di dalam Rumah Baca. Saya pun terlelap diiringi dendangan go’et yang sayup-sayup indah.

 

DAY 4 – Ruteng, A Long Winding Road

Time 08.00 – morning w/clear sky

Waktunya meninggalkan desa yang amazing ini. Satu malam yang tak terlupakan.  Saya menyempatkan berfoto dengan para tetua sambil berpamitan pulang. Lambaian tangan mereka sungguh tulus. Terasa haru menyesak di dada. Saya meninggalkan desa dengan langkah berat. Panas menyengat, saya tiba di Denge saat matahari mulai tergelincir di atas kepala. Walau jalan menurun, sudah dua botol air mentah dari mata air yang saya tenggak. Mandi dan makan, tenaga yang muncul tak sanggup mengimbangi rasa terik dan panas di betis. Kami terduduk di jok mobil sambil kesakitan, terguncang-guncang dalam perjalanan menuju Ruteng.

 

Time 17.10 – cloudy afternoon

Kami singgah di pinggir jalur menuju Ruteng. Desa Cancar memiliki warisan yang unik, lodok alias sawah jaring laba-laba. Pembagian tanah adat untuk setiap keluarga dilakukan dengan mematok bagian tengahnya. Dari situ, ditarik garis memanjang dan ditentukan bagian per bagian. Luas dan besarnya tergantung kedudukan keluarga tersebut. Semakin terpandang, semakin luas lah tanah yang diperoleh. Tanpa didasari, sistem pembagian turun-temurun tersebut membuat bentuk sawah menjadi jaring laba-laba. Setengah jam kami mendaki, beradu cepat dengan mentari yang mulai tenggelam.  Tiba di atas, rasa lelah pun terobati. Apalagi saya bertemu dengan Mas Singgih yang kedatangannya sudah dinanti-nanti semenjak dari Labuan Bajo waktu itu. Berdua, kami menggelar kamera duluan. Keunikan lodok Cancar sungguh jarang bisa ditemui di daerah lain. Matahari tenggelam, selanjutnya kami merapat ke Ruteng, ibu kota kabupaten Manggarai. Suhu semakin terasa menusuk tulang, dingin. Saya memilih ngendon di penginapan, recovery tubuh menjadi prioritas.

 

DAY 4 – Aimere-Bajawa, The Home of Moke, Traditional Liquor

Time 09.10 – bright sunny morning

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bajawa, saya menyempatkan diri singgah ke pasar tradisional Ruteng. Kopi Flores yang lezat bisa didapatkan di sini, murah tentunya. Blusukan ke dalam pasar, berada dalam satu deretan lapak penjual ayam dan pengrajin kain tenun, beberapa bungkus kopi bubuk pun pindah ke dalam tas.

 

Time 12.50 – clear hot noon

Mobil merapat di Aimere, ke tempat pembuatan arak tradisional alias moke. Kami disambut oleh Pak Dolof yang ramah. Berbagai hidangan arak pun digelar. Mulai kualitas rendah hingga level premium, semuanya gratis. Adel dan Jo tak melewatkan kesempatan cicip-mencicip ini. Saya sih hanya berani menyaksikan saja. Apalagi serem juga melihat demo arak yang tersambar api. Tak heran jika arak tipe itu berjuluk moke ‘BM’, alias ‘Bakar Menyala’. Namun, walau kadar alkoholnya tinggi, pembuatannya sangat bersih dan higienis. Tak ada material oplosan selain akar-akaran atau ginseng. Sumbernya hanya dari bunga atau buah lontar yang dipotong. Disadap niranya, proses penyulingan turun-temurun ini pun berlanjut.  Tetesan arak dikumpulkan dan difermentasi. Konon, rasanya pahit-pahit manis. “Mirip-mirip soju lah Om rasanya”, demikian kata Jo yang memerah hidungnya terkena efek arak Aimere. Puas mencicipi dan membeli beberapa botol untuk para supir, kami merapat di Bajawa sore harinya. Tak kalah dingin dari Ruteng, kami pun tak banyak polah. Ngobrol ramai di teras kamar menjadi pengisi kegiatan pengusir dingin malam itu.

 

DAY 5 – Bena-Ende-Moni, In the Hunt of Traditional Hand-Woven Cloths

Time 07.05 – clear cold morning

Pagi buta, saya sudah meluncur ke pinggiran Bajawa. Jalur sepi menuju desa Bena saya tempuh. Tak banyak penduduk yang beraktivitas sepagi itu. Saya pun leluasa berkeliling. Puluhan rumah tradisional yang dihuni oleh sembilan suku ini sungguh menawan mata. Julangan batu raksasa laksana menhir berserakan di sana-sini. Di tengah kampung terdapat bhaga dan ngadhu, pondok kecil tak berpenghuni dan bangunan tiang beratap ijuk. Pastinya, desa ini tak pernah tersentuh arsitektur modern. Puas berkeliling, saya bertandang ke rumah ibu Maria. Beberapa kain yang ditenun tangan dengan benang berpewarna alami pun berpindah tangan. Transaksi selesai, dan hidangan panasnya kopi Flores membuat pagi itu terasa nikmat sekali. Duduk di serambi rumah, Gunung Inerie yang menjulang ke langit biru tersaji di depan mata. Terbersit pula untuk nekad mendaki ke puncak, apalagi suami Ibu Maria bersedia menemani. Sayang, waktu saya sangat terbatas.

 

Time 08.50 – sunny morning

Perjalanan berlanjut, seharian ini akan banyak kami habiskan di dalam kendaraan. Ende adalah kota terakhir yang menjadi persinggahan kami. Rumah Pengasingan Sukarno di Jalan Perwira sempat kami datangi. Menjelang sore, Mbak Ellis dan Mbak Hening masih penasaran dengan koleksi kain tenun Flores. Perburuan terakhir dilakukan. Pasar kain tradisional di dekat pelabuhan pun menjadi sasaran. Tawar-menawar dengan uang yang masih tersisa, beberapa lembar kain menawan pun diperoleh. Saya akhirnya pun terikut-ikutan. Dua lembar ikat pinggang kain warna merah marun saya kantongi. Bahkan, setiba di Moni malam harinya, para ibu pun masih semangat mencari kain tenun.

DAY 6 – Last Day, Kelimutu, The Coloured Vulcanic Lakes

Time 04.25 – breezing dawn

Perjalanan menuju Kelimutu terasa lama, mungkin karena jalan yang berkelak-kelok dan sepi. Terancam terlambat menyaksikan sunrise, saya dan Mas Singgih melangkah lebih cepat. Kawan lainnya pun tertinggal jauh. Tapak demi tapak semakin terjal, dan kami melambat tepat pada anak-anak tangga terakhir. Tiba di atas dengan bercucuran keringat, sepertinya kami beruntung. Matahari belum menembus horizon timur, dan kabut masih bersemayam di atas kawah. Kelimutu sendiri memilki tiga buah danau berwarna. Satu di sebelah kiri disebut Tiwu Ata Mbupu, dan dua danau lain yang bersebelahan dinamai Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai dan Tiwu Ata Polo. Masing-masing danau adalah tempat persemayaman para arwah berbeda. Masih banyak waktu, saya menunggu sambil meneguk segelas kopi. Para pemburu foto mulai berdatangan, tripod dan kamera bertebaran. Bersyukur kami sudah memperoleh spot yang tepat.

 

Kabut tersibak angin, tapi awan di penghujung menutupi mentari. Lambat laun kabut menghilang, dan pemandangan Kelimutu jelas terhampar. Kami berdua menjelajahi setiap sudut kawah, menikmati waktu-waktu terakhir di sini. Daratan Flores luas adanya, baru dua pertiga yang saya jelajahi. Masih ada  Maumere hingga Larantuka di ujung. Dua kota itu menjadi waiting list saya, sehingga akan genaplah petualangan di seantero Cabo da Flora.

 

Tips

  • Perjalanan overland dapat ditempuh dari dua arah. Rute timur dimulai dari Ende dan berakhir di Labuan Bajo. Sementara rute barat mengambil jalur sebaliknya. Di Labuan Bajo para pelancong mengambil perjalanan Sailing Flores. Tersedia jalur pendek selama dua hari satu malam dan kembali ke Labuan Bajo, atau paket empat hari tiga malam menembus ke barat hingga Lombok. Labuan Bajo dan Ende sendiri dapat ditempuh dengan penerbangan dari Denpasar, dengan frekuensi serta maskapai yang cukup banyak setiap harinya.

 

  • Kegiatan utama di Flores yang dapat dijalani adalah wisata alam dan wisata budaya yang unik. Persiapkan fisik yang cukup karena beberapa lokasi harus ditempuh dengan trekking ringan. Tidak banyak makanan yang tersedia sepanjang perjalanan kecuali di kota-kota besar, sehingga perbekalan yang cukup adalah mutlak. Demikian pula obat-obatan, pakaian outdoor dan tabir surya.

 

 

 

 

 

Advertisements